|
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
18 Comments
Puncta 26 September 2026
Sabtu Biasa XXV Lukas 9:43b-45 PEPATAH berkata; “Emas dimurnikan dengan api.” Untuk menghasilkan emas 24 karat, orang harus menggunakan api yang panasnya mencapai 1.064 derajat Celcius. Panas api akan memisahkan lelehan emas dari kotoran sehingga terbentuk emas yang murni dan berkilau. Makna dari pepatah itu adalah kualitas karakter pribadi seseorang akan terbentuk melalui proses yang sulit dan penuh dengan penderitaan. Kesulitan hidup adalah batu uji yang memurnikan sifat-sifat dan kualitas hidup seseorang. Dengan berbagai tantangan dan kesulitan, orang dibentuk menjadi pribadi yang matang, dewasa dan berkarakter. Api adalah lambang pemurnian melalui derita dan tantangan di tengah kehidupan. Pribadi kita akan menjadi berkilau cemerlang jika mampu melewati aneka macam batu ujian. Yesus mengungkapkan pewahyuan Diri-Nya yang sebenarnya kepada para murid-Nya. Ia dengan terus terang berkata; "Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia." Berita ini tidak bisa dipahami oleh para murid-Nya. Mereka hanya melihat Yesus sebagai Kristus yang jaya. Mereka hanya mengenal Yesus yang banyak membuat mukjizat, menyembuhkan banyak penyakit, memberi makan limaribu orang dan mengusir setan-setan. Tidak terbayang bagi mereka Yesus yang gagal, menderita dan mati di tangan para tua-tua bangsa Israel. Mereka tidak bisa menangkap arti penderitaan Yesus yang harus memanggul salib dan dihina serendah-rendahnya. Lukas menulis; “Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya.” Banyak juga dari kita yang tidak mampu memahami makna salib dan penderitaan. Bahkan kalau bisa, kita semua akan menghindari dan menepis segala derita dan kegagalan. Tetapi perlahan-lahan Yesus membuka tabir kepada para murid arti dari “Emas dimurnikan oleh api.” Iman yang murni harus dilewati dengan derita dan tantangan. Kita mesti belajar dari Yesus yang menerima salib dan penderitaan sebagai jalan menuju kepada keselamatan. Kita mesti juga berani mengikuti Yesus yang menerima penderitaan untuk mencapai kemuliaan. Emas akan nampak berkilau dan cemerlang kalau dia dipanaskan sehingga semua kotoran bisa dibuang agar kemurnian emas menjadi nampak indah. Kita pun sebagai pribadi juga harus dimurnikan dengan penderitaan, kegagalan dan tantangan agar menjadi pribadi yang matang berkualitas tinggi. Sepercik pantun buat anda: Berakit-rakit ke hulu, Berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, Bersenang-senang kemudian. Wonogiri, tahan uji hadapi derita hidup Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 25 September 2026
Jumat Biasa XXV Lukas 9:18-22 YESUS bertanya kepada para murid-Nya sejauhmana mereka mengenal dan memahami Diri-Nya. Ia mulai bertanya, “Kata orang banyak, siapakah Aku ini?” Pertanyaan ini merupakan testing ombak; bagaimana orang memahami pribadi dan ajaran-Nya. Jawab mereka: “Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.” Jawaban mereka bermacam-macam sesuai dengan pemahaman dan penangkapan mereka. Yesus masuk ke tahap berikutnya. Tidak cukup orang punya keyakinan hanya berdasarkan kata orang. Keyakinan yang kuat harus berdasar pada pemahamannya sendiri. Kita tidak cukup percaya hanya karena kata orang. Yesus ingin mengetahui secara mendalam keyakinan pribadi mereka. maka Dia bertanya; “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Pertanyaan ini bersifat pribadi. Jawaban harus didasarkan pada pengalaman pribadi dengan Tuhan. Bukan karena kata orang. Bukan karena diajarkan di sekolah. Bukan karena kata katekis atau guru agama. Bukan karena dicekoki oleh orangtua. Tetapi karena pengalaman sendiri bergaul dan mengenal siapakah Tuhan bagiku. Petrus menjawab dengan mantap. “Mesias dari Allah.” Jawaban ini benar, tetapi masih harus diuji dengan pengalaman nyata. Di balik jawaban itu mungkin masih ada sisa-sisa kata orang atau muncul karena motif-motif tersembunyi. Maka Yesus tidak langsung mengiyakan dan menyetujui. Tetapi Dia justru melarang para murid untuk memberitahukan hal itu kepada siapapun. Ujian dari keyakinan itu disampaikan Yesus ketika Dia mengabarkan tentang penderitaan-Nya. “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Ini adalah tahap ketiga untuk menguji keyakinan mereka. Dengan penderitaan, orang diuji sejauh mana keyakinan atau kepercayaannya sungguh-sungguh dihidupi dengan setia. Mesias yang dihayati Yesus adalah Mesias yang menderita dan mengorbankan diri. Dengan jalan penderitaan dan pengorbanan salib, Yesus menjadi Mesias bagi semua orang. Para murid diajak untuk setahap demi setahap meyakini Yesus Sang Mesias melalui derita di salib. Kita pun juga diajari hal yang demikian. Pertanyaan Yesus tetap sama sampai sekarang. “Menurut kamu siapakah Aku ini?” Silahkan anda merumuskan sendiri dengan pengalaman masing-masing. Tetapi rumusan keyakinan itu mesti diselaraskan dengan kehendak Tuhan sendiri dan kebenaran keyakinan itu akan diuji dengan penderitaan dan kesulitan hidup. Sepercik pantun buat anda: Di Lampung melihat gajah-gajah, bermain bola dengan Pak Hansip. Yesus adalah Mesias Putra Allah, Yang menebus dosaku lewat salib. Wonogiri, Engkaulah Mesias Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 24 September 2026
Kamis Biasa XXV Lukas 9: 7-9 SUDAH tiga kali Pandawa mengirim utusan untuk menagih janji Duryudana, Raja di Hastina. Sesuai dengan perjanjian, Duryudana harus mengembalikan Kerajaan Amarta dan separuh Hastina kepada Pandawa, karena merekalah pewaris yang berhak. Duta pertama adalah Kunti, ibu para Pandawa. Duta kedua adalah Prabu Drupada, mertua Pandawa dan yang terakhir adalah Kresna, penasehat agung para Pandawa. Duryudana mengalami ketakutan dan kecemasan yang luar biasa. Sifat serakah dan angkara murkanya lebih menguasai niatnya daripada menepati janji. Ketakutan kehilangan kuasa atas Hastina dan Amarta membuatnya selalu curiga terhadap orang lain. Ia tidak mempercayai siapapun yang tidak menuruti kehendaknya. Orang lain selalu dicurigai ingin merebut kekuasaannya. Ketika Kresna datang, dia gemetar dan ketakutan. Dalam ilusi kecemasan dia melihat ribuan Bima dengan gada “Rujak Polo” di sebelah kanan Kresna dan di sebelah kiri Kresna ada ribuan Arjuna siap dengan panah mengarah padanya. Keringat dingin sebesar jagung-jagung jatuh dari wajahnya yang pucat pasi. Ia jatuh pingsan di tengah rapat agung. Gejala Skizofrenia itu juga dialami oleh Raja Herodes yang melihat kemunculan Yesus seperti Yohanes Pembaptis yang mati dipenggal kepalanya oleh Herodes. Peristiwa tragis itu membekas tersimpan di lubuk hatinya. Ketika Yesus tampil, Herodes mengalami ketakutan besar akibat kematian Yohanes Pembaptis. Pemimpin yang tidak jujur, serakah, koruptif, tangan besi dan gila kuasa seperti Herodes selalu takut akan kritik, perubahan, pikiran baru dan pembaharuan. Siapapun yang mengganggu kekuasaan akan disingkirkan. Herodes tega membunuh anak-anaknya karena mereka dituduh melakukan kudeta kekuasaannya. Ketakutan kehilangan kekuasaan membuat sang pemimpin mencurigai pihak lain membuat gerakan-gerakan untuk menjatuhkannya. Apa ada gejala-gejala skizofrenia di tengah-tengah kita sehingga mereka yang berbeda pendapat dibungkam dan diberangus agar tidak mengganggu kekuasaan? Silahkan direnungkan sendiri dan siap-siaplah dicurigai. Sepercik pantun buat anda: Sang raja pingsan dengan pucat pasi, Karena dikuasai pikiran halusinasi. Pemimpin yang bertindak tangan besi, Akan jatuh oleh perkataannya sendiri. Wonogiri, tinggal tunggu waktu Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 23 September 2026
Pw. St. Padre Pio, Imam Lukas 9:1-6 atau RUybs Yohanes 17:20-26 NYONYA Cleonice sering melakukan bimbingan rohani kepada Padre Pio. Suatu hari dia bercerita bahwa keponakannya, Giovannino menjadi tawanan perang musuh. Orangtuanya selama setahun gelisah dan sedih menanti kabarnya. Mereka tidak tahu nasib Govannino, apakah masih hidup atau sudah gugur. Suatu hari dia datang kepada Padre Pio mohon petunjuknya untuk mengetahui apakah anaknya masih hidup atau sudah mati. Padre Pio dengan simpati dan berdoa sambil mengatakan “Pergilah dalam damai, anakku.” Orangtua Giovannino sangat sedih. Cleonice kemudian memohon agar Padre Pio mendoakannya. Ia akan menulis surat kepada Giovanino. Ia hanya menuliskan nama Giovannino di amplop karena tidak tahu dimana anak itu berada. Surat itu diletakkan di meja samping tempat tidurnya. Esok harinya ketika dia terbangun, surat itu sudah tidak ada di meja. Ia berterimakasih kepada Padre Pio. Hampir limabelas hari kemudian ia menerima surat balasan dari Gionannino yang menyatakan bahwa ia masih hidup. Cleonice berterimakasih atas doa Padre Pio. Tetapi Padre berkata; “Berterimakasihlah kepada Perawan Maria.” Karena doa Padre Pio, Gionannino selamat dan kembali ke keluarganya. Yesus memanggil para murid-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah yang membawa damai dan sejahtera. Ia memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang. Padre Pio menjadi contoh bagaimana menjadi murid Yesus yang membawa warta sukacita kepada mereka yang gelisah, takut dan sedih. Ia membawa mereka dalam doanya yang sangat kuat dengan puasa dan matiraga. Mewartakan Kerajaan Allah tidak berarti harus membaptis orang. Berbuat baik dan empati kepada mereka yang takut, sedih dan berbeban berat melalui doa-doa juga bisa menolong mereka. Tuhan telah memberi kuasa, marilah kita menggunakannya untuk menolong banyak orang. Sepercik pantun buat anda: Reuni di Seminari Mertoyudan, Jangan lupa beli sagon di dekat Prajenan. Kita adalah tangan-tangan Tuhan, Untuk menolong mereka yang kesusahan. Wonogiri, mewartakan kasih Tuhan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 22 September 2026
Selasa Biasa XXV Lukas 8: 19-21 DALAM kutipan Injil hari ini, Yesus memperluas relasi persaudaraan. Hubungan persaudaraan tidak hanya didasarkan pada hubungan darah, tetapi karena mendengarkan sabda Tuhan dan melakukannya. Yesus bersabda kepada orang banyak; "Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya." Di kesempatan lain Yesus juga bersabda; “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.” Yesus punya pemikiran lain. Hubungan saudara atau keluarga memang penting. Tetapi yang lebih utama adalah relasi dengan Tuhan. Mendengakan sabda Tuhan dan melaksanakannya lebih penting dari sekedar hubungan basa-basi dalam keluarga. Banyak orang meninggalkan keluarganya untuk memenuhi panggilan Tuhan sebagai biarawan-biarawati. Mereka meninggalkan sanak saudaranya, keluarganya, rumahnya dan ladangnya. Mereka mengorbankan masa depannya demi panggilan Tuhan. Sabda Yesus itu benar dan nyata. Mereka menemukan ayah-ibu, sanak saudara bukan karena hubungan darah, tetapi karena mereka mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan. Dimana pun mereka berada dan dengan siapapun mereka diterima sebagai saudara dan menemukan saudara. Yesus tidak mengabaikan relasi keluarga tetapi tekanan yang lebih prioritas adalah mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan. Sejalan dengan itu adalah pernyataan Santo Yakobus bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Mendengarkan sabda harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Iman kepada Tuhan harus disempurnakan dalam pelaksanaanya yakni dengan mengasihi sesama. Kalau kita semua melaksanakan sabda Tuhan maka kita semua bersaudara. Kita mengasihi bukan hanya kepada mereka yang mempunyai hubungan kekerabatan, tetapi kita mengasihi karena melaksanakan sabda Tuhan. Siapapun mereka yang melaksanakan sabda Tuhan adalah saudara-saudari kita. Sepercik pantun buat anda: Di langit banyak pesawat mengudara, Berjibaku memadamkan kebakaran. Dimana pun kita menemukan saudara, Karena kita melaksanakan sabda Tuhan. Wonogiri, mendengarkan dan melaksanakan Rm. A.Joko Purwanto,Pr Puncta 21 September 2026
Pesta St. Matius, Rasul dan Penginjil Matius 9:9-13 RAMA MANGUNWIJAYA (1929-1999) adalah imam Diosesan Keuskupan Agung Semarang yang hidup bersama kaum miskin di bantaran Kali Code, dekat jembatan Gandalayu, Yogyakarta. Ia dikenal sebagai arsitek, penulis, budayawan dan aktivis sosial. Ia dijuluki pembela “wong cilik.” Ia berinteraksi langsung dengan para pemulung, tukang becak, penjaja koran, penyemir sepatu, dan kaum miskin yang hidup dengan rumah dari kardus-kardus bekas di pinggir Code. Ketika Pemkot Yogyakarta akan menggusur mereka, Rama Mangun protes dengan mogok makan. Ia membina warga masyarakat bawah agar memiliki harga diri. Ia mendampingi warga Code dengan berbagai ketrampilan. Membangun rumah ramah lingkungan dan bersih sehingga menjadi percontohan. Rama Mangun sungguh menyatu dengan kaum miskin. Mereka membutuhkan pendampingan agar tidak jadi tumbal pembangunan kota. Ia hidup bersama warga yang dipinggirkan, dibuang dan dianggap sampah masyarakat. Kedekatannya dengan anak-anak Code dipakai untuk menasehati mereka, “Oleh wae ibumu lonte, tapi kowe ora oleh dadi lonte.” Boleh saja ibumu seorang pelacur, tetapi kamu tidak boleh jadi pelacur juga.” Ia ingin mengubah dan mengangkat derajat hidup mereka. Yesus memanggil Matius seorang pemungut cukai yang disingkiri masyarakat. Pemungut cukai dianggap pengkhianat bangsanya karena menindas rakyat dengan memungut pajak tinggi. Mereka disebut para pendosa. Yesus bahkan makan bersama Matius dan teman-temannya di rumahnya. Hal ini membuat banyak orang bersungut-sungut. Kaum Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Yesus menjawab, "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." Inilah panggilan keselamatan. Yesus datang bukan untuk orang sehat, tetapi orang sakit.Yesus datang bukan untuk orang benar, tetapi orang berdosa. Apakah kita berani mengambil pilihan seperti Yesus? Ataukah kita lebih memilih yang enak, nyaman, menyenangkan dan tanpa resiko? Sepercik pantun buat anda: Kalau sakit minumlah Antangin, Biar badan terasa hangat di dada. Yesus datang untuk orang miskin, Kita malah melayani yang berharta. Wonogiri, layani yang miskin Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 20 September 2026
Minggu Biasa XXV Matius 20:1-16 MANUSIA memperhitungkan segala sesuatu berdasarkan hak dan kewajibannya. Manusia cenderung menghitung berdasar untung rugi. Apa yang baginya menguntungkan akan dipilih dan yang merugikan akan disingkiri. Berbeda dengan perhitungan Allah. Ia hanya memikirkan kebaikan manusia. Tidak menghitung untung dan rugi. Allah hanya ingin manusia selamat dan bahagia. Semuanya dikorbankan dan diberikan demi kebahagiaan manusia. Perumpamaan Yesus hari ini menggambarkan bagaimana Allah sangat murah hati tanpa mempertimbangkan untung ruginya. Namun manusia yang selalu berpikir untung rugi merasa dibedakan dengan kebijakan Allah itu. Yesus memberi perumpamaan tentang seorang tuan kebun angggur yang mencari pekerja. Setelah disepakati upahnya sedinar sehari, mereka mulai bekerja pada pukul enam pagi. Tuan itu masih mencari pekerja lagi. Ia menemukan orang-orang di jalan dan disuruhnya bekerja juga. Ada yang mulai kerja pukul 09.00, 12,00. 15,00 dan lima petang. Setelah pukul enam petang, tuan itu memberi upah kepada mereka. Yang bekerja hanya satu jam saja mendapat upah satu dinar. Apalagi mereka yang bekerja sepanjang hari di bawah terik matahari, pasti akan mendapat lebih dari mereka. Namun ternyata mereka juga mendapat upah yang sama satu dinar. Maka marahlah para pekerja itu. Mereka menuduh tuan itu tidak adil. Tuan itu berkata, ”Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.” Tuan itu sudah berlaku adil karena sejak semula mereka sepakat mendapat upah satu dinar sehari. Pekerja awal itu iri hati dan bersungut-sungut atas kemurahan hati tuan itu. “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” tanya-Nya. Pekerja itu semestinya bersyukur karena sudah diberi pekerjaan dan upah atasnya. Perumpamaan ini adalah sindiran bagi kaum Yahudi yang merasa paling berhak mendapat previlegi dari Allah karena merasa sebagai bangsa terpilih. Tetapi kehendak Allah itu bebas, mau memberikan keselamatan kepada siapapun yang menanggapi tawaran-Nya. Allah itu murah hati bagi siapapun yang mau bekerja kepada-Nya. Yang perlu kita buat adalah bersyukur bukan iri hati karena Allah berbuat baik kepada siapapun. Sepercik pantun buat anda: Di depan gereja ada kios tukang cukur, Banyak orang antri harus dilembur-lembur. Iri hati membuat kita kurang bersyukur, Allah bebas memberi, kita ingin mengatur. Wonogiri, iri hatikah engkau? Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 19 September 2026
Sabtu Biasa XXIV Lukas 8:4-15 SANGAT memprihatin bagi para petani di wilayah Kalimantan atau Sumatera yang lahan-lahan mereka mengalami kebakaran. Bukan hanya hutan saja yang terbakar, tetapi lahan-lahan penduduk juga habis dilalap api. Lahan adalah tempat mereka menabur benih padi. Mereka sangat tergantung dari hasil lahan yang mereka tanami. Api merajalela di tengah musim kemarau yang panjang. Pemerintah tidak sanggup mengatasi kebakaran yang sangat luas ini. Kebakaran lahan ini bisa disebut bencana nasional seperti tsunami, gempa dan erupsi gunung meletus. Banyak rakyat kecil menjadi korban dalam jangka yang panjang. Pemerintah mestinya bertindak bagaimana mengembalikan lahan mereka agar bisa ditanami kembali. Yesus memberi perumpamaan tentang benih yang ditaburkan di tanah. Ada tanah yang baik, berbatu-batu dan penuh onak duri. Benih akan tumbuh tergantung dari tanah dimana benih ditaburkan. Ada empat model tanah. Ada benih yang jatuh di tanah pinggir jalan. Ada tanah yang berbatu, tanah yang penuh semak duri dan ada tanah yang baik dan subur. Masing-masing type tanah menjelaskan bagaimana benih itu akan tumbuh. Tanah yang di pinggir jalan menggambarkan orang beriman sebentar dan akhirnya mati karena diinjak-injak orang dan dimakan burung. Tanah berbatu membuat benih tumbuh tapi tidak berakar dalam. Benih akan segera mati. Tanah bersemak duri menggambarkan tantangan dan hambatan dunia bagi orang beriman. Karena banyaknya hal-hal duniawi yang melilitnya, iman tidak dapat tumbuh dengan baik. Tanah yang subur menunjukkan iman yang tumbuh, dirawat dengan baik dan menghasilkan banyak buah. Kita bisa mengidentifikasi menjadi tanah yang mana. Seberapa besar iman yang ditanamkan dalam hati kita dapat bertumbuh dan menghasilkan buah berlimpah bagi Tuhan. Sepercik pantun buat anda: Kebakaran lahan makin merajalela, Tak ada lumbung makan untuk berjaga. Hati baik tempat benih tumbuh bahagia, Dipupuk sabda Tuhan untuk memeliharanya. Wonogiri, tanah subur di hati kita Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 18 September 2026
Jumat Biasa XXIV Lukas 8:1-3 DALAM Gereja tidak dipungkiri banyak kaum ibu yang terlibat dalam berbagai kegiatan. Kalau diprosentasi banyak kaum perempuan yang sering aktif di gereja, baik di lingkungan maupun di paroki. Bahkan ada pula yang menjabat sebagai Wakil Ketua dua Dewan Pastoral Paroki. Keterlibatan mereka sangat positif. Mereka berkecimpung di berbagai tim pelayanan di paroki. Tentu saja mereka bersinggungan dan membangun relasi dengan Pastor paroki. Seperti para murid Yesus, mereka membentuk lingkaran relasi. Dalam kelompok murid ada lingkaran inti seperti Petrus, Yakobus dan Yohanes. Di kelompok perempuan juga ada beberapa yang dekat dengan Yesus; Maria Magdalena, Yohana dan Susana. Di Betania juga ada Maria dan Marta. Kaum perempuan itu mendukung karya-karya Yesus dengan kekayaan mereka. Mereka mensuport agar Yesus dan para murid-Nya dapat bekerja dengan baik. Namun tidak jarang kedekatan itu bisa menimbulkan kecemburuan dan iri hati. Seperti Marta yang cemburu dan iri hati karena Maria duduk dekat kaki Yesus. Iri hati dan kecemburuan inilah yang sering menimbulkan masalah dalam relasi. Tidak dipungkiri, banyak kasus di gereja terjadi karena merasa tidak diperhatikan, tak bisa dekat, lalu cemburu dan irihati. Kita bisa melihat di lapangan bagaimana reputasi institusi gereja dan pribadi seorang pemimpin hancur berantakan gara-gara relasi yang tidak sehat yang bisa menimbulkan irihati dan kecemburuan sosial. Yesus tidak anti terhadap perempuan. Ada banyak perempuan yang dekat dengan Yesus dan disembuhkan. Motivasi mereka bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk melayani rombongan dengan sarana yang mereka punya. Melayani rombongan artinya untuk kepentingan bersama. Motivasi selalu harus dijernihkan agar tidak menyeleweng dari tujuan utama. Kebersamaan harus selalu diarahkan demi tujuan sejatinya yakni kemuliaan Tuhan dan keselamatan umat, bukan mencari kepentingan pribadi. Maria Magdalena, Yohana dan Susana menyertai Yesus dan rombongan untuk membantu agar semakin banyak orang diselamatkan dan Kerajaan Allah diwartakan. Mari kita bersama-sama mendukung karya Tuhan melalui Gereja-Nya. Sepercik pantun buat anda: Naik becak keliling Pulau Jawa, Mengantar pasangan kawin wisata. Banyak wanita menyertai Dia, Bukan menganggu tapi melayani-Nya. Wonogiri, jadilah suporter bukan repoter.... Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed