Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Hello Romo!

12/25/2034

17 Comments

 
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
17 Comments

Berpuasa Ada Masanya

1/19/2026

0 Comments

 
Puncta, 19 Januari 2026
Senin Biasa II
Hari kedua Pekan Doa Sedunia
Markus 2: 18-22


SETIAP generasi memiliki cara hidup dan polanya sendiri sesuai dengan zaman dan dunianya. Orang-orang yang hidup pada era “baby boomer” (1946-1964) akan kesulitan memahami anak-anak generasi Z (1997-2012) atau generasi Alpha sekarang.

Tradisi, kebiasaan atau nilai-nilai hidup antara mereka sangat jauh berbeda. Generasi lama masih mengenal permainan gobak sodor, dakon atau congklak, “jethungan,” petak umpet, bola bekel, lompat tali, jamuran kendhi borot. 

Semua dilakukan bersama teman-teman penuh ceria dan sukacita. Tanpa sungkan mereka bermain bersama-sama.

Generasi sekarang suka main game online via aplikasi. Mereka asyik dengan dirinya sendiri tak perlu berjumpa dengan sesamanya. Maka komunikasi dan sosialisasi antar sesama menjadi kurang. Pola pikir dan gaya hidup sangat individualistis.

Yesus menjawab pertanyaan orang tentang kebiasaan berpuasa. "Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" 

Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa.”

Yesus mengidentifikasi Diri-Nya sebagai mempelai laki-laki yang hadir di tengah umat sebagai mempelai wanita. Ketika mempelai itu ada di tengah-tengah mereka, orang tidak berpuasa karena sukacita.

Yesus juga menggambarkan bahwa kain baru tidak akan cocok untuk menambal kain yang lama atau anggur baru tidak cocok ditaruh di kantong yang lama. Anggur baru harus disimpan pada kantong yang baru pula.

Yesus membawa nilai-nilai baru dalam kehidupan. Orang harus berani berubah atau bertobat agar dapat menyesuaikan diri dengan cara hidup Yesus. 

Yesus membawa perubahan radikal yang tidak mungkin diterapkan dalam tradisi-tradisi lama yang lahiriah belaka. Yesus membawa pola hidup baru.

Siapkah kita menerima cara dan pola hidup Yesus yang menuntut pertobatan radikal dalam diri kita? Cara hidup lama yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Kristus harus ditinggalkan.

Sekelumit pantun:
Pagi-pagi sudah diguyur air hujan,
Hujannya deras disertai angin taufan.
Yesus datang membawa pembaharuan,
Kita harus bertobat dan menyesuaikan.

Wonogiri, salam perubahan
Rm. A. Joko Purwanto,Pr
0 Comments

Anak Domba

1/18/2026

0 Comments

 
Puncta 18 Januari 2026
Minggu Biasa II
Pembukaan Pekan Doa Sedunia
Yohanes 1:29-34

YOHANES Pembaptis menyebut Yesus sebagai “Anak Domba Allah.” Mengapa kok anak domba, bukan unta, rajawali, harimau, kuda, serigala gurun atau binatang binatang yang besar dan kuat?

Orang Israel sangat familier dengan domba. Banyak orang menjadi penggembala domba di daerah subur sekitar Yordan dan danau Tiberias. Domba adalah binatang kurban dan sering dipersembahkan di Bait Suci.

Musa mewariskan ritual korban kepada Yahwe berupa domba jantan yang tak bercacat. Pengorbanan domba dilakukan untuk ritual Paskah Yahudi. Mereka menyembelih anak domba sebagai bentuk perjanjian dengan Tuhan.

Domba adalah binatang yang lemah, saking lemahnya dia tidak mengembik atau melawan ketika akan disembelih. 

Domba juga tidak pernah berkelahi. Ia hidup damai dengan siapa pun. Domba adalah binatang penurut dan setia.

Karakteristik domba yang seperti itulah yang diterapkan Yohanes pada diri Yesus yang taat setia sampai mati.

Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.”

Yesus adalah Anak Domba yang menyerahkan hidup-Nya untuk menebus dosa-dosa dunia. Yesus bukanlah kuda perang atau serigala yang mencari mangsa, atau rajawali yang terbang tinggi atau binatang lain yang mencabik-cabik dan mematikan. 

Yesus menyerahkan diri seperti domba yang tidak melawan, dibawa ke tempat pembantaian demi keselamatan manusia. Kesaksian Yohanes ini dikuatkan dengan penglihatan Roh Kudus yang turun seperti burung merpati.

Suara dari langit berseru, “Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah."

Kalau Yohanes menggambarkan Yesus sebagai Anak Domba Allah, apakah gambaran anda sendiri tentang Yesus yang telah menyelamatkan anda dan mengangkat anda menjadi anak-anak Allah?

Sepercik pantun:
Anak gajah mandi di tanah,
Bermain lumpur sampai basah.
Yesus Anak Domba Allah,
Ia taat menjadi manusia lemah.

Wonogiri, rela mengorbankan diri
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Konsisten pada Opsi

1/17/2026

0 Comments

 
Puncta 17 Januari 2026
Pw. St. Antonius Abbas, Biarawan
Markus 2:13-17 atau RUybs

BUNDA Teresa dari Kalkuta memilih berkarya bagi orang-orang miskin di India. Ia hidup bersama orang miskin dan menderita. Ia melayani dan menolong mereka yang tidak punya rumah, sakit parah , para lansia miskin dan anak-anak yang tak pernah mengenyam pendidikan.

Dari awal sampai akhir hidupnya, Bunda Teresa mengabdikan diri bagi kaum miskin, tersingkir dan papa. Dia pernah dicibir banyak orang dengan karyanya itu. 

Ada pejabat yang menuduhnya menjual kemiskinan warga. Ada pula yang mencemooh hanya untuk mencari popularitas diri. 

Namun Teresa tidak mundur oleh kritikan dan cemoohan. Ia tetap konsisten dengan pilihannya, hidup untuk menolong orang kecil, lemah, miskin dan teringkir.

Yesus memanggil Lewi, pemungut cukai. Ia diundang ke rumah Lewi untuk makan bersama-sama dengan pemungut cukai. 

Namun orang-orang Farisi mencemooh-Nya. Mereka memprotes, "Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" 

Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

Yesus menegaskan misi penyelamatan-Nya. Ia memilih mendekati orang-orang berdosa untuk dipertobatkan. Bahasa kerennya sekarang “Preferential Option for the poor.” Itulah pilihan karya Yesus.

Gereja juga mengikuti pilihan itu. Gereja lebih berpihak kepada kaum kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Tetapi konsistenkah kita memilih opsi itu? Atau jangan-jangan hanya pemanis bibir atau lib’s service saja?

Sekarang banyak dikeluhkan  umat tentang biaya pendidikan sekolah Katolik mahal. Sekolah hanya untuk orang kaya saja. Biaya kesehatan mencekik. Orang tak mampu bayar obat dan perawatannya. Para imam juga lebih melayani orang kaya. Dimana option for the poor dihayati?

Yesus berani konsisten dengan berkata, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." 

Para pelayan Gereja ini berani nggak konsisten seperti Yesus, memilih opsi yang terus dihidupi walau tidak enak dan nyaman bagi diri kita sendiri. Berani nggak keluar dari zona nyaman untuk memilih opsi penyelamatan?

Makan roti dioles mentega,
Minumnya kopi dari Panama.
Yesus berpihak pada pendosa,
Walau harus disalib di Golgota.

Wonogiri, konsisten pada pilihan
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Saling Tolong Menolong

1/16/2026

0 Comments

 
Puncta 16 Januari 2026
Jum’at Biasa I
Markus 2:1-12

BENCANA yang terjadi di Aceh akhir November tahun lalu sungguh dahsyat. Banjir bandang itu menelan ribuan nyawa, harta benda, bangunan dan infrastruktur yang rusak parah. Banyak warga harus mengungsi.

Pejabat pemerintah daerah mulai camat, para bupati sampai gubernur sendiri merasa tidak mampu mengatasi dampak banjir yang meluluh-lantakkan perekonomian masyarakat. Mereka berteriak minta bantuan kepada pemerintah pusat. 

Banyak negara luar yang ingin membantu, tetapi anehnya dilarang oleh pemerintah pusat dengan alasan, kita sendiri mampu mengatasi. Kita butuh penanganan segera agar warga terdampak tidak makin menderita.

Gerakan solidaritas digemakan. Banyak instansi, lembaga dan warga saling bahu membahu menolong korban terdampak. Harapannya korban dapat segera ditolong dan diselamatkan. Warga sendiri saling menolong, bahu membahu saling bantu.

Dalam perikope ini, ada empat orang yang membantu penderita lumpuh dibawa ke hadapan Yesus agar disembuhkan. Yesus melihat niat baik mereka. Walau banyak rintangan menghadang di pintu, mereka tidak habis akal.

Orang lumpuh itu diturunkan dari atas atap rumah, tepat di hadapan Yesus. Usaha, kemauan, kreativitas dan niat mereka membuat Yesus kagum. Yesus melihat kesungguhan dan kedalaman hati mereka. 

Iman yang kuat disertai dengan tindakan yang hebat. Walau ada hambatan yang sulit mereka tidak putus asa dan mundur. Inilah yang dihargai oleh Yesus. Ia melihat usaha mereka yang tulus dan iman si orang lumpuh ini.

Yesus langsung menyentuh ke dalam hatinya. Ia berkata kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" Yesus dituduh menghojat Allah karena yang berhak mengampuni dosa hanya Allah.

Tetapi Yesus justru menunjukkan kepada mereka siapa sesungguhnya Dia. Yesus adalah Allah yang berkuasa atas seluruh hidup manusia. Maka Dia berkuasa mengampuni dosa dan menyembuhkan orang. 

Kita seringkali juga suka menuduh orang dengan pikiran-pikiran negatif seperti para ahli Taurat ini. Melihat kebaikan  orang bukannya memuji malah mencaci, bukannya bertobat malah menghojat. 

Belajar dari Yesus, kita tetap teguh melakukan kebaikan walau kadang tidak diterima atau dinilai buruk orang lain. Jangan berhenti berbuat baik walau kadang dicaci atau dibully dengan prasangka buruk. 

Kepala pusing gigi terasa ngilu,
Pergi ke toko untuk membeli jamu.
Lebih baik bertindak membantu,
Daripada berkomentar yang tidak perlu.

Wonogiri, bangunlah solidaritas
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Melarang dengan Kata ”Jangan”

1/15/2026

0 Comments

 
Puncta 15 Januari 2026
Kamis Biasa I
Markus 1:40-45

ORANGTUA yang mempunyai anak balita perlu berhati-hati dalam mendidik mereka. Mereka sedang bertumbuh untuk mengekplorasi dunia sekitarnya. 

Penting bagi orangtua untuk memilih kata-kata larangan yang tidak menghambat daya ingin tahunya yang besar.

Kata “Jangan” sering dipakai orangtua untuk melarang anaknya. kalau larangan ini dipakai pada saat yang tidak tepat, bisa berdampak negatif pada pertumbuhan psikososial anak. Inisiatif dan kreatifitas anak akan mandeg.

Pada saat anak sedang tumbuh daya pikir dan rasa ingin tahunya, larangan “Jangan” justru membuat dia ingin tahu dan melakukan yang sebaliknya. Maka larangan itu harus ditempatkan pada konteks yang benar. 

Menggunakan kata “Jangan” sebagai larangan bisa dipakai untuk hal-hal yang sangat membahayakan bagi keselamatan anak. Kita boleh tegas mengatakan “Jangan.”

Yesus juga menggunakan kata “Jangan” kepada orang kusta yang telah disembuhkan. "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka."

Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.

Bagi orang kusta, perintah “Jangan” justru tidak mempan, saking gembiranya karena sembuh dari kusta, dia melanggar perintah Yesus. Dia memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana.

Pentahiran orang kusta memang secara aturan harus dilakukan oleh imam di Bait Allah dan membawa persembahan. Maka Yesus menyuruh orang itu pergi kepada imam supaya tidak terjadi konflik kepentingan.

Sukacita yang meluap bisa membuat orang lupa diri sehingga aturan atau larangan diterjang demi bisa bersyukur dan memuji Tuhan. Mungkin kita juga pernah seperti itu. Saking gembiranya hati yang berkobar-kobar, sampai kita lupa diri.

Orang kusta itu tidak terbendung semangatnya untuk mewartakan Mesias yang dijanjikan kepada semua orang. Ia mewartakan bahwa Allah sudah hadir dalam diri Yesus yang menyembuhkan.

Malam yang gelap disertai hujan,
Hawa yang dingin menusuk badan.
Orang kusta disembuhkan Tuhan,
Ia langsung mewartakan kebenaran.

Wonogiri, sukacita yang berkobar
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Ora Et Labora

1/14/2026

0 Comments

 
Puncta 14 Januari 2026
Rabu Biasa I
Markus 1:29-39

UNGKAPAN dalam Bahasa Latin itu bisa diartikan Berdoa dan Bekerja. Warisan Santo Benediktus dari Nursia ini menyatukan doa dan kerja. Doa dan kerja bukanlah dua sisi yang saling bertentangan, tetapi dua sisi dalam satu panggilan.

Doa menjadi revolusi mental ketika Benediktus melihat kebobrokan moral di Eropa pada waktu dia study di Roma. Dekadensi moral sedang turun ke titik rendah. Maka Benediktus memilih mencari keheningan di Gua Subiaco.

Lama kelamaan banyak pengikutnya yang memilih cara hidup Benediktus. Ia mendirikan Biara di Monte Casinno dan menyusun regula yang menyeimbangkan antara doa dan kerja. 

Dalam perikopa Injil hari ini, Yesus memadukan antara doa dan kerja. Ia datang ke rumah Ibu Mertua Petrus dan menyembuhkan penyakitnya. Sesudah sembuh, wanita itu melayani Yesus dan rombongannya.

Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. 

Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Pelayanan Yesus tidak mengenal waktu.

Tetapi pagi-pagi benar, Ia pergi ke tempat sunyi untuk berdoa. Markus menulis, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”

Doa dan karya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Doa bukanlah upacara ritual belaka. Doa adalah sumber kekuatan dalam berkarya. 

Kerja bukanlah beban yang melelahkan. Kerja adalah persembahan hidup untuk berpartisipasi dalam karya Allah. 

Dalam Regulanya, St. Benediktus menulis, “Kemalasan adalah musuh jiwa.” Kemalasan adalah setan yang berusaha menjauhkan kita dari karya Allah. 

Mari kita satukan antara berdoa dan bekerja sebagai ungkapan iman kita kepada Tuhan.

Hujan semalam tak pernah reda,
Dingin menusuk ke tulang dada.
Jangan pernah lelah untuk bekerja,
Jangan pernah berhenti untuk berdoa.

Wonogiri, berdoa dan bekerja
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Sabda Pandita Ratu

1/13/2026

0 Comments

 
Puncta 13 Januari 2026
Selasa Biasa I
Markus 1:40-45

DALAM falsafah hidup orang Jawa ada istiah “Sabda Pandhita Ratu sepisan dadi tan kena wola-wali.” Ungkapan ini berarti sabda atau perintah seorang raja (pemimpin) atau pandhita (pemimpin rohani atau ulama) sekali diucapkan akan terjadi dan tidak boleh berubah-ubah atau plin-plan.

Hal ini menunjukkan kewibawaan seorang tokoh yang dianut oleh rakyat atau bawahannya. Apa yang diucapkan penuh wibawa. Antara ucapan dan tindakannya selaras, harmonis. Sabda atau ucapannya ditaati karena kewibawaan sang pemimpin.

Seorang pemimpin yang berwibawa terlihat dari ucapannya yang ditaati oleh rakyat atau bawahannya. Sekali berbicara langsung menjadi kenyataan. Ia tidak akan mengulang-ulang berkali-kali. Cukup sekali langsung ditaati.

Dalam perikope Injil hari ini, tergambar kewibawaan Yesus ketika menghardik setan yang menguasai orang di rumah ibadat. 

Orang yang kerasukan roh jahat itu berkata, "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." 

Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" Roh jahat itu keluar dari orang yang kerasukan.

Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya: "Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahatpun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya."

Yesus menunjukkan kewibawaan-Nya. Ia berkuasa atas manusia dan setan, karena Dia adalah Firman Allah. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.

Yesus dibandingkan dengan ahli-ahli Taurat yang tidak dipercaya karena antara kata dan tindakannya jauh berbeda. Mereka banyak mengajarkan aturan atau hukum-hukum pada orang lain tetapi tidak mau melakukannya sendiri. 

Para ahli Taurat itu dipandang sebagai orang-orang munafik. Mereka tidak dipercaya karena tidak memberi teladan hidup yang baik. Beda dengan Yesus yang sabda-Nya penuh wibawa dan ditaati, bahkan setan pun tunduk kepada-Nya.

Mari kita taati sabda Yesus, karena Dia berkuasa atas kehidupan kita. Tuhan berkuasa membuat mawar menjadi biru dan melati menjadi merah. 

Bahkan Dia bisa, jika berkehendak membuat matahari terbit dari barat. Tuhan Mahakuasa.

Burung berkicau di dedaunan,
Angin berhembus perlahan-lahan.
Sabda Yesus adalah kebenaran,
Dia Berkuasa atas bumi dan lautan.

Wonogiri, Tuhan Mahakuasa
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Panggilan Murid Pertama

1/12/2026

0 Comments

 
Puncta 12 Januari 2026
Senin Biasa
Markus 1:14-20

BANYAK sekolah-sekolah yayasan Katolik di desa-desa mengalami kesulitan mencari siswa didik. Hal ini disebabkan karena program KB yang berhasil, tetapi juga menjamurnya sekolah-sekolah berbasis agama sehingga mereka saling berebut.Selain itu program sekolah gratis juga mempengaruhi orangtua menyekolahkan anak-anaknya. 

Para guru harus secara door to door mendatangi calon murid dan memberi berbagai kemudahan dan keringanan agar orangtua mau menyekolahkan anaknya.

Yesus berkeliling mewartakan pertobatan dan menyatakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Ia memanggil murid-murid pertama untuk mengikuti Dia. Simon dan Andreas yang sedang menjala ikan dipanggil.

Begitu pula Yakobus dan Yohanes yang membantu ayahnya dipanggil. Mereka segera meninggalkan perahu, ayahnya dan orang-orang upahannya untuk mengikuti Yesus. 

Para murid itu rela meninggalkan pekerjaan, keluarga dan hartanya demi ikut Yesus.

Mengapa mereka cepat-cepat menanggapi panggilan Yesus? Pertama, pasti kualitas pribadi yang memanggil. Kharisma Sang Guru menjadi daya tarik mereka. 

Kedua nilai yang ditawarkan yaitu Kerajaan Allah. Ketiga, ada keyakinan. Mereka percaya pada pribadi yang memanggil yakni Tuhan Yesus. 

Mereka melihat tiga alasan itulah yang membuat para nelayan itu tertarik menjadi murid Yesus. Hal ini juga bisa dipertanyakan kepada kita. Mengapa kita mau menjadi murid Yesus? Apa motivasi anda dalam mengikuti Tuhan Yesus.

Apakah anda juga berani meninggalkan pekerjaan (menjala ikan), keluarga (ayah), relasi persahabatan (orang-orang upahan) untuk mengikuti Yesus? 

Apakah anda yakin mengikuti Yesus akan memperoleh kebahagiaan sejati? Kita mesti berani menjawab pertanyaan reflektif ini supaya kita punya visi mengikuti Yesus.

Donald menyerang Venezuela,
Waspadalah dia ngincar Indonesia.
Tuhan Yesus memanggil kita semua,
Untuk ikut memanggul salib ke Golgota.

Wonogiri, anda dipanggil Tuhan
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Baptis Tanda Ketaatan pada Allah

1/11/2026

0 Comments

 
Puncta 11 Januari 2026
Pesta Pembaptisan Tuhan
Matius 3:13-17

HARI ini Gereja merayakan Pembaptisan Tuhan. Mari kita renungkan makna pembaptisan Yesus ini. Yesus yang adalah Sang Anak Domba Allah – kata Yohanes kepada murid-muridnya – justru datang kepada Yohanes untuk dibaptis.

Ini menunjukkan kerendahan hati Yesus yang adalah Allah mengambil rupa sebagai manusia. Dia yang tanpa dosa mengambil posisi setara dengan manusia yang berdosa. Bahkan kemanusiaan kita diambil sampai Ia mati di kayu salib.

Yohanes merasa tidak layak membaptis Yesus. Seharusnya dialah yang harus dibaptis karena Yohanes hanya bertugas menyiapkan jalan Tuhan. Yohanes berkata, “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu dan Engkau datang kepadaku untuk dibaptis?"

Yesus menjawab, "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanespun menuruti-Nya. 

Makna kedua adalah penggenapan kehendak Allah. Apa yang dilakukan adalah mengikuti rencana atau kehendak Allah.

Makna ketiga dari pembaptisan Yesus adalah pewahyuan Yesus sebagai Putera Allah. Setelah keluar dari air, langit terbuka dan turunlah Roh Allah seperti burung merpati dan terdengar suaradari langit, "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."

Makna ketiga ini yang paling penting. Yesus dimaklumkan sebagai Anak Allah yang terkasih. Kepada-Nya kita harus menyembah dan percaya. Yesuslah Anak Allah yang membuat Bapa berkenan pad-Nya.

Bapa berkenan kepada Yesus karena Dia taat mau merendahkan diri menjadi manusia dan dengan jalan itu kehendak Allah yang ingin menyelamatkan manusia berdosa dapat terlaksana. Yesus menggenapi kehendak Bapa di sorga.

Lalu bagaimana dengan pembaptisan kita? Kita yang sudah dibaptis disatukan dengan hidup Yesus. Maka kita hendaknya menyelaraskan hidup kita dengan hidup Yesus. Kita juga harus siap ditransformasi agar menyerupai hidup Yesus.

Sudahkan hidup anda selama ini menggambarkan sebagai pengikut Kristus yang taat merendahkan diri di hadapan Allah? 

Mari kita merenungkan makna pembaptisan kita sendiri.

Makan bakso di dekat simpang lima,
Penjualnya cantik giginya tinggal dua.
Allah Bapa sungguh mengasihi kita,
Sampai Ia mengutus Yesus Putera-Nya.

Wonogiri, syukur atas baptis mulia
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
<<Previous

    Archives

    December 2034
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki