|
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
18 Comments
Puncta 6 Juni 2026
Sabtu Biasa VIII Markus 12:38-44 DALAM kunjungan keluarga di lingkungan, kami mendengar sharing iman yang luar biasa dari seorang bapak yang harus menghidupi keluarganya dengan perjuangan berat harus mengorbankan hidupnya. Ia mengalami kesulitan ketika istrinya melahirkan anak kembar dengan operasi caesar. Waktu itu dia tak punya pekerjaan tetap dan harus menebus biaya persalinan sebesar 45 juta. Dalam kesulitan, ada orang penting punya jabatan menawari pekerjaan. Yang harus dikerjakannya adalah merakit onderdil sepeda motor dan menjualnya ke pasar. Ia terpaksa menjalaninya demi mendapatkan uang untuk menebus anak-anak dan istrinya keluar rumah sakit. Namun nasibnya sungguh malang. Ia ditangkap polisi dan ditahan. Ia mengalami penyiksaan berat di tahanan. Dengan menahan sakit dan derita fisik yang berat dia menjalani hukuman selama hampir dua tahun. Sebelum ditahan dia hanya bisa memberi istrinya uang 70 ribu untuk menyambung hidup bersama anak-anaknya. Namun seluruh hidupnya dipertaruhkan agar keluarganya dapat hidup dengan baik. Ia memberikan nyawanya untuk keluarganya. Dia berkata, “Walau saya miskin, tetapi saya tidak akan menggadaikan iman kepada Yesus hanya demi harta atau kuasa.” Yesus duduk di pintu gerbang bait suci. Ia melihat orang-orang memasukkan uang ke peti persembahan. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya." Pesan moral dari kisah ini adalah untuk dapat berbagi, kita tidak perlu menunggu kaya raya. Siapapun bisa berbagi dengan tulus dan ikhlas. Untuk berbuat baik tidak harus menunggu semuanya sempurna. Kita juga bisa memberi kebahagiaan pada orang lain dari kekurangan kita. Janda miskin menjadi contoh bagi kita. Dia memberi dari kekurangannya. Semua yang ada padanya disumbangkan tanpa memperhitungkan hidupnya sendiri. Sepercik pantun buat anda: Apalah artinya harta di dunia, Jika mati tidak ada yang bisa dibawanya. Siapakah yang disebut orang kaya, Dia yang bisa memberi dari kekurangannya. Wonogiri, persembahkan hidupmu Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 5 Juni 2026
Pw. St. Bonifasius, Uskup Martir Markus 12:35-37 atau RUybs KITA seringkali memiliki pemikiran bahwa apa yang kita lakukan adalah satu-satunya yang paling benar. Tindakan itu pasti didasari oleh sebuah keyakinan yang telah lama berkembang dalam pikiran kita. Misalnya, program MBG diyakini sebagai satu-satunya program yang akan mampu mencerdaskan anak-anak Indonesia. Program lain dihapus demi berjalannya MBG. Padahal mencerdaskan anak itu tidak hanya dari pemberian makanan saja. Masih ada komponen lain yang bisa mendukung cerdasnya seorang anak. Tetapi karena itu sudah menjadi sebuah keyakinan, maka kritik dan masukan apapun tentang MBG tidak akan mengubah keputusan dan tetap dijalankan. Yesus berhadapan dengan orang-orang yang tegar tengkuk. Para ahli Taurat dan imam-imam kepala, serta kaum Saduki dan Farisi berbeda paham tentang Mesias. Orang-orang Yahudi ini berkeyakinan bahwa Mesias adalah anak Daud. Ia harus berasal dari darah daging Daud. Seperti kaum Saduki yang memandang tidak ada kebangkitan dan merendahkan derajat kehidupan setelah mati seperti orang yang kawin dan dikawinkan, sampai-sampai mereka memberi contoh tujuh laki-laki yang beristrikan satu perempuan - begitu pula pikiran mereka tentang mesias hanya sebatas biologis-duniawi. Yesus berkata: "Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan, bahwa Mesias adalah anak Daud? Daud sendiri oleh pimpinan Roh Kudus berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Daud sendiri menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?" Yesus mau menekankan bahwa Mesias lebih besar dan lebih tinggi derajatnya daripada Daud. Mesias berhubungan dengan orang yang diurapi menjadi nabi, imam dan raja. Ketiga martabat itu ada dalam Diri Yesus. Sedangkan Daud hanya diurapi sebagai raja Israel. Yesus mau meluruskan paham mesianitas para ahli Taurat itu. Mesianitas Yesus bukan sebagai raja duniawi yang membebaskan Israel dari penjajahan Romawi, tetapi Raja seluruh alam semesta yang menebus dosa umat manusia. Kita pun juga perlu diluruskan dan dibersihkan agar paham mesianitas kita sesuai dengan ajaran Yesus, bukan menurut ajaran kita sendiri. Sepercik pantun buat anda: Jalan-jalan sangat bagus untuk dilewati, Sayangnya tidak ada lampu yang menerangi. Jangan suka memaksakan kehendak sendiri, Lebih baik beriman dengan kerendahan hati. Wonogiri, banyak jalan berlubang Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 4 Juni 2026
Kamis Biasa VIII Markus 12:28b-34 PAUS LEO baru saja mengeluarkan Ensiklik berjudul “Magnifica Humanitas.” Ensiklik pertama yang menanggapi kemajuan teknologi AI. Manusia zaman ini sedang memasuki sejarah baru dengan adanya teknologi AI. Lonjakan besar terjadi ketika teknologi menggantikan semua peran manusia. Kecerdasan buatan (AI) bukan hanya persoalan teknologi tetapi sebagai persoalan hidup manusia, moral, spiritual dan sosial. Kemajuan teknologi modern harus diarahkan untuk melindungi martabat manusia, bukan untuk menguasainya atau merendahkannya. Masalah utama adalah bagaimana teknologi digunakan. Apakah untuk melayani martabat manusia, demi kebaikan bersama atau untuk menguasai, dominasi pengawasan dan bahkan perang antar negara. Kunci persoalan utama adalah manusia, bukan AI. Teknologi hanyalah sarana demi kebaikan bersama. Seperti pisau yang tajam, ia bisa dipakai untuk membunuh tetapi juga bisa dipakai untuk kebaikan. Tergantung moral manusia yang menggunakannya. Sesudah bersoal jawab dengan kaum Farisi dan Saduki tentang berbagai hal, ahli Taurat lalu mengajukan pertanyaan mendasar. “Hukum manakah yang paling utama?” Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Yesus menekankan kasih Allah dan kasih kepada manusia menjadi prioritas utama dalam persoalan manusia. Mengasihi Allah diwujudkan dengan mengasihi sesama, khususnya mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Persoalan AI atau kemajuan teknologi harus diletakkan pada bingkai untuk mengasihi Allah dan sesama. Masalah AI tidak boleh dilepaskan atau dipisahkan dengan persoalan martabat manusia. Menggunakan teknologi AI harus sejalan dengan hukum kasih. Paus Leo mau mengajak kita untuk menghargai martabat manusia melalui kemajuan AI. Teknologi AI digunakan untuk mengasihi manusia, bukan manusia dikuasai AI untuk menindas sesamanya. Dengan mengasihi sesama, kita juga mengasihi Allah Sang Pencipta. Sepercik pantun buat anda: Kita disuruh belajar bahasa; Portugis, Perancis dan besuk Itali. Kasihilah sesamamu manusia, Seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Wonogiri, kasihilah sesamamu Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 3 Juni 2026
Pw. St. Karolus Lwanga dkk, martir Markus 12:18-27 atau RUybs PASTOR Franz Magnis Suseno baru saja merayakan ulangtahun kelahiran ke 90 di Gereja Katedral Jakarta. Terlahir dengan nama Maria Franz Anton Valerian Ferdinand Graf von Magnis pada 16 Mei 1936 di Eckersdorf, Jerman — sekarang wilayah Polandia. Rama Magnis berasal dari keluarga bangsawan Katolik yang terhormat. Dalam pidatonya, beliau mengucap syukur karena diberi umur sampai 90 tahun. “Saya bersyukur pada Tuhan. Untuk sampai usia 100 saya tidak punya cita-cita. Itu urusan Tuhan,” katanya bergurau. Di akhir pidatonya, beliau berbicara tentang kematian. “Anda akan mati, saya juga akan mati. Jangan takut mati. Saya yakin apa yang tertulis dalam Kitab Suci. Allah adalah kasih. Kematian itu seperti seorang anak kecil yang jatuh ke rangkulan ibu yang mengasihi. Allah tidak akan meninggalkan kita,” katanya menguatkan kita. Dalam kehidupan sesudah kematian, Allah mengasihi kita secara total. Persatuan kasih dengan Allah yang total tidak lagi membutuhkan ungkapan-ungkapan cinta lahiriah yang dangkal. Kaum saduki yang tidak percaya pada kebangkitan masih terbelenggu pada hal-hal duniawi. Mereka menjebak Yesus dengan kasus tujuh laki-laki yang berturut-turut bersuamikan satu perempuan karena ingin memberikan keturunan. Mereka bertanya, “Begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itupun mati. Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia.” Bahkan ada yang beranggapan bahwa setelah kematian, orang akan dilayani oleh puluhan bidadari di sorga. Yang laki-laki akan mendapatkan pahala keperkasaan 100 kali lipat sebagai laki-laki yang kuat. Yesus berkata, “Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga.” Orang yang telah mati, hidup bersama Allah dalam kasih yang sempurna. Keindahan sorgawi menghadirkan sebuah realitas hidup baru yang bersifat rohani-Ilahi yang tidak terikat lagi pada nafsu-nafsu duniawi. Yesus menggambarkan hidup kita seperti malaikat yang langsung memandang wajah Allah yang mengasihi kita. Rama Magnis menggambarkan kasih Allah seperti pelukan ibu yang hangat, menentramkan, melegakan dan membahagiakan. Jangan takut mati karena Allah adalah kasih. Sepercik pantun buat anda: Ada gadis hamil karena mimpi halu. Diiming-imingi masuk sorga tingkat tujuh. Kematian berarti hidup secara baru, Kita masuk dalam pangkuan kasih ibu. Wonogiri, hidup bersama Allah Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 1 Juni 2026
Pw. St.Yustinus,Martir Markus 12:1-12 atau RUybs SEBUAH Pepatah mengatakan, ”Wis kadhung ngemut manising madu, banjur lali nglepeh.” Artinya, kalau orang sudah terlanjur merasakan nikmatnya sesuatu (harta, kekuasaan, kenikmatan) jadi lupa untuk melepaskannya. Madu itu terasa manis dan enak. Kalau sudah merasakan manisnya, orang merasa sayang membuangnya. Kalau orang sudah berkuasa satu periode, pengin dua atau tiga periode lagi. Kalau orang sudah kaya raya, dia berusaha makin kaya lagi. Orang kemudian menjadi lupa diri dan mencari jalan dengan segala cara untuk terus berkuasa atau korupsi agar makin bertambah kekayaannya. Orang menjadi budak keserakahan dan kerakusan. Ia mengabdi pada kekuasaan, bukan pada kesejahteraan manusia. Perumpamaan Yesus tentang penggarap-penggarap kebun anggur adalah gambaran tentang keserakahan. Pemilik telah menyiapkan kebun dengan segala fasilitasnya. Ia membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Ia menyewakan kepada para penggarap. Tetapi para penggarap itu malah merebut dan menyerobot harta milik si empunya kebun anggur. Mereka menangkap para hambanya, memukuli, mempermalukan, menyiksa dan membunuhnya. Bahkan anaknya sendiri yang diutus, juga dibunuh oleh mereka. Mereka ingin merebut harta warisan agar menjadi milik mereka. Perumpamaan ini adalah sindiran bagi kaum Farisi, Ahli Kitab dan pemimpin-pemimpin Yahudi. Mereka merasa jadi bangsa pilihan. Mereka merasa paling suci dan berhak masuk sorga. Mereka merasa paling benar dan suka mengkafirkan orang lain. Mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergi dan membiarkan Dia. Bisa jadi perumpamaan itu juga ditujukan kepada kita yang merasa diri paling benar dan suka menjelek-jelekkan dan mempermalukan orang lain. Waspadalah…..! waspadalah……! Sepercik pantun buat anda: Pagi-pagi matahari mulai merekah, Menyinari gunung bukit dan lembah. Kalau kita mulai rakus dan serakah, Tunggu saatnya jatuh berdarah-darah. Wonogiri, jangan serakah Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta, 30 Mei 2026
Sabtu Biasa VIII Markus 11:27-33 SETELAH mendapatkan pencerahan ilmu “sangkan paraning dumadi” atau asal usul segala makhluk dari Sang Hyang Dewa Ruci, Bima mendirikan pertapaan di Gunung Argakilasa, bergelar Begawan Bima Suci. Ajarannya membawa manusia kepada kebaikan dan keutamaan hidup. Banyak siswa yang berguru kepadanya. Akibatnya, Kahyangan geger karena banyak orang yang tidak lagi menyembah Bathara Guru, rajanya para dewa. Kedudukan dan otoritas dewa terancam karena manusia sudah mencapai tingkat spiritualitas yang tinggi. Raja Hastina dan Begawan Durna secara politis juga terancam karena banyak rakyat yang lebih percaya pada Begawan Bima Suci. Popularitas Bima bisa meruntuhkan wibawa Kerajaan Hastina. Maka mereka berusaha untuk membubarkan pertapaan Argakilasa. Mereka mempertanyakan dan tidak mau menerima otoritas Begawan Bima Suci yang mengajar keutamaan dan kebaikan kepada para muridnya. Mereka ingin menghancurkan reputasi Bima Suci. Ketika Yesus mengajar di Bait Suci ada beberapa kelompok yang mempertanyakan otoritas-Nya. Mereka adalah Imam-imam kepala, para ahli kitab dan penatua bangsa yang tergabung dalam Majelis Sanhedrin. "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?" demikian protes mereka pada Yesus. Yesus menghadapi mereka dengan tenang dan berwibawa. Justru Dia kemudian balik bertanya kepada mereka. "Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!" Mereka menghadapi dilema yang membingungkan. Kalau dijawab dari sorga, kenapa kita tidak percaya padanya? Kalau dijawab dari manusia, kok banyak orang yang percaya bahwa Yohanes adalah seorang nabi besar? Mereka tertutup oleh kedegilan hati dan pikiran mereka sendiri, sehingga mereka tidak bisa melihat kuasa-kuasa Yesus dan mempercayai bahwa Yesus adalah Mesias. Kesombongan dan keangkuhan merekalah yang membuat mereka tidak mempercayai Yesus. Apakah kita juga bersikap seperti para imam kepala dan ahli-ahli Taurat itu yang suka mempertanyakan kuasa Tuhan dalam setiap peristiwa hidup kita? Apakah kita tidak percaya bahwa Yesus yang bangkit itu adalah Mesias Sang Penebus? Sepercik pantun buat anda: Sapi kurban dari anggaran negara, Membeli sapi dari uang rakyat sendiri. Yesus adalah Tuhan yang berkuasa, Ia mampu membangkitkan orang mati. Wonogiri, kuasa Allah tak terbatas Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 29 Mei 2026
Jum’at Biasa VIII Markus 11:11-26 SEORANG anak laki-laki senang bermain di dekat pohon mahoni yang rindang. Si Mahoni senang dengan memberi kesejukan dan keteduhan. Sesudah dewasa, anak itu pergi berkelana cukup lama. Mahoni merasa kesepiah tidak ada yang memeliharanya. Ketika pemuda itu kembali, Mahoni berkata, “Aya datanglah kemari berteduh di bawahku.” Namun pemuda itu menjawab, “Aku tidak ada waktu, aku ingin punya rumah tempat tinggal.” Lalu Mahoni menjawab, “Tebanglah aku, kayu-kayuku bisa dipakai untuk bangun rumah.” Pemuda itu menebang Mahoni dan menyisakan sedikit pokoknya. Ia membuat rumah. Tetapi karena tugas, dia sering pergi dari rumahnya. Mahoni merasa kesepian dan sendiri lagi. Sesudah tua, orang itu kembali ke rumahnya. Ia merasa lelah menjalani hidup yang berat. Pohon mahoni tua menghiburnya dengan berkata, “Datanglah padaku Pak Tua, bersandarlah di sisiku. Kita bisa saling menguatkan satu sama lain.” Pak tua itu duduk dengan lega di bawah Pohon tua yang merasa masih bisa berguna. Yesus melihat ada pohon ara yang lebat daunnya. Tetapi dia tidak menghasilkan apa-apa. Pohon itu dikutuk, “Jangan lagi seorang pun makan buahmu untuk selama-lamanya.” Sabda Yesus sungguh terjadi, pohon itu keesokan harinya menjadi kering. Hidup kita bisa digambarkan seperti pohon. Kita semestinya menghasilkan buah-buah yang baik agar berguna bagi orang banyak. Buah yang baik berasal dari pohon yang baik. Agar pohon bertumbuh dengan baik, ia juga harus dirawat dan dipelihara. Hati yang baik akan menghasilkan buah-buah pikiran dan tindakan yang baik. Hati yang baik diibaratkan sebagai Bait Suci Allah. Bait Suci dibersihkan dari hal-hal yang mengganggu dan mengotori. Tindakan Yesus mengusir pedagang-pedagang dari Bait Suci adalah simbol pembersihan hati kita sebagai tempat Allah bersemayam. Hati yang jernih dan bersih akan menghasilkan buah pikiran dan tindakan yang bersih pula. Pohon ara yang tidak berbuah akan ditebang. Bait Suci yang tidak bersih akan disucikan agar hati menjadi bersih dan menghasilkan buah-buah yang baik bagi sekitarnya. Sepercik pantun buat anda: Ada hal ajaib dari Pekalongan, Gadis hamil tanpa berhubungan badan. Hasilkanlah buah-buah kebaikan, Dari hati yang suci penuh belaskasihan. Wonogiri, bersihkan hati sucikan pikiran Rm.A. Joko Purwanto, Pr Puncta 28 Mei 2026
Kamis Pekan VIII Markus 10:46-52 BERJUMPA dengan Rama Andika Bayangkara selalu mencerahkan. Ada banyak kisah-kisah unik disharingkan. Kami sama-sama alumni Keuskupan Ketapang, artinya pernah menjalani tugas sebagai misionaris domestik. Dia pernah bertugas di Balai Berkuak. Saya pernah di Tayap dan Simpangdua. Kami sangat menikmati dan senang bertugas di pedalaman. Kendati harus menghadapi medan yang berat; jalan berlumpur kalau hujan atau berdebu tebal saat musim kering, naik turun bukit, keluar masuk hutan, namun sangat membahagiakan. Sesudah tantangan berat, berjumpa dengan umat di stasi-stasi yang jauh menjadi penghiburan yang menggairahkan. Penerimaan umat yang tulus, penuh semangat, sederhana dan sukacita adalah hiburan rohani yang tak pernah kering. Sesudah menjalani hari yang berat dan melelahkan, masuk ke kamar pastoran disertai sukacita dan kelegaan karena telah melayani umat. Ada rasa puas sukacita yang tak tergambarkan walau badan lelah. Ada rasa rindu untuk kembali menikmati pelayanan yang penuh tantangan. Kami seperti mengalami kembali mukjizat Bartimeus yang dibuat Yesus di Yerikho. Orang buta itu berusaha dengan keras. Dia berteriak-teriak menyerukan nama Yesus. Dia menghadapi hambatan dari orang banyak yang menyuruhnya diam. Tetapi hambatan itu tidak menyurutkan dia, malah semakin keras dia berseru. Dalam pelayanan sering kami menemui jalan rusak, terjebak lumpur, berdebu, jatuh di sungai, namun kami tidak surut dan mundur. Tetap bersemangat demi melayani umat di pedalaman. Kami sering melihat mukjizat di pedalaman; senyum bahagia dari umat bisa merasakan Ekaristi. Anak-anak berlari-lari menyambut kedatangan kami. “Rama datang, Rama datang.” Lonceng gereja dari bekas pelek roda truk tronton dibunyikan, “teng…teng…teng….! Semua orang di kampung berkumpul merayakan Ekaristi bersama. Bagi kami itu adalah mukjizat Tuhan yang hadir membuka mata Bartimeus. Mereka rindu akan Ekaristi yang hanya dua bulan sekali bisa dinikmati, bahkan kadang lebih lama dari itu. Kami merindukan wajah-wajah penuh harap dan sukacita menyambut Tuhan yang hadir. Kami merindukan tatapan mata yang terbuka dengan penuh keyakinan berkata, “Rabuni, supaya aku dapat melihat.” Untuk dapat mengalami mukjizat memang membutuhkan perjuangan, pengorbanan dan usaha yang gigih. Bartimeus berjuang mengatasi hambatan. Dia bisa melihat karya besar Allah. Apakah anda juga ingin melihat mukjizat? Berusahalah dengan penuh iman dan keyakinan, pasti mukjizat datang. Sepercik pantun buat anda: Ke Kalimantan menyusuri Kapuas, Mewartakan Injil dengan naik sampan. Hati sukacita dan penuh rasa puas, Melayani umat yang ada di pedalaman. Wonogiri, banyak alami mukjizat Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 27 Mei 2026
Pekan Biasa VIII Markus 10:32-45 KEKUASAAN Presiden kedua RI tumbang pada bulan Mei 1998. Kita tidak boleh lupa pada sejarah bangsa sendiri, agar kita bisa belajar bagaimana mengemban kekuasaan yang benar untuk rakyat, bukan demi kepentingan diri sendiri atau kelompoknya. Suharto lengser diawali dengan kenaikan harga BBM dan tarif daftar listrik pada 4 Mei 1998. Kebijakan ini disambut demo besar-besaran oleh mahasiswa dan rakyat di berbagai kota. Aparat keamanan dipakai untuk meredam demo. Tetapi mereka justru menembaki mahasiswa dan korban berjatuhan di beberapa tempat. Empat mahasiswa Trisakti Jakarta: Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie, tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Peristiwa ini terjadi pada 12 Mei 1998. Demo, penjarahan, pembakaran dan chaos terjadi di mana-mana: Jakarta, Bandung, Semarang, Medan, Surabaya, Yogyakarta. Demo meluas kemana-mana antara tanggal 13-15 Mei 1998. Rakyat marah terhadap kekuasaan yang menindas selama 32 tahun. Korupsi, penguasa yang otoriter dan penderitaan rakyat akibat krisis ekonomi memicu kemarahan masyarakat. Pada 18 Mei 1998, mahasiswa dan rakyat berhasil menduduki gedung DPR RI. Dan pada 21 Mei 1998, Suharto mengumumkan lengser dari kekuasaan. Bulan Mei ini adalah bulan pengingat bagi semua warga bangsa bahwa kekuasaan yang dijalankan dengan tangan besi dan menindas rakyat akhirnya akan tumbang. Kepada para murid-Nya, Yesus wanti-wanti agar berhati-hati jika diberi amanah untuk berkuasa. "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.” Tetapi Yesus menasehatkan kepada mereka agar jangan menindas. Jangan otoriter dan tangan besi. “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.” Sekarang ini sudah ada tanda-tanda kekuasaan dijalankan dengan otoriter. Aparat digunakan untuk mendukung kebijakan politik. Korupsi dan hidup mewah pejabat dipertontonkan ke masyarakat. Harga-harga bahan pokok naik, rupiah terpuruk terhadap dolar. Penguasa merasa paling benar, anti kritik, buta dan tuli atas penderitaan rakyat. Penguasa atau pemimpin yang benar bukan minta dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan karya dan pengabdiannya sepenuhnya untuk kesejahteraan masyarakat. Sepercik pantun buat anda: Di Kerajaan Astina ada Patih Sengkuni, Yang suka pesta pora makan hasil korupsi. Pemimpin harus melayani, bukan dilayani. Jangan hanya mencari keuntungan diri sendiri. Wonogiri, pilihlah pemimpi yang melayani Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed