|
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
17 Comments
Puncta 23 Januari 2026
Jum’at Biasa II Hari keenam Pekan Doa Sedunia Markus 3:13-19 SALAH seorang pencinta Puncta dari Los Angeles, USA membagi pengalamannya dengan doa Rosario. Dia punya kelompok doa Rosario dan disiarkan lewat https://relevantradio.com/. Peserta doa ini dari berbagai belahan dunia. Ada yang tinggal di Amerika, UK, Australia, Jepang, Malaysia dan lainnya. Kekuatan doa Rosario dirasakan sungguh luar biasa. Doa Rosario adalah benteng pertahanan kuat melawan si jahat. Banyak anggota gereja sebelah yang kembali ke Gereja Katolik. Ada pasangan yang kembali rukun menjadi keluarga bahagia karena didoakan bersama. Ada banyak permohonan dikabulkan lewat doa Rosario. Segalanya dimulai dengan doa. Semua belajar dan meniru apa yang dilakukan Yesus sebelum memilih duabelas murid-Nya. Ia naik ke bukit untuk berdoa semalam-malaman. Untuk membuat sebuah keputusan besar dimulai dengan doa. Sesudah berdoa kepada Bapa, Yesus memilih duabelas rasul yang siap diutus. Mereka adalah Simon Petrus dan Andreas, Yakobus dan Yohanes, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia. Mereka bukan orang yang sempurna, pintar dan hebat. Mereka adalah orang-orang biasa; nelayan, pemungut cukai dan orang-orang yang punya latar belakang berbeda-beda. Bahkan ada yang mengkhianati juga. Tetapi Yesus memberi kesempatan mereka untuk ikut ambil bagian dalam pewartaan Injil Allah. Kita pun juga dipanggil ikut serta dalam karya-karya Yesus. Apakah kita siap menanggapinya? Justru karena kita tidak sempurna, kita membutuhkan doa. Jangan takut, doa adalah kekuatan kita. Sebagaimana Yesus mengawali karya-Nya dengan doa, kita pun bisa menyerahkan karya perutusan kita dengan doa. Mulailah segalanya dengan DOA. Sepercik pantun bagi anda: Di langit ada bulan purnama, Sinarnya redup tertutup mega. Serahkan perkaramu dalam doa, Tuhan akan menyelesaikan semua. Wonogiri, doa adalah kekuatanku Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 22 Januari 2026
Kamis Biasa II Hari kelima Pekan Doa Sedunia Markus 3:7-12 JIKA ada orang atau kelompok yang meragukan pencapaian seseorang, pasti orang itu akan meradang. Ambil salah satu contoh kasus ijasah palsu. Ada orang yang mempertanyakan keaslian dari sebuah ijasah yang dikeluarkan oleh lembaga Perguruan Tinggi. Ijasah bukan cuma selembar kertas. Ijasah adalah pencapaian hasil prestasi belajar. Ijasah adalah bukti pengakuan akademik bahwa seseorang telah menyelesaikan proses belajar di suatu lembaga pendidikan. Kalau ijasah seseorang dipertanyakan, maka prestasi dan harga dirinya juga diragukan. Lembaga yang mengeluarkan pun juga dipertanyakan keabsahannya. Ijasah adalah bentuk pengakuan diri seseorang yang telah berhasil menamatkan pendidikannya. Prestasi adalah bagian dari pengakuan diri. Presiden Prabowo pasti juga akan ngotot mengusahakan MBG karena itu dianggap sebagai prestasi yang bisa dibanggakan. Kalau ada banyak kritik tentang pelaksanaan MBG, dia akan mempertahankannya sekuat tenaga karena ini soal prestise. Kalau MBG gagal, maka prestasi dan reputasinya pasti akan anjlog. Popularitas akan turun dan tingkat kepercayaan masyarakat juga akan rendah. Pengakuan diri ini harus diusahakan agar bisa memuaskan orang banyak. Yesus berkeliling kemana-mana untuk mengajar dan menyembuhkan banyak orang. Dari berbagai daerah datang ingin mendengarkan Dia. Orang-orang dari Galilea, Yudea, Idumea, seberang Sungai Yordan, daerah Sidon dan Tirus, semua datang kepada-Nya. Reputasi dan popularitas-Nya sudah diakui tersebar dimana-mana. Bahkan iblis pun mengenali-Nya dengan menyebut, "Engkaulah Anak Allah." Reputasi Yesus sudah diakui banyak orang. Namun Yesus dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia. Kenapa? Karena Yesus tidak butuh pengakuan dari setan maupun dari manusia. Ia tidak mencari pujian, sanjungan atau pengakuan diri. Ia hanya fokus menjalankan perutusan Bapa-Nya menyelamatkan banyak orang. Kita bisa belajar dari Yesus. berbuat baik bukan untuk pujian dan sanjungan, tetapi demi memuliakan nama Tuhan. Biasanya orang-orang yang masih mengejar eksistensi diri, butuh pujian dan panggung pengakuan adalah mereka yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Sepercik pantun untuk anda; Naik bendi berkeliling-keliling kota, Bendinya ditarik oleh kuda perkasa. Janganlah mencari pujian manusia, Berbuatlah demi kebahagiaan sesama. Wonogiri, masih mencari pengakuan diri? Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 21 Januari 2026
Pw. St.Agnes, Perawandan Martir Hari keempat Pekan Doa Sedunia Matius 13.44-46 PANCE Pondaag mengidungkan lagu berjudul "Mutiaraku.” Liriknya antara lain berbunyi demikian: “Engkaulah mutiara. Tempat curahan kasih sayangku. Engkau mahligai cintaku. Tempat pengharapan yang terakhir. Dalam hatiku berdoa slalu. Semoga kekal abadi. Cintamu cintaku milikmu jua. Sehidup semati kita” Mutiara adalah sesuatu yang sangat berharga. Orang akan memeliharanya dengan penuh kasih sayang. Orang berusaha bisa mendapatkannya karena nilainya yang sangat tinggi. Mutiara bagi setiap orang bisa berbeda-beda. Ada yang menilai keluarga adalah mutiara yang paling berharga. Maka dia menjaga dengan sungguh-sungguh keutuhan dan kebahagiaan keluarganya. Ada yang menempatkan pasangan hidup adalah mutiara yang paling indah. Ia sangat menyayangi dan mengasihi pasangannya agar bisa hidup lama. Ada juga yang menjaga imamat sebagai mutiara hidupnya. Yesus mengajarkan bahwa Kerajaan Sorga seperti mutiara yang sangat indah, harta yang tak ternilai jumlahnya. Orang mencarinya dengan sekuat tenaga agar bisa mendapatkannya. Bahkan dia rela mengorbankan apa pun demi mendapatkan itu. "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu." Bagi anda sendiri, apakah harta yang paling berharga dalam hidup ini? Apakah mutiara yang paling indah bagi hidup anda, sudahkan anda menemukannya? Dan sudahkan anda berusaha menjaga dan memeliharanya dengan penuh cinta? Sepercik pantun untuk anda: Pergi ke Pulau Pelangi mencari mutiara, Mutiara bagus ada di Pantai Indah Kapuk. Harta yang paling berharga adalah keluarga, Peliharalah cinta keluarga jangan sampai lapuk. Wonogiri, Engkaulah mutiaraku Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 20 Januari 2026
Selasa Biasa II Hari Ketiga Pekan Doa Sedunia Markus 2:23-28 PADA suatu hari Minggu di sebuah paroki diterimakan sakramen krisma oleh Bapak Uskup. Sebelum misa, pastor paroki mengingatkan kepada Bapak Uskup bahwa misa di paroki ini biasanya berlangsung hanya satu jam saja. Umat sudah “ngedumel” kalau misanya lama. Maka Bapak Uskup diminta untuk mentaati aturan yang sudah berlangsung lama di paroki itu. Pastor paroki mengajak Bapak Uskup ke sakristi dan menunjukkan sebuah tulisan di atas kaca hias yang mengingatkan semua imam agar mengatur waktu supaya misa hanya berlangsung selama satu jam saja. Bagaimana mungkin penerimaan krisma hanya satu jam kalau pesertanya ada ratusan orang? Aturan yang tidak masuk akal. Dan lagi, bukankah Bapak Uskup adalah yang punya paroki di seluruh keuskupannya? Bagaimana mungkin pastor paroki yang hanya pembantu uskup mengatur pemimpin tertinggi di keuskupannya? Hari ini dalam Injil, orang-orang Farisi mengingatkan Yesus karena murid-murid-Nya melangar aturan hari Sabat. Mereka memetik gandum dan memakannya pada hari Sabat. Tindakan ini melanggar aturan. Kaum Farisi adalah orang-orang yang menganggap diri taat beragama dan saleh. Seolah mereka adalah yang paling benar dan menyalahkan orang lain yang salah. Tetapi tuduhan ini hanyalah kemunafikan agar mereka dianggap paling benar. Yesus menegaskan bahwa Anak Manusia adalah penguasa segala waktu. Yesus berkata kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat." Aturan dibuat oleh manusia, bukan manusia diperbudak oleh aturan. Aturan dibuat demi keselamatan dan kebahagiaan banyak orang, bukan untuk membelenggu dan menyiksa orang. Demi keselamatan dirinya dan para prajuritnya, Daud masuk ke Bait Allah dan makan roti persembahan karena mereka semua lapar. Secara aturan roti itu hanya boleh dimakan oleh imam besar. Tetapi demi keselamatan para prajurit, Daud mengambil roti itu. Hal itu dibenarkan dan bisa diterima. Apakah karena Daud, kepala pasukan yang melanggar sehingga tidak dihukum? Sedangkan para murid hanyalah rakyat jelata sehingga dipermasalahkan? Aturan tidak boleh tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Kalau mau diterapkan, aturan tidak boleh pandang bulu. Semua sama di hadapan hukum. Apakah kita berlaku seperti kaum Farisi yang suka menghakimi orang lain dan merasa diri paling benar dan saleh di atas mereka? Hati-hatilah…….! Sepercik pantun: Cari sembako di dalam gudang logistik, Untuk membantu bencana kelaparan. Jangan bertindak seperti kaum munafik, Suka menghakimi, tak mau disalahkan. Wonogiri, awas ada topeng kemunafikan Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta, 19 Januari 2026
Senin Biasa II Hari kedua Pekan Doa Sedunia Markus 2: 18-22 SETIAP generasi memiliki cara hidup dan polanya sendiri sesuai dengan zaman dan dunianya. Orang-orang yang hidup pada era “baby boomer” (1946-1964) akan kesulitan memahami anak-anak generasi Z (1997-2012) atau generasi Alpha sekarang. Tradisi, kebiasaan atau nilai-nilai hidup antara mereka sangat jauh berbeda. Generasi lama masih mengenal permainan gobak sodor, dakon atau congklak, “jethungan,” petak umpet, bola bekel, lompat tali, jamuran kendhi borot. Semua dilakukan bersama teman-teman penuh ceria dan sukacita. Tanpa sungkan mereka bermain bersama-sama. Generasi sekarang suka main game online via aplikasi. Mereka asyik dengan dirinya sendiri tak perlu berjumpa dengan sesamanya. Maka komunikasi dan sosialisasi antar sesama menjadi kurang. Pola pikir dan gaya hidup sangat individualistis. Yesus menjawab pertanyaan orang tentang kebiasaan berpuasa. "Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa.” Yesus mengidentifikasi Diri-Nya sebagai mempelai laki-laki yang hadir di tengah umat sebagai mempelai wanita. Ketika mempelai itu ada di tengah-tengah mereka, orang tidak berpuasa karena sukacita. Yesus juga menggambarkan bahwa kain baru tidak akan cocok untuk menambal kain yang lama atau anggur baru tidak cocok ditaruh di kantong yang lama. Anggur baru harus disimpan pada kantong yang baru pula. Yesus membawa nilai-nilai baru dalam kehidupan. Orang harus berani berubah atau bertobat agar dapat menyesuaikan diri dengan cara hidup Yesus. Yesus membawa perubahan radikal yang tidak mungkin diterapkan dalam tradisi-tradisi lama yang lahiriah belaka. Yesus membawa pola hidup baru. Siapkah kita menerima cara dan pola hidup Yesus yang menuntut pertobatan radikal dalam diri kita? Cara hidup lama yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Kristus harus ditinggalkan. Sekelumit pantun: Pagi-pagi sudah diguyur air hujan, Hujannya deras disertai angin taufan. Yesus datang membawa pembaharuan, Kita harus bertobat dan menyesuaikan. Wonogiri, salam perubahan Rm. A. Joko Purwanto,Pr Puncta 18 Januari 2026
Minggu Biasa II Pembukaan Pekan Doa Sedunia Yohanes 1:29-34 YOHANES Pembaptis menyebut Yesus sebagai “Anak Domba Allah.” Mengapa kok anak domba, bukan unta, rajawali, harimau, kuda, serigala gurun atau binatang binatang yang besar dan kuat? Orang Israel sangat familier dengan domba. Banyak orang menjadi penggembala domba di daerah subur sekitar Yordan dan danau Tiberias. Domba adalah binatang kurban dan sering dipersembahkan di Bait Suci. Musa mewariskan ritual korban kepada Yahwe berupa domba jantan yang tak bercacat. Pengorbanan domba dilakukan untuk ritual Paskah Yahudi. Mereka menyembelih anak domba sebagai bentuk perjanjian dengan Tuhan. Domba adalah binatang yang lemah, saking lemahnya dia tidak mengembik atau melawan ketika akan disembelih. Domba juga tidak pernah berkelahi. Ia hidup damai dengan siapa pun. Domba adalah binatang penurut dan setia. Karakteristik domba yang seperti itulah yang diterapkan Yohanes pada diri Yesus yang taat setia sampai mati. Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” Yesus adalah Anak Domba yang menyerahkan hidup-Nya untuk menebus dosa-dosa dunia. Yesus bukanlah kuda perang atau serigala yang mencari mangsa, atau rajawali yang terbang tinggi atau binatang lain yang mencabik-cabik dan mematikan. Yesus menyerahkan diri seperti domba yang tidak melawan, dibawa ke tempat pembantaian demi keselamatan manusia. Kesaksian Yohanes ini dikuatkan dengan penglihatan Roh Kudus yang turun seperti burung merpati. Suara dari langit berseru, “Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah." Kalau Yohanes menggambarkan Yesus sebagai Anak Domba Allah, apakah gambaran anda sendiri tentang Yesus yang telah menyelamatkan anda dan mengangkat anda menjadi anak-anak Allah? Sepercik pantun: Anak gajah mandi di tanah, Bermain lumpur sampai basah. Yesus Anak Domba Allah, Ia taat menjadi manusia lemah. Wonogiri, rela mengorbankan diri Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 17 Januari 2026
Pw. St. Antonius Abbas, Biarawan Markus 2:13-17 atau RUybs BUNDA Teresa dari Kalkuta memilih berkarya bagi orang-orang miskin di India. Ia hidup bersama orang miskin dan menderita. Ia melayani dan menolong mereka yang tidak punya rumah, sakit parah , para lansia miskin dan anak-anak yang tak pernah mengenyam pendidikan. Dari awal sampai akhir hidupnya, Bunda Teresa mengabdikan diri bagi kaum miskin, tersingkir dan papa. Dia pernah dicibir banyak orang dengan karyanya itu. Ada pejabat yang menuduhnya menjual kemiskinan warga. Ada pula yang mencemooh hanya untuk mencari popularitas diri. Namun Teresa tidak mundur oleh kritikan dan cemoohan. Ia tetap konsisten dengan pilihannya, hidup untuk menolong orang kecil, lemah, miskin dan teringkir. Yesus memanggil Lewi, pemungut cukai. Ia diundang ke rumah Lewi untuk makan bersama-sama dengan pemungut cukai. Namun orang-orang Farisi mencemooh-Nya. Mereka memprotes, "Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." Yesus menegaskan misi penyelamatan-Nya. Ia memilih mendekati orang-orang berdosa untuk dipertobatkan. Bahasa kerennya sekarang “Preferential Option for the poor.” Itulah pilihan karya Yesus. Gereja juga mengikuti pilihan itu. Gereja lebih berpihak kepada kaum kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Tetapi konsistenkah kita memilih opsi itu? Atau jangan-jangan hanya pemanis bibir atau lib’s service saja? Sekarang banyak dikeluhkan umat tentang biaya pendidikan sekolah Katolik mahal. Sekolah hanya untuk orang kaya saja. Biaya kesehatan mencekik. Orang tak mampu bayar obat dan perawatannya. Para imam juga lebih melayani orang kaya. Dimana option for the poor dihayati? Yesus berani konsisten dengan berkata, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." Para pelayan Gereja ini berani nggak konsisten seperti Yesus, memilih opsi yang terus dihidupi walau tidak enak dan nyaman bagi diri kita sendiri. Berani nggak keluar dari zona nyaman untuk memilih opsi penyelamatan? Makan roti dioles mentega, Minumnya kopi dari Panama. Yesus berpihak pada pendosa, Walau harus disalib di Golgota. Wonogiri, konsisten pada pilihan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 16 Januari 2026
Jum’at Biasa I Markus 2:1-12 BENCANA yang terjadi di Aceh akhir November tahun lalu sungguh dahsyat. Banjir bandang itu menelan ribuan nyawa, harta benda, bangunan dan infrastruktur yang rusak parah. Banyak warga harus mengungsi. Pejabat pemerintah daerah mulai camat, para bupati sampai gubernur sendiri merasa tidak mampu mengatasi dampak banjir yang meluluh-lantakkan perekonomian masyarakat. Mereka berteriak minta bantuan kepada pemerintah pusat. Banyak negara luar yang ingin membantu, tetapi anehnya dilarang oleh pemerintah pusat dengan alasan, kita sendiri mampu mengatasi. Kita butuh penanganan segera agar warga terdampak tidak makin menderita. Gerakan solidaritas digemakan. Banyak instansi, lembaga dan warga saling bahu membahu menolong korban terdampak. Harapannya korban dapat segera ditolong dan diselamatkan. Warga sendiri saling menolong, bahu membahu saling bantu. Dalam perikope ini, ada empat orang yang membantu penderita lumpuh dibawa ke hadapan Yesus agar disembuhkan. Yesus melihat niat baik mereka. Walau banyak rintangan menghadang di pintu, mereka tidak habis akal. Orang lumpuh itu diturunkan dari atas atap rumah, tepat di hadapan Yesus. Usaha, kemauan, kreativitas dan niat mereka membuat Yesus kagum. Yesus melihat kesungguhan dan kedalaman hati mereka. Iman yang kuat disertai dengan tindakan yang hebat. Walau ada hambatan yang sulit mereka tidak putus asa dan mundur. Inilah yang dihargai oleh Yesus. Ia melihat usaha mereka yang tulus dan iman si orang lumpuh ini. Yesus langsung menyentuh ke dalam hatinya. Ia berkata kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" Yesus dituduh menghojat Allah karena yang berhak mengampuni dosa hanya Allah. Tetapi Yesus justru menunjukkan kepada mereka siapa sesungguhnya Dia. Yesus adalah Allah yang berkuasa atas seluruh hidup manusia. Maka Dia berkuasa mengampuni dosa dan menyembuhkan orang. Kita seringkali juga suka menuduh orang dengan pikiran-pikiran negatif seperti para ahli Taurat ini. Melihat kebaikan orang bukannya memuji malah mencaci, bukannya bertobat malah menghojat. Belajar dari Yesus, kita tetap teguh melakukan kebaikan walau kadang tidak diterima atau dinilai buruk orang lain. Jangan berhenti berbuat baik walau kadang dicaci atau dibully dengan prasangka buruk. Kepala pusing gigi terasa ngilu, Pergi ke toko untuk membeli jamu. Lebih baik bertindak membantu, Daripada berkomentar yang tidak perlu. Wonogiri, bangunlah solidaritas Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 15 Januari 2026
Kamis Biasa I Markus 1:40-45 ORANGTUA yang mempunyai anak balita perlu berhati-hati dalam mendidik mereka. Mereka sedang bertumbuh untuk mengekplorasi dunia sekitarnya. Penting bagi orangtua untuk memilih kata-kata larangan yang tidak menghambat daya ingin tahunya yang besar. Kata “Jangan” sering dipakai orangtua untuk melarang anaknya. kalau larangan ini dipakai pada saat yang tidak tepat, bisa berdampak negatif pada pertumbuhan psikososial anak. Inisiatif dan kreatifitas anak akan mandeg. Pada saat anak sedang tumbuh daya pikir dan rasa ingin tahunya, larangan “Jangan” justru membuat dia ingin tahu dan melakukan yang sebaliknya. Maka larangan itu harus ditempatkan pada konteks yang benar. Menggunakan kata “Jangan” sebagai larangan bisa dipakai untuk hal-hal yang sangat membahayakan bagi keselamatan anak. Kita boleh tegas mengatakan “Jangan.” Yesus juga menggunakan kata “Jangan” kepada orang kusta yang telah disembuhkan. "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka." Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. Bagi orang kusta, perintah “Jangan” justru tidak mempan, saking gembiranya karena sembuh dari kusta, dia melanggar perintah Yesus. Dia memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana. Pentahiran orang kusta memang secara aturan harus dilakukan oleh imam di Bait Allah dan membawa persembahan. Maka Yesus menyuruh orang itu pergi kepada imam supaya tidak terjadi konflik kepentingan. Sukacita yang meluap bisa membuat orang lupa diri sehingga aturan atau larangan diterjang demi bisa bersyukur dan memuji Tuhan. Mungkin kita juga pernah seperti itu. Saking gembiranya hati yang berkobar-kobar, sampai kita lupa diri. Orang kusta itu tidak terbendung semangatnya untuk mewartakan Mesias yang dijanjikan kepada semua orang. Ia mewartakan bahwa Allah sudah hadir dalam diri Yesus yang menyembuhkan. Malam yang gelap disertai hujan, Hawa yang dingin menusuk badan. Orang kusta disembuhkan Tuhan, Ia langsung mewartakan kebenaran. Wonogiri, sukacita yang berkobar Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed