|
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
18 Comments
Puncta 3 Mei 2026
Minggu Paskah V Yohanes 14:1-12 DAPAT kita jumpai dalam kehidupan kita, anak-anak mengikuti kehidupan orangtuanya. Kalau ayahnya seorang TNI bisa terjadi anaknya juga ada yang menjadi anggota TNI. Kalau orangtuanya dokter, salah satu anaknya juga ikut menjadi dokter seperti bapaknya. Kalau ayah atau ibunya seorang guru, nanti anak-anaknya juga meniru menjadi guru atau pendidik di suatu lembaga pendidikan. Pengalaman itu bisa menjelaskan pepatah yang berkata; Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Memang tidak semua seperti itu. Anak seorang petani di desa, tidak mau menjadi petani seperti bapaknya. Ia lebih suka menjadi buruh di kota. Bahkan ada anak pengusaha kaya raya tidak mau meneruskan usaha ayahnya yang sudah mapan. Tetapi justru memilih masuk biara menjadi suster di pedalaman. Namun sifat atau karakter seorang anak biasanya mewarisi nilai-nilai yang diajarkan atau ditanamkan oleh orangtuanya. Demikianlah perikope Injil hari ini dapat kita pahami dari pengalaman kehidupan kita. Kita bisa mengenal dan mengetahui sifat Allah jika kita bisa melihat karya, sabda dan tindakan Yesus bagi banyak orang. Di dalam Diri Yesus kita bisa melihat Allah yang sesungguhnya. Melalui karya dan ajaran Yesus, kita bisa melihat Allah Bapa yang mengasihi manusia. “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia,” kata Yesus kepada Filipus. Para murid ingin melihat Bapa dan mengenalnya lebih dekat. Filipus berkata, "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami." Yesus menjelaskan, "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.” Melalui Yesus Sang Putra kita bisa melihat Bapa, karena apa yang diajarkan, disabdakan dan dilakukan Yesus adalah kehendak Bapa-Nya sendiri. Apakah kita yakin bahwa apa yang diajarkan dan diwartakan Yesus sungguh berasal dari Bapa? Iman atau keyakinan itulah yang membuat kita mampu melihat karya Yesus sebagai visualisasi karya Allah dalam kehidupan kita. Sepercik pantun buat anda: Para buruh berdemo di Jakarta, Diberi hadiah sembako murah. Yesus Kristus adalah Putera Bapa, Dari Dia kita mengenal kasih Allah. Wonogiri, melihat kasih Allah yang sesungguhnya. Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 2 Mei 2026
Pw. St. Atanasius, Uskup dan Pujangga Gereja, Sabtu Imam. Yohanes 14: 7-14 atau RUybs KALAU kita mengenal dekat Rama Yosef Supriyanto, Pr yang asli Boro, kita juga akan mengenal Bapaknya, Pak Prastawa almarhum yang adalah pensiunan guru sekolah. Gaya bicara, 'solah bawa' atau tutur kata dan bahkan cara berpakaian Pak Prastawa menurun pada anaknya. Rama Supri- demikian panggilannya – selalu berpakaian necis, sederhana dan bajunya pasti selalu dimasukkan. “Saya meniru teladan hidup bapak saya yang seorang guru,” kata Rama Supri dalam sebuah sharing. “Saya dulu juga ingin menjadi guru seperti bapak, maka saya mendaftar di SPG Van Lith Muntilan. Tetapi Tuhan punya kehendak lain dan membelokkan arah hidup saya menjadi seorang imam.” Menjadi imam toh juga tidak jauh dari tugas bapaknya sebagai seorang guru. Imam juga punya tugas mengajar kepada umatnya. Dalam bahasa Jawa ada pepatah; “Kacang mangsa ninggala lanjaran.” Perilaku anak tidak akan jauh dari teladan hidup orangtuanya. Begitu pula Yesus menjelaskan kepada Filipus, bahwa Ia ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Dia. Barangsiapa melihat Yesus, dia juga bisa melihat Bapa. Apa yang dikerjakan dan diajarkan Yesus berasal dari Bapa. "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami,” kata Yesus pada Filipus. Yesus mengutus para murid-Nya, termasuk kita untuk membawa Kabar Sukacita. Kalau kita sering disebut sebagai “Alter Christi,” atau Kristus yang lain, apakah cara hidup kita, perilaku dan tutur kata kita membawa orang semakin mengenal Kristus dalam diri kita? “Sebagaimana Bapa telah mengutus Aku, sekarang Aku mengutus kamu,” Kata Yesus. Bapa ada di dalam Yesus, maka seharusnya Yesus juga ada di dalam diri kita. Apakah hidup kita sungguh-sungguh sudah menjadi cerminan hidup Yesus bagi orang lain. Atau apakah kita sendiri sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengenal Bapa dalam Diri Yesus Putera-Nya? Dan menyelaraskan hidup kita dengan hidup Yesus sendiri? Sepercik pantun buat anda: Sungguh konyol logika menteri wanita, Lelaki dijadikan tumbal kalau kereta tabrakan. Mengenal Yesus berarti mengenal Bapa, Mari kita jadi perpanjangan kasih Tuhan. Wonogiri, semakin mengenal Allah Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 1 Mei 2026
Jum’at Paskah IV Jum’at Pertama Yohanes 14:1-6 SEKARANG ini untuk pergi kemanapun kita tidak perlu kawatir karena sudah ada aplikasi yang menuntun kita. Ada google map, ada waze dan banyak lagi aplikasi di smartphone yang akan mengarahkan kita. Kita tidak perlu takut pergi ke tempat asing yang belum pernah kita kunjungi. Asal alamatnya jelas dan ada sinyal di HP maka kita akan dituntun dan diarahkan sampai pada tujuan. Kita tinggal mengikuti petunjuk dan perintah di HP yang akan membimbing kita. Kepada para murid-Nya, Yesus menasehatkan agar jangan kawatir dan cemas. Dia akan menuntun kita seperti roadmap yang mengarahkan sampai ke tujuan akhir yakni Rumah Bapa di sorga. "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Yesus sudah menyediakan tempat di sorga. Kita diajak untuk tidak takut dan percaya kepada-Nya. Dengan wafat dan kebangkitan-Nya, Yesus mempersiapkan tempat bagi kita. Dia kembali kepada Bapa. Pada akhir zaman (parousia) Dia akan datang kembali untuk menjemput kita. Pertanyaan Tomas adalah pertanyaan kita semua yang masih hidup ini. "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" Kita semua tidak tahu jalan kemana setelah akhir hidup di dunia ini. Orang Jawa bilang, "Urip kuwi mung mampir ngombe." Hidup itu hanya sementara saja. Maka Yesus berkata: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Inilah jawaban dari semua teka-teki kehidupan kita. Pertanyaan besar atas nasib kita dijawab oleh Yesus dalam perikope ini. Beruntunglah kita memiliki Allah yang menjamin hidup kita di dunia dan di akherat nanti. Kita tidak perlu takut, gelisah dan kawatir. Kita tinggal mengikuti sabda Yesus yang adalah jalan keselamatan. Dalam segala perkara hidup; susah dan derita, jatuh bangun, gagal dan gelap kehidupan, Allah senantiasa hadir menuntun kita. Mari kita tetap berpegang pada tangan Tuhan karena Dialah Jalan menuju keselamatan. Sepercik pantun buat anda: Ada banyak pohon yang patah, Diterjang hujan badai dan taufan. Jangan kamu takut dan gelisah, Yesus adalah jalan kepada kehidupan. Wonogiri, Yesuslah Jalan dan Kebenaran Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 30 April 2026
Kamis Paskah IV Yohanes 13:16-20 DALAM pertandingan sepakbola kadang kekalahan terjadi karena gol bunuh diri yang dilakukan teman dalam satu team. Gol bunuh diri biasanya dilakukan dengan tidak sengaja. Misalnya yang pernah terjadi pertandingan antara Kolombia dan Amerika Serikat di ajang Piala Dunia. Andres Escobar secara tidak sengaja membelokkan bola ke gawang sendiri yang menyebabkan Kolombia tersingkir dari Piala Dunia 1994. Sepulangnya ke tanah air, Escobar ditembak mati di luar sebuah kelab malam, yang diduga kuat berkaitan dengan kekecewaan sindikat judi atas gol tersebut. Namun ada gol bunuh diri yang dilakukan dengan sengaja. Dalam pertandingan play-off Madagaskar tahun 2002, SO I'Emyrne sangat marah dengan keputusan wasit di pertandingan sebelumnya. Mereka memutuskan untuk membuat satu pernyataan terbesar yang pernah ada dalam sejarah sepak bola. Mereka sengaja mulai mencetak gol bunuh diri melawan AS Adema. Mereka menendang bola kembali ke gawang sendiri di setiap tendangan awal dan kalah dengan skor sangat-sangat telak 149-0. Gol bunuh diri bisa dianggap sebagai pengkhianatan dari sebuah team yang bertanding untuk menang. Yesus mengungkapkan kepada murid-murid-Nya bahwa akan ada yang berkhianat. Ia sudah tahu sejak awal. Maka Dia berkata, “Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.” Dari antara mereka akan ada yang berkhianat, menyerahkan nyawa-Nya. Untuk menjadi murid memang kita dituntut percaya kepada guru atau pelatih yang membimbing kita. Murid tidak mencari kehebatan sendiri atau mengejar ambisinya sendiri. Menjadi murid tidak untuk melebihi gurunya, tetapi untuk mengembangkan bakat dan talenta yang diberikan. Pelatih Mike Tyson pasti kalah jika bertanding dengan si Leher Beton. Tetapi Mike Tyson sangat menghormati pelatihnya. Ia tetap percaya dan mengikuti aba-aba atau perintah sang pelatih. Begitu pun menjadi murid Yesus dituntut untuk percaya dan setia mengikuti perintah-Nya. Kepada murid-murid yang setia, Yesus berkata, “Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.” Mari kita mewujudkan kepercayaan kita dengan menjalani perintah-perintah-Nya. Sepercik pantun buat anda: Di jembatan Cangar ada kasus bunuh diri, Gegara patah hati karena tidak direstui. Jadi murid Yesus jangan mudah patah hati, Suka ngambek karena doanya tidak dipenuhi. Wonogiri, menjadi murid yang setia Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 29 April2026
Pw. St.Katarina dari Siena, Perawan dan Pujangga Gereja Yohanes 12:44-50 atau Matius 11:25-30 (RUybs) SEORANG duta besar merupakan representasi diplomatik dari suatu negara. Duta besar adalah utusan resmi yang mewakili suatu negara. Misalnya Bapak Michael Trias Kuncahyono adalah duta besar luar biasa dan berkuasa penuh dari Republik Indonesia untuk Negara Vatikan. Beliau adalah wakil seluruh rakyat Indonesia dalam berhubungan dengan Negara Vatikan. Paus sebagai kepala Negara Vatikan menerima beliau berarti menerima seluruh rakyat Indonesia yang diwakilinya. Dalam diri Bapak Dubes ada rakyat Indonesia. Waktu itu Indonesia menerima Mgr. Piero Pioppo sebagai duta besar Vatikan untuk Indonesia yang sejak Oktober 2025 dipindahtugaskan menjadi Nunsius Apostolik baru untuk Spanyol dan Andorra. Nunsio Apostolik untuk Indonesia sementara ini kosong. Yesus bisa juga disebut sebagai Duta Besar yang luar biasa dan berkuasa penuh. Yesus menjadi representasi dari Allah Bapa yang mengutus-Nya. Sebab Yesus berkata: "Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku; dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku.” Yesus adalah utusan Allah. Yang melihat dan percaya kepada Yesus berarti juga percaya kepada Allah. Yesus menghadirkan Allah yang Mahakasih. Ia menyampaikan sabda Allah. Apa yang diajarkan Yesus adalah ajaran dari Allah. Sebagaimana seorang duta besar yang diterima di suatu negara, artinya negara itu menerima siapa yang diwakili oleh sang duta besar itu. Kalau kita menerima Yesus berarti kita juga menerima Allah yang mengutus Dia. Kata Yesus, “Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan.” Misi yang dijalankan Yesus adalah misa Bapa yang mengutus-Nya yakni membawa keselamatan kekal. Tujuan kedatangan-Nya bukan untuk menghakimi melainkan untuk menyelamatkan manusia. Kedatangan-Nya bukan atas kehendak-Nya sendiri, melainkan menjalankan perintah Bapa yang di sorga. Sepercik pantun buat anda: Daycare tempat penitipan anak-anak balita, Mereka disekap seperti di dalam penjara. Kita percaya Yesus adalah utusan Bapa, Yang akan pelihara kita dengan penuh cinta Wonogiri, mengasihi tanpa batas Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 28 April 2026
Selasa Paskah IV Yohanes 10:22-30 SEORANG Guru akan bekerja dengan penuh kesungguhan untuk mendampingi murid-muridnya di sekolah. Perilaku dan tutur katanya menggambarkan profesinya sebagai pendidik. Cara bertindak dan berpikir disesuaikan dengan statusnya sebagai teladan bagi anak didiknya. Hal-hal yang menjauhkan karakternya sebagai pendidik akan dihindari. Tutur kata dan tindakan seorang guru dapat dilihat dari apa yang dilakukannya setiap hari. Oleh karena itu Pekerjaan seseorang dapat menjadi cermin kepribadiannya. Kita bisa menilai kepribadian seseorang dari apa yang dilakukan, dikerjakan dan dihidupinya. Cara seseorang bekerja, sikap dan dedikasinya mencerminkan kualitas diri, nilai-nilai dan karakter pribadinya. Kita bisa menilai kepribadian seseorang dari caranya bekerja, bagaimana dia bertanggungjawab dan melakukan tugas-tugas pekerjaan yang diembannya. Pekerjaan dapat menunjukkan pribadi atau karakter seseorang. Yesus menimbulkan banyak pertanyaan dengan status-Nya. Orang banyak bertanya-tanya dan muncul kebimbangan di antara mereka. Maka orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya: "Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami." Ada yang percaya bahwa Yesus itu Mesias, tetapi ada yang masih bimbang dan ragu-ragu. Kalau Dia itu Mesias kok orang mengetahui asal-usul-Nya? Mereka kenal latar belakang dan sanak saudara-Nya. Orang yang percaya bahwa Yesus Mesias melihat pekerjaan dan kualitas pengajaran-Nya. Sebagaimana Dia berkata; "Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku.” Orang yang percaya melihat dari sabda dan karya-karya Yesus bagi banyak orang. Orang bisa buta melihat, orang bisu bisa berbicara, orang lumpuh bisa berjalan, orang berdosa diampuni, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diwartakan kabar sukacita. Pekerjaan-pekerjaan itu sudah menunjukkan siapa Yesus sebenarnya. Tetapi orang yang degil hatinya tak bisa melihat itu sebagai karya Allah. Orang yang tidak percaya dan membenci akan selalu melihat secara negatif saja. Kita yang menjadi domba-domba-Nya, apakah bisa melihat dengan mata batin bahwa karya-karya Yesus itu menunjukkan bahwa Dia berasal dari Allah? Apakah karya dan sabda Yesus sungguh menyentuh hidup anda sendiri? Sepercik pantun buat anda: Lihat label babi saja kamu goyah, Banyak orang korupsi kamu tidak resah. Segala yang baik datang dari Allah, Hati kitalah yang sering memfitnah. Wonogiri, semua diciptakan baik adanya Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 27 April 2026
Senin Paskah IV Yohanes 10:11-18 KETIKA tentara Jepang mulai menjajah Indonesia, mereka mengambil alih semua fasilitas yang dikuasai Belanda. Bahkan bangunan-bangunan strategis milik misi pun juga direbut paksa untuk diambil alih demi kepentingan pendudukan Jepang. Oktober 1945 pecah perang lima hari di Semarang. Waktu itu Mgr. Albertus Soegijopranoto tinggal di Gereja Gedangan. Beliau menunjukkan keberpihakannya kepada Republik. Maka Gereja Gedangan dipakai untuk persembunyian tentara Republik yang diserang dan dikejar tentara penjajah. Ketika tentara Jepang dibawah komando Mayor Kido mau menggeledah Gereja Gedangan, Mgr. Soegijo berkata dengan lantang; “Gereja adalah tempat yang suci. Saya tidak akan memberi ijin tuan masuk. Penggal dulu kepala saya, tuan baru boleh memasukinya…!!” Itulah sikap tegas seorang gembala. Mgr. Soegijo melindungi tempat suci sekaligus domba-domba yakni para tentara Republik yang bersembunyi di dalam kompleks Gereja. Beliau berani mati untuk membela domba-dombanya. Tidak semua tentara yang bersembunyi itu beragama Katolik. Tetapi Mgr. Soegijo melindungi mereka dari bahaya. Bagi Mgr. Soegijo mereka semua adalah domba-domba yang harus diselamatkan. Maka beliau siap menanggung segalanya demi keselamatan mereka. Yesus berkata, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.” Seorang gembala tidak memikirkan kepentingan dirinya sendiri, tetapi melindungi kawanannya dan rela berkorban bagi domba-dombanya. Keselamatan kawananlah yang lebih diutamakan daripada nyawanya sendiri. Semoga para gembala kita rela berkorban dan mau melayani domba-domba Tuhan seperti semangat Mgr. Soegijo yang ditanamkan menjadi teladan bagi kita semua. Sepercik pantun buat anda: Ada pemuda termangu di jembatan, Ia terjun karna cinta tak kesampaian. Gembala yang baik rela berkorban, Bukan malah bisnis cari keuntungan. Wonogiri, siap berkorban Rm. A. Joko Purwanto,Pr Puncta 26 April 2026
Minggu Paskah IV, Minggu Panggilan Yohanes 10:1-10 KETIKA bertugas di Cawas, saya memelihara dua anjing. Saya merawatnya dengan sukacita karena anjing binatang yang setia. Ada dua ekor anjing diberi nama Boing, karena lahirnya pada hari Rebo Paing. Sekarang tinggal satu yang jantan. Pasangannya sudah mati diracun orang di pinggir jalan. Sudah dua tahun saya meninggalkan Cawas. Tetapi setiap kali saya singgah di pastoran Cawas, Boing pasti langsung mengenali saya dan menyambut saya dengan melonjak-lonjak dan meraung kegirangan. Seolah melampiaskan rasa rindu yang dalam. Seperti dua sahabat yang lama tidak berjumpa, saling mengungkapkan rasa bahagia bisa bertemu lagi. Boing sangat mengenal tuannya dan menyambut kedatangan saya dengan penuh sukacita.dia merasa aman karena dijaga dan dicintai. Yesus digambarkan sebagai Gembala yang menjaga kawanan domba-domba-Nya. Gembala mengenal domba-domba-Nya dan begitupun sebaliknya kawanan domba itu mengenal suara sang gembala. Gembala akan menjaga dan menjamin keselamatan dombanya. Gembala yang baik siap mengorbankan nyawa untuk keselamatan dombanya. Semua domba digiring menuju kandang yang aman dari perampok dan hewan buas yang akan menyerang mereka. Yesus juga menyebut Diri-Nya sebagai pintu yang aman menuju kandang domba. Yesus adalah akses satu-satunya untuk masuk ke dalam kandang yang aman. Ini mau menggambarkan hanya melalui Yesus saja kita akan sampai kepada keselamatan, damai sejahtera. Jika kita dipanggil menjadi gembala, apakah kita mengenal para domba dan siap berjalan di depan dengan memberi teladan sehingga domba-domba menemukan kedamaian? Apakah kita menjadi pintu yang selalu terbuka untuk menerima domba-domba yang hilang? Jika kita sebagai domba-Nya, apakah kita sungguh mengenal suara Gembala? Ataukah kita mengabaikan suara Gembala karena ada suara-suara lain yang menggiring kita? Apakah kita lebih suka mencari jalan sendiri menuju pintu yang kita sukai saja? Pada Minggu Panggilan ini, kita masing-masing – gembala dan domba – diajak hening sejenak untuk bertanya pada diri sendiri, apakah saya sudah menjadi gembala yang baik? Apakah saya juga menjadi domba-domba yang setia? Sepercik pantun buat anda: Ke Bogor lihat kebun raya, Banyak kijang merumput bersama. Gereja akan damai bahagia, Gembala dan domba seia dan sekata. Wonogiri, jadilah gembala yang baik Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 25 April 2026
Pesta St.Markus, Penulis Injil Markus 16:15-20 PADA Pesta Santo Markus, Penulis Injil ini kita diingatkan akan tugas agung yang disabdakan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum Dia terangkat ke sorga. Yesus memberi perintah; "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Tanda-tanda bagi mereka yang mewartakan Kabar Gembira adalah kemampuan berbicara menggunakan bahasa-bahasa yang baru. Bahasa yang baru itu adalah bahasa kasih. Dengan bahasa kasih mereka menumpangkan tangan bagi orang sakit dan sembuh. Bahasa kasih ditunjukkan dengan mengusir setan yang melawan segala kebaikan. Bahasa kasih adalah bahasa kebaikan, bahasa yang sopan santun dalam turut kata dan lemah lembut dalam tindakan, bukan bahasa kekerasan dan intimidasi, ketakutan dan pemaksaan kehendak. Para murid diutus untuk mewartakan kasih Tuhan kepada semua orang. Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu. Tuhan akan turut membantu bagi mereka yang mewartakan kasih dan keselamatan bagi setiap orang. Beberapa waktu ini kita prihatin dengan kondisi masyarakat yang disebari dengan ujaran-ujaran kebencian. Bahkan oleh pemimpin dan tokoh bangsa. Kalau tokoh bangsa mengajarkan hal yang salah, maka rakyat bawah juga akan ikut menyebarkan kebencian. Agama tidak mengajarkan bahwa membunuh yang beda itu syahid. Agama tidak menghalalkan kepala seseorang untuk dipenggal. Agama tidak akan memaksakan kehendak atas dasar mayoritas dan minoritas. Agama yang baik diwartakan dengan damai dan kasih sayang. Agama pembawa damai disebarkan dengan sopan santun, welas asih dan saling pengertian. Agama yang menghancurkan dan menindas justru bertentangan dengan nilai-nilai yang dijunjung dan diajarkan. Agama yang mengancam dengan kekerasan hanya akan membawa ketakutan. Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk mengabarkan Injil dengan kebaikan, cintakasih dan pengampunan. Tuhan akan ikut bekerja dan mendampingi mereka yang membawa damai dan kebenaran. Tuhan akan berdiri di pihak yang benar. Marilah kita wartakan Injil dengan bahasa kasih dan damai. Inilah perintah agung yang diajarkan Kristus kepada semua murid-Nya. Sepercik pantun buat anda: Orang takut pada daging babi, Tapi tidak takut pada judi dan korupsi. Wartakan Injil dengan mengasihi, Jangan ajarkan orang untuk membenci. Wonogiri, selalu dengan bahasa kasih Rm. A.Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed