|
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
17 Comments
Puncta 30 Maret 2026
Senin Pekan Suci Yohanes 12:1-11 SEPEKAN sebelum Yesus menghadapi penderitaan-Nya, Ia makan bersama dengan keluarga Betania yakni Marta, Maria dan Lazarus. Di situ juga ada orang-orang Yahudi yang datang bukan saja untuk melihat Yesus tetapi juga ingin ketemu Lazarus yang dibangkitkan. Pada saat perjamuan itu, Maria membasuh kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal dan menyekanya dengan rambutnya yang panjang dan indah. Hal ini dilakukan Maria sebagai penghormatan kepada Yesus. Maria dan saudaranya sangat mengasihi Yesus. Maka dia memberikan yang terbaik, termahal untuk Yesus. Tindakan Maria ini adalah wujud kasih dan perendahan diri serta penghormatan yang tak ternilai kepada Tuhan. Maria tahu bagaimana menghormati orang yang sangat dikasihi. Minyak narwastu setengah kati (164 gram) yang bisa dihargai 300 dinar – upah hampir satu tahun kerja - tidaklah mahal bagi orang yang sangat dimuliakan. Bahkan rambut sebagai mahkotanya perempuan pun dipakai untuk mengusap kaki Yesus. Tanda hormat penuh cinta. Berbeda dengan Yudas Iskariot yang menyayangkan tindakan Maria sebagai pemborosan. Apa yang dikatakan Yudas adalah kemunafikan. Ia seolah-olah memikirkan kaum miskin, padahal dalam hatinya ingin meraup keuntungan untuk pribadi saja. "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" Hal itu dikatakan Yudas bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Yang dipikirkan Yudas adalah kepentingan pribadinya, bukan karena dia ingin membantu orang miskin, tetapi ingin menjarah uang untuk dirinya sendiri. Kadang ada orang yang punya usul atau ide-ide yang baik dan saleh, namun di baliknya ada unsur egoistik demi kepentingan diri sendiri. Di lingkungan atau komunitas selalu ada orang yang suka mengkritik dan punya usul yang “muluk-muluk” tetapi pas hari H-nya tidak muncul dan tak mau terlibat. Tetapi kalau ada yang menguntungkan, dia yang pertama ambil kesempatan. Orang yang merasa dikasihi seperti Maria akan siap berkorban apa pun yang terbaik sebagai ungkapan syukur. Namun orang yang tidak punya pengalaman kasih seperti Yudas, dia hanya berpikir untuk kepentingannya sendiri. Dia tidak mau berkorban sedikit pun karena tidak menguntungkannya. Siapakah diri kita? Tipe orang seperti Maria atau model orang seperti Yudas Iskariot? Kita tidak sampai menyangkal atau mengkianati Yesus sih, tetapi barangkali kita memanfaatkan Tuhan demi keuntungan pribadi kita. Sepercik pantun untuk direnungkan: Minyak narwastu sangat mahal harganya, Diberikan untuk souvenir bagi kekasihnya. Sikap syukur nampak dalam tindakan nyata, Siap berkorban bagi orang yang mengasihi kita. Wonogiri, syukur atas cinta-Nya Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 29 Maret 2026
Hari Minggu Palma, Pengenangan Sengsara Tuhan Matius 26:14-27:66 KALAU kita membaca Injil dari awal sampai akhir, kita akan menemukan ungkapan pernyataan iman tentang siapakah Yesus Kristus. Dari awal kehidupan dan sampai akhir hayat-Nya, Yesus berkarya, mengajar dan menunjukkan pribadi-Nya. Tiap orang yang membaca Injil berproses menuju pengakuan imannya. Di awal Injil sinoptik, siapa Yesus dikabarkan oleh malaikat kepada para gembala. "Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." Di tengah-tengah Injil, pengakuan Petrus menyatakan siapa Yesus. Ketika Yesus bertanya siapakah Dia, orang banyak menjawab Elia atau nabi lain. Namun, Petrus mengakui imannya: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Di akhir Injil Matius, melalui peristiwa penyaliban, lewat mulut Kepala pasukan yang menjaga-Nya ia mengakui, "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah." Pengakuan ini adalah kesimpulannya. Pengakuan iman bahwa Yesus adalah Mesias, Putra Allah yang hidup dilalui lewat pengorbanan-Nya di kayu salib. Salib bukan lambang kekalahan, tetapi justru menunjukkan kemuliaan Kristus. Kemuliaan-Nya diakui oleh orang-orang yang mengelu-elukan Yesus di Yerusalem. Yesus adalah Raja yang datang bukan dengan kekuatan prajurit atau senjata yang memusnahkan tetapi Dia adalah Raja yang lemah lembut penuh kasih bagi siapa pun juga, bahkan musuh-musuh-Nya juga diterima dan diampuni-Nya. Kasih yang demikian besar itulah yang dialami kepala pasukan yang melihat Yesus wafat di salib dan berkata, "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah." Hanya orang yang punya pengalaman dikasihi Allah, seperti kepala pasukan ini, yang mampu mengakui Yesus sebagai Allah. Apakah penderitaan dan pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib sungguh anda alami sebagai pengalaman kasih Allah yang tak terbatas dan menyentuh hati anda yang paling dalam? Apakah anda mengalami dikasihi sedemikian sampai Allah mengorbankan Putera-Nya yang terkasih? “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang merelakan nyawa bagi sahabat-sahabat-Nya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu,” itulah pesan Yesus bagi kita sahabat-Nya. Sepercik pantun untuk direnungkan: Dari Jawa menyeberang ke Lampung, Jangan lupa singgah di Kalianda. Salib adalah tanda kasih paling agung, Ia mengorbankan diri bagi dosa kita. Wonogiri, kasih yang luar biasa Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 28 Maret 2026
Sabtu Prapaskah V Yohanes 11:45-56 RENE GIRARD (1923-2015) adalah pemikir besar dari Perancis yang mengembangkan teori kambing hitam dalam penyelesaian konflik di masyarakat. Kekerasan, kekacauan atau konflik komunitas dicarikan jalan penebusannya dengan mengorbankan kelompok minoritas atau orang tertentu. Kambing hitam diartikan sebagai seseorang atau sesuatu yang dijadikan sasaran kesalahan atau dipersalahkan atas suatu masalah, meskipun sebenarnya belum tentu bersalah atau tidak sepenuhnya bertanggung jawab atas masalah itu. Kita ambil contoh, ketika Hitler berkuasa, Nazi menyalahkan komunitas Yahudi sebagai kambing hitam terjadinya kekacauan politik dan ekonomi di Jerman. Maka kaum Yahudi dihabisi melalui kamp konsentrasi dan pembantaian. Untuk mengalihkan kemarahan rakyat dari dirinya, Nero mencari kelompok minoritas dan rentan untuk disalahkan. Pada tahun 64 Masehi Nero mengkambinghitamkan umat Kristen atas kebakaran kota Roma. Umat yang tidak bersalah ditangkap, disiksa dan dibunuh. Di Indonesia, setelah terjadinya peristiwa tahun 1965, segala kekacauan, demontrasi atau kerusuhan, PKI-lah yang akan dijadikan kambing hitamnya. Apapun kerusuhan atau kekacauan selalu dihubungkan dengan PKI. Kasus Kedungombo pada tahun 1990 misalnya. Orang-orang yang menentang penggusuran pembangunan waduk Kedungombo di Jawa Tengah dikambinghitamkan sebagai PKI. KTP mereka diberi cap ET (eks Tapol) oleh penguasa Orde Baru. Setelah membangkitkan Lazarus, makin banyak orang yang percaya kepada Yesus. Pengikut-Nya makin meluas. Hal ini menimbulkan kekawatiran para tua-tua Yahudi. Mereka berunding bagaimana caranya agar tidak terjadi pemberontakan atau kekacauan oleh penguasa Romawi. Mahkamah Agama berkumpul dan mereka berkata: "Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita." Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa." Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Yesus dijadikan kambing hitam. Ia dipersalahkan dan dikorbankan untuk keselamatan seluruh bangsa. Apakah kita juga sering memakai pola kambing hitam, menyalahkan orang lain untuk menyelamatkan muka kita? Sepercik pantun untuk direnungkan: Pergi mencangkul di sawah sebelah, Memakai celana yang terbuat dari kain. Kita sering bersembunyi dari masalah, Mudah sekali menyalahkan orang lain. Wonogiri, suka mencari kambing hitam Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 27 Maret 2026
Jum’at Prapaskah V Yohanes 10:31-42 DALAM literatur Babad Tanah Jawi terselip kisah pertentangan antara Syech Siti Jenar dengan Walisanga. Syech Siti Jenar adalah ulama atau wali yang mengajarkan konsep “Manunggaling Kawula Gusti.” Bersatunya (manunggal) hamba (kawula) dan Tuhan (Gusti). Konsep ini sering disalah artikan sebagai Tuhan yang menyatu dengan manusia atau manusia yang menyamakan diri dengan Tuhan. Padahal para pengikutnya meyakini bahwa konsep ini hanya ada dalam kesadaran spiritual. Ajaran ini menimbulkan perbedaan pandangan dengan para wali sehingga Syech Siti Jenar harus menerima hukuman dari penguasa Demak dan para wali. Ajaran tasawuf yang dikembangkan Syech Siti Jenar dianggap membahayakan. Maka harus dihentikan. Orang-orang Yahudi ingin melempari Yesus dengan batu. Bukan karena perbuatan baik yang dilakukan Yesus tetapi karena Yesus dianggap menghojat Allah. Dia menyamakan diri-Nya dengan Allah. Mereka marah karena Yesus mengajarkan konsep “Manunggaling kawula Gusti.” Jawab orang-orang Yahudi itu: "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah." Jawab Yesus, ”Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa." Kaum Yahudi lebih menekankan hukum Taurat. Sedang Yesus lebih menekankan hakikat manusia dengan Tuhan. Allah adalah Mahabaik dan Maha benar. Kalau kita melakukan kebaikan dan kebenaran berarti kita melakukan pekerjaan Allah. Allah berada dalam diri orang dan menuntunnya melakukan kebaikan dan kebenaran bagi sesamanya. Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan Yesus itu berasal dari Allah. Kalau kita mempercayai Yesus, berarti kita juga mempercayai Allah yang bekerja di dalam-Nya. Namun hal seperti ini tidak dipercaya dan diterima oleh orang-orang Yahudi. Mereka tidak mampu menangkap maksud ajaran Yesus. Maka mereka ingin melempari Yesus dengan batu dan menghukumnya. Apakah kita mampu memahami apa yang diajarkan Yesus kepada kita? Apakah kita juga meyakini bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia? Kalau kita membaca Kitab Suci, kita baru bisa memahami ajaran ini. Sepercik pantun untuk direnungkan: Pergi ke hutan menangkap lebah, Lebah bersarang di pohon gandarusa. Yesus adalah sungguh Putera Allah, Dialah Firman yang menjadi manusia. Wonogiri, Yesus sungguh Allah Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 26 Maret 2026
Kamis Prapaskah V Yohanes 8:51-59 PADA pertengahan abad ke 19 muncul tokoh pekabar Injil yang bernama Kyai Sadrach. Nama aslinya Radin. Sejak muda dia suka “nyantri” di Pondok Pesantren Jombang dan Ponorogo. Namanya kemudian menjadi Radin Abas. Perkenalannya dengan ajaran Kristen terjadi karena Radin bertemu dengan Jellesma. Kemudian dia dibimbing oleh Kyai Tunggul Wulung dan dibaptis di Batavia 14 April 1867. Ia berkeliling ke Jawa Tengah dan menjadi pewarta Injil di daerah Purworejo, Bagelen. Karena pengaruhnya yang besar Sadrach dipanggil sebagai Kyai oleh para pengikutnya. Cara dan pola pekabarannya berbeda dengan kaum zending Belanda. Ia menggunakan model pesantren dan budaya Jawa. Untuk jadi Kristen orang tidak harus meninggalkan tradisi dan adat istiadat Jawa. Cara berpakaian, cara sembahyang dan bentuk bangunan gereja memakai model-model Jawa. Hal ini yang menimbulkan gesekan dengan kaum Zending. Mereka berpikir menjadi Kristen harus mengikuti budaya Barat. Jadi Kristen harus ikut budaya Eropa. Orang Eropa tidak bisa memahami budaya, adat dan tatacara hidup orang pribumi. Sadrach dianggap menyeleweng karena mencampuradukkan iman dan tradisi budaya Jawa. Sadrach berusaha mempribumikan iman Kristen. Berlawanan dengan paham kaum Zending yang Eropa. Tidak ada titik temu yang bisa menyatukan perbedaan pandangan mereka. Paham dan pandangan Yesus dengan kelompok Yahudi juga tidak ada titik temunya. Bahkan mereka menganggap Yesus gila, kerasukan setan. Mereka tidak bisa menerima pandangan Yesus bahwa Allah adalah Bapa-Nya.Yesus dan Bapa adalah satu. Bahwa Yesus sudah ada sebelum Abraham ada. Ia berbicara tentang Sabda yang sudah ada sebelum segala sesuatu dijadikan. Tetapi pandangan Yesus ini tidak bisa dipahami dan diterima oleh orang-orang Yahudi pada waktu itu. Maka mereka mau melempari Yesus dengan batu. Batu melambangkan kekerasan, ketegaran hati seperti manusia yang keras membatu tidak mau percaya kepada Yesus. Mereka menolak Yesus sebagai utusan Allah. Seandainya kaum Zending Belanda itu tidak kaku dan keras hatinya, mungkin Sadrach sudah bisa membawa banyak jiwa-jiwa di Tanah Jawa ini yang diselamatkan dan percaya kepada Kristus. Apakah hati kita juga keras membatu sehingga tak tersentuh oleh kasih Kristus? Sepercik pantun untuk direnungkan: 100% Katolik Seratus persen Indonesia, Jadi orang katolik tidak harus jadi Eropa. Mengikuti Yesus dengan budaya kita, Tidak akan mengurangi kerohanian kita. Wonogiri, beriman dan berbudaya Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 25 Maret 2026
HR.Kabar Sukacita Lukas 1:26-38 APAKAH anda tahu Pati ada dimana? Beberapa anak muda saya tanya Pati ada di mana? Mereka geleng kepala. Ya mungkin anda juga baru mendengar atau tahu ada kota Pati di Jawa Tengah. Pati adalah kota kecil di daerah Pantura Jawa Tengah. Pati kalah mentereng dengan Kudus atau Demak tetangganya. Kudus terkenal dengan Pabrik Rokok Djarum yang pemiliknya baru saja meninggal dunia. Demak dikenal dengan mesjidnya yang ikonik dan tempat Kerajaan Islam pertama yang didirikan oleh Raden Patah. Pati? Tak terdengar sebelum ada kasus Mas “Botok” dan Teguh yang menggegerkan karena menggalang demo untuk pemaksulan Bupati Sudewo pada tahun 2025 kemarin. Supriyono “Botok” dan Teguh Istiyanto adalah aktivis Masyarakat Pati Bersatu. Mereka orang kecil yang terpanggil menyuarakan kebenaran dan keadilan atas praktik-praktik koruptif yang dilakukan pejabat. Mereka berjuang untuk masyarakat bawah yang mengalami ketidakadilan oleh penguasa. Namun mereka justru dikriminalisasi. Dari kota kecil Pati, yang tidak diperhitungkan muncul suara hati nurani rakyat yang menggugat. Dari Pati yang tidak terkenal terbit secercah pengharapan untuk berjuang menegakkan keadilan. Ini adalah kabar gembira yang perlu diwartakan ke seluruh pelosok negeri. Siapa tahu dari Pati kota kecil ini muncul suara pembebasan. Nazaret juga tidak terkenal seperti Betlehem, Yerusalem atau kota-kota lainnya. Nazaret hanyalah kota kecil. Tetapi dari Nazaret muncul pribadi yang berani menanggapi tawaran Tuhan melalui Malaikat Gabriel. Dan dia adalah seorang perawan yang tidak diperhitungkan yaitu Maria. Maria berani mengambil resiko untuk permulaan karya Allah menebus manusia. Perempuan yang tidak dianggap dalam strata masyarakat ini berani menjawab YA, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu. Kendati masa depan tidak jelas, tidak ada jaminan yang pasti dari Tuhan, namun Maria berani menjawab panggilan Allah. Sikap kerendahan hati dan kepasrahan pada penyelenggaraan Tuhan adalah keberanian hebat dari Perawan Maria. Tanpa YA dari Maria, tak mungkin terjadi Sabda menjadi manusia. Tanpa kesediaan Maria, tak mungkin rencana inkarnasi Sabda menjadi daging terwujud seperti yang kita imani dalam diri Yesus Kristus, Sang Imanuel, Allah beserta kita. Dari Nazaret, kota kecil dimulailah karya penebusan Tuhan ke seluruh dunia. Dari perawan Maria yang berani menjawab tawaran Tuhan, kita semua diselamatkan dan ditebus oleh Yesus Kristus. Inilah kabar gembira yang menentukan karya penyelamatan kita manusia. Inilah kabar gembira bahwa Allah beserta kita, melalui Maria. Sepercik pantun buat anda: Orang berlibur dan berwisata, Mengisi lebaran bareng keluarga. Maria gadis perawan muda dari desa, Menjawab YA untuk keselamatan kita. Wonogiri, kabar sukacita Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 24 Maret 2026
Selasa Prapaskah V Yohanes 8:21-30 GAGAK burung hitam itu seringkali mengganggu kehidupan burung elang. Hanya gagak yang berani merecoki elang. Gagak sering bertengger di atas elang dan mematuki lehernya. Tetapi Elang tidak menggubrisnya. Diserang bertubi-tubi, elang tidak membalas. Dia justru terbang makin tinggi. Elang memang jago dalam ketinggian. Makin tinggi gagak makin kesulitan. Lama kelamaan gagak kehabisan oksigen. Karena tidak bisa bernafas, gagak jatuh ke bawah. Orang-orang Yahudi; para ahli kitab, penatua-penatua dan orang-orang Farisi bisa digambarkan seperti gagak yang sering menyerang Yesus. Mereka membenci Yesus dengan menyebarkan hoax, memfitnah, melawan dan bahkan mencoba membunuh-Nya. Namun Yesus tidak melawan. Dia justru semakin terbang tinggi. Dia berasal dari atas dan terus menunjukkan kemuliaan-Nya. "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini. Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu." Orang-orang yang berasal dari bumi hanya berkata-kata dan paham hal-hal duniawi saja. Yesus berasal dari atas, dari Allah. Ia berkata-kata dan mengajarkan segala sesuatu yang berasal dari Allah. “Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku. Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya," kata-Nya kepada orang banyak. Orang-orang tidak memahami apa yang dikatakan Yesus. Seperti debat kusir di TV, orang-orang yang tidak paham dan tidak mengerti hanya ngotot dengan pendapatnya sendiri. Tidak akan ada titik temunya. Justru kebencian dan permusuhan makin meruncing. Mari kita menjadi elang, tak perlu meladeni gagak yang sibuk menyerang. Kita tingkatkan kualitas hidup kita makin tinggi. Nanti gagak akan jatuh sendiri. Sepercik pantun untuk direnungkan: Pergi memancing di sawah, Sambil rebutan mencabuti kacang tanah. Kita adalah anak-anak Allah, Jangan ladeni gagak yang hidupnya di bawah. Wonogiri, tunjukkan kualitasmu Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 23 Maret 2026
Senin Prapaskah V Yohanes 8:1-11 RANCANGAN undang-undang perampasan aset sampai sekarang tetap tersimpan rapi di meja DPR. Entah kapan itu akan disahkan. Nampaknya semua enggan untuk mengesahkan karena kalau RUU itu disahkan, orang takut melakukan korupsi. Walaupun kita sudah melakukan reformasi pada tahun 1998, namun korupsi tetap saja berjalan, bahkan semakin menggurita dan terang-terangan dari tingkat atas sampai ke bawah. Hampir setiap tahun ada saja pejabat yang ditangkap KPK karena korupsi. Ada menteri, wakil menteri, bupati dan kroni-kroninya. Hukuman tidak membuat orang jera melakukan korupsi. Mereka sudah bisa berhitung, masih tetap untung dengan korupsi walaupun harus masuk bui. Toh setelah keluar, nanti bisa menjabat lagi dan korupsi lagi. Hukuman tidak mampu membersihkan mental korup. Apakah harus diampuni? Kaum Farisi ingin mencobai Yesus dengan membawa perempuan yang ketahuan berzinah. Mereka ingin menghukum perempuan itu dengan merajamnya sampai mati. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" Yesus tidak menanggapi pertanyaan mereka. Dia hanya menulis di tanah. Namun karena didesak, akhirnya Yesus berkata, "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Mereka pergi satu per satu. Tak ada satupun yang menghukum perempuan itu. Kepada perempuan itu Yesus berpesan, "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." Allah itu maha pengampun. Ia mengasihi dengan pengampunan-Nya. Tetapi lebih dari itu, kita diajak untuk tidak berbuat dosa lagi. Pesan “Jangan berbuat dosa lagi” adalah kesempatan bagi kita untuk berlaku baik dan benar di hadapan Tuhan. Hidup baik dan benar adalah cara kita membalas pengampunan dan belaskasih Allah. Marilah kita bersyukur karena kita diampuni Tuhan dan membaharui hidup dengan baik dan benar. Sepercik pantun: Ketupat ada di lebaran, Mohon maaf jika ada kesalahan. Pengampunan adalah jembatan, Hubungkan manusia dengan Tuhan. Wonogiri, berani mengampuni Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 22 Maret 2026
Minggu Prapaskah V Yohanes 11:1-45 KEMATIAN adalah realitas hidup yang tidak bisa dihindari. Setiap orang akan mengalami peristiwa kematian. Ada banyak perasaan berkecamuk; sedih, dukacita, merasa kehilangan, putus asa, bahkan ada yang merasa takut menjalani hidup sendiri. Namun dalam Injil hari ini, Yesus memberi harapan dan keyakinan bahwa kematian bukan akhir segalanya. Yesus menghibur Marta dan Maria yang kehilangan Lazarus, saudaranya. Ia menguatkan mereka, “Jikalau engkau percaya, engkau akan melihat kemuliaan Allah.” Marilah kita melihat pesan melalui peristiwa kebangkitan Lazarus. Yang pertama, Marta dan Maria berharap Tuhan ada saat mereka mengalami kesedihan dan kehilangan. Namun Tuhan menunda kedatangan-Nya. Ini bukan penolakan, tetapi justru saat kemuliaan Tuhan. Waktu Tuhan bukan waktu kita. Kehendak Tuhan melampaui segala waktu kita. Kadang doa-doa kita belum dikabulkan. Tuhan menunda untuk memenuhinya. Tuhan berkuasa untuk menunjukkan kemuliaan-Nya. Kuasa itu justru lebih besar daripada yang kita minta. Kedua, percaya tidak akan mengkhianati hasil. Marta dan Maria diajak untuk tetap percaya. Tuhan lebih mengasihi kepada mereka yang bersedih, lemah dan menderita. Empati Tuhan lebih besar bagi mereka yang berkesusahan. Kata Marta kepada Yesus: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia." Iman inilah yang membuka harapan akan pemeliharaan Tuhan. Ketiga, doa yang disertai iman akan dikabulkan. Yesus berdoa kepada Bapa-Nya yang adalah Pencipta kehidupan. Ia memanggil orang yang sudah mati; "Lazarus, marilah ke luar!" dengan sabda-Nya, Yesus menunjukkan kuasa-Nya, sebagaimana Allah berfirman maka segalanya jadi. Keempat, Allah masih berkarya sampai sekarang, kita diajak untuk percaya kepada-Nya. Seperti mereka yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Apakah kita bisa melihat karya-karya besar Allah dalam diri kita, sehingga kita juga makin percaya kepada-Nya? Pantun untuk direnungkan: Hari raya lebaran sudah tiba, Semua menyambut dengan gembira. Yesus hadir dalam segala peristiwa, Duka dan derita, suka dan bahagia. Wonogiri, Allah mahakuasa Rm.A.Joko Purwanto,Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed