|
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
18 Comments
Puncta 20 April 2026
Senin Paskah III Yohanes 6:22-29 KETIKA masuk ke seminari, para calon ditanya apa motivasinya. Saya waktu itu ditanya oleh Romo Rektor Julius Darmaatmaja SJ. “Kok pengin jadi rama, apa motivasimu Joko?” Saya dengan mantap bercerita bahwa Rama Paroki sering berkunjung ke keluarga. Waktu kunjungan itu, bapak saya memotong ayam untuk disajikan. Ibu memasak makanan yang enak-enak. Pikir saya waktu itu, senang jadi rama karena bisa makan sisanya rama yang lezat. Dulu kami jarang makan daging ayam atau telurnya. Makan telur ayam kalau pas ada kenduri dari tetangga yang punya hajat. Itupun seperempat telur masih dibagi empat dengan adik-adik saya. Maka saya pengin jadi rama supaya bisa makan yang enak-enak. Orang-orang mencari Yesus. Setelah pergandaan lima roti dan dua ikan, mereka semua makan kenyang. Maka mereka ingin mengangkat Yesus menjadi raja. Mereka menganggap Yesus bisa memenuhi kebutuhan mereka. Tetapi Yesus membongkar motivasi dasar mereka. Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.” Mereka tidak bisa mengenal siapa Yesus tetapi karena mereka dikenyangkan oleh roti yang diberikan Yesus. Motivasi mereka bukan utuk mengikuti Yesus sebagai Utusan Allah, tetapi karena mereka sudah dikenyangkan. Mereka bertanya, apa yang harus kami perbuat? supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" Seolah dengan banyak prestasi kita bisa menyenangkan Allah. Namun bukan prestasi yang dikehendaki Yesus melainkan iman. Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah." Iman kepada Yesus yang telah diutus oleh Bapa itulah yang harus menjadi motivasi dasarnya. Setelah menjalani imamat bertahun-tahun, saya makin menyadari bukan karena makan enak, fasilitas lengkap atau posisi jadi petinggi gerejalah yang paling penting, tetapi percaya bahwa Yesuslah yang memanggil untuk mengikuti Dia dengan setia. Mari kita terus menerus memurnikan motivasi kita untuk mengikuti Dia yang menjamin keselamatan hidup kita sampai pada Kerajaan Bapa. Sepercik pantun buat anda: Bermain layang-layang dari kertas, Terbawa angin sampai lepas. Jadi imam bukan karena fasilitas, Tetapi mau melayani tanpa batas. Wonogiri, apa motivasimu? Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 19 April 2026
Minggu Paskah III Lukas 24:13-35 PADA babak pertama penyisihan grup piala dunia tahun 2022, Argentina dikalahkan oleh Arab Saudi. Baru kali ini Argentina kalah. Kita bisa merasakan wajah lesu, muka muram, langkah berat para pemain keluar lapangan. Jalan makin panjang dan harapan jadi tipis. Duka menguras seluruh energi. Begitu harapan hilang, langkah menjadi makin berat ke depan. Sang pelatih terus memberi semangat kepada para pemain. Ia mendampingi mereka dengan penuh semangat dan kesabaran. Perlahan-lahan, gairah dan semangat juang mereka tumbuh. Satu per satu lawan dikalahkan. Akhirnya mereka sampai ke final dan mengalahkan Perancis dengan drama adu pinalti yang sangat mendebarkan. Argentina yang pada mulanya bermuka muram, kini bersorak-sorai mengangkat piala dunia. Pada awalnya mereka melangkah gontai, kini mereka berlari saling berpelukan menjadi pemenang. Kekalahan diubah menjadi kemenangan. Kesedihan dihapus menjadi kegembiraan. Seluruh negeri bersorak sorai oleh kemenangan Messi dan kawan-kawan. Inilah pengalaman dua orang murid yang berjalan pulang ke Emaus. Ungkapan ”Kami berharap” menunjukkan kekecewaan, keputusasaan dan kesedihan yang mendalam. Hidup mereka yang awalnya punya tujuan, kini tiada arah lagi. Yesus yang mereka harapkan telah mati. Dua murid ini berduka bukan hanya karena kehilangan seorang Guru, tetapi juga karena kehilangan sebuah tujuan. Hidup mereka telah dibangun oleh satu tujuan, oleh Injil, oleh kabar sukacita bagi kaum miskin dan harapan akan dunia baru. Tetapi kini musnah, tiada harapan lagi. Mereka tidak sadar bahwa teman perjalanan yang ada di tengah mereka adalah Yesus. Dia menerangkan isi Kitab Suci, bahwa semua itu harus terjadi. Mereka mulai sedikit memahami, tetapi kesedihan tetap menjadi malam yang gelap menghalangi mereka. Baru mereka terbuka mata hatinya saat Yesus memecahkan roti dalam perjamuan. Waktu itulah mereka sadar Yesus ada di tengah mereka. Yesus hidup dan menguatkan mereka. Dua murid yang tadinya sedih kini meluap bersukacita. Mereka yang tadinya takut, langsung kembali lagi ke Yerusalem. Mereka yang tadinya muram dan sedih, kini bergembira dan berkobar-kobar. Mereka yang tadinya tiada harapan, kalah, kini mereka penuh semangat mewartakan kebangkitan. Kita juga pernah mengalami kesedihan, putus asa dan beban berat dalam kehidupan. Dalam situasi itu kita diajak peka merasakan kehadiran Tuhan. Dia tidak meninggalkan kita. Dia berjalan bersama kita. Dia menjadi teman dalam menanggung beban derita. Saya jadi ingat lagu Simon & Garfunkel yang berjudul “Brigde Over Troubled Water.” Salah satu liriknya berkata, “When you’re weary, feeling small, when tears are in your eyes, I will dry them all.” Itulah Yesus yang akan menghapus air mata kita. Sepercik pantun buat anda: Jalan-jalan dari Medan menuju Parapat, Menikmati indahnya Danau Toba. Jika beban kehidupan kita terasa berat, Undanglah Yesus masuk ke rumah kita. Wonogiri, Yesus andalanku Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 18 April 2026
Sabtu Paskah II Yohanes 6:16-21 Ketika badai melanda hidupku. Kuberlindung pada-Mu Tuhan. Pabila ombak menimpa jalanku. Kubersandar pada-Mu Tuhan. Hanya pada-Mu Tuhan. Harapku t'lah kupautkan. Hanya pada-Mu Tuhan. Hidupku akan kus'rahkan. INILAH lagu yang sering kita nyanyikan pada masa Adven yang menggambarkan dinamika kehidupan kita semua. Kita ini digambarkan sebagai bahtera yang sedang menuju kepada Kerajaan Sorga. Hidup kita adalah sebuah peziarahan menuju keabadian. Dalam perjalanan itu kita sering menghadapi badai dan taufan yang menerjang. Seperti seorang nakhoda kita harus mampu mengatasi gelombang besar di hadapan kita. Nakhoda yang hebat adalah mereka yang mampu lolos dari terjangan gelombang. Dalam bacaan Injil hari ini, para murid yang adalah nelayan-nelayan di Danau Tiberias mengalami ketakutan yang luar biasa karena ada badai dan gelombang mengamuk. Badai dan gelombang bisa menerjang perahu sehingga tenggelam dan hancur. Kepanikan dan ketakuan melanda mereka. Lalu Yesus datang menghampiri mereka, Ia berjalan di atas air dan berkata, “Ini Aku, jangan takut!” Yesus masuk ke dalam perahu dan menghardik gelombang dan seketika menjadi tenang. Mereka selamat sampai ke tujuan. Ketika kita sedang menghadapi badai kehidupan, kita diajak untuk tidak panik, takut dan saling menyalahkan. Kita harus bisa menguasai diri dan mengendalikan perahu kita. Tuhan tidak jauh dari kehidupan kita. Kita diajak untuk mempersilahkan Tuhan masuk ke dalam perahu. Perahu itu bisa keluarga, komunitas, lingkungan atau gereja kita. Ketika terjadi masalah atau badai yang menghantam, kita perlu bersatu dan mengundang Tuhan masuk di dalamnya. Jangan malah saling menuduh, menyalahkan, lepas tangan atau lari dari persoalan. Kita bergandengan tangan bersama Tuhan. Pasti masalah akan bisa diatasi dan kita melenggang sampai ke tujuannya. Kita mengandalkan Tuhan sebagai nahkoda kehidupan kita. Sepercik pantun buat anda: Ke pasar membeli mendoan, Sambil duduk ngopi di pinggir jalan. Hidup selalu ada tantangan, Jangan takut, Tuhan ada di depan. Wonogiri, jangan takut Rm.A. Joko Purwanto,Pr Puncta 17 April 2026
Jum’at Paskah II Yohanes 6: 1-15 SEBAGAI seorang gembala, Yesus peka akan keadaan domba-domba-Nya. Ada banyak orang mengikuti Dia. Mereka lelah dan kelaparan. Belas kasih-Nya muncul melihat mereka yang mengikuti-Nya. Maka Dia menguji kepekaan para murid-Nya. Kepada Filipus Dia bertanya; "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?" Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Peristiwa ini mau dipakai oleh Yesus untuk mengajari para murid peduli terhadap kondisi orang-orang di sekitarnya. Pelajaran pertama adalah kepekaan. Kalau mereka menjadi gembala, mereka mesti punya kepekaan, kepedulian dan belarasa. Pelajaran kedua adalah bersyukur. Andreas mengatakan bahwa ada anak yang membawa lima roti jelai dan dua ikan. "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?" katanya. Jelas roti dan ikan yang sedikit itu tidak cukup. Namun Yesus mengajari mereka untuk selalu bersyukur atas pemberian Tuhan. Sekecil apapun berkat Tuhan, kalau disyukuri pasti akan cukup untuk kebutuhan kita. Kalau tidak ada rasa syukur sebanyak gunung pun masih terasa kurang. Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Yesus mengajak para murid untuk selalu bersyukur dalam keadaan apa pun. Pelajaran ketiga adalah jika kita memiliki rasa syukur, maka kita diajak untuk tidak membuang sekecil apa pun pemberian Tuhan. Setelah mereka kenyang Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang." Yesus tidak menyebut “sisa-sisa” makanan setelah orang makan kenyang. Tetapi Ia menyebut “potongan-potongan yang lebih.” Diksi pilihan katanya sangat menentukan tindakan selanjutnya. Ia tidak menyebut “sisa” tetapi “yang lebih.” Sisa dianggap sesuatu yang tidak berguna, lalu kita membuangnya. Yesus menyebut potongan yang lebih karena semua adalah pemberian Tuhan. Sekecil apapun pemberian Tuhan harus kita syukuri dan manfaatkan. Membuang berarti tidak menghargai anugerah Tuhan. Apakah kita selalu mensyukuri pemberian Tuhan dan tidak membuang apapun anugerah-Nya? Sepercik pantun buat anda: Rekreasi ke waduk Jatiluhur, Beli peuyeum di Tasikmalaya. Kita semestinya selalu bersyukur, Tuhan senantiasa memelihara kita. Wonogiri, Tuhan pemelihara kehidupan Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 16 April 2026
Kamis Paskah II Yohanes 3:31-36 SEORANG petani menemukan telur elang dan dibawanya pulang. Ia menaruhnya bersama telur-telur itik disarangnya. Setelah beberapa lama telur elang itu menetas. Anak elang itu bermain bersama dengan anak-anak itik. Ia mencari makan layaknya anak itik. Suatu hari mereka berlarian mencari tempat berlindung karena melihat seekor elang terbang di angkasa. Induk itik berteriak-teriak agar anak-anaknya berlindung supaya tidak menjadi mangsa elang raksasa. Anak elang bertanya kepada induk itik, “Mak itu siapa kok ada burung terbang membuat semua anak takut?” Sang induk berkata, “Dialah elang raja angkasa yang sering memangsa anak-anak itik di bawahnya. Diamlah kamu di sini supaya tidak dicakarnya.” Anak elang itu menurut induknya dan hidup di bumi layaknya anak-anak itik lainnya. Ia tidak bisa terbang ke angkasa dan hanya mencari cacing-cacing di sawah untuk meneruskan hidupnya. “Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya,” kata Yesus kepada Nikodemus. Yesus berasal dari atas. Ia berbicara tentang Allah yang mengutus-Nya untuk menyelamatkan manusia yang ada di bumi. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Yesus adalah utusan dari Allah. Barangsiapa menerima Dia akan memperoleh keselamatan. Melalui Kristus, kita adalah anak-anak Allah. Kita tidak menyadari akan status kita itu. Kita seperti anak elang yang hidup di bumi seperti anak-anak itik. Kita tidak menyadari martabat kita yang sebenarnya, bahwa kita diangkat oleh Yesus menjadi Putera Bapa. Karena Yesus yang turun ke dunia dan mati demi keselamatan manusia, kita baru tersadar bahwa kewarganegaraan kita yang sesungguhnya adalah dari atas yaitu dari sorga. Marilah kita hidup sebagai elang yang sesungguhnya sebagai penguasa angkasa raya. Kita terbang mengangkasa sebagaimana Yesus yang bangkit dengan jaya. Kita adalah putra-putri Bapa yang ada di sorga. Sepercik pantun buat anda: Burung elang terbang gagah di angkasa, Ia menguasai seluruh alam semesta. Kita semua adalah anak-anak Bapa, Karena Kristus yang bangkit mulia. Wonogiri, jadilah anak-anak Allah Rm.A.Joko Purwanto, Pr Puncta 15 April 2026
Rabu Paskah II Yohanes 3:16-21 PLATO sedang berdiskusi dengan Socrates dan Glaucon tentang keadilan. Socrates mengatakan keadilan itu baik dalam dirinya sendiri dan baik sebagai sarana untuk hal-hal luhur lainnya seperti hidup aman dan damai, harmoni, rukun bersatu, saling menghargai. Glaucon cenderung setuju tetapi dia ingin menguji Socrates agar membuktikan bahwa sebenarnya orang melakukan keadilan dan kebaikan hanya karena takut dihukum atau diadili. Kalau tidak ada hukuman atau tidak diketahui oleh orang banyak, manusia cenderung berbuat jahat. Glaucon menggambarkan argumennya dengan cerita tentang “Cincin Gyges.” Gyges adalah seorang gembala sederhana. Suatu kali terjadi gempa dan ada lubang menganga di tanah. Gyges melihat ada benda-benda aneh, termasuk sebuah cincin di lubang itu. Gyges mengambil cincin dan memakainya. Pada pertemuan para gembala, Gyges menyadari bahwa kalau dia memutar cincin ke arah bagian dalam tangannya, orang lain tidak dapat melihat dirinya. Ia menjadi tak terlihat oleh siapapun. Mengetahui kemampuan “menghilang” ini, dia melakukan hal-hal buruk. Dia mencari alasan untuk menyampaikan pesan ke istana, lalu merayu ratu. Mereka berdua bersekongkol untuk membunuh raja Lydia yang kepadanya Gyges telah bersumpah setia, dan Gyges mengambil alih posisinya sebagai penguasa yang lalim. Gyges adalah gambaran watak manusia yang sebenarnya. Kalau tidak diketahui orang, kita cenderung berbuat jahat; korupsi, mencuri, merampok, selingkuh, hidup dalam kegelapan. Itulah watak dasar manusia. Yesus menggambarkan karakter kita dengan kata lain. Ia berkata, “Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; Tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” Namun karena kasih Allah yang penuh belas kasih, manusia dituntun kepada Terang. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Kita membutuhkan Terang yakni kasih Tuhan agar kita dituntun untuk melakukan kebaikan karena kita lebih suka hidup dalam kegelapan. Yesuslah Terang itu. Mari kita mengikuti Sang Terang Sejati agar tidak memilih kegelapan. Sepercik pantun buat anda: Banyak orang melakukan korupsi, Kalau lagi apes bisa diciduk polisi. Yesus adalah Sang Kasih Sejati, Dia tidak menghukum atau menghakimi. Wonogiri, Hiduplah dalam Terang Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 14 April 2026
Selasa Paskah II Yohanes 3:7-15 PEPATAH Jawa ini mau mengatakan orang yang lebih tua, berpengalaman, atau orang pandai belajar dari mereka yang lebih muda. Secara harafiah, kebo (kerbau dewasa) menyusu pada gudel (anak kerbau). Kondisi dimana senior belajar dari yuniornya. Hal ini bisa diterapkan pada Nicodemus. Dia adalah anggota mahkamah agama Yahudi.Yesus menyebutnya sebagai pengajar Israel. Nicodemus adalah orang yang dihormati karena statusnya yang tinggi, berpengaruh dan berpengalaman. Namun dia datang kepada Yesus, guru biasa yang berkeliling dari desa ke desa. Dia hanya guru dari kampung kecil. Maka dia datang pada waktu malam, supaya tidak diketahui oleh orang banyak karena dia ingin belajar dari Yesus yang stratanya lebih rendah. Nicodemus bertanya tentang kelahiran kembali. “Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali,” kata Yesus. Nikodemus menjawab, katanya: "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?" Jawab Yesus: "Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?” Nicodemus dan kaum Farisi berkata-kata tentang hal-hal duniawi. Tetapi Yesus berbicara tentang hal-hal surgawi, karena Yesus berasal dari Allah. Hal ini tidak bisa ditangkap oleh Nicodemus sehingga kaum Farisi tidak percaya kepada Yesus. Identitas Yesus yang dari sorga disampaikan ketika Dia berkata, “Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.” Bagi mereka yang percaya kepada-Nya akan memperoleh hidup kekal. Diam-diam Nicodemus mengagumi Yesus sebagai Guru Sejati. Dia percaya bahwa Yesus berasal dari Allah, kendati tidak secara terang-terangan karena takut pada bangsanya sendiri. Nama Nicodemus muncul di awal Injil Yohanes. Namanya muncul kembali ketika Yesus wafat dan dikuburkan. Ia membantu Yusuf dari Arimatea menguburkan Yesus secara terhormat. Ia membawa campuran minyak mur dan gaharu yang sangat banyak (sekitar 50 kati) untuk membalsam jenazah Yesus. Kendati namanya tidak banyak disebut, Nicodemus telah bertemu dengan Yesus dan berdialog sangat mendalam. Ia menemukan inti ajaran Yesus bahwa orang harus dilahirkan kembali agar bisa menemukan Kerajaan Allah. Dengan baptisan dan pencurahan Roh Kudus dalam sakramen Krisma kita dilahirkan kembali. Mari kita hidup dalam iman yang teguh, menjadi saksi-Nya agar Kerajaan Allah tersebar dimana-mana. Sepercik pantun buat anda: Hujan rintik-rintik dari Wonogiri, Sungai meluap sampai ke Bengawan. Orang harus dilahirkan kembali, Agar hidup baru dalam Roh Tuhan. Wonogiri, hidup dalam terang Tuhan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 13 April2026
Senin Paskah II Yohanes 3:1-8 KAMI, paling tidak saya sering merasa lahir kembali ketika kumpul dan ngobrol bareng dengan Rusa Jantan (sebutan alumni Merto 81-85). Tadi kami ziarah bareng ke Sendang Ratu Kenya di Danan. Ada yang dari Solo, Muntilan dan Wonogiri ngumpul berdoa. Ngobrolnya itulah yang bikin kami lahir kembali. Tetapi banyak orang sering melakukan ziarah pada malam hari. Tradisi ini sudah terjadi turun temurun. Saya sering melihat di Bayat ada makam Sunan Pandanaran. Banyak peziarah datang pada tengah malam dan berdoa di sana. Di Gua Maria Kerep Ambarawa atau di Gua Maria Sendangsono juga banyak peziarah yang datang pada waktu malam. Mereka mencari keheningan dan ketenangan untuk dapat berjumpa dengan Tuhan. Malam adalah saat yang sakral dan ilahi. Nikodemus seorang tokoh agama Yahudi datang pada Yesus pada malam hari, saat yang tidak biasa untuk menerima tamu. Tetapi Yesus menerimanya dengan tangan terbuka dan hati yang lapang. Mereka berdiskusi sangat mendalam. Nikodemus bukan orang sembarangan. Ia pemimpin Yahudi, tokoh agama, seorang Farisi yang cakap yang oleh Yesus kelak disebut pengajar Israel. Ia datang dengan takzim dan berkata dengan hormat, "Rabi, kami tahu Engkau datang dari Allah sebagai guru." Yesus tidak berhenti pada penghormatan, Ia tahu kebutuhan dasar Nicodemus sampai datang kepada-Nya. Tokoh agama yang dihormati dan disegani banyak orang Yahudi ini sampai datang tengah malam. Pasti ada kerinduan yang tak terkatakan. Yesus langsung pada inti kerinduan si tokoh ini. Bukan soal tambahan pengetahuan rohani, tetapi soal hidup dan mati di akherat nanti. "Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." Lahir kembali bukan secara fisik tetapi secara rohani. Lahir kembali berarti menerima hidup dari Allah. Kerajaan Allah tidak sekedar diketahui secara intelektual, tetapi diterima dari Allah melalui penerangan Roh Kudus. Kerajaan Allah hanya dapat dilihat oleh hati yang dibukakan melalui kelahiran baru. Nikodemus menjawab dengan pertanyaan yang sangat harafiah. Ia membayangkan orang tua masuk lagi ke dalam rahim ibunya. Respons ini menunjukkan bahwa pikiran manusia secara alami tidak sanggup memahami realitas rohani tanpa pertolongan Allah. Tuhan menjelaskan karya Roh Kudus itu seperti angin. Angin bertiup ke mana ia mau. Kita mendengar bunyinya, merasakan lembut sentuhannya, melihat pengaruhnya, tetapi kita tidak dapat mengendalikan lajunya. Namun kita bisa melihat buahnya. Demikian juga Roh Kudus. Orang yang dilahirkan kembali oleh Roh Kudus akan merasakan dan mengalami buahnya. Hati yang dulu keras menjadi lembut. Hidup yang tidak terarah menjadi fokus pada Tuhan. Yang tadinya suka marah menjadi pemaaf. Apakah kita sudah pernah mengalami dilahirkan kembali oleh kuasa Tuhan? Sepercik pantun buat anda: Menikmati indahnya puncak Merapi, Erupsi lahar berwarna merah hati. Tuhan menuntun kita lahir kembali, Menuju hidup yang penuh cahaya ilahi. Wonogiri, lahir kembali oleh Roh Tuhan Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 12 April 2026
Minggu Paskah II Yohanes 20:19-31 BEBERAPA saksi kebangkitan telah bercerita bahwa Yesus hidup. Tetapi murid-murid belum percaya. Mereka masih dibelenggu oleh ketakutan. Hal ini ditandai dengan kunci-kunci pintu rumah dimana mereka berkumpul tertutup rapat. Kendati Petrus dan murid yang lain sudah masuk ke dalam kubur yang kosong, tetapi mereka juga belum menangkap. Ketakutan menghantui dan membelenggu pikiran mereka sehingga menutup pintu iman bahwa Yesus harus bangkit dari kematian. Ketika hari sudah malam, pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" Malam melambangkan kegelapan hati. Pintu terkunci menandakan ketakutan yang dialami para murid. Yesus sendiri datang di tengah-tengah mereka memberikan salam “Damai sejahtera bagi kamu!” Salam damai itulah yang membuka hati yang takut dan gelap. Begitu pun kepada Tomas yang tidak percaya. Tomas menuntut syarat, "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." Manusia baru percaya kalau terpenuhi syarat-syaratnya. Tuhan mendatangi kita tanpa syarat. Manusia mau mengasihi dengan syarat. Tetapi Tuhan mengasihi kita tanpa syarat. Bahkan Tomas yang menuntut syarat pun, didatangi dengan penuh kasih. Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." Yesus tidak marah, tidak menghukum atau mengucilkan Tomas. Ia diberi kebebasan untuk memilih sendiri. Dan akhirnya dia percaya dengan berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Damai sejahtera dari Tuhan mengalahkan kedegilan dan ketakutan mereka. Yesus masih memberi kesempatan bagi kita yang tidak melihat-Nya. "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." Inilah perjuangan iman yang sesungguhnya. Lebih baik tidak melihat namun percaya, daripada bisa melihat nanum tidak percaya. Dengan demikian kita punya harapan akan bisa melihat Tuhan. Sepercik pantun buat anda: Ada banyak cinta membutuhkan syarat, Itu tanda ketakutan dan ketidakpercayaan. Tuhan mengasihi tanpa menuntut syarat, Ia berkorban agar kita alami kebahagiaan. Wonogiri, cinta tanpa menuntut syarat Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed