Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Hello Romo!

12/25/2034

17 Comments

 
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
17 Comments

Melawan Hukum

3/11/2026

0 Comments

 
Puncta 11 Maret 2026
Rabu Prapaskah III
Matius 5:17-19

SERING terjadi kalau ada orang yang mengkritik dengan keras kebijakan pemerintah, orang itu dituduh melawan hukum atau undang-undang. 

Kritik dipandang sebagai perlawanan bukan sebagai ruang untuk mencari kebenaran.

Orang yang mencari kebenaran, kejujuran dan pertanggungjawaban malah disingkirkan. Kita belajar dari tokoh-tokoh kritis seperti Munir, Pak Hoegeng, polisi yang jujur dan tegas. 

Mereka disingkirkan. Padahal mereka berusaha menegakkan hukum sebagai pilar kebenaran.

Begitulah sikap para ahli kitab dan orang-orang Farisi terhadap Yesus. Mereka menuduh Yesus ingin menghilangkan hukum Taurat. Yesus tidak hanya membaca tulisan atau huruf-huruf dalam Taurat. 

Tetapi Dia menjalankan inti dari ajaran Taurat. Kasih itulah kebenaran Taurat.

Namun tindakan kasih itu dianggap melenceng dari ajaran Taurat. Misalnya, Yesus dituduh akan menghapus hukum Sabat, karena dia sering menyembuhkan orang pada hari Sabat. 

Mereka beranggapan Yesus mau menghapus aturan sabat dan meniadakannya.

Dalam kotbah di bukit, Yesus menjelaskan bahwa Ia tidak akan menghapus hukum Taurat, tetapi Dia justru ingin menggenapinya.

 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”

Seringkali terjadi ada orang yang ingin meluruskan undang-undang atau menjalankan hukum dengan benar malah dituduh PKI, difitnah, diteror, diintimidasi dan disingkirkan. 

Asal tidak sesuai dengan kebijakan penguasa dituduh makar dan memberontak.

Semestinya kita terbuka pada opsi demi kebenaran hukum dan kebaikan bersama di tengah masyarakat. 

Tindakan demi memurnikan hukum atau undang-undang tidak boleh dipandang sebagai merongrong kewibawaan penguasa. Tetapi cara memurnikan arah dan cita-cita bersama.

Mungkin para ahli kitab dan orang-orang Farisi itu takut kehilangan kewibawaan karena mereka justru yang telah melenceng jauh dari hukum Taurat. 

Maka jika ada orang yang ingin menggenapi dan menyempurnakan dianggap sebagai tantangan dan mengusik ketenangan. 

Makan gratis tidak disukai anak didik,
Dibawa pulang dimakan ayam dan itik.
Pemimpin yang jujur tidak takut kritik,
Diterima sebagai masukan yang baik.

Wonogiri, sabar mendengar kritik
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Tak Sebanding

3/10/2026

0 Comments

 
Puncta 10 Maret 20206
Selasa Prapaskah III
Matius 18:21-35

KASIH pengampunan Allah itu sungguh luar biasa, tak ada habis-habisnya. Manusia hanya bisa mengampuni sekali dua kali saja. 

Seperti Petrus yang bertanya sampai tujuh kalikah? Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, tetapi tujuhpuluh kali tujuh kali.” 

Hal ini digambarkan oleh Yesus dengan sikap raja yang membebaskan hambanya yang berhutang kepadanya. 

Hamba itu punya hutang 10.000 talenta. Satu talenta itu setara dengan 6.000 dinar. Upah buruh satu hari adalah satu dinar. 

Jadi hamba itu berhutang 60.000 hari kerja. Itu berarti hampir 165 tahun masa kerja. Hamba itu tidak mampu mengembalikannya.

Ia memohon kepada raja untuk bersabar. Raja itu dengan belaskasihnya membebaskan hutangnya. 

Namun hamba yang jahat itu justru menghukum temannya yang berhutang 100 dinar kepadanya. Ia menjebloskan temannya ke dalam penjara sampai dilunasi hutangnya.

Raja marah mendengar hambanya bertindak kejam terhadap temannya. “Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?” 

Sifat manusia itu senang melihat orang lain menderita. Ia tidak ingin melihat keberhasilan orang lain. Kalau ada kesempatan menjegal teman, itu digunakan secepat mungkin. 

Hamba itu tidak mau mengasihani temannya. Padahal dia sendiri sudah dikasihani.

Yesus menghendaki agar kita meneladan sikap Allah Bapa yang penuh belas kasih. Bapa telah mengasihi kita, maka kita pun diajak mengasihi sesama. 

Tindakan hamba yang jahat dan bengis itu tidak boleh ditiru. Kalau kita tidak mau mengampuni, Bapa juga tidak akan mengampuni kita.

Yesus mengajak murid-murid-Nya menjadi sempurna sebagaimana Bapa sempurna adanya. Kalau kita mau, kita pasti bisa. 

Kita mulai dengan mendoakan orang yang bersalah kepada kita. Dengan mendoakannya, kita sudah membuka hati yang baik terhadapnya.


Banyak orang pergi ke Arafah,
Bersujud untuk mencari berkah.
Mengampuni itu bukan kalah,
Kita memenangkan hati yang salah.

Wonogiri, mari terus mengampuni
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Singkong dan Keju

3/9/2026

0 Comments

 
Puncta 9 Maret 2026
Senin Prapaskah III
Lukas 4:24-30

MENGAPA banyak francise kuliner asing merambah di pelosok-pelosok daerah kita? Sebutlah seperti KFC, MacDonald, Starbuck atau Sushi, Ramen, Sashimi, Tempura, dan Yakitori, Shabu-shabu, Sukiyaki, dan Oden dari Jepang.

Juga makanan ala Korea seperti Kimchi, Bulgogi – Daging Sapi yang Manis dan Gurih, Bibimbap, Tteokbokki, Jjajangmyeon?

Itu baru soal makanan. Pakaian, asesoris, barang-barang  branded semua luar negeri. 

Karena kita punya mental tak menghargai milik kita sendiri. Jiwa kita masih jiwa feodal, terjajah dan minder.

Kita baru ribut kalau kesenian reog diakui di Negeri Jiran atau gamelan dimainkan dengan apik oleh kaum bule atau orang-orang Jepang. Tetapi di negeri sendiri, barang itu disingkiri dan asing.

Saya jadi ingat lagu berjudul Singkong dan Keju, yang dilantunkan oleh Ari Wibowo. Lagu ini berupa sindiran bagi kita yang lebih luar negeri minded daripada menghargai produk dalam negeri yang menjadi buah tangan sendiri.
 
"Parfummu dari Paris (hm). Sepatumu dari Itali.
Kaubilang, "Demi gengsi". Semua serba luar negeri 

Manakah mungkin. Mengikuti caramu yang penuh hura-hura

Aku suka jaipong. Kau suka disko, oh (oh), oh
Aku suka singkong. Kau suka keju, oh (oh), oh 

Aku dambakan seorang gadis yang sederhana
Aku ini hanya anak singkong. Aku hanya anak singkong."

Yesus juga mengkritik orang-orang pada zaman itu yang tidak menghargai nabi di daerahnya sendiri. Kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.”

Dia memberi contoh bagaimana Nabi Elia membuat hujan turun di negeri asing dan menolong janda di Sarfat karena tidak dipercaya di Israel sendiri. 

Nabi Elisa menyembuhkan Naaman orang Siria sementara banyak orang kusta yang sakit di Israel.

Kalau kita tidak bisa menghargai diri kita sendiri, lalu siapa yang akan menghargai martabat dan buah karya kita? Begitupun orang-orang Yahudi tidak mau percaya dan menghargai Kristus, Nabi yang diutus Allah. 

Kita kadang juga tidak menghargai iman kita sendiri. Merasa kegiatan itu hanyalah hal rutinitas belaka, aktivitas rohani terasa hambar hanya begitu-begitu saja. 

Kalau tidak hati-hati, kita juga seperti orang-orang Yahudi yang hilang kepercayaan pada Yesus.

Mari kita cintai dan hargai iman kita sendiri. Kita pasti bisa melihat karya-karya ajaib Tuhan yang terjadi pada hidup kita.

Tari reog dibawa ke Malaysia,
Kita sendiri sudah kehilangan budaya.
Yesus buat mukzijat dimana-mana,
Di Nasaret orang malah tidak percaya.

Wonogiri, hargai budaya kita
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Warung Angkringan di Gereja Pugeran

3/8/2026

0 Comments

 
Puncta 8 Maret 2026
Minggu Prapaskah III
Yohanes 4:5-42

KALAU kita masuk pelataran Gereja Pugeran, di sana ada sumur Yakub, yang sering ditimba airnya oleh Pak Pur yang buka warung angkringan di depan gereja. 

Air dari sumur ini ditimba, dimasak menjadi minuman teh “nasgithel” yang legend sejak tahun 1954. 

Sekarang dikelola oleh Bu Ranti, generasi kedua yang melanjutkan. Banyak pengunjung datang ke warung menikmati segelas teh dari air sumur Yakub. 

Sumur memiliki makna rohani yang dalam. Tidak sekedar air tawar, tetapi dia adalah air kehidupan.

Sumur melambangkan kedalaman rohani dan sumber inspirasi. Sumur adalah tempat perjumpaan manusia dengan Yang Ilahi. 

Kadang ada doa-doa dilakukan di sumur. Sesajen juga ditaruh di sumur sebagai doa syukur dan permohonan agar Tuhan mengalirkan anugerah-Nya tanpa henti.

Yesus berjumpa dengan wanita Samaria di sumur Yakub. Perjumpaan yang mengarah pada pengenalan akan Allah yang sejati dan penyembahan yang benar. 

Dialog dimulai dari air di sumur itu. Yesus meminta kepada wanita itu, “Berilah Aku minum.” Sapaan yang manusiawi dan alami.

Dari pembicaraan ringan menjadi dialog yang serius. Dari ngomong tentang air minum menjadi air kehidupan. 

Dari tidak kenal, tak bertegur sapa menjadi akrab sangat mendalam. Wanita Samaria itu dari pribadi yang tertutup menjadi terbuka. Dari tidak percaya menjadi pewarta kabar sukacita.

Yesus mewahyukan dirinya secara perlahan-lahan melalui dialog yang tidak menghakimi walau latar belakang kehidupan wanita itu sangat gelap dan suram. 

Yesus memperkenalkan Allah yang mengampuni dan mengasihi. Allah tidak disembah dalam batu dan hukum, tetapi Allah yang hadir di dalam hati setiap orang.

Wanita itu menjadi yakin bahwa Yesus adalah Mesias yang ditunggu-tunggu Israel. Ia kembali ke kampung dan mengabarkan kepada semua orang. Mereka berbondong-bondong datang kepada Yesus. Mereka menjadi percaya.

"Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia," kata orang banyak itu. 

Iman adalah proses pengenalan akan Tuhan. Ia tidak berhenti atau disimpan untuk diri sendiri. Tetapi diwartakan kepada semua orang, agar mereka juga mengenal Tuhan. 

Kita bisa menjadi wanita Samaria. Kita bisa membuka hati pada Tuhan dan memberitakan kasih-Nya pada sesama.

Percik pantun untuk renungan:
Minum teh di depan Pugeran,
Sambil melihat mobil lalu lalang.
Wanita Samaria memiliki iman,
Ia wartakan kepada semua orang.

Wonogiri, iman yang terus berkembang
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Kasih Ibu

3/7/2026

0 Comments

 
Puncta 7 Maret 2026
Sabtu Prapaskah II
Sabtu Imam
Lukas 15:1-3.11-32

SEORANG ibu dengan wajah sedih dan mata berkaca-kaca menceritakan kepedihan hatinya saat anak gadisnya pulang ke rumah malam-malam dengan wajah kebingungan. 

Ia minta kepada ibunya sejumlah uang untuk menebus temannya yang terjerat narkoba. Kalau tidak disediakan uang, ia juga akan diciduk oleh petugas.

Ini bukan yang pertama terjadi. Sudah berulangkali kejadian, anak gadisnya terjerat barang haram karena pergaulan dengan teman-temannya. Sawah sudah dijual. Mobil sudah masuk pegadaian. Tak ada lagi yang bisa diuangkan.

Namun ibu itu tetap merangkul anaknya. Dia ciumi buah hati yang sangat dikasihinya. Dalam tangisan di kamar yang gelap, ibu itu berkata, “Nak, kalau boleh, ibu saja yang masuk penjara. Aku rela menggantikan dirimu.”

Ada pepatah; “Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.” Jalan tak pernah putus walau harus berkelok-kelok dan berliku-liku. 

Penderitaan apapun akan diterima demi kebahagiaan anak yang dilahirkannya.

Demikianlah kasih Allah yang tak terbatas digambarkan oleh Yesus dengan perumpamaan anak yang hilang. 

Kisah ini sangat familier dan tidak asing bagi kita semua. Bapa mengasihi semua anaknya tak terkecuali.

Anak bungsu yang telah menghambur-hamburkan harta warisan dan terpuruk dalam lembah kenistaan, diterima kembali dengan sukacita. Bahkan dibuatkan pesta meriah. 

Kata ayahnya, “Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."

Kasih yang tiada batas itu membuat anak sulungnya cemburu dan irihati. Ia merasa telah berjasa tinggal taat bersama ayahnya, tetapi tidak pernah diberi penghargaan. 

“Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.”

Ia yang berstatus anak malah berlaku seperti budak. Harus dihargai, diberi imbalan dan diperintah. 

Kata ayahnya kepadanya: “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.”

Mari kita syukuri rahmat Allah yang tiada batasnya. Allah tidak pernah berubah  mengasihi kita, kendati kita jatuh dalam dosa. 

Kasih Allah lebih besar daripada dosa-dosa kita. Janganlah kita menyia-nyiakan kasih-Nya. 

Mari bernyanyi lagu kanak-kanak zaman dulu:
Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa.
Hanya memberi, tak harap kembali.
Bagai sang surya menyinari dunia.

Wonogiri, syukuri kasih Tuhan
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Harta Hanyalah Titipan, Pangkat Hanyalah Hiasan

3/6/2026

0 Comments

 
Puncta 6 Maret 2026
Jum’at Prapaskah II
Matius 21:33-43.45-46

DALAM perumpamaan tentang kebun anggur, kita diingatkan bahwa Tuhanlah pemiliknya, kita ini hanya penggarap yang dititipi agar dapat menghasilkan buah. Tuhan adalah pemilik kehidupan, kita hanya diminta mengelolanya. 

Kita diberi talenta, rahmat dan kemampuan untuk menggarap kebun anggur, namun dosa serakah membuat kita ini lupa diri. 

Karena merasa bisa melakukan segalanya, kita ingin memiliki kebun anggur yang bukan milik kita. Orang Jawa memberi nasehat, “Bisaa rumangsa, aja rumangsa bisa.” artinya bisalah mengukur diri sendiri, jangan merasa sok bisa.

Para penggarap yang serakah itu menolak para utusan. Mereka menangkap, melempari batu dan membunuh nabi-nabi yang menjadi utusan Sang Pemilik. 

Bahkan Putra-Nya sendiri juga dibunuh. Mereka mengira hak warisan akan jatuh ke tangannya. 

Para leluhur kita telah mengingatkan dengan kata-kata bijak, “Nyawa iku mung gadhuhan, banda iku mung titipan, lan pangkat iku mung sampiran.” 

Maksudnya, Nyawa (hidup) kita hanya dipinjamkan, harta hanya dititipkan dan pangkat hanyalah hiasan semata.

Suatu saat semua itu akan diambil kembali oleh Sang Pemilik Kehidupan (kebun anggur) yakni Tuhan Penguasa semesta alam. 

Perumpaaan ini menyindir para Ahli kitab dan orang-orang Farisi khususnya dan orang-orang Yahudi yang tidak percaya pada Kristus.

Mereka menganggap diri sebagai orang-orang yang berhak memiliki surga. Mereka mengklaim sebagai orang paling benar, suci dan saleh sehingga menolak pewartaan para nabi. Bahkan Yesus sebagai Anak Allah juga ditolak dan dibunuh. 

Kita mudah lupa diri terhadap harta dan jabatan. Kita pengin mengejar dengan ambisi pangkat dan kekayaan. 

Saudara kita korbankan. Hubungan keluarga jadi berantakan. Kita tergoda oleh jabatan dan kekayaan. Hidup hanya mengejar harta yang bukan milik kita. 

Awalnya mencalonkan jadi anggota dewan. Modalnya rupiah milyaran. Harus menjual tanah dan ladang. Sertifikat semua digadaikan. Sudah terlilit banyak hutang. 

Pangkat sangat menggiurkan. Pengin naik jadi bupati biar terpandang. Tentu saja modalnya harus banyak uang. Pikirnya nanti bisa korupsi dan lelang jabatan. 

Sang Pemilik Kehidupan berpikir ulang. Sang calon bupati jantungnya berdegup sangat kencang karena hutangnya dikejar si Mata Elang. 

Akhirnya terkena stroke dan terkapar di ranjang, hanya bisa menunggu jatahnya “pulang” ke haribaan.

Ngelingana wewarahe wong tuwa; ‘Nyawa iku mung gadhuhan, banda iku mung titipan, pangkat iku mung sampiran.” 

Kita diingatkan kembali nasehat bijak orangtua; nyawa kita hanya pinjaman, harta kita hanya titipan, jabatan itu hanya hiasan.” 
Pada saatnya harus dikembalikan.

Percik pantun untuk direnungkan:
Sing eling lan waspada,
Aja mung ngoyak banda donya.
Orang harus sadar dan waspada,
Jangan hanya mengejar hal-hal dunia.

Wonogiri, elinga lan diwaspada
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Lazarus di Perempatan Maguwo

3/5/2026

0 Comments

 
Puncta 5 Maret 2026
Kamis Prapaskah II
Lukas 16:19-31

SUATU kali saya lewat di pertigaan Ringroad Maguwo dari arah timur. Banyak mobil berhenti di lampu merah. 

Ada seorang bapak menghampiri mobil-mobil yang berhenti. Dia membawa kotak sumbangan bertuliskan, “Sumbangan untuk pengobatan mata.”

Memang terlihat kedua mata bapak itu cacat dan tidak sempurna. Banyak mobil menutup pintu kacanya. Ketika sampai giliran, saya mengulurkan sedikit uang di kotak kardusnya. Ia berlalu dan berterimakasih.

Dalam benak saya berpikir, apakah bantuan yang sedikit itu mampu menyembuhkan sakitnya?”

 Tetapi mungkin bukan itu pertanyaannya. Apakah kita tergerak hati ketika melihat penderitaan sesama di sekitar kita.

Seringkali ada jurang pemisah yang dalam di antara kita sehingga kita tidak peduli pada derita orang lain. Kisah orang kaya dan Lazarus itu menggambarkan betapa tebal pintu gerbang yang memisahkan kehidupan sosial mereka.

Di sisi luar, Lazarus duduk dengan lapar dan haus. Ia dijilati oleh anjing-anjing yang mengendus bau amis dari borok-boroknya. 

Di sisi dalam orang kaya itu berpesta pora dengan makanan berlimpah dan berpakaian serba mewah. 

Pintu gerbang dunia ternyata terhubung juga dengan pintu gerbang surga. Apa yang terjadi di dunia menjadi terbalik dengan keadaan di dunia selanjutnya. 

Lazarus berada di pangkuan Abraham dalam kedamaian. Sedang orang kaya itu berada di api penyiksaan kekal.

Semua ditentukan oleh apa yang kita lakukan ketika masih hidup di dunia. Dalam pengadilan terakhir, Yesus pernah bersabda, “Apa saja yang kamu lakukan untuk saudara-Ku yang paling hina itu kamu lakukan untuk Aku.” 

Yesus tidak sedang berkata bahwa orang kaya tidak masuk surga, atau orang miskin pasti masuk surga. Yang mau disampaikan adalah agar kita peduli dan berbelarasa dengan penderitaan sesama. Kita boleh kaya. 

Tetapi kekayaan itu harus kita gunakan untuk menolong mereka yang menderita.

Jangan membangun tembok pemisah di dalam hati kita. Tetapi bangunlah jembatan kemanusiaan yang menghubungkan kepedulian kita dengan sesama, khususnya mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir. 

Apakah hati kita peka dan tangan kita terulur ketika melihat saudara kita yang sedang menderita? 

Tindakan itu akan menentukan keselamatan kita di akhir kehidupan nanti.

Sepercik pantun untuk direnungkan:
Sucikanlah hati di bulan puasa,
Banyak berdoa dan bermati raga.
Kasih kepada mereka yang terhina,
Kasih Allah bagi semua manusia.

Wonogiri, kasihilah sesamamu manusia
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Kekuasaan yang Mengancam

3/4/2026

0 Comments

 
Puncta 4 Maret 2026
Rabu Prapaskah II
Matius 20:17-28

MEDIA Global memberitakan tewasnya pemimpin Iran Ali Khamenei pada akhir Februari 2026. Pemerintah Iran secara resmi mengumumkannya pada 1 Maret 2026 dan menjalani masa berkabung selama 40 hari kedepan.

Amerika langsung menyerang Iran dengan kekuatan penuh. Kapal-kapal induk dikirim ke kawasan Teluk untuk menghancurkan tempat-tempat vital yang dianggap menjadi ancaman AS. 

Dengan penuh keyakinan Trump memperkirakan bahwa perang akan selesai dalam empat minggu ke depan.

Banyak pihak mencemaskan situasi di Timur Tengah. Mereka memperingatkan perang ini akan berdampak besar bagi situasi keamanan di belahan dunia. Ancaman akan terarah pada fasilitas dan kepentingan AS di seluruh dunia.

Trump menjalankan kekuasaan dengan tangan besi terhadap musuh-musuhnya. Ancaman senjata dan teror diarahkan kepada siapapun yang melawan dan memusuhinya. Inilah wajah kekuasan absolut yang dijalankannya. 

Yesus mengingatkan kepada para murid-Nya.  "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.”

Yesus tidak menghendaki para murid menggunakan kekuasaan dengan keras. “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.”

Dalam kancah politik domestik kita memiliki contoh raja yang merakyat yakni Sri Sultan HB IX di Kraton Yogyakarta. 

Beliau menggunakan tahtanya untuk melayani rakyat. Beliau sangat dicintai dan menjadi suri tauladan bagi rakyat. 

Tahtanya bukan untuk menindas atau menyengsarakan rakyat tetapi untuk “ngayomi” atau melindungi dan menyejahterakan rakyat kecil. 

Sebagaimana Kristus yang datang bukan untuk dilayani tetapi melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

Bagi mereka yang diberi amanah untuk memimpin, gunakan kepemimpinan itu untuk melayani rakyat kecil dan lemah. 

Hati-hati terhadap ambisi kekuasaan yang sedang menjalar. Kalau tidak waspada budaya model Trump bisa menyebar kemana-mana. Semua masalah diselesaikan dengan moncong senjata.

Gunakan kekuasaan untuk melayani bukan menguasai.

Sepercik pantun untuk direnungkan:
Rakyat Iran sedang sekarat,
Dihantam rudal dari Amerika.
Berkuasalah di hati rakyat,
Jangan hanya di perutnya saja.

Wonogiri, tahta untuk melayani rakyat
Rm.A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Pameran Kesalehan

3/3/2026

0 Comments

 
Puncta 3 Maret 2026
Selasa Prapaskah II
Matius 23:1-12

ORANG yang berpakaian agamis belum tentu menggambarkan kekudusan dan kesalehannya. Orang yang memakai jubah putih tidak serta merta hatinya juga putih suci. 

Mochtar Lubis pernah menyatakan bahwa kita orang Indonesia ini punya watak munafik.

Munafik adalah karakter dimana perkataan yang keluar dari mulut tidak sesuai dengan perilaku atau tindakannya sehari-hari. 

Orang suka melakukan kebohongan, berpura-pura dan suka ingkar janji. Orang munafik suka pamer kesalehan. Biar dilihat orang bahwa dirinya saleh, suci dan dihormati.

Banyak orang berkata-kata dengan bahasa Kitab Suci, pandai mengajar dan mengutip ayat-ayat dan menasehati orang dengan firman Tuhan. Tetapi kehidupannya sehari-hari jauh dari apa yang diajarkan dan dinasehatkan.

Yesus mengkritik para ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi yang suka memakai jumbai yang panjang dan tali ikat pinggang ungu agar dilihat orang. 

Mereka melakukan tradisi agama hanya ingin dipuji dan dihormati orang lain. 

Sayangnya yang mereka cari bukan sabda Tuhan dan melakukan kehendak-Nya, tetapi agar dilihat dan dipuji orang. 

Mereka memakai nama Tuhan untuk menindas dan mengeruk harta orang. Mereka tidak segan-segan minta mobil mewah, uang sumbangan yang banyak menggunakan nama Tuhan.

"Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya,” kata Yesus.

Yesus mengingatkan kepada pengikut-Nya agar melayani dengan rendah hati. “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. 

Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Kehebatan seseorang tidak dilihat dari pakaiannya, kendaraannya, jabatannya, tetapi dari tindakan yang baik dan tutur katanya yang sopan dan menghargai. Kerendahan hati justru menunjukkan keluhuran budinya. 

Berhati-hatilah jika kita sudah mulai mencari pujian dan senang memamerkan kehebatan dan kesuksesan kita. Jangan-jangan kita sudah mulai gila pujian.

Sepercik pantun buat anda:
Banyak Sengkuni yang suka dipuji-puji,
Jalannya miring  mukanya berseri-seri.
Jadilah orang yang suka menghargai,
Tanpa basa-basi namun suka melayani.

Wonogiri, jangan berlaku munafik
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
<<Previous

    Archives

    December 2034
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki