|
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
17 Comments
Puncta 16 Maret 2026
Senin Prapaskah IV Yohanes 4:43-54 SEMAR ingin membangun kahyangan. Ia minta kepada Petruk dan Bagong datang ke Amarta dan mohon kepada Prabu Yudistira untuk meminjamkan pusaka Jamus Kalimasada. Maksud Petruk dan Bagong dihalangi oleh Prabu Kresna yang juga ingin memboyong pusaka Jamus. Maka terjadilah rebutan antara Petruk yang didukung anak-anak Pandawa dengan Kresna gadungan yang hanya ingin merebut pusaka Jamus. Mereka bermaksud memboyong pusaka itu dengan keyakinan siapa yang dikawal pusaka ini akan berhasil hidupnya. Pusaka itu jadi rebutan untuk dibawa ke tempat asal mereka masing-masing. Tidak berhasil membawa pusaka artinya tidak akan mengalami ketentraman hidup dan gagal membangun kahyangan. Dalam perikope Injil hari ini, Yesus diminta oleh kepala rumah ibadat untuk menyembuhkan anaknya yang hampir mati di rumahnya. Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, anakmu hidup!" Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. Yesus menyembuhkan dari jarak jauh. Ia tidak harus datang langsung ke rumah kepala ibadat. Hanya dengan berkata, "Pergilah, anakmu hidup!" anak itu langsung sembuh. Kuasa Allah mengatasi ruang dan waktu. Tidak seperti pusaka Jamus yang harus “cumondok” hadir langsung, dengan bersabda saja anak itu sembuh. Yang dibutuhkan adalah percaya. Kepala rumah ibadat itu percaya tanpa ragu dengan kata-kata Yesus. Ia langsung pulang ke rumah dan mendapati anaknya sudah sembuh. Iman yang dihayati kemudian diwartakan kepada seluruh isi rumahnya dan mereka menjadi percaya. Sabda atau Firman Allah sungguh berkuasa. Apakah kita percaya pada Firman Tuhan walaupun kita tidak langsung berhadapan dengan Allah, tetapi Firman-Nya bisa menyembuhkan dan menyelamatkan kita. Sepercik pantun untuk direnungkan: Orang mengkritik pedas kata-katanya, Tapi sayang sering tidak pakai logika. Percaya tidak membutuhkan tanda, Ia hanya taat pada Allah yang bersabda. Wonogiri, percaya saja Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 15 Maret 2026
Minggu Prapaskah IV Minggu Laetare Yohanes 9:1.6-9.13-17.34-38 SEORANG jubir pers kepresidenan AS, Karoline Leavitt mengomentari pernyataan Paus Leo XIV bahwa kebijakan publik harus didasarkan pada etika moral, belas kasih dan tanggung jawab sosial, dan kesenjangan yang makin lebar antara retorika politik dan perjuangan sehari-hari yang dihadapi banyak orang. “Dia hanya tokoh agama. Itu tidak membuatnya berhak untuk ikut campur dalam kebijakan publik. Dia seharusnya fokus memimpin Gereja. Masalah-masalah serius harus diserahkan kepada para profesional,” kata Leavitt. Tetapi jawaban Paus membuat semua orang hening dan tercenung. “Saya bukan ‘sekadar tokoh agama.’ Saya adalah pelayan bagi jutaan orang di seluruh dunia. Saya adalah saksi atas perjuangan, ketakutan, dan harapan mereka.” “Iman tidak pernah terpisah dari masyarakat,” kata Paus. “Iman hidup dalam komunitas kita—dalam cara kita memperlakukan orang miskin, orang yang rentan, dan mereka yang merasa tidak didengar. Para pemimpin spiritual tidak berhenti menjadi warga dunia hanya karena mereka mengenakan pakaian keagamaan,” lanjutnya. Perlakuan tidak adil terhadap orang miskin, sakit, menderita, rentan terlukis dalam peristiwa Yesus menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya. Kaum Farisi menghakimi si buta sebagai orang berdosa. "Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?" Mereka juga menyalahkan Yesus karena menyembuhkan orang pada hari sabat. Sikap ini sama sama seperti Leavitt yang menyatakan bahwa Paus tidak berhak berbicara tentang politik dan kebijakan publik serta masalah-masalah hak asasi manusia yang rentan. Paus berkata, “Iman tidak terpisah dari kehidupan masyarakat.” Ini adalah amanat Konsili Vatikan II dalam Gaudium et Spes. "Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga." Penyembuhan orang buta justru menumbuhkan iman yang makin mendalam. Orang buta itu mengungkapkan kepercayaannya bahwa Yesus adalah seorang nabi dan Anak Manusia. Ketika orang Farisi bertanya siapa yang memelekkan matamu, dia menjawab, "Ia adalah seorang nabi." Juga ketika Yesus bertanya, "Percayakah engkau kepada Anak Manusia?" Katanya: "Aku percaya, Tuhan!" Lalu ia sujud menyembah-Nya. Orang yang buta itu malah percaya pada Tuhan. Tetapi orang-orang yang tidak buta matanya justru tidak mau percaya seperti kaum Farisi. Apakah anda percaya bahwa Yesus mampu mengubah hidup anda menjadi lebih baik? Apakah mata batin anda terbuka akan karya Tuhan yang menyelamatkan anda? Ataukah anda bersikap skeptis dan tidak mau percaya seperti kaum Farisi? Sepercik pantun untuk direnungkan: Perang hanya membawa korban, Rakyat menderita tak ada masa depan. Lebih baik buta tetapi diselamatkan, Daripada melek tapi tak melihat Tuhan. Wonogiri, iman tumbuh makin dalam Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 14 Maret 2026
Sabtu Prapaskah III Lukas 18:9-14 PERDANA menteri Spanyol adalah satu-satunya pemimpin dunia yang terang-terangan menolak terlibat dalam perang antara Amerika versus Iran. “No war” katanya tegas dan jelas. Ia tidak mau pangkalan militer Rota dan Moron di Spanyol dijadikan pangkalan Amerika untuk menyerang Iran. Sikap yang berbeda itulah yang ditunjukkan sang perdana menteri kepada Donald Trump. Berbeda dengan Indonesia. Walaupun berteriak-teriak ingin menjadi mediator tetapi kita seperti macan ompong yang tidak punya gigi. Jadi mediator itu harus duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Lah kita? Kita malah mengikut dan merunduk pada keinginan Amerika; setor trilyunan rupiah sebagai anggota Board of Peace dan tunduk pada peraturan pajak perdagangan yang ditentukan Donald Trump. Kita hanya banyak omon-omon tetapi gak punya power di dunia internasional. Seperti dua orang yang pergi ke bait Allah, kita ini seperti kaum Farisi yang menyombongkan dirinya sendiri. Kita membusungkan dada tapi gak punya muka. Kita menyebut diri paling penting dan hebat. Tapi malah jadi bahan candaan di stand up comedy Jimmy Kimmel Live. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Berbeda dengan Pedro Sanchez, PM Spanyol yang tegas berkata, “No War.” Dia sadar bahwa perang hanya menghancurkan dan tak ada yang diuntungkan. Apa yang terjadi waktu perang Irak dapat jadi pelajaran berharga. Cukup sudah perang harus dihentikan. Keputusannya tegas menolak pangkalan militernya dipakai Amerika demi perdamaian kawasan. Pedro Sanchez bisa diibaratkan seperti pemungut cukai yang berdiri jauh-jauh dan memukul dirinya dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Ia menyadari diri sebagai orang berdosa yang tidak pantas di hadapan Tuhan. Ia merasa tidak berhak memusuhi dan membunuh orang lain. Yang satu menyombongkan diri, yang lain merendahkan dirinya. Yesus menegaskan, “Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." Apakah kita akan ikut-ikutan sombong atau maukah kita merendahkan diri di hadapan Tuhan dan berani mengasihi sesama dengan menjaga damai? Pilihan itu yang akan menentukan sikap kita. Tak ada gunanya makan bergizi, Kalau otak pikirannya hanya korupsi. Kembangkan semangat rendah hati, Daripada sombong hanya dicaci maki. Wonogiri, filosofi padi yang bernas Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta, 13 Maret 2026
Jum’at Prapaskah III Markus 12:28b-34 DUNIA yang makin tua ini tidak semakin bijaksana tetapi malah semakin gila. Dunia kita tidak menunjukkan kasihnya tetapi justru menebarkan permusuhan dan kebencian. Sangat jelas hal ini ditunjukkan oleh serangan Amerika ke Iran. Donald Trump tidak mengajarkan kita tentang kasih. Tetapi dia memberi contoh buruk dengan mengobarkan peperangan dan penindasan. Amerika bukanlah negara adidaya. Tetapi dia adalah negara yang ketakutan menghadapi persaingan dunia. Dia berusaha menghancurkan siapa saja yang tidak mau tunduk kepada kemauannya. Venezuela dibuat ketakutan. Presidennya diculik karena tidak tunduk ke Amerika. Sekarang Iran dibombardir dan dihancurkan. Tindakan ini adalah contoh buruk bagi generasi muda sekarang. Seolah semua masalah hanya bisa diatasi dengan senjata perang. Perang ini bukan menyelesaikan masalah, tetapi akan menambah masalah. Trump tidak memikirkan penderitaan rakyat kecil. Korban perang adalah rakyat kecil yang tidak berdosa. Bagi Trump rakyat hanyalah obyek demi memuaskan kepentingannya. Pendekatannya adalah untung rugi. Yang tidak menguntungkan dianggap sebagai musuh yang harus dihancurkan. Berbeda dengan cara pandang Allah. Hukum kasih adalah yang terutama. Maka ketika Yesus ditanya tentang hukum yang paling utama, Dia mengutip Taurat. “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu , dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Cara berpikir (mindset) menentukan cara bertindak. Yesus berpikir dengan cara pandang Allah. Ia bertindak dengan kasih. Ia memperlakukan manusia dengan kasih. Trump memikirkan kepentingan sendiri. Ia memperlakukan manusia semaunya sendiri. Kita harus tunduk kepada Allah dan mengasihi sesama sebagaimana Allah mengasihi kita. Hukum kasih ada di atas segalanya. Ayo sekolah bersama Nobita, Biar dapat makan buatan Gianti. Kasihilah sesamamu manusia, Seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Wonogiri, kasihi sesamamu Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 12 Maret 2026
Kamis Prapaskah III Lukas 11:14-23 ORANG yang sirik, irihati dan pembuat masalah itu hampir selalu ada di mana-mana. Di komunitas, gereja, organisasi, kelompok dan masyarakat. Ada orang yang tidak suka melihat keberhasilan dan kesuksesan orang lain. Yang ada hanya irihati dan sirik. Ketika Pandawa diberi tanah perdikan di hutan (alas) Wanamarta, agar mereka membangun kerajaan disana, Para Kurawa mencoba mengganggunya. Tetapi atas usaha keras Pandawa, hutan “gung liwang liwung” berubah menjadi Kerajaan yang megah dan makmur. Kurawa merasa irihati atas keberhasilan Pandawa. Mereka berusaha merebut dan menguasai dengan cara licik bermain judi. Sengkuni yang pandai berjudi bermain licik dan curang. Ia berhasil mengelabui dan mengalahkan Pandawa. Orang-orang Farisi dan para ahli kitab merasa irihati melihat Yesus menyembuhkan orang bisu dan berhasil mengusir setan yang membisukan. Mereka menuduh Yesus menggunakan kuasa penghulu setan yaitu Beelzebul. Ada di antara mereka (para ahli kitab dan orang-orang Farisi) yang berkata: "Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan." Ada pula yang meminta suatu tanda dari sorga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Mereka mengobarkan permusuhan dan menyulut masalah dengan berargumentasi bahwa Yesus bersekutu dengan penghulu setan. Orang yang irihati merasa takut dan terancam kalau ada orang berhasil dan sukses. Mereka memfitnah untuk menjatuhkan. Yesus menegaskan kalau sebuah kerajaan terpecah belah, pastilah runtuh. Kalau keluarga saling bertengkar pasti tidak akan kuat. Begitu juga kalau setan saling berebut kuasa, pasti akan berantakan. Apa yang dilakukan Yesus justru menegaskan bahwa Kerajaan Allah sudah datang. Kuasa setan sudah dikalahkan oleh karya dan hadirnya Yesus yang menyembuhkan orang. Semestinya kita bisa bernalar secara positif dan rela mengakui kuasa Allah. Kaum Farisi tidak mau rendah hati. Mereka sombong dan tegar hati, tidak mau percaya atas kuasa Tuhan dalam diri Yesus dari Nasaret. Mari kita belajar rendah hati dan berpikir positif agar dengan jernih mengakui kedaulatan Tuhan. Sepercik pantun buat anda; Banyak sengkuni-sengkuni berkeliaran, Mereka menyebarkan fitnah dan permusuhan. Mari mengikuti Yesus, jangan ikut setan. Buah iman adalah memperoleh keselamatan. Wonogiri, mau ikuti sengkuni? Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 11 Maret 2026
Rabu Prapaskah III Matius 5:17-19 SERING terjadi kalau ada orang yang mengkritik dengan keras kebijakan pemerintah, orang itu dituduh melawan hukum atau undang-undang. Kritik dipandang sebagai perlawanan bukan sebagai ruang untuk mencari kebenaran. Orang yang mencari kebenaran, kejujuran dan pertanggungjawaban malah disingkirkan. Kita belajar dari tokoh-tokoh kritis seperti Munir, Pak Hoegeng, polisi yang jujur dan tegas. Mereka disingkirkan. Padahal mereka berusaha menegakkan hukum sebagai pilar kebenaran. Begitulah sikap para ahli kitab dan orang-orang Farisi terhadap Yesus. Mereka menuduh Yesus ingin menghilangkan hukum Taurat. Yesus tidak hanya membaca tulisan atau huruf-huruf dalam Taurat. Tetapi Dia menjalankan inti dari ajaran Taurat. Kasih itulah kebenaran Taurat. Namun tindakan kasih itu dianggap melenceng dari ajaran Taurat. Misalnya, Yesus dituduh akan menghapus hukum Sabat, karena dia sering menyembuhkan orang pada hari Sabat. Mereka beranggapan Yesus mau menghapus aturan sabat dan meniadakannya. Dalam kotbah di bukit, Yesus menjelaskan bahwa Ia tidak akan menghapus hukum Taurat, tetapi Dia justru ingin menggenapinya. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Seringkali terjadi ada orang yang ingin meluruskan undang-undang atau menjalankan hukum dengan benar malah dituduh PKI, difitnah, diteror, diintimidasi dan disingkirkan. Asal tidak sesuai dengan kebijakan penguasa dituduh makar dan memberontak. Semestinya kita terbuka pada opsi demi kebenaran hukum dan kebaikan bersama di tengah masyarakat. Tindakan demi memurnikan hukum atau undang-undang tidak boleh dipandang sebagai merongrong kewibawaan penguasa. Tetapi cara memurnikan arah dan cita-cita bersama. Mungkin para ahli kitab dan orang-orang Farisi itu takut kehilangan kewibawaan karena mereka justru yang telah melenceng jauh dari hukum Taurat. Maka jika ada orang yang ingin menggenapi dan menyempurnakan dianggap sebagai tantangan dan mengusik ketenangan. Makan gratis tidak disukai anak didik, Dibawa pulang dimakan ayam dan itik. Pemimpin yang jujur tidak takut kritik, Diterima sebagai masukan yang baik. Wonogiri, sabar mendengar kritik Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 10 Maret 20206
Selasa Prapaskah III Matius 18:21-35 KASIH pengampunan Allah itu sungguh luar biasa, tak ada habis-habisnya. Manusia hanya bisa mengampuni sekali dua kali saja. Seperti Petrus yang bertanya sampai tujuh kalikah? Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, tetapi tujuhpuluh kali tujuh kali.” Hal ini digambarkan oleh Yesus dengan sikap raja yang membebaskan hambanya yang berhutang kepadanya. Hamba itu punya hutang 10.000 talenta. Satu talenta itu setara dengan 6.000 dinar. Upah buruh satu hari adalah satu dinar. Jadi hamba itu berhutang 60.000 hari kerja. Itu berarti hampir 165 tahun masa kerja. Hamba itu tidak mampu mengembalikannya. Ia memohon kepada raja untuk bersabar. Raja itu dengan belaskasihnya membebaskan hutangnya. Namun hamba yang jahat itu justru menghukum temannya yang berhutang 100 dinar kepadanya. Ia menjebloskan temannya ke dalam penjara sampai dilunasi hutangnya. Raja marah mendengar hambanya bertindak kejam terhadap temannya. “Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?” Sifat manusia itu senang melihat orang lain menderita. Ia tidak ingin melihat keberhasilan orang lain. Kalau ada kesempatan menjegal teman, itu digunakan secepat mungkin. Hamba itu tidak mau mengasihani temannya. Padahal dia sendiri sudah dikasihani. Yesus menghendaki agar kita meneladan sikap Allah Bapa yang penuh belas kasih. Bapa telah mengasihi kita, maka kita pun diajak mengasihi sesama. Tindakan hamba yang jahat dan bengis itu tidak boleh ditiru. Kalau kita tidak mau mengampuni, Bapa juga tidak akan mengampuni kita. Yesus mengajak murid-murid-Nya menjadi sempurna sebagaimana Bapa sempurna adanya. Kalau kita mau, kita pasti bisa. Kita mulai dengan mendoakan orang yang bersalah kepada kita. Dengan mendoakannya, kita sudah membuka hati yang baik terhadapnya. Banyak orang pergi ke Arafah, Bersujud untuk mencari berkah. Mengampuni itu bukan kalah, Kita memenangkan hati yang salah. Wonogiri, mari terus mengampuni Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 9 Maret 2026
Senin Prapaskah III Lukas 4:24-30 MENGAPA banyak francise kuliner asing merambah di pelosok-pelosok daerah kita? Sebutlah seperti KFC, MacDonald, Starbuck atau Sushi, Ramen, Sashimi, Tempura, dan Yakitori, Shabu-shabu, Sukiyaki, dan Oden dari Jepang. Juga makanan ala Korea seperti Kimchi, Bulgogi – Daging Sapi yang Manis dan Gurih, Bibimbap, Tteokbokki, Jjajangmyeon? Itu baru soal makanan. Pakaian, asesoris, barang-barang branded semua luar negeri. Karena kita punya mental tak menghargai milik kita sendiri. Jiwa kita masih jiwa feodal, terjajah dan minder. Kita baru ribut kalau kesenian reog diakui di Negeri Jiran atau gamelan dimainkan dengan apik oleh kaum bule atau orang-orang Jepang. Tetapi di negeri sendiri, barang itu disingkiri dan asing. Saya jadi ingat lagu berjudul Singkong dan Keju, yang dilantunkan oleh Ari Wibowo. Lagu ini berupa sindiran bagi kita yang lebih luar negeri minded daripada menghargai produk dalam negeri yang menjadi buah tangan sendiri. "Parfummu dari Paris (hm). Sepatumu dari Itali. Kaubilang, "Demi gengsi". Semua serba luar negeri Manakah mungkin. Mengikuti caramu yang penuh hura-hura Aku suka jaipong. Kau suka disko, oh (oh), oh Aku suka singkong. Kau suka keju, oh (oh), oh Aku dambakan seorang gadis yang sederhana Aku ini hanya anak singkong. Aku hanya anak singkong." Yesus juga mengkritik orang-orang pada zaman itu yang tidak menghargai nabi di daerahnya sendiri. Kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.” Dia memberi contoh bagaimana Nabi Elia membuat hujan turun di negeri asing dan menolong janda di Sarfat karena tidak dipercaya di Israel sendiri. Nabi Elisa menyembuhkan Naaman orang Siria sementara banyak orang kusta yang sakit di Israel. Kalau kita tidak bisa menghargai diri kita sendiri, lalu siapa yang akan menghargai martabat dan buah karya kita? Begitupun orang-orang Yahudi tidak mau percaya dan menghargai Kristus, Nabi yang diutus Allah. Kita kadang juga tidak menghargai iman kita sendiri. Merasa kegiatan itu hanyalah hal rutinitas belaka, aktivitas rohani terasa hambar hanya begitu-begitu saja. Kalau tidak hati-hati, kita juga seperti orang-orang Yahudi yang hilang kepercayaan pada Yesus. Mari kita cintai dan hargai iman kita sendiri. Kita pasti bisa melihat karya-karya ajaib Tuhan yang terjadi pada hidup kita. Tari reog dibawa ke Malaysia, Kita sendiri sudah kehilangan budaya. Yesus buat mukzijat dimana-mana, Di Nasaret orang malah tidak percaya. Wonogiri, hargai budaya kita Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 8 Maret 2026
Minggu Prapaskah III Yohanes 4:5-42 KALAU kita masuk pelataran Gereja Pugeran, di sana ada sumur Yakub, yang sering ditimba airnya oleh Pak Pur yang buka warung angkringan di depan gereja. Air dari sumur ini ditimba, dimasak menjadi minuman teh “nasgithel” yang legend sejak tahun 1954. Sekarang dikelola oleh Bu Ranti, generasi kedua yang melanjutkan. Banyak pengunjung datang ke warung menikmati segelas teh dari air sumur Yakub. Sumur memiliki makna rohani yang dalam. Tidak sekedar air tawar, tetapi dia adalah air kehidupan. Sumur melambangkan kedalaman rohani dan sumber inspirasi. Sumur adalah tempat perjumpaan manusia dengan Yang Ilahi. Kadang ada doa-doa dilakukan di sumur. Sesajen juga ditaruh di sumur sebagai doa syukur dan permohonan agar Tuhan mengalirkan anugerah-Nya tanpa henti. Yesus berjumpa dengan wanita Samaria di sumur Yakub. Perjumpaan yang mengarah pada pengenalan akan Allah yang sejati dan penyembahan yang benar. Dialog dimulai dari air di sumur itu. Yesus meminta kepada wanita itu, “Berilah Aku minum.” Sapaan yang manusiawi dan alami. Dari pembicaraan ringan menjadi dialog yang serius. Dari ngomong tentang air minum menjadi air kehidupan. Dari tidak kenal, tak bertegur sapa menjadi akrab sangat mendalam. Wanita Samaria itu dari pribadi yang tertutup menjadi terbuka. Dari tidak percaya menjadi pewarta kabar sukacita. Yesus mewahyukan dirinya secara perlahan-lahan melalui dialog yang tidak menghakimi walau latar belakang kehidupan wanita itu sangat gelap dan suram. Yesus memperkenalkan Allah yang mengampuni dan mengasihi. Allah tidak disembah dalam batu dan hukum, tetapi Allah yang hadir di dalam hati setiap orang. Wanita itu menjadi yakin bahwa Yesus adalah Mesias yang ditunggu-tunggu Israel. Ia kembali ke kampung dan mengabarkan kepada semua orang. Mereka berbondong-bondong datang kepada Yesus. Mereka menjadi percaya. "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia," kata orang banyak itu. Iman adalah proses pengenalan akan Tuhan. Ia tidak berhenti atau disimpan untuk diri sendiri. Tetapi diwartakan kepada semua orang, agar mereka juga mengenal Tuhan. Kita bisa menjadi wanita Samaria. Kita bisa membuka hati pada Tuhan dan memberitakan kasih-Nya pada sesama. Percik pantun untuk renungan: Minum teh di depan Pugeran, Sambil melihat mobil lalu lalang. Wanita Samaria memiliki iman, Ia wartakan kepada semua orang. Wonogiri, iman yang terus berkembang Rm. A.Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed