Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Hello Romo!

12/25/2034

18 Comments

 
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
18 Comments

Tanah Macam Apa Kita?

9/19/2026

0 Comments

 
Puncta 19 September 2026
Sabtu Biasa XXIV
Lukas 8:4-15

SANGAT memprihatin bagi para petani di wilayah Kalimantan atau Sumatera yang lahan-lahan mereka mengalami kebakaran. Bukan hanya hutan saja yang terbakar, tetapi lahan-lahan penduduk juga habis dilalap api.

Lahan adalah tempat mereka menabur benih padi. Mereka sangat tergantung dari hasil lahan yang mereka tanami. 

Api merajalela di tengah musim kemarau yang panjang. Pemerintah tidak sanggup mengatasi kebakaran yang sangat luas ini.

Kebakaran lahan ini bisa disebut bencana nasional seperti tsunami, gempa  dan erupsi gunung meletus. 

Banyak rakyat kecil menjadi korban dalam jangka yang panjang. Pemerintah mestinya bertindak bagaimana mengembalikan lahan mereka agar bisa ditanami kembali.

Yesus memberi perumpamaan tentang benih yang ditaburkan di tanah. Ada tanah yang baik, berbatu-batu dan penuh onak duri. 

Benih akan tumbuh tergantung dari tanah dimana benih ditaburkan.

Ada empat model tanah. Ada benih yang jatuh di tanah pinggir jalan. Ada tanah yang berbatu, tanah yang penuh semak duri dan ada tanah yang baik dan subur. 

Masing-masing type tanah menjelaskan bagaimana benih itu akan tumbuh.

Tanah yang di pinggir jalan menggambarkan orang beriman sebentar dan akhirnya mati karena diinjak-injak orang dan dimakan burung. 

Tanah berbatu  membuat benih tumbuh tapi tidak berakar dalam. Benih akan segera mati.

Tanah bersemak duri menggambarkan tantangan dan hambatan dunia bagi orang beriman. Karena banyaknya hal-hal duniawi yang melilitnya, iman tidak dapat tumbuh dengan baik. 

Tanah yang subur menunjukkan iman yang tumbuh, dirawat dengan baik dan menghasilkan banyak buah.

Kita bisa mengidentifikasi menjadi tanah yang mana. Seberapa besar iman yang ditanamkan dalam hati kita dapat bertumbuh dan menghasilkan buah berlimpah bagi Tuhan. 

Sepercik pantun buat anda:

Kebakaran lahan makin merajalela,
Tak ada lumbung makan untuk berjaga.
Hati baik tempat benih tumbuh bahagia,
Dipupuk sabda Tuhan untuk memeliharanya.

Wonogiri, tanah subur di hati kita
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Lingkaran Sahabat Yesus

9/18/2026

0 Comments

 
Puncta 18 September 2026
Jumat Biasa XXIV
Lukas 8:1-3

DALAM Gereja tidak dipungkiri banyak kaum ibu yang terlibat dalam berbagai kegiatan. Kalau diprosentasi banyak kaum perempuan yang sering aktif di gereja, baik di lingkungan maupun di paroki. 

Bahkan ada pula yang menjabat sebagai Wakil Ketua dua Dewan Pastoral Paroki.

Keterlibatan mereka sangat positif. Mereka berkecimpung di berbagai tim pelayanan di paroki. Tentu saja mereka bersinggungan dan membangun relasi dengan Pastor paroki. Seperti para murid Yesus, mereka membentuk lingkaran relasi.

Dalam kelompok murid ada lingkaran inti seperti Petrus, Yakobus dan Yohanes. Di kelompok perempuan juga ada beberapa yang dekat dengan Yesus; Maria Magdalena, Yohana dan Susana. Di Betania juga ada Maria dan Marta.

Kaum perempuan itu mendukung karya-karya Yesus dengan kekayaan mereka. Mereka mensuport agar Yesus dan para murid-Nya dapat bekerja dengan baik. 

Namun tidak jarang kedekatan itu bisa menimbulkan kecemburuan dan iri hati. Seperti Marta yang cemburu dan iri hati karena Maria duduk dekat kaki Yesus. 

Iri hati dan kecemburuan inilah yang sering menimbulkan masalah dalam relasi. Tidak dipungkiri, banyak kasus di gereja terjadi karena merasa tidak diperhatikan, tak bisa dekat, lalu cemburu dan irihati.

Kita bisa melihat di lapangan bagaimana reputasi institusi gereja dan pribadi seorang pemimpin hancur berantakan gara-gara relasi yang tidak sehat yang bisa menimbulkan irihati dan kecemburuan sosial.

Yesus tidak anti terhadap perempuan. Ada banyak perempuan yang dekat dengan Yesus dan disembuhkan. Motivasi mereka bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk melayani rombongan dengan sarana yang mereka punya. 

Melayani rombongan artinya untuk kepentingan bersama. Motivasi selalu harus dijernihkan agar tidak menyeleweng dari tujuan utama. 

Kebersamaan harus selalu diarahkan demi tujuan sejatinya yakni kemuliaan Tuhan dan keselamatan umat, bukan mencari kepentingan pribadi.

Maria Magdalena, Yohana dan Susana menyertai Yesus dan rombongan untuk membantu agar semakin banyak orang diselamatkan dan Kerajaan Allah diwartakan. 

Mari kita bersama-sama mendukung karya Tuhan melalui Gereja-Nya.

Sepercik pantun buat anda:

Naik becak keliling Pulau Jawa,
Mengantar pasangan kawin wisata.
Banyak wanita menyertai Dia,
Bukan menganggu tapi melayani-Nya.

Wonogiri, jadilah suporter bukan repoter....
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Jangan Meminta, Kalau Tidak Memberi

9/17/2026

0 Comments

 
Puncta 17 September 2026
Kamis Biasa XXIV
Lukas 7:36-50

JANGAN berharap menerima banyak, kalau anda tidak memberi banyak. Jangan mengharapkan berkat melimpah kalau anda tidak pernah memberi apa-apa kepada Tuhan. 

Kalimat ini bisa kita pakai untuk merenungkan perikope Injil hari ini.

Yesus datang ke rumah Simon, orang Farisi. Saat mereka sedang makan datanglah seorang perempuan yang dikenal sebagai seorang pendosa. 

Ia datang membawa botol pualam berisi minyak wangi yang mahal harganya.

Ia berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, menangis, membasahi kaki Yesus dengan air matanya, menyekanya dengan rambutnya, lalu mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.

Simon mencibir tindakan itu dan menyalahkan Yesus yang tidak mengusir perempuan berdosa itu. 

Pikirnya, “Kalau Ia seorang nabi pasti dia tidak mau disentuh oleh perempuan berdosa.” Yesus tahu isi hati Simon.

Ia membuat perumpamaan dua orang yang berhutang pada tuannya. Yang seorang 500 dinar dan yang satunya 50 dinar. 
Karena tidak mampu, semua hutang mereka dihapuskan. 

Yesus bertanya kepada Simon, siapakah yang akan lebih mengasihi orang yang menghapuskan hutang tersebut? 

Simon menjawab: "Orang yang paling banyak dihapuskan hutangnya." Yesus membenarkan jawaban itu.

Jawaban Simon itulah yang dipakai Yesus menerangkan mengapa perempuan itu bertindak demikian. 

Simon tidak memberi air untuk membasuh kaki-Nya, tetapi perempuan itu sejak awal membasuh kaki Yesus dengan airmatanya dan menyeka dengan rambutnya.

Simon tidak menyambut Yesus dengan ciuman kudus, tetapi perempuan itu tiada henti-hentinya menciumi kaki Yesus. 

Simon tidak meminyaki kepala Yesus sebagai tanda hormat, tetapi perempuan ini meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi yang mahal.

Yesus memberi pengajaran kepada Simon, tetapi juga kepada kita. Dosa perempuan yang banyak telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih. Sebaliknya, orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia mengasihi.

Kalau kita merasa dikasihi Tuhan, pasti kita akan banyak berbuat kasih. Tetapi kalau anda tidak merasa dikasihi, pasti juga anda tidak menaruh belaskasih. 

Jangan banyak menuntut Tuhan, kalau anda tidak pernah memberi apa-apa kepada-Nya.

Sepercik pantun buat anda:

Burung camar terbang tinggi,
Mencari makan di pinggir kali.
Kasih-Nya tak pernah berhenti,
Itulah dasarnya kita semua melayani. 

Wonogiri, berilah maka kamu akan mendapat....
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Berjuang Demi Kesatuan Gereja

9/16/2026

0 Comments

 
Puncta 16 September 2026
Pw.St. Kornelus, Paus dan Siprianus, Uskup Martir
Lukas 7: 31-35 atau RUybs Yohanes 17:11b-19

DUA santo yang kita peringati hari ini berjuang di masa-masa sulit kepausan. Serangan dari luar berupa penganiayaan oleh Kaisar Gallus. 

Banyak orang Kristen ditangkap dan dianiaya serta dibunuh karena tidak mau menyembah dewa-dewi Romawi.

Santo Kornelius sebagai Paus meneguhkan umatnya agar tetap setia pada iman Kristen walaupun penganiayaan, pengejaran dan penangkapan dilakukan di wilayah kekaisaran Romawi. 

Ia dengan berani terus mengajarkan nilai-nilai Injil kepada semua orang dan sering mengalami penindasan.

Serangan dari dalam berasal dari kelompok Novatianisme yang menentang orang-orang yang murtad kembali menjadi Kristen. Novatianus tidak setuju kalau orang murtad diterima kembali sebagai murid Kristus. 

Siprianus sebagai uskup di Kartago sering mengirim surat dukungan kepada Paus Kornelius agar memiliki hati yang rahim dan penuh pengampunan kepada para pemurtad dan merangkul kembali mereka yang dahulu memisahkan diri.

Dua pimpinan Gereja ini secara bersama-sama berjuang demi kesatuan umat Kristen. Mereka tidak hanya berdoa, tetapi juga terjun langsung berhadapan dengan kelompok-kelompok bidaah. 

Berkat kerja keras mereka, Gereja Kristus tetap berdiri kokoh sepanjang zaman. Kesatuan dan otentisitas ajaran tetap terjaga.

Hari ini Yesus berdoa bagi para murid-Nya. “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” 

Yesus berharap agar jemaat Kristen bersatu sebagaimana Dia bersatu dengan Bapa di surga. 

Yesus mendoakan para murid yang masih harus berjuang di dunia, karena mereka bukan dari dunia. Dunia akan membenci mereka karena dunia tidak mengenal cinta.

Doa Yesus ini diteruskan oleh para pimpinan Gereja, dan diupayakan agar seluruh Gereja bersatu dimana Kristus menjadi kepala jemaat. 

Tidak ada henti-hentinya, Paus dan para uskup berusaha menjaga kesatuan dan ajaran iman Gereja. 

Kita pun, jemaat Kristus juga dipanggil menjaga kesatuan sebagai Tubuh Mistik Yesus Kristus. Seluruh umat diajak untuk berdoa bagi persatuan Gereja. 

Sudahkah kita ikut menjaga kesatuan dan menjalin relasi yang baik antar umat dan juga dengan pimpinan Gereja?

Sepercik pantun buat anda:

Pergi ke Bandung membeli kue manis legit.
Mampir di Padalarang borong buah-buahan.
Kornelius dan Siprianus hidup di masa sulit.
Menjaga iman dan kesatuan jemaat Tuhan.

Wonogiri, menjaga persatuan gereja
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Mater Dolorosa

9/15/2026

0 Comments

 
Puncta 15 September 2026
Pw. St. Perawan Maria Berdukacita
Lukas 7:11-17 atau RUybs Lukas 2:33-35

KETIKA kita masuk ke Gereja Makam Kudus (The Holy Sepulcre Church) di sana ada altar utama dengan salib besar dimana Tuhan Yesus tergantung. 

Di bawah altar itu ada batu dari bukit Golgota. Para peziarah sering menghormati Yesus tersalib dengan mencium batu Golgota.

Di sebelah kanan altar penyaliban ada patung Santa Perawan Maria yang ditembus oleh pedang. Hal ini mengingatkan kita semua akan dukacita Maria yang paling dalam saat menyaksikan kematian Yesus di salib. 

Tigapuluh tiga tahun sebelumnya, Simeon telah menubuatkan tentang penderitaan yang akan ditanggung Maria, ketika dia membawa bayi Yesus ke Bait Allah. 

Simeon seorang nabi yang saleh bernubuat; "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."

Maria hanya menyimpan semua perkataan itu di dalam hatinya. Kesedihan dan dukacita Maria sudah dimulai saat nubuat itu diucapkan oleh Simeon. 

Ia sudah memanggul derita salib sebelum anaknya sendiri menderita di Golgota.

Hari ini kita memperingati Santa Perawan Maria yang berdukacita. Setidaknya ada tujuh peristiwa dimana Maria mengalami dukacita. 

Kesedihannya dimulai saat Simeon berbuat di Bait Suci. Kedua, Maria,Yusuf dan bayi Yesus harus mengungsi ke Mesir karena diancam kematiannya oleh Herodes.

Ketiga, ketika Yesus hilang di Bait suci. Maria dan Yusuf mencari-Nya. ”Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Ungkapan ini menggambarkan kesedihan Maria.

Keempat, Maria bertemu Yesus memanggul salib menuju Bukit Golgota. Ia bersama beberapa wanita mengikuti Yesus sampai di Golgota. 

Kelima, Maria berdiri di bawah salib dan menyaksikan kematian Putranya yang akan terukir abadi dalam sejarah manusia.

Keenam, Yesus diturunkan dari salib dan Maria memangku jenasah Putranya. Patung Pieta sebuah masterpiece karya Michelangelo menggambarkan kesedihan mendalam Bunda Maria. 

Penderitaan pedang ke tujuh; Maria memakamkan jenasah Yesus bersama dengan Yusuf dari Arimatea, Nikodemus dan wanita-wanita yang setia mengikuti-Nya. Derita yang sempurna dialami oleh Bunda Maria.

Inilah keteladanan iman Maria. Ia menjadi contoh bagi kita untuk setia pada Tuhan, tidak hanya dalam suka, tetapi juga dalam duka dan penderitaan. Maukah kita tetap setia walau harus menderita?

Sepercik pantun buat anda:

Dengan lutut jalan di Fatima,
Tertatih-tatih sampai di basilika.
Maria teladan ibu yang setia,
Tekun hadapi duka dan derita.

Wonogiri, Maria teladan hidupku....
Rm. A. Joko Purwanto,Pr
0 Comments

The Bridge Operator

9/14/2026

0 Comments

 
Puncta 14 September 2026
Pesta Salib Suci
Yohanes 3:13-17

ADALAH John Griffith seorang penjaga lintasan jembatan angkat di dekat sungai Missisipi. Ia bertugas untuk mengangkat tuas jembatan  angkat (drawbridge) agar kapal-kapal dapat melintas di sungai. Pada jam tertentu menurunkan jembatan supaya kereta api Memphis Express dapat lewat.

Suatu hari anak satu-satunya, Greg bermain di dekat jembatan. Secara tidak sengaja dia terjatuh di antara roda-roda gigi jembatan. 

John dengan sekuat tenaga menarik kaki anaknya. Tetapi gagal. Dia berusaha menyelamatkan anak yang disayanginya.

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar peluit tanda harus menurunkan tuas roda jembatan, agar kereta bisa lewat. Kebingungan dan kebimbangan menyergap John. Dia menghadapi dilema yang sangat besar. 

Menyelamatkan anaknya berarti nyawa 400 penumpang Kereta Memphis Express akan menjadi korban. Menurunkan tuas roda jembatan berarti mengorbankan anak satu-satunya yang sangat dikasihinya.

Dengan hati pilu dan kesedihan yang dalam, John lari ke tuas jembatan dan menurunkan roda-roda gigi (gearbox) yang besar itu. 

Hatinya hancur melihat anaknya mati dilindas roda jembatan. Para penumpang di kereta menikmati perjalanan dengan aman, nyaman penuh canda tawa.

Mereka tidak menyadari seorang bapak terduduk lemas tak berdaya, yang baru saja kehilangan anaknya yang tunggal demi keselamatan banyak orang. 

Kisah nyata ini pernah diangkat dalam Film berjudul “Most” (2003) yang memenangkan nominasi Oscar. 

Pada Pesta Salib Suci ini kita juga diselamatkan oleh Allah melalui kematian Anak-Nya yang tunggal yakni Yesus Kristus di salib. 

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Melalui salib Kristus, kita ditebus dan diselamatkan dari dosa-dosa kita. Kita yang semestinya dihukum karena dosa, namun ditebus dan diangkat oleh Kristus dengan pengorbanan-Nya di kayu salib. 

Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukur kepada-Mu sebab dengan salib suci-Mu Engkau telah menebus dunia.

Sepercik pantun buat anda:

Ke Karimunjawa untuk menjala ikan,
Jala hampir robek penuh dengan ikan tuna.
Betapa berharganya kita di mata Tuhan,
Ia mengutus Anak-Nya menebus dosa kita.

Wonogiri, Salib tanda keselamatan
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Pengampunan yang Membebaskan

9/13/2026

0 Comments

 
Puncta 13 september 2026
Minggu Biasa XXIV
Matius 18:21-35

KERAHIMAN Tuhan nampak dalam tindakan Uskup Myriel kepada Jean Valjean. Ketika Valjean diberi tumpangan dan makan malam yang sedap, ia malah tertarik dengan senduk dan garpu dari perak yang mahal. 

Valjean baru saja keluar dari penjara. Dia tak punya gantungan hidup dan masa depan. Dengan mencuri senduk garpu perak, dia bisa memulai kehidupan baru. 

Maka setelah makan malam, dia menyelinap ke dapur untuk mencuri peralatan perak.

Malang tak bisa ditolak, Uskup Myriel yang murah hati memergoki perbuatannya. Tanpa pikir panjang dihantamnya sang uskup sampai pingsan. Ia lari dengan hasil curiannya. 

Tapi polisi menangkap dan menggiringnya kembali ke wisma uskup. Polisi kaget ketika bapak uskup menyapa; “Jangan lupa, jangan pernah lupa. Kau semalam bilang akan menjadi manusia baru." 

Valjean menjawab, “Aku berjanji. Tapi kenapa kau lakukan ini padaku?”

“Jean Valjean, saudaraku,” kata Bapak Uskup lirih. “Kau bukan lagi milik kejahatan. Dengan perabotan perak ini aku telah membeli jiwamu. Aku telah menebusmu dari ketakutan dan kebencian. Kini aku mengembalikanmu kepada Tuhan.”

Sejak saat itu Valjean berubah dari seorang bekas narapidana menjadi dermawan dan pengampun bagi yang membencinya. 

Kolonel Javert yang terus memburunya tetap diampuni kendati dia ingin menjebloskannya ke dalam penjara.

Ini adalah adegan awal dari Film "Les Miserables" yang terkenal itu. 

Yesus mengajarkan kepada Petrus tentang pengampunan. Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Perumpamaan hamba yang jahat dilawankan dengan raja yang murah hati. Raja itu mengampuni hambanya yang berhutang sepulur ribu talenta. Sebaliknya hamba itu tidak mau melunaskan temannya yang berhutang seratus dinar saja.

Tidak mudah untuk mengampuni. Petrus hanya sanggup sampai tujuh kali. Tetapi Tuhan menghendaki kita harus bisa mengampuni terus menerus tanpa batas, seperti Bapa yang selalu mengampuni tiada henti. 

Mari kita mohon kekuatan Tuhan agar kita bisa mengampuni saudara kita jika dia datang meminta pengampunan. 

Berbahagialah kita jika mampu mengampuni saudara kita.

Sepercik pantun buat anda:
 
Jalan-jalan ke Pantai Wonosari,
Sungguh indah ombak di Pantai Drini.
Tidak hanya sampai tujuh kali mengampuni,
Tetapi terus menerus tidak pernah berhenti.

Wonogiri, belajar mengampuni
Rm.A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Buah Semangka Berdaun Sirih.

9/12/2026

0 Comments

 
Puncta 12 September 2026
Sabtu Biasa XXIII
Lukas 6:43-49

HANYA Broery Pesolima yang bisa melihat buah semangka berdaun sirih. Dia mendendangkan lagu berjudul “Aku Begini, Engkau Begitu. 

Liriknya berbunyi; Di dalam tidur, di dalam doa. Kita berjanji. Kita bersama, kita bersatu bergandeng tangan. 

Di alam nyata, apa yang terjadi? Buah semangka berdaun sirih. Aku begini, engkau begitu Sama saja.

Isi lagu itu berbicara tentang inkonsistensi, antara apa yang diucapkan atau dijanjikan tidak sesuai dengan kenyataannya. 

Mau berjanji hidup bersama-sama, tetapi nyatanya jalan sendiri-sendiri. Akibatnya apa yang terjadi? 

Buah semangka berdaun sirih. Tidak sesuai, tidak konsisten wong buah semangka kok berdaun sirih.

Dalam kehidupan nyata kadang kita tertipu oleh penampilan luar. Apa yang kelihatan baik di luar belum tentu di dalamnya juga baik. 

Kelihatannya saleh, suka berderma dan rajin ke gereja. Ternyata melakukan korupsi dan istrinya dimana-mana.

Kelihatannya suka beribadah dan beramal, tapi di kantor otoriter dan menindas bawahannya. 

Di luar berpenampilan agamis, “jebul mung lamis,” ternyata hanya berpura-pura saja. Kemunafikan dibungkus dengan kepura-puraan.

Yesus menegaskan pentingnya konsistensi baik dalam niat batin maupun dalam tindakan nyata. 

Konsistensi berarti apa yang diucapkan, diajarkan atau dinasehatkan mesti terwujud nyata dalam tindakan dan perilaku hidup sehari-hari.

Yesus mengkritik kaum munafik dengan keras. “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” 

Tidak ada gunanya sembahyang sehari tujuh kali, kalau isi sembahyangnya tidak diwujudkan dalam tindakan nyata.

Lebih pentinglah mewujudkan apa yang didoakan daripada banyak doa-doa tetapi nihil pelaksanaan. 

Orang yang tekun mendengarkan sabda Tuhan dan rajin melaksanakannya adalah orang bijaksana yang membangun rumahnya di atas wadas.

Tidak mudah menjadi orang yang setia melakukan kehendak Tuhan. Kita siap dibully, dicemooh dan disingkirkan. Kita dianggap berbeda dengan mereka. 

Tetapi kesetiaan itu akan mendatangkan berkah bagi kita dan banyak orang. Maukah kita menghasilkan buah baik dari hati dan pikiran yang baik pula?

Sepercik pantun buat anda:

Buah semangka berdaun sirih,
Buah pepaya rasa durian.
Kalau hati kita sedang perih,
Datanglah ke hadapan Tuhan.

Wonogiri, semenjak pagi itu....
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Ghibah

9/11/2026

0 Comments

 
Puncta 11 September 2026
Jumat Biasa XXIII
Lukas 6: 39-42

RHOMA Irama membuat lagu berjudul Ghibah. Liriknya mengingatkan kita agar jangan mudah membicarakan kejelekan orang kepada khalayak ramai. 

Liriknya berbunyi demikian:

Mengapa kau suka membukakan aib sesama. Ke sana ke mari kau cerita keburukannya.
Semut yang di seberang lautan jelas kelihatan. Tapi gajah di pelupuk mata tiada kelihatan.
Oh keterlaluan

Janganlah kau sibuk mencari kelemahan orang. Periksa dirimu masih adakah kekurangan.
Semut yang di seberang lautan jelas kelihatan. Tapi gajah di pelupuk mata tiada kelihatan.
Oh keterlaluan.

Kita mudah sekali melihat kejelekan orang lain. Walaupun sekecil semut keburukan itu nampak sangat jelas. 

Namun kejelekan sendiri yang sebesar gajah di depan mata malah tidak nampak. Sifat buruk ini sering menjatuhkan diri kita.

Yesus mengingatkan kepada orang banyak agar tidak mudah melihat keburukan orang lain. Tapi berkacalah pada diri sendiri agar tidak mudah menghakimi sesama.

“Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?” kata Yesus kepada mereka.

“Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? 

Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya. Tidak ada manusia yang sempurna. Maka kita perlu menghargai saudara kita dengan menerima kekurangan dan kelebihannya. 

Kalau kita melihat ada kekurangan dari orang lain, hendaklah kita bercermin diri. Dengan bercermin diri, kita juga akan melihat kekurangan kita, bisa jadi malah lebih buruk dari orang lain. 

Dengan demikian kita bisa sadar diri dan tidak mudah menghakimi. 

Kalau kita melihat kelebihan dan kesuksesan orang lain, jangan irihati. Tetapi berusahalah untuk bisa meneladan kelebihan mereka. Belajar bagaimana mereka bisa berhasil dan sukses. Kalau mereka bisa, kita pasti juga bisa. 

Sepercik pantun buat anda:

Semut di seberang lautan tampak,
Gajah di pelupuk mata tiada tampak.
Kalau kita punya sikap yang tamak,
Kita bisa jadi manusia tak berakhlak.

Wonogiri, lapor Pak Ketua....
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
<<Previous

    Archives

    December 2034
    September 2026
    August 2026
    July 2026
    June 2026
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki