<![CDATA[Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri - Berita Paroki]]>Tue, 07 Apr 2026 03:35:50 +0700Weebly<![CDATA[Sukacita Paskah: Hidup Baru dalam Kristus di Manyaran]]>Mon, 06 Apr 2026 16:14:54 GMThttps://parokiwonogiri.or.id/berita-paroki/sukacita-paskah-hidup-baru-dalam-kristus-di-manyaran
​Yesus bangkit memberikan damai dan sejahtera untuk kita semua. Kebangkitan Yesus tidak ada yang melihat langsung begitu juga dengan Maria Magdalena yang mengetahui Yesus tidak ada berada di makam karena iman kita, kita percaya akan kebangkitan Yesus Kristus.

Kadang kita merasa kecewa dan ragu pada saat mengalami kesulitan padahal Tuhan menunjukkan kasih dan setianya. Dengan Paskah kita harus bisa hidup baru dengan meninggalkan hidup lama. dengan hidup kita buktikan dengan sabar, mengasihi dan mengampuni.

Jurnalis
Yolenta (Manyaran)
]]>
<![CDATA[Sukacita Paskah Pagi di Gereja Santo Yohanes Rasul Wonogiri: Anak-Anak Berbagi Kebahagiaan]]>Mon, 06 Apr 2026 16:06:19 GMThttps://parokiwonogiri.or.id/berita-paroki/sukacita-paskah-pagi-di-gereja-santo-yohanes-rasul-wonogiri-anak-anak-berbagi-kebahagiaan
Perayaan Hari Raya Paskah dilaksanakan di Gereja Santo Yohanes Rasul Wonogiri pada pukul 07.00 WIB dan dipimpin oleh Romo Alexander Joko Purwanto, Pr. Perayaan Ekaristi ini memiliki keunikan tersendiri, yakni petugas paduan suara yang berasal dari berbagai lingkungan di wilayah Wonogiri dengan pembagian lagu yang telah ditentukan sebelumnya.

Dalam homilinya, Romo Joko mengaitkan pesan Paskah dengan film Home Alone, khususnya adegan ketika seorang ibu menyadari anaknya tertinggal saat perjalanan liburan keluarga. Hal ini dianalogikan dengan kisah Maria Magdalena yang datang ke makam Yesus saat hari masih gelap. Kata “gelap” tidak hanya menggambarkan waktu, tetapi juga suasana hati Maria yang diliputi kesedihan dan kebingungan setelah kepergian Yesus.

Maria Magdalena awalnya tidak menyadari bahwa sosok yang ditemuinya adalah Yesus. Ia mengira jenazah Yesus telah diambil, hingga akhirnya berlari memberi tahu para murid. Ketika para murid melihat dan mengalami sendiri peristiwa tersebut, mereka semakin percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Peristiwa Paskah ini menjadi simbol perjumpaan yang membawa perubahan hidup, menjadikan manusia pribadi yang baru.

Romo Joko juga menyinggung perubahan hidup Santo Petrus yang pernah menyangkal Yesus, namun kemudian bertobat dan mewartakan kabar sukacita. Hal ini menjadi teladan bagi umat untuk terus memperbarui diri. Selain itu, beliau mengingatkan tagline Keuskupan Agung Semarang, yaitu “Menjadi Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan.” Makna “menyejahterakan” diartikan sebagai membawa damai dan sukacita bagi sesama. Ia menegaskan bahwa pengikut Kristus yang tidak membawa damai berarti belum sepenuhnya merasakan kasih Allah.

Di akhir homili, umat diajak untuk membawa damai kepada siapa pun sebagai wujud nyata mengalami peristiwa Paskah dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan Pesta Anak yang diikuti oleh anak-anak PIA dan PIUD. Acara ini diisi dengan berbagai permainan menarik seperti rebut bola, mencari gelang emas, dan estafet air yang bertujuan melatih kerja sama tim. Kegiatan diawali dengan ajakan untuk saling mengucapkan Selamat Paskah, dilanjutkan dengan bernyanyi lagu-lagu sekolah minggu serta permainan fokus yang dipandu oleh para pendamping.
 
Sebagai penutup, diadakan pembagian hadiah dan bingkisan kepada anak-anak, serta doa bersama untuk mengakhiri seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh sukacita.
]]>
<![CDATA[Dari Gelap Menuju Terang: Perayaan Vigili Paskah di Gereja Santo Yohanes Rasul Wonogiri]]>Mon, 06 Apr 2026 16:00:52 GMThttps://parokiwonogiri.or.id/berita-paroki/dari-gelap-menuju-terang-perayaan-vigili-paskah-di-gereja-santo-yohanes-rasul-wonogiri
Gereja St. Yohanes Rasul Wonogiri merayakan Vigili pada malam Sabtu, 04 April 2026, tepatnya pada pukul 18.00 WIB. Vigili sendiri ialah liturgi sakral Gereja Katolik pada Sabtu malam Paskah untuk menantikan kebangkitan Tuhan Yesus. Sering disebut sebagai ibu dari segala vigili. Disimbolkan dengan upacara cahaya, menyalakan lilin di tengah kegelapan malam. Cahaya lilin diibaratkan dengan kebaikan, kasih dan ajaran Tuhan Yesus yang disebarkan di tengah kegelapan dunia. Misa dipimpin oleh Romo Heribertus Budi Purwantoro, Pr. Melalui homili yang disampaikan pada Vigili Paskah, Romo menyampaikan tentang kebangkitan Yesus melalui peran orang tua dalam keluarga seperti ayah dan ibu.
 
Vigili diawali dengan pemberkatan lilin Paskah, suasana gereja diliputi kegelapan seperti dunia yang diselimuti oleh belenggu dosa. Seiring berjalannya prosesi misa, petugas menyalakan lilin bagi umat yang bersumber dari lilin Paskah yang sudah diberkati sebagai simbol cahaya dunia berupa pelepasan dari dosa dengan kebangkitan Yesus Kristus.
 
Antusias umat Paroki Gereja Santo Yohanes Rasul Wonogiri, memenuhi setiap bangku yang tersedia di gereja malam itu, misa diakhiri dengan sambutan dari panitia paskah dan Romo Budi. Paskah tahun ini menjadi perjalanan hidup umat Katolik dalam memanggul salib kehidupan mereka sehari-hari dan kini Yesus telah bangkit demi kita semua.
]]>
<![CDATA[​Dari Salib Menuju Harapan: Mengenang Sengsara Salib Yesus Kristus dalam Ibadat Jumat Agung di St. Yohanes Rasul]]>Sun, 05 Apr 2026 16:27:39 GMThttps://parokiwonogiri.or.id/berita-paroki/dari-salib-menuju-harapan-mengenang-sengsara-salib-yesus-kristus-dalam-ibadat-jumat-agung-di-st-yohanes-rasul
​Umat Kristiani memperingati penyaliban, kematian dan penguburan Yesus Kristus pada Jumat Agung. Pada Jumat, 3 April 2026 Gereja St. Yohanes Rasul ikut merayakan Triduum Paskah yang salah satunya adalah Jumat Agung. Ibadat dimulai pada pukul 15.00 WIB dengan dipimpin oleh Romo Joko Purwanto, Pr. Ibadat berjalan dengan khidmat disertai mencium salib sebagai bentuk penghormatan atas penderitaan-Nya. Dalam ibadat Jumat Agung suasana begitu hening karena tiadanya iringan alat organis koor, serta dalam bacaan injil menjadi momen yang sangat berharga karena pembacaan yang disampaikan dengan cara passio bersyair.

Misteri Jumat Agung menjadi puncak dari akhir penderitaan Yesus Kristus dalam menebus dosa manusia dan perawalan menuju kebangkitan dari kegelapan dan belenggu dosa. Melalui homili yang disampaikan Romo Joko, umat diajak mendalami misteri jumat agung dengan memanggul salib kehidupan kita sehari-hari dan kini Yesus yang terbaring di kayu salib demi kita.

Ibadat ini dihadiri kurang lebih sebanyak 400 umat di dalam gedung Gereja Santo Yohanes Rasul Wonogiri, dan ibadat diakhiri dengan keheningan umat meninggalkan gereja untuk menghormati penderitaan Yesus yang telah wafat di kayu salib bagi manusia.
 
Jurnalis
 
Citra Komsos
]]>
<![CDATA[​Malam Terakhir Bersama Yesus:Sebuah Perpisahan di Meja Perjamuan]]>Thu, 02 Apr 2026 17:00:00 GMThttps://parokiwonogiri.or.id/berita-paroki/malam-terakhir-bersama-yesussebuah-perpisahan-di-meja-perjamuan
Perayaan Kamis Putih di Gereja St. Yohanes Rasul Wonogiri yang dilaksanakan pada pukul 18.00 WIB dan dipimpin oleh Romo Budi Purwantoro, Pr mengajak umat untuk masuk dalam suasana Perjamuan Malam Terakhir—sebuah momen penuh kasih ketika Yesus duduk bersama para murid-Nya untuk terakhir kalinya. Dalam kebersamaan yang sederhana itu, tersimpan makna yang mendalam tentang kasih, pengorbanan, dan perpisahan yang tak terelakkan.

Dalam homilinya, Romo Budi mengajak umat untuk merenungkan bacaan Injil tentang Perjamuan Malam Terakhir. Setelah kurang lebih tiga tahun hidup bersama, berbagi perjalanan, dan membangun relasi yang begitu dekat, akhirnya tiba juga momen perpisahan. Bukan perpisahan yang mudah, melainkan perpisahan yang penuh makna dan pengorbanan.

Dalam homilinya, Romo Budi mengangkat satu kata sederhana namun sangat dekat dengan kehidupan manusia, yaitu *perpisahan*. Ia menegaskan bahwa setiap orang, tanpa terkecuali, pasti akan mengalami perpisahan. Entah itu berpisah dengan kebahagiaan yang sedang dirasakan, atau bahkan dengan hal-hal yang selama ini dianggap sebagai milik sendiri.

Melalui contoh lagu “Sampai Jumpa” dari Endank Soekamti, umat diajak menyadari bahwa hidup pada akhirnya adalah tentang melepaskan. Tidak ada yang benar-benar bisa dimiliki selamanya. Semua yang ada dalam hidup ini hanyalah titipan yang suatu saat akan kembali dilepaskan.

Romo Budi juga menceritakan sebuah kisah tentang seorang raja dan orang bijaksana. Kalimat sederhana yang tertulis pada sebuah cincin, “Hal itu akan segera berakhir”, menjadi pengingat bahwa segala sesuatu bersifat sementara. Kebahagiaan tidak berlangsung selamanya, tetapi begitu pula dengan kesedihan—semuanya akan berlalu.

Melalui homili ini, umat diajak untuk melihat perpisahan bukan hanya sebagai kehilangan, tetapi sebagai bagian dari perjalanan iman. Dalam setiap perayaan Ekaristi, umat tidak hanya menerima berkat, tetapi juga dipanggil untuk menjadi seperti roti yang dipecah dan dibagikan bagi sesama.
Homili pada Perayaan Kami Putih hari ini ditutup dengan lagu “Maukah Kau Jadi Roti” yang semakin menegaskan ajakan untuk hidup dalam kasih, pengorbanan, dan kesiapan untuk berbagi dengan sesama.
]]>
<![CDATA[Minggu Palma Gereja St. Yohanes Rasul Wonogiri – Yesus Memasuki Yerusalem dengan Suka Cita]]>Tue, 31 Mar 2026 14:01:02 GMThttps://parokiwonogiri.or.id/berita-paroki/minggu-palma-gereja-st-yohanes-rasul-wonogiri-yesus-memasuki-yerusalem-dengan-suka-cita
​Pada Minggu 29 Maret 2026 pukul 07.00 WIB dilaksanakan perayaan Minggu Palma yang merupakan hari istimewa umat Katolik yang diperingati di seluruh dunia sebagai peringatan masuknya Yesus ke Yerusalem sebelum Ia disalibkan. Keledai dan daun palma menjadi ikonik Minggu Palma. Gereja St. Yohanes Rasul Wonogiri juga ikut merayakan yang dipimpin oleh Romo Alexander Joko Purwanto, Pr. pada pukul 07.00 WIB, dimulai dari lapangan SMP Kanisius Wonogiri. Diawali dengan pengumuman dan pemberkatan daun palma dilanjutkan perarakan dengan rute dari SMP Kanisius Wonogiri melewati depan kantor dinas PMD kemudian menuju Gereja St. Yohanes Rasul Wonogiri disambut dengan meriah oleh umat yang melambaikan daun palma dengan antusias, dilanjutkan perayaan ekaristi pada pukul 07.45 WIB. Homili yang diutarakan Romo Joko menjelaskan mengapa Tuhan Yesus masuk menaiki keledai bukan kuda, karena tujuan Yesus adalah sebagai pembawa damai dan menebus dosa manusia. Perayaan ekaristi Minggu Palma yang diselanggarakan diikuti oleh hingga 150 umat dari Paroki Santo Yohanes Rasul Wonogiri
]]>
<![CDATA[Minggu Palma: Antara Suka Cita dan Panggilan Pulang]]>Tue, 31 Mar 2026 13:42:42 GMThttps://parokiwonogiri.or.id/berita-paroki/minggu-palma-antara-suka-cita-dan-panggilan-pulang
Pagi itu, udara di pelataran gereja tidak hanya membawa aroma dupa yang berkelindan dengan wangi tanah basah basah sisa embun di awal hari. Pelataran Gereja Khatolik St. Christoporus pagi itu sudah dipenuhi oleh kerumunan umat. Di tangan-tangan umat, daun palma tidak lagi sekadar pucuk yang tanggal dari batangnya. Mereka seolah menjelma menjadi lidah-lidah hijau yang siap bersaksi. Di bawah langit yang biru, daun-daun itu bergemetar pelan saat percikan air suci jatuh menyentuh permukaannya, sebuah tanda bahwa berkat Allah bagi mereka yang membawanya. Langkah kaki umat kemudian membelah jalan yang mulai menghangat. Iramanya ritmik, menyerupai detak jantung yang sedang memacu rindu. Ada petani dengan telapak tangan kasar yang menyimpan sisa debu ladang, bersisian dengan kaum muda berpakaian necis yang jemarinya terbiasa memegang pena, seorang ibu yang dengan setia menngandeng buah hati, dan berbagai latar belakang umat lainnya. Di jalanan ini, status lebur oleh keringat dan nyanyian berjudul “Terpuji Raja Kristus” yang mengalun lamat-lamat dari bibir yang bergetar. Seperti gerak ritus di desa-desa terpencil, perarakan ini adalah tarian pengabdian yakni sebuah perjalanan fisik yang sesungguhnya adalah perjalanan batin menyambut Sang Raja yang berkendara di atas punggung kerendahan hati.

Di dalam gereja, suasana merah menyala menyambut umat yang perlahan memasuki ruang ibadat. Kain-kain liturgi berwarna merah terpasang anggun, menjuntai seperti nyala iman yang tak padam. Warna itu bukan sekadar hiasan ia berbicara tentang keberanian, pengorbanan, dan cinta. Seakan menyatu dengan makna itu, mayoritas umat pun mengenakan pakaian bernuansa merah, menghadirkan lautan warna yang hidup, seolah seluruh tubuh gereja sedang berdenyut dalam satu semangat yang sama.Namun, di balik lambaian hijau yang meriah dan pekik "Hosana" yang membelah angkasa, terselip sebuah rahasia yang sunyi. Minggu Palma adalah perayaan tentang ambang pintu yakni sebuah gerbang tipis yang memisahkan sorak-sorai dengan jalan salib yang sepi.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Rm. Heribertus Budi Purwanto, Pr dengan langkah tenang dan wajah yang teduh. Dalam homilinya, ia mewartakan dengan suara yang mengalir jernih namun membekas. Bahwa hidup yang kita jalani ini sesungguhnya singkat. Waktu bergerak tanpa henti, mengikis perlahan apa yang kita anggap kuat dan tetap. Tubuh yang kita banggakan pada akhirnya akan memudar. Indra-indra kita mata yang dahulu tajam, telinga yang dahulu peka, bahkan sisi emosional kita semuanya akan berubah, menjadi lebih rapuh dan sensitif dimakan usia. Di tengah keheningan umat yang mendengarkan, pesan itu seperti jatuh satu per satu ke dalam hati bahwa tidak ada yang benar-benar kekal dalam diri manusia selain apa yang dibangun dalam relasi dengan Allah Bapa kita. Maka Pekan Suci yang dibuka oleh Minggu Palma inilah saatnya untuk menyiapkan diri secara rohani untuk bertobat, dan  untuk merapikan apa yang sering kita abaikan dalam kesibukan dunia. Sebab ketika saat itu tiba, ketika kita dipanggil oleh-Nya, kesiapan bukan lagi pilihan, melainkan buah dari perjalanan iman yang kita jalani hari demi hari.

Di tengah barisan umat yang duduk, seorang lansia bernama Mbah Yem, menatap dengan mata nanar, seolah waktu sedang berbisik pelan di pelupuk matanya. Keriput di wajahnya seperti lembaran kisah panjang yang tak banyak diucapkan. Hidupnya barangkali sunyi. Di antara dinding rumah yang jauh dari gereja, ia berjalan dalam iman seorang diri. Anak-anaknya telah memilih jalan masing-masing, menjauh perlahan dari hangatnya panggilan Tuhan. Namun kesunyian itu tidak pernah benar-benar kosong ia diisi oleh langkah-langkah kecil yang setia, oleh doa-doa yang dipanjatkan dalam diam. Jarak seakan pernah mencoba menahannya, usia pernah berbisik agar ia berhenti, dan tubuhnya kadang tak lagi sekuat dulu. Namun bagi Mbah Yem, semua itu seperti angin yang hanya singgah, tak pernah mampu merobohkan akar imannya kepada Yesus Kristus. Ia tetap melangkah, setia datang ke gereja St. Christoporus Wuryantoro, meski kadang harus menunggu, dan meski tak pasti siapa yang akan menjemputnya pulang. Dalam diamnya, ada keteguhan yang lebih lantang dari seribu kata. Perayaan ekaristi pun selesai, namun getar di hati umat belum surut. Mereka pulang membawa selembar daun yang diberkati, sebuah pengingat bahwa di antara sorak-sorai dan sunyinya penderitaan, iman tetap tegak seperti pohon palma yang tak luruh dihantam angin seperti Mbah Yem dan bahwa waktu yang singkat ini adalah kesempatan berharga untuk bersiap menyambut keabadian.

Oleh: Rachel Sukma
]]>
<![CDATA[Kehadiran Tuhan Bagi Semua Bangsa: Misa Hari Raya Penampakan Tuhan dan Hari Anak Misioner]]>Sat, 03 Jan 2026 17:00:00 GMThttps://parokiwonogiri.or.id/berita-paroki/kehadiran-tuhan-bagi-semua-bangsa-misa-hari-raya-penampakan-tuhan-dan-hari-anak-misioner
Gereja Katolik pada hari Minggu, 4 Januari 2026 merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan. Misa Perayaan Ekaristi dilaksanakan di Gereja St. Yohanes Rasul Wonogiri dipimpin oleh Romo Heribertus Budi Purwantoro, Pr. Perayaan Ekaristi berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan sukacita. Hari Raya Penampakan Tuhan juga dirangkaikan dengan Hari Anak Misioner, sehingga suasana misa terasa semakin hidup dan bermakna bagi seluruh umat yang hadir.

Dalam homilinya, Romo Budi mengulas perbedaan konsep kehadiran Tuhan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Ia menjelaskan bahwa dalam Perjanjian Lama, Tuhan dipahami sebagai sosok yang tidak dapat dijumpai manusia secara langsung. Namun, pemahaman tersebut mengalami perubahan dalam Perjanjian Baru ketika Yesus hadir ke dunia sebagai manusia, sehingga kehadiran Tuhan dapat dilihat dan dialami secara nyata.

Romo Budi menegaskan bahwa kehadiran Yesus berawal dari Maria yang menerima rahmat untuk mengandung oleh kuasa Roh Kudus dan melahirkan Putra Allah yang diberi nama Yesus. Melalui kehadiran-Nya, Tuhan menyatakan kasih-Nya tidak hanya bagi bangsa Israel, tetapi bagi seluruh bangsa di dunia. “Tuhan hadir menjadi manusia, tidak hanya untuk bangsa Israel, tetapi untuk semua bangsa di dunia,” ujar Romo Budi dalam homilinya.

Lebih lanjut, Romo Budi mengingatkan umat akan salah satu godaan yang kerap dialami manusia, yaitu perasaan bahwa Tuhan tidak mengasihi. Ia menegaskan bahwa dalam situasi apa pun, umat diajak untuk tetap percaya bahwa Tuhan selalu hadir dan mengasihi setiap manusia tanpa syarat dalam kondisi apapun.

Menutup homilinya, Romo Budi mengajak seluruh umat untuk menyanyikan lagu “Kita Usahakan Lagi” sebagai simbol ungkapan iman bahwa Tuhan senantiasa hadir untuk mengasihi, memahami kebutuhan umat-Nya, serta menyertai perjalanan hidup manusia pada waktu yang tepat. (Rafaela Sekar/Komsos)
]]>
<![CDATA[Memaknai Pertobatan dari Kisah Tiga Raja dari Timur]]>Sat, 03 Jan 2026 17:00:00 GMThttps://parokiwonogiri.or.id/berita-paroki/memaknai-pertobatan-dari-kisah-tiga-raja-dari-timurSore itu, perayaan Ekaristi di Gereja Santo Petrus dan Paulus Manyaran dipimpin oleh Romo Alexander Joko Purwanto, Pr, Sabtu 3 Januari 2026. Hujan deras tidak menyurutkan semangat umat untuk beribadah.

Sabtu dan Minggu pekan pertama bulan Januari, Gereja Katolik memperingati "Hari Anak Misioner". Dalam bacaan diceritakan kisah tiga raja dari timur menuju babilonia atau sekarang kita kenal dengan negara Irak. Kisah itu jika kita maknai selaras dengan bagaimana kita berusaha untuk terus mencari keselamatan. 
Keselamatan adalah sesuatu yang bersifat universal segala bangsa atau golongan. Setiap orang sesungguhnya sedang ada dalam peziarahan untuk mencari keselamatan.
Romo Joko berpesan, jika kita ingin mendapatkan keselamatan maka yang perlu kita lakukan yaitu diantaranya meneladani tiga raja dari timur yang tidak lekas puas atau berhenti. Mereka terus mencari dan tidak menetap di satu tempat. Artinya mencari keselamatan adalah mencari Tuhan dengan berani meninggalkan sesuatu yang tidak baik.
Kedua, kita harus rendah hati untuk dibimbing seperti tiga raja yang mau dibimbing oleh tiga bintang. Kerendahan hati untuk bertanya kepada mereka yang lebih paham siapa Tuhan, dimana Tuhan untuk memiliki hidup bermakna. Kita wajib dan mau dibimbing Tuhan untuk menemukan jalan baru untuk menuju keselamatan dan tidak kembali kepada jalan yang lama. Itulah yang disebut pertobatan. (Yolenta Bellena/ Komsos)]]>
<![CDATA[Semarak Menyambut Malam Tahun Baru Dengan Misa Tutup Tahun dan Pelantikan DPP Baru di Gereja Santo Yohanes Rasul Wonogiri]]>Tue, 30 Dec 2025 17:00:00 GMThttps://parokiwonogiri.or.id/berita-paroki/semarak-menyambut-malam-tahun-baru-dengan-misa-tutup-tahun-dan-pelantikan-dpp-baru-di-gereja-santo-yohanes-rasul-wonogiri
Rabu, 31 Desember 2025, Gereja St. Yohanes Rasul Wonogiri merayakan hari raya Tutup Tahun dan Pelantikan Dewan Pastoral Paroki (DPP) 2026-2028. Rasa syukur ini kemudian disatukan dalam ujub misa yang di selenggarakan pukul 17:00 WIB di Gereja St. Yohanes Rasul Wonogiri. Ekaristi tersebut dipimpin oleh Romo Vikep Surakarta yaitu Romo Yosep Herman Suntoro, Pr dan Romo Paroki, yaitu Romo Alexander Joko Purwanto, Pr, Romo Lambertus Issri Purnomo, M., Pr dan Romo Heribertus Budi Purwantoro, Pr diikuti oleh seluruh umat Paroki dengan suasana khidmat.
 
Pada khotbahnya, Romo Yosep Herman Suntoro, Pr mengajak umat untuk bersyukur atas tahun yang ditinggalkan serta berkat untuk menjalani tahun yang baru. Ditengah-tengah homili berlangsung, pelantikan calon Dewan Pastoral Paroki dilaksanakan. Romo mewawancarai beberapa anggota DPP yang akan dilantik, salah satunya Ardi Bagas Santoso dari lingkungan Paulus Wilayah Sidoarjo. Romo bertanya tentang harapan untuk Gereja Paroki St Yohanes Rasul Wonogiri dan para misdinar di masa yang akan datang.
"Bisa menjadi lebih baik, berkembang dan bisa menjadi contoh dari peran serta umat gereja." Ujar Ardi Bagas Santoso.
 
Romo juga menyinggung peringatan Santa Perawan Maria Bunda Allah yang di peringati setiap tanggal 1 Januari sebagai penghormatan peran Maria sebagai ibu Yesus Kristus. Kita diharapkan menjadikan Perayaan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah sebagai contoh untuk menegaskan iman kita sebagai manusia yang lahir di dunia dan menjadi teladan bagi kehidupan kita dari Bunda Maria yang siap melahirkan Yesus ke dunia. Seperti calon Dewan Pastoral Paroki yang siap menjalankan tugas dalam hal pelayanan gereja dan ambil bagian karya.
 
Romo juga mengajak para umat untuk menyadari kehadiran Kristus dan Bunda Maria dalam hidup kita, baik dalam keadaan suka maupun duka dan tetap setia. Meskipun tidak mudah, tetapi tetap percaya Tuhan mempersatukan dan tetap memberikan kekuatan.
 
Diakhir homili, Romo mengajak para umat meminta berkat dan berdoa lewat Bunda Maria dengan harapan Dewan Pastoral Paroki dapat menjalankan tugas karya pelayanan dengan baik dan tetap siap sedia sebagai Dewan Pastoral Paroki. (Rafaela Sekar/Komsos)
]]>