0 Comments
Tahbisan Imam Diakon dari Kongregasi Serikat Jesus (SJ), pada hari Rabu 28 Juli 2021 jam 09.00 WIB di Gereja St. Antonius Padua, Kotabaru, Yogyakarta :
Pendaftaran Kursus Persiapan Perkawinan. Dibuka untuk bulan Juli 2021. Akan dilaksanakan pada tanggal 11 Juli 2021 diundur tanggal 01 Agustus 2021 pukul 09.00 WIB – 15.00 WIB diaula paroki St Yohanes Rasul Wonogiri. Segera mendaftar ke Sekretariat Paroki.
Via Mandiri : Rp 13.060.000 Via BRI : Rp 5.455.000 Persembahan Bulanan : Rp 2.890.100 Kolekte Pembangunan bulan Juni 2021 : Rp 3.683.000 Persembahan bulanan pembangunan : Rp 2.557.000
Tahbisan Imam Diakon dari Kongregasi Serikat Jesus (SJ), pada hari Rabu 28 Juli 2021 jam 09.00 WIB di gereja St. Antonius Padua, Kotabaru, Yogyakarta :
Tahbisan Imam Diakon dari Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF), pada hari Selasa 13 Juli 2021 jam 09.00 WIB di gereja Keluarga Kudus Banteng Yogyakarta :
Tahbisan Imam Diakon dari Kongregasi Serikat Jesus (SJ), pada hari Rabu 28 Juli 2021 jam 09.00 WIB di gereja St. Antonius Padua, Kotabaru, Yogyakarta :
Komsos St. Yohanes Rasul Wonogiri melakukan hiking Gunung Besek, Bugelan, Kismantoro berlanjut ke Monumen Jenderal Sudirman, Pakisbaru, Nawangan pada Selasa, 1 Juni 2021. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memperingati Hari Lahirnya Pancasila sebagai ideologi Republik Indonesia. Tidak hanya sebagai peringatan, namun sebagai pemicu jiwa nasionalisme terutama bagi umat Katolik St. Yohanes Rasul Wonogiri. 100% Katolik 100% Indonesia.
Berlatar kain putih, beberapa foto terpajang di depan altar pada perayaan Ekaristi Minggu, 31 Mei 2021. Misa kali itu dipersembahkan untuk mereka, saudara-saudara kita yang telah berpulang ke rumah Bapa, khususnya akibat terpapar virus korona.
Bertepatan dengan penutupan bulan Maria, Paroki Santo Yohanes Rasul Wonogiri menggelar perayaan Ekaristi Misa Arwah di Gereja Pusat. Perayaan Ekaristi secara konselebrasi dipimpin oleh Romo Yosafat Dhani Puspantoro, Pr dan Romo Agus Suryana Gunadi, Pr. Sebanyak 60 umat dari keluarga yang berduka hadir dalam misa arwah tersebut. Tampak pula dalam perayaan Ekaristi beberapa pengurus Dewan Paroki serta kelompok doa dan peserta misa harian di paroki Santo Yohanes Rasul Wonogiri. Misa diselenggarakan dengan suasana hening khidmat sebagai bentuk keprihatinan dan kepedulian akan anggota keluarga yang telah meninggal. Foto-foto mendiang keluarga yang meninggal dipajang di depan altar untuk mengenang mereka dan memohon belas kasih kerahiman dari Allah. Dalam homili yang disampaikan oleh Romo Dhani, beliau berpesan agar keluarga yang ditinggalkan tetap teguh dan berpegang pada Kristus. Beliau juga memberikan motivasi dan inspirasi berangkat dari bacaan Injil tentang kisah Maria saat menjenguk saudarinya Elisabet. Makna dan tujuan yang ingin disampaikan melalui Ekaristi kali ini yaitu bahwa gereja sepenuhnya ingin berbela rasa bagi keluarga yang berduka. Ada pun bagi keluarga yang ditinggalkan, gereja membuka diri menjadi wadah untuk menumpahkan segala keresahan hati, guna mencari ketenangan setelah mengalami guncangan hebat. Setelah homili, ekaristi dilanjutkan dengan doa pemberkatan arwah untuk anggota keluarga yang meninggal. Nama dan intensi doa dibacakan satu per satu oleh Romo Agus. Dalam wawancara terpisah dengan Romo Dhani, beliau mengutarakan berbagai keprihatinan yang dialami paroki karena dampak dari Covid-19. Beliau berharap agar segenap umat Paroki Santo Yohanes Rasul Wonogiri tetap tabah dalam iman menghadapi pandemi yang sedang terjadi. Melalui Ekaristi Misa Arwah Covid-19 ini, kita disadarkan kembali akan cinta kasih Tuhan yang selalu menyertai kita sampai akhir kehidupan. Mengingat pandemi masih berlangsung, rencananya ekaristi misa arwah seperti ini akan terus dilaksanakan secara berkala dalam 2-3 bulan sekali. Reporter : Emmanuel Aji Sadewa/Komsos Antusiasme dan kegembiraan tampak di wajah para peserta Ekaristi Kaum Muda (EKM) pagi itu, Minggu 30 Mei 2021. Ini menjadi EKM pertama di Paroki St Yohanes Rasul Wonogiri sejak pandemi berlangsung.
Setelah lebih dari setahun terhenti, EKM akhirnya kembali terlaksana melibatkan 139 OMK, perwakilan dari 16 wilayah di Paroki St Yohanes Rasul Wonogiri. Bertepatan dengan perayaan Hari Tri Tunggal Maha Kudus, EKM dimulai pada pukul 10.00 WIB, dipimpin oleh Romo Yosafat Dhani Puspantoro, Pr. Di sela-sela homili, Romo Dhani meminta dua perwakilan peserta EKM untuk maju ke depan altar. Mereka dipilih berdasarkan asal domisili, terdekat dan terjauh dari gereja paroki. Peserta yang dekat diwakili oleh Nicholas Maria Nathan Veda dari OMK Wilayah Kota Tengah, sedangkan yang jauh diwakili oleh Agata Anggraini dari OMK Wilayah Manyaran. Romo Dhani kemudian menanyakan beberapa hal, salah satunya tentang apa yang mereka cari dalam EKM. Jawaban keduanya secara garis besar sama yaitu keinginan untuk menjalin kebersamaan dan keakraban antar OMK di Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri. Romo menyambut baik semangat OMK yang terwujud dari antusiasme mereka mengikuti EKM saat itu. Beliau berpesan mewakili gereja, kiranya EKM tidak hanya mempersatukan kembali tali persaudaraan, namun juga dapat mendorong keterlibatan orang muda secara aktif baik di paroki dan di wilayah masing masing. Hal itu mengingat OMK adalah generasi penerus, wajah gereja masa depan. Romo pun menawarkan ruang untuk OMK terlibat, diantaranya dengan ikut berpartisipasi dalam kegiatan pewartaan seperti Komsos, Lektor, Prodiakon dll. Gereja akan terbuka untuk menerima setiap usulan atau keputusan yang disampaikan oleh orang muda, karena Gereja menjadi terasa lebih hidup oleh kerja keras dan warna warni yang diperjuangkan oleh orang muda. Setelah homili, Ekaristi dilanjutkan dengan pelantikan pengurus baru OMK masa kerja 2021-2024. Proses pelantikan dilakukan dengan penyebutan nama kepengurusan OMK terbaru sesuai Surat Keputusan Paroki yang dibacakan oleh Yuliana Setyaningsih selaku Ketua Bidang Pewartaan yang menaungi OMK. Sambutan baik dari pelaksanaan EKM ini memupuk keinginan untuk menjadikannya sebagai kegiatan rutin kembali. Menurut salah satu peserta EKM dari Wilayah Kota Tengah, Angelica Veren Novalia Eka Prasta, ia senang EKM kembali dilaksanakan, “Yang pasti sih senang bisa ketemu, bisa srawung lagi sama temen-temen OMK, apalagi kan di kondisi pandemi sekarang yang sebenernya terbatas ruang buat kumpul-kumpul gini, tapi Puji Tuhan masih dikasih kesempatan buat ketemu sama temen-temen OMK lewat Misa EKM”. Selanjutnya ia mengutarakan harapannya agak OMK kembali aktif dengan beragam kegiatan kreatif sebagai bentuk eksistensi. “Jadi OMK Wonogiri tuh bener-bener terlihat kayak oh OMK nya tuh masih aktif, kegiatan-kegiatan juga masih jalan. Dan juga berharap banget untuk kedepanya misal ada kegiatan OMK bisa direspon positif sama anak-anak OMK gitu. Kayak yang sekarang dekat-dekat ini kan OMK lagi ngadain sayembara logo tuh, nah harapannya melalui kegiatan ini OMK di Wonogiri bisa menuangkan kreatifitasnya gitu.” Rencananya, EKM akan dilaksanakan tiga bulan sekali. Semoga EKM dapat mengundang semakin banyak orang muda untuk terlibat. Reporter : Emmanuel Aji Sadewa, Michael Wahyu Kristian/Komsos Hari masih pagi saat Tim Komunikasi Sosial (Komsos) Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri tiba di Dusun Jlegong, Desa Gemawang, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri, pada Minggu, 16 Mei 2021. Bertepatan dengan hari Komsos Sedunia, kami hendak memperingatinya dengan hiking, ziarah dan perayaan Ekaristi. Berawal dari Gua Maria Fatima Sendang Klayu dan berakhir di puncak bukit Watu Lumbung.
Kami tidak sendiri. Romo, Suster dan perwakilan dari Dewan Harian Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri turut mendampingi. Beberapa rekan Orang Muda Katolik (OMK) dari lingkungan Jlegong pun turut berpartisipasi sebagai penunjuk jalan. Total ada 19 orang yang bergabung pagi itu. Tak lupa, protokol kesehatan Covid-19 kami terapkan dengan disiplin. Berangkat dari titik kumpul, butuh waktu sekitar setengah jam berjalan kaki untuk sampai di Gua Maria Fatima Sendang Klayu. Akses menuju gua maria berupa ratusan anak tangga yang menanjak. Memang cukup melelahkan, tetapi rindang pepohonan sedikit mengurangi terpaan sinar matahari langsung. Gua Maria yang menjadi bagian dari sejarah gereja perdana di lingkungan Jlegong ini masih cukup sederhana. Peziarah akan disambut oleh penampakan gua Maria dan sebuah pendopo. Jika berkunjung, tentunya akan semakin lengkap jika menyambangi mata air Sendang Klayu yang telah disucikan sebagai tempat doa sejak tahun 1960an ini. Doa Rosario menjadi pembuka rangkaian acara dipimpin oleh salah satu perwakilan tim Komsos. Acara kemudian berlanjut dengan pendakian menuju puncak Watu Lumbung yang berjarak sekitar satu setengah jam berjalan kaki. Watu Lumbung sendiri adalah perbukitan kecil di dekat area Gua Maria. Menurut warga setempat, disebut Watu Lumbung karena penampakannya yang sekilas kotak, mirip dengan bangunan penyimpanan padi orang Jawa. Oleh masyarakat setempat, Watu Lumbung dimanfaatkan menjadi lokasi wisata pendakian. Sesampainya di puncak, rasa letih sirna saat melihat hamparan pemandangan hijau. Rasa syukur kami satukan dalam perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Yosafat Dhani Puspantoro, Pr. Dalam homilinya, romo paroki St Yohanes Rasul Wonogiri itu mengibaratkan perjuangan hidup seperti halnya hiking dan ziarah, "Akan ada banyak rintangan dan halangan ketika mencari jalan menuju puncak kehidupan. Demikian juga semakin dewasa akan semakin banyak pula tanjakan yang harus dilalui”. Romo yang bertugas di Wonogiri sejak tahun 2017 itu pun mengingatkan tentang peran tim Komsos khususnya di tengah suasana pandemi belakangan ini, “Komsos bukan hanya sebuah kelompok aktivis gereja, namun merupakan salah satu perantara nilai-nilai rohani yang disampaikan baik daring maupun luring kepada umat terutama di Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri”. Ada pun tema peringatan hari Komsos tahun ini yaitu: Datang dan Lihatlah (Yoh 1:46), kita semua dipanggil untuk menjadi saksi kebenaran, untuk pergi, melihat dan berbagi. Rangkaian kegiatan hari itu pun menjadi renungan bahwa di kehidupan baiknya saling memberikan pertolongan dan kasih terhadap sesama. Bersama dengan saudara seiman, mari kita menjalin komunikasi yang baik sehingga tercipta Gereja yang dikehendaki oleh Yesus. (Ian/Komsos) Catatan Redaksi: Bagi umat yang ingin berziarah ke Gua Maria Fatima Sendang Klayu, sebagai arahan dari pusat kota Wonogiri berjarak sekitar 32 km atau sekitar satu setengah jam perjalanan darat. Rute melewati Jalan Raya Wonogiri- Pacitan. Sekitar 8 km dari pasar Ngadirojo, berbelok ke kiri dengan patokan SDN 1 Ngadipiro. Setelahnya tinggal menyusuri jalan kampung menuju Desa Gemawang Indonesia sedang mengalami pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir. Setiap hari jumlah penderita semakin bertambah. Dampaknya telah merambah ke segala sisi kehidupan manusia tak kecuali dalam dunia pendidikan. Kegiatan sekolah harus dialihkan ke rumah. Bagi orangtua yang memiliki anak kelas PAUD s.d. kelas III SD, yang sering disebut kelas kecil menjadi tantangan tersendiri. Usia anak pada kelas ini adalah 2 s.d. 8 tahun dan sering disebut sebagai Golden Age. Anak pada usia ini sangat membutuhkan pendampingan dan bimbingan penuh dari orangtua. Sehingga orangtua dituntut untuk membimbing dan mendampingi anak dalam belajar. Hal ini dikarenakan perkembangan kognitif anak sedang bekerja secara maksimal untuk menyerap informasi sebanyak-banyaknya. Akan tetapi, sering kali orangtua salah mengartikan bahwa anak harus diberikan informasi akademik sebanyak-banyaknya. Sehingga, orangtua melupakan sisi karakter dan keimanan yang juga harus dikembangkan. Padahal, sisi karakter dan keimanan inilh yang nantinya akan berpengaruh bagi dasar kehidupan anak. Namun, masalah orangtua bukan hanya mendampingi anak, melainkan juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Akibatnya, menimbulkan tingkatan stres yang berbeda dari orangtua.
Ternyata di masa pandemi ini peranan orangtua dalam pendidikan anak di rumah menjadi ekstra besar. Bahkan, orangtua yang sebelumnya menyekolahkan anaknya di sekolah swasta berbasis keagamaan harus kembali mengajarkan buah hatinya tata cara berdoa yang baik dan benar. Orangtua harus berperan sebagai guru. Namn, memberikan penjelasan dan pembelajaran pada usia Golden Age bukan perkara yang mudah. Orangtua harus belajar bagaimana menyampaikan pembelajaran yang dapat dimengerti anak dengan metode masa kini. Sehingga Ikatan Psikolog Klinis Indonesia akhirnya melakukan penelitian terkait tingkat stres anak selama pandemi. Dari hasil penelitian tersebut ternyata bukan anak yang stres karena terlalu lama tinggal di rumah, melainkan orangtua yang stres karena harus ekstra membagi waktu. Situasi seperti di atas banyak kita temui dalam keluarga. Pekerjaan orangtua yang bertambah membuat sebagian orangtua stres. Pekerjaan kantor yang menumpuk dikarenakan dengan work from home, sekolah anak dengan sistem daring, dan juga harus memikirkan siapa yang akan mengasuh anak saat ditinggal bekerja. Keadaan ini menjadi dilema tersendiri bagi orangtua karena orangtua berada dalam kondisi krisis secara psikologis. Hal ini dikarenakan kurangnya waktu pribadi untuk orangtua. Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan orangtua kesulitan menyampaikan pembelajaran pada anak, salah satu di antaranya adalah
2. Harapan orangtua yang terlalu tinggi.Orangtua sering lupa bahwa pola pikir anak sangat sederhana, belum serumit orang dewasa. Dan orangtua selalu menjelaskan dengan pola pikir orang dewasa bukan pola pikir dalam Bahasa anak-anak. Sering kali anak menjadi bingung dengan penjelasan dari orangtua. Sehingga menimbulkan kekesalan orangtua karena penjelasannya tidak dapat dipahami oleh anak. Dari faktor inilah akhirnya orangtua memiliki kesimpulan bahwa anaknya tidak pandai dan tidak tanggap dengan penjelasan orangtua. 3. Orangtua yang tidak siap menjadi orangtua.Bagaimana bisa ini terjadi? Sebagai contoh, pasangan yang mau menikah, namun tidak siap berumah tangga. Atau pasangan suami istri yang mau mempunyai anak, namun tidak siap menjadi orangtua. Sebenarnya pasangan-pasangan ini tidak siap dengan orientasi masa depan. Dengan memiliki anak, orangtua harus meluangkan waktu mendengarkan, mendampingi, mendidik, dan bahkan menyiapkan banyak sekali investasi. Mereka tidak siap kehilangan waktu bebas. Karena menjadi orangtua terkadang harus mengesampingkan keinginan dan cita-cita demi mendampingi anak-anak. Dari banyak kejadian akibat pandemi ini, sebenarnya banyak hal yang dapat kita syukuri. Karena kita memiliki banyak waktu untuk berdoa dan melakukan kegiatan sosial. Kita memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga. Selain itu, kita menjadi lebih mengenal kepribadian buah hati kita. Tidak hanya itu, kita menjadi pribadi yang tangguh dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga di tengah pandemi yang tidak kita ketahui kapan akan berakhirnya. Marilah kita melihat sisi berkat dari sebuah bencana menjadi obat stres yang mujarab. Selamat memaknai kehidupan _Salam Sehat Jiwa_ (Fransisca Anindya Mariesta Prabawati, M.Psi., Psikolog.) Editor : Kristina Wuri Desmayani I. Pengumuman Tahbisan Imam Pengumuman Kedua
Tahbisan Imam Diakon dari Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF), pada hari Selasa 13 Juli 2021 jam 09.00 WIB di Gereja Keluarga Kudus Banteng Yogyakarta :
Saudara/i yang mengetahui adanya halangan tahbisan Imam wajib lapor Rama Paroki. II. Pengumuman Perkawinan Pengumuman Ketiga
III. Pendaftaran Kursus Persiapan Perkawinan. Dibuka untuk bulan Juli 2021. Akan dilaksanakan pada tanggal 11 Juli 2021 diundur tanggal 25 Juli 2021 pukul 09.00 WIB – 15.00 WIB di aula paroki St Yohanes Rasul Wonogiri. Segera mendaftar ke Sekretariat Paroki. |
Archives
December 2025
Categories
All
|
RSS Feed