|
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
18 Comments
Puncta 24 Mei 2026
HR.Pentakosta Yohanes 20:19-23 SUMPAH PEMUDA adalah tonggak sejarah perjuangan kaum muda untuk membangun nasionalisme. Rapat pertama dilakukan di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond di kompleks yang sekarang adalah Gereja Katedral Jakarta. Gedung lama sudah dipugar kini menjadi Graha Pemuda untuk mengenang peristiwa Sumpah Pemuda 1928. Di tempat itulah dirumuskan semangat kebangsaan yang menyatukan seluruh rakyat Indonesia. Dipimpin oleh Sugondo Djojopuspito dari Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia. Dengan ikhrar satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia, maka disatukanlah aneka suku, agama, bahasa yang beraneka ragam menjadi satu Indonesia. Kita memiliki 1.340 suku bangsa. Ada 718 bahasa daerah yang hidup di Nusantara yang kaya raya ini. Dengan Bahasa Indonesia, semua orang dari berbagai suku bangsa bisa berkomunikasi. Dengan Bahasa Indonesia semua orang bisa saling mengenal dan bersatu padu. Sumpah Pemuda bisa dikatakan sebagai Hari Pentakostanya Bangsa Indonesia. Sumpah Pemuda adalah momen dimana kaum muda dibimbing oleh Roh Kudus. Hari ini umat Katolik merayakan Hari Pentakosta, saat dimana Roh Kudus diturunkan untuk Gereja. Dalam Kisah Para Rasul, diceritakan bagaimana orang-orang dari berbagai bangsa bersatu di Yerusalem dan mereka mengerti kesaksian para rasul. Para rasul yang awalnya takut, tertutup rapat di dalam kamar, bersembunyi dalam kecemasan, putus asa dan bingung, kini karena kuasa Roh Kudus, mereka bersaksi dengan berani dan berpidato kepada banyak orang, memberi kesaksian tentang Yesus Sang Mesias. Orang-orang dari orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah. Pesan dari peristiwa ini adalah karunia Roh Kudus diberikan kepada kita agar berani bersaksi. Roh Kudus akan membimbing, memimpin dan menuntun kepada kebenaran. Seperti peristiwa Sumpah Pemuda, Pentakosta membawa semangat persatuan dalam keberagaman. Menghidupi semangat Sumpah Pemuda, sebenarnya kita juga menghidupi semangat Pentakosta. Mari kita kembangkan persatuan dan kesatuan baik sebagai warga gereja, maupun juga warga bangsa. Sepercik pantun buat anda: Kita berikhrar satu nusa satu bangsa, Bahasa persatuan adalah Indonesia. Roh Kudus turun di hari Pentakosta, Menuntun kita menebarkan cinta. Wonogiri, selamat menerima Roh Kudus Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 22 Mei 2026
Jum’at Paskah VII Yohanes 21:15-19 DALAM Bahasa Yunani ada beberapa tingkatan kasih. Yang sering disebut adalah Eros, Philia dan Agape. Eros berarti cinta berdasarkan hasrat, gairah dan daya tarik fisiologis. Maka muncul kata “Erotis.” Philia adalah kasih persahabatan atau persaudaraan. Ini adalah ikatan kasih yang mendalam atas dasar hubungan darah, kesetiaan, rasa hormat dan visi misi bersama. Orang Jawa menggambarkan dengan pepatah, “Dudu sanak dudu kadang yen mati melu kelangan.” Agape adalah kasih tanpa syarat (Unconditional Love). Inilah kasih ilahi yang memberi tanpa mengharapkan balasan. Kasih pengorbanan bagi siapapun tanpa memperhitungkan untung rugi. Kasih ini bersifat universal. Dalam kutipan ini, dialog Yesus dengan Petrus tentang mengasihi memakai dua kata yang berbeda. Yesus bertanya kepada Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi (agape) Aku?" Ini adalah kasih tertinggi dan tanpa syarat, seperti pengorbanan Kristus di kayu salib. Tetapi jawab Petrus tidak sama dengan kasih (Agape) yang disampaikan Yesus. Petrus menjawab, "Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi (phileo) Engkau." Kasih Petrus adalah kasih persahabatan kepada Yesus. Hal itu dikatakan Petrus sampai tiga kali. Ia tidak berani menjawab dengan Agape, tetapi dengan phileo. Maka dalam pertanyaan ketiga, Yesus memutuskan untuk menurunkan tuntutan kasih-Nya dengan istilah phileo, bukan agape. Yesus tahu manusia itu lemah. Ia menurunkan gradasi kasih ke taraf phileo. Petrus sadar atas kelemahannya. Ia pernah menyangkal Yesus tiga kali. Ia gagal dan belum berhasil mencapai Agape yang sejati. Kendati gagal, Petrus terus dibimbing untuk mengasihi Yesus seperti Dia mengasihi. Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi (phileo) Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi (phileo) Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Walau gagal, dia diberi tugas sebagai pimpinan atas kawanan domba-Nya. Hanya orang yang mampu menyadari kelemahannya dan terbuka pada bimbingan Tuhan, dialah yang akan tetap setia pada kehendak-Nya. Dengan perlahan tapi pasti, Petrus memimpin gereja dan mengorbankan nyawanya bagi kawanan yang dipercayakan kepadanya. Ia menjadi martir di Roma dan mati seperti Guru-Nya. Ia sampai juga pada Agape, kasih yang rela berkorban seperti yang dikehendaki Kristus. Seberapa besarkah kasih kita pada Kristus? Sudah sampai agape atau baru sampai ke taraf phileo. Atau bahkan hanya sebatas Mania, atau Eros saja? Sepercik pantun buat anda: Pagi-pagi pergi ke kampus, Ketemu dosen bermata biru. Apa jawabanku pada Kristus, Apakah engkau mengasihi Aku? Wonogiri, apakah engkau mengasihi Aku? Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 21 Mei 2026
Kamis Paskah VII Yohanes 17:20-26 SEMBOYAN dalam Bahasa Latin ini berarti “Satu untuk semua, Semua untuk satu.” Semangat ini menyerupai motto “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Nilai yang ingin ditanamkan adalah semangat persatuan, solidaritas, kesetiaan dalam suka dan duka. Motto ini diperkenalkan oleh Alexandre Dumas dalam novelnya yang terkenal “The Three Musketeers.” Mereka adalah prajurit yang loyal pada raja yang sah. Tiga Musketeer itu adalah Athos , Porthos , Aramis , dan d'Artagnan yang ikut bergabung membela negara. One for all, all for one adalah ikatan kuat untuk membangun solidaritas kelompok. Yesus juga membangun komunitas murid-murid agar tetap bersatu sebagaimana Dia bersatu dengan Bapa. Demikian juga para murid diharapkan tetap solid bersatu dengan-Nya. Yesus berdoa bagi mereka. Ini menjadi harapan Yesus agar semua murid-Nya bersatu. Ia berkata, ”Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Persatuan itu sangat penting. Tanpa persatuan yang kuat, kita mudah dihancurkan. Musuh utama bukan dari luar, tetapi justru dari dalam komunitas sendiri. Tanpa semangat persatuan yang kokoh, komunitas bisa gagal. Hal ini disadari betul oleh Yesus. Murid-murid-Nya punya banyak motivasi beragam mengikuti-Nya. Kalau tidak disatukan dalam semangat yang sama dengan Dia, niscaya akan tercerai berai. “Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku.” Kita bisa melihat bagaimana dinamika gereja sekarang dirongrong oleh semangat egoisme komunal dari mereka yang mengatasnamakan demokrasi dan kesamaan hak, transparansi dan pemaksakan kehendak. Kalau semangat persatuan itu tidak dihayati secara benar, gereja bisa terpecah-pecah dan tercerai berai. Yesus mengajak kita merenungkan sabda-Nya. “Aku berdoa supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Apakah kita sudah menghayati semangat persatuan ini ataukah kita justru sedang memecah belah gereja (persekutuan umat yang percaya pada Kristus) yang dibangun oleh Tuhan sendiri? Sepercik pantun buat anda: Bersatu kita teguh, Bercerai kita runtuh. Gereja akan tetap utuh, Kalau kita mau patuh. Wonogiri, One for All Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 20 Mei 2026
Rabu Paskah VII Yohanes 17:11b-19 SUPERMAN adalah film yang menggambarkan seorang super yang senang membantu orang melawan kejahatan. Superman terlahir dengan nama asli Kal-El dari Planet Krypton. Ia dikirim ke bumi oleh ayahnya Jor-El karena bahaya mengancamnya. Roketnya jatuh di desa Smallville. Bayi itu diadopsi oleh keluarga Jonathan dan Marta Kent. Ia diberi nama baru Clark Kent. Ia menjadi pemuda dewasa dan kuat melebihi yang lainnya. Dalam kehidupan nyata dia bertugas menjadi wartawan. Namun Kent terpanggil sebagai pahlawan super hero yang memberantas segala kejahatan di tengah masyarakat. Ia mengasihi teman sejawatnya, Lois Lane dan menikahinya. Namun Kal-El atau Superman harus meninggalkan bumi dan kembali ke asal usulnya. Superman harus menyelamatkan planetnya yang dikuasai oleh Lex Luthor yang jahat. Ia berpesan kepada Lois Lane agar merawat anaknya karena Kal-El yakin anak ini mewarisi kekuatan dirinya yang berasal dari Planet Krypton. Yesus sebelum berpisah dengan murid-murid-Nya berdoa kepada Bapa di sorga agar menjaga dan melindungi mereka dari segala yang jahat. Mereka bukan dari dunia sama seperti Kristus yang bukan dari dunia. Tetapi mereka masih ada di dalam dunia. “Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia,” pinta Yesus pada Bapa. “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.” Kita bersyukur karena kita selalu dijaga dan dilindungi oleh Yesus melalui doa-doa-Nya. Maka kita diajak meneruskan karya-karya Yesus mewartakan kebenaran dan cintakasih. “Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia,” perintah Yesus. Mari kita siap menjadi utusan dimana pun kita berada, mengobarkan semangat cinta kasih kepada siapapun juga tanpa memandang latar belakang mereka. Sepercik pantun buat anda: Pesta babi ada dimana-mana, Belarasa untuk rakyat di Papua. Kita bukan berasal dari dunia, Warga negara kita adalah sorga. Wonogiri, jangan hanya diam kalau ada ketidakadilan Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 19 Mei 2026
Selasa Paskah VII Yohanes 17:1-11a DALAM sharing di kelompok Paguyuban Imam-Imam Jesus Caritas, Rama Trasno bercerita bahwa doa yang selalu diucapkan adalah syukur atas campur tangan Tuhan lewat semua yang dikerjakan dalam pelayanan sehari-hari. “Saya berdoa pada Tuhan seperti melaporkan apa yang saya kerjakan, dengan siapa saya berjumpa, bagaimana perasaan saya waktu itu. Lalu bersyukur Tuhan mengatur semuanya berjalan dengan baik. Itulah doa saya setiap hari,” ungkapnya di hadapan rama-rama Jesus Caritas. Dalam kutipan Injil hari ini, Yesus mengucapkan doa syukur agung kepada Bapa-Nya yang telah memuliakan-Nya melalui karya-karya dan pekerjaan yang dilakukan Yesus kepada banyak orang. Ia membawa seluruh karya dan orang-orang yang dilayani kepada Bapa-Nya. “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya,” doa Yesus kepada Bapa. Dengan melaksanakan tugas-Nya Yesus memuliakan Allah. Yesus menuntaskan pekerjaan-Nya di kayu salib untuk memberi hidup kekal kepada mereka yang percaya. Mereka telah menjadi percaya bahwa Kristuslah Sang Penebus. Dengan percaya, mereka mengenal Allah yang sesungguhnya. Yesus mendoakan mereka yang masih berjuang di dunia. “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka.” Bagaimanakah kita berdoa kepada Bapa? Apakah hanya sebatas ritual saja, kering dan hambar karena tidak melibatkan seluruh perasaan dan pengalaman karya-karya kita? Marilah kita belajar berdoa seperti Yesus, melibatkan Allah dalam segala tugas pekerjaan kita. Doa menjadi sumber yang terus mengalir tanpa henti untuk menyuburkan karya-karya kita. Dengan demikian kita memuliakan Allah melalui karya kita itu. Sepercik pantun buat anda: Hutan dibabat jadi persawahan, Banyak satwa yang musnah di Papua. Doa dan karya tak bisa dipisahkan, Jangan lupa berdoa sebelum berkarya. Wonogiri, satu dalam doa dan karya Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 18 Mei 2026
Senin Paskah VII Yohanes 16:29-33 TOKOH utama dalam Gerakan 30 September 1965 adalah DN Aidit. Dia adalah pemimpin Partai Komunis Indonesia. Kelompok ini dituduh mau melakukan kudeta. Maka seluruh pimpinan ditangkap, dihukum mati. Ada yang dibuang ke Pulau Buru dan Nusakambangan. Partai dibubarkan dan dilarang beroperasi. Para pengikutnya juga dikejar, dihukum tanpa melalui pengadilan dan dicap sebagai organisasi terlarang. Mereka dikucilkan dan ditutup segala akses untuk mendapatkan pekerjaan di lini pemerintahan. Mereka hidup dalam bayang-bayang penindasan, ketidakadilan dan diskriminasi. Selalu dicap sebagai kambing hitam dalam setiap gerakan anti pemerintah. Merekalah yang selalu disalahkan. Yesus memahami situasi para murid yang akan ditinggalkan. Oleh orang-orang Yahudi, Yesus dituduh sebagai perusak adat istiadat agama. Oleh orang-orang Romawi, Yesus dianggap sebagai pemimpin kaum proletar, rakyat jelata yang bisa menyulut pemberontakan. Kelompok-kelompok agama Yahudi seperti Farisi dan Saduki sangat tidak suka dengan ajaran-ajaran Yesus yang sering mengkritik mereka. Yesus sudah menduga bahwa para murid-Nya nanti pasti juga akan mengalami penolakan dan perlawanan. Oleh karena itu sebelum berpisah dengan mereka, Yesus sudah mengingatkan resiko mengikuti perjuangan-Nya. Ia berpesan, “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia." Para murid-Nya akan mengalami penganiayaan, pengejaran, ditangkap, dipenjara dan dibunuh karena membela imannya. “Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku,” Ia telah bernubuat. Siapa yang tetap bertekun sampai akhir perjuangan, ia akan memperoleh hidup yang sejati. Yesus bersabda, “"orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan diselamatkan". Yesus sudah memaparkan bahwa menjadi murid-Nya memang berat. Tetapi siapa yang bertahan, ia akan memperoleh keselamatan. Maukah kita bertahan mengikuti-Nya sampai akhir? Sepercik pantun buat anda: Di kebun sawit ada banyak tikus, Bisa jadi lauk enak kalau direbus. Tidak mudah mengikuti Yesus, Harus siap memanggul salib terus menerus. Wonogiri, siap menderita demi Kristus Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 17 Mei 2026
Hari Minggu Paskah VII Hari Komunikasi Sosial Sedunia Yohanes 17:1-11a PRESIDEN pertama kita, Soekarno dijuluki sebagai “Singa Podium,” karena pidatonya yang berapi-api dan mampu menyihir ribuan orang untuk setia mendengarkan pesan-pesannya. Ia mampu mengobarkan semangat rakyat untuk berjuang. Ia juga dijuluki sebagai “Penyambung Lidah Rakyat.” Ia mampu mengajak rakyat bersatu, berjuang bersama dan gotong royong menghadapi situasi sulit negeri. Ia menyambungkan cita-cita seluruh rakyat Indonesia agar bisa merdeka dan menghantarkan ke gerbang kemerdekaan. Pada perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ini, bacaan Injil menggambarkan Yesus sebagai Sang Komunikator Agung. Ia berkomunikasi dengan Bapa di sorga. Ia menyampaikan doa-doa syafaat kepada Bapa untuk keselamatan manusia. Yesus menghubungkan kita umat manusia dengan Allah Bapa di sorga. Ia telah memperkenalkan Bapa kepada kita dengan segala karya dan sabda-Nya. “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.” Sang Komunikator Agung itu telah mewahyukan Allah melalui sabda, karya dan puncaknya adalah wafat-Nya di salib. Dengan wafat dan kebangkitan-Nya, Yesus menghantar kita yang berdosa ini kembali kepada Bapa. Dengan kebangkitan-Nya, Yesus dipermuliakan dan ditinggikan di sisi kanan Allah. Dengan pengorbanan Yesus kita kembali menjadi anak-anak angkat Allah. Walaupun kita masih hidup di dunia, tetapi kita ini adalah milik Allah. Maka sudah seharusnya dan sewajarnya jika hidup kita juga meneladan dan mengikuti Kristus yang telah menyatu dengan Allah. Allah telah memberikan hidup kekal kepada Kristus, demikian juga Kristus akan memberikan hidup kekal kepada kita yang percaya. “Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Kristus telah memuliakan kita, maka marilah kita memuliakan Kristus dengan melaksanakan karya dan teladan-Nya mengasihi semua orang di sekitar kita. Sepercik pantun buat anda: Pidato Soekarno di atas mimbar, Mengobarkan cinta nusa dan bangsa. Tidak ada kasih yang lebih besar, Daripada kasih Yesus pada manusia. Wonogiri, Allah sumber kasih sejati Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 16 Mei 2026
Sabtu Paskah VI Yohanes 16:23b-28 TANGGAL 26 Juli 2025, Seekor induk monyet Jepang (Macaca fuscata) dari Ichikawa City Zoo, melahirkan bayi yang kelak diberi nama Punch. Bayi monyet ini ditinggalkan induknya. Penjaga kebun binatang memelihara Punch dengan kasih sayang. Tak ada kasih dan pelukan induknya, Punch merasa kesepian. Penjaga memberinya boneka orangutan sebagai tempat bermanja dan berlindung dari rundungan monyet dewasa. Ia memeluk dan berguling-guling bermain manja. Rasa kasihan menyergap para netizen saat Punch bergelayutan di tubuh penjaga kebun binatang. Ia seperti layaknya anak tanpa kasih sayang ditinggalkan orangtuanya. Ia meminta perlindungan dan kasih sayang. Nasib Punch sebetulnya adalah nasib kita juga. Yesus pergi meninggalkan para murid-Nya. Mereka seperti anak ayam kehilangan induk. Berlari kian kemari mencari perlindungan dan kasih sayang. “Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa," kata Yesus pada para murid. Ia kembali kepada Bapa. Ia menasehatkan agar kita meminta kepada Bapa. Sebagaimana Punch yang mengharapkan rasa aman, perlindungan dan kasih sayang, kita pun juga membutuhkan kasih sayang dari Bapa. Maka Yesus berpesan agar kita memintanya kepada Bapa. “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” Dari monyet kecil, Punch itu kita bisa bercermin bahwa yang kita butuhkan adalah kasih sayang Allah Sang Pemelihara Kehidupan kita. Mengapa simpati global mengalir pada Punch, si monyet yatim itu? Karena dari lubuk terdalam, kita pun juga mengalami perasaan yang sama seperti Punch. Kita membutuhkan kasih Allah. Yesus sudah menyatakannya, “Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah.” Mari kita datang dan memohon kasih Allah, agar hidup kita dilimpahi dengan sukacita. Yesus berpesan, “Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” Sepercik pantun buat anda: Monyet kecil bermain di Ichikawa, Menguras rasa simpati seluruh dunia. Yesus Kristus kembali kepada Bapa, Akan mengutus Roh Penghibur bagi manusia. Wonogiri, mintalah pada Bapa Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 15 Mei2026
Jum’at Paskah VI Yohanes 16:20-23a SETELAH duapuluh lima tahun jadi imam, saya tidak naik gunung lagi. Tetapi untuk merayakan pesta perak imamat yang lalu saya ingin menikmati indahnya puncak gunung. Kami memilih yang tidak tinggi yakni Gunung Mongkrang (2.194 mdpl), sebuah puncak dalam gugusan Gunung Lawu Selatan yang sering menjadi tujuan pendakian santai. Kami bertujuh naik dari Tawangmangu saat subuh yang masih gelap. Udara dingin dan pagi yang gelap menyelimuti. Walau demikian kaki terus melangkah naik dan mendaki dengan pelan. Makin di ketinggian perjalanan makin terjal. Karena lama tidak mendaki gunung, kaki rasanya penat dan berat melangkah. Lelah, letih dan pegal di badan harus dikalahkan demi mencapai puncak. Derita dan sakit, beban dan kesulitan harus dibuang jauh untuk bisa melihat sunrise yang indah. Saat sudah berada di puncak Mongkrang, pemandangan indah mengagumkan luar biasa. Melihat matahari terbit perlahan-lahan di cakrawala dengan warna-warna jingga keemasan sungguh mengagumkan. Segala beban derita, sakit, kelelahan dan keletihan hilang seketika. Perjuangan berat selama pendakian terbayar sudah dengan keindahan alam yang menakjubkan. Seperti kebahagiaan seorang ibu yang baru saja melahirkan. Demikianlah Yesus menghibur para murid yang akan berpisah dengan-Nya. Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.” Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Dalam kehidupan ini kita juga sering mengalami kehilangan, berpisah dan ditinggalkan oleh orang-orang yang kita kasihi. Kita mengalami beban dan derita, susah dan dukacita. Tetapi kita punya harapan bahwa sesudah perjuangan, kita akan memperoleh sukacita dan kebahagiaan. Kita diminta untuk bersabar dan tekun menantikan janji Tuhan. Ia tidak akan meninggalkan kita. Ia akan menyertai kita dengan Roh Kudus-Nya. Ia akan berjalan bersama kita menapaki jalan yang berlekuk liku. Yesuslah sahabat setia yang akan selalu mendampingi kita. Sepercik pantun buat anda: Mendaki ke Gunung Mongkrang, Dari jauh lihat Telaga Sarangan. Walau sering ragu dan bimbang, Tetap jalan mengandalkan Tuhan. Wonogiri, jalan bersama Tuhan Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed