Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Hello Romo!

12/25/2034

17 Comments

 
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
17 Comments

Warung Angkringan di Gereja Pugeran

3/8/2026

0 Comments

 
Puncta 8 Maret 2026
Minggu Prapaskah III
Yohanes 4:5-42

KALAU kita masuk pelataran Gereja Pugeran, di sana ada sumur Yakub, yang sering ditimba airnya oleh Pak Pur yang buka warung angkringan di depan gereja. 

Air dari sumur ini ditimba, dimasak menjadi minuman teh “nasgithel” yang legend sejak tahun 1954. 

Sekarang dikelola oleh Bu Ranti, generasi kedua yang melanjutkan. Banyak pengunjung datang ke warung menikmati segelas teh dari air sumur Yakub. 

Sumur memiliki makna rohani yang dalam. Tidak sekedar air tawar, tetapi dia adalah air kehidupan.

Sumur melambangkan kedalaman rohani dan sumber inspirasi. Sumur adalah tempat perjumpaan manusia dengan Yang Ilahi. 

Kadang ada doa-doa dilakukan di sumur. Sesajen juga ditaruh di sumur sebagai doa syukur dan permohonan agar Tuhan mengalirkan anugerah-Nya tanpa henti.

Yesus berjumpa dengan wanita Samaria di sumur Yakub. Perjumpaan yang mengarah pada pengenalan akan Allah yang sejati dan penyembahan yang benar. 

Dialog dimulai dari air di sumur itu. Yesus meminta kepada wanita itu, “Berilah Aku minum.” Sapaan yang manusiawi dan alami.

Dari pembicaraan ringan menjadi dialog yang serius. Dari ngomong tentang air minum menjadi air kehidupan. 

Dari tidak kenal, tak bertegur sapa menjadi akrab sangat mendalam. Wanita Samaria itu dari pribadi yang tertutup menjadi terbuka. Dari tidak percaya menjadi pewarta kabar sukacita.

Yesus mewahyukan dirinya secara perlahan-lahan melalui dialog yang tidak menghakimi walau latar belakang kehidupan wanita itu sangat gelap dan suram. 

Yesus memperkenalkan Allah yang mengampuni dan mengasihi. Allah tidak disembah dalam batu dan hukum, tetapi Allah yang hadir di dalam hati setiap orang.

Wanita itu menjadi yakin bahwa Yesus adalah Mesias yang ditunggu-tunggu Israel. Ia kembali ke kampung dan mengabarkan kepada semua orang. Mereka berbondong-bondong datang kepada Yesus. Mereka menjadi percaya.

"Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia," kata orang banyak itu. 

Iman adalah proses pengenalan akan Tuhan. Ia tidak berhenti atau disimpan untuk diri sendiri. Tetapi diwartakan kepada semua orang, agar mereka juga mengenal Tuhan. 

Kita bisa menjadi wanita Samaria. Kita bisa membuka hati pada Tuhan dan memberitakan kasih-Nya pada sesama.

Percik pantun untuk renungan:
Minum teh di depan Pugeran,
Sambil melihat mobil lalu lalang.
Wanita Samaria memiliki iman,
Ia wartakan kepada semua orang.

Wonogiri, iman yang terus berkembang
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Kasih Ibu

3/7/2026

0 Comments

 
Puncta 7 Maret 2026
Sabtu Prapaskah II
Sabtu Imam
Lukas 15:1-3.11-32

SEORANG ibu dengan wajah sedih dan mata berkaca-kaca menceritakan kepedihan hatinya saat anak gadisnya pulang ke rumah malam-malam dengan wajah kebingungan. 

Ia minta kepada ibunya sejumlah uang untuk menebus temannya yang terjerat narkoba. Kalau tidak disediakan uang, ia juga akan diciduk oleh petugas.

Ini bukan yang pertama terjadi. Sudah berulangkali kejadian, anak gadisnya terjerat barang haram karena pergaulan dengan teman-temannya. Sawah sudah dijual. Mobil sudah masuk pegadaian. Tak ada lagi yang bisa diuangkan.

Namun ibu itu tetap merangkul anaknya. Dia ciumi buah hati yang sangat dikasihinya. Dalam tangisan di kamar yang gelap, ibu itu berkata, “Nak, kalau boleh, ibu saja yang masuk penjara. Aku rela menggantikan dirimu.”

Ada pepatah; “Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.” Jalan tak pernah putus walau harus berkelok-kelok dan berliku-liku. 

Penderitaan apapun akan diterima demi kebahagiaan anak yang dilahirkannya.

Demikianlah kasih Allah yang tak terbatas digambarkan oleh Yesus dengan perumpamaan anak yang hilang. 

Kisah ini sangat familier dan tidak asing bagi kita semua. Bapa mengasihi semua anaknya tak terkecuali.

Anak bungsu yang telah menghambur-hamburkan harta warisan dan terpuruk dalam lembah kenistaan, diterima kembali dengan sukacita. Bahkan dibuatkan pesta meriah. 

Kata ayahnya, “Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."

Kasih yang tiada batas itu membuat anak sulungnya cemburu dan irihati. Ia merasa telah berjasa tinggal taat bersama ayahnya, tetapi tidak pernah diberi penghargaan. 

“Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.”

Ia yang berstatus anak malah berlaku seperti budak. Harus dihargai, diberi imbalan dan diperintah. 

Kata ayahnya kepadanya: “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.”

Mari kita syukuri rahmat Allah yang tiada batasnya. Allah tidak pernah berubah  mengasihi kita, kendati kita jatuh dalam dosa. 

Kasih Allah lebih besar daripada dosa-dosa kita. Janganlah kita menyia-nyiakan kasih-Nya. 

Mari bernyanyi lagu kanak-kanak zaman dulu:
Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa.
Hanya memberi, tak harap kembali.
Bagai sang surya menyinari dunia.

Wonogiri, syukuri kasih Tuhan
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Harta Hanyalah Titipan, Pangkat Hanyalah Hiasan

3/6/2026

0 Comments

 
Puncta 6 Maret 2026
Jum’at Prapaskah II
Matius 21:33-43.45-46

DALAM perumpamaan tentang kebun anggur, kita diingatkan bahwa Tuhanlah pemiliknya, kita ini hanya penggarap yang dititipi agar dapat menghasilkan buah. Tuhan adalah pemilik kehidupan, kita hanya diminta mengelolanya. 

Kita diberi talenta, rahmat dan kemampuan untuk menggarap kebun anggur, namun dosa serakah membuat kita ini lupa diri. 

Karena merasa bisa melakukan segalanya, kita ingin memiliki kebun anggur yang bukan milik kita. Orang Jawa memberi nasehat, “Bisaa rumangsa, aja rumangsa bisa.” artinya bisalah mengukur diri sendiri, jangan merasa sok bisa.

Para penggarap yang serakah itu menolak para utusan. Mereka menangkap, melempari batu dan membunuh nabi-nabi yang menjadi utusan Sang Pemilik. 

Bahkan Putra-Nya sendiri juga dibunuh. Mereka mengira hak warisan akan jatuh ke tangannya. 

Para leluhur kita telah mengingatkan dengan kata-kata bijak, “Nyawa iku mung gadhuhan, banda iku mung titipan, lan pangkat iku mung sampiran.” 

Maksudnya, Nyawa (hidup) kita hanya dipinjamkan, harta hanya dititipkan dan pangkat hanyalah hiasan semata.

Suatu saat semua itu akan diambil kembali oleh Sang Pemilik Kehidupan (kebun anggur) yakni Tuhan Penguasa semesta alam. 

Perumpaaan ini menyindir para Ahli kitab dan orang-orang Farisi khususnya dan orang-orang Yahudi yang tidak percaya pada Kristus.

Mereka menganggap diri sebagai orang-orang yang berhak memiliki surga. Mereka mengklaim sebagai orang paling benar, suci dan saleh sehingga menolak pewartaan para nabi. Bahkan Yesus sebagai Anak Allah juga ditolak dan dibunuh. 

Kita mudah lupa diri terhadap harta dan jabatan. Kita pengin mengejar dengan ambisi pangkat dan kekayaan. 

Saudara kita korbankan. Hubungan keluarga jadi berantakan. Kita tergoda oleh jabatan dan kekayaan. Hidup hanya mengejar harta yang bukan milik kita. 

Awalnya mencalonkan jadi anggota dewan. Modalnya rupiah milyaran. Harus menjual tanah dan ladang. Sertifikat semua digadaikan. Sudah terlilit banyak hutang. 

Pangkat sangat menggiurkan. Pengin naik jadi bupati biar terpandang. Tentu saja modalnya harus banyak uang. Pikirnya nanti bisa korupsi dan lelang jabatan. 

Sang Pemilik Kehidupan berpikir ulang. Sang calon bupati jantungnya berdegup sangat kencang karena hutangnya dikejar si Mata Elang. 

Akhirnya terkena stroke dan terkapar di ranjang, hanya bisa menunggu jatahnya “pulang” ke haribaan.

Ngelingana wewarahe wong tuwa; ‘Nyawa iku mung gadhuhan, banda iku mung titipan, pangkat iku mung sampiran.” 

Kita diingatkan kembali nasehat bijak orangtua; nyawa kita hanya pinjaman, harta kita hanya titipan, jabatan itu hanya hiasan.” 
Pada saatnya harus dikembalikan.

Percik pantun untuk direnungkan:
Sing eling lan waspada,
Aja mung ngoyak banda donya.
Orang harus sadar dan waspada,
Jangan hanya mengejar hal-hal dunia.

Wonogiri, elinga lan diwaspada
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Lazarus di Perempatan Maguwo

3/5/2026

0 Comments

 
Puncta 5 Maret 2026
Kamis Prapaskah II
Lukas 16:19-31

SUATU kali saya lewat di pertigaan Ringroad Maguwo dari arah timur. Banyak mobil berhenti di lampu merah. 

Ada seorang bapak menghampiri mobil-mobil yang berhenti. Dia membawa kotak sumbangan bertuliskan, “Sumbangan untuk pengobatan mata.”

Memang terlihat kedua mata bapak itu cacat dan tidak sempurna. Banyak mobil menutup pintu kacanya. Ketika sampai giliran, saya mengulurkan sedikit uang di kotak kardusnya. Ia berlalu dan berterimakasih.

Dalam benak saya berpikir, apakah bantuan yang sedikit itu mampu menyembuhkan sakitnya?”

 Tetapi mungkin bukan itu pertanyaannya. Apakah kita tergerak hati ketika melihat penderitaan sesama di sekitar kita.

Seringkali ada jurang pemisah yang dalam di antara kita sehingga kita tidak peduli pada derita orang lain. Kisah orang kaya dan Lazarus itu menggambarkan betapa tebal pintu gerbang yang memisahkan kehidupan sosial mereka.

Di sisi luar, Lazarus duduk dengan lapar dan haus. Ia dijilati oleh anjing-anjing yang mengendus bau amis dari borok-boroknya. 

Di sisi dalam orang kaya itu berpesta pora dengan makanan berlimpah dan berpakaian serba mewah. 

Pintu gerbang dunia ternyata terhubung juga dengan pintu gerbang surga. Apa yang terjadi di dunia menjadi terbalik dengan keadaan di dunia selanjutnya. 

Lazarus berada di pangkuan Abraham dalam kedamaian. Sedang orang kaya itu berada di api penyiksaan kekal.

Semua ditentukan oleh apa yang kita lakukan ketika masih hidup di dunia. Dalam pengadilan terakhir, Yesus pernah bersabda, “Apa saja yang kamu lakukan untuk saudara-Ku yang paling hina itu kamu lakukan untuk Aku.” 

Yesus tidak sedang berkata bahwa orang kaya tidak masuk surga, atau orang miskin pasti masuk surga. Yang mau disampaikan adalah agar kita peduli dan berbelarasa dengan penderitaan sesama. Kita boleh kaya. 

Tetapi kekayaan itu harus kita gunakan untuk menolong mereka yang menderita.

Jangan membangun tembok pemisah di dalam hati kita. Tetapi bangunlah jembatan kemanusiaan yang menghubungkan kepedulian kita dengan sesama, khususnya mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir. 

Apakah hati kita peka dan tangan kita terulur ketika melihat saudara kita yang sedang menderita? 

Tindakan itu akan menentukan keselamatan kita di akhir kehidupan nanti.

Sepercik pantun untuk direnungkan:
Sucikanlah hati di bulan puasa,
Banyak berdoa dan bermati raga.
Kasih kepada mereka yang terhina,
Kasih Allah bagi semua manusia.

Wonogiri, kasihilah sesamamu manusia
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Kekuasaan yang Mengancam

3/4/2026

0 Comments

 
Puncta 4 Maret 2026
Rabu Prapaskah II
Matius 20:17-28

MEDIA Global memberitakan tewasnya pemimpin Iran Ali Khamenei pada akhir Februari 2026. Pemerintah Iran secara resmi mengumumkannya pada 1 Maret 2026 dan menjalani masa berkabung selama 40 hari kedepan.

Amerika langsung menyerang Iran dengan kekuatan penuh. Kapal-kapal induk dikirim ke kawasan Teluk untuk menghancurkan tempat-tempat vital yang dianggap menjadi ancaman AS. 

Dengan penuh keyakinan Trump memperkirakan bahwa perang akan selesai dalam empat minggu ke depan.

Banyak pihak mencemaskan situasi di Timur Tengah. Mereka memperingatkan perang ini akan berdampak besar bagi situasi keamanan di belahan dunia. Ancaman akan terarah pada fasilitas dan kepentingan AS di seluruh dunia.

Trump menjalankan kekuasaan dengan tangan besi terhadap musuh-musuhnya. Ancaman senjata dan teror diarahkan kepada siapapun yang melawan dan memusuhinya. Inilah wajah kekuasan absolut yang dijalankannya. 

Yesus mengingatkan kepada para murid-Nya.  "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.”

Yesus tidak menghendaki para murid menggunakan kekuasaan dengan keras. “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.”

Dalam kancah politik domestik kita memiliki contoh raja yang merakyat yakni Sri Sultan HB IX di Kraton Yogyakarta. 

Beliau menggunakan tahtanya untuk melayani rakyat. Beliau sangat dicintai dan menjadi suri tauladan bagi rakyat. 

Tahtanya bukan untuk menindas atau menyengsarakan rakyat tetapi untuk “ngayomi” atau melindungi dan menyejahterakan rakyat kecil. 

Sebagaimana Kristus yang datang bukan untuk dilayani tetapi melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

Bagi mereka yang diberi amanah untuk memimpin, gunakan kepemimpinan itu untuk melayani rakyat kecil dan lemah. 

Hati-hati terhadap ambisi kekuasaan yang sedang menjalar. Kalau tidak waspada budaya model Trump bisa menyebar kemana-mana. Semua masalah diselesaikan dengan moncong senjata.

Gunakan kekuasaan untuk melayani bukan menguasai.

Sepercik pantun untuk direnungkan:
Rakyat Iran sedang sekarat,
Dihantam rudal dari Amerika.
Berkuasalah di hati rakyat,
Jangan hanya di perutnya saja.

Wonogiri, tahta untuk melayani rakyat
Rm.A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Pameran Kesalehan

3/3/2026

0 Comments

 
Puncta 3 Maret 2026
Selasa Prapaskah II
Matius 23:1-12

ORANG yang berpakaian agamis belum tentu menggambarkan kekudusan dan kesalehannya. Orang yang memakai jubah putih tidak serta merta hatinya juga putih suci. 

Mochtar Lubis pernah menyatakan bahwa kita orang Indonesia ini punya watak munafik.

Munafik adalah karakter dimana perkataan yang keluar dari mulut tidak sesuai dengan perilaku atau tindakannya sehari-hari. 

Orang suka melakukan kebohongan, berpura-pura dan suka ingkar janji. Orang munafik suka pamer kesalehan. Biar dilihat orang bahwa dirinya saleh, suci dan dihormati.

Banyak orang berkata-kata dengan bahasa Kitab Suci, pandai mengajar dan mengutip ayat-ayat dan menasehati orang dengan firman Tuhan. Tetapi kehidupannya sehari-hari jauh dari apa yang diajarkan dan dinasehatkan.

Yesus mengkritik para ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi yang suka memakai jumbai yang panjang dan tali ikat pinggang ungu agar dilihat orang. 

Mereka melakukan tradisi agama hanya ingin dipuji dan dihormati orang lain. 

Sayangnya yang mereka cari bukan sabda Tuhan dan melakukan kehendak-Nya, tetapi agar dilihat dan dipuji orang. 

Mereka memakai nama Tuhan untuk menindas dan mengeruk harta orang. Mereka tidak segan-segan minta mobil mewah, uang sumbangan yang banyak menggunakan nama Tuhan.

"Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya,” kata Yesus.

Yesus mengingatkan kepada pengikut-Nya agar melayani dengan rendah hati. “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. 

Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Kehebatan seseorang tidak dilihat dari pakaiannya, kendaraannya, jabatannya, tetapi dari tindakan yang baik dan tutur katanya yang sopan dan menghargai. Kerendahan hati justru menunjukkan keluhuran budinya. 

Berhati-hatilah jika kita sudah mulai mencari pujian dan senang memamerkan kehebatan dan kesuksesan kita. Jangan-jangan kita sudah mulai gila pujian.

Sepercik pantun buat anda:
Banyak Sengkuni yang suka dipuji-puji,
Jalannya miring  mukanya berseri-seri.
Jadilah orang yang suka menghargai,
Tanpa basa-basi namun suka melayani.

Wonogiri, jangan berlaku munafik
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

The Golden Rule

3/2/2026

0 Comments

 
Puncta 2 Maret 2026
Senin Prapaskah II
Lukas 6:36-38

ATURAN EMAS adalah ajaran yang diucapkan Yesus kepada orang banyak saat berkotbah di atas bukit. Orang banyak menyebutnya sebagai aturan emas karena menjadi prinsip etika bagi siapapun tanpa memandang suku atau agamanya.

Istilah “Aturan Emas” atau Kotbah di Bukit sebetulnya tidak ada di dalam Kitab Suci. Ini hanya istilah untuk memudahkan kita memahami apa yang dikatakan Yesus bagi kemaslahatan banyak orang. 

Yesus meringkas seluruh isi Perjanjian Lama menjadi satu prinsip tunggal sebagai sebuah kesimpulan terpenting. 

Yesus mengutip dari Kitab Imamat, “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.”

Yesus bukan melarang, tetapi mengubahnya menjadi ajakan positif. Perintah-Nya, “Ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

Apakah anda ingin dihargai dan dihormati? Maka berbuatlah demikian kepada orang lain. Apakah anda tidak ingin disakiti atau dibenci oleh orang lain? Maka janganlah menyakiti dan membenci sesamamu. 

“Karena itu, segala sesuatu yang kamu ingin orang lakukan kepadamu, demikian juga kamu lakukan kepada mereka karena inilah isi Hukum Taurat dan kitab para nabi” kata Yesus.

Kita sering menyalahkan orang lain, menghakimi tanpa bukti nyata, menyebar fitnah tanpa alasan jelas, menjelekkan orang di medsos seenaknya saja. 

Kita merasa paling sempurna dan superior serta suka merendahkan orang lain. Dan tidak mau “ngilo githoke dewe,” bercermin pada diri sendiri. 

Orang-orang dalam gereja pun juga sering jatuh dalam kesombongan ini; mereka saling menghakimi dan menjatuhkan, memfitnah dan menyebarkan berita hoax. 

Perlu kiranya bagi semua orang untuk duduk dan bercemin diri; apakah aku sudah sempurna dan berhak menghakimi orang lain yang belum tentu bersalah?

Sepercik pantun buat anda:
Beli cincin emas di toko semar,
Dipasang di jemari berjajar-jajar.
Aturan emas adalah etika yang benar,
Agar kita bijaksana dan berlaku sabar.

Wonogiri, hargailah sesamamu
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Habis Gelap Terbitlah Terang

3/1/2026

0 Comments

 
Puncta 1 Maret 2026
Minggu Prapaskah II
Matius 17:1-9

KALIMAT di atas mengingatkan kita kepada kisah hidup RA.Kartini, gadis muda dari Jepara yang terkungkung oleh budaya patriakhi di suatu zaman. 

Tulisan-tulisannya menyiratkan sebuah perjuangan dan harapan bahwa suatu saat perempuan-perempuan Indonesia dapat memiliki hak kebebasan yang sama seperti kaum lelaki.

Kartini harus berjuang agar perempuan dibebaskan menentukan hak dan pilihan hidupnya sendiri. Perjuangan itu tidak mudah, harus menghadapi tembok penjajahan kaum lekaki. 

Namun kini perempuan telah memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Itu semua berkat perjuangan cita cita Kartini.

Kartini telah mencicipi sedikit kebebasan ketika dia bisa mengenyam pendidikan. Hal itu yang dia perjuangkan agar semua perempuan memiliki hak yang sama untuk maju dan bebas oleh belenggu adat dan budaya yang menindas.

Yesus mengajak para murid-Nya untuk naik ke sebuah gunung. Di sana mereka melihat sekilas kemuliaan Yesus. Peristiwa transfigurasi ini mengajak para murid mencicipi sedikit kemuliaan ilahi. 

Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.

Penampakan bersama Musa dan Elia menyatakan bahwa kehadiran Yesus adalah penggenapan dan penerusan wahyu Allah sejak zaman para nabi. Allah senantiasa hadir menyelamatkan umat manusia.

Penegasan itu disampaikan oleh Bapa yang terdengar dari suara di dalam awan yang menaungi mereka. “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”

Petrus dan kawan-kawannya ingin menikmati kemuliaan itu untuk mereka sendiri. Tetapi Yesus mengingatkan bahwa mereka harus turun gunung dan kembali menjalani kehidupan sehari-hari. 

Tidak ada kemuliaan tanpa penderitaan. Tidak ada Paskah tanpa salib Golgota.

Habis gelap terbitlah terang. Kegelapan salib di Golgota menerbitkan terang kebangkitan Tuhan. 

Perjuangan hidup akan menghasilkan kemuliaan yang penuh sukacita. Yesus mengajak para murid untuk turun gunung menghadapi salib kehidupan.

Menjadi murid-murid Yesus berarti siap menerima realitas salib, tetapi jika kita tetap setia tinggal dengan-Nya maka kemenangan Paskah pun akan menjadi milik kita. 

Mari kita jalani masa prapaskah ini dengan setia dan kelak kita akan memetik buah kemenangan Paskah.

Sepercik pantun buat anda:
Berakit-rakit ke hulu,
Berenang-renang ke tepian.
Kita berjuang lebih dahulu,
Kita petik buah kebahagiaan.

Wonogiri, terus berjuang dengan setia
Rm.A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Pengampunan Radikal dan Universal

2/28/2026

0 Comments

 
Puncta 28 Februari 2026
Sabtu Prapaskah I
Matius 5:43-48

SIANG  yang cerah tanggal 13 Mei 1981 Paus Yohanes Paulus beraudiensi dengan umat yang hadir di lapangan Santo Petrus, Vatikan. 

Sesudah memberikan berkat, Paus berkeliling menyapa umat yang hadir dengan mobil bak terbuka.

Di antara kerumunan orang-orang yang menyambut Paus, Mehmet Ali Agca menyeruak dan langsung menembakkan 8 peluru kepada Paus. 

Beberapa tembakan menembus dada Paus dan lengannya. Ia roboh dan langsung dilarikan ke rumah sakit.

Setelah selamat dari penembakan, Paus memberikan pengampunan yang tulus kepada Mehmet dan mengunjunginya selama di penjara pada Natal 27 Desember 1983. 

Ketika Paus tiba di sel Mehmet di Penjara Rebibbia di Italia, ia menatap calon pembunuhnya itu, menjabat tangannya, dan Mehmet mencium tangan Paus Yohanes Paulus II. 

Keduanya berbicara dengan tenang selama 21 menit. Yohanes Paulus berkata, "Apa yang kami bicarakan harus tetap menjadi rahasia antara dia dan saya, saya berbicara kepadanya sebagai saudara yang telah saya ampuni, dan yang memiliki kepercayaan penuh saya."

Setelah pertemuan itu, keduanya berjabat tangan dan Paus memberi Mehmet hadiah kecil dalam kotak putih, sebuah rosario dari perak dan mutiara. 

Paus memberi contoh bahwa pengampunan itu bisa dilakukan oleh siapapun. 

Kita semua perlu diampuni oleh orang lain, jadi kita semua harus siap untuk memaafkan. Minta maaf dan memberikan pengampunan adalah sesuatu yang sangat berharga bagi kita semua. Itu adalah langkah awal untuk hidup damai dan tenang.

Yesus berkata, “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

Kasih yang radikal dan universal itu telah dimulai dari Tuhan Yesus sendiri. Ia mengampuni orang-orang yang menyalibkan-Nya.

 "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Di kayu salib Ia juga mengampuni penjahat di sampingnya. 

Asal kita mau minta ampun kepada Tuhan, Ia akan mengampuni kita dengan belaskasih-Nya sebagaimana Ia memberikan matahari baik kepada orang benar maupun juga kepada orang jahat. 

Apakah kita juga berani mengampuni seperti Allah yang mengampuni kita?

Mengampuni musuh apakah bisa?
Santo Yohanes Paulus telah membuktikan
Jadilah sempurna seperti Bapa.
Ia mengasihi kita tanpa membeda-bedakan

Wonogiri, kasih yang sempurna
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
<<Previous

    Archives

    December 2034
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki