Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Hello Romo!

12/25/2034

18 Comments

 
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
18 Comments

Mater Dolorosa

9/15/2026

0 Comments

 
Puncta 15 September 2026
Pw. St. Perawan Maria Berdukacita
Lukas 7:11-17 atau RUybs Lukas 2:33-35

KETIKA kita masuk ke Gereja Makam Kudus (The Holy Sepulcre Church) di sana ada altar utama dengan salib besar dimana Tuhan Yesus tergantung. 

Di bawah altar itu ada batu dari bukit Golgota. Para peziarah sering menghormati Yesus tersalib dengan mencium batu Golgota.

Di sebelah kanan altar penyaliban ada patung Santa Perawan Maria yang ditembus oleh pedang. Hal ini mengingatkan kita semua akan dukacita Maria yang paling dalam saat menyaksikan kematian Yesus di salib. 

Tigapuluh tiga tahun sebelumnya, Simeon telah menubuatkan tentang penderitaan yang akan ditanggung Maria, ketika dia membawa bayi Yesus ke Bait Allah. 

Simeon seorang nabi yang saleh bernubuat; "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."

Maria hanya menyimpan semua perkataan itu di dalam hatinya. Kesedihan dan dukacita Maria sudah dimulai saat nubuat itu diucapkan oleh Simeon. 

Ia sudah memanggul derita salib sebelum anaknya sendiri menderita di Golgota.

Hari ini kita memperingati Santa Perawan Maria yang berdukacita. Setidaknya ada tujuh peristiwa dimana Maria mengalami dukacita. 

Kesedihannya dimulai saat Simeon berbuat di Bait Suci. Kedua, Maria,Yusuf dan bayi Yesus harus mengungsi ke Mesir karena diancam kematiannya oleh Herodes.

Ketiga, ketika Yesus hilang di Bait suci. Maria dan Yusuf mencari-Nya. ”Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” Ungkapan ini menggambarkan kesedihan Maria.

Keempat, Maria bertemu Yesus memanggul salib menuju Bukit Golgota. Ia bersama beberapa wanita mengikuti Yesus sampai di Golgota. 

Kelima, Maria berdiri di bawah salib dan menyaksikan kematian Putranya yang akan terukir abadi dalam sejarah manusia.

Keenam, Yesus diturunkan dari salib dan Maria memangku jenasah Putranya. Patung Pieta sebuah masterpiece karya Michelangelo menggambarkan kesedihan mendalam Bunda Maria. 

Penderitaan pedang ke tujuh; Maria memakamkan jenasah Yesus bersama dengan Yusuf dari Arimatea, Nikodemus dan wanita-wanita yang setia mengikuti-Nya. Derita yang sempurna dialami oleh Bunda Maria.

Inilah keteladanan iman Maria. Ia menjadi contoh bagi kita untuk setia pada Tuhan, tidak hanya dalam suka, tetapi juga dalam duka dan penderitaan. Maukah kita tetap setia walau harus menderita?

Sepercik pantun buat anda:

Dengan lutut jalan di Fatima,
Tertatih-tatih sampai di basilika.
Maria teladan ibu yang setia,
Tekun hadapi duka dan derita.

Wonogiri, Maria teladan hidupku....
Rm. A. Joko Purwanto,Pr
0 Comments

The Bridge Operator

9/14/2026

0 Comments

 
Puncta 14 September 2026
Pesta Salib Suci
Yohanes 3:13-17

ADALAH John Griffith seorang penjaga lintasan jembatan angkat di dekat sungai Missisipi. Ia bertugas untuk mengangkat tuas jembatan  angkat (drawbridge) agar kapal-kapal dapat melintas di sungai. Pada jam tertentu menurunkan jembatan supaya kereta api Memphis Express dapat lewat.

Suatu hari anak satu-satunya, Greg bermain di dekat jembatan. Secara tidak sengaja dia terjatuh di antara roda-roda gigi jembatan. 

John dengan sekuat tenaga menarik kaki anaknya. Tetapi gagal. Dia berusaha menyelamatkan anak yang disayanginya.

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar peluit tanda harus menurunkan tuas roda jembatan, agar kereta bisa lewat. Kebingungan dan kebimbangan menyergap John. Dia menghadapi dilema yang sangat besar. 

Menyelamatkan anaknya berarti nyawa 400 penumpang Kereta Memphis Express akan menjadi korban. Menurunkan tuas roda jembatan berarti mengorbankan anak satu-satunya yang sangat dikasihinya.

Dengan hati pilu dan kesedihan yang dalam, John lari ke tuas jembatan dan menurunkan roda-roda gigi (gearbox) yang besar itu. 

Hatinya hancur melihat anaknya mati dilindas roda jembatan. Para penumpang di kereta menikmati perjalanan dengan aman, nyaman penuh canda tawa.

Mereka tidak menyadari seorang bapak terduduk lemas tak berdaya, yang baru saja kehilangan anaknya yang tunggal demi keselamatan banyak orang. 

Kisah nyata ini pernah diangkat dalam Film berjudul “Most” (2003) yang memenangkan nominasi Oscar. 

Pada Pesta Salib Suci ini kita juga diselamatkan oleh Allah melalui kematian Anak-Nya yang tunggal yakni Yesus Kristus di salib. 

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Melalui salib Kristus, kita ditebus dan diselamatkan dari dosa-dosa kita. Kita yang semestinya dihukum karena dosa, namun ditebus dan diangkat oleh Kristus dengan pengorbanan-Nya di kayu salib. 

Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

Kami menyembah Dikau ya Tuhan dan bersyukur kepada-Mu sebab dengan salib suci-Mu Engkau telah menebus dunia.

Sepercik pantun buat anda:

Ke Karimunjawa untuk menjala ikan,
Jala hampir robek penuh dengan ikan tuna.
Betapa berharganya kita di mata Tuhan,
Ia mengutus Anak-Nya menebus dosa kita.

Wonogiri, Salib tanda keselamatan
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Pengampunan yang Membebaskan

9/13/2026

0 Comments

 
Puncta 13 september 2026
Minggu Biasa XXIV
Matius 18:21-35

KERAHIMAN Tuhan nampak dalam tindakan Uskup Myriel kepada Jean Valjean. Ketika Valjean diberi tumpangan dan makan malam yang sedap, ia malah tertarik dengan senduk dan garpu dari perak yang mahal. 

Valjean baru saja keluar dari penjara. Dia tak punya gantungan hidup dan masa depan. Dengan mencuri senduk garpu perak, dia bisa memulai kehidupan baru. 

Maka setelah makan malam, dia menyelinap ke dapur untuk mencuri peralatan perak.

Malang tak bisa ditolak, Uskup Myriel yang murah hati memergoki perbuatannya. Tanpa pikir panjang dihantamnya sang uskup sampai pingsan. Ia lari dengan hasil curiannya. 

Tapi polisi menangkap dan menggiringnya kembali ke wisma uskup. Polisi kaget ketika bapak uskup menyapa; “Jangan lupa, jangan pernah lupa. Kau semalam bilang akan menjadi manusia baru." 

Valjean menjawab, “Aku berjanji. Tapi kenapa kau lakukan ini padaku?”

“Jean Valjean, saudaraku,” kata Bapak Uskup lirih. “Kau bukan lagi milik kejahatan. Dengan perabotan perak ini aku telah membeli jiwamu. Aku telah menebusmu dari ketakutan dan kebencian. Kini aku mengembalikanmu kepada Tuhan.”

Sejak saat itu Valjean berubah dari seorang bekas narapidana menjadi dermawan dan pengampun bagi yang membencinya. 

Kolonel Javert yang terus memburunya tetap diampuni kendati dia ingin menjebloskannya ke dalam penjara.

Ini adalah adegan awal dari Film "Les Miserables" yang terkenal itu. 

Yesus mengajarkan kepada Petrus tentang pengampunan. Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Perumpamaan hamba yang jahat dilawankan dengan raja yang murah hati. Raja itu mengampuni hambanya yang berhutang sepulur ribu talenta. Sebaliknya hamba itu tidak mau melunaskan temannya yang berhutang seratus dinar saja.

Tidak mudah untuk mengampuni. Petrus hanya sanggup sampai tujuh kali. Tetapi Tuhan menghendaki kita harus bisa mengampuni terus menerus tanpa batas, seperti Bapa yang selalu mengampuni tiada henti. 

Mari kita mohon kekuatan Tuhan agar kita bisa mengampuni saudara kita jika dia datang meminta pengampunan. 

Berbahagialah kita jika mampu mengampuni saudara kita.

Sepercik pantun buat anda:
 
Jalan-jalan ke Pantai Wonosari,
Sungguh indah ombak di Pantai Drini.
Tidak hanya sampai tujuh kali mengampuni,
Tetapi terus menerus tidak pernah berhenti.

Wonogiri, belajar mengampuni
Rm.A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Buah Semangka Berdaun Sirih.

9/12/2026

0 Comments

 
Puncta 12 September 2026
Sabtu Biasa XXIII
Lukas 6:43-49

HANYA Broery Pesolima yang bisa melihat buah semangka berdaun sirih. Dia mendendangkan lagu berjudul “Aku Begini, Engkau Begitu. 

Liriknya berbunyi; Di dalam tidur, di dalam doa. Kita berjanji. Kita bersama, kita bersatu bergandeng tangan. 

Di alam nyata, apa yang terjadi? Buah semangka berdaun sirih. Aku begini, engkau begitu Sama saja.

Isi lagu itu berbicara tentang inkonsistensi, antara apa yang diucapkan atau dijanjikan tidak sesuai dengan kenyataannya. 

Mau berjanji hidup bersama-sama, tetapi nyatanya jalan sendiri-sendiri. Akibatnya apa yang terjadi? 

Buah semangka berdaun sirih. Tidak sesuai, tidak konsisten wong buah semangka kok berdaun sirih.

Dalam kehidupan nyata kadang kita tertipu oleh penampilan luar. Apa yang kelihatan baik di luar belum tentu di dalamnya juga baik. 

Kelihatannya saleh, suka berderma dan rajin ke gereja. Ternyata melakukan korupsi dan istrinya dimana-mana.

Kelihatannya suka beribadah dan beramal, tapi di kantor otoriter dan menindas bawahannya. 

Di luar berpenampilan agamis, “jebul mung lamis,” ternyata hanya berpura-pura saja. Kemunafikan dibungkus dengan kepura-puraan.

Yesus menegaskan pentingnya konsistensi baik dalam niat batin maupun dalam tindakan nyata. 

Konsistensi berarti apa yang diucapkan, diajarkan atau dinasehatkan mesti terwujud nyata dalam tindakan dan perilaku hidup sehari-hari.

Yesus mengkritik kaum munafik dengan keras. “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” 

Tidak ada gunanya sembahyang sehari tujuh kali, kalau isi sembahyangnya tidak diwujudkan dalam tindakan nyata.

Lebih pentinglah mewujudkan apa yang didoakan daripada banyak doa-doa tetapi nihil pelaksanaan. 

Orang yang tekun mendengarkan sabda Tuhan dan rajin melaksanakannya adalah orang bijaksana yang membangun rumahnya di atas wadas.

Tidak mudah menjadi orang yang setia melakukan kehendak Tuhan. Kita siap dibully, dicemooh dan disingkirkan. Kita dianggap berbeda dengan mereka. 

Tetapi kesetiaan itu akan mendatangkan berkah bagi kita dan banyak orang. Maukah kita menghasilkan buah baik dari hati dan pikiran yang baik pula?

Sepercik pantun buat anda:

Buah semangka berdaun sirih,
Buah pepaya rasa durian.
Kalau hati kita sedang perih,
Datanglah ke hadapan Tuhan.

Wonogiri, semenjak pagi itu....
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Ghibah

9/11/2026

0 Comments

 
Puncta 11 September 2026
Jumat Biasa XXIII
Lukas 6: 39-42

RHOMA Irama membuat lagu berjudul Ghibah. Liriknya mengingatkan kita agar jangan mudah membicarakan kejelekan orang kepada khalayak ramai. 

Liriknya berbunyi demikian:

Mengapa kau suka membukakan aib sesama. Ke sana ke mari kau cerita keburukannya.
Semut yang di seberang lautan jelas kelihatan. Tapi gajah di pelupuk mata tiada kelihatan.
Oh keterlaluan

Janganlah kau sibuk mencari kelemahan orang. Periksa dirimu masih adakah kekurangan.
Semut yang di seberang lautan jelas kelihatan. Tapi gajah di pelupuk mata tiada kelihatan.
Oh keterlaluan.

Kita mudah sekali melihat kejelekan orang lain. Walaupun sekecil semut keburukan itu nampak sangat jelas. 

Namun kejelekan sendiri yang sebesar gajah di depan mata malah tidak nampak. Sifat buruk ini sering menjatuhkan diri kita.

Yesus mengingatkan kepada orang banyak agar tidak mudah melihat keburukan orang lain. Tapi berkacalah pada diri sendiri agar tidak mudah menghakimi sesama.

“Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?” kata Yesus kepada mereka.

“Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? 

Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya. Tidak ada manusia yang sempurna. Maka kita perlu menghargai saudara kita dengan menerima kekurangan dan kelebihannya. 

Kalau kita melihat ada kekurangan dari orang lain, hendaklah kita bercermin diri. Dengan bercermin diri, kita juga akan melihat kekurangan kita, bisa jadi malah lebih buruk dari orang lain. 

Dengan demikian kita bisa sadar diri dan tidak mudah menghakimi. 

Kalau kita melihat kelebihan dan kesuksesan orang lain, jangan irihati. Tetapi berusahalah untuk bisa meneladan kelebihan mereka. Belajar bagaimana mereka bisa berhasil dan sukses. Kalau mereka bisa, kita pasti juga bisa. 

Sepercik pantun buat anda:

Semut di seberang lautan tampak,
Gajah di pelupuk mata tiada tampak.
Kalau kita punya sikap yang tamak,
Kita bisa jadi manusia tak berakhlak.

Wonogiri, lapor Pak Ketua....
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Mengasihi Tanpa Batas

9/10/2026

0 Comments

 
Puncta 10 September 2026
Kamis Biasa XXIII
Lukas 6: 27-38

SETELAH Mahabarata usai, para Pandawa melakukan perjalanan pelepasan diri agar mereka siap menghadapi kematian. 

Segalanya telah ditinggalkan. Kerajaan, kemenangan, kemuliaan dan gemerlapnya segala kesenangan dunia.

Mereka berjalan berenam bersama Drupadi, istri Pandawa. Tiba-tiba seekor anjing muncul dan mengikuti mereka dari belakang. 

Perjalanan ini sungguh berat, panjang dan melelahkan. Satu per satu para Pandawa jatuh dan mati dalam keheningan.

Tinggal Puntadewa dan anjingnya yang setia dari awal sampai akhir. Ketika Dewa Indra menjemput Puntadewa untuk masuk ke swargaloka, Putra Kunti itu mengajukan syarat. 

“Saya akan masuk ke surga bersama anjing yang setia ini. Jika tidak, saya lebih baik tetap tinggal di sini.”

“Saudaramu sedarah daging saja kautinggalkan, kenapa anjing kotor ini lebih kaupikirkan keselamatannya?” tanya Dewa Indra. 

“Saudaraku telah menempuh jalannya sendiri. Mereka telah melakukan darmanya di dunia. Anjing ini telah setia berjalan bersamaku. Makhluk terkecil, hina dan kotor sekalipun akan tetap kulindungi dan kukasihi karena itulah wujud nyata darma manusia.”

“Harta terkaya di dunia ini bukan emas yang berkilau, melainkan jiwa yang saling mengasihi dalam keheningan tanpa menghitung berapa besarnya,” lanjut Puntadewa. 

“Cinta tidak pernah menghitung apa yang telah diberi. Kesetiaan tidak menuntut apa yang harus dikembalikan. Anjing ini telah memberikan hidupnya untuk menemaniku dengan setia. Aku akan mengasihi sebagaimana ia telah mengasihi.”

Yesus mengajarkan hukum yang paling tinggi yaitu Hukum Kasih. Kasih diwujudkan dalam tindakan nyata yaitu darma atau bakti kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir. 

Kasih yang nyata tidak mengharapkan balasan dan tidak dihitung-hitung sebagai hutang budi. 

Yesus tidak hanya mengajarkan kasih kepada yang berbuat baik, tetapi kasih juga dilakukan untuk  mereka yang membenci dan memusuhi.

"Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.”

Landasan ajaran Yesus adalah kasih Allah Bapa sendiri. ”Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." 

Karena Bapa telah mengasihi kita lebih dulu, maka kita pun diajak mengasihi sesama sebagaimana Dia telah mengasihi kita.

Marilah kita melakukan darma kita di dunia yakni dengan saling mengasihi tanpa pamrih dan tulus ikhlas tanpa mengharapkan balasan yang setimpal. Tuhan sendirilah yang akan membalasnya.

Sepercik pantun:

Tiket pesawat mahal sekali,
Lebih baik pergi jalan kaki.
Hendaklah kamu murah hati,
Seperti Allah telah mengasihi.

Wonogiri, saling mengasihi
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Urip Iku Kaya Cakra Manggilingan

9/9/2026

0 Comments

 
Puncta 9 September 2026
Rabu Biasa XXIII
Lukas 6:20-26

KALIMAT dalam Bahasa Jawa ini adalah sebuah pepatah yang selalu bisa mengingatkan kita bahwa hidup itu selalu berputar. 

Ibaratnya sebuah roda yang terus berjalan, kita bergerak maju seperti roda; kadang berada di atas, namun tidak jarang berada di bawah.

Kondisi di atas adalah ketika sedang mengalami kesuksesan, kebahagiaan, kelimpahan dan sukacita. 

Kondisi di bawah saat kita sedang terpuruk, gagal, jatuh dan hancur dalam usaha dan cita-cita kita.

Sebagaimana roda yang berputar, kita tidak boleh sombong dan takabur saat berada di atas. Kalau sedang berada di bawah, kita tetap memiliki harapan, tidak putus asa dan berhenti berusaha. Segala sesuatu ada waktunya.

Sabda Yesus hari ini mengingatkan kita agar tidak putus asa kalau sedang menghadapi kesulitan. "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. 

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.”

Kita juga diingatkan agar tetap waspada dalam kelimpahan dan gelimangnya kesuksesan. “Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. 

Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.”

Waktu terus berjalan. Hidup terus bergerak dan kita akan menuai apa yang kita taburkan. Kadang sesuatu terjadi tidak seperti yang kita harapkan. Maka kita mesti siap siaga dan tidak pernah menyerah. 

Senang-sedih, sukses-gagal, tawa canda-tangis derita, terang-gelap, jatuh-bangun selalu akan kita hadapi dalam perjalanan hidup yang seperti roda berputar. 

Kegagalan jangan membuat kita putus asa dan terpuruk. Keberhasilan jangan membuat kita sombong dan terlena.

Dalam situasi apapun tetap berpegang dan mengandalkan Allah semata-mata. Janji-Nya kepada kita adalah “Aku akan menyertai kamu sampai akhir zaman.” 

Maka jangan sampai terputus oleh penyertaan dan perlindungan-Nya.

Sepercik pantun buat anda:

Anak Krakatau menyebarkan abu,
Terbawa angin sampai ke Pulau Seribu.
Hidup akan terus berjalan maju,
Segalan sesuatuya akan segera berlalu.

Wonogiri, jangan pernah putus asa
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Yang Hina Diangkat-Nya

9/8/2026

0 Comments

 
​Puncta 8 September 2026
Pesta Kelahiran St. Perawan Maria
Matius 1:1-16.18-23

DALAM silsilah Yesus yang ditulis Matius, banyak nama-nama kaum lelaki yang ditonjolkan. Bisa dimaklumi karena budaya masyarakat waktu itu mengikuti pola paternalistik. 

Kaum laki-laki lebih dominan dan diperhitungkan. Sementara kaum perempuan tidak diperhitungkan.

Namun yang mengherankan justru di antara nama-nama kaum Adam itu terselib empat nama perempuan yaitu; Tamar, Rut, Istri Uria yang namanya Bersyeba dan Maria. Mereka ini bukan orang hebat, tetapi wanita biasa yang tidak diperhitungkan. 

Tamar melacurkan diri supaya Yehuda memperoleh keturunan. Rut adalah wanita di luar bangsa terpilih. Ia adalah wanita Moab yang ikut mertuanya kembali ke Israel. 

Bersyeba wanita cantik yang menggoda Daud sampai raja berbuat dosa dengan tipu daya membunuh Uria, suaminya yang menjadi prajurit Daud.

Maria adalah gadis biasa dari desa yang miskin dan sederhana. Ia mengandung dari kuasa Roh Kudus. 

Tetapi justru Allah dengan kebijaksanaannya memilih wanita-wanita itu untuk menjadi garis keturunan Sang Penebus. Allah dengan kesadarannya memilih wanita-wanita yang lemah dan hina untuk menjadi saluran keselamatan.

Allah menggunakan keterbatasan dan kehinaan manusia untuk menyelamatkan dan menebus apa yang kurang dalam diri manusia. Allah memang memilih dengan sadar agar manusia yang lemah ini ikut ambil bagian dalam karya penyelamatan-Nya.

Ia tidak memilih orang yang sempurna, berkuasa dan serba superhero, tetapi justru menggunakan kerendahan dan kehinaan manusia untuk menyalurkan jalan keselamatan. Apa yang rendah di mata manusia justru dimuliakan oleh Tuhan.

Hari ini kita merayakan pesta kelahiran Maria. Dia yang merendahkan diri di hadapan Allah sebagai abdi dijunjung sangat tinggi untuk menjadi pengantara ilahi, yaitu melahirkan Kristus Sang Penyelamat Dunia. 

Jalan Tuhan memang tidak mudah dipahami. Tetapi yang pasti, Dia bertindak dulu untuk mengasihi dan menyelamatkan manusia. 

Kita bersyukur karena Maria dianugerahkan kepada kita menjadi teladan kerendahan dan ketaatan pada kehendak ilahi.

Sepercik pantun buat anda:

Terjadi Karhutla, erupsi dan gempa,
Peringatan Tuhan untuk kita semua.
Yang hina dina di mata manusia,
Dijunjung tinggi oleh Allah di surga.

Wonogiri, selamat pesta Maria
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Konflik Batin di Biara

9/7/2026

0 Comments

 
Puncta 7 September 2026
Senin Biasa XXIII
Lukas 6:6-11

SEORANG suster menghadapi dilema antara ikuti aturan di komunitas atau menolong orang yang sakit kritis.

Ia mempunyai jiwa sosial yang tinggi karena pernah bertugas di pedalaman yang sangat membutuhkan pertolongan tenaga medis.

Suatu kali dia dimarahi pimpinan komunitas (piko) karena tidak ikut ibadat siang. Ia pergi menolong seorang ibu yang kesulitan saat melahirkan. 

Berkali-kali dia ditegur oleh pikonya karena sering mendapat panggilan darurat untuk menolong orang sakit.

Tetapi suster ini lebih memilih menolong orang daripada doa harian di komunitas. Baginya membantu orang lain yang sedang menghadapi ajal adalah wujud dari doanya juga. 

“Doa ibadat toh bisa kita lakukan setiap saat, tetapi segera bertindak untuk orang sakit harus dilakukan saat itu, kalau tidak, nyawa orang jadi taruhannya,” katanya.

Yesus berhadapan dengan kaum Farisi yang kaku dan keras terhadap aturan Taurat. Mereka memaksa orang lain untuk mengikuti hukum Taurat. 

Salah satunya adalah aturan hukum Sabat. Mereka mengamat-amati Yesus apakah Dia mentaati Sabat atau tidak.

Tetapi Ia mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati tangannya itu: "Bangunlah dan berdirilah di tengah!" 

Maka bangunlah orang itu dan berdiri. Yesus berkata kepada mereka: "Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?"

Mereka tidak menjawab apa-apa. Yesus tahu kedegilan hati mereka. Kendati orang-orang itu pasti akan marah kepada-Nya, tetapi Yesus tetap menyembuhkan orang sakit itu. 

Yesus menegaskan bahwa hari Sabat untuk menyelamatkan dan berbuat baik bukan sekedar mematuhi aturan kaku.

Dengan terang-terangan Yesus berkonfrontasi dengan para ahli Taurat untuk membongkar kemunafikan mereka yang lebih memilih aturan-aturan Taurat daripada menolong dan menyelamatkan nyawa orang. 

Bagaimanakah sikap kita jika menghadapi dilema seperti ini? Apakah kita berani melawan arus demi menyelamatkan dan menolong orang?

Sepercik pantun buat kita:

Di kamar ada lukisan Raden Saleh,
Warnanya indah tak pernah meleleh.
Jangan berpura-pura berlaku saleh,
Kalau hati kita tidak bisa sumeleh.

Wonogiri, selalu berbuat kasih
Rm.A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
<<Previous

    Archives

    December 2034
    August 2026
    July 2026
    June 2026
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki