|
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
18 Comments
Puncta 31 Oktober 2026
Sabtu Biasa XXIX Lukas 14.1.7-11 KALAU kita masuk gereja, sering dijumpai kursi-kursi terdepan tidak terisi alias kosong. Begitu pula kalau ada rapat-rapat di aula gereja. Orang sungkan untuk duduk di depan dengan berbagai alasan. Ada yang tidak ingin dianggap sombong. Ada yang merasa tidak pantas duduk di kursi terhormat. Kursi-kursi di depan adalah tempat duduk orang-orang penting yang dihormati. Banyak orang merasa tidak layak duduk di depan. Dalam kutipan Injil hari ini, Yesus mengajarkan sikap kerendahan hati kepada siapapun. Perlu dibaca dengan teliti bahwa Yesus bercerita koteksnya pada sebuah pesta perkawinan. Bukan di rumah ibadat atau dalam pertemuan atau rapat. Dalam pesta perkawinan pasti ada undangan. Undangan juga dibedakan ada VVIP dan undangan biasa. Jadi sudah jelas mana tempat-tempat yang disediakan untuk mereka yang diundang pesta. Kalau undangan biasa kok duduk di VVIP pasti akan diusir. Kalau anda termasuk undangan VVIP tetapi duduk di belakang pasti akan diminta maju ke depan, di tempat yang sudah disediakan. Dalam perjamuan perkawinan sudah terbiasa diterapkan aturan begitu. Tetapi kita sering mencampuradukkan dalam ibadat atau perayaan Ekaristi di gereja. Orang sungkan menempati kursi di depan karena merasa tidak pantas. Dalam pesta perkawinan semua sudah diatur. Di gereja semua orang sama di hadapan Tuhan. Tidak ada VVIP atau pejabat penting. Semua sederajat di hadapan Sang Pencipta. Makin dekat dengan Tuhan justru makin banyak mendapat berkahnya. Jangan merasa sungkan untuk duduk di depan. Seperti Bangsa Israel yang mengungkapkan kerinduannya untuk masuk ke Bait Allah. “Satu hal yang kuminta kepada Tuhan, itulah yang kuingini, diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati Bait-Nya.” Yesus mengajarkan semangat kerendahan hati dengan tidak mencari pujian dan penghormatan dalam pergaulan di tengah masyarakat. Maka Dia berkata, “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." Mari kita menempatkan diri dengan tulus dan benar. Kita tidak mencari pujian atau penghormatan tetapi bisa melulu demi kebaikan bersama. Sepercik pantun buat anda: Jalan-jalan ke kota Gombong, Singgah ke pasar beli sate tenggiri. Jadi orang jangan sombong, Lebih baik merendahkan diri. Wonogiri, belajar rendah hati Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 30 Oktober 2026
Jumat Biasa XXX Lukas 14:1-6 PADA waktu naik ke Gunung Sinai, ada seorang peserta ziarah yang jatuh dari unta. Dia sangat kesakitan karena terantuk pada batu yang keras. Osama (Local Guide) langsung mengajak para Beduin pemilik unta untuk kembali turun ke terminal bawah. Malam sangat gelap dan jalanan berbatu-batu. Dengan tandu mereka membawa peserta yang sakit didampingi oleh Osama. Saat itu juga langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. Puji Tuhan segera tertolong dan esok harinya bisa melanjutkan perjalanan ziarah sampai selesai. Tuhan membuat mukjizat. Setelah pulang ke Indonesia, peserta ini langsung berobat ke rumah sakit. Dokter mengatakan banyak tulang yang remuk. Harus segera ada tindakan operasi. Semua operasi berjalan dengan baik. Dokter heran bagaimana mungkin dalam kondisi yang demikian bisa melakukan perjalanan panjang dan jauh. Kami semua memuji Tuhan. Kalau bukan karena Tuhan Yesus, tak mungkin bisa melanjutkan ziarah mengunjungi kota-kota di Tanah Suci. Hari ini dalam Injil Yesus juga melakukan mukjizat kepada orang yang sakit busung air. Polemik terjadi karena hari itu adalah hari Sabat. Yesus bertanya, "Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?" Menurut hukum Taurat, orang tidak boleh bekerja pada hari itu karena hari Sabat dikhususkan untuk Tuhan. Tetapi Yesus melanggar aturan. Dia menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat. Bagi Tuhan semua hari adalah baik untuk menyelamatkan manusia. Orang Yahudi sebetulnya juga melakukan hal yang sama, karena Yesus berkata, "Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?" Menyelamatkan orang harus dilakukan apalagi dalam situasi darurat. Keselamatan orang lebih diutamakan daripada segala aturan yang mengikat. Memberi sakramen minyak suci harus dilakukan walaupun sedang rapat atau terima tamu, entah waktu subuh atau malam hari. Semua dilakukan demi menyelamatkan jiwa orang yang sakit. Mobil ambulance bisa melanggar aturan di jalan demi keselamatan orang agar segera mendapat pertolongan di Rumah Sakit. Mari kita segera menolong kapan pun dan dimana pun demi keselamatan sesama kita. Sepercik pantun buat anda: Kebakaran hutan ada dimana-mana, Seperti dibiarkan alasan tak ada dana. Kita harus segera bertindak demi nyawa, Kondisi darurat segala aturan tidak berguna. Wonogiri, jangan terlalu birokratis dan berbelit-belit Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 29 Oktober 2026
Kamis Biasa XXX Lukas 13:31-35 DI BUKIT Zaitun ada Gereja dimana diyakini sebagai tempat Yesus menangisi kota Yerusalem. Gereja itu disebut “Dominus Flevit.” Dari depan gereja itu kita bisa memandang dengan jelas Kota Yerusalem dari kejauhan. Gereja itu menghadap langsung ke Gerbang Emas Yerusalem yang tertutup tembok. Pada akhir zaman akan terbuka jika Mesias datang. Orang Yahudi menyebut Gerbang Rahmat, karena mereka percaya Mesias akan datang menyelamatkan seluruh bangsa melalui gerbang itu. Dari Bukit Zaitun itu Yesus melihat ke masa depan apa yang akan terjadi terhadap kota Yerusalem. Yesus meratapi Yerusalem dengan berkata, “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” Sebagaimana para nabi yang diutus Tuhan, Yesus juga mengingatkan agar bangsanya bertobat dan kembali kepada Allah. Ia mengajarkan tentang kasih Allah kepada umat-Nya, namun mereka tidak mau menanggapinya. Yesus berusaha mengumpulkan mereka seperti induk ayam melindungi anak-anaknya. Tetapi bangsanya tidak menerimanya seperti yang dilakukan Herodes. Ia justru berusaha membunuh Yesus seperti yang dilaporkan orang-orang Farisi. Tetapi Yesus tetap konsisten melakukan tugas perutusan untuk mewartakan Kerajaan Allah. Ia tidak goyah menghadapi ancaman dan intimidasi. Perutusan harus terus dijalankan kendati menghadapi kesulitan dan tantangan. Kita juga sering menghadapi kesulitan dan tantangan. Apakah kita berani tetap berjuang demi Kerajaan Allah kendati ancaman dan tantangan terus menghadang. Kita berdoa mohon kekuatan agar bisa menghadapi segala tantangan yang menghadang. Sepercik pantun buat anda: Ramai-ramai singgah di Pandaan, Beli oleh-oleh untuk buah tangan. Salib menghadang sebagai cobaan, Kalau setia akan terima kemuliaan. Wonogiri, tetap teguh hadapi tantangan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 28 Oktober 2026
Pesta St. Simon dan Yudas, Rasul Lukas 6:12-19 DALAM sebuah tim sepakbola yang berjumlah sebelas orang tidak semua menjadi bintang. Satu dua pemain sangat terkenal. Tetapi yang lain tidak bisa diabaikan begitu saja. Misalnya di klub Barcelona zaman Messi masih bermain di sana. Messi sangat terkenal dan banyak memberi goal-goal kemenangan. Tetapi pemain lain tetap punya kontribusi bagi kehebatan Messi. Tanpa pemain yang mendukung, Messi tak mungkin menjadi bintang di Barcelona. Demikian juga terjadi di antara duabelas murid-murid Yesus. Lingkaran inti para murid adalah trio Petrus, Yakobus dan Yohanes. Tetapi rasul lain yang kurang disebut tidak berarti tidak penting. Hari ini kita memperingati dua rasul yakni Simon “Orang Zelot” dan Yudas Tadeus. Mereka adalah satu kesatuan, karena melambangkan Israel baru. Israel terdiri dari duabelas suku. Israel baru yang dibangun oleh Yesus juga meliputi duabelas rasul. Maka kendati jarang disebut dan ditulis dalam Injil, dua tokoh ini melengkapi Israel baru. Simon menurut tradisi adalah orang yang sangat fanatik mengikuti gerakan pembebasan Israel dari penjajahan Romawi. Kaum Zelot adalah pejuang demi kemerdekaan bangsanya. Oleh Yesus semangat Simon ini direformasi menjadi pewarta Injil yang gigih. Nama Yudas muncul dalam Injil Yohanes pada waktu Yesus mengadakan Perjamuan Terakhir. Dialah yang bertanya kepada Yesus: "Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau menyatakan diriMu kepada kami; dan bukan kepada dunia?" Jawab Yesus: "Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firmanKu dan BapaKu akan mengasihi dia dan kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia." Mungkin Yudas terinspirasi dari jawaban Yesus ini dan mengikuti-Nya dengan setia sampai mati menjadi martir di Persia bersama Simon. Santo Yudas Tadeus dihormati Gereja sebagai pelindung orang-orang yang sedang menghadapi masalah yang sulit. Kita percaya bahwa para rasul adalah soko guru Gereja. Gereja dibangun atas iman dan kemartiran rasul-rasul ini. Gereja tetap hidup sampai sekarang karena pengorbanan dan teladan nyata para rasul. Kita diajak melanjutkan pewartaan rasuli ini melalui tugas dan pelayanan kita di manapun dan kepada siapapun. Mari kita lanjutkan perjuangan Santo Simon dan Yudas ini demi terwujudnya Kerajaan Allah di dunia. Sepercik pantun buat anda: Alam rusak karena bencana dimana-mana, Moral rusak karena korupsi dibiarkan saja. Para rasul membela iman dengan nyawanya, Memanggul salib seperti Kristus Tuhannya. Wonogiri, menjadi rasul Kristus Rm. A.Joko Purwanto,Pr Puncta 27 Oktober 2026
Selasa Biasa XXX Lukas 13:18-21 SEORANG petani di desa dengan tekun dan sabar menanam benih padi dan merawatnya dengan penuh ketelitian. Dia dengan hati-hati dan penuh cinta menyiapkan lahan agar benih itu kelak tumbuh dengan baik dan akhirnya bisa panen dengan melimpah. Proses yang dilewatinya sangat panjang dan butuh ketekunan. Ia berharap benih yang baik, lahan yang baik dan pemeliharaan yang baik akan memberi hasil yang baik pula. Hasil ditentukan oleh proses perawatan yang tekun dan teliti. Hal yang sama juga dilakukan para pendidik. Bapak Ibu guru terutama di tingkat dasar, tidak akan segera melihat hasil dari usahanya. Mereka dengan tekun menanamkan nilai-nilai keutamaan pada anak-anak, baru setelah mereka dewasa akan terlihat hasilnya. Proses yang panjang harus dilewati seorang murid. Setelah mereka berhasil, mereka akan datang dan berterimakasih kepada bapak ibu guru yang telah menaburkan nilai-nilai keutamaan. Betapa bangganya seorang guru ketika melihat anak didiknya sukses dan berhasil. Apa yang ditanamkan dulu, dengan susah payah dan penuh kesabaran, kini setelah sekian puluh tahun nampak hasilnya yang menggembirakan. Demikianlah Yesus memberi perumpamaan tentang Kerajaan Allah melalui biji sesawi dan ragi yang mengembangkan melalui proses yang panjang. Biji sesawi itu kecil, tetapi melalui proses yang panjang dia bisa menjadi pohon yang rindang sehingga burung-burung bisa bersarang di atasnya. Ragi itu juga sangat kecil, tetapi ketika dicampur dengan tepung, dia bisa membuat kamir semua tepung dan mengembang. Kerajaan Allah itu adalah suasana damai tentram, bahagia dan sukacita. Keadaan itu bisa dibuat dengan melakukan hal-hal kecil yang terus dirawat dan dihidupi sehingga akan menghasilkan damai sejahtera. Seorang ibu menciptakan keluarga bahagia dengan memberi teladan tentang kesetiaan tekun berdoa setiap hari. Ia melakukan hal-hal kecil sederhana yang dirasakan oleh anak-anaknya, sehingga mereka waktu dewasa sadar bahwa keberhasilannya didapat karena doa-doa orangtuanya. Mari kita menaburkan hal-hal kecil dan sederhana dengan cinta yang besar. Kelak kita akan melihat hasil yang membahagiakan bagi banyak orang. Sepercik pantun buat anda: Ada burung kecil di atas pagar, Bikin sarang pakai rerumputan. Teladan kecil dengan cinta besar, Menghasilkan buah berkelimpahan. Wonogiri, mulai dari yang sederhana Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 26 Oktober 2026
Senin Biasa XXX Lukas 13:10-17 HARI Jum’at 9 Oktober 2026 kemarin kami tiba di Danau Galilea. Kami menginap di salah satu hotel di dekat danau. Jalan kaki ke pinggir danau hanya butuh tujuh menit saja. Kami masuk hotel sudah sore hari. Jalanan dan toko-toko sudah mulai sepi karena persiapan hari Sabat. Tidak ada orang lalu lalang di jalan-jalan. Waktu malam tiba, banyak keluarga Yahudi menginap di hotel. Mereka tidak bekerja pada hari Sabat. Mereka membaca Kitab Taurat dan melagukan puji-pujian seperti berzikir. Di restoran hotel itu suasana jadi ramai oleh doa-doa mereka. Rombongan kami menikmati santap malam sambil mendengarkan nyanyian-nyanyian mereka. Sabat adalah hari libur. Orang Yahudi tidak boleh bekerja. Mereka sangat taat pada hukum Taurat, termasuk pada hari Sabat. Maka ketika Yesus menyembuhkan seorang perempuan yang sakit sudah delapan belas tahun pada hari sabat, kepala rumah ibadat itu gusar. Dia merasa scruple atas tindakan Yesus yang melanggar hukum sabat. Dia protes dengan berkata, "Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat." Tetapi Yesus balik menjawab dia kata-Nya, "Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman?” Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?" kata Yesus. Yesus tidak ingin dibatasi untuk berbuat baik. Kapan pun dan dimanapun ada kesempatan berbuat baik, harus dilakukan. Hari Sabat dibuat untuk manusia bukan manusia untuk hari Sabat. Para ahli kitab sering memutlakkan aturan-aturan buatan manusia. Mereka memaksakan aturan yang membuat orang menjadi terbelenggu. Tidak berani melakukan apa-apa karena aturan yang mengikat. Kemunafikan ini dikecam oleh Yesus. Dia tetap melakukan penyembuhan pada hari sabat. Bagi-Nya menyelematkan orang lebih utama daripada melakukan hukum yang tidak menghasilkan apa-apa. Kita pun diajak bersikap bijaksana agar lebih mementingkan kemanusiaan daripada aturan yang dibuat manusia. Sepercik pantun buat anda: Jalan-jalan ke kota Lumajang, Menikmati air terjun di tengah hutan. Lebih baik menyelamatkan orang, Daripada terbelenggu pada aturan. Wonogiri, berbuat baik selalu Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 25 Oktober 2026
Minggu Biasa XXX Matius 22:34-40 SANTA Teresa dari Kalkuta yang menjadi rasul cintakasih bagi orang-orang miskin di India pernah berkata; “Bagaimana kita bisa mengasihi Allah yang tidak kelihatan kalau kita tidak mampu mengasihi manusia yang kelihatan.” Santa Teresa atau sering disebut Mother Teresa yang dibeatifikasi menjadi orang kudus karena mewujudkan kasih kepada Tuhan melalui perhatian dan kepeduliannya terhadap orang-orang miskin, gelandangan, tuna wisma dan orang sakit di jalan-jalan. Ia mengasihi manusia yang kecil, lemah, tersingkir dan sakit sebagai wujud cintanya kepada Allah. Ia melaksanakan apa yang disabdakan Yesus dalam kutipan Injil Minggu ini. Yesus ditanya oleh kaum Farisi untuk menunjukkan hukum manakah dalam Kitab Taurat sebagai hukum yang utama dan terutama. Hal ini dilakukan oleh mereka untuk mencobai Yesus. Sejauhmana kebijaksanaan Yesus dalam menimbang-nimbang banyaknya hukum dalam Taurat. Maka Yesus menegaskan kepada mereka. "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." Dalam perumpamaan tentang Orang Samaria yang baik hati, Yesus mengakhiri sabda-Nya dengan perintah. Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!" Kasih kepada Allah mesti diwujudkan dalam kasih kepada sesama khususnya yang lemah dan menderita. Di sekitar kita ada banyak orang yang mengalami penderitaan dan kurang cintakasih. Kepada mereka kita bisa mewujudkan cinta kita kepada Allah. Mengasihi Allah sama dengan mengasihi sesama manusia. Mengasihi yang tidak kelihatan dinyatakan dengan tindakan nyata kepada sesama. Mari kita peduli dan punya hati kepada sesama yang sedang mengalami dukacita, beban berat dan hidup menderita. Sepercik pantun buat anda: Jalan-jalan ke kota Surabaya, Jangan lupa mampir di kota Kediri. Kasihilah sesamamu manusia, Seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Wonogiri, mari saling mengasihi Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 24 Oktober 2026
Sabtu Biasa XXIX Lukas 14.1.7-11 KALAU kita masuk gereja, sering dijumpai kursi-kursi terdepan tidak terisi alias kosong. Begitu pula kalau ada rapat-rapat di aula gereja. Orang sungkan untuk duduk di depan dengan berbagai alasan. Ada yang tidak ingin dianggap sombong. Ada yang merasa tidak pantas duduk di kursi terhormat. Kursi-kursi di depan adalah tempat duduk orang-orang penting yang dihormati. Banyak orang merasa tidak layak duduk di depan. Dalam kutipan Injil hari ini, Yesus mengajarkan sikap kerendahan hati kepada siapapun. Perlu dibaca dengan teliti bahwa Yesus bercerita koteksnya pada sebuah pesta perkawinan. Bukan di rumah ibadat atau dalam pertemuan atau rapat. Dalam pesta perkawinan pasti ada undangan. Undangan juga dibedakan ada VVIP dan undangan biasa. Jadi sudah jelas mana tempat-tempat yang disediakan untuk mereka yang diundang pesta. Kalau undangan biasa kok duduk di VVIP pasti akan diusir. Kalau anda termasuk undangan VVIP tetapi duduk di tempat biasa pasti akan diminta maju ke depan, di tempat yang sudah disediakan. Dalam perjamuan perkawinan sudah terbiasa diterapkan aturan begitu. Tetapi kita sering mencampuradukkan dalam ibadat atau perayaan Ekaristi di gereja. Orang sungkan menempati kursi di depan karena merasa tidak pantas. Dalam pesta perkawinan semua sudah diatur. Di gereja semua orang sama di hadapan Tuhan. Tidak ada VVIP atau pejabat penting. Semua sederajat di hadapan Sang Pencipta. Makin dekat dengan Tuhan justru makin banyak mendapat berkahnya. Jangan merasa sungkan untuk duduk di depan. Seperti Bangsa Israel yang mengungkapkan kerinduannya untuk masuk ke Bait Allah. “Satu hal yang kuminta kepada Tuhan, itulah yang kuingini, diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati Bait-Nya.” Yesus mengajarkan semangat kerendahan hati dengan tidak mencari pujian dan penghormatan dalam pergaulan di tengah masyarakat. Maka Dia berkata, “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." Sepercik pantun buat anda: Jalan-jalan ke kota Gombong, Singgah ke pasar beli sate tenggiri. Jadi orang jangan yang sombong, Lebih baik merendahkan diri. Wonogiri, belajar rendah hati Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 23 Oktober 2026
Jumat Biasa XXIX Lukas 12:54-59 KITA sekarang mengalami suhu udara yang sangat panas di berbagai tempat. Mestinya kita bertanya mengapa bisa terjadi dan apa penyebabnya. Tanda-tanda alam apa yang dapat kita baca yang menyebabkan suhu panas dan cuaca ekstrem. Greenpeace Indonesia mengibarkan banner besar di Bundaran HI itu tanda keprihatinan karena pemerintah tidak berbuat apa-apa atas bencana ini. Kebakaran hutan ada dimana-mana adalah salah satu tanda alam yang sedang terjadi. Manusia merusak alam, maka alam juga murka terhadap kita. Jangan heran kalau kemudian muncul banjir bandang, tanah longsor karena hutan gundul. Kita juga bisa menilai zaman, kalau ada banyak pejabat ditangkap KPK itu berdampak apa di masa depan? Negara kita akan menjadi negara apa kelak jika pejabatnya korup dan mementingkan diri sendiri. Kalau sekarang banyak urusan sipil dipegang oleh tentara dan Polri, bagaimana proses demokrasi akan kita kembangkan bersama? Kira-kira Pemilu 2029 nanti seperti apa ya? Kita bisa mulai membacanya dari tanda-tanda yang sekarang terjadi. Yesus mengingatkan kepada orang banyak yang mendengar pewartaan-Nya. "Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi.” Alam dan peristiwa-peristiwa hidup bisa menjadi tanda-tanda yang berguna bagi kita. Yesus menegaskan, ”Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?” Mari kita belajar peka menilai tanda-tanda zaman atau peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita, supaya kita tidak terkejut dan bingung menghadapi semua itu. Sebagaimana kita mengenali tanda-tanda di dalam tubuh kita, kita bisa berjaga-jaga jangan sampai kita jatuh sakit. Yesus mengajak orang banyak agar peka dan berani menilai tanda-tanda zaman. Kita diajak peka untuk mengasah hati nurani dan olah pikir kita untuk melihat sesatu di balik segala kejadian dan perkara. Dengan demikian kita bisa bersiap siaga bila terjadi segala sesuatu yang akan menimpa. Sepercik pantun buat anda; Kalau ada mendung di sebelah barat, Akan turun hujan dengan lebat. Lihatlah perilaku para pejabat, Kita bisa menilai negara bermartabat. Wonogiri, peka menilai zaman Rm. A.Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed