|
Gereja Katolik pada hari Minggu, 4 Januari 2026 merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan. Misa Perayaan Ekaristi dilaksanakan di Gereja St. Yohanes Rasul Wonogiri dipimpin oleh Romo Heribertus Budi Purwantoro, Pr. Perayaan Ekaristi berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan sukacita. Hari Raya Penampakan Tuhan juga dirangkaikan dengan Hari Anak Misioner, sehingga suasana misa terasa semakin hidup dan bermakna bagi seluruh umat yang hadir.
Dalam homilinya, Romo Budi mengulas perbedaan konsep kehadiran Tuhan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Ia menjelaskan bahwa dalam Perjanjian Lama, Tuhan dipahami sebagai sosok yang tidak dapat dijumpai manusia secara langsung. Namun, pemahaman tersebut mengalami perubahan dalam Perjanjian Baru ketika Yesus hadir ke dunia sebagai manusia, sehingga kehadiran Tuhan dapat dilihat dan dialami secara nyata. Romo Budi menegaskan bahwa kehadiran Yesus berawal dari Maria yang menerima rahmat untuk mengandung oleh kuasa Roh Kudus dan melahirkan Putra Allah yang diberi nama Yesus. Melalui kehadiran-Nya, Tuhan menyatakan kasih-Nya tidak hanya bagi bangsa Israel, tetapi bagi seluruh bangsa di dunia. “Tuhan hadir menjadi manusia, tidak hanya untuk bangsa Israel, tetapi untuk semua bangsa di dunia,” ujar Romo Budi dalam homilinya. Lebih lanjut, Romo Budi mengingatkan umat akan salah satu godaan yang kerap dialami manusia, yaitu perasaan bahwa Tuhan tidak mengasihi. Ia menegaskan bahwa dalam situasi apa pun, umat diajak untuk tetap percaya bahwa Tuhan selalu hadir dan mengasihi setiap manusia tanpa syarat dalam kondisi apapun. Menutup homilinya, Romo Budi mengajak seluruh umat untuk menyanyikan lagu “Kita Usahakan Lagi” sebagai simbol ungkapan iman bahwa Tuhan senantiasa hadir untuk mengasihi, memahami kebutuhan umat-Nya, serta menyertai perjalanan hidup manusia pada waktu yang tepat. (Rafaela Sekar/Komsos)
0 Comments
Sore itu, perayaan Ekaristi di Gereja Santo Petrus dan Paulus Manyaran dipimpin oleh Romo Alexander Joko Purwanto, Pr, Sabtu 3 Januari 2026. Hujan deras tidak menyurutkan semangat umat untuk beribadah.
Sabtu dan Minggu pekan pertama bulan Januari, Gereja Katolik memperingati "Hari Anak Misioner". Dalam bacaan diceritakan kisah tiga raja dari timur menuju babilonia atau sekarang kita kenal dengan negara Irak. Kisah itu jika kita maknai selaras dengan bagaimana kita berusaha untuk terus mencari keselamatan. Keselamatan adalah sesuatu yang bersifat universal segala bangsa atau golongan. Setiap orang sesungguhnya sedang ada dalam peziarahan untuk mencari keselamatan. Romo Joko berpesan, jika kita ingin mendapatkan keselamatan maka yang perlu kita lakukan yaitu diantaranya meneladani tiga raja dari timur yang tidak lekas puas atau berhenti. Mereka terus mencari dan tidak menetap di satu tempat. Artinya mencari keselamatan adalah mencari Tuhan dengan berani meninggalkan sesuatu yang tidak baik. Kedua, kita harus rendah hati untuk dibimbing seperti tiga raja yang mau dibimbing oleh tiga bintang. Kerendahan hati untuk bertanya kepada mereka yang lebih paham siapa Tuhan, dimana Tuhan untuk memiliki hidup bermakna. Kita wajib dan mau dibimbing Tuhan untuk menemukan jalan baru untuk menuju keselamatan dan tidak kembali kepada jalan yang lama. Itulah yang disebut pertobatan. (Yolenta Bellena/ Komsos) Rabu, 31 Desember 2025, Gereja St. Yohanes Rasul Wonogiri merayakan hari raya Tutup Tahun dan Pelantikan Dewan Pastoral Paroki (DPP) 2026-2028. Rasa syukur ini kemudian disatukan dalam ujub misa yang di selenggarakan pukul 17:00 WIB di Gereja St. Yohanes Rasul Wonogiri. Ekaristi tersebut dipimpin oleh Romo Vikep Surakarta yaitu Romo Yosep Herman Suntoro, Pr dan Romo Paroki, yaitu Romo Alexander Joko Purwanto, Pr, Romo Lambertus Issri Purnomo, M., Pr dan Romo Heribertus Budi Purwantoro, Pr diikuti oleh seluruh umat Paroki dengan suasana khidmat.
Pada khotbahnya, Romo Yosep Herman Suntoro, Pr mengajak umat untuk bersyukur atas tahun yang ditinggalkan serta berkat untuk menjalani tahun yang baru. Ditengah-tengah homili berlangsung, pelantikan calon Dewan Pastoral Paroki dilaksanakan. Romo mewawancarai beberapa anggota DPP yang akan dilantik, salah satunya Ardi Bagas Santoso dari lingkungan Paulus Wilayah Sidoarjo. Romo bertanya tentang harapan untuk Gereja Paroki St Yohanes Rasul Wonogiri dan para misdinar di masa yang akan datang. "Bisa menjadi lebih baik, berkembang dan bisa menjadi contoh dari peran serta umat gereja." Ujar Ardi Bagas Santoso. Romo juga menyinggung peringatan Santa Perawan Maria Bunda Allah yang di peringati setiap tanggal 1 Januari sebagai penghormatan peran Maria sebagai ibu Yesus Kristus. Kita diharapkan menjadikan Perayaan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah sebagai contoh untuk menegaskan iman kita sebagai manusia yang lahir di dunia dan menjadi teladan bagi kehidupan kita dari Bunda Maria yang siap melahirkan Yesus ke dunia. Seperti calon Dewan Pastoral Paroki yang siap menjalankan tugas dalam hal pelayanan gereja dan ambil bagian karya. Romo juga mengajak para umat untuk menyadari kehadiran Kristus dan Bunda Maria dalam hidup kita, baik dalam keadaan suka maupun duka dan tetap setia. Meskipun tidak mudah, tetapi tetap percaya Tuhan mempersatukan dan tetap memberikan kekuatan. Diakhir homili, Romo mengajak para umat meminta berkat dan berdoa lewat Bunda Maria dengan harapan Dewan Pastoral Paroki dapat menjalankan tugas karya pelayanan dengan baik dan tetap siap sedia sebagai Dewan Pastoral Paroki. (Rafaela Sekar/Komsos) Natal menjadi kesempatan berkumpul dengan keluarga yang dinanti umat Kristiani. Namun, untuk beberapa orang, Natal justru harus menabung rindu lebih lama karena adanya kewajiban tertentu. Hal itu seperti dialami oleh kelima mahasiswa Universitas Sanata Dharma yang sedang menjalani program Live-in di Wonogiri.
Adalah Anna Angela Leli, Serliana Ose Wutun, Yosefia S. Saleleubaja, Stevanus Adi Putra Sahyudi dan Abraham Eifeel Christianto, mereka berlima adalah Mahasiswa Pendidikan Keagaaman Katolik Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Sejak November, mereka mengikuti program live-in di Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri. Kegiatan ini diagendakan berlangsung dari 1 Desember 2025 - 4 Januari 2026. Selama masa live in, mereka terlibat langsung dalam kehidupan paroki, mulai dari membantu kepanitiaan Natal hingga berkecimpung dalam pelayanan komunikasi sosial (Komsos). Bagi umat Wonogiri, kehadiran mereka memberi warna tersendiri dalam perayaan Natal, sekaligus mempererat kebersamaan antara umat dan para mahasiswa. Stevanus Adi Putra Sahyudi merasa menemukan banyak teman dan keluarga baru di Wonogiri. Menurutnya, live-in di Wonogiri sungguh merasakan hidup dikota kecil dengan culture slow living. Sementara itu, Abraham Eifeel Christianto berkisah tentang kebiasaannya saat Natal. Bulan Desember rasanya begitu sakral baginya, dengan jadwal mudik dan kumpul bersama keluarga terlebih mendekati Natal. Namun tahun ini tidak memungkinkan karena sedang mengikuti praktek kuliah. Saat ditanya tentang bagaimana makna Natal yang dirasakan kali ini, ia teringat pada pendalaman Adven pertemuan pertama dengan tema "Menantikan Kristus dalam Kebahagiaan Iman". Menurutnya tema itu sesuai dengan pengalamannya "Sungguh relevan bagi saya sendiri terutama perantau yang selalu terbayang kebahagiaan berkumpul bersama keluarga dalam menyambut kedatangan Kristus. Sekarang saya mulai menyadari kehangatan natal saat berkumpul bersama keluarga juga dapat tersalurkan dalam hati kita bagi sesama terutama di Paroki St. Yohanes Rasul, Wonogiri ini yang menjadi tempat saya praktek PKP, cukup dengan senyum, salam dan sapa menjadi perjumpaan yang hangat dalam menyambut natal tahun ini." Untuk umat Wonogiri, mereka menitipkan pesan selamat Natal, "Semoga kasih dan damai Natal membawa sukacita dan harapan baru dalam hidup kita semua. Dan semoga berkat Natal kita semakin mampu untuk merenungkan kasih Tuhan yang tak terbatas. Tuhan selalu menyertai kita dalam setiap langkah".(Natalia Astra/ Komsos) Minggu, 28 Desember 2025- Bertepatan dengan Hari Raya Keluarga Kudus, Gereja Katolik St. Yohanes Rasul Wonogiri mengadakan Misa Syukur Mingguan dengan ujub Hari Raya Keluarga Kudus dan diadakan rekoleksi pasangan suami istri setelah misa. Rekoleksi pasangan suami istri ini dibuka oleh Romo Alexander Joko Purwanto,Pr selanjutnya materi disampaikan oleh pasangan suami istri Iwan dan Lanny, koordinator Marriage Encounter (ME) Jogja-Solo. Pada kesempatan rekoleksi tersebut juga dibagikan berkat Apostolik dari Bapa Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Berkat apostolic tersebut diwujudkan dalam sertifikat penghargaan bagi yang telah mencapai usia perkawianan 25 dan 50 tahun.
Berikut daftar pasutri yang menerima berkat apostolik di Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri: Pasutri Petrus Kristiarif Satyadharma dan Bernadette Reni Setyawati 25 th Perkawinan (Lingkungan Titus Wilayah Kota Utara) Pasutri Antonius Paidi dan Fransiska Marlina Ambar 25 th Perkawinan (Lingkungan Maria Bunda Gereja Wilayah Wuryantoro) Pasutri Antonius Suparko dan Maria Magdalena Sumini 50 th Perkawinan (Lingkungan Xaverius Wilayah Kota Timur) Pasutri Henricus Walujo Sedjati dan Lucia Sri Widarjanti 50 th Perkawinan (Lingkungan Lukas Wilayah Kota Utara) Pasutri Yohanes Sukarno dan Yustina Sutini 50 th Perkawinan (Lingkungan Lazarus Wilayah Ngadirojo) Pasutri Antonius Suharto dan Agnes Sutiwi 50 th Perkawinan (Wilayah Purwantoro) Pasutri Fransiskus Xaverius Sutikno dan Fransiska Sri Hartini 50 th Perkawinan (Lingkungan Ignatius Wilayah Kota Timur) Pasutri Agustinus Diyoto dan Christina Maryanti 50 th Perkawinan (Lingkungan Andreas Wilayah Sidoharjo) Pasutri Hendrikus Wugu Suratno dan Maria Marijem 50 th Perkawinan (Lingkungan Yusup Wilayah Kota Selatan) Natal membawa sukacita untuk semua umat tak terkecuali bagi anak-anak. Paroki Santo Yohanes Rasul Wonogiri pun mengajak anak-anak untuk bergembira bersama dalam perayaan natal anak, Kamis, 25 Desember 2025. Bertempat di Aula Gereja Paroki Santo Yohanes Rasul Wonogiri, 200-an anak dari berbagai wilayah berpartisipasi dalam acara tersebut. Ragam acara telah disiapkan panitia, salah satu yang menarik yaitu pentas seni yang diikuti oleh masing-masing wilayah dari berbagai jenjang mulai dari TK, SD hingga SMP. Kehadiran sosok Sinterklas menambah semarak acara. Tokoh yang identik dengan Natal itu begitu menghibur serta menarik perhatian anak-anak. Para romo pun turut hadir memberikan peneguhan iman.
Sinergi Dalam Iman: Cerita di Balik Layar Persiapan Natal Kapel St. Christoporus Wuryantoro12/26/2025 Di balik lancarnya perayaan Ekaristi, ada tangan-tangan terampil dan hati yang tulus bekerja untuk Tuhan. Di Kapel St. Christoporus Wuryantoro, persiapan Natal ini bukan sekedar rutinitas, melainkan persembahan bersama untuk menyambut kehadiran Allah dalam keluarga (25/12/2025).
Menjelang Natal tahun 2025, suasana kapel St. Christoporus Wuryantoro tampak lebih hidup. Para petugas liturgi, mulai dari tim paduan suara Christovoice, tim dekorasi, misdinar, dan petugas lainnya bahu-membahu mempersiapkan segalanya demi mengidupkan tema “Allah Hadir Untuk Menyelamatkan Keluarga”. Bagi mereka ini adalah cara nyata untuk menjemput berkat Tuhan bagi keluarga-keluarga di Wilayah St. Chistoporus Wuryantoro ini. Sentuhan Estetika di Altar dan Gua Natal Sentuhan pertama yang langsung menyapa mata adalah transformasi wajah altar, goa dan pohon natal. Tim dekorasi Kapel St. Christophorus tampak sibuk merangkai ornamen-ornamen. Tahun ini, dekorasi tidak hanya mengejar keindahan, tetapi juga kehangatan. Melalui penataan kandang, pohon natal, hiasan altar yang apik, mereka ingin menciptakan suasana di mana setiap keluarga yang datang merasa "pulang" ke rumah Tuhan. Bagi tim dekorasi, setiap helai bunga dan ranting yang dipasang adalah doa agar suasana batin umat semakin siap menyambut kelahiran Tuhan Yesus Kristus Juru Selamat kita. “Pembuatan dekorasi Goa Natal ini membuat saya mampu berkreativitas dengan baik karena tidak ada spesifikasi atau aturan khusus dari paroki misalnya dari segi ukuran dan konsep yang paten”, ungkap Joko Purwanto salah satu panitia dekorasi Natal Kapel Christoporus Wuryantoro tahun ini. “Bagi saya pelayanan itu, yang terpenting adalah hatinya senang, dan tulus mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab kita”, imbuh Joko. Disiplin di Balik Jubah Putih Keindahan visual di altar tentu tidak lengkap tanpa kekhidmatan gerak putra altar. Di tengah kesibukan dekorasi, para anggota Misdinar atau Putra Altar juga tak kalah serius. Di bawah arahan pendamping, mereka melakukan gladi bersih untuk memantapkan setiap gerakan mulai dari perarakan, membawa wiruk, memukul gong, hingga membunyikan lonceng. Latihan intensif ini dilakukan agar prosesi liturgi berjalan rapi dan tanpa hambatan, karena mereka percaya bahwa kedisiplinan adalah bentuk hormat tertinggi dalam melayani Tuhan. Meskipun setiap putra altar yang bertugas dalam perayaan natal kali ini didominasi dengan mereka yang masih duduk di bangku SMP dengan segala kesibukan sekolah dan aktivitas lainnya, semangat untuk tetap melayani tetap menjadi prioritas utama. “Aku senang menjadi misdinar apalagi diberi kepercayaan membawa wirug. Meskipun terkadang terasa panas, namun hal tersebut tidak mengurangi semangatku untuk melakukan pelayanan”, jelas Jovena Amore atau biasa dipanggil More sebagai salah satu misdinar yang bertugas. “Aku juga merasa senang karena bisa melayani Tuhan dengan baik dari awal sampai akhir, dan dipercaya membawa navikula berpasangan dengan More”, imbuh Angelica Ivana atau akrab disebut Angel. More dan Angel memang terlihat dekat sedari kecil, sehingga kekompakkan mereka dalam melakukan pelayanan sebagai misdinar tidak diragukan lagi. Ketika Talenta Dipersembahkan Dengan Hati Nyanyian indah nan merdu dalam Perayaan Ekaristi Natal kali ini, dinyanyikan oleh kelompok paduan suara Christovoice. Kelompok paduan suara ini cukup eksis di Kapel Wuryantoro. Terbentuknya paduan suara ini dari perwakilan masing-masing lingkungan di Wilayah Wuryantoro. Mereka terdiri dari tiga sopran, dua alto, dua tenor, satu bass. “Proses latihan menuju natal ini cukup seru. Apalagi saat menghadapi lagu-lagu baru, setiap personil sangat gigih berlatih meskipun terkadang saat mau latihan, tiba-tiba hujan deras, mati listrik, bahkan ada yang sakit”, ucap Gabriel Kidung Tresna Ismu Aji sebagai organis di Christovoice. Persiapan yang kurang lebih dilakukan selama satu bulan ini, baginya cukup menantang. Gabriel juga sempat menyampaikan bahwa dalam pelayanan Christovoice natal kali ini, suasananya terasa baru karena terdapat penambahan instrumen baru yaitu biola sebagai pemanis “Rasanya sangat bersuka cita karena ternyata semakin banyak anak muda yang mau menggunakan talentanya untuk melayani Tuhan”, imbuh Gabriel saat diwawancarai tim magang Komsos. Gabriel juga menjelaskan bahwa makna suka cita baginya dalam pelayanan bukan tentang soal teknik bermusik, atau indahnya suara yang dihasilkan paduan suara. Namun, tentang Tuhan yang memberi kita talenta, dan bagaimana kita bisa mengembalikannya untuk Tuhan. Kesalahan teknik dalam melakukan pelayanan musik adalah hal yang wajar baginya. “Yang terpenting adalah bagaimana ketulusan hati kita dalam melayani”, tuntas Gabriel. Menghayati Hadirnya Allah dalam Keluarga Segala lelah dalam persiapan ini sebenarnya berakar pada satu pesan kuat yang ingin disampaikan melalui tema tahun ini. “Tema Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga adalah sebuah ajakan bagi umat di Wuryantoro untuk menyadari bahwa keluarga adalah tempat pertama Tuhan menyatakan kasih-Nya”, tutur Rm. Heribertus Budi Purwanto, Pr dalam homilinya. Melalui Natal 2025 ini, diharapkan keluarga-keluarga tidak hanya berkumpul secara fisik, tetapi juga mengalami pemulihan, kedamaian, dan keselamatan yang dibawa oleh kelahiran Yesus Kristus. Perayaan ekaristi Natal yang berlangsung kurang lebih dua jam tersebut terasa begitu hangat dan menyentuh hati karena terdapat bahan refleksi baru bagi saya sendiri. Mencintai keluarga, menjaga keluarga untuk tetap dalam kasih Tuhan Yesus menjadi tugas yang harus selalu dilakukan oleh setiap kita anggota keluarga entah ayah, ibu, ataupun anak tanpa terkecuali. Sebagai penutup perayaan yang sederhana namun penuh makna, setelah Ekaristi selesai, panitia mengajak seluruh umat untuk makan bersama Romo Budi. Kebersamaan ini menjadi simbol nyata dari semangat kekeluargaan yang ingin dihidupi yaitu duduk bersama, berbagi hidangan, dan mepererat persaudaraan. Dalam suasana hangat itulah perayaan Natal tidak hanya dirasakan di altar, tetapi juga di tengah kehidupan umat sebagai satu keluarga besar dalam kasih Tuhan. (Rachel Sukma/ Komsos) Perayaan Misa Malam Natal di Gereja Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri berlangsung khidmat dan penuh sukacita pada Rabu malam, 24 Desember 2025. Misa yang dipimpin oleh Rm. Heribertus Budi Purwantoro, Pr ini berlangsung kurang lebih selama dua jam dan dihadiri umat dalam jumlah besar.
Meski hujan deras sempat mengguyur wilayah Wonogiri pada sore hari, hal tersebut tidak mengurangi antusiasme umat untuk menghadiri perayaan Natal. Sejak pukul 18.00 WIB, kursi gereja telah terisi penuh. Suasana damai dan sukacita begitu terasa, menandai perayaan kelahiran Yesus Kristus yang dinantikan umat. Suster Juliana CB, yang telah dua tahun bertugas di Paroki Wonogiri, mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya dapat kembali merayakan Natal bersama umat. Ia merasakan suasana yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Saya sungguh merasakan sukacita dan kedamaian yang luar biasa malam ini. Walaupun hujan deras, umat tetap datang dan gereja penuh. Itu sangat menyentuh hati saya,” ungkapnya. Menurut Suster Juliana, bagian yang paling berkesan dari Misa Malam Natal adalah nyanyian pembuka “Malam Kudus”. Lagu tersebut membantunya masuk lebih dalam ke suasana Natal dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu, homili yang disampaikan oleh Romo Budi juga memberikan kesan mendalam. Pesan tentang kesetiaan yang lahir dari pengorbanan, menjadi refleksi yang menguatkan terutama dalam menjalani panggilan hidup. Dalam kesempatan tersebut, Suster Juliana juga menyampaikan harapannya bagi umat Paroki Wonogiri agar semangat Natal tidak hanya terlihat pada Misa Malam Natal, tetapi juga tetap terjaga dalam perayaan Natal di pagi hari dan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengajak umat untuk terus membawa sukacita Natal dan membagikannya kepada sesama. Sukacita Natal juga dirasakan oleh kaum muda paroki. Aurel, salah satu pengurus Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Wonogiri, mengungkapkan bahwa Misa Malam Natal tahun ini sangat menyentuh hatinya. “Rasanya itu nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Apalagi saat menerima komuni, rasanya sampai mau menangis,” tuturnya. Aurel berharap setelah Natal ini ia dapat menjadi pribadi yang lebih baik, lebih dewasa, dan terus berkembang secara positif. Ia juga berharap Paroki Wonogiri semakin berkembang, semakin solid, dan semakin banyak umat yang terlibat aktif dalam kehidupan menggereja. Perayaan Misa Malam Natal di Paroki Wonogiri menjadi momentum penuh makna bagi umat untuk kembali meneguhkan iman, merayakan kelahiran Sang Juru Selamat, serta memperbaharui semangat untuk hidup dalam kasih, pengorbanan, dan sukacita Natal. (Tim Liputan/ Komsos) Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri menggelar Misa Perayaan Natal pagi dengan penuh khidmat dan sukacita, Kamis, 25 Desember 2025. Perayaan Ekaristi ini diikuti oleh umat dari berbagai kalangan yang telah memenuhi gereja untuk merayakan kelahiran Yesus Kristus sebagai Juru Selamat. Misa Natal pagi tersebut dipimpin oleh Romo Alexander Joko Purwanto Pr.
Suasana Natal terasa begitu hangat dengan iringan lagu-lagu rohani serta dekorasi gereja yang sederhana namun sangat bermakna. Selama perayaan berlangsung, umat mengikuti rangkaian ibadah dengan penuh penghayatan dan rasa syukur. Kebersamaan yang terjalin dalam perayaan ini mencerminkan semangat Natal, yaitu cinta kasih, persaudaraan, dan sukacita. Dalam homilinya, Romo Joko mengajak umat untuk merenungkan makna Natal melalui sebuah pertanyaan sederhana, yakni "Lagu Natal apa yang paling mengesankan bagi umat?". Romo kemudian membagikan lagu Natal yang paling berkesan baginya berjudul “The Little Drummer Boy". Lagu tersebut mengisahkan seorang anak kecil yang datang berdoa kepada Tuhan di sebuah gua. Ia ditertawakan oleh teman-temannya karena tidak membawa hadiah apa pun selain sebuah drum kecil yang dimilikinya. Namun, ketulusan dan keniatan hati sang anak menjadikan persembahan sederhana tersebut sangat bermakna di hadapan Tuhan. Selain itu, Romo juga menyampaikan penjelasan mengenai Arah Dasar (Ardas) Keuskupan Agung Semarang yang baru. Romo menegaskan bahwa Ardas terdiri dari banyak unsur yang saling melengkapi. “Terdapat banyak kata yang dijadikan sebagai Ardas, apabila satu tidak ada, maka terasa tidak lengkap,” ungkap Romo. Melalui homili yang disampaikan, umat diajak untuk menyadari bahwa makna Natal tidak terletak pada kemewahan atau besarnya pemberian, melainkan pada niat tulus untuk menghadirkan sukacita bagi sesama. Meski melalui hal-hal kecil, kebersamaan dan kasih yang terbangun menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi kehidupan bersama.(Rafela Tyas/ Komsos) Antusiasme umat kembali tampak dalam pelaksanaan Novena Ketiga di Gua Maria Fatima Sendang Klayu Jlegong, Minggu, 14 Desember 2025. Cuaca mendung tak menyurutkan umat untuk hadir pada kegiatan doa bersama yang dirangkai dengan aksi nyata kepedulian lingkungan pagi itu. Pembagian bibit pohon digagas sebagai salah satu upaya menghidupkan kembali devosi umat kepada Bunda Maria sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya merawat alam.
Salah satu pengelola Gua Maria Fatima Sendang Klayu Jlegong, Antonius Djatmiko, mengungkapkan bahwa dalam setahun terakhir tidak dapat dipungkiri bahwa sempat terjadi penurunan kehadiran umat dalam novena di tempat tersebut. Beberapa faktor penyebabnya antara lain lokasi Gua Maria yang relatif jauh dari pusat kota, akses menuju lokasi yang membutuhkan stamina ekstra, serta kondisi cuaca, terutama saat musim hujan. “Karena itu, kami mulai mengadakan novena yang disertai dengan kegiatan tematik atau event, seperti pembagian bibit pohon hari ini, kemudian pembagian patung Maria, serta kegiatan bersama Orang Muda Katolik (OMK). Harapannya, umat kembali tergerak untuk hadir dan berdevosi,” jelas Anton. Keunikan Novena Ketiga ini terletak pada tema kepedulian terhadap alam, sebagaimana disampaikan dalam homili Romo Heribertus Budi Purwantoro, Pr yang memimpin misa pagi itu. Pembagian bibit pohon tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga mengandung pesan iman yang mendalam. Anton menegaskan bahwa sumber mata air di kawasan Gua Maria ini menghidupi satu dusun di sekitarnya. “Kalau alam dirawat, sumber air tetap hidup. Ini berdampak langsung bagi pertanian dan kebutuhan air warga. Gerakannya sederhana, tetapi maknanya sangat dalam,” tambahnya. Berbeda dengan novena sebelumnya, setiap rangkaian novena di Gua Maria Fatima Sendang Klayu Jlegong dirancang dengan tema yang berbeda. Pada bulan Februari mendatang, kegiatan akan mengangkat tema cinta kasih bertepatan dengan momen Valentine. Sementara itu, pada bulan Mei direncanakan pembagian patung Maria yang dibuat khusus oleh seniman dan akan didistribusikan ke lingkungan-lingkungan. Selain mengangkat tema lingkungan, pesan iman dalam homili juga menekankan makna kebahagiaan sejati. Anton menuturkan bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari hal-hal besar atau materi, melainkan dari tindakan sederhana seperti senyuman, sapaan, dan doa dalam keluarga. “Sebelum kita aktif keluar di lingkungan atau gereja, kita perlu mencintai dan menguatkan keluarga terlebih dahulu. Dari situlah kita bisa melangkah lebih jauh,” ujarnya. Terkait pembagian bibit, kegiatan penghijauan ini merupakan tahap lanjutan dari program sebelumnya. Umat diajak membawa bibit pohon tertentu, seperti beringin atau gayam, yang kemudian ditukar dengan bibit durian dan alpukat yang disediakan oleh pengelola. Ke depan, pengelola Gua Maria Fatima Sendang Klayu Jlegong berharap tempat ziarah ini terus berkembang tanpa kehilangan keaslian dan kearifan lokal. Pembangunan dilakukan dengan memanfaatkan material alam sekitar, seperti batu yang tersedia di kawasan tersebut, tanpa mengejar kemegahan berlebihan. “Kami ingin Gua Maria ini tetap sederhana, alami, dan menjadi tempat doa yang mengakar pada kearifan lokal,” pungkas Anton. Dengan semangat kebersamaan dan kreativitas dalam setiap kegiatan, Novena di Gua Maria Fatima Sendang Klayu Jlegong diharapkan terus menginspirasi umat untuk semakin mencintai Maria, sesama, dan alam ciptaan Tuhan. Lely & Ochy Mahasiswa Universitas Sanata Dharma |
Archives
January 2026
Categories
All
|
RSS Feed