|
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
18 Comments
Puncta 19 Agustus 2026
Rabu Biasa XIX Matius 20:1-16a YESUS memberi pengajaran tentang kemurahan Allah lewat perumpamaan Tuan pemilik kebun anggur dan lima kelompok penggarapnya yang digaji satu dinar sehari. Kita belajar bahwa keadilan Tuhan berbeda dengan perhitungan, pikiran, kehendak dan keputusan manusia. Ada lima kelompok kerja. Pertama, kelompok yang mulai kerja jam 6 pagi; lalu jam 9, 12, 15 dan jam 17.00 sore. Kelompok pertama punya kesepakatan dengan tuannya bahwa mereka akan digaji sedinar sehari. Yang lainnya diajak kerja hanya karena kebaikan tuan itu. Diberi pekerjaan saja mereka sudah bersyukur. Kelompok pertama adalah Bangsa Israel yang punya hukum Taurat sebagai “perjanjian” dengan Tuhan. Kelompok lainnya adalah bangsa-bangsa lain di luar Israel. Kelompok pekerja pertama merasa iri karena yang lain diberi upah yang sama. Padahal mereka bekerja kurang dari sehari. Apalagi yang masuk jam lima sore. Ini adalah satire atau sindiran bagi mereka yang merasa aman diselamatkan karena punya hukum perjanjian. Tetapi Allah adalah kasih. Ia tidak membeda-bedakan siapapun. Disinilah letak bedanya pikiran Allah dengan manusia. ‘Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.’ Kita berpikir seolah karena jasa kita yang sudah bekerja lama, Tuhan akan memberi kita lebih daripada mereka yang terlambat bekerja. Kita tidak bisa menyombongkan jasa-jasa kita, tetapi keselamatan melulu karena belas kasih Tuhan. Yesus sengaja mengurutkan pemberian upah dari yang paling akhir bekerja. Kalau yang pertama diberi upah lalu disuruh pulang, mungkin tidak ada masalah. Pengampunan dan belaskasih Allah diberikan kepada siapa saja yang percaya dan bertobat. Seperti kasus penjahat yang bertobat saat menjalani penyaliban bersama Yesus, ia mengungkapkan pertobatannya dan berkata; “Yesus ingatlah aku jika Engkau masuk ke dalam Firdaus.” Pada saat akhir hidupnya, ia menerima belaskasih Tuhan. Bukan berarti bahwa kita seenaknya saja dan menunda-nunda untuk bertobat serta merasa aman-aman saja. Kita mesti menyesuaikan dengan mengikuti kehendak dan rencana Tuhan. Bagaimana kita bertanggungjawab atas anugerah hidup ini agar sesuai dengan rencana-Nya, disitulah letak masalahnya. Sepercik pantun buat anda: Naik kereta melewati Pemanukan, Tujuan akhirnya sampai di Pamulang. Hidup kita ibarat sebuah perjalanan, Pada akhirnya kita semua harus pulang. Wonogiri, syukuri anugerah Tuhan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 18 Agustus 2026
Selasa Biasa XIX Matius 19:23-30 DEWABRATA adalah pewaris Kerajaan Astina. Ia diasuh oleh ayahnya sendiri, Raja Sentanu karena ibunya, Dewi Gangga moksa ke Kahyangan. Sebagai raja, Sentanu ingin memiliki permaisuri. Ia jatuh cinta kepada Dewi Satyawati dan ingin menyuntingnya. Tetapi Satyawati memiliki syarat yang harus ditepati. Ia menuntut keturunannyalah yang berhak menjadi raja atas Hastinapura. Sentanu merasa gundah gulana karena tahta kerajaan telah diberikan kepada Dewabrata. Memikirkan hal ini membuatnya jatuh sakit. Dewabrata yang sangat mencintai ayahnya dan kerajaan Hastina bersumpah bahwa dia tidak akan menjadi raja demi kebahagiaan ayahnya. Untuk meyakinkan Dewi Satyawati, dia juga bersumpah akan menjadi brahmacarin atau wadat seumur hidup, tidak akan menikah agar darah Barata tidak berebut tahta dan harta. Ia rela meninggalkan harta, tahta dan wanita demi kebahagiaan ayahnya dan kedamaian serta kerukunan rakyat Hastinapura. Maka karena sumpahnya yang hebat itu, Dewabrata diberi julukan Bhisma, artinya ‘Sumpah atau ucapan yang dahsyat.” Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, akan sulit bagi orang kaya untuk memasuki Kerajaan Surga. Sekali lagi Kukatakan kepadamu: Lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Yesus mengingatkan bahwa harta kekayaan bisa menjadi penghambat bagi kita untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Jika kita tidak berhati-hati, kita bisa diperbudak oleh harta dan kekuasaan. Dewabrata menyadari itu dan dia lebih memilih tujuan yang lebih luhur yaitu kedamaian, kerukunan dan kebahagiaan seluruh bangsanya. Dia merelakan dirinya tidak naik tahta, meninggalkan harta kekayaan demi kesejahteraan rakyat Hastinapura. Bisma dihormati oleh darah Barata karena pengorbanannya dan kebijaksanaannya. Namanya senantiasa dikenang baik oleh para Pandawa maupun Kurawa. Petrus juga bertanya, “Lihatlah, kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau; Lalu apa yang akan kita peroleh?” Yesus menjawab, “Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudara laki-laki atau perempuannya, ayah atau ibunya, anak-anaknya atau tanah miliknya, akan menerima kembali seratus kali lipatdan akan memperoleh hidup kekal.” Kita boleh kaya, tidak ada larangan untuk itu. Tetapi pergunakanlah kekayaanmu untuk mencari Kerajaan Surga dan demi kebahagiaan yang lestari bersama dengan merekayang berkekurangan. Hidup hanya sesaat, gunakanlah dengan sebaik-baiknya. Sepercik pantun buat anda: Perayaan kemerdekaan terasa sangat sepi, Tidak ada panjat pinang dan lomba-lomba. Harta kekayaan jangan membutakan hati, Pergunakan untuk kesejahteraan bersama. Wonogiri, harta untuk cari surga Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 17 Agustus 2026
HR. Kemerdekaan RI Matius 22:15-21 MENDENGAR pidato Presiden Prabowo kemarin banyak orang merasa tertegun. Pasalnya Presiden mengatakan ada seorang ibu yang mampu berpenghasilan Rp. 700.000 hanya dengan mengupas bawang setiap kilonya. Kalau sehari bisa mengupas lima kilo, penghasilannya berapa Pak Presiden? "Hadir bersama kita Ibu Susanah dari Kabupaten Bogor. Ia bekerja sebagai buruh harian mengupas bawang dengan upah sekitar Rp700 ribu per kilogram. Program Keluarga Harapan dan Program Sembako membantu menjaga pendidikan anak-anaknya," ujar Prabowo. Lalu kita bertanya lagi. Ibu Susanah ini membayar pajak penghasilan kepada negara gak ya? Sebagai warga negara yang baik pasti juga membayar pajak seperti yang sekarang ini lagi digalak-galakkan dengan sensus ekonomi sampai ke rumah-rumah. Dalam Injil hari ini, orang-orang Farisi menggandeng kaum Herodian yang pro pemerintah Romawi untuk menjebak Yesus. Mereka punya niat jahat untuk menggiring Yesus agar terjepit dan dapat diperkarakan. Kalau Yesus salah ucap, Yesus bisa ditangkap sebagai pembangkang terhadap pemerintahan Romawi. Masalah yang diajukan adalah soal membayar pajak kepada kaisar. "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" tanya mereka dengan niat menjebak-Nya. Kalau Yesus menjawab “boleh” maka Dia akan diejek dan dicemooh orang banyak karena dianggap memihak penjajahan Romawi. Tetapi kalau Yesus menjawab “tidak boleh” maka Dia akan ditangkap oleh orang Herodian karena dianggap memberontak terhadap kebijakan pemerintahan Romawi. Yesus tidak berkelit dari persoalan pelik ini. Ia tidak mau menjawab ya atau tidak. Ia mengajak mereka untuk berpikir dan memutuskan sendiri. "Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." Yesus mengajarkan kepada semua orang agar memberi kepada pihak-pihak yang berhak menerima semua kewajiban kita. Tetapi jangan lupa juga memberi kepada Allah yang berhak mendapatkan dari keseluruhan hidup kita. Kaisar berhak mendapatkan pajak rakyat untuk membangun masyarakat agar makmur hidupnya. Tuhan juga berhak mendapat persembahan karena Dia telah memberi kehidupan kepada kita. Semoga peringatan kemerdekaan ini mengingatkan kita untuk peduli terhadap rakyat yang menderita dan berani berjuang demi keadilan dan kebenaran. Sepercik pantun buat anda: Ngupas bawang hasilnya jutaan. Rakyat kecil makmur dan sejahtera. Kemerdekaan harus diperjuangkan, Agar rakyat hidup rukun dan bahagia. Wonogiri, merdeka!! Rm.A.Joko Purwanto,Pr Puncta 16 Agustus 2026
HR. St. Maria Diangkat ke Surga Lukas 1: 39-56 HARI INI kita merayakan Santa Maria yang diangkat jiwa dan raganya ke dalam surga. Semestinya hari raya ini dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus. Tetapi karena tanggal itu adalah hari sabtu, umat tidak libur, maka dipindahkan ke hari Minggu, agar semua umat bisa merayakan salah satu dogma Gereja ini. Bacaan yang kita renungkan tentang kunjungan Maria ke rumah Elisabet dan doa syukur atau pujian Maria (Magnificat) kepada Allah atas penyelenggaraan-Nya yang mengasihi manusia lemah. Maria berbagi kegembiraan kepada Elisabet yang dikarunia putra pada usia senja. Inilah karya besar Allah yang mendengarkan doa-doa orang kecil dan sederhana. Maria dan Elisabet adalah gambaran manusia yang tekun mendengarkan sabda Tuhan dan siang malam berharap pada belas kasih-Nya. Hidup Maria yang taat kepada Allah menjadi teladan bagi semua orang untuk menjalani kehendak Allah dengan tekun, rendah hati, tawakal dan siap sedia melaksanakan kehendak-Nya kendati segalanya belum jelas dan penuh tanda tanya. Ketaatan Maria menjalani kehendak Allah terlihat dari awal sampai akhir. Ia taat memangku bayi Yesus di palungan sampai pada akhirnya memangku jenasah-Nya di bawah salib Golgota. Maria bisa disebut Ibu yang Berbahagia (Mater Gaudiosa) tetapi juga Ibu yang Berdukacita (Mater Dolorosa). Kesetiaan dan ketaatannya inilah yang menjadi teladan iman bagi kita semua. Karenanya Maria dimuliakan bersama Yesus yang bangkit di Surga. Ia diyakini berbahagia dalam kemuliaan kekal bersama Putera-Nya. Pengangkatan Maria ke Surga juga memberi harapan kepada kita semua. Siapapun yang percaya dan taat melaksanakan kehendak Bapa kelak juga akan mengalami bahagia dalam kehidupan kekal bersama Yesus dan Bunda Maria. Kita diingatkan bahwa tujuan akhir hidup kita bukan di dunia ini. Tetapi tujuan yang sebenarnya adalah tanah air surgawi yakni rumah Allah di surga. Agar kita bisa sampai ke sana, kita memiliki contoh atau teladan hidup yakni Bunda Maria. Kita bersyukur karena melalui teladan Maria kita bisa mendekati Yesus. Per Mariam ad Jesum. Maria menjadi pendoa kita yang setia untuk menghantarkan segala jerih payah dan perjuangan kita kepada Yesus, Putera-Nya. Mari kita meneladan hidup dan kesetiaan Maria yang tekun mengabdi sebagai hamba. Sepercik pantun buat anda: Tanah Flores disentuh oleh gempa, Ulurkan tangan bagi yang menderita. Bunda Maria diangkat ke Surga, Menjadi pendoa bagi kita semua. Wonogiri, Maria, doakanlah kami Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 15 Agustus 2026
Sabtu Biasa XIX Matius 19:13-15 BEBERAPA orangtua punya harapan agar anak-anaknya berhasil dalam study, mencapai prestasi yang membanggakan. Maka mereka memasukkan anak-anaknya mengikuti kursus-kursus, les privat dan bimbingan belajar secara maraton. Anak tidak punya waktu untuk bermain, apalagi berkegiatan di gereja. Ada orangtua yang berkata; “Untuk apa aktif di gereja, tak ada gunanya. Tidak menambah kepintaran. Apalagi nambah keuntungan, malah banyak sumbangan-sumbangan.” Ada orangtua yang melarang anaknya aktif di kegiatan misdinar, OMK atau kegiatan rohani lainnya. Mereka ingin agar anaknya bisa berprestasi di sekolah demi masa depannya. Maka tiap hari selalu saja ada les-les privat yang dijadwalkan untuk anak-anaknya. Lalu keprihatinan berikutnya muncul. Anak-anak muda susah mencari jodoh yang seiman karena tidak pernah punya teman atau kenalan di lingkungan gereja. Sebabnya mereka dihalangi untuk aktif dan bertemu dengan teman-temannya di gereja. Para murid memarahi para orangtua yang membawa anak-anaknya datang kepada Yesus. Orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Murid-murid itu menghalangi anak-anak datang kepada Yesus. Anak-anak dan perempuan tidak dianggap dalam kancah kehidupan sosial. Mereka dipinggirkan dan tidak diberi tempat dan kesempatan. Mereka dinihilkan dan tidak menjadi subyek kebijakan sosial. Tetapi Yesus justru menghargai mereka. Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." Apakah dalam membuat kebijakan pastoral kita juga memperhatikan anak-anak dan kaum perempuan? Kita tidak boleh meminggirkan mereka seolah-olah mereka tidak dianggap dan diperhatikan. Justru merekalah yang sering aktif dalam kegiatan-kegiatan gereja. Mereka harus dihargai dan diberi ruang agar bisa semakin dekat dengan Tuhan. Orang-orang yang tulus dan murni seperti itu yang empunya Kerajaan Surga. Sepercik pantun buat anda: Meriah lomba-lomba tujuhbelasan, Makan krupuk, lari kelereng di jalanan. Biarkan anak-anak datang pada Tuhan, Merekalah yang empunya masa depan. Wonogiri, hargai anak-anak kecil Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 14 Agustus 2026
Pw. St.Maximilianus Maria Kolbe, Imam dan Martir Matius 19:3-12 atau RUybs Yohanes 15:9-17 PADA zaman Nazi berkuasa di Jerman, banyak orang ditangkap dan dimasukkan ke kamp konsentrasi. Termasuk Maximilianus Maria Kolbe, seorang imam Fransiskan Conventual yang memperjuangkan kehidupan orang-orang Yahudi yang terancam. Ia mengkritik tindakan Nazi yang melanggar perikemanusiaan, menyiksa, mengintimidasi dan membunuh banyak orang di kamp konsentrasi. Akhirnya tentara SS Nazi menggiring dia ke Auschwitz 1 tempat penyiksaan paling ngeri. Pada Juli 1941, seseorang dari barak Kolbe menghilang, membuat komandan kamp mengambil 10 orang dari barak yang sama untuk dihukum mati kelaparan di Blok 11 yang terkenal dengan kekejamannya. Salah satu dari mereka adalah Franciszek Gajowniczek. Karena ingin menyelamatkan keluarga Franciszek Gajowniczek, Maria Kolbe dengan sukarela menggantikan posisinya untuk dihukum mati tanpa diberi makanan sampai mereka mati lemas. Yang lainnya sudah mati, namun Maria Kolbe masih bertahan. Akhirnya dia disuntik dengan asam karbolik dan gugurlah dia sebagai pembela kehidupan keluarga. Yesus mengajarkan bahwa keluarga adalah tempat membangun kesucian dan kerendahan hati. Maka pasangan suami istri yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceriakan dengan alasan apa saja. Maria Kolbe menjunjung persatuan suami istri dalam perkawinan. Ia merelakan hidupnya demi seorang suami yang harus bertanggungjawab untuk kehidupan keluarganya. Allah berfirman,” Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Maria Kolbe sedemikan hebat menghargai kehidupan keluarga sampai dia rela mati agar suami istri dapat bersatu sampai akhir hayat. Apakah sebagai suami istri anda juga menjunjung tinggi nilai perkawinan ini sampai rela mengorbankan segala-galanya? Sepercik pantun buat anda: Slogan berdaulat adil makmur untuk siapa? Rakyat miskin banyak yang menderita. Keluarga adalah mutiara sangat berharga. Kasihi keluarga sampai ke alam nirwana. Wonogiri, rela berkorban bagi sesama Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 13 Agustus 2026
Kamis Biasa XIX Matius 18:21-19:1 PETRUS bertanya tentang berapa kali harus mengampuni saudaranya. "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Menurutnya tujuh kali mengampuni itu sudah batas maksimal untuk mengampuni sesamanya. Namun Yesus mengajarkan bahwa semangat pengampunan harus didasarkan pada kasih Allah yang tiada batas kepada manusia. Pengampunan yang tiada batas itu dijelaskan dengan perumpamaan hamba yang berhutang sepuluh ribu talenta. Satu talenta sama dengan 6000 dinar. Sepuluh ribu kali enam ribu adalah enampuluh juta dinar. Allah yang direpresentasikan dalam diri Raja itu menghapus hutang yang berjumlah enampuluh juta dinar. Upah buruh sehari sedinar pada zaman itu. Dia dibebaskan dari hutangnya yang bisa untuk membayar upah enampuluh juta hari!!! Tetapi sebaliknya hamba ini tak mau melepaskan temannya dari hutang yang hanya 100 dinar kepadanya. Seratus hari upah dibanding dengan enampuluh juta hari yang dibebaskan oleh Tuhan sangat tidak sebanding. Yesus mau mengajarkan kepada kita betapa Allah sangat mengasihi kita tanpa batas. Kita pun juga diajak mengasihi dan mengampuni sesama kita walau hanya kecil kesalahannya. Allah telah mengampuni dosa kita dengan cima-cuma. Maka kita pun harus mengampuni sesama dengan gratis juga. Kalau kita tidak mau mengampuni sesama, maka Allah juga akan menarik belas kasihan-Nya sampai hutangnya dilunaskan. Pengampunan ini bukan saja anugerah Allah, tetapi juga tuntutan agar kita ikut mengampuni sesama kita. Kasih kepada Allah diwujudkan dalam kasih kepada sesama. Tidak ada gunanya kita bilang “Aku mengasihi Allah” tetapi tidak mau mengasihi sesamanya. Santo Yohanes menuliskan, "Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya." Semakin banyak mengampuni sesama, semakin banyak pula anugerah Allah yang akan kita terima. Beranikah kita mengampuni saudara kita? Sepercik pantun buat anda: Dapat paket lempok dari Kalimantan, Dikirim melalui kapal di lautan. Kita mengasihi lewat pengampunan, Mengampuni bikin hati jadi ringan. Wonogiri, mari saling mengampuni Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 12 Agustus 2026
Rabu Biasa XIX Matius 18:15-20 KASUS peradilan paling menghebohkan terjadi pada tahun 1974, ketika Sengkon dan Karta ditangkap polisi dan dituduh melakukan pembunuhan dan perampokan. Sebelum meninggal dunia korban Siti Haya sempat menggumamkan nama Sengkon dan Karta. Polisi menangkap, menganiaya dan menyiksa keduanya untuk mengaku. Dalam tekanan yang berat keduanya mengaku dan dijatuhi hukuman 12 tahun untuk Sengkon dan 7 tahun untuk Karta. Di Penjara Cipinang, Sengkon bertemu dengan Gunel yang dihukum karena pencurian dan mengakui bahwa dialah pembunuh Sulaiman dan Siti Haya sesungguhnya. Ketua Mahkamah Agung Umar Seno Aji membuka kembali celah hukum dan melakukan peninjauan kembali kasus yang telah merugikan Sengkon dan Karta. Setelah 6 tahun dipenjara, akhirnya mereka dibebaskan karena tidak bersalah. Dalam sistem hukum ada asas praduga tak bersalah. Ini adalah prinsip hukum yang menyatakan bahwa setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, atau digugat melakukan suatu tindak pidana WAJIB dianggap tidak bersalah sampai ada putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap yang menyatakan kesalahannya. Peninjauan kembali juga bisa dilakukan jika ditemukan novum atau fakta baru seperti yang terjadi pada kasus Sengkon dan Karta. Asas itu digunakan untuk melindungi harkat dan martabat manusia dari tindakan sewenang-wenang aparat atau opini publik. Mencegah main hakim sendiri oleh masyarakat atau media massa (trial by the press). Menjamin proses peradilan yang jujur dan adil bagi setiap pribadi (fair trial). Dalam Injil, Yesus menerapkan proses mengadili seseorang secara bertahap. Pertama, "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.” Kedua, “Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.” Ketiga, “Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.” Dan keempat, “Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.” Dari sini kita diajarkan, jangan mudah menghakimi seseorang sebelum dibuktikan kebenarannya. Jangan hanya karena berita medsos, katanya, katanya, katanya kita menuduh dan menghukum orang. Kita gampang sekali membuat fitnah keji yang membunuh karakter seseorang. Jagalah mulutmu dan jari-jarimu agar tidak menyebarkan berita-berita bohong yang merugikan hidup orang lain. Sepercik pantun buat anda: Belanja sabun cuci di gedung koperasi, Harus nyebrang sungai lewat kuburan sepi. Fitnah keji adalah hal yang jahat sekali, Berhati-hati gunakan mulut dan jari jemari. Wonogiri, ada asas praduga tak bersalah Rm. A.Joko Purwanto,Pr Puncta 11 Agustus 2026
Pw. St. Klara, Perawan Matius 18:1-5.10.12-14 atau RUybs Matius 19:27-29 SANTA KLARA (1194-1253) berasal dari keluarga bangsawan yang kaya raya. Namun Klara lebih tertarik dengan cara hidup miskin yang dilakukan Fransiskus dari Asissi. Ia ingin mengikuti Yesus secara total dengan menjadi miskin. Ketika berusia 18 tahun, Klara dengan diam-diam meninggalkan istana ayahnya untuk bergabung dengan kelompok Fransiskus. Kendati keluarganya membujuknya untuk kembali ke istana, namun Klara dengan tegas menolaknya. Cara hidup miskin dihayatinya dengan sungguh-sungguh dan ditopang oleh doa dan matiraga yang keras sebagai sebuah spiritualitas untuk mengikuti Yesus tanpa reserve. Cara hidup ini kemudian diikuti oleh banyak perempuan yang tertarik masuk ke komunitasnya. Fransiskus kemuadian mendirikan biara khusus perempuan yang ingin mengabdikan diri kepada Kristus dengan semangat miskin dan matiraga. Merekalah yang kemudian disebut Ordo suster-suster Klaris. Yesus bersabda; "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.” Klara bertobat dari kehidupan dunia yang gemerlap menuju kemiskinan total untuk mengikuti Yesus. Seperti seorang anak kecil yang menggantungkan jaminan hidup hanya kepada Tuhan, dengan semangat miskin, dia menggantungkan pada penyelenggaraan-Nya. Yesus juga berkata, “Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal,” Kini, Klara telah menerima janji dari Tuhan. Ia memperoleh kehidupan kekal dan jumlah pengikut yang sangat banyak lebih daripada jumlah keluarganya, hartanya dan kekayaannya. Barangsiapa rela meninggalkan segalanya demi Kristus, ia akan memperoleh berkat yang lebih besar dari yang dimilikinya. Sepercik pantun buat anda: Di jalan-jalan ada banyak bendera, Berkibar dari Aceh sampai ke Papua. Rela mengorbankan segala-galanya, Adalah cara mengikuti Kristus Sang Raja. Wonogiri, mengorbankan jiwa raga Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed