Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Hello Romo!

12/25/2034

18 Comments

 
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
18 Comments

Jebakan Mematikan

10/18/2026

0 Comments

 
Puncta 18 Oktober 2026
Minggu Biasa XXIX
Matius 22:15-21

KAUM Farisi tidak mampu berhadapan dengan Yesus. Mereka menggandeng kelompok Herodian untuk menjatuhkan Yesus. 

Kelompok Herodian adalah gerakan masyarakat Yahudi yang pro terhadap Raja Herodes. Mereka adalah kelompok partai oportunis yang cari aman dan punya kepentingan sendiri.

Mereka adalah partai politik yang mendukung kekuasaan Herodes dan pemerintahan Romawi yang menjajah Israel. 

Sedangkan kaum Farisi adalah kelompok keagamaan yang menekankan ketaatan pada Hukum Taurat.

Dua kelompok bergabung untuk menjatuhkan wibawa Yesus dengan mengajukan sebuah pertanyaan yang dilematis.

 “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?”

Pertanyaan ini adalah jebakan yang mematikan seperti buah simalakama. Kalau dijawab Ya, mereka bisa menuduh Yesus sebagai pendukung penjajah atau pengkhianat bangsa. 

Kalau dijawab Tidak, Yesus bisa ditangkap sebagai pemberontak atau agitator terhadap pemerintahan Romawi.

Tetapi kebijaksanaan Yesus muncul dari jawaban yang diberikan. Disinilah Yesus dibandingkan dengan Raja Salomo yang bijaksana memutuskan perkara. Ia minta ditunjukkan uang yang berlaku di Israel. Mereka memberi suatu dinar kepada-Nya.

“Gambar dan tulisan siapakah ini?” tanya Yesus kepada mereka. Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” 

Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Jawaban Yesus ini menggambarkan prinsip “Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”  

Ia cerdik bisa keluar dari jebakan yang dipasang kaum Farisi. Hati-Nya tulus tidak mempermalukan mereka di depan umum.

Yesus mengajak untuk mempersembahkan apa yang wajib diberikan kepada negara dan juga kepada Tuhan. 

Kita diajak untuk taat pada aturan negara, tetapi juga taat pada perintah Tuhan. 

Sepercik pantun buat anda:

Kabut asap bikin dada makin sesak,
Banyak anak-anak terserang sakit ispa.
Kalau kita sudah taat membayar pajak,
Negara wajib lindungi rakyatnya.

Wonogiri, habis Sukoharjo, gantian Klaten
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Biji Gandum yang Jatuh dan Mati

10/17/2026

0 Comments

 
Puncta 17 Oktober 2026
Pw. St. Ignatius dari Antiokhia
Lukas 12:8-12 atau RUybs Yohanes 12:24-26

HARI ini Gereja semesta memperingati seorang pahlawan iman yang gagah perkasa. Santo Ignatius dari Antiokhia adalah uskup yang gigih mempertahankan imannya di hadapan Kaisar Trajanus pada abad pertama.

Pada awal Gereja berkembang, umat Kristen menghadapi pengejaran dan penganiayaan. 

Ignatius tidak luput dari penangkapan. Ia dihadapkan kepada kaisar yang kejam dan dipaksa meninggalkan imannya.

Pilihannya hanya dua; murtad atau mati. Ignatius teguh bertahan pada Kristus. Ia dibawa ke Roma untuk dijadikan umpan singa-singa lapar di Coloseum. 

Selama penahanan, Ignatius menulis surat penghiburan bagi jemaat di Smyrna dan Troas. 

Seperti St. Paulus yang jadi martir di Roma, ia menghibur umat dan mengajak mereka tetap setia dalam masa-masa sulit. 

Ia menekankan betapa pentingnya umat tetap setia kepada Kristus dan tetap berkumpul untuk merayakan Ekaristi Kudus. 

Katanya dalam surat itu: “Satu saja Tubuh Tuhan kita Yesus Kristus dan satu juga Piala DarahNya. Keduanya dikurbankan di atas satu altar oleh satu Uskupmu bersama imam-imam dan diakon-diakon."

Dalam suratnya Ignatius juga berharap mati sebagaimana Kristus mengorbankan diri. “Kekasihku sudah disalibkan, maka aku pun tidak merindukan sesuatu yang duniawi melainkan merindukan persatuan segera dengan Dia."

Yesus berkata; “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” 

 Ignatius mati di Roma sebagai martir. Ia dimasukkan ke arena  Coloseum dan diterkam singa-singa lapar.

Menjadi murid Yesus harus berani mengorbankan nyawa demi imannya. Kristus telah menegaskan bahwa “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”

Mari kita teguh dalam iman dan bertahan dalam kesulitan. Mahkota kemuliaan telah menanti bagi mereka yang tetap bertahan.

Sepercik pantun buat anda:

Nikmanya durian dari Kalimantan,
Diambil langsung dari tengah hutan.
Jangan pernah menyangkal Tuhan,
Kemuliaan diberikan bagi yang bertahan.

Wonogiri, setia kembali ke rutinitas
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Kebohongan Berlari, Kebenaran akan Mengejarnya

10/16/2026

0 Comments

 
Puncta 16 Oktober 2026
Jumat Biasa XXVIII
Lukas 12:1-7

PROFESOR Sahetapy pernah mengutip pepatah lama berbahasa Belanda yang berbunyi "All is de leugen nog zo snel, de waarheid achterhaalt haar wel" 

Arti dari pepatah itu adalah "Seberapa cepat pun kebohongan berlari, kebenaran akan mengejarnya." 

Zaman Orde Baru kita "dipaksa" menonton Film “Pengkhianatan G30S/PKI” setiap akhir September karena peristiwanya terjadi di akhir September.

Dalam film itu digambarkan betapa sadis dan kejamnya orang-orang PKI menyiksa para jendral di Lubang Buaya. Ada 7 orang yang dibunuh dan dimasukkan ke dalam satu lubang di daerah Lubang Buaya. 

Lalu dari mulut ke mulut dibuat kisah menyeramkan bagaimana mereka disiksa. Ada yang mendengar cerita mereka dipotong telinganya, dicungkil matanya dan cerita seram lainnya. 

Bumbu pemanis dalam cerita dimunculkan para Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) melakukan tarian cabul di depan para jendral yang disiksa. 

Pada September 1998, pada era Presiden BJ Habibie diputuskan bahwa film Pengkhianatan G30S PKI tidak diputar atau diedarkan lagi. 

Hal ini karena film itu berbau rekayasa sejarah dan mengkultuskan seseorang yakni penguasa waktu itu.

Sesudah Orde Baru tumbang, para dokter ahli forensik menyatakan bahwa tidak ada penyiksaan, pemotongan alat kelamin, telinga atau cungkilan mata. 

Yang ada adalah bekas pemukulan benda tumpul dan bekas tembakan di tubuh mereka. 

Kebohongan itu dibangun dengan cepat dan mendalam selama tiga dekade demi politik kekuasaan. 

Kebohongan itu menjadi ingatan kolektif bagi sebuah generasi. Tetapi kebenaran akhirnya menemukan jalannya sendiri.

Yesus mengingatkan kepada para murid-Nya. ”Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. 

Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah.”

Kita diajak untuk berani bersuara demi kebenaran kendati kebenaran itu pahit rasanya. Kebenaran sering dibungkam oleh kebohongan. Seolah kebenaran kalah selama bertahun-tahun. 

Namun pada saatnya kebenaran akan menang. Mari kita berani menjadi suara-suara kenabian yang dengan lantang menyampaikan kebenaran dan keadilan.

Sepercik pantun buat anda:
Pagi-pagi menggarap sawah,
Habis mandi langsung ke ladang.
Kebenaran tidak pernah kalah,
Kendati berjalan pelan di belakang.

Wonogiri, menikmati air dingin yang segar
Rm. A. Joko Purwanto Pr
0 Comments

Kembali Ke Pokok Anggur

10/15/2026

0 Comments

 
Puncta 15 Oktober 2026
Pw. St. Teresia dari Avila, Perawan dan Pujangga Gereja
Lukas 11:47-54 atau RUybs Yohanes 15:1-8

MEMASUKI Biara St.Teresia di kota Avila amat sangat terasa suasana hening, tenang dan teduh. 

Suara musik instrumen yang lembut menghantar kita memasuki dunia kontemplatif yang damai. Hati terasa tentram dan hening berada di depan Sakramen Mahakudus.

Di Biara inilah Santa Teresia memulai semangatnya kembali kepada nafas spiritualitas Ordo Karmelit. 

Ia memperbaharui semangat ordo untuk kembali ke asas dasar semula yakni keheningan, kesederhanaan dan ketaatan mutlak.

Ia membawa pembaharuan dan membentuk Ordo Karmel Tak Berkasut dengan kembali ke semangat awal dari Gunung Karmel. 

Biaranya kecil, tertutup, disiplin dan matiraga dengan keras dihayati dengan kesadaran penuh. Memang ada banyak tantangan, tetapi Teresia tidak berhenti. 

Bahkan Santo Yohanes dari Salib juga mendukung pembaharuan ini. 

Dalam bacaan Injil hari ini, kita diingatkan agar tetap bersatu dengan pokok anggur yaitu Kristus sendiri. Sabda Yesus, ”Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya.

 Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

Teresia dari Avila sadar bahwa dia adalah ranting yang harus menyatu dengan Sang Pokok Anggur Sejati. 

Ia menekuni hidup doa kontemplatif, merayakan Ekaristi sebagai sumber kekuatan dan menyerahkan seluruh hidup untuk Kristus.

Doanya sangat kuat dan hidup rohaninya sangat mendalam. Teresia sering mengalami ekstase rohani dalam doa-doanya. 

Pengalaman itu ditulisnya dalam buku biografi dan makin banyak orang yang tertarik mengikuti teladan kesuciannya.

Ia meninggal dalam perjalanan dari Burgos ke Avila pada tanggal 24 Oktober 1582 dan dinyatakan kudus pada tahun 1622 oleh Paus Gregorius XIV (1621-1623) dan diangkat sebagai pelindung Spanyol.

Usahanya membaharui kehidupan biara tidak hanya berdampak bagi komunitasnya sendiri, tetapi juga bagi gereja universal.

 Tulisan-tulisan rohaninya masih tetap dibaca orang pada zaman kini untuk mengajak kita semua kembali ke Pokok Anggur Sejati yakni Kristus Tuhan.

Sepercik pantun buat anda:

Santa Teresia bunga mawar dari surga,
Semerbak harum mewangi bagi dunia.
Mari bersatu dengan Pokok Anggur utama,
Hidupmu pasti akan damai dan bahagia.

Wonogiri, melayang bersama Emirates 
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Hanya Kuburan Kosong

10/14/2026

0 Comments

 
Puncta 14 Oktober 2026
Rabu Biasa XXVIII
Lukas 11:42-46

KEMUNAFIKAN sering dipamer-pamerkan oleh orang-orang Farisi. Mereka merasa sebagai kelompok yang paling benar, suci dan taat agama. 

Mereka gila penghormatan. Berdoa di perempatan jalan, membaca kitab suci keras-keras biar diketahui orang.

Yesus mengkritik tajam tindakan hipokrit yang mereka pamerkan. Dengan sangat keras Yesus berkata; ”Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. 

Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”

Tindakan mereka hanya dibuat agar dilihat dan disanjung orang. Mereka menghakimi orang lain sebagai orang berdosa kalau tidak mengikuti aturan-aturan yang mereka jalani. Maka mereka mudah sekali mengkafirkan orang.

Dengan keras Yesus melontarkan kritikan pada mereka. Mereka digambarkan seperti kuburan yang tidak ada tandanya dan diinjak-injak orang. 

Karena gila penghormatan dan pujian, hal-hal kecil ditonjol-tonjolkan, sementara yang terpenting dan utama malah diabaikan.

“Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”

Kritikan Yesus ini masih tetap relevan bagi kita pada masa-masa sekarang ini. Kita seringkali bertindak munafik hanya mengejar kehormatan dan pujian semu. 

Kita sering mengejar gengsi demi dilihat orang. Kita mudah mengadili orang lain dan menyingkirkan mereka.

Kita hanya mengejar sisi luar dari segala asesoris rohani tetapi dalamnya kosong tak ada isinya. Maka tidak perlu heran kalau ibadah dan korupsi tetap berjalan tanpa rasa bersalah. 

Mental dari dalamnya keropos sehingga ajaran agama tidak menyentuh kehidupan nyata. Disumpah dengan Kitab Suci setelahnya korupsi tak kenal nurani.

Mari kita renungkan kritikan pedas Yesus ini supaya kita berani bertobat dan memperbaiki diri. 

Kalau kita merasa seperti para ahli kitab yang berkata, “Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga,” semestinya kita berani bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Sepercik pantun buat anda:

Ada jenasah giginya emas,
Masuk peti giginya ompong.
Hiduplah sesuai integritas,
Jangan hanya omong kosong.

Wonogiri, akhiri ziarah di Gunung Nebo
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Topeng Kemunafikan

10/13/2026

0 Comments

 
Puncta 13 Oktober 2026
Selasa Biasa XXVIII
Lukas 11:37-41

KITA semua sedang gelisah penuh tanya. Apa yang salah dengan negeri kita ya? Korupsi merajalela dari pusat sampai ke daerah. Berapa saja bupati dan walikota tertangkap KPK karena kasus korupsi dan pencucian uang.

Padahal kita melihat rumah ibadah penuh sesak di mana-mana. Sekolah berbasih agama menjamur seperti cendawan di kampung dan desa-desa. 

Di berbagai stasiun televisi para pendakwah mengadakan ceramah rohani hampir setiap waktu tiada habisnya. 

Banyak orang hapal ayat-ayat Kitab Suci, dimana-mana ada tukang tafsir yang ahli, tetapi kenapa korupsi tidak bisa berhenti? 

Tiap hari raya keagamaan banyak orang berbondong-bondong pergi ke tempat ibadah. Tapi kenapa korupsi terus muncul setiap hari?

Masyarakat bawah sudah berdemo mendesak agar DPR mengesahkan UU Perampasan aset  dan menghukum seberat-beratnya bagi para koruptor. 

Tetapi para pembuat kebijakan  “mlempem kayak krupuk,” senang memberi harapan kosong pada rakyat kecil. Tetapi tidak ada action nyata.

Banyak orang mengucapkan sumpah jabatan sebelum dilantik. Tetapi sumpah itu menguap saat berhadapan dengan amplop dan suap menyuap. 

Slogan-slogan diucapkan ingin berjuang demi kemakmuran rakyat. Setelah menjabat hanya mikir bagaimana mengembalikan modal yang telah lenyap.

Kemunafikan itulah yang dipertontonkan di tengah kehidupan yang makin absurd ini.

Yesus datang membuka topeng-topeng kemunafikan kaum Farisi. "Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.”

Yesus mengkritik kaum Farisi yang memamerkan kesalehan dari luar agar dipuji dan dihormati orang. Tetapi kehidupannya yang terdalam penuh dengan rampasan dan kejahatan. Kita sebenarnya juga sedang dikritik oleh Yesus.

Sikap hipokrit yang melekat dalam diri kita harus dibongkar. Topeng-topeng kemunafikan itu harus dibuang. Membersihkan dari dalam yakni mental korup dan serakah harus kita dilakukan. 

Tidak ada gunanya sering beribadah, hapal ayat-ayat, berpenampilan agamis, tetapi hanya dipakai sebagai topeng kemunafikan. 

Bersihkanlah bagian dalammu maka yang diluar juga akan bersih. Itulah pesan perikope hari ini.

Sepercik pantun buat anda:

Naik pedati di tengah kota,
Menyusuri toko-toko busana.
Bukalah topengmu di muka,
Hidup jujur tanpa berpura-pura.

Wonogiri, memasuki perbatasan Yordania 
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Maluku di Pesta

10/11/2026

0 Comments

 
Puncta 11 Oktober 2026
Minggu Biasa XXVIII
Matius 22:1-14

SUATU kali kami diundang pesta ulangtahun sebuah keluarga. Pikirku acaranya santai saja karena yang diundang hanya keluarga dan kerabat dekat. 

Ternyata semua tamu memakai baju batik rapi dengan parfum harum menyebar dimana-mana.

Saya hanya pakai kaos kasual santai. Rasanya tidak enak sendiri di hadapan tamu-tamu perlente dengan baju pesta yang elegan dan mewah. 

Kebetulan ada teman frater yang membawa jaket. Tanpa pikir panjang, saya pinjam jaketnya.

Untuk menutupi kaos yang buluk saya langsung pakai jaket frater. Eh…. Waktu antri mengambil hidangan, Saya ditertawain orang karena di belakang jaket itu ada tulisan: “Hari ini saya diet, besuk tidak….!” 

Padahal piring saya sudah menggunung dengan makanan enak-enak. Rasanya mau lari tetapi sudah kepalang basah. 

Yesus memberi perumpamaan tentang Kerajaan surga itu seperti pesta perkawinan. Raja sudah memberi undangan khusus. 

"Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.

Tetapi para undangan itu tidak mau datang dengan berbagai alasan. Ia membujuk lagi dengan mengatakan bahwa pesta meriah sudah disiapkan, lembu dan domba sudah disembelih. 

Tetap saja mereka tidak mau datang. Tentu saja marahlah raja itu karena undangannya tidak ditanggapi. 

Ia menghukum mereka dan sekarang menyuruh hamba-hambanya memanggil semua orang di persimpangan jalan; orang jahat dan orang baik semua diundang sampai penuhlah tempat pesta. 

Namun ada seorang yang tidak berpakaian pesta. 

“Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta?” Tetapi orang itu diam saja. Orang itu diusir dari istana dan dilemparkan ke luar. 

Keselamatan Allah ditawarkan kepada bangsa pilihan yang diundang secara khusus yakni Bangsa Israel melalui para nabi, bahkan Yesus Kristus Anak-Nya sendiri diutus.

Tetapi bangsa terpilih ini tidak mau menanggapi undangan Allah. Maka keselamatan ditawarkan kepada segala bangsa. 

Semua orang boleh masuk ke pesta perjamuan. Tetapi mereka harus memakai baju pesta yang sesuai dengan kehendak Allah. 

Baju yang sesuai adalah baju Anak Allah yaitu Kristus. Dengan memakai baju Kristus yaitu ajaran dan hidup-Nya, kita boleh masuk ke perjamuan pesta di surga.

Sepercik pantun buat anda:

Pergi ke pesta perkawinan,
Hanya pakai sandal jepit.
Kalau kita ikuti Tuhan,
Hati tak kan pernah menjerit.

Wonogiri, rayakan pesta nikah di Kana
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Mikul Dhuwur Mendhem Jero

10/10/2026

0 Comments

 
Puncta 10 Oktober 2026
Sabtu Biasa XXVII
Lukas 11:27-28

SESANTI atau doa ini adalah harapan semua orangtua. “Mikul dhuwur” artinya anak bisa menghormati orangtua setinggi mungkin dan menjaga nama baik keluarga atau masyarakat.

Sedangkan  “Mendhem jero” artinya dapat mengubur dalam-dalam kekurangan atau aib keluarga.

Konsep ini punya makna filosofis bahwa setiap anak punya kewajiban untuk menjunjung tinggi kebaikan, jasa, dan kehormatan serta harga diri keluarga, sekaligus menutup rapat kekurangan, kesalahan, atau aib mereka. 

Dengan menjadi anak yang baik, hormat, tahu tentang tata krama dan sopan santun, menghargai sesama dan penuh bakti, seorang anak dapat menjunjung martabat keluarga. 

Orangtua pasti bangga jika anaknya berhasil menjadi orang yang baik dan tahu berterimakasih.

Dalam etika Jawa, manusia tidak hidup seorang diri tetapi terikat oleh nilai-nilai moral dan sosial. Menghormati orangtua dan leluhur tidak hanya persoalan membalas budi, tetapi menjaga harmoni batin dan tatanan keselarasan sosial.

Kebaikan yang diwariskan harus terus dikembangkan dan dihayati sebagai habitus keluarga. 

Kekurangan atau keburukan keluarga tidak perlu dibuka tetapi dikubur dalam-dalam karena bisa merusak martabat dan harmoni keselarasan. 

Anak yang berbakti kepada keluarga akan berusaha “mikul dhuwur mendhem jero” dengan tabiat, perilaku dan tindakan yang baik dalam kehidupan di tengah masyarakat. Dengan demikian dia akan membawa nama harum bagi keluarganya.

Melihat hidup, karya dan pelayanan Yesus, seorang ibu memuji dengan berkata: “Sungguh berbahagia wanita yang melahirkan dan menyusui Engkau!” 

Wanita itu melihat apa yang dilakukan Yesus membawa kebahagiaan dan kebanggaan seorang ibu yang melahirkannya.

Namun Yesus menegaskan bahwa yang lebih berbahagia adalah setiap orang yang mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan dengan tekun dan setia. 

Yesus menjawab, “Lebih berbahagia lagi orang yang mendengar perkataan Allah dan menjalankannya!”

Kebahagiaan bukan dipandang secara sempit bagi orangtua atau keluarga. Kebahagiaan bisa dialami oleh setiap orang asal dia mau mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan. Syarat orang menjadi bahagia adalah menjadi pendengar dan pelaksana sabda.

Maukah kita hidup bahagia? Bersiaplah mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan.

Sepercik pantun buat anda:

Ziarah menuju Bukit Golgota,
Ikut Yesus dalam duka sengsara.
Jadilah orang baik dan berguna,
Bisa menjunjung martabat keluarga.

Wonogiri, menyusuri lorong-lorong sempit Yerusalem 
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Bersatu Kita  Teguh. Bercerai Kita Runtuh.

10/9/2026

0 Comments

 
Puncta 9 Oktober 2026
Jumat Biasa XXVII
Lukas 11:15-26

TERJADI keributan di dalam istana Hastinapura sehubungan dengan kehadiran duta Pandawa yang meminta kembalinya Negeri Indraprastha dan separuh dari jajahan Hastina. 

Karna yang berdarah muda sebagai panglima Hastina menuduh Salya sebagai “telik sandi,” atau mata-matanya Pandawa.

Kendati Salya adalah mertuanya, Karna tidak “tedheng aling-aling” mengatakan bahwa Salya berpihak pada Pandawa. 

Walaupun badannya ada di Hastina, tetapi hatinya lebih condong ke Pandawa. Karna menuduh Salya sebagai musuh yang disusupkan di Hastina.

Percekcokan terjadi dengan sengit antara Karna dan Salya. Dituduh sebagai mata-mata, Salya, raja Mandaraka tidak terima. 

Dia menantang Karna bertanding satu lawan satu. Mulai dari sini terjadi pertentangan keras antara para punggawa di Hastina.

Masing-masing bersikukuh mempertahankan pendapatnya. Hal ini menimbulkan perpecahan dan rapuhnya kekuatan Hastina. 

Bisma menyarankan agar kerajaan diserahkan kepada Pandawa yang berhak. Sangkuni dan Karna menolak pendapat Bisma, Hastina harus dibela dengan peperangan.

Ketidakcocokan dan perbedaan pandangan membuat pecah kekuatan Kurawa. 
Tidak ada kata sepakat dan kekompakan diantara mereka, membuat mereka rapuh dan gampang runtuh. 

Pandawa yang hanya lima orang bersatu padu dan kokoh kuat mampu mengalahkan Kurawa yang kuantitasnya jauh lebih banyak dari Pandawa.

Yesus menggambarkan kerajaan yang mudah hancur karena mereka tidak rukun bersatu padu. "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh.”

Begitupun kerajaan setan. Jika mereka saling bertengkar dan berperang sendiri, kerajaan mereka tidak akan lestari. Mereka akan hancur dan punah. 

“Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul.”

Yesus dituduh menggunakan kuasa Beelzebul, penghulu setan dalam mengusir roh-roh jahat. Mereka menyebarkan berita bohong pada orang banyak. 

Dikatakan bahwa Yesus memakai kuasa setan untuk menyembuhkan orang yang kerasukan. 

Bagaimana mungkin setan melawan setan. Sama saja jeruk makan jeruk. 

Justru kuasa Allah yang dipakai Yesus untuk mengusir setan. Kuasa Allah sudah hadir dalam Diri Yesus. Mestinya orang percaya, bukan malah menuduh yang bukan-bukan.

Kita yakin Yesus adalah kebenaran. Ia tidak mengumbar kata-kata kosong belaka. Dia pasti juga membawa kuasa-kuasa kebenaran bagi seluruh dunia.

Percayakah kita pada kuasaNya?

Sepercik pantun buat anda:

Bersatu kita teguh,
Bercerai kita runtuh.
Jangan pernah ngeluh,
Rejekimu akan penuh.

Wonogiri, memanggul salib di Golgota
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
<<Previous

    Archives

    December 2034
    October 2026
    September 2026
    August 2026
    July 2026
    June 2026
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki