|
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
18 Comments
Puncta 27 Oktober 2026
Selasa Biasa XXX Lukas 13:18-21 SEORANG petani di desa dengan tekun dan sabar menanam benih padi dan merawatnya dengan penuh ketelitian. Dia dengan hati-hati dan penuh cinta menyiapkan lahan agar benih itu kelak tumbuh dengan baik dan akhirnya bisa panen dengan melimpah. Proses yang dilewatinya sangat panjang dan butuh ketekunan. Ia berharap benih yang baik, lahan yang baik dan pemeliharaan yang baik akan memberi hasil yang baik pula. Hasil ditentukan oleh proses perawatan yang tekun dan teliti. Hal yang sama juga dilakukan para pendidik. Bapak Ibu guru terutama di tingkat dasar, tidak akan segera melihat hasil dari usahanya. Mereka dengan tekun menanamkan nilai-nilai keutamaan pada anak-anak, baru setelah mereka dewasa akan terlihat hasilnya. Proses yang panjang harus dilewati seorang murid. Setelah mereka berhasil, mereka akan datang dan berterimakasih kepada bapak ibu guru yang telah menaburkan nilai-nilai keutamaan. Betapa bangganya seorang guru ketika melihat anak didiknya sukses dan berhasil. Apa yang ditanamkan dulu, dengan susah payah dan penuh kesabaran, kini setelah sekian puluh tahun nampak hasilnya yang menggembirakan. Demikianlah Yesus memberi perumpamaan tentang Kerajaan Allah melalui biji sesawi dan ragi yang mengembangkan melalui proses yang panjang. Biji sesawi itu kecil, tetapi melalui proses yang panjang dia bisa menjadi pohon yang rindang sehingga burung-burung bisa bersarang di atasnya. Ragi itu juga sangat kecil, tetapi ketika dicampur dengan tepung, dia bisa membuat kamir semua tepung dan mengembang. Kerajaan Allah itu adalah suasana damai tentram, bahagia dan sukacita. Keadaan itu bisa dibuat dengan melakukan hal-hal kecil yang terus dirawat dan dihidupi sehingga akan menghasilkan damai sejahtera. Seorang ibu menciptakan keluarga bahagia dengan memberi teladan tentang kesetiaan tekun berdoa setiap hari. Ia melakukan hal-hal kecil sederhana yang dirasakan oleh anak-anaknya, sehingga mereka waktu dewasa sadar bahwa keberhasilannya didapat karena doa-doa orangtuanya. Mari kita menaburkan hal-hal kecil dan sederhana dengan cinta yang besar. Kelak kita akan melihat hasil yang membahagiakan bagi banyak orang. Sepercik pantun buat anda: Ada burung kecil di atas pagar, Bikin sarang pakai rerumputan. Teladan kecil dengan cinta besar, Menghasilkan buah berkelimpahan. Wonogiri, mulai dari yang sederhana Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 26 Oktober 2026
Senin Biasa XXX Lukas 13:10-17 HARI Jum’at 9 Oktober 2026 kemarin kami tiba di Danau Galilea. Kami menginap di salah satu hotel di dekat danau. Jalan kaki ke pinggir danau hanya butuh tujuh menit saja. Kami masuk hotel sudah sore hari. Jalanan dan toko-toko sudah mulai sepi karena persiapan hari Sabat. Tidak ada orang lalu lalang di jalan-jalan. Waktu malam tiba, banyak keluarga Yahudi menginap di hotel. Mereka tidak bekerja pada hari Sabat. Mereka membaca Kitab Taurat dan melagukan puji-pujian seperti berzikir. Di restoran hotel itu suasana jadi ramai oleh doa-doa mereka. Rombongan kami menikmati santap malam sambil mendengarkan nyanyian-nyanyian mereka. Sabat adalah hari libur. Orang Yahudi tidak boleh bekerja. Mereka sangat taat pada hukum Taurat, termasuk pada hari Sabat. Maka ketika Yesus menyembuhkan seorang perempuan yang sakit sudah delapan belas tahun pada hari sabat, kepala rumah ibadat itu gusar. Dia merasa scruple atas tindakan Yesus yang melanggar hukum sabat. Dia protes dengan berkata, "Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat." Tetapi Yesus balik menjawab dia kata-Nya, "Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman?” Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?" kata Yesus. Yesus tidak ingin dibatasi untuk berbuat baik. Kapan pun dan dimanapun ada kesempatan berbuat baik, harus dilakukan. Hari Sabat dibuat untuk manusia bukan manusia untuk hari Sabat. Para ahli kitab sering memutlakkan aturan-aturan buatan manusia. Mereka memaksakan aturan yang membuat orang menjadi terbelenggu. Tidak berani melakukan apa-apa karena aturan yang mengikat. Kemunafikan ini dikecam oleh Yesus. Dia tetap melakukan penyembuhan pada hari sabat. Bagi-Nya menyelematkan orang lebih utama daripada melakukan hukum yang tidak menghasilkan apa-apa. Kita pun diajak bersikap bijaksana agar lebih mementingkan kemanusiaan daripada aturan yang dibuat manusia. Sepercik pantun buat anda: Jalan-jalan ke kota Lumajang, Menikmati air terjun di tengah hutan. Lebih baik menyelamatkan orang, Daripada terbelenggu pada aturan. Wonogiri, berbuat baik selalu Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 25 Oktober 2026
Minggu Biasa XXX Matius 22:34-40 SANTA Teresa dari Kalkuta yang menjadi rasul cintakasih bagi orang-orang miskin di India pernah berkata; “Bagaimana kita bisa mengasihi Allah yang tidak kelihatan kalau kita tidak mampu mengasihi manusia yang kelihatan.” Santa Teresa atau sering disebut Mother Teresa yang dibeatifikasi menjadi orang kudus karena mewujudkan kasih kepada Tuhan melalui perhatian dan kepeduliannya terhadap orang-orang miskin, gelandangan, tuna wisma dan orang sakit di jalan-jalan. Ia mengasihi manusia yang kecil, lemah, tersingkir dan sakit sebagai wujud cintanya kepada Allah. Ia melaksanakan apa yang disabdakan Yesus dalam kutipan Injil Minggu ini. Yesus ditanya oleh kaum Farisi untuk menunjukkan hukum manakah dalam Kitab Taurat sebagai hukum yang utama dan terutama. Hal ini dilakukan oleh mereka untuk mencobai Yesus. Sejauhmana kebijaksanaan Yesus dalam menimbang-nimbang banyaknya hukum dalam Taurat. Maka Yesus menegaskan kepada mereka. "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." Dalam perumpamaan tentang Orang Samaria yang baik hati, Yesus mengakhiri sabda-Nya dengan perintah. Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!" Kasih kepada Allah mesti diwujudkan dalam kasih kepada sesama khususnya yang lemah dan menderita. Di sekitar kita ada banyak orang yang mengalami penderitaan dan kurang cintakasih. Kepada mereka kita bisa mewujudkan cinta kita kepada Allah. Mengasihi Allah sama dengan mengasihi sesama manusia. Mengasihi yang tidak kelihatan dinyatakan dengan tindakan nyata kepada sesama. Mari kita peduli dan punya hati kepada sesama yang sedang mengalami dukacita, beban berat dan hidup menderita. Sepercik pantun buat anda: Jalan-jalan ke kota Surabaya, Jangan lupa mampir di kota Kediri. Kasihilah sesamamu manusia, Seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Wonogiri, mari saling mengasihi Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 24 Oktober 2026
Sabtu Biasa XXIX Lukas 14.1.7-11 KALAU kita masuk gereja, sering dijumpai kursi-kursi terdepan tidak terisi alias kosong. Begitu pula kalau ada rapat-rapat di aula gereja. Orang sungkan untuk duduk di depan dengan berbagai alasan. Ada yang tidak ingin dianggap sombong. Ada yang merasa tidak pantas duduk di kursi terhormat. Kursi-kursi di depan adalah tempat duduk orang-orang penting yang dihormati. Banyak orang merasa tidak layak duduk di depan. Dalam kutipan Injil hari ini, Yesus mengajarkan sikap kerendahan hati kepada siapapun. Perlu dibaca dengan teliti bahwa Yesus bercerita koteksnya pada sebuah pesta perkawinan. Bukan di rumah ibadat atau dalam pertemuan atau rapat. Dalam pesta perkawinan pasti ada undangan. Undangan juga dibedakan ada VVIP dan undangan biasa. Jadi sudah jelas mana tempat-tempat yang disediakan untuk mereka yang diundang pesta. Kalau undangan biasa kok duduk di VVIP pasti akan diusir. Kalau anda termasuk undangan VVIP tetapi duduk di tempat biasa pasti akan diminta maju ke depan, di tempat yang sudah disediakan. Dalam perjamuan perkawinan sudah terbiasa diterapkan aturan begitu. Tetapi kita sering mencampuradukkan dalam ibadat atau perayaan Ekaristi di gereja. Orang sungkan menempati kursi di depan karena merasa tidak pantas. Dalam pesta perkawinan semua sudah diatur. Di gereja semua orang sama di hadapan Tuhan. Tidak ada VVIP atau pejabat penting. Semua sederajat di hadapan Sang Pencipta. Makin dekat dengan Tuhan justru makin banyak mendapat berkahnya. Jangan merasa sungkan untuk duduk di depan. Seperti Bangsa Israel yang mengungkapkan kerinduannya untuk masuk ke Bait Allah. “Satu hal yang kuminta kepada Tuhan, itulah yang kuingini, diam di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati Bait-Nya.” Yesus mengajarkan semangat kerendahan hati dengan tidak mencari pujian dan penghormatan dalam pergaulan di tengah masyarakat. Maka Dia berkata, “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." Sepercik pantun buat anda: Jalan-jalan ke kota Gombong, Singgah ke pasar beli sate tenggiri. Jadi orang jangan yang sombong, Lebih baik merendahkan diri. Wonogiri, belajar rendah hati Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 23 Oktober 2026
Jumat Biasa XXIX Lukas 12:54-59 KITA sekarang mengalami suhu udara yang sangat panas di berbagai tempat. Mestinya kita bertanya mengapa bisa terjadi dan apa penyebabnya. Tanda-tanda alam apa yang dapat kita baca yang menyebabkan suhu panas dan cuaca ekstrem. Greenpeace Indonesia mengibarkan banner besar di Bundaran HI itu tanda keprihatinan karena pemerintah tidak berbuat apa-apa atas bencana ini. Kebakaran hutan ada dimana-mana adalah salah satu tanda alam yang sedang terjadi. Manusia merusak alam, maka alam juga murka terhadap kita. Jangan heran kalau kemudian muncul banjir bandang, tanah longsor karena hutan gundul. Kita juga bisa menilai zaman, kalau ada banyak pejabat ditangkap KPK itu berdampak apa di masa depan? Negara kita akan menjadi negara apa kelak jika pejabatnya korup dan mementingkan diri sendiri. Kalau sekarang banyak urusan sipil dipegang oleh tentara dan Polri, bagaimana proses demokrasi akan kita kembangkan bersama? Kira-kira Pemilu 2029 nanti seperti apa ya? Kita bisa mulai membacanya dari tanda-tanda yang sekarang terjadi. Yesus mengingatkan kepada orang banyak yang mendengar pewartaan-Nya. "Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi.” Alam dan peristiwa-peristiwa hidup bisa menjadi tanda-tanda yang berguna bagi kita. Yesus menegaskan, ”Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?” Mari kita belajar peka menilai tanda-tanda zaman atau peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita, supaya kita tidak terkejut dan bingung menghadapi semua itu. Sebagaimana kita mengenali tanda-tanda di dalam tubuh kita, kita bisa berjaga-jaga jangan sampai kita jatuh sakit. Yesus mengajak orang banyak agar peka dan berani menilai tanda-tanda zaman. Kita diajak peka untuk mengasah hati nurani dan olah pikir kita untuk melihat sesatu di balik segala kejadian dan perkara. Dengan demikian kita bisa bersiap siaga bila terjadi segala sesuatu yang akan menimpa. Sepercik pantun buat anda; Kalau ada mendung di sebelah barat, Akan turun hujan dengan lebat. Lihatlah perilaku para pejabat, Kita bisa menilai negara bermartabat. Wonogiri, peka menilai zaman Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 22 Oktober 2026
Kamis Biasa XXIX Lukas 12:49-53 KEHADIRAN dan ajaran Yesus di tengah masyarakat menimbulkan pro kontra. Ada beberapa kelompok Yahudi yang tidak sejalan dengan nilai-nilai ajaran Yesus. Mereka, misalnya kelompok Farisi, Saduki, Herodian dan para Sanhedrin. Yesus sering berseberangan dengan mereka. Para ahli kitab dan tua-tua Bangsa Yahudi menganggap Yesus mengobrak-abrik aturan-aturan Hukum Taurat. Mereka tidak suka dengan cara Yesus mengajar di tengah-tengah umat. Tetapi tidak sedikit masyarakat bawah yang tertarik mengikuti Yesus. Mereka menganggap Yesus adalah Mesias yang dijanjikan Allah. Bahkan mereka berusaha mengangkat Yesus sebagai raja. Hal ini nampak ketika Yesus memasuki kota Yerusalem dengan naik seekor keledai. Mereka mengelu-elukan Yesus. Ajaran dan tindakan Yesus membawa warna baru dalam kehidupan beragama di Yahudi. Ia mengajarkan cintakasih, kebenaran, keadilan dan kejujuran. Bagi masyarakat kelas bawah, nilai-nilai Kabar Gembira sungguh dirasakan. Mereka mempunyai sebuah harapan mesianistik. Tetapi bagi sekelompok kalangan, ajaran Yesus adalah ancaman bagi eksistensi mereka di tengah masyarakat. Maka mereka berusaha menjatuhkan dan menghentikan Yesus dan pengikut-Nya dengan berbagai cara. Apa yang dikatakan Yesus sungguh benar, bahwa kedatangan-Nya tidak membawa damai tetapi pertentangan. “Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.” Keputusan mengikuti Yesus membawa konsekwensi adanya perbedaan paham. Mengikuti Yesus berarti harus berani mewartakan kasih, kebenaran, kejujuran dan keadilan. Hal ini akan banyak membawa tantangan di tengah keluarga, lingkungan dan masyarakat. Menjadi orang Katolik harus berani membela keadilan, kebenaran dan kebaikan. Akibatnya kita akan dimusuhi dan disingkirkan banyak orang. Itulah arti dari memanggul salib yang disyaratkan bagi para pengikut Yesus. Maukah kita berjuang melawan kejahatan, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang menindas hak asasi manusia? Perjuangan itu akan menimbulkan pro dan kontra serta pertentangan di antara kita sendiri. Tetapi inilah konsekwensi mengikuti Kristus. Sepercik pantun buat anda: Banyak tentara masuk perkampungan, Baris berbaris teriak sepanjang jalan. Kebenaran harus terus diperjuangkan, Walau menghadapi banyak tantangan. Wonogiri, berjuang demi keadilan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 21 Oktober 2026
Rabu Biasa XXIX Lukas 12:39-48 PETINJU legendaris dari Filipina, Manny “Pacman” Paquiao adalah satu-satunya petinju yang memiliki 8 gelar dunia di kelas yang berbeda-beda. Gelar juara dunianya dimulai dari kelas terbang, bantam super, kelas bulu, bulu super, ringan, welter junior, welter dan menengah ringan. Dia merambah di empat badan tinju dunia dari WBC, IBF, WBO dan IBO yang mengakui kehebatannya. Manny Pacquiao memulai kariernya dari kelas rendah. Makin lama ia makin kuat dan diberi kesempatan menantang petinju-petinju di kelas atas. Secara keseluruhan dia telah mengumpulkan 12 sabuk juara dunia tinju. Sebuah prestasi yang tidak bisa disamai oleh petinju-petinju lain di muka bumi. Ketika dia berhasil di kelas bawah, ia dipercaya naik ke kelas yang lebih atas. Begitulah sampai dia naik ke puncak karier yang tinggi. Yesus menggambarkan sikap hamba yang siap siaga melakukan tugas dan kewajibannya. Dia akan dipuji oleh tuannya. “Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.” Hamba yang berlaku demikian akan semakin diberi kepercayaan yang lebih karena dia mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Sebaliknya hamba yang malas dan tidak menjalankan tugasnya akan menerima banyak hukuman. “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” Inilah prinsip keadilan Tuhan. Siapa yang mampu mengembangkan talenta, kepadanya akan diberi banyak peluang dan kesempatan. Tanggungjawab besar tidak akan diberikan kepada orang yang tidak mampu menjalankannya. Tidak ada kepercayaan yang datang tiba-tiba. Semua kepercayaan mulai dari proses yang kecil dan setia. Jika kita setia dan dapat dipercaya dari yang kecil-kecil, maka kita nanti juga akan diberikan kepercayaan yang besar. Marilah kita mulai melakukan yang kecil dan sederhana, agar kita dapat dipercaya untuk mengerjakan yang besar dan penting. Sepercik pantun buat anda: Banyak orang ingin menjadi kaya, Jalan paling mudah adalah korupsi. Kita semua diberi banyak talenta, Jangan disimpan untuk diri sendiri. Wonogiri, kembangkan diri Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 20 Oktober 2026
Selasa Biasa XXIX Lukas 12:35-38 PENERBANGAN Batik Air ID 6231 dari Palu menuju Makasar adalah momen paling dramatis dan menegangkan pada 28 September 2018. Pesawat Airbus itu membawa 148 penumpang dan 7 crew yang bertugas. Petugas Air Traffic Controller (ATC) di AirNav Indonesia Cabang Palu, Bandara Mutiara SIS Al-Jufri, terus memandu agar pesawat dapat take off dengan aman dan selamat. Dia adalah Anthonius Gunawan Agung yang tetap duduk di kursi memandu kapten Ricosetta Mafella menerbangkan pesawatnya kendati gempa sudah dirasakan. Guncangan gempa berkekuatan 7,4 SR menimpa Palu dan sekitarya. Gedung ATC berlantai empat berguncang, mulai retak dan berjatuhan. Agung tetap tenang memberi aba-aba dengan radionya. "Batik 6231 runway 33 clear for take off." Pesawat melaju dan terbang. Ketika pesawat berhasil terbang, sang kapten menghubungi petugas ATC tetapi tidak ada jawaban. Agung telah melompat untuk menyelamatkan diri dari reruntuhan. Namun naas, ia gugur di medan tugas. Ia berhasil menyelamatkan 148 penumpang dan 7 crew Batik Air. Yesus memperingatkan kepada para murid agar tetap waspada dan berjaga-jaga karena saatnya tidak bisa disangkakan. Ia memberi ilustrasi tentang hamba yang selalu berjaga dan siap sedia menantikan tuannya datang. Hamba yang demikian tahu tentang tugas dan tanggungjawabnya. Ia tetap menggunakan ikat pinggang dan menjaga pelitanya terus bernyala sampai tuannya datang. Ia mencintai tugasnya dan menjalankan tugas dengan totalitas. Kita diajak oleh Yesus menjadi hamba yang selalu siap sedia melakukan tugasnya dengan sukacita dan bertanggungjawab. Hamba yang demikian tidak mementingkan dirinya sendiri, tetapi melayani tuannya dengan setulus hati. Orang lain lebih penting daripada urusan dirinya sendiri. Anthonius Gunawan Agung menjadi contoh hamba yang siap sedia selalu berjaga melayani orang lain sampai tuntas. Ia adalah hamba Tuhan yang pinggangnya tetap berikat dan pelitanya tetap menyala. Maukah kita juga bertindak demikian? Sepercik pantun buat anda: Selamat datang di Klaten Bersinar, Sinarnya ditutupi tong berwarna biru. Ketika bencana alam makin menyebar, Dana bencana dikorupsi pimpinanmu. Wonogiri, jadilah hamba yang siap sedia Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 19 Oktober 2026
Senin Biasa XXIX Lukas 12:13-21 ORANG Jawa memiliki tiga akronim sebagai peringatan agar selalu waspada supaya tidak tergoda dan jatuh dalam keputusan, pilihan atau perilaku yang menghancurkan. Tiga akronim itu disingkat menjadi tiga TA yaitu harTA, tahTA dan waniTA. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari berbagai peristiwa hidup manusia dimana orang sering jatuh karena harta, tahta dan wanita. Orang berebut harta warisan sampai tega membunuh saudara sendiri. Hanya karena harta orang lupa saudaranya. Demi tahta kerajaan Singasari, keris Empu Gandring memakan korban tujuh nyawa karena balas dendam demi mengejar tahta kerajaan. Zaman sekarang pun rebutan tahta bisa terjadi dalam proses pemilu yang membuat orang saling bermusuhan. Raja Daud jatuh dalam dosa karena seorang wanita bernama Bersyeba. Ia tega membunuh Uria, prajuritnya agar dapat mengambil istrinya dengan menempatkannya di medan pertempuran paling hebat. Seorang pemimpin yang hebat seperti Daud jatuh dalam kemolekan seorang wanita dan melanggar perintah Tuhan. Yesus memperingatkan kepada orang banyak ketika Dia diminta untuk membagi warisan diantara mereka. "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku." Ia berkata kepada mereka, "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Ketamakan atau keserakahan menjadi awal malapetaka. Jika orang sudah mulai serakah, ia bisa lupa segala-galanya. Kain dan Habil lupa bahwa mereka adalah kakak beradik. Mereka saling membunuh karena keserakahan. Masih ada sampai sekarang keturunan raja saling berebutan tahta, saling bermusuhan padahal mereka adalah saudara dari nenek moyang yang sama. Tetapi tahta bisa membuat orang lupa diri dan mengabaikan segala norma dan tata krama. Wanita memang mempesoana dan bisa membuat sejarah berubah. Sebut misalnya Cleopatra dari Mesir. Helen dari Troya, Anne Boleyn dari Inggris, Mata Hari si mata-mata eksotik dari Belanda. Harta, Tahta dan Wanita menjadi peringatan agar kita waspada supaya tidak serakah mengejarnya. Yesus mengingatkan, “Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?” Semua akan dipanggil kembali. Kita akan mati. Untuk apa semuanya itu? Yesus menghendaki agar kita kaya di hadapan Allah, tidak dengan mengejar hal-hal duniawi, tetapi mau berbagi kasih kepada setiap orang yang kecil, menderita dan lemah. Sepercik pantun buat anda: Nyawa mung gadhuhan, Bandha mung titipan, Pangkat mung sampiran, Urip mung sak klebatan. Wonogiri, aja serakah Rm. A.Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed