|
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
18 Comments
Puncta 10 Mei 2026
Minggu PaskahVI Hari Minggu Panggilan Yohanes 14:15-21 LAGU ini adalah slogan sakral bagi fans atau pecinta Klub Sepakbola Liverpool, Inggris. Dalam lagu ini melekat semangat solidaritas, kebersamaan dan kesetiaan. Tidak hanya di lapangan bola, tetapi dalam setiap nadi kehidupan para pengagum The Reds. Kopites dan Anfield Gang, sebutan para fans Liverpool dipersatukan dengan nyanyian magis di stadion dengan lagu You’ll Never Walk Alone. Pemain dan pendukung memiliki nafas bersama dalam setiap pertandingan. You’ll Never Walk Alone seperti ikrar kesetiaan bersama menghadapi kegagalan dan kemenangan komunitas besar Liverpool. Dalam setiap langkah mereka tidak pernah merasa sendirian. Lirik "Walk on through the wind, walk on through the rain" menggambarkan semangat untuk terus maju meskipun hujan dan badai menghadang. Bagi para pecinta Liverpool, ini adalah pesan kuat bahwa tak ada halangan yang tak bisa diatasi. Lagu ini mengajarkan kita untuk tetap berjalan bersama, bahkan ketika langit mendung sangat gelap. Kita tak berjalan sendiri, tetapi ada teman yang menggandeng tangan kita. “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu,” pesan Yesus pada para murid-Nya. Yesus tidak akan membiarkan kita sebagai yatim piatu. Ia tidak akan tega kita berjalan sendirian. Ia akan menemani kita dengan Roh Kebenaran, yaitu Roh Kudus yang diutus Bapa untuk kita. Seperti “The Anfield Anthem; You’ll Never Walk Alone” yang menyatukan tim dengan pecinta Liverpool, demikian pula Yesus bersatu dengan kita di setiap langkah hidup kita. “Aku akan menyertai kamu selama-lamanya.” Sadarkah kita bahwa Yesus selalu berjalan bersama kita, bahkan ketika ada badai kehidupan sedang menimpa kita? Ingatlah sabda-Nya ini “Aku akan menyertai kamu selama-lamanya.” You’ll never walk alone. Sepercik pantun buat anda: Naik kereta menuju ibukota, Menikmati sawah hijau di depan mata. Dalam setiap langkah hidup kita, Tuhan selalu berjalan bersama-sama. Wonogiri, you’ll never walk alone Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 9 Mei 2026
Sabtu Paskah V Yohanes 15:18-21 MARTIN Luther King Jr (1929-1968) adalah tokoh gerakan sipil yang anti kekerasan di Amerika. Ia melihat ketidakadilan yang terjadi di tengah masyarakat karena perbedaan warna kulit pada masa itu. Ia menyuarakan kesamaan hak sipil bagi siapapun tanpa membedakan unsur SARA. Masyarakat kulit hitam diperlakukan tidak adil dan tidak memperoleh kebebasan dalam hak-hak sipil mereka. Pemicu terjadinya protes yang dipimpin Martin Luther King adalah kasus Rosa Park. Wanita kulit hitam ini tidak mau memberikan kursi penumpang di bus Montgomery kepada orang kulit putih. Rosa ditangkap, dianiaya, disiksa di penjara. Martin Luther membuat gerakan boikot pada perusahaan bus Montgomery selama satu tahun hingga perusahaan itu kolaps dan jatuh. Inilah awal perjuangan Martin Luther menentang ketidakadilan di tengah-tengah masyarakat. Ia memperjuangkan kesetaraan warga sipil dengan boikot, longmars dengan damai tanpa kekerasan. Ia terinspirasi perjuangan Mahatma Gandhi di India. Perlawanan paling monumental adalah ketika dia memimpin longmars ke Washington dan berpidato “I have a dream.” “Saya bermimpi anak-anak saya akan dinilai bukan dari warna kulit, tetapi dari karakter mereka,” demikian Martin mengobarkan kesetaraan derajat setiap pribadi manusia. Tetapi pandangan dan perjungan ini dianggap melawan kemapanan penguasa. Iya dibenci oleh dunia. Yesus sudah menubuatkan kepada para pengikut-Nya bahwa mereka akan dibenci oleh dunia. ”Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, sebab Aku telah memilih kamu dari dunia, maka dunia membenci kamu.” Tokoh-tokoh yang memperjuangkan keadilan, kebenaran dan hak-hak sipil pasti akan dibenci dunia. Kita memiliki pejuang hak-hak sipil seperti Munir, Marsinah, Udin, Andri Yunus dan masih banyak lagi. Mereka tidak disukai oleh penguasa dunia. Semakin kita mengasihi Kristus dan melakukan ajaran-Nya, semakin dunia membenci kita. Kasih Kristus itu ajaran yang melampaui hukum dunia. Maukah anda berjuang di jalan kebenaran dan siap dibenci oleh dunia? Siapkah anda menghadapi teror dan intimidasi yang akan terus mengancam? Sepercik pantun buat anda: Cuaca panas terik di alun-alun kota, Ada acara makan bakso sejuta rasa. Pejuang keadilan tidak takut senjata, Ia hanya takut pada suara Tuhan saja. Wonogiri, dunia akan membencimu Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 8 Mei 2026
Jum’at Paskah V Yohanes 15:12-17 KETIKA Didier Drogba, Thiery Henry dan Messi jadi bintang iklan perusahaan minuman untuk promo Piala Dunia 2010, mereka mengambil gambar di Afrika. Setelah shooting mereka melihat anak-anak Afrika dan beberapa orang minum dari air kotor di dekat lapangan bola. Pemandangan itu menyentuh nurani Messi. Ia berkata kepada Drogba, “Didier, apakah kamu melihat orang-orang ini minum air comberan yang kotor, sementara kita mendapat gaji jutaan dollar dari perusahaan iklan?” Hari berikutnya Drogba mendengar bahwa Messi menyumbangkan seluruh honor iklannya untuk menggali sumur untuk desa dan membangun rumah sakit, sekolah, taman bermain dan hal-hal yang berguna bagi kesehatan dan pendidikan anak-anak. Yang paling menyentuh adalah Messi tidak mau disebut namanya sebagai donatur. Saat terbang kembali ke Yohanesburg, Drogba bertanya, “Mengapa semua ini kamu lakukan?” dan Messi menjawab, “Anak-anak Afrika tidak membutuhkan iklan, mereka membutuhkan tindakan!” Drogba menyatakan, Gol terbaik Messi tidak tercipta di gawang, tetapi di hati mereka yang tidak kenal sepakbola dan siapa yang kenal sepakbola akan mengakui bahwa Messi adalah pemain terbaik dalam sejarah sepakbola. Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya untuk saling mengasihi. 'Inilah perintah-Ku: supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada seseorang yang mengorbankan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jika kamu melakukan apa yang Aku perintahkan kepadamu.” Tanda bahwa kita menjadi sahabat-sahabat Yesus jika kita mau saling mengasihi dengan tulus, tanpa pamrih dengan siapapun tanpa membeda-bedakan warna kulit, agama atau latar belakang kehidupan kita. Perbuatan kasih tidak perlu digembar-gemborkan. Apa yang dibuat tangan kananmu jangan sampai diketahui oleh tangan kirimu. Apa yang dilakukan Messi tidak dipublikasikan agar diketahui orang banyak. Ia menolong mereka secara nyata dan tersembunyi. Kita diajak mengasihi sesama sebagaimana Yesus mengasihi kita. Ia mengorbankan nyawa untuk keselamatan kita. Marilah kita juga mau berkorban demi kebahagiaan sesama di sekitar kita. Sepercik pantun buat anda: Kita suka sebarkan desas-desus, Orang saleh jadi bau seperti tikus. Mari kita mengasihi dengan tulus, Seperti kasih pengorbanan Yesus. Wonogiri, kasihilah sesamamu Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 7 Mei 2026
Kamis Paskah V Yohanes 15:9-11 KETIKA kami mengadakan pertemuan Komisi HAK (Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan) di Purwokerto, kami diajak untuk berkunjung dan tinggal di Pondok Pesantren Baitul Makhmud Kalibagor, Banyumas dan bersilahturahmi dengan saudara-saudara di sana. Kami diterima dengan sukacita oleh para kyai dan pengasuh pondok. Kami duduk bersama, ngobrol dan saling mengenal satu sama lain dalam suasana persaudaraan. Kebuntuan, kebekuan dan benteng egoisme runtuh manakala kami tinggal bersama. Kami bisa ngobrol “ngalor-ngidul” tentang kondisi masyarakat, pendidikan dan sosial ekonomi serta cinta pada lingkungan hidup. Dari pertemuan itu kami dapat menemukan titik temu perjuangan bersama. Kita bersama-sama mengabdi kepada kemanusiaan, kendati agama berbeda tetapi martabat sebagai ciptaan Tuhan adalah sama. Dari situlah semangat persaudaraan, kerukunan, kebersamaan direnda sehingga menghasilkan kesepakatan untuk berjuang bersama. Tinggal bersama bisa saling menghargai dan menghasilkan buah yang baik. Dengan tinggal bersama, kita saling mengenal dan mengasihi satu sama lain. "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu,” demikian pesan Yesus kepada para murid. Tinggal di dalam kasih itu berarti seperti Yesus yang tinggal dalam Bapa dan Bapa menyatu dengan Yesus melaksanakan perutusan. Kita pun juga diajak tinggal dalam kasih melaksanakan ajaran-Nya. Dengan tinggal bersama, kita bisa saling mengenal lebih dalam dan memahami satu sama lain. Dengan mengenal lalu tumbuh sikap mengasihi, menghormati dan bekerjasama untuk mengasihi semua ciptaan. Mari kita saling mengenal saudara kita yang berbeda-beda dengan sesering mungkin tinggal bersama, “srawung” mengalami perjumpaan-perjumpaan sehingga kita bisa saling menghargai dan mengasihi. Dengan kasih maka akan muncul sukacita yang berbuah kebaikan bagi orang-orang di sekelilingnya. Sepercik pantun buat anda: Bunga mawar indah warnanya, Durinya tajam bisa membuat luka. Mengasihi lewat tindakan nyata, Tinggal bersama sebagai saudara. Wonogiri, marilah tinggal bersamaku Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 6 Mei 2026
Rabu Paskah V Yohanes 15:1-8 LA MASIA adalah akademi sepakbola FC Barcelona yang banyak menghasilkan pemain top dunia. Salah satunya adalah Lionel Messi. Pemain top hasil didikan La Masia antara lain: Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Gerard Pique, Sergio Busquets. Generasi berikut muncul; Lamine Yamal dan Gavi. Seorang atlet profesional biasanya mengawali kariernya di dalam pusat pelatihan (training camp). Ia akan tinggal di sana beberapa waktu untuk menimba ilmu dan kemampuan. Selama tinggal di asrama, ia akan dilatih dengan intensif agar makin mahir dan berhasil. Tinggal di asrama dengan jadwal yang ketat, latihan intensif tiap hari dan disiplin tinggi oleh para mentor menjadi menu rutin agar para atlet bisa berbuah dan menghasilkan prestasi yang baik. Seperti atlet yang harus tinggal bersama di asrama, menimba ilmu dengan tekun, menyerap apa yang diajarkan setiap waktu menjadi gambaran seorang murid yang harus tinggal bersama dengan gurunya. Demikian juga Yesus menggambarkan kita harus tinggal bersama dengan Yesus. Yesus memberi contoh ibarat ranting yang harus tinggal di pokok anggur agar dapat menghasilkan buah yang berlimpah. "Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.” Kita seperti ranting-ranting yang menempel, tinggal melekat erat dengan pokok anggur yaitu Yesus. Jika kita tinggal dan hidup bersama dengan Sang Pokok, maka kita akan menghasilkan buah. Jika tidak, kita akan dipangkas dan dibakar. “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa,” kata Yesus kepada para murid-Nya. Apakah kita jadi ranting yang baik ataukah kita hanya jadi benalu yang tinggal tetapi tidak menghasilkan buah kebaikan? Benalu hanya numpang hidup tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Dia akan dipangkas dan dibuang. Kita mau dipotong dan dibuang? Sepercik pantun buat anda: Messi sudah hengkang dari Barcelona, Dia tidak mengangkat trophi La Liga. Kita adalah ranting, Yesus pokoknya, Mari menghasilkan buah yang ang berguna. Wonogiri, jadilah ranting, jangan benalu Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 5 Mei 2026
Selasa Paskah V Yohanes 14:27-31a PEPATAH Latin ini berarti “Jika kamu menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk perang.” Semboyan ini ditulis oleh ahli militer Romawi Publius Flavius Vegetius Renatus, dalam bukunya yang berjudul “De Re Militari.” Jika kita ingin hidup dalam damai maka persiapkanlah senjata perang yang memadai agar lawan atau musuh tidak berani menyerang dan mengalahkan. Kita harus menyiapkan kemampuan bertahan dengan senjata super lengkap. Damai yang diciptakan seperti itu hanyalah damai semu. Damai namun disertai dengan tingkat kekawatiran yang tinggi karena setiap saat orang atau negara akan diserang oleh musuh di sekitarnya. Kita bisa melihat sendiri bagaimana negara kecil Israel tidak pernah mengalami damai karena selalu kawatir akan diserang negara-negara tetangganya. Damai yang diciptakan manusia tidak mampu menjamin ketentraman dan kebahagiaan. Yesus berjanji akan memberikan damai sejati. “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu,” kata-Nya kepada para murid. Damai yang diberikan Yesus adalah hidup dengan kasih yang tulus kepada siapa pun. Kasih pada sesama tanpa membeda-bedakan. Damai diciptakan dari dalam hati masing-masing. Hati yang didasari oleh semangat kasih tanpa pamrih, penghargaan terhadap martabat tiap orang. Maka Yesus pernah berkata, “Apa yang kauinginkan agar orang lain perbuat bagimu, lakukanlah itu.” Jika kita ingin dihargai, maka hargailah sesamamu. Jika engkau ingin dihormati oleh orang lain, maka hormatilah mereka. Jika kamu tidak ingin dibenci dan dicaci, maka janganlah melakukan itu kepada orang lain. Kalau kamu tidak ingin disakiti atau diganggu orang, maka jangan menyakiti dan mengganggu mereka. Dengan melakukan aturan emas ini, kita akan hidup dengan damai. Kalau kita hanya melakukan pertahanan diri agar tidak diserang orang lain, kita justru menciptakan psywar “ancaman” yang membuat orang lain mencurigai. Hidup dengan saling curiga tidak akan menciptakan perdamaian. Yesus mengajarkan kepada kita untuk saling mengasihi dan menghormati. Dengan sikap itu kita menemukan damai yang sesungguhnya, bukan damai semu yang ditawarkan oleh dunia. Sepercik pantun buat anda: Berlayar dengan perahu ke Sumatera, Tak terasa tersesat sampai di Karimata. Kalau kita ingin damai dengan sesama, Kasihi dan hormati mereka seperti saudara. Wonogiri, Yesus membawa damai Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 4 Mei 2026
Senin Paskah V Yohanes 14:21-26 YESUS sudah mengetahui hari-hari akhir hidup-Nya segera tiba. Ia memberikan wejangan terakhir pada perjamuan makan bersama murid-murid-Nya. Ini adalah waktu istimewa Yesus bersama dengan para murid-Nya. Ia menekankan tentang ajaran kasih yang tiada batas. Kasih itu terwujud dalam tindakan nyata. Ia memberi contoh bagaimana mengasihi tanpa batas yakni dengan memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabat-Nya. Kasih dan tindakan harus sejalan seirama. Tidak ada gunanya orang mengasihi tetapi tidak ada tindakan yang nyata. Mengasihi juga menjadi tanda bahwa mereka adalah murid-murid-Nya. “Siapa pun yang mengasihi Aku akan menuruti firman-Ku, dan Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama dia,” kata Yesus. Tanda bahwa orang mengasihi Tuhan tidak cukup hanya rajin berdoa dan hapal ayat-ayat Kitab Suci. Tetapi terwujud dalam tindakan kasih kepada sesama tanpa pamrih. Firman Tuhan tidak cukup didengarkan atau dihafalkan, tetapi harus dilaksanakan. Maka Yesus menuntut para murid untuk melaksanakan ajaran kasih-Nya kepada semua orang, bahkan musuh-musuh yang membenci sekalipun. Mengasihi orang yang membenci dan mencelakai kita itu memang sulit. Maka Yesus berjanji akan mengutus Roh Kudus yang akan membimbing dan mengarahkan kita. Roh Kudus akan diutus Bapa untuk “mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” Kita bisa melihat orang-orang kudus yang dipimpin oleh Roh mampu menjalankan perintah Yesus, mengasihi musuh-musuh dan mengampuni mereka. Jika kita mau taat dan setia pada bimbingan Roh Kudus, kita pasti bisa menjalankan perintah-Nya. Pada perjamuan malam terakhir itu bukan perpisahan, tetapi justru perutusan untuk mengasihi sesama, itulah yang ditekankan Yesus kepada para murid-Nya. Mereka tidak boleh takut dan bersedih, karena Roh Kudus akan diutus menerangi kita. Marilah kita menjadi murid-murid yang taat menjalankan perintah-Nya, untuk mengamalkan kasih kepada semua orang. Dengan begitu kita menjadi duta-duta Kristus di dunia. Sepercik pantun buat anda: Para koruptor itu diibaratkan tikus, Mencuri uang rakyat dengan korupsi. Jika kita mau menjadi murid Yesus, Ajaran utama-Nya adalah mengasihi. Wonogiri, kasihilah sesamamu Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 3 Mei 2026
Minggu Paskah V Yohanes 14:1-12 DAPAT kita jumpai dalam kehidupan kita, anak-anak mengikuti kehidupan orangtuanya. Kalau ayahnya seorang TNI bisa terjadi anaknya juga ada yang menjadi anggota TNI. Kalau orangtuanya dokter, salah satu anaknya juga ikut menjadi dokter seperti bapaknya. Kalau ayah atau ibunya seorang guru, nanti anak-anaknya juga meniru menjadi guru atau pendidik di suatu lembaga pendidikan. Pengalaman itu bisa menjelaskan pepatah yang berkata; Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Memang tidak semua seperti itu. Anak seorang petani di desa, tidak mau menjadi petani seperti bapaknya. Ia lebih suka menjadi buruh di kota. Bahkan ada anak pengusaha kaya raya tidak mau meneruskan usaha ayahnya yang sudah mapan. Tetapi justru memilih masuk biara menjadi suster di pedalaman. Namun sifat atau karakter seorang anak biasanya mewarisi nilai-nilai yang diajarkan atau ditanamkan oleh orangtuanya. Demikianlah perikope Injil hari ini dapat kita pahami dari pengalaman kehidupan kita. Kita bisa mengenal dan mengetahui sifat Allah jika kita bisa melihat karya, sabda dan tindakan Yesus bagi banyak orang. Di dalam Diri Yesus kita bisa melihat Allah yang sesungguhnya. Melalui karya dan ajaran Yesus, kita bisa melihat Allah Bapa yang mengasihi manusia. “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia,” kata Yesus kepada Filipus. Para murid ingin melihat Bapa dan mengenalnya lebih dekat. Filipus berkata, "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami." Yesus menjelaskan, "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.” Melalui Yesus Sang Putra kita bisa melihat Bapa, karena apa yang diajarkan, disabdakan dan dilakukan Yesus adalah kehendak Bapa-Nya sendiri. Apakah kita yakin bahwa apa yang diajarkan dan diwartakan Yesus sungguh berasal dari Bapa? Iman atau keyakinan itulah yang membuat kita mampu melihat karya Yesus sebagai visualisasi karya Allah dalam kehidupan kita. Sepercik pantun buat anda: Para buruh berdemo di Jakarta, Diberi hadiah sembako murah. Yesus Kristus adalah Putera Bapa, Dari Dia kita mengenal kasih Allah. Wonogiri, melihat kasih Allah yang sesungguhnya. Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 2 Mei 2026
Pw. St. Atanasius, Uskup dan Pujangga Gereja, Sabtu Imam. Yohanes 14: 7-14 atau RUybs KALAU kita mengenal dekat Rama Yosef Supriyanto, Pr yang asli Boro, kita juga akan mengenal Bapaknya, Pak Prastawa almarhum yang adalah pensiunan guru sekolah. Gaya bicara, 'solah bawa' atau tutur kata dan bahkan cara berpakaian Pak Prastawa menurun pada anaknya. Rama Supri- demikian panggilannya – selalu berpakaian necis, sederhana dan bajunya pasti selalu dimasukkan. “Saya meniru teladan hidup bapak saya yang seorang guru,” kata Rama Supri dalam sebuah sharing. “Saya dulu juga ingin menjadi guru seperti bapak, maka saya mendaftar di SPG Van Lith Muntilan. Tetapi Tuhan punya kehendak lain dan membelokkan arah hidup saya menjadi seorang imam.” Menjadi imam toh juga tidak jauh dari tugas bapaknya sebagai seorang guru. Imam juga punya tugas mengajar kepada umatnya. Dalam bahasa Jawa ada pepatah; “Kacang mangsa ninggala lanjaran.” Perilaku anak tidak akan jauh dari teladan hidup orangtuanya. Begitu pula Yesus menjelaskan kepada Filipus, bahwa Ia ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Dia. Barangsiapa melihat Yesus, dia juga bisa melihat Bapa. Apa yang dikerjakan dan diajarkan Yesus berasal dari Bapa. "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami,” kata Yesus pada Filipus. Yesus mengutus para murid-Nya, termasuk kita untuk membawa Kabar Sukacita. Kalau kita sering disebut sebagai “Alter Christi,” atau Kristus yang lain, apakah cara hidup kita, perilaku dan tutur kata kita membawa orang semakin mengenal Kristus dalam diri kita? “Sebagaimana Bapa telah mengutus Aku, sekarang Aku mengutus kamu,” Kata Yesus. Bapa ada di dalam Yesus, maka seharusnya Yesus juga ada di dalam diri kita. Apakah hidup kita sungguh-sungguh sudah menjadi cerminan hidup Yesus bagi orang lain. Atau apakah kita sendiri sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengenal Bapa dalam Diri Yesus Putera-Nya? Dan menyelaraskan hidup kita dengan hidup Yesus sendiri? Sepercik pantun buat anda: Sungguh konyol logika menteri wanita, Lelaki dijadikan tumbal kalau kereta tabrakan. Mengenal Yesus berarti mengenal Bapa, Mari kita jadi perpanjangan kasih Tuhan. Wonogiri, semakin mengenal Allah Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed