|
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
18 Comments
Puncta 14 Juni 2026
Minggu Biasa XI Matius 9:36-10:8 PADA era tahun 1980-90-an kita pernah mengalami naik kereka api yang semrawut. Penumpang berdesakan. Sering juga ada copet di dalamnya. Apalagi penumpang kereta ekonomi. Ada yang duduk menggelar koran di lorong-lorong. Bahkan berdiri di celah antara gerbong dekat WC yang bau. Pedagang asongan bebas berkeliaran di dalam gerbong. Suasana stasiun yang kumuh dengan ruang tunggu yang kotor. Penumpang bergelantungan dan naik ke atap kereta. Calo-calo secara terang-terangan menjual tiket di dekat parkiran stasiun. Kondisi seperti itu sudah berjalan bertahun-tahun, tanpa perubahan. Lucunya penumpang sampai berdesak-desakan di dalam kereta, tapi pendapatan perusahaan itu justru merugi. Tidak ada pembangunan dan perubahan yang signifikan untuk membenahi perkereta-apian. Lalu masuklah seorang Ignatius Jonan tahun 2009. Melihat situasi yang memprihatinkan itu, dia mulai sesuatu dari yang kecil dan nampak sepele yakni membersihan toilet di gerbong dan stasiun-stasiun. Ruang tunggu dibuat nyaman dan bersih. Pedagang ditata dengan baik. Ketika mulai terlihat ada perubahan, dia masuk ke sistem tiketing dan penggajian karyawan. Tidak ada lagi tiket manual, karena disinilah celahnya korupsi. Gaji karyawan dinaikkan. Hasilnya sangat dirasakan banyak orang. Naik kereta api seperti layaknya naik pesawat terbang. Bahkan rakyat sekarang lebih memilih Kereta Api daripada naik pesawat yang sangat mahal dan sering delay berjam-jam. Jonan datang membawa visi perbaikan dan melaksanakannya dari yang kecil dan sederhana. Dalam Injil hari ini, Yesus menjalankan misi-Nya melihat orang banyak, yang terlantar, lelah seperti domba yang tidak punya gembala. Ia melihat masalah yang dihadapi orang banyak dan berbuat sesuatu untuk menyelesaikan masalah mereka. Ia memanggil para murid dan melibatkan mereka untuk ambil bagian karena “tuaian banyak namun pekerjanya sedikit.” Ia memberi mereka tugas yang jelas. “Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Mereka diminta untuk fokus dalam tugas dan konsisten dalam bertindak. "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Seperti Jonan, kita juga dipanggil oleh Tuhan membangun Kerajaan Allah.. “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.” Kita bisa mulai dari yang kecil dan sederhana namun berdampak bagi perbaikan bersama. Sepercik pantun buat anda: Perahu retak mengarungi lautan, Tenggelam dihantam badai taufan. Orang benar malah disingkirkan, Koruptor justru diberi kedudukan. Wonogiri, dipanggil menjadi murid-Nya Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 13 Juni 2026
Pw. Hati Tersuci St. Perawan Maria Matius 5:33-37 atau RUybs KALAU kita mengikuti upacara sumpah jabatan di instansi pemerintah, semua dilakukan dengan serius dan tertib teratur. Sumpah jabatan adalah acara yang tidak main-main. Bahkan ada petugas agama dengan menumpangkan Kitab Suci segala. Mereka bersumpah kepada Tuhan. Baru satu setengah tahun dilantik sebagai Kepala Badan Gizi Nasional, tiba-tiba dicopot bersama dua wakilnya karena diduga melakukan korupsi program MBG oleh Kejaksaan Agung. Belum lama disumpah tetapi sudah melanggar dengan membuat yayasan-yayasan untuk menampung dana milyaran rupiah setiap harinya. Bersumpah berarti meneguhkan komitmen kita pada Tuhan. Setiap sumpah bersifat mengikat karena melibatkan Allah sebagai saksi dan penjamin kita. Mungkin karena sumpah itu terlalu berat, para tetua Yahudi membuat celah dengan membuat sumpah yang lebih ringan. Sumpah kepada Tuhan sangat sulit dilaksanakan, maka mereka membuat sumpah kepada bumi, langit, Yerusalem, mesbah dan benda-benda lain yang kurang mengikat. Kalau gagal memenuhi sumpah bisa dimaafkan. Kalau gagal bersumpah pada Tuhan sangat berat dosanya. Dalam perikope ini Yesus ingin meluruskan pemikiran dan perilaku yang keliru dari para pemimpin Yahudi. Yesus sedang mengkritik sikap dan perilaku yang menipu dengan mengucap sumpah. Para pemimpin bersikap munafik dengan bertumpu pada legalisme hukum. Sumpah-sumpah jabatan seperti hanya sebuah permainan kepura-puraan saja. Sebuah ritual yang tidak ada maknanya. Karena antara apa yang dijanjikan jauh dari apa yang dilakukan. Belum lama orang disumpah untuk tidak korupsi atau menerima gratifikasi, eh…..tahu-tahu sudah ditangkap KPK dan dimasukan ke jeruji besi. Inilah situasi yang terjadi mengapa Yesus melarang orang bersumpah. Ia tidak meniadakan segala sumpah, tetapi Ia sedang menyoroti sikap hati dan kebiasaan yang menipu dengan dalih-dalih aturan-aturan agama buatan manusia. Yesus mengajak para murid-Nya membangun integritas dalam pelayanan. Kepercayaan itu mahal harganya dan harus dibangun dengan terus menerus. Orang yang dipercaya berarti diberi tanggungjawab besar. Integritas pribadi dipertaruhkan disana. Maka Yesus berkata, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Di sini kita bisa mengukur kemampuan dan integritas pribadi kita. Sepercik pantun buat anda: Koruptor dipenjara tidak masalah, Hartanya sudah numpuk tujuh turunan. Janganlah kita mudah bersumpah, Semua perbuatan harus dipertanggungjawabkan. Wonogiri, koruptor tertawa hahahihi Rm. A.Joko Purwanto,Pr Puncta 12 Juni 2026
HR Hati Yesus yang Mahakudus Matius 11:25-30 KUNJUNGAN pastoral ke lingkungan-lingkungan kami lakukan tiap hari Rabu sore sampai malam karena jarak yang jauh. Kami menemui umat di kampung-kampung yang sederhana. Kebanyakan dari mereka adalah nenek-nenek yang lanjut usia. Pengalaman hidup menempa mereka untuk hidup apa adanya dan percaya pada kebaikan Tuhan. “Gusti punika mahasae Rama, saben dinten wontenipun namung matur nuwun,” kata mBah Samijem. (Tuhan itu mahabaik, setiap hari adanya cuma bersyukur pada-Nya) Mbah Sunardi kendati hidup sebagai umat Katolik sendirian di kampung, namun kebaikan Tuhan dirasakan melalui tetangga-tetangga sekitarnya. “Gusti mboten sare, Rama. Gusti tansah ngamping-ngampingi kula.” (Tuhan selalu ada, Tuhan selalu mendampingi saya) Orang-orang kecil, sederhana dan jujur seperti Mbah Nardi dan Mbah Samijem mengajari kita untuk percaya pada penyelenggaraan Tuhan. Seperti mereka yang percaya, Tuhan selalu ada dan memberi damai dan ketentraman. Kepasrahan hidup dan hanya mengandalkan Tuhan bisa ditemukan dalam diri kaum kecil dan sederhana. Keyakinan mereka akan penyelenggaraan Tuhan sungguh mendalam. Iman mereka tidak rumit dan “neka-neka.” Semua sudah diatur oleh Yang Mahakuasa, yang ada di atas sana. Kita tinggal menyesuaikan dengan kehendak-Nya. Semangat itulah yang dihayati juga oleh Yesus, ketika Dia berdoa, "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.” Orang kecil tidak butuh ilmu teologi yang rumit dan muluk-muluk. Mereka percaya, “Gusti mboten sare.” Tuhan tidak pernah tidur. Ia mengatur segala sesuatu baik adanya. Kita tinggal menjalani sesuai dengan kehendak-Nya. “Manungsa namung sakdrema nglampahi.” Menjalani hidup dengan keyakinan bahwa Tuhan tidak jauh dan menyelenggarakan hidup kita dengan penuh kasih sayang membawa hati menjadi teduh, damai dan tentram. Kita dicintai oleh Hati Yesus yang Mahakudus. Hati Yesus selalu berpihak pada kita yang kecil, lemah dan menderita. Ia senantiasa berbelaskasih bagi kaum kecil dan sederhana. Mari kita selalu datang kepada hati-Nya. Sepercik pantun buat anda: Orang antri sampai di jalan raya, Karena pertalite semakin langka. Yesus mengasihi yang menderita, Hati-Nya penuh belarasa dan cinta. Wonogiri, mengasihi sampai ke lubuk hati Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 11 Juni 2026
Pw. St. Barnabas, Rasul Matius 5:20-26 atau RUybs NAMA aslinya adalah Yusuf. Ia lahir di Siprus sebagai keturunan Yahudi. Ia diberi nama baru, Barnabas oleh orang-orang yang mengenalnya karena perilakunya yang memberi semangat dan memberi penghiburan sehingga banyak orang bersukacita. Ia mempunyai visi ke depan yang baik dan berpikir positif terhadap orang lain. Hal ini nampak dari sikap penerimaannya terhadap Saulus. Ketika banyak orang Kristen awal mencurigai dan menolak Saulus, Barnabas justru mencari dia dan menjemputnya untuk karya penginjilan. Barnabas mendamaikan Saulus dengan pemimpin jemaat di Yerusalem. Barnabas juga yang menyatukan jemaat Antiokia dengan Yerusalem dalam masalah hukum sunat. Sesuai namanya, ia memberi penghiburan damai dan sukacita bagi semua orang sehingga jemaat tumbuh berkembang. Barnabas diutus untuk memimpin jemaat di Antiokia. Karena keteladanan dan tatakelolanya yang baik, maka gereja Antiokia berkembang pesat. Bahkan di Antiokhia inilah para pengikut Yesus pertama kali disebut 'Kristen'. Barnabas memimpin jemaat tidak dengan aturan kaku, tetapi dengan hati penuh kasih. Ia diminta untuk mengembangkan jemaat baru di Antiokhia. Ia tidak datang dengan niat akan mendisiplinkan mereka, melainkan seperti yang kita baca, 'ia datang dan melihat kasih karunia Allah, ia bersukacita dan ia menasihati mereka semua untuk tetap setia kepada Tuhan dengan pengabdian yang teguh.' Kalau tidak ada Barnabas, bisa jadi tidak ada Paulus yang mewartakan Injil kepada segala bangsa bukan Yahudi. Barnabas juga seorang pemimpin yang rendah hati. Setelah Paulus bertumbuh menjadi rasul hebat, Barnabas mundur dan namanya lama kelamaan tidak disebut. Semangat kepemimpinan Barnabas ini sesuai dengan sabda Kristus. Memimpin bukan soal kaku dan keras menjalankan hukum tetapi melakukannya dengan setulus hati dan sekuat tenaga. Yesus berkata: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Mari kita belajar dari Santo Barnabas, yang tulus ikhlas, rendah hati dan gigih mewartakan Kristus sampai mati sebagai martir di daerah asalnya sendiri, Siprus. Sepercik pantun buat anda: Kemarau panjang panasnya makin tinggi, Lebih panas hati buruh yang nunggu gaji. Barnabas orang yang jujur dan rendah hati, Mengorbitkan Paulus jadi rasul yang sejati. Wonogiri, menjadi Barnabas zaman ini Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 10 Juni 2026
Rabu Biasa X Matius 5:17-19 DALAM kisah wayang ada lakon “Semar Bangun Kahyangan.” Niat Semar ini dianggap oleh para pejabat Kerajaan Amarta sebagai pemberontakan terhadap kuasa para dewa. Semar dituduh ingin membuat kahyangan tandingan atau menghapus Kahyangan yang dihuni para dewa. Padahal yang dimaksud Semar adalah ingin membangun moral kehidupan rakyat agar semua orang mengalami “tata tentrem gemah ripah loh jinawi.” Moral hidup yang baik akan menuntun rakyat menuju damai sejahtera. Itulah maksud sesungguhnya dari Semar. Ia tidak ingin menandingi Kahyangan dengan hukum-hukumnya atau memberontak untuk memusnahkan kuasa para dewa yang mengatur kehidupan manusia. Semar ingin memperbaiki moral kehidupan manusia yang sudah menyeleweng dari hukum-hukum kehidupan. Dalam perikope Injil hari ini, Yesus juga menegaskan bahwa Dia datang tidak untuk meniadakan Hukum Taurat. Ini adalah tuduhan ahli-ahli Taurat dan para penatua Yahudi yang mencurigai tindakan-tindakan Yesus yang melanggar hukum. Misalnya, Yesus sering menyembuhkan orang pada hari Sabat. Para pemimpin Yahudi menambah banyak aturan dan tradisi yang membebani sehubungan Sabat. Mereka tidak boleh melakukan pekerjaan yang besar. Hukum buatan manusia lebih diutamakan daripada perintah Tuhan. Itulah yang ditekankan para ahli kitab. Yesus ingin mengembalikan pelaksanaan hukum secara benar. Para ahli kitab telah mencampuradukkan standar kekudusan mereka sendiri dengan standar Allah sehingga mereka menuduh Yesus melanggar hukum Sabat. Bagi Yesus yang penting dan utama bukan menjaga kemurnian hukum Taurat, tetapi bagaimana hukum Taurat itu diimplementasikan dengan benar dalam kehidupan sehari-hari. Taurat hanya berarti jika perilaku orang dijiwai olehnya. Sama halnya dengan moral hidup kita yang dituntun oleh Pancasila. Pancasila hanya bermakna jika diterapkan dalam kehidupan nyata. Apa artinya Pancasila, kalau moral dan perilaku kita justru jauh dari nilai-nilai Pancasila. Apa gunanya Pancasila kalau kita melakukan kekerasan, penindasan, kolonialisme baru, korupsi, intoleransi dan persekusi masyarakat kecil. Agama jangan hanya sebagai jargon kosong yang tidak ada maknanya bagi kehidupan nyata. Substansi agama dan nilai-nilainya harus diwujudnyatakan dengan benar. Sepercik pantun buat kita: Kita menyebut diri bangsa relijius, Tetapi korupsi terjadi terus menerus. Kita bangga disebut bangsa beragama, Tetapi penindasan terjadi dimana-mana. Wonogiri, wujudkan nilai yang benar. Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 9 Juni 2026
Selasa Biasa X Matius 5:13-16 DANAU yang kadar garamnya sangat tinggi adalah Laut Mati atau The Dead Sea di Lembah perbatasan Yordania dan Palestina. Disebut demikian karena kandungan garam setiap liter air di sana mencapai 340 gram, sehingga tidak memungkinkan biota air bisa hidup di dalamnya. Saking tingginya kadar garam di Laut Mati membuat orang bisa mengapung tanpa tenggelam seperti gabus saja. Namun ajaibnya lumpur di Laut Mati bisa dimanfaatkan orang untuk diproduksi menjadi obat-obat kecantikan seperti sabun, body lotion dan lainnya. Garam memang memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Masakan menjadi lezat karena diberi sedikit garam. Untuk menghilangkan capek, pegal linu, orang mandi dengan air hangat dicampur garam. Untuk mengusir binatang buas seperti ular, kita sering menabur garam di tanah. Untuk menghalau hujan petir dan kilat, orang juga menabur garam di halaman rumahnya. Garam diyakini sangat berguna bagi macam-macam kepentingan. Oleh karena banyak gunanya bagi kehidupan, Yesus menegaskan kita semua untuk menjadi garam dunia. "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” Kita sering diberi nasehat oleh orangtua agar “urip sing migunani tumrap liyan,” artinya hidup kita ini mesti berguna bagi orang lain. Seperti garam yang memiliki kegunaan banyak bagi kehidupan. Di lain waktu, orangtua juga mengajak kita agar, “urip iku kudu urub,” hidup itu mesti menyala, menjadi terang bagi dunia sekitarnya. Terang itu tidak untuk dirinya sendiri. Bahkan kita harus dibakar habis, sakit, berkorban, mengosongkan diri bagi sesama kita seperti buluh. “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga," sabda Yesus. Marilah kita menjadi garam dan terang. Jangan membuat tawar tanpa rasa, hambar tanpa guna. Jangan kita membuat gelap sekitar sehingga dunia semakin kacau balau. Sepercik pantun buat kita: Banyak orang menumpuk harta, Ujung-ujungnya ditangkap kapeka. Hidup sederhana lebih mulia, Daripada korupsi bikin hati tak bahagia. Wonogiri, menjadi garam dan terang dunia Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 7 Juni 2026
HR Tubuh dan Darah Kristus Yohanes 6:51-58 ZAMAN milenial ini muncul anak muda yang menjadi santo atau orang kudus yakni Santo Carlo Acutis yang meninggal pada usia 15 tahun karena sakit leukimia. Walaupun usianya masih remaja, Carlo sangat mencintai Ekaristi. Tiap hari dia menerima komuni. Hari ini anak-anak kita menerima komuni pertama. Kita bisa belajar dari cara hidup Carlo Acutis yang tidak pernah lowong mengikuti Ekaristi. Cintanya pada Tubuh dan Darah Kristus diwujudkan dengan kesetiaannya menerima komuni dengan mengikuti misa harian dan mingguan. Carlo Acutis menganggap bahwa “Ekaristi adalah jalan tol ke sorga.” Dalam tulisan di websitenya, ia berkata, ”Semakin kita sering menerima Ekaristi, semakin kita menyerupai Yesus, sehingga di bumi ini kita akan merasakan seperti surga.” Seperti remaja lainnya, dia suka main game, sepakbola dan internet. Dia mengumpulkan mukjizat-mukjizat Ekaristi di dalam situs webnya. Maka dia diangkat sebagai “Santo pelindung Internet,” oleh Paus Fransiskus. Menjadi orang kudus bisa dicapai oleh siapa pun asalkan kita tekun dan setia menjalani hidup kita demi kemuliaan Tuhan dan sesama. Hidup kita bisa kita persembahkan demi kebaikan orang banyak dan Tuhan yang mengasihi kita. Bahkan ketika divonis sakit leukimia yang parah, Carlo tidak mengeluh, tetapi mempersembahkan sakitnya untuk Tuhan, Paus Benediktus XVI, dan Gereja. Semua ini karena cintanya pada Kristus dalam Ekaristi. Hari ini Yesus mengatakan kepada orang banyak tentang Tubuh dan Darah-Nya yang diberikan untuk dunia. “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.” Yesus memberikan Tubuh dan Darah-Nya dalam Ekaristi. Yesus berjanji akan memberikan hidup kekal dan membangkitkan kita pada akhir zaman, jika kita mau dan setia makan Tubuh dan Darah-Nya melalui Ekaristi. Para calon komuni pertama, mari kita rajin dan setia mengikuti Ekaristi, menerima Tubuh Kristus setiap hari agar kita punya tiket tol untuk menuju ke sorga. Sepercik pantun buat anda: Carlo Acutis santo paling muda, Ia jadi teladan bagi remaja di dunia. Mari kita sering Ekaristi di gereja, Agar hidup suci bagi Tuhan dan sesama. Wonogiri, Roti Hidup dari sorga Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 6 Juni 2026
Sabtu Biasa VIII Markus 12:38-44 DALAM kunjungan keluarga di lingkungan, kami mendengar sharing iman yang luar biasa dari seorang bapak yang harus menghidupi keluarganya dengan perjuangan berat harus mengorbankan hidupnya. Ia mengalami kesulitan ketika istrinya melahirkan anak kembar dengan operasi caesar. Waktu itu dia tak punya pekerjaan tetap dan harus menebus biaya persalinan sebesar 45 juta. Dalam kesulitan, ada orang penting punya jabatan menawari pekerjaan. Yang harus dikerjakannya adalah merakit onderdil sepeda motor dan menjualnya ke pasar. Ia terpaksa menjalaninya demi mendapatkan uang untuk menebus anak-anak dan istrinya keluar rumah sakit. Namun nasibnya sungguh malang. Ia ditangkap polisi dan ditahan. Ia mengalami penyiksaan berat di tahanan. Dengan menahan sakit dan derita fisik yang berat dia menjalani hukuman selama hampir dua tahun. Sebelum ditahan dia hanya bisa memberi istrinya uang 70 ribu untuk menyambung hidup bersama anak-anaknya. Namun seluruh hidupnya dipertaruhkan agar keluarganya dapat hidup dengan baik. Ia memberikan nyawanya untuk keluarganya. Dia berkata, “Walau saya miskin, tetapi saya tidak akan menggadaikan iman kepada Yesus hanya demi harta atau kuasa.” Yesus duduk di pintu gerbang bait suci. Ia melihat orang-orang memasukkan uang ke peti persembahan. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya." Pesan moral dari kisah ini adalah untuk dapat berbagi, kita tidak perlu menunggu kaya raya. Siapapun bisa berbagi dengan tulus dan ikhlas. Untuk berbuat baik tidak harus menunggu semuanya sempurna. Kita juga bisa memberi kebahagiaan pada orang lain dari kekurangan kita. Janda miskin menjadi contoh bagi kita. Dia memberi dari kekurangannya. Semua yang ada padanya disumbangkan tanpa memperhitungkan hidupnya sendiri. Sepercik pantun buat anda: Apalah artinya harta di dunia, Jika mati tidak ada yang bisa dibawanya. Siapakah yang disebut orang kaya, Dia yang bisa memberi dari kekurangannya. Wonogiri, persembahkan hidupmu Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 5 Juni 2026
Pw. St. Bonifasius, Uskup Martir Markus 12:35-37 atau RUybs KITA seringkali memiliki pemikiran bahwa apa yang kita lakukan adalah satu-satunya yang paling benar. Tindakan itu pasti didasari oleh sebuah keyakinan yang telah lama berkembang dalam pikiran kita. Misalnya, program MBG diyakini sebagai satu-satunya program yang akan mampu mencerdaskan anak-anak Indonesia. Program lain dihapus demi berjalannya MBG. Padahal mencerdaskan anak itu tidak hanya dari pemberian makanan saja. Masih ada komponen lain yang bisa mendukung cerdasnya seorang anak. Tetapi karena itu sudah menjadi sebuah keyakinan, maka kritik dan masukan apapun tentang MBG tidak akan mengubah keputusan dan tetap dijalankan. Yesus berhadapan dengan orang-orang yang tegar tengkuk. Para ahli Taurat dan imam-imam kepala, serta kaum Saduki dan Farisi berbeda paham tentang Mesias. Orang-orang Yahudi ini berkeyakinan bahwa Mesias adalah anak Daud. Ia harus berasal dari darah daging Daud. Seperti kaum Saduki yang memandang tidak ada kebangkitan dan merendahkan derajat kehidupan setelah mati seperti orang yang kawin dan dikawinkan, sampai-sampai mereka memberi contoh tujuh laki-laki yang beristrikan satu perempuan - begitu pula pikiran mereka tentang mesias hanya sebatas biologis-duniawi. Yesus berkata: "Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan, bahwa Mesias adalah anak Daud? Daud sendiri oleh pimpinan Roh Kudus berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Daud sendiri menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?" Yesus mau menekankan bahwa Mesias lebih besar dan lebih tinggi derajatnya daripada Daud. Mesias berhubungan dengan orang yang diurapi menjadi nabi, imam dan raja. Ketiga martabat itu ada dalam Diri Yesus. Sedangkan Daud hanya diurapi sebagai raja Israel. Yesus mau meluruskan paham mesianitas para ahli Taurat itu. Mesianitas Yesus bukan sebagai raja duniawi yang membebaskan Israel dari penjajahan Romawi, tetapi Raja seluruh alam semesta yang menebus dosa umat manusia. Kita pun juga perlu diluruskan dan dibersihkan agar paham mesianitas kita sesuai dengan ajaran Yesus, bukan menurut ajaran kita sendiri. Sepercik pantun buat anda: Jalan-jalan sangat bagus untuk dilewati, Sayangnya tidak ada lampu yang menerangi. Jangan suka memaksakan kehendak sendiri, Lebih baik beriman dengan kerendahan hati. Wonogiri, banyak jalan berlubang Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed