Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Hello Romo!

12/25/2034

17 Comments

 
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
17 Comments

Belajar dari Pengalaman

4/10/2026

0 Comments

 
Puncta 10 April 2026
Jum’at Oktaf Paskah
Yohanes 21:1-14

PEPATAH bijak mengatakan “Pengalaman adalah guru yang terbaik.” Pengalaman gagal, jatuh, tidak berhasil, tersesat berguna bagi kita agar kita tidak jatuh lagi pada peristiwa yang sama. 

Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain juga. Kita tidak harus jatuh atau gagal sendiri.

Bagaimana kita harus bertindak, mengambil keputusan dan pilihan bisa bercermin dari pengalaman orang lain. 

Kita bisa belajar dari tokoh-tokoh yang kita baca dalam Injil hari ini yakni para murid yang kembali menangkap ikan.

Para murid Yesus adalah nelayan yang sangat paham tentang seluk beluk danau Tiberias. Mereka pasti sangat tahu bagaimana mendapatkan ikan. 

Mereka paham setiap sudut wilayah danau yang menghidupi mereka, dimana dan kapan saat yang tepat menjala ikan.

Namun pengalaman saja nampaknya tidak cukup membawa keberhasilan. Mereka semalam suntuk tidak mendapat apa-apa. 

Mereka yang handal sekalipun juga bisa gagal. Lalu Yesus menampakkan diri dan menyuruh mereka; “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka kamu akan peroleh.”

Keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh kehebatan, pengalaman atau kepintaran. Seringkali kita membanggakan kehebatan atau kecerdasan kita. 

Kita menyombongkan kemampuan atau pengalaman pribadi kita. Namun kesombongan sering jadi awal kehancuran.

Kunci keberhasilan tidak ditentukan oleh pengalaman atau kehebatan kita. Para murid yang piawai sebagai nelayan ternyata gagal sepanjang malam tidak mendapat apa-apa. 

Hanya dengan mentaati perintah Tuhan, mereka berhasil memperoleh ikan yang banyak.

Taat pada perintah Tuhan itulah kunci keberhasilannya. Rela dibimbing dan taat pada kehendak Tuhan membutuhkan perjuangan dan bahkan melebihi pengalaman pribadi kita. 

Mengikuti kehendak Tuhan seringkali harus berani keluar dari perhitungan-perhitungan kemampuan kita. 

Perintah “melemparkan jala ke sebelah kanan perahu” adalah bukti melawan kebiasaan pengalaman yang sudah berlangsung lama sebagai tradisi. 

Mengikuti kehendak Tuhan harus berani meninggalkan cara lama dan menghidupi cara baru. Berani untuk taat itulah yang menentukan keberhasilan kita. Maukah kita taat pada perintah Tuhan?

Sepercik pantun buat anda:

Amerika sesumbar mau mengalahkan Iran,
Pesawat tempur dihadang di tengah lautan.
Bukan kehebatanku yang paling menentukan,
Tetapi taat pada Tuhan itulah awal keberhasilan.

Wonogiri, taat saja pada Tuhan
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Hantu atau Tuhan?

4/9/2026

0 Comments

 
Puncta 9 April 2026
Kamis Oktaf Paskah
Lukas 24:35-48

KALAU kita mempermainkan kata hantu dan Tuhan dengan mengucapkannya berulang-ulang, kata itu bisa menjadi terbalik. 

Coba anda ucapkan kata “Hantu” berulang-ulang, nanti lama kelamaan akan berakhir menjadi Tuhan. Begitu pula sebaliknya.

Para murid mengalami ketakutan karena Yesus wafat di salib. Belum habis ketakutan mereka sekarang ditambah lagi ada berita yang membingungkan bahwa Yesus hidup. Beberapa orang telah berjumpa dengan-Nya.

Mereka bingung apakah ini hantu atau benar-benar Tuhan. Masih dalam suasana bingung, takut, gentar dan gelap, Yesus tiba-tiba hadir di tengah-tengah mereka. 

Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!" 

Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?”

Yesus menjelaskan dan membuktikan bahwa Dia bukan hantu, tetapi pribadi yang hidup. Mereka diminta untuk meraba tubuh-Nya. 

“Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku."

Mereka masih tidak percaya, maka Yesus meminta ikan goreng untuk dimakan. Ia makan di hadapan mereka. Mana ada hantu makan ikan goreng? 

Hantu makan kembang atau kemenyan. Semua tindakan itu mau membuktikan bahwa Yesus benar-benar hidup.

Yesus menjelaskan nubuat Kitab Suci bahwa Mesias harus menderita, mati dibunuh dan bangkit pada hari ketiga. Peristiwa ini harus disampaikan kepada semua orang. Para murid adalah saksi utama atas kebangkitan Tuhan.

Maka mereka diminta untuk mewartakan berita sukacita ini kepada segala bangsa. Kata-Nya, “Dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini.”

Inilah inti perikope hari ini. Kita adalah saksi iman akan kebangkitan Yesus. Kita diutus menjadi pewarta Kabar Sukacita. Mari kita bawa sukacita Injil kepada semua orang yang kita jumpai. 

Sepercik pantun buat anda:
Ibadah Paskah ada yang mengganggu,
Mereka melawan Pancasila ayat ke satu.
Yesus adalah Tuhan bukan hantu,
Mari kita wartakan kepada segala suku.

Wonogiri, warta Paskah warta sukacita
Rm.A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Tujuh Anjing Pulang kembali ke Rumahnya

4/8/2026

0 Comments

 
Puncta 8 April 2026
Rabu Oktaf Paskah
Lukas 24:13-35

SEORANG Netizen merekam sekelompok anjing yang berjalan pulang  di sepanjang jalan raya di Changchun, Provinsi Jilin, China pada 16 Maret lalu. 

Mereka menempuh jarak 17 km secara bersama dan saling melindungi. 

Tampak beberapa anjing mengelilingi seekor anjing tipe German shepherd yang terluka. Kemudian seekor Corgi di depan bolak-balik menoleh ke belakang seolah memastikan tak ada yang tertinggal. 

Selain German shepherd dan Corgi, dalam kelompok tersebut juga ada Golden Retriever, Labrador, dan Peking.

Mereka menggambarkan kebersamaan, kekompakan, belarasa, saling menghibur dan menolong dan menjamin keselamatan satu sama lain. 

Yang lemah dilindungi, yang sakit ditemani, yang susah dihibur, yang putus asa dikuatkan. Akhirnya mereka kembali ke kampungnya dengan selamat.

Dua orang murid yang pulang ke Emaus menunjukkan keputus-asaan. Mereka bermuka muram dan sedih karena apa yang diimpikan tidak terpenuhi. 

Mereka kehilangan harapan karena impian mereka kandas dan berantakan. 

Dalam perjalanan yang pahit dan putus asa, Yesus datang menemani mereka. Tuhan hadir dan berjalan bersama. 

Ia menerangkan nubuat Kitab Suci. Ia membuka mata mereka saat makan bersama. Mereka baru tersadar bahwa Yesus ada dekat mereka.

Kisah ini mengantar kita pada permenungan; ketika badai menerpa kita, jangan pernah kita berjalan sendirian. Carilah teman dan berjalanlah bersama. Terbukalah terhadap insight orang-orang di sekitarmu. Disitu Tuhan akan turun tangan.

Bersyukurlah jika kita mempunyai sahabat akrab dalam perjalanan hidup ini. Anjing-anjing yang hampir dibantai oleh penjagal itu berjalan kompak saling menguatkan, melindungi dan menjaga. 

Mereka sudah kenal satu sama lainnya sejak lama karena pemiliknya bertetanggaan dekat.

Kita sering mengalami kekecewaan, keputusasaan, kehilangan, kesedihan dan gagal. Itu semua adalah hal biasa. 

Tetapi hal yang tak boleh hilang adalah kesediaan untuk berjalan bersama teman. Jangan berjalan sendiri dan terbukalah dengan orang lain.

Tuhan Yesus selalu hadir dalam perjalanan kita. Dengan cara-Nya Dia menguatkan dan meneguhkan langkah kita. 

Ekaristi adalah tempat yang paling nyata Yesus hadir menemani kita. Tekun dan setialah mengikuti Ekaristi-Nya.

Sepercik pantun buat anda:
Apakah kita bisa berharap pada para jaksa?
Amsal Sitepu jadi permainan orang yang sok kuasa.
Kesedihan dan keputusasaan adalah hal biasa,
Namun Yesus selalu hadir dalam setiap peristiwa.

Wonogiri, selalu berjalan bersama-sama
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Home Alone yang Inspiratif

4/7/2026

0 Comments

 
Puncta 7 April 2026
Selasa Oktaf Paskah
Yohanes 20:11-18

KETIKA hari liburan Natal tiba, keluarga McCallister sibuk menyiapkan segala sesuatu. Malam sebelum berangkat, terjadi kekacauan karena Kevin berantem dengan Buzz kakaknya. 

Ibunya yang capek, penat, lelah karena memikirkan segala persiapan. Ia marah dan mengunci Kevin di loteng.

Makan malam yang kacau, hujan dan angin kencang memadamkan listrik, alarm mati sehingga mereka terlambat bangun. Mereka harus cepat-cepat ke bandara agar tidak ketinggalan pesawat.

Sungguh malang, karena terburu-buru, bingung dan kacaunya pikiran, Kevin tertinggal di loteng rumah yang terkunci. Di situlah Film “Home Alone” memulai ceritanya. 

Kebingungan, kesedihan, kegalauan membuat logika pikir tidak berjalan. Sama seperti kita yang kadang bingung mencari kacamata padahal barang itu ada di atas kepala kita. Kiranya begitu juga yang dialami Maria Magdalena.

Dia sedih, galau, bingung kehilangan Gurunya. Ketika dia berada di kubur dia bingung karena jenasah Yesus tidak ada di dalamnya. 

Pikirannya kacau dan bingung. Dia jadi lupa segalanya. Bahkan dengan apa yang pernah dikatakan Yesus kepada murid-murid-Nya.

Dia tidak mengenali Yesus yang ada di dekatnya. Dia mengira orang itu adalah tukang taman yang mengurusi makam. 

Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya."

Namun ketika suara khas sang Guru yang sering menyapanya, “Maria!” dia baru tersadar dan mengenali bahwa itu adalah Yesus sendiri. 

Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru.

Tuhan itu menyapa kita secara pribadi. Tuhan mengenal nama kita masing-masing. Hanya sering kali kita tidak melihat bahwa itu adalah suara Tuhan sendiri. Kita kurang peka pada suara Tuhan yang memanggil kita.

Setiap orang memiliki pengalaman disapa oleh Tuhan. Seperti Maria, kita juga dipanggil untuk mewartakan pengalaman kegembiraan itu kepada orang lain.

"Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu."

Iman akan Yesus tidak hanya dipegang untuk diri sendiri. Tetapi ditularkan, diberitakan dan disampaikan kepada banyak orang. 

Perjumpaan dengan Tuhan selalu merubah seseorang. Apakah kita juga dirubah oleh Tuhan pada peristiwa Paskah ini?

Sepercik pantun untuk anda:

Ke Banyuwangi melihat tarian Osing,
Sangat digemari oleh wisatawan asing.
Tuhan menyapa kita masing-masing,
Ia hadir dalam hidup sebagai pendamping.

Wonogiri, mengenali suara Tuhan
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Perjumpaan yang Membahagiakan

4/6/2026

0 Comments

 
Puncta 6 April 2026
Senin dalam Oktaf Paskah
Matius 28:8-15

SEBELUM misa pembaharuan janji imamat, para rama mengadakan rekoleksi bersama. Rm.Indra Sanjaya menampilkan tokoh Petrus yang kendati rapuh, pernah gagal, menyangkal Yesus, namun akhirnya dipilih menjadi pemimpin gereja universal.

Perjumpaan dengan teman-teman imam selalu memberi gairah dan kebahagiaan karena bisa saling belajar dari pelayanan pastoral masing-masing. 

Saya belajar dari ketekunan rama-rama “sepuh” dalam menjalani karya. Perjumpaan punya dampak positif.

Mereka memberi inspirasi karena tekun dan setia menjalani panggilan. Dari ungkapan dan gesture gerak hidupnya nampak kebahagiaan imamatnya kendati juga tidak mudah melayani banyak orang. Kebahagiaan itu menular dan memberi insight baru yang menginspirasi.

Begitulah perjumpaan para perempuan dengan Yesus yang bangkit. Pada awalnya mereka mengalami ketakutan. Namun tiba-tiba di tengah jalan mereka berjumpa dengan Yesus. Mereka sangat gembira. Mereka sujud dan menyembah di depan kaki Yesus.

Kata Yesus kepada mereka: ”Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” 

Perjumpaan dengan Yesus selalu ada buah, dampak positif; kegembiraan dan perutusan.

Berbeda dengan para imam-imam kepala dan serdadu-serdadu yang menjaga makam. Mereka ketakutan dan menciptakan kebohongan. Mereka takut dampak kebangkitan akan menghancurkan reputasi mereka. Maka dibuatlah berita bohong.

Kata imam-imam kepala, ”Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. 

Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.”

Kebohongan demi kebohongan justru akan membawa ketakutan dan kekawatiran menjadi lebih besar. Kebohongan tidak akan menyelesaikan masalah tetapi justru akan membawa masalah. Mereka menolak kebangkitan. Mereka tidak mempercayai Yesus yang hidup. 

Hidup mereka dikuasai oleh ketakutan. Dengan ketakutan itu mereka menciptakan kebohongan dan menyebarkannya. Mereka tidak mengalami kebahagiaan karena tunduk pada ketakutan. 

Berbeda dengan para wanita dan para murid. Mereka mengalami kebahagiaan karena bertemu dengan Yesus yang bangkit. Kebahagiaan mereka menular dan menginspirasi yang lain; memberi semangat, menepis rasa takut dan hidup diliputi kebahagiaan.

Apakah kita akan membiarkan hidup kita dikuasai oleh kebohongan, ketakutan dan rasa was-was atau mau dikuasai Yesus yang bangkit membawa warta bahagia dan menyebarkannya kepada orang lain?

Sepercik pantun buat anda:
Pergi ke Gombong atau Pangandaran,
Menyusuri pantai jumpa para nelayan 
Berita bohong membawa kehancuran,
Warta kebangkitan bawa kebahagiaan 

Wonogiri, bahagia yang menular
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Ia Mendahului Kamu

4/4/2026

0 Comments

 
Puncta 4 April 2026
Vigili Paskah, Sabtu Suci
Matius 28:1-10

PELARI sprinter Sha’Carri Richardson adalah salah satu dari empat pelari estafet Amerika yang memenangkan kejuaraan Olimpiade musim panas 2024 di Paris. 

Dia diposisikan sebagai pelari terakhir dalam tim karena power sprint-nya yang cepat.
Teman-temannya berharap bahwa dia akan mampu menjadi penentu kemenangan. 

Ketika rekan setimnya Gabrielle Thomas, pelari ketiga agak kesulitan memberikan tongkat estafet, mereka sudah terlambat sekian detik dengan tim musuh. Richardson harus berada di posisi ketiga. 

Namun dengan kecepatan yang luar biasa, dia mampu melewati lawan-lawannya dan dalam momen yang ikonik waktu itu, Richardson sempat menoleh melihat para pesaing terdekatnya sebelum menyentuh garis finis. Mereka memenangkan lomba dengan sukacita.

Dari posisi ketiga Richardson bangkit dengan segenap kekuatan dan mengalahkan lawan-lawannya. 

Dengan power kecepatan yang bagus, teman-temannya tidak takut, Richardson akan mampu mendahului pelari lainnya.

Pada kisah kebangkitan Yesus yang kita baca dari Injil Matius ini, kita bisa merenungkan tiga hal. 

Pertama, pesan Yesus dan malaikat kepada para wanita, “Jangan takut.” Para murid Yesus merasa ketakutan karena ditinggalkan Yesus. 

Mereka kehilangan sekaligus juga gentar mengalami kematian Yesus yang demikian mencekam. 

Masa depan menjadi gelap dan tidak jelas dengan kehilangan Guru dan Tuhan. Menghadapi kegelapan hidup itu, Yesus bersabda, “Jangan takut.”

Kedua, malaikat berkata, “Ia mendahului kamu ke Galilea.” Seperti seorang pelari cepat, Yesus akan mendahului kita, berada di depan untuk memimpin langkah hidup kita. 

Dengan bangkit dari kematian, Yesus memenangkan kematian. Ia mengalahkan maut dan dosa yang membelenggu kita.

Ketiga, pesan Yesus bagi para murid, "Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku." 

Kita diminta untuk mewartakan kebangkitan Yesus kepada saudara-saudara kita.

Dalam situasi apapun, kita tidak boleh takut, Yesus mendahului kita di depan. Ia memimpin hidup kita.  Kegembiraan Paskah menjadi warna hidup kita.  Kita diberi tugas mengabarkan kebangkitan-Nya kepada semua orang. 

Sepercik pantun untuk anda:
Mancing ikan di Pantai Jepara,
Terbawa arus ke Karimunjawa.
Kristus sudah bangkit alleluia,
Hidup jadi cerah dan bahagia.

Wonogiri, selamat hari raya Paskah
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Pahlawan di WTC New York

4/3/2026

0 Comments

 
Puncta 3 April 2026
Jum’at Agung, Mengenang Wafat Tuhan
Yohanes 18:1-19:42

KETIKA terjadi serangan teroris di WTC New York pada 11 September 2001, Richard Rescorla menjadi kepala keamanan Morgan Stanley WTC. 

Ia memandu para pekerja agar menyelamatkan diri dan keluar dari gedung yang akan runtuh.

Dengan megaphone ia menenangkan para karyawan yang panik. Ia masih sempat menyanyikan lagu “God Bless America” agar suasana tidak kacau dan semua karyawan tetap tertib. 

Hampir 2.700 orang yang bekerja di tempat itu bisa keluar gedung dan selamat dari reruntuhan.

Ia kemudian masuk kembali dan naik ke lantai 10 untuk memastikan semua orang sudah tidak ada di tempat. 

Waktu berjalan dengan sangat cepat. Dalam panggilan telepon yang terakhir, sebelum gedung WTC runtuh, dia masih berkata pada istrinya, Susan: “Stop menangis. Aku harus mengeluarkan orang-orang ini dengan selamat. Jika sesuatu terjadi padaku, aku ingin kau tahu aku tidak pernah sebahagia ini."

Veteran perang Vietnam ini mewujudkan motto "Saya tidak akan pernah meninggalkan rekan seperjuangan yang gugur" (I will never leave a fallen comrade). 

Jenazahnya terkubur di bawah reruntuhan WTC dan tidak pernah ditemukan. Ia mengorbankan nyawanya demi keselamatan sesamanya.

Pada peringatan wafat Yesus ini, kita bisa merenungkan pengorbanan Yesus untuk menebus dosa-dosa kita. Yesus menerima salib dengan kerelaan hati agar kita diselamatkan dari kegelapan dosa. 

Yesus seperti anak domba yang tidak memberontak dibawa ke tempat pembantaian. Karena bilur-bilur-Nya kita diselamatkan.

Bagaimanakah rasa syukur kita kepada orang yang telah mengorbankan nyawanya demi keselamatan kiat? 

Apa yang harus kita lakukan untuk membalas cinta-Nya? 

Semestinya kita menatap hidup ke depan dengan penuh keyakinan bahwa Allah mengasihi kita.

Hidup ini sangat berharga karena Allah sendiri yang menebus dengan kematian Putera-Nya. Kita yang  kotor karena dosa telah dicuci bersih dengan darah-Nya. 

Marilah kita hargai hidup ini dengan juga menghargai sesama.

Sepercik pantun buat kita:

Langit biru sangat indah di angkasa,
Bulan purnama mulai menepis senja.
Betapa berharganya hidup kita di dunia,
Yesus telah menebus kita dari kuasa dosa.

Wonogiri, terima kasih atas pengorbanan-Mu
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Membasuh Kaki

4/2/2026

0 Comments

 
Puncta, 2 April 2026
Kamis Putih dalam Pekan Suci
Yohanes 13:1-15

PADA waktu bertugas di Paroki Kendal, saya membuat acara yang berbeda untuk tuguran di hadapan Sakramen Mahakudus. Acara tuguran Kamis Putih diisi dengan renungan singkat tentang kasih Tuhan yang rela membasuh kaki para rasul.

Kami membuat kursi melingkar di aula. Keluarga-keluarga duduk berderet. Dalam suasana hening dan tenang masing-masing anggota keluarga secara bergantian membasuh kaki mereka. 

Diiringi musik rohani instrumental dan lampu temaram dari tahta Sakramen Mahakudus, bapak mulai membasuh kaki istri dan anak-anaknya. Demikian sampai semua melayani satu sama lain.

Teladan Yesus tidak hanya diajarkan, tetapi juga langsung dipraktekkan dalam komunitas yang paling kecil, yaitu keluarga. 

Membasuh kaki adalah tanda merendahkan diri, melayani sebagai hamba dan mengasihi tanpa batas.

Setelahnya mereka saling berpelukan, menangis terharu dan mengungkapkan doa syukur atas kasih yang dialami dalam keluarga. 

“Kami merasa Tuhan sungguh mengasihi lewat istri dan anak-anak, Rama. Syukur kepada Tuhan ada peristiwa ini,” ungkap seorang bapak dalam haru.

Peristiwa perjamuan Yesus dengan murid-murid-Nya pasti lebih mengharukan, mencekam dan membuat tanda tanya bagi mereka. 

Petrus tidak bisa memahami Yesus tiba-tiba membasuh kakinya. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?" 

Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak."

Setelah selesai membasuh semua murid-Nya, Ia menjelaskan maksud tindakan-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? 

Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. 

Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.

Yesus memberi teladan tentang kerendahan hati, siap melayani dan menghargai orang lain. Yesus mengasihi kita sampai pada akhirnya. 

Mari kita wujudkan kasih Tuhan itu dengan mengasihi sesama dan melayani mereka sebagai sahabat-sahabat kita.

Sepercik pantun buat kita:
Arus balik kembali ke Jakarta,
Jalanan lengang seperti semula.
Ia membasuh kaki seperti hamba,
Padahal Dialah yang Mahakuasa.

Wonogiri, melayani dengan rendah hati
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Tiga Puluh Keping Perak

4/1/2026

0 Comments

 
Puncta 1 April 2026
Rabu Pekan Suci
Matius 26: 14-25

YESUS dikhianati oleh murid-Nya sendiri dan dijual kepada orang-orang Farisi dan tua-tua bangsa Yahudi dengan harga tiga puluh keping perak. 

Mengapa Yudas tega melakukan pengkhianatan terhadap gurunya sendiri?

Tiga tahun hidup bersama dengan komunitas murid Yesus. Yudas ikut berkeliling, berkarya, makan bersama, melihat mukjizat Yesus, dan ikut mengalami banyak peristiwa bersama Yesus. 

Yudas memberikan hidupnya, tetapi tidak memberikan hatinya pada Tuhan.

Hatinya tetap dipenuhi dengan ambisi pribadi. Kita tidak tahu apa motivasinya menjual Yesus kepada orang Farisi. 

Mengapa Yudas mau menerima uang 30 perak? Jumlah ini adalah harga seorang budak pada waktu itu. 

Apakah ini merupakan suatu simbol bahwa Yesus disamakan dengan seorang hamba sebagaimana Dia datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani semua orang? Bisa jadi ini sebagai interprestasi teologis. 

Namun kalau dikaitkan dengan tugas Yudas sebagai bendahara kelompok murid, bisa jadi fokus utama yang dipikirkan adalah uang. 

Kebutuhan akan uang telah membutakan matanya sehingga dia tidak pikir panjang dan siap menghalalkan segala cara. 

Dalam perikope lain Injil Yohanes ditulis tentang karakter Yudas, “Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.”

Motivasi Yudas bukan dalam hal spiritual, atau murni mau menjadi murid-Nya, tetapi karena keinginannya demi keuntungan pribadi, ambisi duniawi, ketamakan, dan keserakahan. Kekayaan adalah yang memicu ambisinya menjual gurunya.

Puncak kulminasi dari kekecewaannya pada Yesus dipicu oleh tindakan Maria yang menghambur-hamburkan minyak narwastu yang mahal “hanya untuk meminyaki kaki Yesus.”  

Uang sebanyak 300 dinar kok hanya disia-siakan. Dengan uang segitu orang tinggal duduk manis tidak bekerja selama satu tahun. 

Pada perjamuan malam Paskah itulah, Yesus dikhianati. Yudas menerima tiga puluh perak harga murah untuk gurunya. 

Dan sesudahnya ia hidup dalam penyesalan dan kesengsaraan lalu mati dengan cara mengenaskan.

Penyesalan selalu datang kemudian. Tetapi Yudas tidak sempat menyesal. Seandainya dia datang seperti penjahat yang disalib bersama Yesus, pasti Yesus juga akan mengampuninya. 

Apa yang bisa anda pelajari dari sikap dan karakter Yudas ini?

Sepercik pantun untuk direnungkan:

Dengan uang tigapuluh keping perak,
Yudas menjual Yesus gurunya.
Ikut Yesus jangan hanya cari enak,
Harus berani manggul salib ke Golgota.

Wonogiri, kita juga jualan Tuhan?
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
<<Previous

    Archives

    December 2034
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki