Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Hello Romo!

12/25/2034

17 Comments

 
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
17 Comments

Revolusi Mental

1/8/2026

0 Comments

 
Puncta 8 Januari 2026
Kamis Biasa Sesudah Penampakan Tuhan
Lukas 4:14-22a

KEMERDEKAAN yang diproklamirkan Bung Karno bukan sekedar peristiwa politik, tetapi juga peristiwa spiritual. Dengan rahmat Allah dan didorong oleh keinginan luhur bangsa, maka Bung Karno menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Merdeka bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga keluar dari mental Inlander yang membelenggu dan menjadi bangsa mandiri yang bermartabat luhur. 

Soekarno sering berpidato pentingnya revolusi mental. Dari manusia terjajah menjadi manusia merdeka dan bermartabat.

Ia ingin rakyat Indonesia tidak jatuh ke dalam mentalitas bangsa terjajah, minder,  malas, dan munafik, ABS (Asal Bapak Senang), tidak korup, tidak serakah, tidak tunduk pada egoisme yang sempit. 

Revolusi mental ini dinamainya gaya “Hidup Baru.” Cara membangun hidup baru dilandaskan pada Pancasila sebagai way of life Bangsa Indonesia. Tetapi kita semua tahu, bagaimana nasibnya Pancasila sekarang, sudahkah menjadi gaya hidup kita?

Yesus kembali ke Nasaret tempat asal-Nya sendiri. Dia mencanangkan semangat baru bagi orang-orang Nasaret bersumber pada Kitab Nabi Yesaya. 

"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."

Yesus menawarkan sebuah revolusi mental. Ia mengajak mereka melakukan pembaharuan hidup yang didasarkan pada nilai-nilai ketuhanan. 

Tetapi orang-orang itu hanya kagum dan memuji pidato Yesus. Mereka tidak menerimanya. Mereka tidak mempercayai-Nya.

Yesus langsung menohok kedegilan dan ketidakpercayaan mereka. Dikritik seperti itu, mereka marah dan mengusir Yesus. 

Sama halnya dengan kita. Pancasila itu sekarang sudah menjadi buku usang di perpustakaan. Nilai dan gaya hidup kita sudah jauh dari nilai-nilai Pancasila. 

Menyebut diri orang bertuhan, tetapi gaya hidupnya jauh dari Tuhan. Menyembah Tuhan sekaligus merusak alam ciptaan Tuhan. 

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tetapi keadilan hanya dirasakan oleh segelintir orang saja. Musyawarah untuk mufakat tetapi kebijakan dibuat untuk kepentingan yang berkuasa. 

Kekayaan alam dikuasai negara untuk kemakmuran rakyat, nyatanya kekayaan alam dijarah asing dan pejabat rakus.

Revolusi mental hanya sebatas slogan saat kampanye, bukan menjadi way of life orang dalam hidup sehari-hari. Seperti orang-orang Nasaret yang menolak Yesus, mereka tidak mengenal the way of God’s life. 

Masihkah kita yakin Pancasila kembali menjadi nilai-nilai dasar hidup kita?

Banyak kera turun dari hutan,
Mereka cari biji kacang-kacangan.
Yesus datang bawa perubahan,
Revolusi mental bagi orang-orang.

Wonogiri, agent of change
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Jangan Panik

1/7/2026

0 Comments

 
Puncta 7 Januari 2026
Rabu Biasa Sesudah Penampakan Tuhan
Markus 6.45-52

FILM Titanic memberi banyak pelajaran moral bagi kita semua, bagaimana menghadapi bahaya yang mengancam kehidupan kita. Ada banyak perilaku dan sikap yang dibuat saat orang menghadapi kesulitan dan bahaya.

Ketika Titanic hampir tenggelam, ada banyak orang yang panik menyelamatkan diri. Para pemain musik tetap menghibur di tengah keributan. Ada sepasang suami istri yang pasrah berpelukan di ranjang. Ada pastor yang memberi sakramen pengampunan dan mendoakan mereka.

Jack dan Rose berlari ke sana kemari berusaha menyelamatkan diri. Kapten kapal Edward John Smith memerintahkan semua awak kapal menolong penumpang semaksimal mungkin.

Meski di ambang kematian, dia tetap memilih bertugas menolong orang lain dan tidak meninggalkan tanggungjawab. Inilah teladan tanggungjawab moral bagi semua orang.

Para murid menyeberang ke Betsaida dengan naik perahu. Mereka diterjang angin sakal pada tengah malam yang gelap. Semua orang panik dan ketakutan. Pada saat genting itu, Yesus datang mendekati mereka dengan berjalan di atas air.

Kepanikan membuat pikiran tidak jernih, kabur dan mudah salah. Mereka mengira ada hantu datang. Padahal itu Tuhan. 

Yesus berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Yesus ada di tengah mereka dan danau menjadi tenang.

Dalam situasi kacau dan panik, dibutuhkan orang yang tetap tenang memberi daya kekuatan. Yesus adalah nahkoda kehidupan. Dia mengendalikan seluruh hidup kita. Ia menguasai seluruh kehidupan kita. Kalau kapal kehidupan kita goncang, undanglah Yesus untuk masuk di dalamnya.

Seperti kapten Titanic yang teguh berdiri di kemudi kapal, dia meyakinkan semua orang ditolong sampai akhir, demikianlah kita mempunyai Yesus yang berdiri di samping kita menjadi nahkoda kapal kehidupan kita dalam kondisi apa pun, agar kita percaya bahwa Tuhan menyertai. 

Maukah kita mempercayakan diri kepada-Nya?

Ke Gunung Sinai naik unta,
Jalannya pelan seperti nenek tua.
Jangan panik hadapi bahaya,
Tuhan selalu ada bersama kita.

Wonogiri, Tuhan selalu ada
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Rela Berbagi

1/6/2026

0 Comments

 
Puncta 6 Januari 2026
Selasa Biasa Sssudah Penampakan Tuhan
Markus 6: 34-44

PISON KOGOYA, anak SD dari Papua Pegunungan membuka celengannya pada awal Desember kemarin. Uang tabungan itu rencananya dia gunakan untuk piknik ke Jayapura. Tetapi melihat bencana banjir bandang di Aceh, niatnya berubah. Ia sumbangkan dengan rela uang tabungannya untuk korban banjir.

Melihat derita korban banjir di Aceh, Pison tergerak hati untuk mendonasikan uang tabungannya bagi orang-orang yang tidak dikenalnya namun lebih membutuhkan. 

Ia mengorbankan keinginannya untuk menikmati indahnya pantai di Jayapura, berjemur dan minum air kelapa muda di sana. 

Apa yang dilakukan Pison Kogoya adalah perintah Yesus kepada murid-murid-Nya. “Kamu harus memberi mereka makan.” Yesus tergerak hati melihat orang banyak seperti domba tanpa gembala.

Para murid malah berusaha menghindar terhadap masalah yang dihadapi. Mereka usul pada Yesus agar mengusir orang banyak. “Suruhlah mereka ini pergi.” Kita sering juga berpikir seperti para murid.

Suka lari dari masalah dengan dalih bahwa kita sendiri sedang punya masalah berat. Merasa jadi orang miskin, sehingga tidak memiliki apapun yang bisa diberikan. 

Tetapi kalau ada pembagian bantuan, walaupun orangnya berkecukupan langsung mengaku jadi orang miskin. Logika terbalik-balik yang aneh!

Yesus mengajak para murid-Nya untuk peka dan peduli pada orang lain. Ia ingin murid-murid-Nya punya hati untuk berbagi, sekecil apapun itu. Memberi tidak harus mempunyai banyak. Sedikit saja yang diberikan akan sangat berguna.

Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah memeriksanya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan." 

Ketika yang sedikit itu diberikan dengan rasa syukur, maka akan menjadi berkat yang berlimpah.

Mari kita peka melihat penderitaan sesama dan terbuka hati untuk berbagi. Tindakan Pison Kogoya itu mestinya mengusik hati kita.

Dari Aceh sampai ke Tapanuli,
Derai air mata tiada henti.
Mari kita membuka mata hati,
Agar tumbuh semangat berbagi.

Wonogiri, marilah berbagi
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Code River, The City of Rama Mangun

1/5/2026

0 Comments

 
Puncta, 5 Januari 2026
Senin Biasa Sesudah Penampakan Tuhan
Matius 4:12-17.23-25

RAMA MANGUN walaupun tugas resminya ada di Gereja Jetis, Yogyakarta, namun dia banyak tinggal di pinggir Kali Code. Di sana Rama menemani warga masyarakat pinggiran yang miskin dan kurang pendidikan.

Daerah sekitar Kali Code waktu itu dikenal sebagai daerah hitam. Rumah-rumah bedeng dari karton, terpal bekas dan buangan-buangan bangunan dijadikan tempat tinggal bagi warga pemulung, penyemir sepatu, tukang becak dan masyarakat bawah.

Rama Mangun mengangkat derajat mereka dengan mendampingi anak-anak yang tidak bersekolah. Mereka diajari membaca dan menulis. Rumah-rumah mereka dibangun dengan sentuhan seni yang bagus. 

Akhirnya daerah itu tidak lagi dipandang sebagai daerah hitam, tetapi disulap menjadi daerah percontohan penataan lingkungan berbasis potensi masyarakat urban. Rama Mangun hadir membawa pencerahan bagi wilayah yang dulunya hitam.

Yesus bermigrasi dari Nasaret ke Kapernaum. Di Nasaret Dia tidak diterima oleh kaum keluarganya. Seorang nabi tidak dihargai di daerah asalnya sendiri. 

Setelah Yohanes dibunuh oleh Herodes, Yesus menyingkir di Kapernaum. Maka Kapernaum disebut sebagai The City of Jesus.

Yesus adalah penggenapan nubuat nabi-nabi dahulu. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: 

"Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, -- bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang."

Yesus memulai karya-Nya di daerah asing, di luar bangsa Yahudi, di wilayah bangsa-bangsa lain yakni daerah Zebulon dan Naftali. Bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar. 

Yesus adalah Cahaya yang membawa harapan besar adanya perubahan. Yesus mewartakan tentang pertobatan agar orang diselamatkan. Hal itu juga dilakukan oleh Rama Mangun. Dia tidak banyak berkiprah di Gereja Jetis, tetapi namanya berkibar di daerah Code, tempat yang dianggap daerah hitam atau gelap. Di sana banyak terjadi pencerahan dan pemartabatan manusia sejati.

Matahari bersinar di balik dedaunan,
Menghalau mendung gelap di awan-awan.
Mari kita memberi secercah pencerahan,
Bagi mereka yang hidup dalam kegelapan.

Wonogiri, secercah sinar harapan
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Ziarah Mencari Tuhan

1/4/2026

0 Comments

 
Puncta 4 Januari 2026
HR. Penampakan Tuhan
Hari Anak Misioner Sedunia
Matius 2: 1-12

“URIP kuwi mung mampir ngombe,” pepatah ini kalau diterjemahkan secara bebas artinya hidup itu hanya sementara saja. Ibarat orang yang bepergian hanya istirahat sebentar untuk melepas dahaga.

Kita semua adalah peziarah-peziarah yang sedang mencari Tuhan. Tujuan kita bukan di dunia ini tetapi di dalam Kerajaan Allah yakni Sorga Abadi. 

Sebagaimana tiga orang Majus dari Negeri Timur yang mencari Raja Semesta yang baru lahir, demikian juga kita sedang berziarah mencari Tuhan.

Tiga orang Majus ini berasal dari luar Israel. Perjalanan panjang penuh bahaya harus dilalui agar mereka dapat menemukan Tuhan. Mereka harus mengorbankan waktu, tenaga, harta kekayaan demi menemukan Tuhan.

Orang-orang Majus itu adalah kita semua yang berziarah di dunia ini. Kita juga harus berkorban agar dapat menemukan Tuhan. Kita siap memberikan waktu, tenaga dan harta kita agar bisa menyembah Tuhan.

Orang-orang Majus ini juga menggambarkan universalitas karya keselamatan Tuhan. Kedatangan Yesus Kristus bukan untuk Bangsa Israel saja, tetapi untuk semua orang yang terbuka akan karya Allah. Keselamatan Tuhan ditujukan kepada semua orang.

Orang Majus itu dibimbing oleh bintang. Terang bintang diyakini sebagai campur tangan Tuhan. Mereka peka terhadap wahyu Allah melalui tanda-tanda alam. Bintang itu menuntun mereka sampai di Betlehem. 

Berbeda dengan Herodes dan para ahli kitab Yahudi, walaupun mereka mempelajari Kitab Suci dan tahu tentang nubuat kedatangan Mesias, namun mereka tidak percaya dan menolak Sang Mesias yaitu Yesus Kristus.

Kita diajak membuka hati seperti para Majus itu agar peka terhadap tanda-tanda kehadiran Tuhan. Mencari Tuhan harus diusahakan dengan pengorbanan seperti Orang Majus yang mempersembahkan emas, dupa dan mur, kita juga bisa mempersembahkan apa yang kita miliki untuk Tuhan.

Orang Majus meninggalkan negaranya
Mereka menyembah Yesus Sang Raja
Kita juga sedang ziarah menuju Sorga
agar bisa bersatu dengan Kristus yang mulia

Wonogiri, peziarah pengharapan
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Pelatih yang Rendah Hati

1/3/2026

0 Comments

 
Puncta 3 Januari 2026
Sabtu Masa Natal 
Yohanes 1:29-34

ANGELO DUNDEE mungkin tidak setenar Muhamad Ali atau Sugar Ray Leonard. Tetapi berkat polesan pelatih yang hebatlah kemudian lahir petinju legendaris seperti Muhamad Ali dan Sugar Ray Leonard.

Berkat tangan dingin Angelo Dundee yang bekerja di balik layar, muncul petinju hebat yang dikenang sepanjang masa. Pelatih ini menunjukkan kepada panggung dunia seorang petinju yang hebat dan berbakat.

Dundee duduk di bangku pelatih, ketika Mohamad Ali tampil di ring dengan tarian kakinya yang lincah dan jab-jab tangannya yang mengusik konsentrasi lawan. 

Dundee berada di balik layar. Namanya tersembunyi di balik bayang-bayang kehebatan Mohamad Ali dan Sugar Ray.

Yohanes Pembaptis juga menunjukkan kepada dunia, "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.”

Yohanes seperti seorang pelatih yang bertugas mempersiapkan orang untuk berhasil tampil di panggung. Ia memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang akan menebus dosa dunia. 

Setelah Yesus tampil ke muka umum, Yohanes mundur dan berada di belakang. Yesuslah yang kemudian tampil ke muka untuk mewartakan karya keselamatan Allah. “Biarlah Dia menjadi besar, dan aku harus makin kecil.” Itulah prinsip hidup Yohanes Pembaptis.

Apakah kita juga berani dengan rendah hati membiarkan orang lain tampil ke panggung dunia dan menunjukkan kehebatannya? 

Apakah kita dengan rela memberi kesempatan agar orang lain tumbuh berkembang?

Mari kita belajar rendah hati seperti Yohanes Pembaptis yang tidak mementingkan dirinya sendiri, tetapi memberi jalan orang lain untuk bertumbung kembang.

Dunia ini diwarnai persaingan keras,
Orang lain dipandang sebagai lawan.
Yohanes Pembaptis contoh yang pantas,
Rendah hati membangun persahabatan.

Wonogiri, biarlah aku menjadi kecil
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Pemimpin yang Melayani

1/2/2026

0 Comments

 
Puncta 2 Januari 2026
Pw. St. Basilius Agung dan St. Gregorius dr Nazianze, Uskup dan Pujangga Gereja.
Matius 23:8-12

DALAM pidato-pidato kita sering menyebut nama orang penting dengan gelar-gelar yang panjang. Katanya itu sebagai wujud penghormatan. Walau mungkin hanya untuk formalitas belaka.

Tetapi kita bisa jatuh pada kesombongan dan pengagungan diri yang justru membatasi relasi dengan orang lain. 

Dalam Injil hari ini, Yesus berkata, “Tetapi janganlah kamu disebut ‘Rabi,’ sebab kamu hanya mempunyai satu Guru, dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun di bumi sebagai ‘bapa,’ sebab hanya ada satu Bapa, yaitu Dia yang di surga.”

Dalam Gereja Katolik, ada istilah Monsinyur, untuk gelar seorang uskup. Mgr. Suharyo tidak mau disebut Monsinyur, beliau lebih suka disebut Bapa Uskup. 

“Saya lebih suka dipanggil uskup daripada monsinyur. Panggilan monsinyur itu terlalu feodal,” kata beliau. 

Monsinyur adalah gelar kehormatan dari Paus. Tidak hanya uskup, bahkan ada imam yang juga diberi gelar Monsinyur, Misalnya Monsinyur Kartasiswaya, almarhum.

Di Keuskupan Agung Semarang seorang uskup sering juga disapa “Rama Kanjeng.” Misalnya, Rama Kanjeng Soegijapranata, Rama Kanjeng Darmoyuwono. 

Semua itu hanyalah gelar kehormatan. Gelar itu bukan segala-galanya. Buktinya setelah tidak menjabat uskup, Bapak Kardinal Darmoyuwono memilih menjadi pastor pembantu di Paroki Banyumanik, Semarang.

Intinya bukan soal gelarnya tetapi esensinya adalah pelayanan yang rendah hati dan murah kepada sesama. Yesus tidak sedang mengutuk penyebutan gelar, tetapi mengingatkan akan potensi kesombongan dan keangkuhan pribadi. Gelar tidak membuat relasi jadi dekat tetapi justru berjarak.

Yesus justru mengingatkan, “Yang terbesar di antara kamu akan menjadi pelayanmu. Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”

Fokus utama hendaknya justru dalam melayani sesama dengan rendah hati. Yang diberi kuasa atau kedudukan semestinya nampak dalam tindakan pelayanan dan pengabdiannya. 

Tetapi juga jangan pamer seperti seorang pejabat yang ada bencana, lalu membuat tik tok memikul karung beras sendirian seperti Robin Hood yang membagi-bagi rampasan untuk kaum miskin di hutan Nothingham. 

Banyak Netizen menanggapinya dengan sinis. Mereka berpikir, tindakan itu bukan sejatinya pemimpin yang melayani, tetapi hanya mencari popularitas diri. Nurani rakyat lebih jernih memandang pemimpin yang tulus dan yang cari keuntungan sendiri.

Apakah anda mau menjadi pemimpin yang dicintai rakyat? Layanilah rakyat kecil dengan tulus dan murah hati. Niscaya anda akan dicintai dan dihormati.

Tak ada pesta kembang api,
Akhir tahun terasa sepi sekali.
Pemimpin sejati itu melayani,
Bukan raja yang minta dihormati.

Wonogiri, datang untuk melayani
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Gembala yang Jujur Sederhana

1/1/2026

0 Comments

 
Puncta, 1 Januari 2026
HR. St. Maria Bunda Allah,
Oktaf Natal Tahun Baru
Hari Perdamaian Sedunia
Lukas 2: 16-21

GEMBALA-gembala yang datang ke palungan tempat Yesus lahir bersukacita karena mereka melihat segala sesuatu persis seperti yang dikatakan oleh malaikat. Mereka bercerita kepadaYusuf dan Maria tentang warta malaikat.

Malaikat mengatakan kepada para gembala; “Jangan takut! Sebab aku datang membawa kabar baik untukmu. Hari ini di kota Daud telah lahir Raja Penyelamatmu yaitu Kristus, Tuhan. Inilah tandanya: Kalian akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan kain, dan berbaring di dalam sebuah palung.”

Mereka segera menyatakannya ke Betlehem dan menjumpai Maria dan Yusuf serta bayi Yesus di palungan. Berita ini menggembirakan semua orang. Semua yang mendengarnya bersukacita.

Gembala-gembala adalah orang yang jujur dan sederhana. Mereka tulus ikhlas tanpa dibuat-buat. Kejujuran dan ketulusan hati mereka justru menjadi sumber sukacita bagi banyak orang.

Berbeda dengan sikap orang-orang besar seperti Herodes. Raja itu menunjukkan topengnya yang bengis ketika mendengar telah lahir seorang raja. Banyak pejabat yang menampilkan pencitraan seolah-olah baik, tetapi hatinya jahat dan rakus.

Mereka sering melakukan kebohongan-kebohongan untuk menampilkan citra yang baik di mata orang. Ada yang bilang bahwa bencana adalah takdir Allah yang harus diterima untuk menutupi kejahatan penebangan hutan dan salah pengelolaannya.

Ada pejabat yang menolak bantuan asing karena malu dianggap tidak becus ngurusi rakyatnya yang menderita. Padahal mereka sangat membutuhkan uluran tangan dan penanganan yang cepat.

Kita harus belajar dari para gembala yang jujur, sederhana, tulus ikhlas dan gembira. Mereka tidak memakai topeng kebohongan dan pencitraan. 

Hidup mereka membawa kegembiraan bagi orang lain. Tindakan yang dipoles dengan kebohongan hanya akan membawa penderitaan.

Tahun baru bawa berita bahagia,
Orang menderita bisa senyum tertawa.
Para gembala datang bawa sukacita,
Maria dengan takzim merenungkannya.

Wonogiri, selamat memasuki Tahun baru 2026
Rm. A.Joko Purwanto,Pr
0 Comments

Persona Non Grata

12/31/2025

0 Comments

 
Puncta 31 Desember 2025
Rabu Natal Oktaf ketujuh
Yohanes 1:1-18

KATA Persona diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi topeng atau wajah kepribadian, karakter seseorang. 

Persona adalah kepribadian seseorang yang ditampilkan di hadapan orang banyak. Persona adalah pribadi seorang manusia yang nampak dari luar.

Kata itu berasal dari Bahasa Latin “per sonus.” Sonus artinya suara yang keluar dari mulut seseorang, atau bunyi. 

Per Sonus berarti melalui suara atau sabda, firman. Dalam Bahasa Perancis kuno Sonus menjadi soun, yang menjadi akar kata Sound (Inggris).

Persona non grata berarti orang yang tidak diinginkan. Digunakan dalam hubungan diplomatik antar negara. Jika ada anggota diplomatik yang melanggar aturan di negara yang ditempati, dia bisa dipersona non gratakan, artinya diusir dari negara itu dan ditarik kembali ke negara asalnya.

Manusia diciptakan oleh Sabda Allah. Melalui sabda Allah, manusia dibentuk menjadi pribadi. 

Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."

Yohanes menuliskan hal yang sama. “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.”

Sekarang Firman itu menjadi manusia. Persona, melalui firman Ia menjadi pribadi manusia yaitu Yesus Kristus. 

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”

Maka Yesus itu adalah Persona Allah. Ia adalah Firman yang mewujud menjadi manusia. Kendati manusia atau dunia tidak menerima-Nya karena dunia tidak mengenal Allah. Tetapi mereka yang mempercayai-Nya disebut sebagai anak-anak Allah. 

Mari kita hidup sesuai dengan persona kita yaitu anak-anak Allah. Jika kita menuruti firman yang disampaikan Yesus, kita menjadi anak-anak Bapa di surga. 

Musa memberikan hukum Taurat. Yesus memberikan kasih karunia dan kebenaran. Marilah kita hidup dalam kasih dan kebenaran.

Sakura di gunung Fujiyama,
Tumbuh berkembang sebentar saja.
Jangan jadi persona non grata,
Tapi jadilah persona gratia plena.

Wonogiri, Sabda menjadi manusia
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
<<Previous

    Archives

    December 2034
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki