Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Hello Romo!

12/25/2034

17 Comments

 
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
17 Comments

Yusuf Sang Pekerja

3/19/2026

0 Comments

 
Puncta 19 Maret 2026
HR. St. Yusuf, Suami SP. Maria
Matius 1:16.18-21.24a atau Lukas 2:41-51a

KISAH kelahiran Karna Basusena menjadi problem di Kerajaan Mandura. Dewi Kunti adalah sekar kedhaton, atau putri raja. 

Ia mengandung dari dewa karena Kunti punya kesaktian atau aji-aji memanggil dewa yang dikehendakinya.

Jika rakyat Mandura mengetahui hal ini pasti akan geger seluruh kerajaan. Maka bayi itu dibuang di sungai Gangga dan diberi nama Karna Basusena. 

Ayahnya adalah Dewa Surya yang tidak diketahui oleh khalayak ramai. Demi menjaga kewibawaan dan nama baik kerajaan, maka semua dirahasiakan.

Nama Yusuf, suami Maria tidak banyak kita dengar ceritanya. Hanya ada dua bab pertama dalam Injil Matius dan Lukas yang bercerita tentang Yusuf. 

Yang mau ditekankan adalah bahwa Yesus sang Mesias itu berasal dari Keturunan Daud. Bukan Yusuf yang penting, tetapi Daudlah yang utama.

Kedua, pesan malaikat kepada Yusuf waktu dia ragu-ragu dan bingung menegaskan bahwa bayi yang dikandung berasal dari Roh Kudus. 

Malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.” 

Bukan asal-usul Yesus yang lahiriah yang ditekankan tetapi unsur surgawi yang mau disampaikan kepada kita semua.

Setelah diyakinkan oleh Malaikat, Yusuf pun segera bangun dan mengambil Maria sebagai istrinya. Sikap taat dan tawakal melaksanakan kehendak Tuhan tanpa menunda-nunda inilah yang ditunjukkan Yusuf sebagai teladan seorang ayah yang bertanggung jawab.

Dalam beberapa peristiwa sekitar kelahiran Yesus, Yusuf tampil sebagai pria yang bertanggungjawab dan cekatan menyelesaikan masalah. Ia melindungi Maria yang mengandung dan menjaganya demi keselamatan keluarga.

Tanpa banyak kata, Yusuf tekun menjalankan perintah Tuhan. Tanpa banyak pikir panjang, Yusuf segera bertindak menjalankan tugasnya. 

Keutamaan-keutamaan ini yang diambil untuk menghormati Yusuf sebagai pelindung keluarga, pekerja, dan gereja universal.

Kita bisa menimba spiritualitas hidup dari Santo Yusuf. Semangat kerendahan hati dan ketekunan, tidak gila pujian dan kerja di balik layar, tidak banyak ngomong dan langsung bertindak, tidak mencari popularitas tetapi kualitas adalah nilai-nilai yang diajarkan Yusuf.

Bapa Yusuf, ajari kami semangat kerendahan hati dan ketenangan batin yang mendalam agar dengan tekun melaksanakan kehendak Tuhan tanpa banyak alasan-alasan egositik.

Sepercik pantun untuk direnungkan:
Santo Yusuf seorang pekerja,
Ia tekun menjalankan tugasnya.
Ajarilah kami tekun dan setia,
Menjalankan semua kehendak Bapa.

Wonogiri, tanpa banyak kata
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Kacang Mangsa Ninggala Lanjaran

3/18/2026

0 Comments

 
Puncta 18 Maret 2026
Rabu Prapaskah IV
Yohanes 5:17-30

KETIKA melayat teman imam di Gereja Banteng, saya berjumpa dengan Rm. Marga MSF. Beliau menyalami saya dan berkata, “Saya ketemu adik Rama di Palembang waktu retret imam. Dari wajahnya saya bisa mengenali ada kemiripan kalau tersenyum. Cuma Rama Joko yang di Palembang lebih gagah dan hitam.” 

Ada ciri khas di antara kami kakak beradik yang mirip yakni senyumnya. Banyak orang mengenali kami sekeluarga kalau keluar senyumnya. 

Rama Jayasewaya almarhum kalau ketemu saya tidak menyebut nama saya, tetapi yang disebut adalah nama Bapak saya, Sridadi.

“Wajahnya dan senyumnya gampang dikenali seperti Pak Sridadi,” demikian komentar Rama Jaya yang pernah mengunjungi Bapak di Pasang Surut, Palembang. 

Pepatah mengatakan, “Kacang mangsa ninggala lanjaran,” artinya pohon kacang panjang yang menjalar tidak akan terpisah dari kayu penopangnya (lanjaran).

Dalam pepatah lain disebut, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Sifat-sifat atau karakter seorang anak tidak akan jauh dari ayah atau ibunya. Apa yang dilakukan anak seringkali meniru apa yang dibuat orangtuanya.

Dalam Injil hari ini, Yesus juga menegaskan akan kesatuannya dengan Bapa. Apa yang dikerjakan Yesus berasal dari Bapa-Nya. "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu  dari diri-Nya sendiri,  jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.”

Inilah yang menimbulkan pertentangan dengan kaum Yahudi. Mereka menuduh Yesus menghojat Allah, karena Yesus menyamakan dirinya dengan Allah. Mereka semakin membenci dan ingin membunuh Yesus.

Pekerjaan Yesus adalah pekerjaan Allah. Apa yang dikerjakan Yesus bukan kehendak-Nya sendiri melainkan kehendak Bapa yang mengutus Yesus. 

Yesus taat pada kehendak Allah. Siapa yang percaya kepada-Nya akan memperoleh hidup yang kekal.

Kepada Filipus, Yesus pernah berkata, "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami?"

Ini adalah pengajaran tentang keilahian dan kesatuan Yesus dengan Bapa. "Percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? ... Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri...".

Pertanyaan itu juga ditujukan kepada kita, apakah kita percaya bahwa Yesus adalah pewahyuan Allah Bapa sendiri? Kepercayaan itu akan membawa pada keselamatan yang kekal.

Sepercik pantun untuk direnungkan:
Cahaya mentari mulai meredup,
Menghantar datangnya sang rembulan.
Yesus adalah Sang Terang Hidup,
Yang menuntun kita pada keselamatan.

Wonogiri, percaya pada Putera Allah
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Apakah Engkau Ingin Sembuh?

3/17/2026

0 Comments

 
Puncta 17 Maret 2026
Selasa Prapaskah IV
Yohanes 5:1-3a.5-16

PASTI semua orang ingin sembuh dari penyakitnya. Apalagi kalau ia sudah sangat lama menderita sakit yang tak tersembuhkan. 

Sudah berusaha berobat kemana-mana tetapi hasilnya nihil saja. Bisa jadi pada titik ini, orang yang sakit itu sudah tidak punya harapan.

Orang lumpuh yang sudah tigapuluh delapan tahun sakit dan berbaring di tepi kolam Betesda itu sudah sampai pada batas daya kemampuannya. 

Ia sudah berusaha namun selalu orang lain yang lebih dahulu sampai di air dalam kolam. Ia gagal dan gagal lagi.

Pertanyaan Yesus ditanggapinya dengan keputusasaan. Orang sakit itu menjawabnya, "Tuan, aku tidak punya seorang pun yang akan memasukkan aku ke dalam kolam ketika airnya bergejolak, dan sementara aku berjalan, orang lain sudah turun duluan sebelum aku."

Dalam situasi tak ada harapan, Yesus datang berinisiatif untuk menyembuhkan. Ketika tak ada harapan apa pun dari pihak manusia, Tuhan bertindak dan memenuhi kebutuhan manusia. 

Ketika manusia lelah mengetuk pintu, Tuhan membukanya dari dalam.

Manusia mengukur waktu, waktu mengukur manusia. Sudah 38 tahun orang itu lumpuh tak bisa apa-apa. Ia mengukur waktu yang sangat panjang. Mungkin sepertiga dari jumlah umurnya. 

Tetapi Tuhan tidak memandang waktu. Kapan saja Ia mau, pasti segalanya terlaksana.

Waktulah yang kemudian dipermasalahkan oleh manusia. Ketika Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, itu menjadi masalah. Terjadi perdebatan di antara mereka tentang siapa Yesus yang melanggar aturan waktu Sabat.

Orang Yahudi fanatik pada aturan hari Sabat. Maka mereka marah kalau ada orang melanggar hukum Taurat. 

Dari sinilah mereka menuduh Yesus mau menghilangkan hukum Taurat. Pelanggaran-pelanggaran seperti ini tak bisa dibiarkan. Mereka mulai merencanakan pembunuhan terhadap Yesus.

Yesus lebih mengutamakan keselamatan manusia daripada hukum yang kaku. Orang Yahudi tidak berpikir tentang keselamatan. Mereka taat buta pada huruf-huruf yang tertulis. 

Apakah kita taat pada Yesus atau mengikuti kaum Yahudi yang kaku menafsirkan ayat-ayat suci?

Sepercik pantun untuk direnungkan:
Mobil ambulans menerobos aturan jalan,
Demi menyelamatkan nyawa orang sakit.
Yesus lebih mengutamakan keselamatan,
Daripada mengikuti aturan yang sempit.

Wonogiri, keselamatan lebih diutamakan
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Memboyong Pusaka Jamus

3/16/2026

0 Comments

 
​Puncta 16 Maret 2026
Senin Prapaskah IV
Yohanes 4:43-54

SEMAR ingin membangun kahyangan. Ia minta kepada Petruk dan Bagong datang ke Amarta dan mohon kepada Prabu Yudistira untuk meminjamkan pusaka Jamus Kalimasada. 

Maksud Petruk dan Bagong dihalangi oleh Prabu Kresna yang juga ingin memboyong pusaka Jamus.

Maka terjadilah rebutan antara Petruk yang didukung anak-anak Pandawa dengan Kresna gadungan yang hanya ingin merebut pusaka Jamus. 

Mereka bermaksud memboyong pusaka itu dengan keyakinan siapa yang dikawal pusaka ini akan berhasil hidupnya.

Pusaka itu jadi rebutan untuk dibawa ke tempat asal mereka masing-masing. Tidak berhasil membawa pusaka artinya tidak akan mengalami ketentraman hidup dan gagal membangun kahyangan. 

Dalam perikope Injil hari ini, Yesus diminta oleh kepala rumah ibadat untuk menyembuhkan anaknya yang hampir mati di rumahnya. 

Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati.

Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, anakmu hidup!" Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. 

Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup.

Yesus menyembuhkan dari jarak jauh. Ia tidak harus datang langsung ke rumah kepala ibadat. Hanya dengan berkata, "Pergilah, anakmu hidup!"  anak itu langsung sembuh. 

Kuasa Allah mengatasi ruang dan waktu. Tidak seperti pusaka Jamus yang harus “cumondok” hadir langsung, dengan bersabda saja anak itu sembuh. 

Yang dibutuhkan adalah percaya. Kepala rumah ibadat itu percaya tanpa ragu dengan kata-kata Yesus. Ia langsung pulang ke rumah dan mendapati anaknya sudah sembuh. 

Iman yang dihayati kemudian diwartakan kepada seluruh isi rumahnya dan mereka menjadi percaya.

Sabda atau Firman Allah sungguh berkuasa. Apakah kita percaya pada Firman Tuhan walaupun kita tidak langsung berhadapan dengan Allah, tetapi Firman-Nya bisa menyembuhkan dan menyelamatkan kita.

Sepercik pantun untuk direnungkan:
Orang mengkritik pedas kata-katanya,
Tapi sayang sering tidak pakai logika.
Percaya tidak membutuhkan tanda,
Ia hanya taat pada Allah yang bersabda.

Wonogiri, percaya saja
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Dia Hanya Tokoh Agama

3/15/2026

0 Comments

 
Puncta 15 Maret 2026
Minggu Prapaskah IV
Minggu Laetare
Yohanes 9:1.6-9.13-17.34-38

SEORANG jubir pers kepresidenan AS, Karoline Leavitt mengomentari pernyataan Paus Leo XIV bahwa kebijakan publik harus didasarkan pada etika moral, belas kasih dan tanggung jawab sosial, dan kesenjangan yang makin lebar antara retorika politik dan perjuangan sehari-hari yang dihadapi banyak orang.

“Dia hanya tokoh agama. Itu tidak membuatnya berhak untuk ikut campur dalam kebijakan publik. Dia seharusnya fokus memimpin Gereja. Masalah-masalah serius harus diserahkan kepada para profesional,” kata Leavitt.

Tetapi jawaban Paus membuat semua orang hening dan tercenung. “Saya bukan ‘sekadar tokoh agama.’ Saya adalah pelayan bagi jutaan orang di seluruh dunia. Saya adalah saksi atas perjuangan, ketakutan, dan harapan mereka.”

“Iman tidak pernah terpisah dari masyarakat,” kata Paus. “Iman hidup dalam komunitas kita—dalam cara kita memperlakukan orang miskin, orang yang rentan, dan mereka yang merasa tidak didengar. 

Para pemimpin spiritual tidak berhenti menjadi warga dunia hanya karena mereka mengenakan pakaian keagamaan,” lanjutnya.

Perlakuan tidak adil terhadap orang miskin, sakit, menderita, rentan terlukis dalam peristiwa Yesus menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya.

Kaum Farisi menghakimi si buta sebagai orang berdosa. "Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?"

Mereka juga menyalahkan Yesus karena menyembuhkan orang pada hari sabat. Sikap ini sama sama seperti Leavitt yang menyatakan bahwa Paus tidak berhak berbicara tentang politik dan kebijakan publik serta masalah-masalah hak asasi manusia yang rentan.

Paus berkata, “Iman tidak terpisah dari kehidupan masyarakat.” Ini adalah amanat Konsili Vatikan II dalam Gaudium et Spes.

 "Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga."

Penyembuhan orang buta justru menumbuhkan iman yang makin mendalam. Orang buta itu mengungkapkan kepercayaannya bahwa Yesus adalah seorang nabi dan Anak Manusia. 

Ketika orang Farisi bertanya siapa yang memelekkan matamu, dia menjawab, "Ia adalah seorang nabi."

Juga ketika Yesus bertanya, "Percayakah engkau kepada Anak Manusia?" 

Katanya: "Aku percaya, Tuhan!" Lalu ia sujud menyembah-Nya. Orang yang buta itu malah percaya pada Tuhan. 

Tetapi orang-orang yang tidak buta matanya justru tidak mau percaya seperti kaum Farisi.

Apakah anda percaya bahwa Yesus mampu mengubah hidup anda menjadi lebih baik? 

Apakah mata batin anda terbuka akan karya Tuhan yang menyelamatkan anda?

Ataukah anda bersikap skeptis dan tidak mau percaya seperti kaum Farisi?

Sepercik pantun untuk direnungkan:
Perang hanya membawa korban,
Rakyat menderita tak ada masa depan.
Lebih baik buta tetapi diselamatkan,
Daripada melek tapi tak melihat Tuhan.

Wonogiri, iman tumbuh makin dalam
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Pedro Sanchez el Guapo

3/14/2026

0 Comments

 
​Puncta 14 Maret 2026
Sabtu Prapaskah III
Lukas 18:9-14

PERDANA menteri Spanyol adalah satu-satunya pemimpin dunia yang terang-terangan menolak terlibat dalam perang antara Amerika versus Iran. 

“No war” katanya tegas dan jelas. Ia tidak mau pangkalan militer Rota dan Moron di Spanyol dijadikan pangkalan Amerika untuk menyerang Iran.

Sikap yang berbeda itulah yang ditunjukkan sang perdana menteri kepada Donald Trump. Berbeda dengan Indonesia. 

Walaupun berteriak-teriak ingin menjadi mediator tetapi kita seperti macan ompong yang tidak punya gigi. Jadi mediator itu harus duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Lah kita?

Kita malah mengikut dan merunduk pada keinginan Amerika; setor trilyunan rupiah sebagai anggota Board of Peace dan tunduk pada peraturan pajak perdagangan yang ditentukan Donald Trump. Kita hanya banyak omon-omon tetapi gak punya power di dunia internasional. 

Seperti dua orang yang pergi ke bait Allah, kita ini seperti kaum Farisi yang menyombongkan dirinya sendiri. Kita membusungkan dada tapi gak punya muka. 

Kita menyebut diri paling penting dan hebat. Tapi malah jadi bahan candaan di stand up comedy Jimmy Kimmel Live.

Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.

Berbeda dengan Pedro Sanchez, PM Spanyol yang tegas berkata, “No War.” Dia sadar bahwa perang hanya menghancurkan dan tak ada yang diuntungkan. 

Apa yang terjadi waktu perang Irak dapat jadi pelajaran berharga. Cukup sudah perang harus dihentikan. Keputusannya tegas menolak pangkalan militernya dipakai Amerika demi perdamaian kawasan.

Pedro Sanchez bisa diibaratkan seperti pemungut cukai yang berdiri jauh-jauh dan memukul dirinya dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” 

Ia menyadari diri sebagai orang berdosa yang tidak pantas di hadapan Tuhan. Ia merasa tidak berhak memusuhi dan membunuh orang lain.

Yang satu menyombongkan diri, yang lain merendahkan dirinya. Yesus menegaskan, “Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. 

Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Apakah kita akan ikut-ikutan sombong atau maukah kita merendahkan diri di hadapan Tuhan dan berani mengasihi sesama dengan menjaga damai? Pilihan itu yang akan menentukan sikap kita.

Tak ada gunanya makan bergizi,
Kalau otak pikirannya hanya korupsi.
Kembangkan semangat rendah hati,
Daripada sombong hanya dicaci maki.

Wonogiri, filosofi padi yang bernas
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

The Greatest Love of All

3/13/2026

0 Comments

 
Puncta, 13 Maret 2026
Jum’at Prapaskah III
Markus 12:28b-34

DUNIA yang makin tua ini tidak semakin bijaksana tetapi malah semakin gila. Dunia kita tidak menunjukkan kasihnya tetapi justru menebarkan permusuhan dan kebencian. Sangat jelas hal ini ditunjukkan oleh serangan Amerika ke Iran.

Donald Trump tidak mengajarkan kita tentang kasih. Tetapi dia memberi contoh buruk dengan mengobarkan peperangan dan penindasan. 

Amerika bukanlah negara adidaya. Tetapi dia adalah negara yang ketakutan menghadapi persaingan dunia.

Dia berusaha menghancurkan siapa saja yang tidak mau tunduk kepada kemauannya. Venezuela dibuat ketakutan. Presidennya diculik karena tidak tunduk ke Amerika. Sekarang Iran dibombardir dan dihancurkan. 

Tindakan ini adalah contoh buruk bagi generasi muda sekarang. Seolah semua masalah hanya bisa diatasi dengan senjata perang. Perang ini bukan menyelesaikan masalah, tetapi akan menambah masalah.

Trump tidak memikirkan penderitaan rakyat kecil. Korban perang adalah rakyat kecil yang tidak berdosa. Bagi Trump rakyat hanyalah obyek demi memuaskan kepentingannya. 

Pendekatannya adalah untung rugi. Yang tidak menguntungkan dianggap sebagai musuh yang harus dihancurkan.

Berbeda dengan cara pandang Allah. Hukum kasih adalah yang terutama. Maka ketika Yesus ditanya tentang hukum yang paling utama, Dia mengutip Taurat.

 “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu , dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.  

Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.  Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”

Cara berpikir (mindset) menentukan cara bertindak. Yesus berpikir dengan cara pandang Allah. Ia bertindak dengan kasih. 

Ia memperlakukan manusia dengan kasih. Trump memikirkan kepentingan sendiri. Ia memperlakukan manusia semaunya sendiri.

Kita harus tunduk kepada Allah dan mengasihi sesama sebagaimana Allah mengasihi kita. Hukum kasih ada di atas segalanya.

Ayo sekolah bersama Nobita,
Biar dapat makan buatan Gianti.
Kasihilah sesamamu manusia,
Seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.

Wonogiri, kasihi sesamamu
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Sengkuni Sang Trouble Maker

3/12/2026

0 Comments

 
Puncta 12 Maret 2026
Kamis Prapaskah III
Lukas 11:14-23

ORANG yang sirik, irihati dan pembuat masalah itu hampir selalu ada di mana-mana. Di komunitas, gereja, organisasi, kelompok dan masyarakat. 

Ada orang yang tidak suka melihat keberhasilan dan kesuksesan orang lain. Yang ada hanya irihati dan sirik.

Ketika Pandawa diberi tanah perdikan di hutan (alas) Wanamarta, agar mereka membangun kerajaan disana, Para Kurawa mencoba mengganggunya. 

Tetapi atas usaha keras Pandawa, hutan “gung liwang liwung” berubah menjadi Kerajaan yang megah dan makmur.

Kurawa merasa irihati atas keberhasilan Pandawa. Mereka berusaha merebut dan menguasai dengan cara licik bermain judi. 

Sengkuni yang pandai berjudi bermain licik dan curang. Ia berhasil mengelabui dan mengalahkan Pandawa. 

Orang-orang Farisi dan para ahli kitab merasa irihati melihat Yesus menyembuhkan orang bisu dan berhasil mengusir setan yang membisukan. 

Mereka menuduh Yesus menggunakan kuasa penghulu setan yaitu Beelzebul.

Ada di antara mereka (para ahli kitab dan orang-orang Farisi) yang berkata: "Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan." Ada pula yang meminta suatu tanda dari sorga kepada-Nya, untuk mencobai Dia.

Mereka mengobarkan permusuhan dan menyulut masalah dengan berargumentasi bahwa Yesus bersekutu dengan penghulu setan. 

Orang yang irihati merasa takut dan terancam kalau ada orang berhasil dan sukses. Mereka memfitnah untuk menjatuhkan.

Yesus menegaskan kalau sebuah kerajaan terpecah belah, pastilah runtuh. Kalau keluarga saling bertengkar pasti tidak akan kuat. Begitu juga kalau setan saling berebut kuasa, pasti akan berantakan. 

Apa yang dilakukan Yesus justru menegaskan bahwa Kerajaan Allah sudah datang. Kuasa setan sudah dikalahkan oleh karya dan hadirnya Yesus yang menyembuhkan orang. Semestinya kita bisa bernalar secara positif dan rela mengakui kuasa Allah.

Kaum Farisi tidak mau rendah hati. Mereka sombong dan tegar hati, tidak mau percaya atas kuasa Tuhan dalam diri Yesus dari Nasaret. 

Mari kita belajar rendah hati dan berpikir positif agar dengan jernih mengakui kedaulatan Tuhan.

Sepercik pantun buat anda;
Banyak sengkuni-sengkuni berkeliaran,
Mereka menyebarkan fitnah dan permusuhan.
Mari mengikuti Yesus, jangan ikut setan.
Buah iman adalah memperoleh keselamatan.

Wonogiri, mau ikuti sengkuni?
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Melawan Hukum

3/11/2026

0 Comments

 
Puncta 11 Maret 2026
Rabu Prapaskah III
Matius 5:17-19

SERING terjadi kalau ada orang yang mengkritik dengan keras kebijakan pemerintah, orang itu dituduh melawan hukum atau undang-undang. 

Kritik dipandang sebagai perlawanan bukan sebagai ruang untuk mencari kebenaran.

Orang yang mencari kebenaran, kejujuran dan pertanggungjawaban malah disingkirkan. Kita belajar dari tokoh-tokoh kritis seperti Munir, Pak Hoegeng, polisi yang jujur dan tegas. 

Mereka disingkirkan. Padahal mereka berusaha menegakkan hukum sebagai pilar kebenaran.

Begitulah sikap para ahli kitab dan orang-orang Farisi terhadap Yesus. Mereka menuduh Yesus ingin menghilangkan hukum Taurat. Yesus tidak hanya membaca tulisan atau huruf-huruf dalam Taurat. 

Tetapi Dia menjalankan inti dari ajaran Taurat. Kasih itulah kebenaran Taurat.

Namun tindakan kasih itu dianggap melenceng dari ajaran Taurat. Misalnya, Yesus dituduh akan menghapus hukum Sabat, karena dia sering menyembuhkan orang pada hari Sabat. 

Mereka beranggapan Yesus mau menghapus aturan sabat dan meniadakannya.

Dalam kotbah di bukit, Yesus menjelaskan bahwa Ia tidak akan menghapus hukum Taurat, tetapi Dia justru ingin menggenapinya.

 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”

Seringkali terjadi ada orang yang ingin meluruskan undang-undang atau menjalankan hukum dengan benar malah dituduh PKI, difitnah, diteror, diintimidasi dan disingkirkan. 

Asal tidak sesuai dengan kebijakan penguasa dituduh makar dan memberontak.

Semestinya kita terbuka pada opsi demi kebenaran hukum dan kebaikan bersama di tengah masyarakat. 

Tindakan demi memurnikan hukum atau undang-undang tidak boleh dipandang sebagai merongrong kewibawaan penguasa. Tetapi cara memurnikan arah dan cita-cita bersama.

Mungkin para ahli kitab dan orang-orang Farisi itu takut kehilangan kewibawaan karena mereka justru yang telah melenceng jauh dari hukum Taurat. 

Maka jika ada orang yang ingin menggenapi dan menyempurnakan dianggap sebagai tantangan dan mengusik ketenangan. 

Makan gratis tidak disukai anak didik,
Dibawa pulang dimakan ayam dan itik.
Pemimpin yang jujur tidak takut kritik,
Diterima sebagai masukan yang baik.

Wonogiri, sabar mendengar kritik
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
<<Previous

    Archives

    December 2034
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki