|
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
18 Comments
Puncta 23 Juli 2026
Kamis Biasa XVI Matius 13:10-17 Bermata tapi tak melihat Bertelinga tapi tak mendengar Bermulut tapi tak menyapa Berhati tapi tak merasa Berharta tapi tak sedekah Berbenda tapi tak berzakat Berilmu tapi tak beramal Berjalan tapi tak terarah Semoga kita terhindar dari hal-hal sedemikian Semoga kita menjauh dari sifat sedemikian Beramal tapi kurang ikhlas Berjanji tapi suka lupa Bergunjing hampir tiap hari Berkata sering menyakitkan SYAIR di atas adalah puisi karya Taufik Ismail yang diaransir oleh Jaka Bimbo dan dinyanyikan sebagai lagu religi yang menyentuh hati. Puisi ini menjadi sindiran bagi kita semua yang mengagung-agungkan kekayaan, kepandaian dan perilaku kita yang tak peduli dengan situasi di sekitar kita. Yesus pun mengatakan hal yang sama kepada orang-orang Yahudi pada masa itu. “Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap,” kataNya menyindir kaum Farisi. Yesus mengingatkan kita, ”Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” Marilah kita membuka hati dan pikiran kita agar peka melihat kehidupan di sekitar kita dan berani berbuat sesuatu untuk peduli bagi mereka yang kecil, lemah, miskin dan tertindas. Di dalam diri merekalah Tuhan menghadirkan Diri-Nya, Sepercik pantun buat anda: Banyak pejabat-pejabat korupsi, Tanda mereka tak punya hati nurani. Bukalah pikiran dan hati nurani, Ulurkan tangan terbuka untuk peduli. Wonogiri, membuka hati nurani Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 22 Juli 2026
Pesta St.Maria Magdalena Yohanes 20:1..11-18 PIALA DUNIA telah berakhir. Spanyol menang dengan perkasa untuk membawa pulang piala. Di tengah lapangan Messi dan tim Argentina tertunduk lesu. Ketika kapten Argentina ini menuju ke tribun penonton, namanya diserukan oleh seluruh suporter’ “Messi! Messi! Messi!” Pecahlah tangisnya dan tetes air mata membasahi wajahnya. Messi tidak menangis karena kalah. Menang dan kalah sudah biasa baginya. Tetapi kesedihannya adalah berpisah dengan fans yang selama ini telah membesarkannya. Messi harus meninggalkan panggung sepakbola karena empat tahun lagi pasti tak mungkin membela negaranya karena usianya tak lagi muda. Kesedihan yang sangat besar dari Messi sendiri tetapi juga bagi Argentina dan pecinta sepakbola dunia. Selama dua dekade Messi mencetakkan prestasi yang luar biasa. Ia telah memiliki semuanya dalam kancah sepakbola. Gelar GOAT (Greatest Of All Time) pantas disematkan padanya karena prestasi individu dan tim yang dibelanya. Namun perpisahan jugalah yang harus dialami setiap orang. Messi harus berpisah juga dengan Argentina dan semua fans yang memujanya. Seperti kata Madonna dalam lagu Don’t Cry for Me Argentina. Ketenaran, kekayaan, kemuliaan tak ada gunanya lagi, harus ditinggalkan. I had to let it happen, I had to change, Couldn't stay all my life down at heel, Looking out of the window, staying out of the sun. So I chose freedom, Running around, trying everything new. But nothing impressed me at all, I never expected it to. Don't cry for me Argentina, The truth is I never left you. All through my wild days, My mad existence I kept my promise. Don't keep your distance. Maria Magdalena mengalami kesediahan yang mendalam karena kehilangan Yesus yang mati. Ia sangat putus asa karena Yesus adalah segalanya bagi hidupnya yang telah hancur. Ia menangis di dekat makam Yesus dan hilang akal atas situasi dan kondisi hidupnya. Namun Yesus datang. Ia menyapa dan menyebut namanya secara pribadi.”Maria! Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. Perjumpaan singkat yang mengubah segalanya. Sapaan Yesus membawa hidup baru. Yesus harus pergi kepada Bapa. Maria harus berpisah dengan-Nya. Namun perpisahan yang penuh janji dan harapan. Maria Magdalena diminta memberi warta sukacita kepada murid-murid yang lain bahwa Yesus hidup. I had to let it happen, I had to change, Couldn't stay all my life down at heel, Looking out of the window, staying out of the sun. So I chose freedom, Running around, trying everything new. But nothing impressed me at all, I never expected it to. Syair ini bisa menggambarkan bagaimana Maria Magdalena berubah. Dia tidak diam saja dan memandang dunia sekitarnya, tetapi berlari cepat-cepat untuk membawa warta bahagia. Tak ada yang paling mempesonakannya selain melihat Tuhan yang bangkit. Di balik kegagalan, kesedihan dan kehancuran ada berkah yang menjanjikan dan memberi harapan. Peristiwa Messi, Argentina atau Maria Magdalena bisa menjadi Blessing indisguise bagi kita semua. Sepercik pantun buat anda: Messi pulang dengan tangisan, Dia banyak memberi pelajaran. Jangan larut dalam kesedihan, Tuhan datang membawa harapan. Wonogiri, ada blessing indisguise Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 21 Juli 2026
Selasa Biasa XVI Matius 12:46-50 DALAM rangka peringatan ulangtahun Paroki St.Yohanes Rasul Wonogiri yang ke 59 tahun 2026 ini, kami mengadakan aneka kegiatan. Salah satunya adalah kenduri atau syukuran bersama warga masyarakat di lingkungan sekitar gereja. Kami juga mengundang pengurus FKUB Kabupaten Wonogiri dan Kepala Kemenag Wonogiri. Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kemenag mengatakan bahwa kenduri ini adalah wujud silahturahmi dan keguyuban sesama umat beragama. “Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini yang dilakukan oleh Gereja Paroki St.Yohanes Rasul. Inilah wujud nyata membangun ukhuwah persaudaraan sesama anak bangsa dan sesama umat beriman,” katanya dalam sambutan. Ada tiga ukhuwah dalam kehidupan orang Islam yakni ukhuwah Islamiah, ukhuwah wataniah dan ukhuwah basyariah. Ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan sesama umat Islam yang diikat oleh akidah dan keimanan. Ukhuwah Wathaniah adalah semangat persaudaraan dalam ikatan kebangsaan atau tanah air, tanpa memandang suku dan agama. Ukhuwah Basyariah/Insaniah adalah persaudaraan sesama umat manusia karena berasal dari keturunan ciptaan yang sama (Adam dan Hawa). Yesus juga memperluas hubungan manusia atau ukhuwah. Relasi manusia tidak hanya didasarkan pada hubungan darah, tetapi sebagai sesama manusia yang melaksanakan kehendak Tuhan. Ketika ada orang yang berkata kepada-Nya: "Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau." Yesus menjawab; "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku." Apakah kita mampu memandang orang lain sebagai saudara kita karena mereka juga melakukan kebaikan-kebaikan yang dikehendaki Tuhan? Maukah kita menghilangkan sekat-sekat SARA yang memisahkan hubungan dengan sesama kita? Sepercik pantun buatn anda: Bukit Tinggi ada di Padang, Di sana ada bukit Barisan. Dudu sanak dudu kadang, Yen mati melu kelangan. Wonogiri, membangun persaudaraan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 20 Juli 2026
Senin Biasa XVI Matius 12:38-42 SLAMET sangat mencintai Rahayu kekasihnya. Ia setiap waktu datang apel ke rumah sang pacar dengan membawa makanan kesukaan Rahayu. Walaupun jarak rumahnya jauh dan tugas kantor sangat padat, tetapi Slamet berusaha meluangkan waktu untuk kekasihnya. Suatu saat Rahayu ingin bukti bahwa Slamet sungguh mencintainya. “Mas Slamet,” sapanya dengan lemah lembut. “Aku mau minta bukti kalau Mas mencintaiku.” Slamet mendengarkan dengan seksama. “Bawakan hati ibumu kepadaku, kalau kamu sungguh-sungguh mencintaiku.” Slamet pemuda kampung yang lugu itu pusing tujuh keliling. Berhari-hari tidak bisa tidur memikirkan permintaan Rahayu yang dikasihinya. Akhirnya demi cintanya, di tengah malam yang sepi, Slamet masuk ke kamar ibunya dengan membawa pisau. Ibunya yang sedang tidur nyenyak dibelah dadanya dan diambil hatinya dan dibawanya kepada Rahayu yang kaget seketika dan serangan jantung. Demi membuktikan cintanya, Slamet kehilangan ibu dan kekasih hatinya. Cinta buta sering menuntut bukti. Tetapi demi bukti orang justru harus rela mengorbankan orang-orang yang dikasihinya. Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu." Orang-orang itu menuntut sebuah bukti kalau Yesus sungguh-sungguh Mesias, Anak Allah yang datang dari surga. Tetapi Yesus tidak memberikan apa yang mereka minta. Yesus menunjukkan kisah Nabi Yunus yang tinggal tiga hari tiga malam di dalam perut ikan. Demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam perut bumi selama tiga hari. Itulah kematian Yesus sebagai bukti cinta. Yesus menunjukkan kematian-Nya dan dikuburkan selama tiga hari kemudian bangkit. Yesus sudah meramalkan kematian-Nya sebagai bukti kasih-Nya kepada manusia. Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu tidak memahaminya. Mereka yang tidak percaya itu menuntut bukti yang spektakuler kepada Yesus. Walaupun diberi bukti, kalau dasarnya tidak percaya, mereka tidak mau terbuka. Sampai sekarang orang Yahudi toh tidak percaya kalau Yesus bangkit dari kematian. Bukti sebesar apapun kalau orang tidak mau terbuka dan percaya, tidak ada gunanya. Orang-orang seperti itu tidak akan menemukan kasih yang sejati selama tidak mau bertobat membuka hati kepada Tuhan. Masihkan kita terus menerus menuntut bukti akan kasih Allah yang telah rela mengorbankan Diri bagi kita? Sepercik pantun buat anda: Shinta harus dibakar dengan api, Sebagai bukti cintanya kepada Rama. Ahli-ahli Taurat menuntut bukti, Untuk percaya pada Putera Manusia. Wonogiri, masih tetap minta bukti? Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 19 Juli 2026
Minggu Biasa XVI Matius 13:24-30 KITA sedang menunggu pertandingan Piala Dunia di Amerika. Spanyol akan berhadapan dengan Argentina. Siapa jagokan Negeri Matador? Siapa yang jagokan Negeri Tanggo? Pertandingan ini pasti seru dan menarik. Tapi coba bayangkan kalau sang wasit yang mengadili pertandingan juga ikut main di dalamnya, apa yang akan terjadi? Pasti Kacau balau!! Penonton bisa marah dan masuk ke lapangan. Itulah yang sering terjadi di Negeri Konoha. Keributan dan kericuhan dalam pertandingan karena wasit yang tidak menjaga fairplay. Gambaran itu juga bisa kita terapkan dalam pemberantasan korupsi. Bagaimana korupsi bisa diberantas, lha wasitnya yaitu aparat penegak hukum juga ikut bermain di dalamnya? Kita semua bisa melihat secara terang benderang dalam kasus pimpinan BGN dan Jampidsus yang jadi tersangka. Orang bilang itu oknum. Polisi dan jaksa yang semestinya jadi penegak hukum untuk memberantas korupsi, malah ikut main di dalamnya. Mereka yang harusnya menjadi benih gandum, malah tumbuh jadi lalang-lalang yang makan uang pajak rakyat. Jangan heran kalau rakyat suatu saat akan terjun ke lapangan karena muak melihat tingkah aparat yang ikut bermain dengan curang. Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.” Hamba-hamba penjaga kebun anggur ingin mencabuti lalang. Tetapi tuan itu berkata: “Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.” Tuan itu membiarkan proses berjalan bersama. Ada waktu untuk menuai. Orang Jawa punya prinsip, “Becik ketitik, ala ketara.” Artinya yang baik nanti akan terdeteksi, yang jahat atau buruk nanti akan kelihatan dengan sendirinya. Waktu masih kecil gandum dan lalang tidak kelihatan. Tetapi pada akhirnya akan nampak mana lalang dan gandum. Yesus mengajak kita menghargai proses pertumbuhan bersama. Kualitas dan integritas nanti akan dilihat di ujung perjalanan. Pada akhirnya orang yang dinilai sebagai gandum akan masuk ke lumbung kebahagiaan. Orang yang menjadi lalang akan dibakar dalam penderitaan. “Wong urip bakal ngundhuh wohing pakarti.” Setiap orang akan memetik dari apa yang ditaburkannya. Apakah anda mau menabur gandum atau lalang, itu menjadi tanggungjawab anda sendiri. Silahkan memilih sendiri. Sepercik pantun buat anda: Polisi dan jaksa masuk dalam pusaran korupsi, Kita tinggal nunggu hancurnya sebuah negeri. Rakyat yang menderita disuruh bersabar hati, Setia bayar pajak tapi diemplang pejabat tinggi. Wonogiri, mau jadi ilalang atau anggur? Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 18 Juli 2026
Sabtu Biasa XV Matius 12:14-21 PENEMU lampu listrik yang sekarang kita pakai adalah Thomas Alfa Edison. Waktu kecil dia hanya bersekolah selama tiga bulan. Gurunya angkat tangan untuk mendidiknya. Dia dianggap bodoh dan tertinggal dari teman-teman lainnya. Karena tidak mampu mendidik, gurunya memulangkan Thomas kepada ibunya. “Anak ibu terlalu jenius, sekolah ini terlalu kecil dan tidak ada guru yang sanggup mendidiknya,” isi surat sekolah kepada Ny. Nancy Mathew, ibu Thomas. Ibunya tidak putus asa, anaknya ditolak di sekolah. Ia mendidiknya sendiri di rumah. Ia percaya bahwa setiap anak punya bakat dan talentanya sendiri. Dengan tekun dan penuh kasih sayang, ia mendampingi Thomas. Inilah yang dia lakukan; “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.” Ketekunan dan kesabarannya mendidik anak membuahkan hasil. Thomas mampu menemukan lampu listrik yang menerangi seluruh kota di Manhattan, New York pada 1882, dan dipasang di jalanan dan rumah-rumah yang membentang hingga satu kilometer. Nabi Yesaya menubuatkan kedatangan sang Mesias yang dijanjikan Tuhan. "Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa” Ia datang bukan untuk mematahkan buluh yang hampir patah atau memadamkan nyala sumbu yang pudar. Ia justru mengasihi orang-orang kecil yang tak punya pengharapan. Dia mengayomi orang-orang kecil dan miskin. Ia datang membawa damai sejahtera. Mesias yang diutus Tuhan akan membebaskan orang dari segala penindasan yang membelenggu hidup orang. Dia datang tidak untuk menghukum, tetapi mengasihi dengan kasih seorang Bapa. Sebagaimana ibu Thomas Alfa Edison yang menerima anaknya yang dianggap bodoh, hina, rendah dan “tidak normal,” begitu pula Allah tidak akan mematahkan buluh yang patah dan sumbu yang hampir padam. Allah akan selalu menjaga dan melindungi mereka yang kecil, lemah dan tertindas. Yesus menampakkan wajah Allah yang penuh belas kasih. Maukah kita datang dan mengharapkan belaskasihan-Nya? Sepercik pantun buat anda: Semalam ada arak-arakan pesta budaya, Mengiringi bupati yang masuk penjara. Kasih Allah lebih besar pada manusia, Ia selalu berpihak pada yang menderita. Wonogiri, melindungi yang lemah Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 17 Juli 2026
Jum’at Biasa XV Matius 12:1-8 SEORANG pemadam kebakaran akan lebih memilih menyelamatkan nyawa orang walaupun ia harus melanggar aturan hari Sabat. Atau seorang driver ambulance yang membawa orang sakit parah harus melanggar lampu merah di jalanan demi menyelamatkan pasien yang sedang kritis. Salah satu pertentangan terbesar antara Yesus dan kaum Farisi adalah dalam pelaksanaan aturan Sabat. Dalam perikop ini, Yesus dikritik oleh para pemimpin agama karena membiarkan para murid-Nya memetik dan memakan biji-biji gandum pada hari Sabat. Kaum Farisi menganggap ini sebagai pekerjaan yang dilarang pada hari Sabat. Yesus mengabaikan interpretasi hukum dan motivasi tindakan mereka. Dia berpendapat bahwa memetik gandum yang cukup untuk menghilangkan rasa lapar tidak melanggar Sabat. Hal ini dilakukan demi menyambung hidup. Juga dulu pernah terjadi pada zaman Raja Daud dan para imam di bait suci yang makan roti sajian tanpa menimbulkan teguran dari Allah. Selain itu, ketaatan yang benar terhadap Hukum Musa harus dimotivasi oleh belas kasihan dan kemurahan Allah. Kasih kemurahan Allah lebih tinggi daripada keinginan Allah akan korban bakaran dan persembahan, seperti yang telah diungkapkan oleh nabi Mikha. Kita sering menghadapi dilema seperti ini. Antara memilih berbuat baik atau melakukan aturan yang berlaku. Kalau kita mengikuti jalan pikiran Yesus, kita diajak untuk memilih yang sesuai dengan kehendak Allah. Kehendak Allah adalah keselamatan manusia lahir dan batin. Allah lebih mengutamakan keselamatan manusia. Bahkan Allah mengorbankan keallahan-Nya demi menyelamatkan manusia. Yesus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu yang harus dipertahankan. Tetapi Ia memilih menjadi manusia demi keselamatan kita. Pilihan itulah yang dilakukan Yesus untuk menyelamatkan kita. Ia mendekati dan bergaul dengan pendosa. Ia merangkul orang kusta dan menerima pemungut cukai. Ia melanggar aturan-aturan yang membatasi untuk menyelamatkan manusia. Beranikah kita mengutamakan keselamatan dan kebahagiaan orang daripada mengikuti aturan-aturan sosial yang membuat kita tidak berani berbuat apa-apa? Sepercik pantun buat anda: Mobil ambulance melintas di jalan, Semua minggir demi keselamatan. Orang munafik lebih taat aturan, Orang suci mengutamakan kebaikan. Wonogiri, utamakan keselamatan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 16 Juli 2026
Kamis Biasa XV Matius 11: 28-30 TUAN HAN adalah tukang reparasi mobil yang miskin dan sederhana. Ia diminta oleh Dre Parker, anak remaja yang baru pindah ke Hongkong mengikuti ibunya, untuk melatih kungfu. Dre pernah dikeroyok dan dipukuli sampai sekarat oleh Cheng, anggota kelompok beladiri. Ceng merasa cemburu dan tidak suka karena Dre dekat dengan Meiying, teman sekolahnya. Karena itu Dre selalu dibully oleh Ceng dan gerombolannya. Saat dikeroyok dengan sadis itulah Tuan Han menolong Dre. Tuan Han yang tidak tampak sebagai guru kungfu mengajarkan kepada Dre bahwa kungfu adalah seni menguasai diri, belajar ketenangan dan kedewasaan. Kunci seni beladiri ini bukan terletak pada kesombongan, kekuatan otot atau pukulannya, tetapi pengendalian diri. Maka Tuan Han mengajari Dre penguasaan diri dan kedewasaan hidup dengan melakukan gerakan-gerakan sederhana yang dilatih terus menerus seperti mencantolkan jaketnya di hanger. Semakin pandai dan tinggi ilmu beladiri semakin rendah hati, lemah lembut dan welas asih dengan orang lain. Yesus berkata kepada murid-murid-nya; “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Dre Parker mengalami beban berat karena dibully, disiksa, dipukuli dan diserang dengan brutal oleh Ceng dan gerombolannya. Ia letih lesu dan putus asa sampai tidak mau sekolah. Untunglah dia berkenalan dengan Tuan Han yang lemah lembut, welas asih dan suka menolong. Dia diberi pelajaran tentang ketenangan, pendewasaan, kelemah-lembutan dan kerendahan hati. Dengan nilai-nilai hidup itu, dia bisa mengalahkan kesombongan Ceng dan teman-temannya. Kebajikan seseorang justru dinilai dari semangat rendah hati dan kelembutan. Kita bisa belajar dari tanaman padi. Semakin bernas bulir-bulir padi, semakin merunduk ke bawah. Semakin orang menjadi pintar, pandai dan berkuasa, semakin merunduk dan merendahkan diri. Semkin bijaksana semakin lemah lembut, rendah hati dan welas asih. Sepercik pantun buat anda: Tong kosong berbunyi nyaring, Air beriak-riak tanda tak dalam. Orang sombong merasa sok penting, Wajahnya manis tapi hatinya kejam. Wonogiri, lemah lembut dan welas asih Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 15 Juli 2026
Pw. St. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja Matius 11:25-27 atau RUybs Matius 23:8-12 NAMA Bonavetura diberikan oleh Santo Fransiskus Asisi kepada anak kecil bernama Giovanni di Fidanza. Waktu itu Giovanni sakit, kemudian didoakan oleh Santo Fransiskus dan dia kemudian sembuh. Santo Fransiskus berucap, “Oh Buona ventura” artinya 'O keberuntungan (nasib) yang baik.' Anak itu kemudian dipanggil Bonaventura. Kalau Santo Fransiskus di Jawa, mungkin dia berkata, “Oh beja banget.” Lalu anaknya akan dipanggil Beja, atau Slamet. Memang nasib baik menyertai Bonaventura. Ia kemudian masuk Ordo Fransiskan dan menjadi pembaharu dalam kehidupan membiara. Ia dipilih menjadi pemimpin ordo. Ia dijuluki sebagai pendiri kedua Ordo Fransiskan sesudah Santo Fransiskus Asisi. Karyanya meluas tidak hanya untuk ordonya sendiri, tetapi juga untuk gereja universal. Pengajarannya sangat berpengaruh bagi iman, teologi dan karya pastroal. Namun dia tetap berpegang pada semangat kemiskinan yang mendasari kehidupan Fransiskan. Sebagai pemimpin ordo, Bonaventura tidak ingin dipandang sebagai penguasa, tetapi dia banyak melayani dan memberi teladan bagi anak buahnya. Ia menjalankan semangat kemiskinan dengan tulus dan penuh kerendahan hati sehingga dicintai banyak orang. Dalam bacaan Injil, Matius menegaskan agar murid Yesus tidak mencari gelar kehormatan, melainkan melayani dan merendahkan diri untuk ditinggikan oleh Allah. Kebesaran seorang pemimpin diukur dari kesediaanya melayani, bukan seberapa banyak orang melayani dia. Yesus mengecam kemunafikan kaum Farisi karena meraka hanya mengejar citra diri. Pencitraan diri agar dilihat oleh orang banyak, tetapi senyatanya kosong tak ada isinya. Mereka hanya mencari pujian dan penghormatan. Seorang pemimpin berkarya demi bonum commune atau kebaikan banyak orang, bukan menggunakan jabatan untuk menguasai demi kepentingan diri sendiri, menimbun harta kekayaan untuk keluarganya. Jika pemimpin lebih sibuk mencari citra diri, anti kritik, merasa diri paling benar dan tidak mendengarkan aspirasi rakyat, apakah dia pemimpin? Jika ia lebih suka cari pujian, daripada mendengar keluhan penderitaan rakyat, lebih mengejar kuasa daripada melayani rakyat bawah? Apakah dia seorang pemimpin sejati? Belajar dari Bonaventura, kita bisa melihat seorang pemimpin yang tulus dan rendah hati. Ia tetap menghayati hidup miskin kendati dia seorang pemimpin. Ia tetap bersahaja kendati dia adalah penguasa. “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan,” inilah pesan Yesus bagi kita. Sepercik pantun buat anda: Banyak bupati ditangkap KPK, Kasus korupsi semakin merajalela. Kalau kita mau jadi penguasa, Jangan gila harta nanti masuk penjara. Wonogiri, melayani bukan cari harta Rm. A.Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed