Minggu Palma Gereja St. Yohanes Rasul Wonogiri – Yesus Memasuki Yerusalem dengan Suka Cita3/31/2026 Pada Minggu 29 Maret 2026 pukul 07.00 WIB dilaksanakan perayaan Minggu Palma yang merupakan hari istimewa umat Katolik yang diperingati di seluruh dunia sebagai peringatan masuknya Yesus ke Yerusalem sebelum Ia disalibkan. Keledai dan daun palma menjadi ikonik Minggu Palma. Gereja St. Yohanes Rasul Wonogiri juga ikut merayakan yang dipimpin oleh Romo Alexander Joko Purwanto, Pr. pada pukul 07.00 WIB, dimulai dari lapangan SMP Kanisius Wonogiri. Diawali dengan pengumuman dan pemberkatan daun palma dilanjutkan perarakan dengan rute dari SMP Kanisius Wonogiri melewati depan kantor dinas PMD kemudian menuju Gereja St. Yohanes Rasul Wonogiri disambut dengan meriah oleh umat yang melambaikan daun palma dengan antusias, dilanjutkan perayaan ekaristi pada pukul 07.45 WIB. Homili yang diutarakan Romo Joko menjelaskan mengapa Tuhan Yesus masuk menaiki keledai bukan kuda, karena tujuan Yesus adalah sebagai pembawa damai dan menebus dosa manusia. Perayaan ekaristi Minggu Palma yang diselanggarakan diikuti oleh hingga 150 umat dari Paroki Santo Yohanes Rasul Wonogiri
0 Comments
Pagi itu, udara di pelataran gereja tidak hanya membawa aroma dupa yang berkelindan dengan wangi tanah basah basah sisa embun di awal hari. Pelataran Gereja Khatolik St. Christoporus pagi itu sudah dipenuhi oleh kerumunan umat. Di tangan-tangan umat, daun palma tidak lagi sekadar pucuk yang tanggal dari batangnya. Mereka seolah menjelma menjadi lidah-lidah hijau yang siap bersaksi. Di bawah langit yang biru, daun-daun itu bergemetar pelan saat percikan air suci jatuh menyentuh permukaannya, sebuah tanda bahwa berkat Allah bagi mereka yang membawanya. Langkah kaki umat kemudian membelah jalan yang mulai menghangat. Iramanya ritmik, menyerupai detak jantung yang sedang memacu rindu. Ada petani dengan telapak tangan kasar yang menyimpan sisa debu ladang, bersisian dengan kaum muda berpakaian necis yang jemarinya terbiasa memegang pena, seorang ibu yang dengan setia menngandeng buah hati, dan berbagai latar belakang umat lainnya. Di jalanan ini, status lebur oleh keringat dan nyanyian berjudul “Terpuji Raja Kristus” yang mengalun lamat-lamat dari bibir yang bergetar. Seperti gerak ritus di desa-desa terpencil, perarakan ini adalah tarian pengabdian yakni sebuah perjalanan fisik yang sesungguhnya adalah perjalanan batin menyambut Sang Raja yang berkendara di atas punggung kerendahan hati.
Di dalam gereja, suasana merah menyala menyambut umat yang perlahan memasuki ruang ibadat. Kain-kain liturgi berwarna merah terpasang anggun, menjuntai seperti nyala iman yang tak padam. Warna itu bukan sekadar hiasan ia berbicara tentang keberanian, pengorbanan, dan cinta. Seakan menyatu dengan makna itu, mayoritas umat pun mengenakan pakaian bernuansa merah, menghadirkan lautan warna yang hidup, seolah seluruh tubuh gereja sedang berdenyut dalam satu semangat yang sama.Namun, di balik lambaian hijau yang meriah dan pekik "Hosana" yang membelah angkasa, terselip sebuah rahasia yang sunyi. Minggu Palma adalah perayaan tentang ambang pintu yakni sebuah gerbang tipis yang memisahkan sorak-sorai dengan jalan salib yang sepi. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Rm. Heribertus Budi Purwanto, Pr dengan langkah tenang dan wajah yang teduh. Dalam homilinya, ia mewartakan dengan suara yang mengalir jernih namun membekas. Bahwa hidup yang kita jalani ini sesungguhnya singkat. Waktu bergerak tanpa henti, mengikis perlahan apa yang kita anggap kuat dan tetap. Tubuh yang kita banggakan pada akhirnya akan memudar. Indra-indra kita mata yang dahulu tajam, telinga yang dahulu peka, bahkan sisi emosional kita semuanya akan berubah, menjadi lebih rapuh dan sensitif dimakan usia. Di tengah keheningan umat yang mendengarkan, pesan itu seperti jatuh satu per satu ke dalam hati bahwa tidak ada yang benar-benar kekal dalam diri manusia selain apa yang dibangun dalam relasi dengan Allah Bapa kita. Maka Pekan Suci yang dibuka oleh Minggu Palma inilah saatnya untuk menyiapkan diri secara rohani untuk bertobat, dan untuk merapikan apa yang sering kita abaikan dalam kesibukan dunia. Sebab ketika saat itu tiba, ketika kita dipanggil oleh-Nya, kesiapan bukan lagi pilihan, melainkan buah dari perjalanan iman yang kita jalani hari demi hari. Di tengah barisan umat yang duduk, seorang lansia bernama Mbah Yem, menatap dengan mata nanar, seolah waktu sedang berbisik pelan di pelupuk matanya. Keriput di wajahnya seperti lembaran kisah panjang yang tak banyak diucapkan. Hidupnya barangkali sunyi. Di antara dinding rumah yang jauh dari gereja, ia berjalan dalam iman seorang diri. Anak-anaknya telah memilih jalan masing-masing, menjauh perlahan dari hangatnya panggilan Tuhan. Namun kesunyian itu tidak pernah benar-benar kosong ia diisi oleh langkah-langkah kecil yang setia, oleh doa-doa yang dipanjatkan dalam diam. Jarak seakan pernah mencoba menahannya, usia pernah berbisik agar ia berhenti, dan tubuhnya kadang tak lagi sekuat dulu. Namun bagi Mbah Yem, semua itu seperti angin yang hanya singgah, tak pernah mampu merobohkan akar imannya kepada Yesus Kristus. Ia tetap melangkah, setia datang ke gereja St. Christoporus Wuryantoro, meski kadang harus menunggu, dan meski tak pasti siapa yang akan menjemputnya pulang. Dalam diamnya, ada keteguhan yang lebih lantang dari seribu kata. Perayaan ekaristi pun selesai, namun getar di hati umat belum surut. Mereka pulang membawa selembar daun yang diberkati, sebuah pengingat bahwa di antara sorak-sorai dan sunyinya penderitaan, iman tetap tegak seperti pohon palma yang tak luruh dihantam angin seperti Mbah Yem dan bahwa waktu yang singkat ini adalah kesempatan berharga untuk bersiap menyambut keabadian. Oleh: Rachel Sukma |
Archives
March 2026
Categories
All
|
RSS Feed