Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Hello Romo!

12/25/2034

18 Comments

 
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
18 Comments

Maria Bunda Harapan Surgawi

8/16/2026

0 Comments

 
Puncta 16 Agustus 2026
HR. St. Maria Diangkat ke Surga
Lukas 1: 39-56

HARI INI kita merayakan Santa Maria yang diangkat jiwa dan raganya ke dalam surga. Semestinya hari raya ini dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus. 

Tetapi karena tanggal itu adalah hari sabtu, umat tidak libur, maka dipindahkan ke hari Minggu, agar semua umat bisa merayakan salah satu dogma Gereja ini. 

Bacaan yang kita renungkan tentang kunjungan Maria ke rumah Elisabet dan doa syukur atau pujian Maria (Magnificat) kepada Allah atas penyelenggaraan-Nya yang mengasihi manusia lemah. Maria berbagi kegembiraan kepada Elisabet yang dikarunia putra pada usia senja.

Inilah karya besar Allah yang mendengarkan doa-doa orang kecil dan sederhana. Maria dan Elisabet adalah gambaran manusia yang tekun mendengarkan sabda Tuhan dan siang malam berharap pada belas kasih-Nya.

Hidup Maria yang taat kepada Allah menjadi teladan bagi semua orang untuk menjalani kehendak Allah dengan tekun, rendah hati, tawakal dan siap sedia melaksanakan kehendak-Nya kendati segalanya belum jelas dan penuh tanda tanya.

Ketaatan Maria menjalani kehendak Allah terlihat dari awal sampai akhir. Ia taat memangku bayi Yesus di palungan sampai pada akhirnya memangku jenasah-Nya di bawah salib Golgota. Maria bisa disebut Ibu yang Berbahagia (Mater Gaudiosa) tetapi juga Ibu yang Berdukacita (Mater Dolorosa).

Kesetiaan dan ketaatannya inilah yang menjadi teladan iman bagi kita semua. Karenanya Maria dimuliakan bersama Yesus yang bangkit di Surga. Ia diyakini berbahagia dalam kemuliaan kekal bersama Putera-Nya. 

Pengangkatan Maria ke Surga juga memberi harapan kepada kita semua. Siapapun yang percaya dan taat melaksanakan kehendak Bapa kelak juga akan mengalami bahagia dalam kehidupan kekal bersama Yesus dan Bunda Maria. 

Kita diingatkan bahwa tujuan akhir hidup kita bukan di dunia ini. Tetapi tujuan yang sebenarnya adalah tanah air surgawi yakni rumah Allah di surga. Agar kita bisa sampai ke sana, kita memiliki contoh atau teladan hidup yakni Bunda Maria. 

Kita bersyukur karena melalui teladan Maria kita bisa mendekati Yesus. Per Mariam ad Jesum. Maria menjadi pendoa kita yang setia untuk menghantarkan segala jerih payah dan perjuangan kita kepada Yesus, Putera-Nya. 

Mari kita meneladan hidup dan kesetiaan Maria yang tekun mengabdi sebagai hamba.

Sepercik pantun buat anda:

Tanah Flores disentuh oleh gempa,
Ulurkan tangan bagi yang menderita.
Bunda Maria diangkat ke Surga,
Menjadi pendoa bagi kita semua.

Wonogiri, Maria, doakanlah kami 
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Biarkan Anak-Anak Datang

8/15/2026

0 Comments

 
Puncta 15 Agustus 2026
Sabtu Biasa XIX
Matius 19:13-15

BEBERAPA orangtua punya harapan agar anak-anaknya berhasil dalam study, mencapai prestasi yang membanggakan. 

Maka mereka memasukkan anak-anaknya mengikuti kursus-kursus, les privat dan bimbingan belajar secara maraton.

Anak tidak punya waktu untuk bermain, apalagi berkegiatan di gereja. Ada orangtua yang berkata; “Untuk apa aktif di gereja, tak ada gunanya. Tidak menambah kepintaran. Apalagi nambah keuntungan, malah banyak sumbangan-sumbangan.”

Ada orangtua yang melarang anaknya aktif di kegiatan misdinar, OMK atau kegiatan rohani lainnya. Mereka ingin agar anaknya bisa berprestasi di sekolah demi masa depannya. Maka tiap hari selalu saja ada les-les privat yang dijadwalkan untuk anak-anaknya.

Lalu keprihatinan berikutnya muncul. Anak-anak muda susah mencari jodoh yang seiman karena tidak pernah punya teman atau kenalan di lingkungan gereja. Sebabnya mereka dihalangi untuk aktif dan bertemu dengan teman-temannya di gereja.

Para murid memarahi para orangtua yang membawa anak-anaknya datang kepada Yesus. Orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.

Murid-murid itu menghalangi anak-anak datang kepada Yesus. Anak-anak dan perempuan tidak dianggap dalam kancah kehidupan sosial. 

Mereka dipinggirkan dan tidak diberi tempat dan kesempatan. Mereka dinihilkan dan tidak menjadi subyek kebijakan sosial.

Tetapi Yesus justru menghargai mereka. Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."

Apakah dalam membuat kebijakan pastoral kita juga memperhatikan anak-anak dan kaum perempuan? Kita tidak boleh meminggirkan mereka seolah-olah mereka tidak dianggap dan diperhatikan. 

Justru merekalah yang sering aktif dalam kegiatan-kegiatan gereja. Mereka harus dihargai dan diberi ruang agar bisa semakin dekat dengan Tuhan. Orang-orang yang tulus dan murni seperti itu yang empunya Kerajaan Surga. 

Sepercik pantun buat anda:

Meriah lomba-lomba tujuhbelasan,
Makan krupuk, lari kelereng di jalanan.
Biarkan anak-anak datang pada Tuhan,
Merekalah yang empunya masa depan.

Wonogiri, hargai anak-anak kecil
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Maria Kolbe, Pelindung Keluarga

8/14/2026

0 Comments

 
Puncta 14 Agustus 2026
Pw. St.Maximilianus Maria Kolbe, Imam dan Martir
Matius 19:3-12 atau RUybs Yohanes 15:9-17

PADA zaman Nazi berkuasa di Jerman, banyak orang ditangkap dan dimasukkan ke kamp konsentrasi. 

Termasuk Maximilianus Maria Kolbe, seorang imam Fransiskan Conventual yang memperjuangkan kehidupan orang-orang Yahudi yang terancam. 

Ia mengkritik tindakan Nazi yang melanggar perikemanusiaan, menyiksa, mengintimidasi dan membunuh banyak orang di kamp konsentrasi. Akhirnya tentara SS Nazi menggiring dia ke  Auschwitz 1 tempat penyiksaan paling ngeri. 

Pada Juli 1941, seseorang dari barak Kolbe menghilang, membuat komandan kamp mengambil 10 orang dari barak yang sama untuk dihukum mati kelaparan di Blok 11 yang terkenal dengan kekejamannya. Salah satu dari mereka adalah Franciszek Gajowniczek.

Karena ingin menyelamatkan keluarga Franciszek Gajowniczek, Maria Kolbe dengan sukarela menggantikan posisinya untuk dihukum mati tanpa diberi makanan sampai mereka mati lemas. 

Yang lainnya sudah mati, namun Maria Kolbe masih bertahan. Akhirnya dia disuntik dengan asam karbolik dan gugurlah dia sebagai pembela kehidupan keluarga.

Yesus mengajarkan bahwa keluarga adalah tempat membangun kesucian dan kerendahan hati. 

Maka pasangan suami istri yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceriakan dengan alasan apa saja. Maria Kolbe menjunjung persatuan suami istri dalam perkawinan.

Ia merelakan hidupnya demi seorang suami yang harus bertanggungjawab untuk kehidupan keluarganya. 

Allah berfirman,” Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Maria Kolbe sedemikan hebat menghargai kehidupan keluarga sampai dia rela mati agar suami istri dapat bersatu sampai akhir hayat. 

Apakah sebagai suami istri anda juga menjunjung tinggi nilai perkawinan ini sampai rela mengorbankan segala-galanya?

Sepercik pantun buat anda:
Slogan berdaulat adil makmur untuk siapa?
Rakyat miskin banyak yang menderita.
Keluarga adalah mutiara sangat berharga.
Kasihi keluarga sampai ke alam nirwana.

Wonogiri, rela berkorban bagi sesama
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Kasih Allah yang Tak Terkira

8/13/2026

0 Comments

 
Puncta 13 Agustus 2026
Kamis Biasa XIX
Matius 18:21-19:1

PETRUS bertanya tentang berapa kali harus mengampuni saudaranya. "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"

Menurutnya tujuh kali mengampuni itu sudah batas maksimal untuk mengampuni sesamanya.

Namun Yesus mengajarkan bahwa semangat pengampunan harus didasarkan pada kasih Allah yang tiada batas kepada manusia. 

Pengampunan yang tiada batas itu dijelaskan dengan perumpamaan hamba yang berhutang sepuluh ribu talenta. 

Satu talenta sama dengan 6000 dinar. Sepuluh ribu kali enam ribu adalah enampuluh juta dinar. Allah yang direpresentasikan dalam diri Raja itu menghapus hutang yang berjumlah enampuluh juta dinar. 

Upah buruh sehari sedinar pada zaman itu. Dia dibebaskan dari hutangnya yang bisa untuk membayar upah enampuluh juta hari!!!

Tetapi sebaliknya hamba ini tak mau melepaskan temannya dari hutang yang hanya 100 dinar kepadanya. Seratus hari upah dibanding dengan enampuluh juta hari yang dibebaskan oleh Tuhan sangat tidak sebanding. 

Yesus mau mengajarkan kepada kita betapa Allah sangat mengasihi kita tanpa batas. Kita pun juga diajak mengasihi dan mengampuni sesama kita walau hanya kecil kesalahannya. 

Allah telah mengampuni dosa kita dengan cima-cuma. Maka kita pun harus mengampuni sesama dengan gratis juga.

Kalau kita tidak mau mengampuni sesama, maka Allah juga akan menarik belas kasihan-Nya sampai hutangnya dilunaskan. Pengampunan ini bukan saja anugerah Allah, tetapi juga tuntutan agar kita ikut mengampuni sesama kita.

Kasih kepada Allah diwujudkan dalam kasih kepada sesama. Tidak ada gunanya kita bilang “Aku mengasihi Allah” tetapi tidak mau mengasihi sesamanya. 

Santo Yohanes menuliskan, "Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya."

Semakin banyak mengampuni sesama, semakin banyak pula anugerah Allah yang akan kita terima. Beranikah kita mengampuni saudara kita?

Sepercik pantun buat anda:

Dapat paket lempok dari Kalimantan,
Dikirim melalui kapal di lautan.
Kita mengasihi lewat pengampunan,
Mengampuni bikin hati jadi ringan.

Wonogiri, mari saling mengampuni
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Sengkon dan Karta; Korban Salah Tangkap

8/12/2026

0 Comments

 
Puncta 12 Agustus 2026
Rabu Biasa XIX
Matius 18:15-20

KASUS peradilan paling menghebohkan terjadi pada tahun 1974, ketika Sengkon dan Karta ditangkap polisi dan dituduh melakukan pembunuhan dan perampokan. 

Sebelum meninggal dunia korban Siti Haya sempat menggumamkan nama Sengkon dan Karta.

Polisi menangkap, menganiaya dan menyiksa keduanya untuk mengaku. Dalam tekanan yang berat keduanya mengaku dan dijatuhi hukuman 12 tahun untuk Sengkon dan 7 tahun untuk Karta. 

Di Penjara Cipinang, Sengkon bertemu dengan Gunel yang dihukum karena pencurian dan mengakui bahwa dialah pembunuh Sulaiman dan Siti Haya sesungguhnya.

Ketua Mahkamah Agung Umar Seno Aji membuka kembali celah hukum dan melakukan peninjauan kembali kasus yang telah merugikan Sengkon dan Karta. Setelah 6 tahun dipenjara, akhirnya mereka dibebaskan karena tidak bersalah. 

Dalam sistem hukum ada asas praduga tak bersalah. Ini adalah prinsip hukum yang menyatakan bahwa setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, atau digugat melakukan suatu tindak pidana WAJIB dianggap tidak bersalah sampai ada putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap yang menyatakan kesalahannya.

Peninjauan kembali juga bisa dilakukan jika ditemukan novum atau fakta baru seperti yang terjadi pada kasus Sengkon dan Karta. 

Asas itu digunakan untuk melindungi harkat dan martabat manusia dari tindakan sewenang-wenang aparat atau opini publik. Mencegah main hakim sendiri oleh masyarakat atau media massa (trial by the press). Menjamin proses peradilan yang jujur dan adil bagi setiap pribadi (fair trial).

Dalam Injil, Yesus menerapkan proses mengadili seseorang secara bertahap. Pertama, "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.”

Kedua, “Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.”

Ketiga, “Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.” 

Dan keempat, “Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.”

Dari sini kita diajarkan, jangan mudah menghakimi seseorang sebelum dibuktikan kebenarannya. 

Jangan hanya karena berita medsos, katanya, katanya, katanya kita menuduh dan menghukum orang. Kita gampang sekali membuat fitnah keji yang membunuh karakter seseorang. 

Jagalah mulutmu dan jari-jarimu agar tidak menyebarkan berita-berita bohong yang merugikan hidup orang lain. 

Sepercik pantun buat anda:

Belanja sabun cuci di gedung koperasi,
Harus nyebrang sungai lewat kuburan sepi.
Fitnah keji adalah hal yang jahat sekali,
Berhati-hati gunakan mulut dan jari jemari.

Wonogiri, ada asas praduga tak bersalah
Rm. A.Joko Purwanto,Pr
0 Comments

Meninggalkan Segalanya

8/11/2026

0 Comments

 
Puncta 11 Agustus 2026
Pw. St. Klara, Perawan
Matius 18:1-5.10.12-14 atau RUybs Matius 19:27-29

SANTA KLARA (1194-1253) berasal dari keluarga bangsawan yang kaya raya. Namun Klara lebih tertarik dengan cara hidup miskin yang dilakukan Fransiskus dari Asissi. Ia ingin mengikuti Yesus secara total dengan menjadi miskin.

Ketika berusia 18 tahun, Klara dengan diam-diam meninggalkan istana ayahnya untuk bergabung dengan kelompok Fransiskus. 

Kendati keluarganya membujuknya untuk kembali ke istana, namun Klara dengan tegas menolaknya.

Cara hidup miskin dihayatinya dengan sungguh-sungguh dan ditopang oleh doa dan matiraga yang keras sebagai sebuah spiritualitas untuk mengikuti Yesus tanpa reserve. 

Cara hidup ini kemudian diikuti oleh banyak perempuan yang tertarik masuk ke komunitasnya. 

Fransiskus kemuadian mendirikan biara khusus perempuan yang ingin mengabdikan diri kepada Kristus dengan semangat miskin dan matiraga. Merekalah yang kemudian disebut Ordo suster-suster Klaris.

Yesus bersabda; "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 

Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.”

Klara bertobat dari kehidupan dunia yang gemerlap menuju kemiskinan total untuk mengikuti Yesus. 

Seperti seorang anak kecil yang menggantungkan jaminan hidup hanya kepada Tuhan, dengan semangat miskin, dia menggantungkan pada penyelenggaraan-Nya.

Yesus juga berkata, “Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal,”

Kini, Klara telah menerima janji dari Tuhan. Ia memperoleh kehidupan kekal dan jumlah pengikut yang sangat banyak lebih daripada jumlah keluarganya, hartanya dan kekayaannya. 

Barangsiapa rela meninggalkan segalanya demi Kristus, ia akan memperoleh berkat yang lebih besar dari yang dimilikinya.

Sepercik pantun buat anda:

Di jalan-jalan ada banyak bendera,
Berkibar dari Aceh sampai ke Papua.
Rela mengorbankan segala-galanya,
Adalah cara mengikuti Kristus Sang Raja.

Wonogiri, mengorbankan jiwa raga
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

"Sanguis Martyrum Semen Christianorum"

8/10/2026

0 Comments

 
Puncta 10 Agustus 2026
Pw. St. Laurentius, Diakon dan Martir
Yohanes 12:24-26

SEMINARI Menengah di Ketapang memakai nama pelindung Santo Laurensius. Ketika sekolah calon imam ini dibuka, pendamping pertamanya adalah Frater Laurensius Sutadi. 

Karena belum memiliki nama pelindung, maka Santo Laurensius dipilih untuk mengayomi para calon imam yang sedang studi.

Laurensius adalah seorang diakon yang membantu Paus Sixtus II. Ia dengan setia dan tanggungjawab membantu karya Paus. 

Ketika Paus Sixtus ditangkap serdadu-serdadu Romawi, Laurensius bertekad mendampaingi Paus sampai mati.

"Aku akan menyertaimu kemana saja engkau pergi. Tidaklah pantas seorang imam agung Kristus pergi tanpa didampingi diakonnya," kata Laurensius kepada Paus yang menghadapi ajal.

  "Janganlah sedih dan menangis, anakku! Aku tidak sendirian. Kristus menyertai aku. Dan engkau, tiga hari lagi, engkau akan mengikuti aku ke dalam kemuliaan surgawi" jawab Paus.

Betul sekali, beberapa waktu kemudian Laurensius ditangkap oleh Prefek Roma. Dia disuruh menyerahkan seluruh harta gereja. 

Tetapi apa yang dibawa oleh Laurensius? Ia menyerahkan orang-orang miskin seluruh kota Roma kepada sang penguasa.

Kepada penguasa Roma itu, Laurensius berkata: "Tuanku, inilah harta kekayaan Gereja yang saya jaga. Terimalah dan periharalah mereka dengan sebaik-baiknya." Tindakan ini dianggap sebagai penghinaan terhadap penguasa. 

Laurensius ditangkap dan dibakar hidup-hidup oleh penguasa Romawi. Ia mati sebagai martir yang gagah perkasa. Ia membela imannya dengan tekun dan setia serta bertanggungjawab atas tugas yang dipercayakan kepadanya. 

Yesus berkata, “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” 

Berkat kematian Laurensius Gereja malah tumbuh berkembang dengan pesat. 

Tertulianus, Bapa Gereja awal yang hidup di Kartago menulis, "Sanguis martyrum semen christianorum" yang artinya darah para martir adalah benih subur bagi umat Kristiani. Kematian Laurensius seperti biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati.

Kematian para martir Kristen tidak menghancurkan iman, tetapi justru menyuburkan iman pengikut Kristus. 

Penderitaan, kesulitan, penganiayaan dan kesusahan tidak menjadi penghalang untuk bertekun dalam iman. Pengorbanan menjadi cara mencapai kekudusan untuk memanggul salib bersama Kristus.

Semoga keteladanan Santo Laurensius menginspirasi kita untuk tetap setia mengikuti Kristus kendati kita harus menderita memanggul salib setiap hari.

Sepercik pantun buat anda:

Santo Laurensius ada di Ketapang,
Jaraknya jauh dari Paroki Kendawangan.
Marilah kita terus tekun berjuang,
Walau harus mati untuk membela iman.

Wonogiri, setia dan bertanggungjawab dalam tugas
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Badai Kehidupan Menerjang

8/9/2026

0 Comments

 
Puncta 9 Agustus 2026
Minggu Biasa XIX
Matius 14:22-33

HIDUP tidak selalu mudah. Ibaratnya kita seperti kapal yang mengarungi samudera luas. Kadang harus menghadapi badai gelombang tinggi yang menerjang. 

Badai taufan itu membuat kapal terombang-ambing. Kita juga sering mengalami situasi yang tidak menentu.

Banyak persoalan hidup yang harus kita jalani. Apalagi menghadapi zaman yang cepat berubah dengan segala tantangannya. 

Kecemasan, depresi melumpuhkan pikiran kita. Masa depan yang tidak jelas sangat menakutkan perjalanan kita.

Pengangguran, PHK, keterpurukan ekonomi, kegagalan usaha dan beban hutang membikin beban kehidupan. 

Belum lagi kalau kita mengidap penyakit kronis, kehilangan dan kesepian dalam hidup akan sangat menyusahkan kita.

Apalagi kalau tidak ada dukungan keluarga, diasingkan, ditinggalkan pasangan atau dijauhi oleh masyarakat menjadi beban psikis yang menakutkan. Kapal terasa oleng dan terombang-ambing dalam badai yang sangat berat. 

Disinilah muncul pertanyaan yang tak lekang oleh waktu. “Mengapa derita silih berganti? Mengapa Allah terasa jauh dan tidak peduli? Masihkah ada harapan untuk terus berjalan maju? Sabda Tuhan hari ini bisa menguatkan kita.

Ketika para murid sendirian di tengah lautan ganas, mereka ketakutan oleh angin badai. Tuhan datang dengan berkata; “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" 

Kita pun juga diajak datang untuk meminta pertolongan Tuhan seperti Petrus. "Tuhan, tolonglah aku!"

Badai kehidupan akan datang silih berganti. Tetapi Tuhan datang kepada kita untuk menemani. Yang dibutuhkan adalah iman atau percaya kepada-Nya. 

Yesus menyentil kita yang sering kurang percaya. "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"

Tuhan adalah penguasa seluruh alam semesta. Ia meredakan badai sehingga tunduk kepada-Nya, apakah hal ini tidak menjadi bukti bahwa Ia mampu mengatasi segala badai kehidupan kita? Seberapa pun besar badai kehidupan kita, Tuhan pasti mampu mengatasinya.

Jangan takut, Tuhan senantiasa dekat dan beserta kita. Ia mampu mengatasi segala persoalan kita.

Sepercik pantun buat anda:

Menikmati puncak gunung Merbabu,
Sambil melintasi jalan tol Kartasura.
Ketika badai melanda hidupmu,
Berharaplah pada belas kasihan-Nya.

Wonogiri, berharap pada Tuhan saja
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Kabinet Gemoy

8/8/2026

0 Comments

 
Puncta 8 Agustus 2026
Pw. St.Dominikus, Imam
Matius 17:14-20 atau RUybs Lukas 9:57-62

KABINET Merah Putih yang dibentuk Presiden Prabowo memiliki total 48 menteri dan 5 kepala badan setingkat menteri, sehingga ada 53 orang pejabat setingkat menteri. 

Mereka didukung oleh 56 orang wakil menteri. Jadi total ada 109 pejabat di tingkat kementerian.

Ini adalah kabinet paling gemuk yang pernah terjadi di era reformasi. Tetapi pertanyaannya kenapa banyak orang ngurusi negara kok keadaan masyarakat tidak tambah makmur malahan makin mundur? 

Kenapa juga kok militer harus turun ke ranah sipil ngurusi koperasi, MBG dan program strategis lainnya? 

Para menteri yang ditunjuk membantu presiden ini bisa bekerja atau tidak? Carut marut di bidang ekonomi, penegakan hukum, korupsi  kok malah menjadi-jadi. 

Bahkan bupati, polisi dan kejaksaan ikut main jadi koruptor. Mengapa banyak yang ditunjuk membantu presiden kok tidak memiliki dampak signifikan bagi kemakmuran rakyat?

Masyarakat menyindir dengan membuat lukisan mural logo peringatan kemerdekaan ke 81. Mereka melukis angka delapan dengan gambar orang gemoy, angka satu dengan orang kurus kering dan compang-camping. 

Di bawah logo tertulis kalimat “Indonesia Berdaulat Adil untuk yang makmur.” Pasti nanti Babinsa akan turun seperti kasus “One Piece,” Agustus tahun lalu.

Yesus juga mengkritik para murid yang tidak mampu menyembuhkan seorang anak yang sakit ayan. 

"Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!" kata Yesus kepada mereka.

Sesudah anak itu dibawa kepada Yesus, Ia menegor anak itu, lalu keluarlah setan itu dari padanya dan anak itupun sembuh seketika itu juga. Para murid bertanya, "Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?"

"Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana? maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu,” jawab Yesus kepada mereka.

Tidak punya iman atau kepercayaan diri itulah yang terjadi. Para murid itu tidak memelihara iman yang telah dianugerahkan Tuhan. Dekat dengan Tuhan tetapi tidak berdaya guna bagi orang-orang di sekitarnya. 

Tidak cukup kita hanya hapal Kitab Suci, sepuluh perintah Allah, lima perintah Gereja. Tiap hari pergi berekaristi, berdoa novena atau sering berziarah. 

Tetapi kalau tidak mau mewujudkan imannya dengan menolong sesamanya, iman kita tidak berdaya guna, kesejahteraan tidak akan terwujud. 

Apakah perlu ada reshuffle di antara para murid karena tidak berdaya guna?

Sepercik pantun buat anda:

Naik kereta komuter ke Pamulang,
Kereta macet di stasiun Bukit Duri.
Kalau iman kita tidak berkembang,
Kita harus refleksi perbaiki diri sendiri.

Wonogiri, mohon iman yang teguh
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
<<Previous

    Archives

    December 2034
    July 2026
    June 2026
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki