Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Hello Romo!

12/25/2034

18 Comments

 
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
18 Comments

Manny “Pacman” Paquiao

10/21/2026

0 Comments

 
Puncta 21 Oktober 2026
Rabu Biasa XXIX
Lukas 12:39-48

PETINJU legendaris dari Filipina, Manny “Pacman” Paquiao adalah satu-satunya petinju yang memiliki 8 gelar dunia di kelas yang berbeda-beda. 

Gelar juara dunianya dimulai dari kelas terbang, bantam super, kelas bulu, bulu super, ringan, welter junior, welter dan menengah ringan.

Dia merambah di empat badan tinju dunia dari WBC, IBF, WBO dan IBO yang mengakui kehebatannya. 

Manny Pacquiao memulai kariernya dari kelas rendah. Makin lama ia makin kuat dan diberi kesempatan menantang petinju-petinju di kelas atas.

Secara keseluruhan dia telah mengumpulkan 12 sabuk juara dunia tinju. Sebuah prestasi yang tidak bisa disamai oleh petinju-petinju lain di muka bumi. 

Ketika dia berhasil di kelas bawah, ia dipercaya naik ke kelas yang lebih atas. Begitulah sampai dia naik ke puncak karier yang tinggi.

Yesus menggambarkan sikap hamba yang siap siaga melakukan tugas dan kewajibannya. Dia akan dipuji oleh tuannya.

 “Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. 

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.”

Hamba yang berlaku demikian akan semakin diberi kepercayaan yang lebih karena dia mampu menjalankan tugasnya dengan baik. 

Sebaliknya hamba yang malas dan tidak menjalankan tugasnya akan menerima banyak hukuman.

“Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” 

Inilah prinsip keadilan Tuhan. Siapa yang mampu mengembangkan talenta, kepadanya akan diberi banyak peluang dan kesempatan.

Tanggungjawab besar tidak akan diberikan kepada orang yang tidak mampu menjalankannya. 

Tidak ada kepercayaan yang datang tiba-tiba. Semua kepercayaan mulai dari proses yang kecil dan setia. Jika kita setia dan dapat dipercaya dari yang kecil-kecil, maka kita nanti juga akan diberikan kepercayaan yang besar. 

Marilah kita mulai melakukan yang kecil dan sederhana, agar kita dapat dipercaya untuk mengerjakan yang besar dan penting.

Sepercik pantun buat anda:

Banyak orang ingin menjadi kaya,
Jalan paling mudah adalah korupsi.
Kita semua diberi banyak talenta,
Jangan disimpan untuk diri sendiri.

Wonogiri, kembangkan diri
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Pahlawan Penjaga Angkasa

10/20/2026

0 Comments

 
Puncta 20 Oktober 2026
Selasa Biasa XXIX
Lukas 12:35-38

PENERBANGAN Batik Air ID 6231 dari Palu menuju Makasar adalah momen paling dramatis dan menegangkan pada 28 September 2018. 

Pesawat Airbus itu membawa 148 penumpang dan 7 crew yang bertugas.

Petugas Air Traffic Controller (ATC) di AirNav Indonesia Cabang Palu, Bandara Mutiara SIS Al-Jufri, terus memandu agar pesawat dapat take off dengan aman dan selamat. 

Dia adalah Anthonius Gunawan Agung yang tetap duduk di kursi memandu kapten Ricosetta Mafella menerbangkan pesawatnya kendati gempa sudah dirasakan.

Guncangan gempa berkekuatan 7,4 SR menimpa Palu dan sekitarya. Gedung ATC berlantai empat berguncang, mulai retak dan berjatuhan. 

Agung tetap tenang memberi aba-aba dengan radionya.  "Batik 6231 runway 33 clear for take off." Pesawat melaju dan terbang.

Ketika pesawat berhasil terbang, sang kapten menghubungi petugas ATC tetapi tidak ada jawaban. 

Agung telah melompat untuk menyelamatkan diri dari reruntuhan. Namun naas, ia gugur di medan tugas. Ia berhasil menyelamatkan 148 penumpang dan 7 crew Batik Air.

Yesus memperingatkan kepada para murid agar tetap waspada dan berjaga-jaga karena saatnya tidak bisa disangkakan. 

Ia memberi ilustrasi tentang hamba yang selalu berjaga dan siap sedia menantikan tuannya datang.

Hamba yang demikian tahu tentang tugas dan tanggungjawabnya. Ia tetap menggunakan ikat pinggang dan menjaga pelitanya terus bernyala sampai tuannya datang. Ia mencintai tugasnya dan menjalankan tugas dengan totalitas.

Kita diajak oleh Yesus menjadi hamba yang selalu siap sedia melakukan tugasnya dengan sukacita dan bertanggungjawab. 

Hamba yang demikian tidak mementingkan dirinya sendiri, tetapi melayani tuannya dengan setulus hati. Orang lain lebih penting daripada urusan dirinya sendiri.

Anthonius Gunawan Agung menjadi contoh hamba yang siap sedia selalu berjaga melayani orang lain sampai tuntas. 

Ia adalah hamba Tuhan yang pinggangnya tetap berikat dan pelitanya tetap menyala. Maukah kita juga bertindak demikian?

Sepercik pantun buat anda:

Selamat datang di Klaten Bersinar,
Sinarnya ditutupi tong berwarna biru.
Ketika bencana alam makin menyebar,
Dana bencana dikorupsi pimpinanmu.

Wonogiri, jadilah hamba yang siap sedia 
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

harTA, tahTA dan waniTA

10/19/2026

0 Comments

 
Puncta 19 Oktober 2026
Senin Biasa XXIX
Lukas 12:13-21

ORANG Jawa memiliki tiga akronim sebagai peringatan agar selalu waspada supaya tidak tergoda dan jatuh dalam keputusan, pilihan atau perilaku yang menghancurkan. 

Tiga akronim itu disingkat menjadi tiga TA yaitu harTA, tahTA dan waniTA.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari berbagai peristiwa hidup manusia dimana orang sering jatuh karena harta, tahta dan wanita. 

Orang berebut harta warisan sampai tega membunuh saudara sendiri. Hanya karena harta orang lupa saudaranya.

Demi tahta kerajaan Singasari, keris Empu Gandring memakan korban tujuh nyawa karena balas dendam demi mengejar tahta kerajaan. 

Zaman sekarang pun rebutan tahta bisa terjadi dalam proses pemilu yang membuat orang saling bermusuhan.

Raja Daud jatuh dalam dosa karena seorang wanita bernama Bersyeba. Ia tega membunuh Uria, prajuritnya agar dapat mengambil istrinya dengan menempatkannya di medan pertempuran paling hebat. 

Seorang pemimpin yang hebat seperti Daud jatuh dalam kemolekan seorang wanita dan melanggar perintah Tuhan.

Yesus memperingatkan kepada orang banyak ketika Dia diminta untuk membagi warisan diantara mereka. 

"Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku."

Ia berkata kepada mereka, "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."

Ketamakan atau keserakahan menjadi awal malapetaka. Jika orang sudah mulai serakah, ia bisa lupa segala-galanya. 

Kain dan Habil lupa bahwa mereka adalah kakak beradik. Mereka saling membunuh karena keserakahan.

Masih ada sampai sekarang keturunan raja saling berebutan tahta, saling bermusuhan padahal mereka adalah saudara dari nenek moyang yang sama. 

Tetapi tahta bisa membuat orang lupa diri dan mengabaikan segala norma dan tata krama.

Wanita memang mempesoana dan bisa membuat sejarah berubah. Sebut misalnya Cleopatra dari Mesir. Helen dari Troya,  Anne Boleyn dari Inggris, Mata Hari si mata-mata eksotik dari Belanda.

Harta, Tahta dan Wanita menjadi peringatan agar kita waspada supaya tidak serakah mengejarnya. 

Yesus mengingatkan, “Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?”

Semua akan dipanggil kembali. Kita akan mati. Untuk apa semuanya itu? 

Yesus menghendaki agar kita kaya di hadapan Allah, tidak dengan mengejar hal-hal duniawi, tetapi mau berbagi kasih kepada setiap orang yang kecil, menderita dan lemah.

Sepercik pantun buat anda:

Nyawa mung gadhuhan,
Bandha mung titipan,
Pangkat mung sampiran,
Urip mung sak klebatan.

Wonogiri, aja serakah
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Jebakan Mematikan

10/18/2026

0 Comments

 
Puncta 18 Oktober 2026
Minggu Biasa XXIX
Matius 22:15-21

KAUM Farisi tidak mampu berhadapan dengan Yesus. Mereka menggandeng kelompok Herodian untuk menjatuhkan Yesus. 

Kelompok Herodian adalah gerakan masyarakat Yahudi yang pro terhadap Raja Herodes. Mereka adalah kelompok partai oportunis yang cari aman dan punya kepentingan sendiri.

Mereka adalah partai politik yang mendukung kekuasaan Herodes dan pemerintahan Romawi yang menjajah Israel. 

Sedangkan kaum Farisi adalah kelompok keagamaan yang menekankan ketaatan pada Hukum Taurat.

Dua kelompok bergabung untuk menjatuhkan wibawa Yesus dengan mengajukan sebuah pertanyaan yang dilematis.

 “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?”

Pertanyaan ini adalah jebakan yang mematikan seperti buah simalakama. Kalau dijawab Ya, mereka bisa menuduh Yesus sebagai pendukung penjajah atau pengkhianat bangsa. 

Kalau dijawab Tidak, Yesus bisa ditangkap sebagai pemberontak atau agitator terhadap pemerintahan Romawi.

Tetapi kebijaksanaan Yesus muncul dari jawaban yang diberikan. Disinilah Yesus dibandingkan dengan Raja Salomo yang bijaksana memutuskan perkara. Ia minta ditunjukkan uang yang berlaku di Israel. Mereka memberi suatu dinar kepada-Nya.

“Gambar dan tulisan siapakah ini?” tanya Yesus kepada mereka. Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” 

Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Jawaban Yesus ini menggambarkan prinsip “Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”  

Ia cerdik bisa keluar dari jebakan yang dipasang kaum Farisi. Hati-Nya tulus tidak mempermalukan mereka di depan umum.

Yesus mengajak untuk mempersembahkan apa yang wajib diberikan kepada negara dan juga kepada Tuhan. 

Kita diajak untuk taat pada aturan negara, tetapi juga taat pada perintah Tuhan. 

Sepercik pantun buat anda:

Kabut asap bikin dada makin sesak,
Banyak anak-anak terserang sakit ispa.
Kalau kita sudah taat membayar pajak,
Negara wajib lindungi rakyatnya.

Wonogiri, habis Sukoharjo, gantian Klaten
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Biji Gandum yang Jatuh dan Mati

10/17/2026

0 Comments

 
Puncta 17 Oktober 2026
Pw. St. Ignatius dari Antiokhia
Lukas 12:8-12 atau RUybs Yohanes 12:24-26

HARI ini Gereja semesta memperingati seorang pahlawan iman yang gagah perkasa. Santo Ignatius dari Antiokhia adalah uskup yang gigih mempertahankan imannya di hadapan Kaisar Trajanus pada abad pertama.

Pada awal Gereja berkembang, umat Kristen menghadapi pengejaran dan penganiayaan. 

Ignatius tidak luput dari penangkapan. Ia dihadapkan kepada kaisar yang kejam dan dipaksa meninggalkan imannya.

Pilihannya hanya dua; murtad atau mati. Ignatius teguh bertahan pada Kristus. Ia dibawa ke Roma untuk dijadikan umpan singa-singa lapar di Coloseum. 

Selama penahanan, Ignatius menulis surat penghiburan bagi jemaat di Smyrna dan Troas. 

Seperti St. Paulus yang jadi martir di Roma, ia menghibur umat dan mengajak mereka tetap setia dalam masa-masa sulit. 

Ia menekankan betapa pentingnya umat tetap setia kepada Kristus dan tetap berkumpul untuk merayakan Ekaristi Kudus. 

Katanya dalam surat itu: “Satu saja Tubuh Tuhan kita Yesus Kristus dan satu juga Piala DarahNya. Keduanya dikurbankan di atas satu altar oleh satu Uskupmu bersama imam-imam dan diakon-diakon."

Dalam suratnya Ignatius juga berharap mati sebagaimana Kristus mengorbankan diri. “Kekasihku sudah disalibkan, maka aku pun tidak merindukan sesuatu yang duniawi melainkan merindukan persatuan segera dengan Dia."

Yesus berkata; “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” 

 Ignatius mati di Roma sebagai martir. Ia dimasukkan ke arena  Coloseum dan diterkam singa-singa lapar.

Menjadi murid Yesus harus berani mengorbankan nyawa demi imannya. Kristus telah menegaskan bahwa “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”

Mari kita teguh dalam iman dan bertahan dalam kesulitan. Mahkota kemuliaan telah menanti bagi mereka yang tetap bertahan.

Sepercik pantun buat anda:

Nikmanya durian dari Kalimantan,
Diambil langsung dari tengah hutan.
Jangan pernah menyangkal Tuhan,
Kemuliaan diberikan bagi yang bertahan.

Wonogiri, setia kembali ke rutinitas
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Kebohongan Berlari, Kebenaran akan Mengejarnya

10/16/2026

0 Comments

 
Puncta 16 Oktober 2026
Jumat Biasa XXVIII
Lukas 12:1-7

PROFESOR Sahetapy pernah mengutip pepatah lama berbahasa Belanda yang berbunyi "All is de leugen nog zo snel, de waarheid achterhaalt haar wel" 

Arti dari pepatah itu adalah "Seberapa cepat pun kebohongan berlari, kebenaran akan mengejarnya." 

Zaman Orde Baru kita "dipaksa" menonton Film “Pengkhianatan G30S/PKI” setiap akhir September karena peristiwanya terjadi di akhir September.

Dalam film itu digambarkan betapa sadis dan kejamnya orang-orang PKI menyiksa para jendral di Lubang Buaya. Ada 7 orang yang dibunuh dan dimasukkan ke dalam satu lubang di daerah Lubang Buaya. 

Lalu dari mulut ke mulut dibuat kisah menyeramkan bagaimana mereka disiksa. Ada yang mendengar cerita mereka dipotong telinganya, dicungkil matanya dan cerita seram lainnya. 

Bumbu pemanis dalam cerita dimunculkan para Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) melakukan tarian cabul di depan para jendral yang disiksa. 

Pada September 1998, pada era Presiden BJ Habibie diputuskan bahwa film Pengkhianatan G30S PKI tidak diputar atau diedarkan lagi. 

Hal ini karena film itu berbau rekayasa sejarah dan mengkultuskan seseorang yakni penguasa waktu itu.

Sesudah Orde Baru tumbang, para dokter ahli forensik menyatakan bahwa tidak ada penyiksaan, pemotongan alat kelamin, telinga atau cungkilan mata. 

Yang ada adalah bekas pemukulan benda tumpul dan bekas tembakan di tubuh mereka. 

Kebohongan itu dibangun dengan cepat dan mendalam selama tiga dekade demi politik kekuasaan. 

Kebohongan itu menjadi ingatan kolektif bagi sebuah generasi. Tetapi kebenaran akhirnya menemukan jalannya sendiri.

Yesus mengingatkan kepada para murid-Nya. ”Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. 

Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah.”

Kita diajak untuk berani bersuara demi kebenaran kendati kebenaran itu pahit rasanya. Kebenaran sering dibungkam oleh kebohongan. Seolah kebenaran kalah selama bertahun-tahun. 

Namun pada saatnya kebenaran akan menang. Mari kita berani menjadi suara-suara kenabian yang dengan lantang menyampaikan kebenaran dan keadilan.

Sepercik pantun buat anda:
Pagi-pagi menggarap sawah,
Habis mandi langsung ke ladang.
Kebenaran tidak pernah kalah,
Kendati berjalan pelan di belakang.

Wonogiri, menikmati air dingin yang segar
Rm. A. Joko Purwanto Pr
0 Comments

Kembali Ke Pokok Anggur

10/15/2026

0 Comments

 
Puncta 15 Oktober 2026
Pw. St. Teresia dari Avila, Perawan dan Pujangga Gereja
Lukas 11:47-54 atau RUybs Yohanes 15:1-8

MEMASUKI Biara St.Teresia di kota Avila amat sangat terasa suasana hening, tenang dan teduh. 

Suara musik instrumen yang lembut menghantar kita memasuki dunia kontemplatif yang damai. Hati terasa tentram dan hening berada di depan Sakramen Mahakudus.

Di Biara inilah Santa Teresia memulai semangatnya kembali kepada nafas spiritualitas Ordo Karmelit. 

Ia memperbaharui semangat ordo untuk kembali ke asas dasar semula yakni keheningan, kesederhanaan dan ketaatan mutlak.

Ia membawa pembaharuan dan membentuk Ordo Karmel Tak Berkasut dengan kembali ke semangat awal dari Gunung Karmel. 

Biaranya kecil, tertutup, disiplin dan matiraga dengan keras dihayati dengan kesadaran penuh. Memang ada banyak tantangan, tetapi Teresia tidak berhenti. 

Bahkan Santo Yohanes dari Salib juga mendukung pembaharuan ini. 

Dalam bacaan Injil hari ini, kita diingatkan agar tetap bersatu dengan pokok anggur yaitu Kristus sendiri. Sabda Yesus, ”Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya.

 Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Teresia dari Avila sadar bahwa dia adalah ranting yang harus menyatu dengan Sang Pokok Anggur Sejati. 

Ia menekuni hidup doa kontemplatif, merayakan Ekaristi sebagai sumber kekuatan dan menyerahkan seluruh hidup untuk Kristus.

Doanya sangat kuat dan hidup rohaninya sangat mendalam. Teresia sering mengalami ekstase rohani dalam doa-doanya. 

Pengalaman itu ditulisnya dalam buku biografi dan makin banyak orang yang tertarik mengikuti teladan kesuciannya.

Ia meninggal dalam perjalanan dari Burgos ke Avila pada tanggal 24 Oktober 1582 dan dinyatakan kudus pada tahun 1622 oleh Paus Gregorius XIV (1621-1623) dan diangkat sebagai pelindung Spanyol.

Usahanya membaharui kehidupan biara tidak hanya berdampak bagi komunitasnya sendiri, tetapi juga bagi gereja universal.

 Tulisan-tulisan rohaninya masih tetap dibaca orang pada zaman kini untuk mengajak kita semua kembali ke Pokok Anggur Sejati yakni Kristus Tuhan.

Sepercik pantun buat anda:

Santa Teresia bunga mawar dari surga,
Semerbak harum mewangi bagi dunia.
Mari bersatu dengan Pokok Anggur utama,
Hidupmu pasti akan damai dan bahagia.

Wonogiri, melayang bersama Emirates 
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Hanya Kuburan Kosong

10/14/2026

0 Comments

 
Puncta 14 Oktober 2026
Rabu Biasa XXVIII
Lukas 11:42-46

KEMUNAFIKAN sering dipamer-pamerkan oleh orang-orang Farisi. Mereka merasa sebagai kelompok yang paling benar, suci dan taat agama. 

Mereka gila penghormatan. Berdoa di perempatan jalan, membaca kitab suci keras-keras biar diketahui orang.

Yesus mengkritik tajam tindakan hipokrit yang mereka pamerkan. Dengan sangat keras Yesus berkata; ”Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. 

Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”

Tindakan mereka hanya dibuat agar dilihat dan disanjung orang. Mereka menghakimi orang lain sebagai orang berdosa kalau tidak mengikuti aturan-aturan yang mereka jalani. Maka mereka mudah sekali mengkafirkan orang.

Dengan keras Yesus melontarkan kritikan pada mereka. Mereka digambarkan seperti kuburan yang tidak ada tandanya dan diinjak-injak orang. 

Karena gila penghormatan dan pujian, hal-hal kecil ditonjol-tonjolkan, sementara yang terpenting dan utama malah diabaikan.

“Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”

Kritikan Yesus ini masih tetap relevan bagi kita pada masa-masa sekarang ini. Kita seringkali bertindak munafik hanya mengejar kehormatan dan pujian semu. 

Kita sering mengejar gengsi demi dilihat orang. Kita mudah mengadili orang lain dan menyingkirkan mereka.

Kita hanya mengejar sisi luar dari segala asesoris rohani tetapi dalamnya kosong tak ada isinya. Maka tidak perlu heran kalau ibadah dan korupsi tetap berjalan tanpa rasa bersalah. 

Mental dari dalamnya keropos sehingga ajaran agama tidak menyentuh kehidupan nyata. Disumpah dengan Kitab Suci setelahnya korupsi tak kenal nurani.

Mari kita renungkan kritikan pedas Yesus ini supaya kita berani bertobat dan memperbaiki diri. 

Kalau kita merasa seperti para ahli kitab yang berkata, “Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga,” semestinya kita berani bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Sepercik pantun buat anda:

Ada jenasah giginya emas,
Masuk peti giginya ompong.
Hiduplah sesuai integritas,
Jangan hanya omong kosong.

Wonogiri, akhiri ziarah di Gunung Nebo
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Topeng Kemunafikan

10/13/2026

0 Comments

 
Puncta 13 Oktober 2026
Selasa Biasa XXVIII
Lukas 11:37-41

KITA semua sedang gelisah penuh tanya. Apa yang salah dengan negeri kita ya? Korupsi merajalela dari pusat sampai ke daerah. Berapa saja bupati dan walikota tertangkap KPK karena kasus korupsi dan pencucian uang.

Padahal kita melihat rumah ibadah penuh sesak di mana-mana. Sekolah berbasih agama menjamur seperti cendawan di kampung dan desa-desa. 

Di berbagai stasiun televisi para pendakwah mengadakan ceramah rohani hampir setiap waktu tiada habisnya. 

Banyak orang hapal ayat-ayat Kitab Suci, dimana-mana ada tukang tafsir yang ahli, tetapi kenapa korupsi tidak bisa berhenti? 

Tiap hari raya keagamaan banyak orang berbondong-bondong pergi ke tempat ibadah. Tapi kenapa korupsi terus muncul setiap hari?

Masyarakat bawah sudah berdemo mendesak agar DPR mengesahkan UU Perampasan aset  dan menghukum seberat-beratnya bagi para koruptor. 

Tetapi para pembuat kebijakan  “mlempem kayak krupuk,” senang memberi harapan kosong pada rakyat kecil. Tetapi tidak ada action nyata.

Banyak orang mengucapkan sumpah jabatan sebelum dilantik. Tetapi sumpah itu menguap saat berhadapan dengan amplop dan suap menyuap. 

Slogan-slogan diucapkan ingin berjuang demi kemakmuran rakyat. Setelah menjabat hanya mikir bagaimana mengembalikan modal yang telah lenyap.

Kemunafikan itulah yang dipertontonkan di tengah kehidupan yang makin absurd ini.

Yesus datang membuka topeng-topeng kemunafikan kaum Farisi. "Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.”

Yesus mengkritik kaum Farisi yang memamerkan kesalehan dari luar agar dipuji dan dihormati orang. Tetapi kehidupannya yang terdalam penuh dengan rampasan dan kejahatan. Kita sebenarnya juga sedang dikritik oleh Yesus.

Sikap hipokrit yang melekat dalam diri kita harus dibongkar. Topeng-topeng kemunafikan itu harus dibuang. Membersihkan dari dalam yakni mental korup dan serakah harus kita dilakukan. 

Tidak ada gunanya sering beribadah, hapal ayat-ayat, berpenampilan agamis, tetapi hanya dipakai sebagai topeng kemunafikan. 

Bersihkanlah bagian dalammu maka yang diluar juga akan bersih. Itulah pesan perikope hari ini.

Sepercik pantun buat anda:

Naik pedati di tengah kota,
Menyusuri toko-toko busana.
Bukalah topengmu di muka,
Hidup jujur tanpa berpura-pura.

Wonogiri, memasuki perbatasan Yordania 
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
<<Previous

    Archives

    December 2034
    October 2026
    September 2026
    August 2026
    July 2026
    June 2026
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki