Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

Berita Paroki

Polres Wonogiri Melakukan Kerja Bakti Membersihkan Gereja

10/29/2021

0 Comments

 
​Dalam rangka Giat Bersih, Polres Kabupaten Wonogiri mengadakan kerja bakti membersihkan halaman Gereja Katolik St. Yohanes Rasul Wonogiri.

Terimakasih Bapak dan Ibu.... Maju Terus Kepolisian Republik Indonesia.. 

Berkah Dalem 😇

Doc : Hari SW
0 Comments

Paguyuban Kanisius Wonogiri Peringati HUT Yayasan Kanisius di Sendang Klayu

10/23/2021

0 Comments

 
​Dok: Matius Wiyono_SD Kanisius Wonogiri
​Paguyuban Kanisius Wonogiri yang terdiri dari guru dan karyawan Kelompok Bermain (KB) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) berziarah ke Sendang Klayu, Jlegong pada Jumat, 21 Oktober 2021. Kegiatan yang melibatkan 30 orang tersebut menjadi hari rohani dalam rangkaian HUT Yayasan Kanisius ke-103. Selain ziarah, rombongan mengadakan kerjabakti membersihkan area sekitar Sendang Klayu. Aksi tersebut sebagai wujud nyata dari handarbeni atau rasa memiliki Sendang Klayu yang saat ini masih dalam proses renovasi.
0 Comments

Pribadi yang Bebas Merdeka

10/23/2021

0 Comments

 
Kita baru saja memperingati hari Kemerdekaan RI yang ke-76. Tujuh puluh enam tahun Inodonesia telah merdeka. Hanya saja, apakah setiap individu yang mendiami Indonesia sudah merdeka? Apakah diri kita sudah merdeka? Mari kita tilik bersama-sama.

Kita memiliki hak dan kewajiban dalam kehidupan sosialnya. Dalam kehidupan bermasyarakat kita mengenal norma sosial. Norma sosial selalu dijadikan acuan dalam berperilaku di masyarakat. Hal itu akan berdampak pada perilaku di masyarakat. Dan, ternyata dampak tersebut berpengaruh pada pola perilaku dan secara psikologis. Ironinya,  alat pengendali perilaku saat ini bukan lagi mengacu pada  norma sosial, melainkan gunjingan masyarakat.

Dalam kehidupan bermasyarakat, perkataan yang diucapkan seseorang tidak sepenuhnya berisi motivasi yang membangun bagi orang lain. Ada juga perkataan yang bersifat menjatuhkan pribadi orang lain. Hal inilah yang menjadi awal seseorang menjadi tidak genuine. Seseorang menjadi  takut pada dirinya sendiri. Takut dibandingkan dengan orang lain dan menjadi bahan pembicaraan orang lain. Sehingga, sangat sulit untuk menemukan orang yang mau menerima dan mengakui kekurangan dan kelebihan diri secara bijaksana. Mengapa disebutkan secara bijaksana? Karena orang bijak dapat menerima kekurangan diri dan menjadikan kekurangan tersebut sebagai motivasi hidup untuk terus memperbaiki diri. Dan orang yang bijak juga akan mengakui kelebihan diri di waktu dan tempat yang tepat tanpa merendahkan orang lain.

Di masa merdeka ini, kita harus menjadi orang yang merdeka. Orang yang merdeka merupakan orang yang memiliki sikap bijak dalam mengakui eksistensi diri dan selalu memandang orang lain yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Orang yang mampu menjadi dirinya sendiri akan lebih bebas dalam melakukan karya dalam perjalanan hidup. Orang yang memiliki tipe seperti ini tidak akan tergantung dengan komentar orang lain. Sehingga dapat dikategorikan pribadi yang bebas karena tidak membandingkan kebahagiaan yang didapat dengan kebahagiaan yang dimiliki orang lain. Akan tetapi, pernahkah kita mendengar pernyataan “Saya berperilaku sebagaimana kamu memperlakukan saya?” Bagi pribadi yang bebas dan merdeka pernyataan tersebut tidak akan ada dalam perjalanan hidupnnya. Orang yang memiliki pribadi bebas dan merdeka tentu saja tidak akan menunggu berbuat kebaikan saat orang lain berbuat baik padanya. Karenanya pribadi yang bebas dan merdeka akan senantiasa berbuat baik dan menjadi pribadi yang anggun dalam berperilaku.

Berkaca pada hal itu maka akan menimbulkan pertanyaan “Apakah kritik dari orang lain harus diabaikan?” Kritik dan saran dari orang lain bukanlah hal yang menjadi penentu pribadi yang bebas dan merdeka untuk menjadi orang lain seperti harapan kebanyakan orang. Pribadi yang merdeka akan menjadikan kritik dan saran tersebut sebagai alat untuk memperbaiki diri. Memperbaiki diri bukan menjadi seperti orang yang diinginkan orang lain. Hanya saja, memperbaiki diri ini bersifat reflektif. Saat kita mendapat kritik dan saran, kita dapat mengetahui letak kesalahan yang telah kita lakukan, Sehingga kita dapat memperbaiki kehidupan kita menjadi lebih baik. Sebenarnya inilah yang disebut merdeka yang sesungguhnya. Pribadi yang bebas dan merdeka mengenali diri sendiri dan menentukan tindakan berikutnya untuk memperbaiki diri.

Oleh karena itu, gunjingan orang lain bukanlah suatu masalah yang besar jika kita dapat mengendalikan gunjingan itu dengan menyelesaikan masalah yang ada. Dan, secara otomatis gunjingan itu tidak akan menimbulkan gangguan psikologis bagi kita. Kebalikannya, bagi pribadi yang belum bebas dan merdeka tentu akan merasa cemas, khawatir, dan tentunya dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental. Maka dari itu, sangatlah penting bagi kita untuk mengenali pribadi kita masing-masing karena kita sebagai Homo Homini Socius. Kita tidak dapat terlepas dari orang lain yang hidup berdampingan dengan kita. Sehingga kita harus memiliki prinsip diri yang kuat dan tangguh dalams hidup bermasyarakat dengan pribadi yang bebas dan merdeka.
 
Penulis : Fransisca Anindya,S.Psi.,M.Psi., Psikolog.
Editor : Kristina Wuri Desmayani
​
0 Comments

Merawat Jiwa-Merawat Raga

10/23/2021

0 Comments

 
Oleh Markus NIBS
Setiap tanggal 10 Oktober kita selalu diperingati sebagai hari Kesehatan Mental Dunia. Menurut WHO, tujuan umum peringatan hari Kesehatan Mental Sedunia adalah kita diingatkan untuk meningkatkan kesehatan mental atau jiwa. Merawat kesehatan mental maka kita menyamakan proses itu dengan merawat kesehatan tubuh secara fisik. Bahkan, dapat dikatakan bahwa keluhan yang muncul dapat memicu masalah kesehatan fisik. Sehingga, tema yang sering ditawarkan dalam hari Kesehatan Mental  Sedunia adalah selalu menyoroti pentingnya mewujudkan perawatan kesehatan bagi diri sendiri. Hal ini ditekankan karena menjadi sehat secara mental maka seseorang bisa menjadi sejahtera dan mampu mewujudkan serta mengembangkan potensi dirinya.
 
Secara detail, WHO menjelaskan definisi Kesehatan Mental sebagai “kondisi sejahtera secara psikologis dengan ciri yaitu seseorang mampu menyadari kemampuannya secara utuh, mampu menyelesaikan masalah sehari-hari, mampu bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi bagi lingkungan di sekitarnya”. Menurut Sartorius, konsep sehat mental dipahami sebagai keseimbangan antara fisiologis atau fisik, mental atau psikologis, sosiokultural, spiritual, dan faktor personal antarindividu, orang lain, dan lingkungan. Berdasarkan pemahaman konsep tersebut, kesehatan mental merupakan pondasi dasar bagi kesejahteraan psikologis karena memiliki fungsi efektif bagi seseorang baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam lingkungan, seperti keluarga, sekolah, sosial masyarakat, dan pekerjaan.
 
Kesehatan mental dan isu kerentanannya merupakan hal yang menarik untuk dibahas. Hal ini dikarenakan isu kerentanan kesehatan mental ini bisa terjadi pada siapa saja dan kelompok mana saja, baik itu anak-anak, remaja, dewasa, lansia, pekerja, bahkan seseorang yang memelajari ilmu psikologi sekalipun. Ada satu cerita ketika seorang kawan berkeluh kesah bahwa dia sebenarnya sedang mengalami stres karena tuntutan pekerjaan yang menumpuk dan masih ditambah dengan situasi masalah dalam keluarganya. Hanya saja, kemudian ia tertawa karena ia mengatakan bahwa untungnya ia sempat belajar mengenai ilmu psikologi. Sehingga, ia masih merasa menjadi pribadi yang cukup sehat dan mampu mengendalikan situasi yang dialaminya.
 
 
Berkaca dari isu kesehatan mental, kerentanan, dan kasus seorang kawan di atas, lantas bagaimana kita mengetahui bahwa seseorang itu sehat secara mental atau dikatakan menjadi pribadi yang sehat?
 
Dalam ringkasannya, Schultz mengatakan bahwa orang yang mempunyai mental dan pribadi yang sehat adalah orang yang secara psikologis mampu mengetahui diri mereka secara mendalam. Artinya, orang-orang ini menyadari dan memahami diri mereka sendiri, yaitu mampu menyadari kekuatan, kelemahan, kebaikan, dan keburukan diri sendiri, dan pada umumnya sabar serta dapat menerima hal tersebut dengan lapang dada. Orang-orang ini juga mengetahui batasan dirinya, artinya tahu kecukupan bagi dirinya seperti apa. Karena sehat, mereka juga mampu membuat keputusan dan dapat menghargai serta menjaga kesehatan mentalnya. Satu hal yang paling penting adalah, seorang yang mempunyai mental dan pribadi yang sehat, dapat mengetahui dan memahami bahwa dalam situasi dan pengalaman hidupnya juga tidak berarti tanpa masalah. Mereka menyadari bahwa hidup mereka pun juga memiliki masalah, namun bedanya, orang yang sehat  selalu berusaha untuk mengelola dan mengatasi masalahnya dengan tepat dan selalu yakin bahwa “bantuan selalu ada” .. bagaimanapun bentuk, wujud, dan caranya.
 
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara kesehatan mental tetap terjaga dan tetap menjadi pribadi yang sehat? Ada beberapa hal yang dapat dilakukan supaya kesehatan mental tetap terjadi dan senantiasa menjadi pribadi yang baik.
 
Pertama. Kemampuan menjadi diri sendiri. Orang yang mampu menjadi diri sendiri tidak berkeinginan untuk menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Meskipun seseorang itu dapat memainkan peran sosial untuk memenuhi tuntutan orang lain atau situasi di sekitarnya, namun mereka tidak mengacaubalaukan peranan ini dengan diri mereka yang sebenarnya. Contohnya adalah seorang pengajar yang dalam situasi di lingkungan akademisnya memang harus mempunyai citra berwibawa, tetapi bukan berarti lalu selalu menjaga citra kewibawannya tersebut secara berlebihan; misalnya kemudian tidak malu untuk jajan di angkringan, mau berjalan kaki  untuk tujuan yang dekat, hanya memakai sandal jepit berharga murah, memberikan layanan secara tulus, membantu tetangga yang sedang membutuhkan. 
 
Kedua. Hidup di masa kini. Secara umum disetujui bahwa sifat kesehatan psikologis adalah bersandar kuat dengan masa sekarang atau saat ini.  Orang yang sehat secara mental dan psikologis tidak hidup di masa lampau bahkan masih merasa menjadi korban dari konflik masa lalu. Orang yang sehat secara psikologis mampu menyadari bahwa saat ini ada yang bisa dilakukan. Orientasi pandangan masa depan juga menjadi penting, tetapi tidak mengganti masa sekarang dengan masa depan. Artinya, orang yang hidup di masa kini adalah orang yang terus menyadari dan menaruh perhatian pada kehidupan yang terus menerus berlangsung dengan segala dinamikanya. Misalnya, dalam hidup terus mengupayakan adanya kebaikan dengan berorientasi bahwa hal itu akan membawa dampak yang positif. Contoh yang paling mudah adalah berbuat baik, minimal memberikan suatu senyuman, sapaan, atau bertanggung jawab pada tugasnya.
 
Ketiga. Orang yang sehat secara psikologis ternyata juga membutuhkan stress atau tekanan dari suatu tuntutan tertentu. Namun bedanya, apa yang dibutuhkan adalah tentunya stress yang positif. Maksudnya adalah, orang yang sehat secara psikologis tidak merindukan suatu ketenangan dan kestabilan belaka. Karena perlu disadari bahwa hidup penuh dengan dinamika, bahkan di setiap harinya. Dalam hal ini, orang yang sehat mentalnya atau psikologisnya, selalu rindu akan tantangan dan kegembiraan dalam hidup berupa tujuan dan pengalaman baru. Orang yang demikian selalu menyadari bahwa masalah pasti ada, tetapi dapat melihat bahwa masalah itu bukanlah sebagai hambatan, rintangan, atau halangan, namun sebagai suatu tantangan. Dapat diibaratkan bahwa situasi ini seperti kalau mau naik wahana roller coaster di arena hiburan. Roller coaster dilihat sebagai sarana untuk meluapkan kegembiraan bukan sebagai sesuatu yang menakutkan sehingga tidak berani untuk mencoba.
 
Maka dari itu, marilah kita menjadi orang yang selalu bisa mengupayakan untuk menjaga kesehatan jiwa, mental, serta raga kita. Tuhan memberkati. (ng102021, dari berbagai sumber).
​
0 Comments

Proficiat! Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri Juara 2 Lomba Cerdas Cermat Rohani Tingkat Nasional

10/21/2021

0 Comments

 
Baru-baru ini perwakilan Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri berhasil menorehkan prestasi sebagai pemenang kedua dalam Lomba Cerdas Cermat Rohani (LCCR)  tingkat Nasional dalam Kreasi Virtual Katolik Indonesia (KVKI). Perlombaan sepenuhnya berlangsung secara virtual sampai pada babak final yang dihelat pada 7- 10 Oktober 2021 lalu.

Dalam kompetisi kelompok kategori remaja itu, paroki kita mewakilkan tim yang terdiri dari tiga orang yaitu Gabriella Vannia Ayu Kusuma (SMA N 1 Wonogiri/Lingk. Ignatius), Lucia Edita Dyah Puspitaningrum (SMK Marsudirini Surakarta/Lingk. Aloysius) serta Thomas Andricho Desta Nugroho (SMA N 1 Wonogiri/Lingk. Maria). Adapun untuk proses persiapan, mereka didampingi tim pembimbing yaitu Ibu Yuliana Setyaningsih, S.Ag, M.Pd. dan Bapak Adrianus Andi Asmara.
Proses pemilihan peserta dalam kategori ini tidak mudah. Waktu yang terbatas sempat menjadi kendala. Berbekal komunikasi antar sesama guru Agama Katolik dan usul dari beberapa pihak akhirnya terkumpul beberapa nama sebagai rekomendasi hingga mengerucut pada tiga nama sebagai tim.

Gayung pun bersambut. Ketiga peserta yang ditunjuk memberi respon positif. Thomas, satu-satunya laki-laki dalam tim berkisah akan semangatnya ikut lomba. “Saya turut antusias mengikuti lomba CCR karena ini awal diri saya mengikuti lomba dan sekaligus dapat memuliakan nama Tuhan” ucap Thomas dalam sesi wawancara.

Di balik persiapan lomba, para pembimbing punya kisahnya sendiri. Mereka harus memberi pembekalan secara intensif namun sebisa mungkin tidak menggangu kegiatan belajar utama sebagai siswa di sekolah. “Kami melakukan meeting untuk penyampaian materi secara singkat dan mudah dipahami oleh peserta,namun Puji Tuhan melalui metode saya untuk mengajarkan materi CCR tersebut juga direspon dengan baik oleh peserta. Sampai-sampai mereka mau meluangkan waktu lebih banyak untuk berfokus dalam lomba ini, tanpa mengganggu kegiatan belajar mereka di sekolah”, tutur Pak Andi sebagai salah satu pembimbing tim.

Selain pembimbing, lomba kali ini mendapat dukungan penuh dari Dewan Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri.  Ibu Yuliana Setyaningsih selaku pembimbing  dan perwakilan Dewan Paroki Santo Yohanes Rasul Wonogiri  membantu memfasilitasi ketersediaan  sarana yang memadai bagi peserta agar dapat mengikuti lomba dengan baik dan maksimal.

Sebagai informasi, LCCR diselenggarakan oleh Lembaga Pembinaan dan Pengembangan PESPARANI  Katolik Nasional. Perjalanan tim LCCR Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri hingga ke tingkat Nasional berawal dari kemenangan di tingkat provinsi Jawa Tengah pada 19 September 2021. Di Final, mereka berhadapan dengan tim dari Maluku (Juara 1), DIY (Juara 3) dan Sulawesi Barat. Sekali lagi selamat untuk teman-teman tim LCCR Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri atas prestasinya. (Dewa)
0 Comments

Lomba Menyanyi dan Menggambar PIA

10/10/2021

0 Comments

 
Picture
Picture
0 Comments

Pelaksanaan Vaksinasi ke-2 di Gereja St. Yohanes Rasul Wonogiri

10/6/2021

0 Comments

 
0 Comments

Surat Edaran Satgas Covid-19 KAS tentang Beberapa Ketetapan Pastoral Dalam Rangka  Pemulihan Semangat Menggereja dan  Memasyarakat pada Era Adaptasi Kebiasaan Baru

10/5/2021

0 Comments

 
0 Comments

    Archives

    December 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    October 2024
    August 2024
    April 2024
    December 2023
    November 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    March 2022
    February 2022
    December 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Arsip Berita
    Berita Paroki
    Pengumuman
    Surat Edaran
    Surat Gembala

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki