|
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
18 Comments
Puncta 28 April 2026
Selasa Paskah IV Yohanes 10:22-30 SEORANG Guru akan bekerja dengan penuh kesungguhan untuk mendampingi murid-muridnya di sekolah. Perilaku dan tutur katanya menggambarkan profesinya sebagai pendidik. Cara bertindak dan berpikir disesuaikan dengan statusnya sebagai teladan bagi anak didiknya. Hal-hal yang menjauhkan karakternya sebagai pendidik akan dihindari. Tutur kata dan tindakan seorang guru dapat dilihat dari apa yang dilakukannya setiap hari. Oleh karena itu Pekerjaan seseorang dapat menjadi cermin kepribadiannya. Kita bisa menilai kepribadian seseorang dari apa yang dilakukan, dikerjakan dan dihidupinya. Cara seseorang bekerja, sikap dan dedikasinya mencerminkan kualitas diri, nilai-nilai dan karakter pribadinya. Kita bisa menilai kepribadian seseorang dari caranya bekerja, bagaimana dia bertanggungjawab dan melakukan tugas-tugas pekerjaan yang diembannya. Pekerjaan dapat menunjukkan pribadi atau karakter seseorang. Yesus menimbulkan banyak pertanyaan dengan status-Nya. Orang banyak bertanya-tanya dan muncul kebimbangan di antara mereka. Maka orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya: "Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami." Ada yang percaya bahwa Yesus itu Mesias, tetapi ada yang masih bimbang dan ragu-ragu. Kalau Dia itu Mesias kok orang mengetahui asal-usul-Nya? Mereka kenal latar belakang dan sanak saudara-Nya. Orang yang percaya bahwa Yesus Mesias melihat pekerjaan dan kualitas pengajaran-Nya. Sebagaimana Dia berkata; "Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku.” Orang yang percaya melihat dari sabda dan karya-karya Yesus bagi banyak orang. Orang bisa buta melihat, orang bisu bisa berbicara, orang lumpuh bisa berjalan, orang berdosa diampuni, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diwartakan kabar sukacita. Pekerjaan-pekerjaan itu sudah menunjukkan siapa Yesus sebenarnya. Tetapi orang yang degil hatinya tak bisa melihat itu sebagai karya Allah. Orang yang tidak percaya dan membenci akan selalu melihat secara negatif saja. Kita yang menjadi domba-domba-Nya, apakah bisa melihat dengan mata batin bahwa karya-karya Yesus itu menunjukkan bahwa Dia berasal dari Allah? Apakah karya dan sabda Yesus sungguh menyentuh hidup anda sendiri? Sepercik pantun buat anda: Lihat label babi saja kamu goyah, Banyak orang korupsi kamu tidak resah. Segala yang baik datang dari Allah, Hati kitalah yang sering memfitnah. Wonogiri, semua diciptakan baik adanya Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 27 April 2026
Senin Paskah IV Yohanes 10:11-18 KETIKA tentara Jepang mulai menjajah Indonesia, mereka mengambil alih semua fasilitas yang dikuasai Belanda. Bahkan bangunan-bangunan strategis milik misi pun juga direbut paksa untuk diambil alih demi kepentingan pendudukan Jepang. Oktober 1945 pecah perang lima hari di Semarang. Waktu itu Mgr. Albertus Soegijopranoto tinggal di Gereja Gedangan. Beliau menunjukkan keberpihakannya kepada Republik. Maka Gereja Gedangan dipakai untuk persembunyian tentara Republik yang diserang dan dikejar tentara penjajah. Ketika tentara Jepang dibawah komando Mayor Kido mau menggeledah Gereja Gedangan, Mgr. Soegijo berkata dengan lantang; “Gereja adalah tempat yang suci. Saya tidak akan memberi ijin tuan masuk. Penggal dulu kepala saya, tuan baru boleh memasukinya…!!” Itulah sikap tegas seorang gembala. Mgr. Soegijo melindungi tempat suci sekaligus domba-domba yakni para tentara Republik yang bersembunyi di dalam kompleks Gereja. Beliau berani mati untuk membela domba-dombanya. Tidak semua tentara yang bersembunyi itu beragama Katolik. Tetapi Mgr. Soegijo melindungi mereka dari bahaya. Bagi Mgr. Soegijo mereka semua adalah domba-domba yang harus diselamatkan. Maka beliau siap menanggung segalanya demi keselamatan mereka. Yesus berkata, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.” Seorang gembala tidak memikirkan kepentingan dirinya sendiri, tetapi melindungi kawanannya dan rela berkorban bagi domba-dombanya. Keselamatan kawananlah yang lebih diutamakan daripada nyawanya sendiri. Semoga para gembala kita rela berkorban dan mau melayani domba-domba Tuhan seperti semangat Mgr. Soegijo yang ditanamkan menjadi teladan bagi kita semua. Sepercik pantun buat anda: Ada pemuda termangu di jembatan, Ia terjun karna cinta tak kesampaian. Gembala yang baik rela berkorban, Bukan malah bisnis cari keuntungan. Wonogiri, siap berkorban Rm. A. Joko Purwanto,Pr Puncta 26 April 2026
Minggu Paskah IV, Minggu Panggilan Yohanes 10:1-10 KETIKA bertugas di Cawas, saya memelihara dua anjing. Saya merawatnya dengan sukacita karena anjing binatang yang setia. Ada dua ekor anjing diberi nama Boing, karena lahirnya pada hari Rebo Paing. Sekarang tinggal satu yang jantan. Pasangannya sudah mati diracun orang di pinggir jalan. Sudah dua tahun saya meninggalkan Cawas. Tetapi setiap kali saya singgah di pastoran Cawas, Boing pasti langsung mengenali saya dan menyambut saya dengan melonjak-lonjak dan meraung kegirangan. Seolah melampiaskan rasa rindu yang dalam. Seperti dua sahabat yang lama tidak berjumpa, saling mengungkapkan rasa bahagia bisa bertemu lagi. Boing sangat mengenal tuannya dan menyambut kedatangan saya dengan penuh sukacita.dia merasa aman karena dijaga dan dicintai. Yesus digambarkan sebagai Gembala yang menjaga kawanan domba-domba-Nya. Gembala mengenal domba-domba-Nya dan begitupun sebaliknya kawanan domba itu mengenal suara sang gembala. Gembala akan menjaga dan menjamin keselamatan dombanya. Gembala yang baik siap mengorbankan nyawa untuk keselamatan dombanya. Semua domba digiring menuju kandang yang aman dari perampok dan hewan buas yang akan menyerang mereka. Yesus juga menyebut Diri-Nya sebagai pintu yang aman menuju kandang domba. Yesus adalah akses satu-satunya untuk masuk ke dalam kandang yang aman. Ini mau menggambarkan hanya melalui Yesus saja kita akan sampai kepada keselamatan, damai sejahtera. Jika kita dipanggil menjadi gembala, apakah kita mengenal para domba dan siap berjalan di depan dengan memberi teladan sehingga domba-domba menemukan kedamaian? Apakah kita menjadi pintu yang selalu terbuka untuk menerima domba-domba yang hilang? Jika kita sebagai domba-Nya, apakah kita sungguh mengenal suara Gembala? Ataukah kita mengabaikan suara Gembala karena ada suara-suara lain yang menggiring kita? Apakah kita lebih suka mencari jalan sendiri menuju pintu yang kita sukai saja? Pada Minggu Panggilan ini, kita masing-masing – gembala dan domba – diajak hening sejenak untuk bertanya pada diri sendiri, apakah saya sudah menjadi gembala yang baik? Apakah saya juga menjadi domba-domba yang setia? Sepercik pantun buat anda: Ke Bogor lihat kebun raya, Banyak kijang merumput bersama. Gereja akan damai bahagia, Gembala dan domba seia dan sekata. Wonogiri, jadilah gembala yang baik Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 25 April 2026
Pesta St.Markus, Penulis Injil Markus 16:15-20 PADA Pesta Santo Markus, Penulis Injil ini kita diingatkan akan tugas agung yang disabdakan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum Dia terangkat ke sorga. Yesus memberi perintah; "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Tanda-tanda bagi mereka yang mewartakan Kabar Gembira adalah kemampuan berbicara menggunakan bahasa-bahasa yang baru. Bahasa yang baru itu adalah bahasa kasih. Dengan bahasa kasih mereka menumpangkan tangan bagi orang sakit dan sembuh. Bahasa kasih ditunjukkan dengan mengusir setan yang melawan segala kebaikan. Bahasa kasih adalah bahasa kebaikan, bahasa yang sopan santun dalam turut kata dan lemah lembut dalam tindakan, bukan bahasa kekerasan dan intimidasi, ketakutan dan pemaksaan kehendak. Para murid diutus untuk mewartakan kasih Tuhan kepada semua orang. Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu. Tuhan akan turut membantu bagi mereka yang mewartakan kasih dan keselamatan bagi setiap orang. Beberapa waktu ini kita prihatin dengan kondisi masyarakat yang disebari dengan ujaran-ujaran kebencian. Bahkan oleh pemimpin dan tokoh bangsa. Kalau tokoh bangsa mengajarkan hal yang salah, maka rakyat bawah juga akan ikut menyebarkan kebencian. Agama tidak mengajarkan bahwa membunuh yang beda itu syahid. Agama tidak menghalalkan kepala seseorang untuk dipenggal. Agama tidak akan memaksakan kehendak atas dasar mayoritas dan minoritas. Agama yang baik diwartakan dengan damai dan kasih sayang. Agama pembawa damai disebarkan dengan sopan santun, welas asih dan saling pengertian. Agama yang menghancurkan dan menindas justru bertentangan dengan nilai-nilai yang dijunjung dan diajarkan. Agama yang mengancam dengan kekerasan hanya akan membawa ketakutan. Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk mengabarkan Injil dengan kebaikan, cintakasih dan pengampunan. Tuhan akan ikut bekerja dan mendampingi mereka yang membawa damai dan kebenaran. Tuhan akan berdiri di pihak yang benar. Marilah kita wartakan Injil dengan bahasa kasih dan damai. Inilah perintah agung yang diajarkan Kristus kepada semua murid-Nya. Sepercik pantun buat anda: Orang takut pada daging babi, Tapi tidak takut pada judi dan korupsi. Wartakan Injil dengan mengasihi, Jangan ajarkan orang untuk membenci. Wonogiri, selalu dengan bahasa kasih Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 24 April 2026
Jum’at Paskah III Yohanes 6:52-59 EMPAT orang buta piknik ke Kebun Binatang. Mereka ingin ketemu dengan gajah. Mereka meraba-raba binatang itu dan diminta memberi diskripsi tentang gajah. Orang pertama memegang belalainya, dia berkata,”Gajah itu panjang bentuknya dan ada lubang di ujungnya.” Orang kedua meraba-raba telinga gajah, dia berkata, “Gajah itu tipis dan lebar seperti daun.” Yang ketiga memegang perut gajah, dia berkata, “Gajah itu besar dan tambun.” Orang keempat meraba ekornya, dia berkata; “Gajah itu pendek dan kecil, ada rambut di ujungnya.” Masing-masing berdebat menurut persepsinya sendiri. Apa yang dia raba dengan panca inderanya, itulah yang dapat disimpulkannya. Mereka menilai dari sudut pandang masing-masing yang sangat terbatas pada penangkapan inderawinya. Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” Mereka tidak mengerti kata-kata Yesus bahwa Dialah Roti Hidup. Mereka hanya melihat Yesus sebagai manusia biasa. Mereka berpikir hanya dengan sudut mata inderawinya saja. Mereka tidak mengerti apa yang disampaikan Yesus di rumah ibadat Kapernaum itu. Kita mesti melihat dengan cara pandang Yesus. “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” Untuk memahami kata-kata-Nya ini, kita mesti tinggal di dalam Dia. “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” Kalau orang-orang buta itu tidak hidup dan tinggal dengan gajah, mereka tidak akan tahu gajah itu seperti apa. Sama seperti kita, kalau kita tidak percaya bahwa Hosti dan Anggur yang dikonsekrir itu adalah Tubuh dan Darah-Nya, kita tidak bisa hidup dan tinggal di dalam-Nya. Kalau kita bisa melihat dengan mata iman bahwa dalam Ekaristi kita benar-benar menerima Tubuh dan Darah Kristus, maka kita akan menerima hidup kekal. Yesus akan membangkitkan kita pada akhir zaman. Yang kita butuhkan adalah metanoia atau pertobatan batin yang terus menerus agar kita percaya penuh kepada Tuhan Yesus Kristus. Tidak hanya melihat menurut mata inderawi saja, tetapi melihat dengan mata rohani yang makin tajam dan peka. Apakah anda menggunakan mata iman dan yakin bahwa Ekaristi adalah pemberian Diri Kristus yang akan menyelamatkan kita? Sepercik pantun buat anda: Gunakanlah mata batin yang peka, Jangan cuma pakai kacamata kuda. Yesus adalah Roti Hidup bagi dunia, Tubuh dan Darah-Nya menebus kita. Wonogiri, jangan jadi orang buta Rm. A.Joko Purwanto,Pr Puncta 23 April 2026
Kamis Paskah III Yohanes 6:44-51 DALAM tradisi Gereja abad-abad permulaan, kita menemukan banyak gambar, ukiran, patung dan cerita tentang burung pelikan yang mengorbankan dirinya untuk kehidupan anak-anaknya. Lambang itu bisa kita jumpai di altar, di tabernakel, dinding gereja dan benda-benda liturgis lainnya. Tongkat kegembalaan Uskup Agung Semarang juga mengambil ukiran burung pelikan. Di dinding atas pintu ruang perjamuan terakhir Yesus dengan murid-murid-Nya di Yerusalem juga ada ukiran burung pelikan. Simbolisme kisah burung pelikan yang memberikan darahnya untuk menghidupi anak-anaknya pada masa kelaparan dipakai sebagai gambaran Yesus Kristus yang mengorbankan Diri-Nya untuk menebus dosa umat manusia. Dikisahkan pada masa kekeringan dan kelaparan, anak-anak pelikan hampir mati karena tidak ada makanan. Induk pelikan itu melukai temboloknya sendiri dengan ujung paruhnya sehingga keluar darah segar. Anak-anak pelikan itu minum darah induknya agar bisa bertahan hidup. Induk Pelikan itu mati demi masa depan anak-anaknya. Burung pelikan melambangkan Tuhan Yesus, Penebus kita, yang memberikan hidup-Nya untuk menyelamatkan kita dan berkat kematian-Nya kita bisa hidup sebagai anak-anak Allah. Yesus berkata, “Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Yesus Kristus telah memberikan Tubuh dan Darah-Nya. Ia menebus kita dengan kematian-Nya. Ekaristi adalah tempat yang istimewa, dimana kita bisa menerima Tubuh dan Darah-Nya. Dalam Ekaristi kita ditebus dan diampuni serta dihidupkan kembali. SantoThomas Aquinas menegaskan pengorbanan Yesus dalam himne “Adoro Te Devote.” Lirik lagunya berkata, “Pie pelicane, Iesu Domine, Me immundum munda tuo sanguine, Cuius una stilla salvum facere, Totum mundum quit ab omni scelere.” “Wahai Pelikan yang Baik, Tuhan Yesus, Sucikanlah aku yang najis ini dengan darah-Mu: Satu tetes saja (darah-Mu) mampu menyelamatkan, Seluruh dunia dari segala dosa..” Kita semua adalah anak-anak pelikan yang haus dan kelaparan. Marilah kita datang kepada Yesus, Sang Pelikan penuh cinta. Dia mengundang kita dalam Ekaristi-Nya, karena di sana Ia memberikan tubuh dan darah-Nya untuk menebus dosa-dosa kita. Sepercik pantun buat anda: Pejabat hidup berkelimpahan harta, Rakyat bawah harus berjuang sekuat tenaga. Pengorbanan Yesus tiada batasnya, Menebus kita dengan tubuh dan darah-Nya. Wonogiri, Pelikan yang baik hati Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 22 April 2026
Rabu Paskah III Yohanes 6:35-40 SEORANG sahabat terkena sakit kanker. Ia sudah divonis dokter. Suatu kali dia minta kepada istrinya untuk mengundang rama merayakan Ekaristi di rumahnya. Bersama beberapa teman kami merayakan Ekaristi, sementara dia terbaring di kamarnya. Begitu ajaibnya, beberapa waktu setelah Ekaristi itu keadaannya mulai membaik. Dia mulai bisa duduk, berlatih berjalan dan sedikit berbicara. Ini semua sangat menggembirakan. Kami merasa daya Ekaristi sungguh luar biasa. Di Paroki saya, ada sepasang suami istri yang setiap hari rajin ke gereja mengikuti Ekaristi. Saya bertanya kepada sang suami, kenapa tiap hari rajin berdua ikut Ekaristi pagi? Bapak itu menjawab, “Rama, istri saya pernah mengalami kecelakaan yang hampir merenggut jiwanya. Kami merasa ini adalah anugerah Tuhan yang memberinya kesempatan kedua untuk hidup. Kami harus datang kepada Yesus seolah-olah hari esok sudah tidak ada lagi.” Saya jadi ingat lirik lagu berjudul “If Tomorrow Never Come.” If tomorrow never comes, will she know how much I loved her. Did I try in every way to show her every day that she's my only one and if my time on earth were through and she must face this world without me. Is the love I gave her in the past, gonna be enough to last, If tomorrow never comes. Pasutri itu rajin datang menyambut Kristus Sang Roti Hidup, seolah-olah esok hari sudah tidak akan datang lagi. Mereka menyiapkan diri untuk keselamatan kekalnya dengan menyambut Tubuh Kristus Roti Kehidupan setiap pagi. Yesus telah bersabda, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.” Santo Yohanes Maria Vianey pernah berkata, “Orang yang tidak datang dan menyambut komuni itu seperti orang yang sekarat dan kehausan yang berada di tepi sumber mata air.” Ekaristi adalah sumber mata air. Kalau kita kehausan kita tinggal datang kepada Yesus dalam Ekaristi. Jangan kita seperti pepatah yang berkata, “anak ayam mati di lumbung padi." Yesus adalah lumbung sumber kehidupan kita, marilah kita datang kepada-Nya agar kita memperoleh hidup dalam segala kepenuhannya. Sepercik pantun buat anda: Jangan tertipu oleh rayuan bunga bank tinggi, Belajarlah dari Sr.Natalia yang nabung di BNI. Yesus selalu hadir dalam perayaan Ekaristi, Dialah sumber hidup yang tak pernah berhenti. Wonogiri, Yesus sang sumber air hidup Rm. A.Joko Purwanto,Pr Puncta 21 April 2026
Selasa Paskah III Yohanes 6:30-36 SETIAP orang membutuhkan makanan, karena makanan adalah kebutuhan pokok agar manusia bisa hidup. Roti adalah makanan pokok orang Yahudi. Berbicara tentang roti pasti mereka teringat akan manna, roti yang diberikan Musa di padang gurun. Setelah peristiwa pergandaan lima roti dan dua ikan, mereka mencari Yesus untuk menjadikan-Nya raja, agar dapat membuat mukjizat terus dan mengenyangkan mereka setiap hari. Mereka hanya berpikir tentang kebutuhan jasmani saja. Yesus mengarahkan perdebatan dengan mereka agar orang-orang Yahudi mempunyai pemahaman yang benar bahwa bukan Musa yang memberi roti tetapi Allah Bapa di sorga yang memelihara hidup mereka. Kalau dahulu Allah memberi manna, sekarang Allah yang sama memberikan Yesus sebagai Roti Hidup yang akan menjamin keselamatan sampai pada hidup yang kekal. “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku ia tidak akanhaus lagi.” Yesus mengungkapkan Diri-Nya sebagai Roti Hidup. Dengan menyejajarkan peristiwa manna di padang gurun, Yesus mewahyukan Diri-Nya sebagai Roti yang turun dari sorga. Barangsiapa datang kepada Yesus dan percaya kepada-Nya akan memperoleh hidup yang kekal. Sebagaimana yang diyakini Stefanus pada bacaan pertama, ia mengikuti Yesus dengan iman yang teguh. Kematiannya menyerupai kematian Yesus di salib. Stefanus menyerahkan rohnya ketika dirajam sama seperti Yesus yang berdoa, 'Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan rohku'.” Yesus mengampuni para pembunuh-Nya, demikian juga Stefanus mendoakan mereka yang melempari batu kepadanya. 'Tuhan, janganlah Engkau menuntut dosa ini kepada mereka' kata Stefanus menjelang ajanya. Yesus adalah sumber hidup yang memberi keselamatan kekal kepada siapapun yang percaya kepada-Nya. Sebagaimana Stefanus yang percaya pada Yesus, ia menyatukan hidupnya kepada Kristus. Ia pun mati menyerupai cara-Nya karena dia percaya Yesuslah Jalan Kebenaran. Yesuslah Sang Roti Hidup itu sendiri. Sepercik pantun buat anda: Kalau sedang jalan-jalan di kota Paris, Jangan lupa ke Galeries Lafayette membeli syal. Yesus tidak memberi makan bergizi gratis, Ia mengorbankan Diri-Nya demi kehidupan kekal. Wonogiri, Yesus adalah roti kehidupan Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 20 April 2026
Senin Paskah III Yohanes 6:22-29 KETIKA masuk ke seminari, para calon ditanya apa motivasinya. Saya waktu itu ditanya oleh Romo Rektor Julius Darmaatmaja SJ. “Kok pengin jadi rama, apa motivasimu Joko?” Saya dengan mantap bercerita bahwa Rama Paroki sering berkunjung ke keluarga. Waktu kunjungan itu, bapak saya memotong ayam untuk disajikan. Ibu memasak makanan yang enak-enak. Pikir saya waktu itu, senang jadi rama karena bisa makan sisanya rama yang lezat. Dulu kami jarang makan daging ayam atau telurnya. Makan telur ayam kalau pas ada kenduri dari tetangga yang punya hajat. Itupun seperempat telur masih dibagi empat dengan adik-adik saya. Maka saya pengin jadi rama supaya bisa makan yang enak-enak. Orang-orang mencari Yesus. Setelah pergandaan lima roti dan dua ikan, mereka semua makan kenyang. Maka mereka ingin mengangkat Yesus menjadi raja. Mereka menganggap Yesus bisa memenuhi kebutuhan mereka. Tetapi Yesus membongkar motivasi dasar mereka. Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.” Mereka tidak bisa mengenal siapa Yesus tetapi karena mereka dikenyangkan oleh roti yang diberikan Yesus. Motivasi mereka bukan utuk mengikuti Yesus sebagai Utusan Allah, tetapi karena mereka sudah dikenyangkan. Mereka bertanya, apa yang harus kami perbuat? supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" Seolah dengan banyak prestasi kita bisa menyenangkan Allah. Namun bukan prestasi yang dikehendaki Yesus melainkan iman. Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah." Iman kepada Yesus yang telah diutus oleh Bapa itulah yang harus menjadi motivasi dasarnya. Setelah menjalani imamat bertahun-tahun, saya makin menyadari bukan karena makan enak, fasilitas lengkap atau posisi jadi petinggi gerejalah yang paling penting, tetapi percaya bahwa Yesuslah yang memanggil untuk mengikuti Dia dengan setia. Mari kita terus menerus memurnikan motivasi kita untuk mengikuti Dia yang menjamin keselamatan hidup kita sampai pada Kerajaan Bapa. Sepercik pantun buat anda: Bermain layang-layang dari kertas, Terbawa angin sampai lepas. Jadi imam bukan karena fasilitas, Tetapi mau melayani tanpa batas. Wonogiri, apa motivasimu? Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed