Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Hello Romo!

12/25/2034

18 Comments

 
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
18 Comments

Harta atau Surga?

7/13/2026

0 Comments

 
Puncta 13 Juli 2026
Senin Biasa XV
Matius 10:34-11:1

SEORANG umat pernah berkisah bahwa keluarganya yang memilih mengikuti Yesus dijauhi oleh saudara-saudaranya. 

Ketika orangtuanya masih hidup, mereka  rukun-rukun saja. Namun setelah orangtuanya meninggal, mereka berpisah karena perbedaan iman.

Keluarga Katolik ini perlahan-lahan dijauhi. Salah seorang saudaranya pernah berkata, ”Mas tinggal hari raya ini saja saya dan anak istri datang berkunjung di sini, tahun depan saya sudah tidak akan datang lagi karena keluargamu jadi Nasrani”

Saudara yang lain lagi menyalahkan karena mengikuti Yesus maka keluarganya tidak bisa kaya. Maka mereka membujuk untuk meninggalkan imannya agar bisa kaya. Mereka bilang menjadi miskin itu karena dikutuk Tuhan. 

Inilah konsekwensi mengikuti Yesus. Dalam perikope hari ini, Yesus bukan mau mengajarkan tentang perpecahan, kekerasan dalam rumah tangga dan masyarakat. Tetapi kondisi itu akan dihadapi para murid karena pilihan ikut Yesus.

Kesulitan-kesulitan di tengah keluarga akan muncul akibat keputusan menjadi murid Yesus. Kehadiran Yesus menyebabkan perbedaan pilihan dan akibatnya akan ada pemisahan di antara anggota keluarga. 

“Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.”

Inilah konsekwensi salib yang harus dipikul para murid Yesus. “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” 

Maksud “salib” di sini dipahami sebagai penderitaan yang ditanggung oleh seseorang karena menjadi pengikut Yesus. 

Salib yang paling berat adalah ketika orang itu ditolak atau dijauhi oleh anggota keluarga sendiri. Mereka menghakimi bahwa penderitaannya karena jadi Katolik. 

Rejeki seret karena jadi Katolik. Seorang murid Yesus harus sanggup menanggung salib seperti ini.

Namun Yesus berjanji barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. 

Dia akan menganugerahkan kehidupan dan keselamatan kekal bagi mereka yang dengan teguh dan gigih berjuang sampai akhir. Maukah kita tekun berjuang?

Sepercik pantun buat anda:

Pak jaksa uangnya berkarung-karung,
Juga emas batangan yang menggunung.
Murid Yesus harus berani bertarung,
Melawan godaan yang bikin linglung.

Wonogiri, ikut memikul salib
Rm.A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Tanah Macam Apa Kita?

7/12/2026

0 Comments

 
Puncta 12 Juli 2026
Minggu Biasa XV
Matius 13:1-23 (Mat: 13:1-19)

SEORANG petani akan melihat kualitas tanah yang akan ditanami. Selain itu ia juga harus pandai mengenali musim yang akan datang, agar tanaman tidak kekurangan nutrisi dan air. 

Ia akan membuat survey atau pengamatan macam tanah yang akan menghasilkan buah lebat. Tempat dimana benih ditabur harus tanah berhumus.

Petani juga harus memperhitungkan hama-hama yang akan menyerang tanamannya. Ada burung, wereng, monyet, tikus dan keong emas yang akan cepat menghabiskan batang pohon. Semua harus dihitung dengan masak, sebelum penanaman dilakukan.

Yesus memberi perumpamaan kepada orang banyak tentang kualitas hidup kita dengan gambaran penabur yang menaburkan benih di ladang. 

"Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. 

Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.” 

Ada lagi benih yang jatuh di atas semak duri. Benih itu akan mati dibelenggu oleh kemewahan duniawi.

Benih yang jatuh ditanah yang baik akan menghasilkan buah limpah. Ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"

Para pendengar diajak untuk merenungkan dirinya di posisi tanah macam apa. Kita semua yang mendengarkan kotbah Yesus ini mesti bertanya diri; “Tanah model apakah saya ini? 

Apakah kita ini tanah subur yang menghasilkan buah atau tanah tandus dan kering yang tidak menghasilkan apa-apa?

Tanda sebagai tanah baik adalah hidup penuh rasa syukur, banyak teman yang ada di sekitar kita, banyak orang yang mengasihi karena kebaikan dan ketulusan hati kita pada orang lain. 

Marilah menebar kebaikan supaya kita boleh memetik hasil dari kebaikan kita.

Sepercik pantun buat anda:

Tanah yang subur banyak buahnya,
Banyak buah dimakan kelelawar.
Sering berbuat baik untuk sesama,
Bikin hati damai, tentram dan sabar.

Wonogiri, ada senja yang bahagia 
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Tempatkan Kristus di atas segalanya

7/11/2026

0 Comments

 
Puncta 11 Juli 2026
Pw. St. Benediktus, Abas
Matius 10:24-33 atau RUybs Mat. 19:27-29

INILAH judul kumpulan peraturan-peraturan hidup membiara yang ditulis oleh St.Benediktus yang kita peringati hari ini. 

Benediktus lahir di Nursia, Italia. Ia belajar di kota Roma. Namun melihat kehidupan warga yang koruptif dan memuakkan, ia meninggalkan Roma dan hidup menyepi di Subiako. 

Dia meninggalkan segala kemegahan dunia dan mengatur hidupnya dengan doa dan karya. 

“Ora et Labora” adalah ungkapan nyata dari semangat hidup Santo Benediktus. Berdoa dan bekerja adalah dua hal yang tak terpisahkan. 

Karena cara hidupnya yang saleh dan semangat matiraganya yang besar, banyak orang mengikuti teladannya. 

Ia mendirikan dua belas biara. Kemudian ia pergi ke Monte Kasino di mana ia mendirikan biaranya yang paling terkenal.

Peraturan Ordo Benediktin menjadi sumber inspirasi bagi banyak biara yang lahir kemudian. Mereka rela meninggalkan segala-galanya dan menempatkan Kristus sebagai harta satu-satunya. 

Karena itu Kristus menganugerahkan kebahagiaan yang lebih daripada kebahagiaan duniawi.

Dalam Injil, Petrus berkata kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?" 

Yesus menjawab, “Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.”

Kebahagiaan tidak terletak pada kekayaan, kesuksesan, kedudukan yang tinggi atau prestasi yang luar biasa. 

Kebahagiaan justru didapat karena kita rela memberikan segalanya kepada Tuhan lewat sesama kita yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir.

Kebahagiaan itu terjadi ketika kita rela melepaskan segala sesuatu untuk dapat mengikuti Dia yang memiliki kehidupan. 

Sebagaimana Yesus juga berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah, maka semuanya akan diberikan kepadamu.”

Maukah kita bersikap lepas bebas terhadap hal-hal duniawi dan mengarahkan hidup kita hanya demi kemuliaan Tuhan? 

Jika kita mampu, percayalah semua akan diberikan Tuhan berlipat-lipat dan kebahagiaan kita menjadi kekal.

Sepercik pantun buat anda:

Benediktus rela meninggalkan segalanya,
Kebahagiaanya melebihi semua harta dunia.
Kalau kita mau mengikuti Kristus Sang Raja,
Kita akan mengalami bahagia kekal selamanya.

Wonogiri, Kristus adalah segalanya
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Tuhan yang Mengutus, Tuhan yang Mengurus

7/9/2026

0 Comments

 
Puncta 9 Juli 2026
Kamis Biasa XIV
Matius 10:7-15

WAKTU pertama kali ditugaskan di Kalimantan, saya diberi banyak bekal dari umat. Ada yang memberi jaket anti hujan, sepatu sandal untuk tracking, sepatu “crocs” untuk jalan buruk, tas ransel untuk alat-alat misa. 

Bahkan ada yang mengirimi abon daging sapi dan gudeg untuk persediaan lauk pauk setiap minggu.

Umat mengira di sana serba kekurangan. Mereka kawatir kalau-kalau saya kelaparan, sakit atau kekurangan apa-apa karena bertugas di pedalaman yang jauh dan sangat terbatas segala fasilitas. Saya anggap itu semua adalah bentuk perhatian umat kepada imamnya.

Tetapi senyatanya, apa yang dipesankan Tuhan kepada para murid yang diutus untuk mewartakan Injil dalam perikope hari ini sesungguhnya agar murid-murid tidak kawatir akan segala sesuatu, tetapi hanya mengandalkan Tuhan yang mengutus saja.

Yesus berpesan, “Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.”

Mengandalkan Tuhan pasti semuanya akan dibereskan. Pengalaman di pedalaman menunjukkan Tuhan selalu memberi dengan kelimpahan. 

Intinya seperi apa yang dikatakan Tuhan sendiri, “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.”

Kalau kita memberi pelayanan, perhatian, sapaan dan pertolongan kepada umat dengan tulus hati dan sukacita, maka umat juga akan balik memberikan segala kebutuhan yang kita perlukan. 

Ada umat yang rela meminjamkan mobilnya. Ada yang memberikan makanan, tumpangan dan bahkan minyak untuk sepeda motor sudah disiapkan untuk perjalanan turne ke stasi.

Jangan kawatir akan segala sesuatu. Tuhan yang mengutus, Tuhan pula yang akan mengurus. Kita diminta untuk percaya dan mengandalkan Tuhan yang memanggil kita. Kita tinggal fokus menjalankan perutusan-Nya saja.

Terimakasih kepada umat di pedalaman Kalimantan yang telah diutus Tuhan untuk mengurusi segala kebutuhan para gembala-Nya sehingga karya pewartaan Injil dapat terlaksana. 

Kita semua dipanggil dengan peran masing-masing untuk terlibat membangun Gereja-Nya. Mari kita bergandengan tangan bersama.

Sepercik pantun buat anda:

Argentina bisa mengalahkan Mesir,
Yang ikuti jejak pasukan dari Brasil.
Jangan takut dan janganlah kawatir,
Mengandalkan Tuhan pasti akan berhasil.

Wonogiri, berikanlah dengan cuma-cuma
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Yesus Memanggil

7/8/2026

0 Comments

 
Puncta 8 Juli 2026
Rabu Biasa XIV
Matius 10:1-7

AKHIR Bulan Juni 2026 kemarin di Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan Yogyakarta ada tahbisan empat imam Projo Keuskupan Agung Semarang. Mereka menambahi jumlah imam diosesan Semarang yang kini ada yakni 214 orang. 

Biasanya dalam acara perutusan imam, Bapak Uskup mengirim tenaga-tenaga imam ke keuskupan lain, seperti Ketapang, Tanjung Karang, atau ke Sorong Manokwari. 

Tahun ini hanya ada satu imam yang diutus menjadi misionaris domestik di Sorong.

Kebutuhan di dalam keuskupan sendiri masih harus dipenuhi. Masih banyak paroki atau tugas pastoral kategorial yang mesti didampingi oleh imam. Maka Gereja masih membutuhkan tenaga-tenaga yang siap diutus.

Belum lama pesta tahbisan usai, satu imam KAS dipanggil Tuhan, Rm. Andreas Setya Budi Sambodo, Pr atau “Rama Buset.” 

Tuhan yang memanggil, Tuhan pula yang akan melengkapi. Selalu ada datang silih berganti untuk tugas pelayanan di ladang-Nya. Yang satu datang yang lain pergi.

Yesus memanggil murid-murid-Nya untuk mewartakan Kerajaan Surga sudah dekat. Mereka diberi kuasa untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.

Duabelas orang rasul itu diajak untuk mengikuti Yesus. Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.”

Keuskupan Agung Semarang tidak hanya memikirkan diosesnya sendiri. Tetapi juga ikut terlibat memikirkan keuskupan lain yang masih membutuhkan tenaga-tenaga imam. Mereka diutus untuk pergi kepada domba-domba yang membutuhkan.

Gereja di pelosok pedalaman Kalimantan, Papua dan tempat lain memanggil kita untuk siap mewartakan Injil kemana pun. Seperti para murid itu dipanggil Yesus, siapkah kita juga diajak terlibat mewartakan Kabar Gembira kepada segala bangsa?

Sepercik pantun buat anda:

Banyak orang nonton sepakbola,
Jagonya kalah hati sangat kecewa.
Tuhan mengetuk hati kaum muda,
Ikut wartakan Injil ke seluruh dunia.

Wonogiri, wartakan kabar sukacita
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Konsisten Berbuat Baik

7/7/2026

0 Comments

 
Puncta 7 Juli 2026
Selasa Biasa XIV
Matius 9:32-38

NIAT baik tidak selalu mendapat tanggapan yang positif. Kita bisa belajar dari Nadiem Makarim, menteri pendidikan yang berniat memperbaharui tata kelola pendidikan di Indonesia dengan program merdeka belajar. 

Tetapi niat baik itu terbentur oleh berbagai pihak yang sering mengambil keuntungan dari proses belajar mengajar di dunia pendidikan. 

Digitalisasi pendidikan akan merugikan bagi mereka yang selama ini meraup keuntungan dari bisnis sarana prasarana pendidikan. 

Niat baik harus dibarengi juga ketahanan menghadapi tantangan dan hambatan. 

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus melakukan kebaikan dengan menyembuhkan banyak orang sakit yang datang kepada-Nya.

Orang buta disembuhkan, orang lumpuh bisa berjalan, orang bisu bisa berbicara, orang mati dibangkitkan, setan-setan diusir keluar dan banyak orang terbebas dari penyakitnya. Tetapi kebaikan itu ditanggapi negatif oleh kaum Farisi.

Orang Farisi menuduh Yesus mengusir setan dengan kuasa penghulu setan. Mereka berkata; "Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan."  

Akan ada banyak orang yang tidak suka ketika kita melakukan kebaikan dan keberhasilan.

Ada yang membuat isu dan menyebar fitnah. Ada yang menggiring opini kalau kesuksesan kita itu karena bantuan kolega, suap atau pakai dukun-dukun dan jimat-jimat. 

Ada yang ingin menjatuhkan kita dengan narasi-narasi negatif karena mereka irihati dan cemburu. 

Menghadapi semua hal negatif itu, Yesus tetap berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.

Belaskasihan-Nya tidak berkurang dan Dia tetap konsisten berbuat baik kepada semua orang. Ia tergerak hati kepada mereka yang menderita dan kekurangan seperti domba yang tidak memiliki gembala. 

Kita diajak ikut terlibat dalam karya-Nya melakukan kebaikan kepada semua orang.

“Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu," itulah pesan-Nya kepada kita. 

Maukah kita ikut terlibat menjadi pekerja-pekerja di kebun anggur-Nya dan siap hadapi hambatan dan tantangan?

Sepercik pantun buat anda:

Brasil pulang dikalahkan Norwegia,
Neymar gagal angkat trophy piala dunia.
Banyak domba tidak memiliki gembala,
Mintalah agar dikirimkan para pekerja.

Wonogiri, tetaplah berbuat baik
Rm.A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Never Give Up

7/6/2026

0 Comments

 
Puncta 6 Juli 2026
Senin Biasa XIV
Matius 9:18-26

SEORANG ibu berdoa rosario dengan khusuknya di Sendang Sriningsih selama sembilan hari berturut-turut pada jam yang sama. 

“Kami berangkat berdua dengan suami jam 22.00 dari rumah rama. Tepat jam 00.00 kami sepakat berdoa rosario di depan gua,” dia mulai cerita.

“Pasti ada permohonan yang amat penting sampai melakukan novena di tengah malam yang sunyi di Sriningsih ini?” tanya saya kepada mereka. 

“Anak laki-laki kami akan masuk Perguruan Tinggi Negri rama. Dia sudah lulus ujian tertulis. Sekarang harus tes wawancara dan nampaknya tantangannya berat. Maka satu-satunya yang kami harapkan bisa menolong ya Tuhan Yesus dengan pengantaraan Bunda Maria di Sriningsih,” katanya. 

Rumah mereka dari Gua Maria Sriningsih ini tidak kurang dari 25 km jauhnya. Mereka naik sepeda motor berboncengan di tengah malam yang gelap dan sepi. 

Mereka punya keyakinan yang kuat disertai dengan usaha yang gigih dengan melakukan novena di tengah malam.

Beberapa waktu kemudian, mereka datang ke gereja dan mengucapkan syukur dengan intensi di misa bahwa anaknya telah diterima menjadi mahasiswa di perguruan tinggi. 

Saya ikut mendoakan dan merasa diteguhkan oleh usaha mereka yang gigih tak kenal waktu.

Dalam Injil hari ini, Yesus melihat iman dari perempuan yang sudah 12 tahun mengalami sakit pendarahan. Ia mencoba mendekati dan menjamah jumbai jubah-Nya. 

“Asal kujamah jubahnya saja, aku pasti sembuh,” kata si wanita itu.

Dia berusaha dan berdoa dengan penuh pengharapan. Ternyata ada kuasa yang keluar dari Yesus dan sembuhlah wanita itu. 

Demikian juga seorang kepala rumah ibadat yang anak perempuannya mati memohon pertolongan pada Tuhan. 

"Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup. "pintanya kepada Yesus. 

Melihat iman yang besar itu, Yesus pergi ke rumahnya dan membangkitkan anak itu.

Bagi orang banyak mungkin hal itu mustahil. Maka mereka mentertawakan-Nya. 

Tetapi bagi Tuhan segala hal bisa terjadi. Tidak ada yang mustahil asal kita mempunyai iman. 

Apakah kita sungguh-sungguh beriman dan berusaha dengan sekuat tenaga seperti perempuan tadi? 

Jangan pernah berhenti meminta kepada Tuhan sebelum doa anda dikabulkan. Mintalah maka anda akan diberi. Carilah maka anda akan mendapatkannya.


Sepercik pantun buat anda:

Tanjung Verde hampir membuat sejarah,
Mereka hampir saja mengalahkan Argentina.
Jangan pernah anda merasa menyerah,
Tuhan pasti akan mengabulkan doa-doa kita.

Wonogiri, berdoa dan berusaha dengan gigih
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Anawim Tuhan

7/5/2026

0 Comments

 
Puncta 5 Juli 2026
Minggu Biasa XIV
Matius 11:25-30

KETIKA Bima ingin mengetahui kesejatian hidup yakni asal tujuan hidup manusia yang sebenarnya, ia berguru kepada Pandita Durna. Oleh Gurunya dia disuruh mencari “Banyu suci perwita sari” di dasar samudera.

Tentu saja ini sesuatu yang sulit diterima akal dan logika manusia. Ingin mencari sejatinya hidup kok malah harus terjun ke dasar samudera. 

Tetapi karena niatnya yang kokoh dan keinginannya yang tak bisa dibendung, Bima melakukan apa yang diperintahkan gurunya.

Ternyata dia berjumpa dengan makhluk dewata yang bertubuh kecil tak sebanding dengan dirinya yang gagah perkasa. 

Tetapi dalam diri makhluk kecil ini seluruh alam semesta dikuasainya karena Dialah Sang Hyang Dewa Ruci. 

Untuk mengetahui asal usul dan tujuan manusia hidup, Bima disuruh masuk ke tubuh kecil Sang Dewa Ruci. Ia harus manunggal menjadi kecil di dalam diri Yang Bijaksana itu sendiri. 

Hanya di dalam diri orang-orang kecil dan sederhana kebijaksanaan Allah mudah dipahami.

Hari ini dalam Injil Yesus mengungkapkan kebijaksaan Allah tersembunyi dalam diri orang bijak dan pandai, tetapi dinyatakan dalam diri orang kecil. 

Orang kecil bukan karena fisik atau ukuran tubuhnya, tetapi karena ketergantungannya pada Tuhan,  kerendahan hatinya dan kesetiaannya.

Orang kecil dan sederhana adalah orang yang hanya mengandalkan Tuhan dalam segala kehidupannya. Orang kecil dapat kita lihat dalam diri mereka yang sederhana, miskin, tersingkir tertindas dan menderita. 

Orang-orang seperti ini selalu dan setiap saat mencari Tuhan untuk memohon tuntunan dan terangnya agar dapat mengalami kasih karunia-Nya. Sikap dan perilakunya dituntun oleh kehendak Tuhan. 

Kaum kecil dalam kitab suci disebut anawim. Anawim berasal dari bahasa Ibrani ('anavim) yang berarti "mereka yang membungkuk", "tertindas", atau "miskin". 

Istilah ini merujuk pada umat yang miskin secara materi atau tertindas, namun memiliki ketergantungan mutlak kepada Tuhan dan terbuka sepenuhnya pada kehendak-Nya.

Kebijaksanaa Allah tersembunyi bagi orang bijak dan pandai karena mereka mengandalkan dirinya sendiri. Sedang kaum anawim dengan kerendahan hati dan ketergantungannya pada pertolongan Allah mampu melihat rencana Tuhan walau dalam derita dan kesengsaraan hidup yang dialami.

Kaum anawin adalah mereka yang setia mengandalkan Allah dengan rendah hati selalu berharap pada kebaikan Tuhan. 

Apakah kita juga bersikap seperti kaum anawim seperti Abraham, Sara, Yusuf dan Maria?

Sepercik pantunbuat anda;
Naik gunung sambil bawa tongkat,
Di puncak gunung lupa bawa sandal.
Ayo kita jadi umat yang bersemangat,
Mengandalkan Tuhan dalam segala hal.

Wonogiri, semangat rendah hati
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Waktunya akan Datang

7/4/2026

0 Comments

 
Puncta 4 Juli 2026
Sabtu Biasa XIII
Matius 9:14-17

YESUS datang membawa suasana dan sikap hidup yang baru. Kedatangan-Nya mengubah cara pandang lama menuju ke cara pandang yang baru. Ia memberi arti yang benar dalam penghayatan hidup keagamaan.

Ketika murid-murid Yohanes Pembaptis bertanya, "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" 

Yesus memberi jawaban dengan cara pandang baru dalam menterjemahkan aturan-aturan agama. 

Ia berkata, "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Yang dimaksud dengan ‘waktunya akan datang’ berarti akan muncul cara pandang baru bagi setiap orang untuk menyikapi segala aturan dan adat istiadat yang sudah rutin berjalan. 

Yesus menerangkan dengan memberi perumpamaan baju tua dan kantong anggur lama.

Baju yang sudah tua tidak akan kuat jika ditambal dengan kain yang baru. Baju yang tua itu akan koyak dan makin lebarlah sobeknya. 

Begitu pula dengan anggur baru tidak cocok disimpan pada kantong kulit yang sudah tua. Anggur baru harus disimpan di kantong yang baru pula.

Yesus datang sebagai anggur baru yang harus ditempatkan dalam kantong yang baru pula. 

Ia hadir untuk membawa pembaharuan hidup setiap orang. Salah satu hal yang diperbaharui adalah cara orang berpuasa.

Puasa dijalankan bukan untuk mengikuti aturan rutin semata, atau mengejar status agar dipuji atau dihormati orang. Puasa juga bukan untuk mengejar pahala agar bisa masuk surga. Puasa bukan ajang pameran kesalehan. 

Puasa adalah saat dimana kita sebagai manusia lemah bergantung penuh pada kebaikan Tuhan. Sebagaimana umat Israel di padang gurun yang mengalami kekurangan makan dan minum, dan hanya mengandalkan kebaikan Tuhan saja, puasa adalah saat merendahkan diri di hadapan Tuhan yang mahakuasa.

Kita harus memperbaharui semangat dan cara berpuasa. Puasa bukan hanya kegiatan rutin keagamaan, apalagi hanya memindahkan jam makan dari siang ke malam hari dengan jumlah makanan yang lebih banyak. 

Puasa adalah cara kita membaharui relasi dengan Tuhan yang berdaulat atas hidup kita.

Inilah waktunya untuk membaharui diri. Waktunya sudah datang. Jangan menyia-nyiakan kesempatan.
 
Sepercik pantun buat anda:

Masa puasa diwarnai gerakan sweeping,
Agar warung tidak pamer lauk di piring.
Bulan puasa malah bikin kepala pusing,
Harga-harga naik tidak bisa beli daging.

Wonogiri, semangat hidup baru
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
<<Previous

    Archives

    December 2034
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki