Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Hello Romo!

12/25/2034

18 Comments

 
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
18 Comments

Testimoni Terakhir Sang Miliuner

6/19/2026

0 Comments

 
Puncta 19 Juni 2026
Jum’at Biasa XI
Matius 6:19-23

ESAI yang diduga ditulis setelah Steve Jobs, orang yang sukses menjadi milyarder meninggal; “Dalam dunia bisnis, aku adalah simbol dari kesuksesan, seakan-akan harta dan diriku tidak terpisahkan, karena selain kerja, hobiku tak banyak. 

Saat ini aku berbaring di rumah sakit, merenungi jalan kehidupanku, kekayaan, nama, dan kedudukan, semuanya itu tidak ada artinya lagi.

Malam yang hening, cahaya dan suara mesin di sekitar ranjangku, bagaikan nafasnya maut kematian yang mendekat pada diriku. 

Sekarang aku mengerti, seseorang asal memiliki harta secukupnya untuk digunakan dirinya saja itu sudah cukup. 

Mengejar kekayaan tanpa batas itu bagaikan monster yang mengerikan.”

Pesan ini mengingatkan kita akan sabda Yesus hari ini:  "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. 

Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.”

Dimana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Ketika kita hanya terfokus pada harta duniawi, maka perhatian kita hanya memikirkan hal-hal duniawi. 

Kita tidak sempat berpikir untuk merenungkan bahwa kita akan mati dan semua akan berakhir.

Ketika kita mati, harta, kedudukan, kekuasaan, kesuksesan dan segala kehebatan kita tak ada artinya. Bahkan itu tak bisa menyelamatkan kita. 

Yesus mengingatkan akan hal itu agar kita sadar bahwa semua itu akan ditinggalkan.

Kesaksian Steve Jobs mengatakan; “Harta kekayaan yang aku peroleh saat aku hidup, tak mungkin bisa aku bawa pergi. Yang aku bisa bawa adalah kasih yang murni yang selama ini terpendam dalam hatiku. 

Hanya cinta kasih itulah yang bisa memberiku kekuatan dan terang.”

Kasih kepada Tuhan dan kepada sesama itulah yang akan membawa kebahagiaan kekal. Mari kita mengasihi satu sama lain. 

Kita menabung kebaikan lewat tindakan-tindakan kasih kepada mereka yang kecil, lemah dan tersingkir. 

Sepercik pantun buat anda:
Angin sepoi menggoyang dahan-dahan,
Hawa dingin bikin sesak kerongkongan.
Bukan harta kekayaan yang jadi jaminan,
Mengasihi dengan tulus bawa keselamatan.

Wonogiri, imam yang bahagia bagi sesama
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Doa yang Bertele-tele

6/18/2026

0 Comments

 
Puncta 18 Juni 2026
Kamis Biasa XI
Matius 6:7-15

YESUS dan orang-orang Yahudi bersosialisasi dengan banyak bangsa di Israel. Orang-orang dari berbagai bangsa datang ke Yerusalem. 

Mereka membawa agama dan adat istiadat mereka. Misalnya, Bangsa Romawi membawa dewa-dewi sembahan mereka.

Tatacara dan doa-doa mereka sangat panjang. Mereka harus mengungkapkan doanya panjang-panjang agar dewa-dewa mereka dapat mengabulkannya. 

Orang-orang pagan percaya bahwa para dewa dapat dipengaruhi dan dibujuk dengan permohonan yang tepat jika mereka menggunakan kata-kata yang tepat untuk menyampaikan dan mengemukakan argumen mereka.

Orang-orang Romawi bernegosiasi, berargumentasi, membujuk dan menyanjung dengan kata-kata indah untuk dewa-dewi mereka agar doanya dikabulkan. 

Kadang mereka harus memaksa dan menuntut agar dewa-dewi menuruti keinginan mereka.

Melihat kondisi seperti itu, Yesus mengajarkan doa yang padat, sederhana dan to the point. 

Dasar pemikirannya adalah Bapa maha mengetahui apa yang kita butuhkan sebelum kita meminta kepada-Nya. 

"Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya."

Doa yang diajarkan Yesus berisi pujian kepada Allah Bapa, agar kehendak-Nya terjadi seperti di dalam sorga. 

Lalu memohon untuk kebutuhan rejeki hari ini dan mohon pengampunan atas segala dosa kita.

Karena kita diampuni Bapa yang berbelaskasih, maka kita pun diminta mau mengampuni saudara-saudari yang bersalah kepada kita. 

Doa selain membangun relasi baik dengan Allah, juga membangun relasi yang harmonis dengan sesama manusia.

Doa Bapa Kami adalah warisan doa yang dalam, padat dan sederhana. Maka marilah kita sering mendoakannya agar Bapa dimuliakan dan manusia makin dicintai. 

Tidak perlu bertele-tele dan berpanjang-panjang karena Bapa Maha Mengetahui keinginan kita.

Sepercik pantun buat anda:
Tiap pagi nonton piala dunia,
Sambil minum kopi arabica.
Berdoalah selalu kepada Bapa,
Dia tahu apa kebutuhan kita.

Wonogiri, Bapa kami yang di sorga
Rm.A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Berdoa, Bersedekah dan Berpuasa

6/17/2026

0 Comments

 
Puncta 17 Juni 2026
Rabu Biasa XI
Matius 6:1-6.16-18

SETIAP karyawan atau pegawai melakukan tugasnya pasti disertai dengan motif-motif tertentu. Ada yang bermotif ekonomi supaya mendapat honor atau gaji. 

Ada yang bermotif mencari pengakuan atau eksistensi diri. Ada yang bermotif agar mendapat penghargaan.

Orang mengikuti perlombaan juga punya motif agar bisa memenangkan pertandingan, mengangkat piala atau hasil yang maksimal. Setiap tindakan kita selalu didasari oleh motif tertentu.

Begitu pun dalam hidup beriman, ada banyak orang memiliki motif menjalankan ritual keagamaan. 

Yesus menunjuk tiga tindakan ritual dalam hidup beragama; berdoa, memberi sedekah dan berpuasa. Ketiganya adalah bagian dalam perwujudan iman.

Namun Yesus mengingatkan  dalam melakukan nilai-nilai keagamaan, agar kita tidak jatuh pada kesombongan, pameran hidup saleh, ingin dipuji atau ingin mendapat status orang suci. 

Yesus meminta pada para murid-Nya agar melakukan kewajiban agama dengan tulus ikhlas.

Berdoa adalah urusan pribadi dengan Tuhan. Berdoa adalah ungkapan relasi yang mendalam. Tidak untuk dipamer-pamerkan agar dianggap sebagai orang suci. Karena hanya Tuhan sendiri yang mengetahui isi hati kita masing-masing.

Begitu pun bersedekah dan berpuasa. Yesus mengingatkan agar kita tidak pamer dalam memberi sedekah pada orang lain. Berpuasa juga bukan ajang pameran kesucian. Tuhan mengajarkan tentang kemurnian hati yang jujur dan tulus.

Selagi kita masih ingin dipuji dalam melakukan aktivitas kewajiban beragama, kita akan jatuh pada kesombongan, kepura-puraan, kepalsuan, egoisme dan kemunafikan. 

Selagi kita msih terbelenggu hal-hal itu, kita belum memiliki kemurnian dan kesucian hati.

"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang  supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga,” sabda Tuhan.

 “Jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Sepercik pantun buat anda:
Banyak orang berdoa di jalan-jalan,
Rumah doa hanya untuk tidur-tiduran.
Hati-hati melakukan ritual keagamaan,
Jangan dipamerkan untuk dapat pujian.

Wonogiri, godaan kemunafikan
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Belajar dari Tokoh “Les Miserables”

6/16/2026

0 Comments

 
Puncta 16 Juni 2026
Selasa Biasa XI
Matius 5:43-48

VICTOR HUGO  (26 Februari 1802 – 22 Mei 1885) adalah salah satu penulis aliran Romantisisme pada abad ke-19 dan sering dianggap sebagai salah satu sastrawan dan penyair terbesar Perancis. 

Salah satu novelnya yang paling monumental adalah “Les Miserables.”

Dia mengajarkan nilai-nilai Injil seperti kasih sayang, pengampunan yang tiada batas dan mengasihi mereka yang kecil dan lemah. 

Nilai-nilai Injil dibadankan lewat tokoh-tokoh novelnya itu. Yang paling menonjol adalah karakter Jean Valjean. 

Jean Valjean walau pun telah dihukum selama delapan belas tahun dan disiksa berkali-kali di penjara oleh Kolonel Javert dan terus menerus diintai semua tindakan kejelekannya, namun Valjean tetap menghormati dan mengampuninya. 

Bahkan Javert merekayasa pengadilan palsu untuk menjatuhkan Valjean agar bisa menghukumnya kembali. Tetapi tokoh utama ini tak bergeming dalam usaha mengasihi orang yang membencinya dan mengarah kematiannya.

Membaca sabda Yesus hari ini, kita bisa belajar dari tokoh imaginasi Victor Hugo yakni Valjean dalam buku “Les Miserables.” 

Ajaran Yesus tentang kasih dan pengampunan dilaksanakan dengan penuh keikhlasan. Dasarnya karena Valjean telah mengalami kasih dan pengampunan Tuhan.

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu,” demikian pesan Yesus kepada kita semua.

Kasih dan pengampunan tidak hanya ada di dalam cerita novel. Tetapi bisa terjadi secara nyata. Santo Yohanes Paulus II mengampuni dan mendoakan Mehmet Ali Agca, yang pernah ingin membunuhnya dengan tembakan peluru di lapangan Basilika Santo Petrus pada 13 Mei 1981.

Motivasi kita mengasihi dan mengampuni adalah kehendak Allah sendiri. Karena Allah telah mengasihi kita, maka kitapun diajak mengasihi sesama. 

Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 

Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?

Menjadi pengikut Kristus memang harus beda dengan yang lain. Jadilah minoritas kreatif yang memberi warna positif bagi kehidupan bersama. 

Sepercik pantun buat anda:
Banyak orang di negeri dongeng Konoha,
Suka mengadu domba di panggung media.
Orang-orang yang sering menghina kita,
Belum tentu hidupnya sudah sempurna.

Wonogiri, berdoalah bagi musuhmu
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Kasihilah Musuhmu

6/15/2026

0 Comments

 
Puncta 15 Juni 20206
Senin Biasa XI
Matius 5:38-42

BEBERAPA waktu yang lalu tokoh penting di negri ini membuat pernyataan yang menghebohkan banyak orang Kristen karena ucapannya. 

Ia membahas tentang konflik agama di Poso dalam sebuah seminar.  Ia beranggapan bahwa setiap agama memiliki konsep mati syahid jika membunuh musuhnya.

Pandangan itu dibantah dan diprotes keras oleh orang-orang Kristen. Beberapa Ormas Kristen mengecam dan melaporkan ucapan tersebut. 

Umat Kristen menegaskan bahwa ajaran kekristenan tidak pernah mengenal konsep mati syahid yang dicapai dengan cara membunuh orang lain.

Kalau mereka membalas ucapan itu dengan marah, sumpah serapah dan bahkan ingin menyeretnya ke meja hijau, apakah tindakan itu tidak bertentangan dengan isi ajaran Kristus sendiri? 

Yesus berkata: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum.

Kalau kita membalas kejahatan dengan kejahatan, lalu apa bedanya? Kalau ada orang menjelekkan kita, lalu kita membalas menjelekkan mereka, apa bedanya? Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? 

Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian. Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? 

Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?

Maka Yesus mengajak kita berbuat lebih, berbeda dengan mereka. Ia mengajak kita untuk meniru Allah. 

Dia yang mengasihi manusia tanpa membeda-bedakan seperti matahari yang bersinar baik bagi orang benar, maupun orang berdosa.

Maka mengasihi musuh itu diwujudkan dengan mengasihi mereka yang berbeda dengan kita. 

Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

Lebih ekstrem lagi Yesus menuntut kita dengan perintah yang tegas. “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” 

Ajarin ini dipraktekkan oleh Mahatma Gandhi yang melawan kekerasan dengan tidak membalas dengan kekerasan. 

Hanya orang yang berbudi luhur dan berhati lembut mampu mewujudkan ajaran kasih ini. Mari kita mohon semoga kita tidak melawan kekerasan dengan kekerasan. 

Sepercik pantun buat anda:
Naik kereta api ke Jakarta,
Membeli mendoan di Bumiayu.
Kasihilah sesamamu manusia,
Berdoalah bagi yang membenci kamu.

Wonogiri, kasihilah musuhmu
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Naik Kereta Api

6/14/2026

0 Comments

 
Puncta 14 Juni 2026
Minggu Biasa XI
Matius 9:36-10:8

PADA era tahun 1980-90-an kita pernah mengalami naik kereka api yang semrawut. Penumpang berdesakan. Sering juga ada copet di dalamnya.

Apalagi penumpang kereta ekonomi. Ada yang duduk menggelar koran di lorong-lorong. Bahkan berdiri di celah antara gerbong dekat WC yang bau.

Pedagang asongan bebas berkeliaran di dalam gerbong. Suasana stasiun yang kumuh dengan ruang tunggu yang kotor. Penumpang bergelantungan dan naik ke atap kereta. 

Calo-calo secara terang-terangan menjual tiket di dekat parkiran stasiun. Kondisi seperti itu sudah berjalan bertahun-tahun, tanpa perubahan. 

Lucunya penumpang sampai berdesak-desakan di dalam kereta, tapi pendapatan perusahaan itu justru merugi. 

Tidak ada pembangunan dan perubahan yang signifikan untuk membenahi perkereta-apian. Lalu masuklah seorang Ignatius Jonan tahun 2009.

Melihat situasi yang memprihatinkan itu, dia mulai sesuatu dari yang kecil dan nampak sepele yakni membersihan toilet di gerbong dan stasiun-stasiun. Ruang tunggu dibuat nyaman dan bersih. Pedagang ditata dengan baik. 

Ketika mulai terlihat ada perubahan, dia masuk ke sistem tiketing dan penggajian karyawan. Tidak ada lagi tiket manual, karena disinilah celahnya korupsi. 

Gaji karyawan dinaikkan. Hasilnya sangat dirasakan banyak orang. Naik kereta api seperti layaknya naik pesawat terbang.

Bahkan rakyat sekarang lebih memilih Kereta Api daripada naik pesawat yang sangat mahal dan sering delay berjam-jam. 

Jonan datang membawa visi perbaikan dan melaksanakannya dari yang kecil dan sederhana.

Dalam Injil hari ini, Yesus menjalankan misi-Nya melihat orang banyak, yang terlantar, lelah seperti domba yang tidak punya gembala. 

Ia melihat masalah yang dihadapi orang banyak dan berbuat sesuatu untuk menyelesaikan masalah mereka.

Ia memanggil para murid dan melibatkan mereka untuk ambil bagian karena “tuaian banyak namun pekerjanya sedikit.” 

Ia memberi mereka tugas yang jelas. “Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.”

Mereka diminta untuk fokus dalam tugas dan konsisten dalam bertindak. "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.”

Seperti Jonan, kita juga dipanggil oleh Tuhan membangun Kerajaan Allah.. “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.” 

Kita bisa mulai dari yang kecil dan sederhana namun berdampak bagi perbaikan bersama.

Sepercik pantun buat anda:
Perahu retak mengarungi lautan,
Tenggelam dihantam badai taufan.
Orang benar malah disingkirkan,
Koruptor justru diberi kedudukan.

Wonogiri, dipanggil menjadi murid-Nya
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Jangan Mudah Bersumpah

6/13/2026

0 Comments

 
Puncta 13 Juni 2026
Pw. Hati Tersuci St. Perawan Maria
Matius 5:33-37 atau RUybs

KALAU kita mengikuti upacara sumpah jabatan di instansi pemerintah, semua dilakukan dengan serius dan tertib teratur. 

Sumpah jabatan adalah acara yang tidak main-main. Bahkan ada petugas agama dengan menumpangkan Kitab Suci segala. Mereka bersumpah kepada Tuhan.

Baru satu setengah tahun dilantik sebagai Kepala Badan Gizi Nasional, tiba-tiba dicopot bersama dua wakilnya karena diduga melakukan korupsi program MBG oleh Kejaksaan Agung. 

Belum lama disumpah tetapi sudah melanggar dengan membuat yayasan-yayasan untuk menampung dana milyaran rupiah setiap harinya.

Bersumpah berarti meneguhkan komitmen kita pada Tuhan. Setiap sumpah bersifat mengikat karena melibatkan Allah sebagai saksi dan penjamin kita. 

Mungkin karena sumpah itu terlalu berat, para tetua Yahudi membuat celah dengan membuat sumpah yang lebih ringan.

Sumpah kepada Tuhan sangat sulit dilaksanakan, maka mereka membuat sumpah kepada bumi, langit, Yerusalem, mesbah dan benda-benda lain yang kurang mengikat. 

Kalau gagal memenuhi sumpah bisa dimaafkan. Kalau gagal bersumpah pada Tuhan sangat berat dosanya.

Dalam perikope ini Yesus ingin meluruskan pemikiran dan perilaku yang keliru dari para pemimpin Yahudi. 

Yesus sedang mengkritik sikap dan perilaku yang menipu dengan mengucap sumpah. Para pemimpin bersikap munafik dengan bertumpu pada legalisme hukum.

Sumpah-sumpah jabatan seperti hanya sebuah permainan kepura-puraan saja. Sebuah ritual yang tidak ada maknanya. Karena antara apa yang dijanjikan jauh dari apa yang dilakukan. 

Belum lama orang disumpah untuk tidak korupsi atau menerima gratifikasi, eh…..tahu-tahu sudah ditangkap KPK dan dimasukan ke jeruji besi.

Inilah situasi yang terjadi mengapa Yesus melarang orang bersumpah. Ia tidak meniadakan segala sumpah, tetapi Ia sedang menyoroti sikap hati dan kebiasaan yang menipu dengan dalih-dalih aturan-aturan agama buatan manusia. 

Yesus mengajak para murid-Nya membangun integritas dalam pelayanan. Kepercayaan itu mahal harganya dan harus dibangun dengan terus menerus. 

Orang yang dipercaya berarti diberi tanggungjawab besar. Integritas pribadi dipertaruhkan disana.

Maka Yesus berkata, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” 

Di sini kita bisa mengukur kemampuan dan integritas pribadi kita.

Sepercik pantun buat anda:
Koruptor dipenjara tidak masalah,
Hartanya sudah numpuk tujuh turunan.
Janganlah kita mudah bersumpah,
Semua perbuatan harus dipertanggungjawabkan.

Wonogiri, koruptor tertawa hahahihi
Rm. A.Joko Purwanto,Pr
0 Comments

Belajar dari Simbok-Simbok

6/12/2026

0 Comments

 
Puncta 12 Juni 2026
HR Hati Yesus yang Mahakudus
Matius 11:25-30

KUNJUNGAN pastoral ke lingkungan-lingkungan kami lakukan tiap hari Rabu sore sampai malam karena jarak yang jauh.

Kami menemui umat di kampung-kampung yang sederhana. Kebanyakan dari mereka adalah nenek-nenek yang lanjut usia.

Pengalaman hidup menempa mereka untuk hidup apa adanya dan percaya pada kebaikan Tuhan. 

“Gusti punika mahasae Rama, saben dinten wontenipun namung matur nuwun,” kata mBah Samijem. (Tuhan itu mahabaik, setiap hari adanya cuma bersyukur pada-Nya)

Mbah Sunardi kendati hidup sebagai umat Katolik sendirian di kampung, namun kebaikan Tuhan dirasakan melalui tetangga-tetangga sekitarnya. 

“Gusti mboten sare, Rama. Gusti tansah ngamping-ngampingi kula.” (Tuhan selalu ada, Tuhan selalu mendampingi saya)

Orang-orang kecil, sederhana dan jujur seperti Mbah Nardi dan Mbah Samijem mengajari kita untuk percaya pada penyelenggaraan Tuhan. Seperti mereka yang percaya, Tuhan selalu ada dan memberi damai dan ketentraman.

Kepasrahan hidup dan hanya mengandalkan Tuhan bisa ditemukan dalam diri kaum kecil dan sederhana. Keyakinan mereka akan penyelenggaraan Tuhan sungguh mendalam. 

Iman mereka tidak rumit dan “neka-neka.” Semua sudah diatur oleh Yang Mahakuasa, yang ada di atas sana. Kita tinggal menyesuaikan dengan kehendak-Nya. 

Semangat itulah yang dihayati juga oleh Yesus, ketika Dia berdoa, "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.”

Orang kecil tidak butuh ilmu teologi yang rumit dan muluk-muluk. Mereka percaya, “Gusti mboten sare.” Tuhan tidak pernah tidur. 

Ia mengatur segala sesuatu baik adanya. Kita tinggal menjalani sesuai dengan kehendak-Nya. “Manungsa namung sakdrema nglampahi.” 

Menjalani hidup dengan keyakinan bahwa Tuhan tidak jauh dan menyelenggarakan hidup kita dengan penuh kasih sayang membawa hati menjadi teduh, damai dan tentram. 

Kita dicintai oleh Hati Yesus yang Mahakudus. Hati Yesus selalu berpihak pada kita yang kecil, lemah dan menderita. 

Ia senantiasa berbelaskasih bagi kaum kecil dan sederhana. Mari kita selalu datang kepada hati-Nya.

Sepercik pantun buat anda:
Orang antri sampai di jalan raya,
Karena pertalite semakin langka.
Yesus mengasihi yang menderita,
Hati-Nya penuh belarasa dan cinta.

Wonogiri, mengasihi sampai ke lubuk hati
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Barnabas, Anak Penghiburan

6/11/2026

0 Comments

 
Puncta 11 Juni 2026
Pw. St. Barnabas, Rasul
Matius 5:20-26 atau RUybs

NAMA aslinya adalah Yusuf. Ia lahir di Siprus sebagai keturunan Yahudi. Ia diberi nama baru, Barnabas oleh orang-orang yang mengenalnya karena perilakunya yang memberi semangat dan memberi penghiburan sehingga banyak orang bersukacita.

Ia mempunyai visi ke depan yang baik dan berpikir positif terhadap orang lain. Hal ini nampak dari sikap penerimaannya terhadap Saulus. 

Ketika banyak orang Kristen awal mencurigai dan menolak Saulus, Barnabas justru mencari dia dan menjemputnya untuk karya penginjilan.

Barnabas mendamaikan Saulus dengan pemimpin jemaat di Yerusalem. Barnabas juga yang menyatukan jemaat Antiokia dengan Yerusalem dalam masalah hukum sunat. 

Sesuai namanya, ia memberi penghiburan damai dan sukacita bagi semua orang sehingga jemaat tumbuh berkembang.

Barnabas diutus untuk memimpin jemaat di Antiokia. Karena keteladanan dan tatakelolanya yang baik, maka gereja Antiokia berkembang pesat. Bahkan di Antiokhia inilah para pengikut Yesus pertama kali disebut 'Kristen'.

Barnabas memimpin jemaat tidak dengan aturan kaku, tetapi dengan hati penuh kasih. Ia diminta untuk mengembangkan jemaat baru di Antiokhia. 

Ia tidak datang dengan niat akan mendisiplinkan mereka, melainkan seperti yang kita baca, 'ia datang dan melihat kasih karunia Allah, ia bersukacita dan ia menasihati mereka semua untuk tetap setia kepada Tuhan dengan pengabdian yang teguh.'

Kalau tidak ada Barnabas, bisa jadi tidak ada Paulus yang mewartakan Injil kepada segala bangsa bukan Yahudi. 

Barnabas juga seorang pemimpin yang rendah hati. Setelah Paulus bertumbuh menjadi rasul hebat, Barnabas mundur dan namanya lama kelamaan tidak disebut.

Semangat kepemimpinan Barnabas ini sesuai dengan sabda Kristus. Memimpin bukan soal kaku dan keras menjalankan hukum tetapi melakukannya dengan setulus hati dan sekuat tenaga. 

Yesus berkata: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Mari kita belajar dari Santo Barnabas, yang tulus ikhlas, rendah hati dan gigih mewartakan Kristus sampai mati sebagai martir di daerah asalnya sendiri, Siprus.

Sepercik pantun buat anda:
Kemarau panjang panasnya makin tinggi,
Lebih panas hati buruh yang nunggu gaji.
Barnabas orang yang jujur dan rendah hati,
Mengorbitkan Paulus jadi rasul yang sejati.

Wonogiri, menjadi Barnabas zaman ini
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
<<Previous

    Archives

    December 2034
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki