|
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
17 Comments
Puncta 9 Februari 2026
Senin Biasa V Markus 6:53-56 NURLAELA adalah bidan di RSUD Kepulauan Seribu. Ia bersama kapal ambulance berkeliling di Kepulauan Seribu untuk membantu warga yang sakit. Ia bersama crew kapal menjemput pasien-pasien yang sakit. Ia menjemput para pasien dari Puskesmas Selatan dan Utara untuk dibawa di RSUD. Setiap minggu dia berkeliling menyelamatkan warga yang sakit. Ia juga membantu para ibu yang akan melahirkan. Ia berkeliling dari Pulau Kepala, Pulau Sebira, Pulau Harapan dan Kelapa dua. Banyak pasien yang sudah menunggu untuk ditolongnya. Sesudah itu dia lanjut ke Pulau Tidung, Pulau Pari, Pulau Lancang dan Pulau Untung Jawa. Di sana juga banyak warga yang menantinya. Orang-orang seperti Nurlaela inilah pahlawan-pahlawan nyata yang menyelamatkan banyak warga. “Kepuasan menolong orang melahirkan itu benar-benar bahagia. Bangga bisa menolong ibu dan bayinya selamat. Bayinya sehat dan ibunya juga selamat, itu menjadi amal saya,” kata Bidan Nurlaela. Yesus tiba di Genesaret dan banyak orang sudah menunggu-Nya. Mereka mengenali Dia dan langsung membawa banyak orang sakit agar disembuhkan. Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada. Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh. Pelayanan yang tiada kenal lelah dilakukan Yesus untuk menolong banyak orang. Semua orang percaya oleh kuasa Tuhan yang menyembuhkan. Iman akan kuasa Tuhan itulah yang ikut berperan sembuhnya orang-orang. Yesus selalu berkata, ”Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Mari kita juga datang kepada Tuhan dengan iman yang kuat. Niscaya kita juga akan selamat. Sepercik pantun buat anda: Kita masuk anggota Dewan Perdamaian, Harus siap-siap membayar upeti trilyunan. Jangan lelah bekerja di ladangnya Tuhan, Iman yang kuat akan ikut menyelamatkan. Wonogiri, datanglah kepada Tuhan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 8 Februari 2026
Minggu Biasa V Matius 5:13-16 BEREDAR film dokumenter tahun 2007 yang lagi viral tentang seekor penguin yang diberi nama “Adelie.” Ia tiba-tiba meninggalkan koloni dan memisahkan diri dari ribuan penguin lain serta menuju ke pegunungan yang jaraknya 27 km. Penguin adalah binatang berkelompok. Mereka mencari makan bersama-sama dalam koloni. Mereka saling menjaga suhu tubuh dari gugusan es yang membeku. Tetapi mengapa Adelie justru memisahkan diri dan menuju ke pegunungan yang hampir pasti mengarah kepada kematian? Netizen menghubungkannya dengan filsafat Nihilisme. Kaum nihilist memandang bahwa hidup itu adalah kesia-siaan dan tanpa makna. Hidup hanyalah menuju kepada kematian. Perilaku penguin itu adalah cermin dari perilaku manusia modern sekarang ini. Kita semua merasa terwakili oleh tindakan penguin ini yang merasa asing di tengah komunitas, kehilangan arah hidup, dan tekanan mental dan eksistensial. Maka menjawab keprihatinan sosial di dunia modern sekarang ini, Yesus memberi jalan. Ia berkata, "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” Kita harus menjadi garam dan terang di tengah komunitas. Kalau tidak, seperti penguin itu, yang alami stress merasa tidak berguna, lalu pergi ke pegunungan untuk mati. Menjadi garam di tengah masyarakat berarti memberi rasa yang enak. Garam melebur, hilang wujudnya namun membuat masakan jadi sedap. Kita harus berani berkorban agar masyarakat hidup dalam damai dan sejahtera. Menjadi terang berarti mampu menunjukkan jalan yang benar, menjadi teladan bagi komunitas dan menjadi inspirasi kebaikan bagi koloninya. Jika demikian maka hidup menjadi bermakna, bukan kesia-siaan atau nihilisme semata. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." Itulah tujuan hidup kita di dunia ini. Hidup bukan nihilisme menuju kematian belaka, tetapi hidup menjadi bermakna kalau kita bisa menjadi garam dan terang dunia. Penguin hidup di benua Antartika, Mereka berkelompok slalu hidup bersama. Kita adalah garam dan terang dunia, Hidup bermakna kalau kita lebih berguna. Wonogiri, jadilah garam dan terang Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 7 Februari 2026
Sabtu Biasa IV Sabtu Imam Markus 6:30-34 ISTILAH ini sekarang dipakai oleh pemerintah untuk kegiatan pembinaan aparat atau pejabat. Presiden Prabowo membawa seluruh jajaran kabinetnya mengadakan retret di Lembah Tidar, Magelang pada awal pemerintahannya. Retret bukan sekedar latihan fisik baris berbaris ala militer agar mereka berdisiplin. Retret adalah pembinaan rohani dan mental. Retret berasal dari bahasa Prancis la retraite atau bahasa Latin re-trahere, yang berarti menarik diri atau mundur. Tujuan retret adalah menenangkan diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, mengevaluasi hidup, dan memulihkan kesehatan jasmani serta rohani. Hasil retret adalah pertobatan atau pembaharuan diri, bukan malah nambah korupsi. Kegiatan retret biasanya melibatkan refleksi, meditasi, doa, atau pembekalan intensif untuk pemulihan jiwa dan penyegaran batin. Setelah retret ada semangat baru dalam pelayanan atau tugas, bukan malah lelet tak punya daya semangat. Yesus mengajak para murid untuk retret setelah menjalankan tugas pelayanan. Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat. Seperti dua orang yang menggergaji kayu, mereka butuh waktu istirahat sejenak untuk memulihkan tenaga. Jika tidak, tenaga terkuras habis dan kayu tidak bisa dipotong. Perlu ada waktu untuk menenangkan diri dan meninggalkan segala kesibukan agar bisa bekerja kembali dengan tenaga dan semangat baru. Tuhan juga memberi kita waktu istirahat dalam satu minggu. Hari Minggu adalah hari Tuhan, dimana kita diajak kembali menimba semangat dari Tuhan. Hari itu adalah saat beristirahat bersama Tuhan. Setelah mengasingkan diri, Yesus dan para murid langsung bekerja karena melihat orang banyak yang berkumpul seperti domba-domba tanpa gembala. Ia tergerak oleh belas kasihan dan bertindak untuk memperhatikan mereka. Mari kita menimba semangat dari Tuhan. Menggunakan waktu dengan efektif agar semakain banyak orang diselamatkan. Banyak pejabat retret di Magelang, Lha kok banyak yang tertangkap tangan? Kalau kita memang sungguh berjuang, Rakyat akan damai dan berkelimpahan. Wonogiri, ambil waktu tenangkan hati Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 6 Februari 2026
Pw. St. Paulus Miki, Imam dan martir Markus 6.14-29 atau RUybs Matius 28:16-20 DIKISAHKAN dalam Babat Tanah Jawi dan Babat Mangir, bahwa Ki Ageng Mangir adalah keturunan Brawijaya V dari Majapahit. Kakeknya membuka tanah perdikan di Mangir dan berkembang menjadi wilayah yang kuat dan merdeka. Mataram Islam yang dibangun oleh Panembahan Senopati ingin menguasai wilayah Mangir. Namun Ki Ageng Mangir menolak dan melawan. Maka dibuatlah siasat untuk menundukkan tanah perdikan Mangiran. Retno Pembayun, putri dari Panembahan Senopati disuruh menyamar menjadi “Ledhek” atau sinden keliling. Tumenggung Jaya Supanta disuruh menyamar jadi Ki Dalang Sandi Guna. Mereka “ngamen” ke desa-desa di sekitar Mangir. Singkat cerita Ki Mangir terpikat oleh kecantikan sang putri. Mereka menikah dan hidup bahagia. Setelah sekian lama, Sang Putri membuka rahasia bahwa dia adalah putri Keraton Mataram. Sebagai suami istri mereka harus pulang untuk sujud sungkem ke Mataram. Rencana licik mulai dijalankan. Ketika menghadap raja, semua pasukan harus ditinggalkan. Tombak milik Ki Ageng Mangir harus diserahkan. Ketika mereka sujud sungkem kepada Raja, kepala Ki Ageng Mangir dipukulkan ke watu gilang, tempat Senopati bertahta. Matilah Ki Ageng Mangir, musuh sekaligus anak menantu raja. Herodias punya dendam kesumat kepada Yohanes Pembaptis. Ia ingin membunuh Yohanes tetapi tidak bisa karena Herodes suaminya hormat dan sungkan kepada Yohanes. Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia. Tiba saatnya ketika pesta ulangtahun, anak Herodias menari dan menyukakan hati para tamu. Herodes ingin memberi hadiah kepadanya. Tak diduga yang diminta adalah kepala Yohanes Pembaptis. Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: "Apa yang harus kuminta?" Jawabnya: "Kepala Yohanes Pembaptis!" Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: "Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!" Cinta membutakan segalanya. Seperti kata Freddy Mercury dalam lagunya “Too much love will kill you.” Herodes dibutakan oleh cinta hingga ia mengorbankan nyawa Yohanes Pembaptis. Cinta menghalalkan segala cara. Seperti Senopati yang tega membunuh menantunya sendiri. Berhati-hatilah dengan cinta buta. Putri Mesir namanya Cleopatra, Mati bunuh diri di Alexandria. Hati-hatilah dengan cinta buta, Ia hanya membuatmu sengsara. Wonogiri, Yohanes pembela kebenaran Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 5 Februari 2026
Pw. St. Agata, Perawan dan Martir Markus 6:7-13 atau RUybs Lukas 9:23-26 MENGAPA Yesus mengutus para murid pergi tanpa membawa bekal apa-apa? Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan, boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju. Perutusan ini adalah karya Tuhan. Para murid diajak untuk tidak mengandalkan kemampuan dan kehebatan sendiri, tetapi melulu bergantung pada kebaikan Tuhan saja. Itulah sebabnya, Tuhan melarang mereka membawa apa-apa dalam perjalanan. Dalam pengalaman turne di pedalaman, saya mengalami pemeliharaan Tuhan dan kasih-Nya yang melimpah. Saya tidak pernah kekurangan suatu apa pun dalam perutusan. Tuhan selalu mencukupi dengan kelimpahan. Saat saya lelah dan lapar dari jalan jauh di Sungai Ingin, Bu Anang di Pangkalan Suka selalu siap menyediakan makanan dan tempat meletakkan kepala. Ketika ban motor bocor di tengah jalan, ada orang baik yang menolong. Ketika jatuh terperosok di sungai, ada tukang sampan yang menyelamatkan. Ketika motor penuh lumpur dan kehujanan, Pak Denggol di Engkadin membantu. Ketika butuh teman di perjalanan, Pak Herman, Pak Jali, Pak Redes dan banyak orang siap menjadi malaikat. Modalnya hanya siap diutus dan Tuhan akan mengurus segalanya. Bergantung hanya kepada kebaikan Tuhan itulah yang diminta Yesus kepada murid-murid-Nya. Dalam menjalankan perutusan, dituntut ketaatan total kepada Allah yang mengutus. Ketundukan mereka bukan kepada orang-orang yang menerima atau menolak pewartaan mereka. Ketundukan hanya pada Tuhan saja. Ketaatan kita bukan pada uang, materi atau fasilitas, tetapi kehendak Allah semata. Kalau kita taat melaksanakan kehendak Tuhan, semuanya nanti akan disediakan Tuhan. Bahkan sampai berkelimpahan. Karena Tuhan yang mengutus, maka Tuhan juga yang akan mengurus. Maukah kita hanya mengandalkan Dia dalam tugas perutusan ini? Sepercik pantun buat anda: Dari Ponti menuju Mempawah, Sambil menikmati hamparan sawah. Carilah dahulu Kerajaan Allah, Semua akan menjadi anugerah. Wonogiri, Tuhan mengurus segalanya Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 4 Februari 2026
Rabu Biasa IV Markus 6:1-6 KALAU kita sudah cinta mati mengidolakan seseorang, kita akan terpaku pada orang itu. Kita tidak mau menerima penilaian obyektif tentang idola kita apalagi kalau kritik atau masukan itu berlawanan dengan persepsi kita. Misalnya kita mengidolakan pemimpin atau tokoh tertentu. Persepsi kita dibangun oleh framing bahwa tokoh itu merakyat, baik hati, peduli terhadap orang kecil, suka blusukan, suka memberi hadiah, dan banyak hal positif lainnya. Kalau nilai itu sudah mengakar di benak kita, akan sulit menerima kalau tokoh itu ternyata ambisius, menghalalkan segala cara, rela melanggar aturan, nepotisme dan mengejar harga diri demi kepentingan keluarga. Begitulah yang dialami orang-orang Nasaret, yang sekampung dengan Yesus. Mereka punya pemikiran sempit tentang siapa Yesus, teman sepermainan mereka. Menurut anggapan mereka Yesus hanyalah anak tukang kayu. Mereka tidak mengerti dan tak mau terbuka dengan mukjizat-mukjizat Yesus di Kapernaum. Kota itu lebih terbuka dan percaya pada Yesus sehingga banyak karya-karya besar terjadi di Kapernaum. Mereka mengakui Yesus lebih dari sekedar nabi dan pengajar yang berkeliling. Tetapi di Nasaret, mereka hanya mengenal Yesus sebagai anak tukang kayu. Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Karena orang-orang Nasaret tidak mau terbuka dan percaya, maka Yesus tidak banyak membuat mukjizat di kampungnya sendiri. Penilaian mereka sudah menutup keyakinan bahwa Yesus itu bukan siapa-siapa. Kadang kita juga menilai seseorang hanya berdasarkan persepsi dan pikiran kita yang sempit. Kita tidak mengenal secara dalam, tetapi sudah membuat penilaian dan kesimpulan-kesimpulan pribadi. Kenalilah secara mendalam orang-orang di sekitarmu. Jangan menilai seseorang dari kaca mata sempit dan gelap yang kau pakai. Tetapi terbukalah dengan persepsi yang luas dan obyektif sehingga tidak salah menilai. Sepercik pantun buat anda: Jalan-jalan menyeberangi parit, Banyak ikan mujair berseliweran. Orang Nazareth berpikiran sempit, Tidak percaya pada Utusan Tuhan. Wonogiri, jangan berpikir sempit Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 3 Februari 2026
Selasa Biasa IV Markus 5:21-43 DALAM kunjungan keluarga di lingkungan, kami berjumpa dengan banyak umat yang imannya sangat hidup dan kuat. Ada seorang ibu yang sakit diabetes dan hanya bisa berbaring di tempat tidur cukup lama. Dia mengungkapkan masih bisa bersyukur kepada Tuhan. Walau tidak bisa kemana-mana tetapi dia masih bisa berdoa untuk siapapun juga. Ada juga seorang bapak yang sakit mata cukup lama. Ia sudah menjalani operasi tetapi hasilnya nihil. Ia tetap tidak bisa melihat. Bapak ini berkata, “Wontenipun sakmenika namung matur nuwun Rama, taksih dipun paringi gesang dening Gusti.” (Adanya hanya bersyukur Rama, karena masih diberi hidup oleh Tuhan). Ia bersyukur karena masih bisa menikmati canda tawa dan sukacita dari cucu-cucunya yang sering datang ke rumahnya. Ia merasakan kasih Tuhan yang luar biasa. Hari ini Yesus menyembuhkan dua orang yakni seorang ibu yang sudah 12 tahun sakit pendarahan dan membangkitkan anak Yairus di rumahnya. Ibu ini sudah lama sakit dan sudah berusaha berobat ke banyak tabib. Tetapi tidak berhasil. Ia mendekati Yesus dengan iman yang kuat. “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Yesus menegaskan kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!" Ketika masih di perjalanan, orang-orang mengabarkan bahwa anak kepala rumah ibadat itu sudah mati. "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?" kata mereka. Tidak ada harapan lagi. Tetapi Yesus mengatakan, "Jangan takut, percaya saja!" Ia masuk ke rumah dan membangkitkan anak itu dengan berkata, “Talita kum!” Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Iman nampak dalam pengharapan yang tidak pernah pudar. Harapan kepada Tuhan tidak pernah sia-sia. Tuhan akan menjawab dan memenuhi pengharapan yang disertai dengan kepercayaan. Masihkah kita punya harapan yang kuat? Sepercik pantun buat anda; Menjala ikan di tengah samudera, Kapal bergoyang bikin sakit kepala. Harapan adalah api yang menyala, Hidup bersemangat karna sepercik asa. Wonogiri, tetap punya harapan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 2 Februari 2026
Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah Lukas 2:22-40 PEPUNDHEN atau pinisepuh adalah tokoh yang dituakan dan dihormati. Di lingkungan Pokoh Banyuaeng, ada pepundhen yang dihormati yakni tiga ibu tua atau simbah yang menjadi panutan umat. Mereka adalah Mbah Kar, Mbah Niti dan Mbah Atmo. Mereka ini bisa disebut tiga Srikandi penyebar iman di Pokoh dan sekitarnya. Saya adalah salah satu yang dibimbing dan didampingi oleh Mbah Kar mulai dari menerima sakramen komuni pertama dan krisma. Beliau seperti pembimbing rohani yang selalu memberi dukungan dan nasehat yang baik kepada setiap orang. Setiap kali liburan dari Seminari pasti saya “sowan” menghadap ke beliau untuk minta doa restu. Ketika saya tahbisan di Kentungan, Mbah Kar dan mBah Niti bisa hadir. Beliau merasa bangga dan senang karena doa-doanya terkabul dan bisa melihat saya ditahbiskan oleh Bapak Uskup. Trio Srikandi ini adalah pendoa dan penasehat yang baik untuk saya. Pasti mereka sekarang bahagia di sorga dan menerima mahkota abadi dalam kumuliaan. Simeon dan Hana adalah tokoh rohani yang hidup di Bait Suci. Mereka menerima Maria dan Yusuf saat mempersembahkan bayi Yesus di Kenisah. Simeon membopong Yesus dan bersukacita. Ia melihat Sang Penebus telah datang. "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." Bahagia karena melihat janji Allah terpenuhi dalam diri Yesus, itulah yang dirasakan Simeon dan Hana. Mereka bersyukur karena Allah telah melawat umat-Nya. Orang-orang saleh yang tajam hati nuraninya bisa melihat karya Allah dalam hidup nyata. Apakah kita juga mampu melihat Allah hadir dalam pengalaman hidup kita dan memuji Tuhan karena penyertaan-Nya yang senantiasa memelihara kita? Mari kita persembahkan hidup kita kepada Allah. Pasti Dia akan memberikan jalan terang bagi langkah kita. Sepercik pantun buat anda: Ke Rawaseneng melihat sapi perah, Penghasil susu yang berlimpah-limpah. Buatlah hidupmu menjadi berkah, Dunia sekitarmu akan bersinar cerah. Wonogiri, hidup adalah berkah Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 1 Februari 2026
Minggu Biasa IV Matius 5:1-12a JIKA harta kekayaan bisa membuat orang bahagia, mengapa Adolf Merckle, milyalder dari Jerman itu bunuh diri pada 5 Januari 2009 dengan menabrakkan diri ke kereta api di dekat Blaubeuren, Jerman, tak jauh dari rumahnya? Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia, mengapa Getúlio Vargas, presiden Brasil (1930–1945, 1951–1954), bunuh diri dengan menembak dadanya sendiri di Istana Palacio Catete, Rio de Janeiro, pada 24 Agustus 1954? Jika ketenaran dan popularitas bisa membuat orang bahagia, mengapa Michael Jackson, Raja Penyanyi Pop dunia itu meninggal dengan mengkonsumsi obat tidur sampai overdosis pada 28 Agustus 2009? Jika kecantikan bisa membuat seseorang bahagia, mengapa aktris cantik Marilyn Monroe harus mati dengan minum alkohol dan obat depresi hingga overdosis pada 5 Agustus 1962? Artikel halaman depan New York Daily Mirror terpampang; “Marilyn Monroe kills self. Found nude in bed….hand on phone….took 40 pills. Pertanyaan kita semua, sebenarnya apa yang membuat kita ini bahagia? Yesus memberi jawaban bukan berdasarkan standar hidup duniawi yang dikejar semua orang yakni, kekayaan, kekuasaan, ketenaran atau kecantikan. Tetapi cara hidup bahagia yang diajarkan Yesus adalah memiliki Allah sebagai harta satu-satunyanya. Orang yang memiliki Allah tetap bahagia kendati hidup miskin dan menderita. Orang bisa bahagia dengan bersikap lemah lembut, murah hati, suci hati dan rela menderita demi kebenaran. Ada kebahagiaan yang lebih ketika orang rela menderita demi mereka yang dikasihinya. Maka Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” Apakah standar kebahagiaan yang anda canangkan untuk hidup dan masa depan anda di dunia ini? Sepercik pantun buat anda: Ke Kopeng melewati Salatiga, Hawanya dingin karena cuaca. Banyak harta belum tentu bahagia, Banyak mencinta itulah jalannya. Wonogiri, kota bakso Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed