|
Yesus bangkit memberikan damai dan sejahtera untuk kita semua. Kebangkitan Yesus tidak ada yang melihat langsung begitu juga dengan Maria Magdalena yang mengetahui Yesus tidak ada berada di makam karena iman kita, kita percaya akan kebangkitan Yesus Kristus.
Kadang kita merasa kecewa dan ragu pada saat mengalami kesulitan padahal Tuhan menunjukkan kasih dan setianya. Dengan Paskah kita harus bisa hidup baru dengan meninggalkan hidup lama. dengan hidup kita buktikan dengan sabar, mengasihi dan mengampuni. Jurnalis Yolenta (Manyaran)
0 Comments
Perayaan Hari Raya Paskah dilaksanakan di Gereja Santo Yohanes Rasul Wonogiri pada pukul 07.00 WIB dan dipimpin oleh Romo Alexander Joko Purwanto, Pr. Perayaan Ekaristi ini memiliki keunikan tersendiri, yakni petugas paduan suara yang berasal dari berbagai lingkungan di wilayah Wonogiri dengan pembagian lagu yang telah ditentukan sebelumnya.
Dalam homilinya, Romo Joko mengaitkan pesan Paskah dengan film Home Alone, khususnya adegan ketika seorang ibu menyadari anaknya tertinggal saat perjalanan liburan keluarga. Hal ini dianalogikan dengan kisah Maria Magdalena yang datang ke makam Yesus saat hari masih gelap. Kata “gelap” tidak hanya menggambarkan waktu, tetapi juga suasana hati Maria yang diliputi kesedihan dan kebingungan setelah kepergian Yesus. Maria Magdalena awalnya tidak menyadari bahwa sosok yang ditemuinya adalah Yesus. Ia mengira jenazah Yesus telah diambil, hingga akhirnya berlari memberi tahu para murid. Ketika para murid melihat dan mengalami sendiri peristiwa tersebut, mereka semakin percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Peristiwa Paskah ini menjadi simbol perjumpaan yang membawa perubahan hidup, menjadikan manusia pribadi yang baru. Romo Joko juga menyinggung perubahan hidup Santo Petrus yang pernah menyangkal Yesus, namun kemudian bertobat dan mewartakan kabar sukacita. Hal ini menjadi teladan bagi umat untuk terus memperbarui diri. Selain itu, beliau mengingatkan tagline Keuskupan Agung Semarang, yaitu “Menjadi Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan.” Makna “menyejahterakan” diartikan sebagai membawa damai dan sukacita bagi sesama. Ia menegaskan bahwa pengikut Kristus yang tidak membawa damai berarti belum sepenuhnya merasakan kasih Allah. Di akhir homili, umat diajak untuk membawa damai kepada siapa pun sebagai wujud nyata mengalami peristiwa Paskah dalam kehidupan sehari-hari. Setelah perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan Pesta Anak yang diikuti oleh anak-anak PIA dan PIUD. Acara ini diisi dengan berbagai permainan menarik seperti rebut bola, mencari gelang emas, dan estafet air yang bertujuan melatih kerja sama tim. Kegiatan diawali dengan ajakan untuk saling mengucapkan Selamat Paskah, dilanjutkan dengan bernyanyi lagu-lagu sekolah minggu serta permainan fokus yang dipandu oleh para pendamping. Sebagai penutup, diadakan pembagian hadiah dan bingkisan kepada anak-anak, serta doa bersama untuk mengakhiri seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh sukacita. Gereja St. Yohanes Rasul Wonogiri merayakan Vigili pada malam Sabtu, 04 April 2026, tepatnya pada pukul 18.00 WIB. Vigili sendiri ialah liturgi sakral Gereja Katolik pada Sabtu malam Paskah untuk menantikan kebangkitan Tuhan Yesus. Sering disebut sebagai ibu dari segala vigili. Disimbolkan dengan upacara cahaya, menyalakan lilin di tengah kegelapan malam. Cahaya lilin diibaratkan dengan kebaikan, kasih dan ajaran Tuhan Yesus yang disebarkan di tengah kegelapan dunia. Misa dipimpin oleh Romo Heribertus Budi Purwantoro, Pr. Melalui homili yang disampaikan pada Vigili Paskah, Romo menyampaikan tentang kebangkitan Yesus melalui peran orang tua dalam keluarga seperti ayah dan ibu.
Vigili diawali dengan pemberkatan lilin Paskah, suasana gereja diliputi kegelapan seperti dunia yang diselimuti oleh belenggu dosa. Seiring berjalannya prosesi misa, petugas menyalakan lilin bagi umat yang bersumber dari lilin Paskah yang sudah diberkati sebagai simbol cahaya dunia berupa pelepasan dari dosa dengan kebangkitan Yesus Kristus. Antusias umat Paroki Gereja Santo Yohanes Rasul Wonogiri, memenuhi setiap bangku yang tersedia di gereja malam itu, misa diakhiri dengan sambutan dari panitia paskah dan Romo Budi. Paskah tahun ini menjadi perjalanan hidup umat Katolik dalam memanggul salib kehidupan mereka sehari-hari dan kini Yesus telah bangkit demi kita semua. Umat Kristiani memperingati penyaliban, kematian dan penguburan Yesus Kristus pada Jumat Agung. Pada Jumat, 3 April 2026 Gereja St. Yohanes Rasul ikut merayakan Triduum Paskah yang salah satunya adalah Jumat Agung. Ibadat dimulai pada pukul 15.00 WIB dengan dipimpin oleh Romo Joko Purwanto, Pr. Ibadat berjalan dengan khidmat disertai mencium salib sebagai bentuk penghormatan atas penderitaan-Nya. Dalam ibadat Jumat Agung suasana begitu hening karena tiadanya iringan alat organis koor, serta dalam bacaan injil menjadi momen yang sangat berharga karena pembacaan yang disampaikan dengan cara passio bersyair.
Misteri Jumat Agung menjadi puncak dari akhir penderitaan Yesus Kristus dalam menebus dosa manusia dan perawalan menuju kebangkitan dari kegelapan dan belenggu dosa. Melalui homili yang disampaikan Romo Joko, umat diajak mendalami misteri jumat agung dengan memanggul salib kehidupan kita sehari-hari dan kini Yesus yang terbaring di kayu salib demi kita. Ibadat ini dihadiri kurang lebih sebanyak 400 umat di dalam gedung Gereja Santo Yohanes Rasul Wonogiri, dan ibadat diakhiri dengan keheningan umat meninggalkan gereja untuk menghormati penderitaan Yesus yang telah wafat di kayu salib bagi manusia. Jurnalis Citra Komsos Perayaan Kamis Putih di Gereja St. Yohanes Rasul Wonogiri yang dilaksanakan pada pukul 18.00 WIB dan dipimpin oleh Romo Budi Purwantoro, Pr mengajak umat untuk masuk dalam suasana Perjamuan Malam Terakhir—sebuah momen penuh kasih ketika Yesus duduk bersama para murid-Nya untuk terakhir kalinya. Dalam kebersamaan yang sederhana itu, tersimpan makna yang mendalam tentang kasih, pengorbanan, dan perpisahan yang tak terelakkan.
Dalam homilinya, Romo Budi mengajak umat untuk merenungkan bacaan Injil tentang Perjamuan Malam Terakhir. Setelah kurang lebih tiga tahun hidup bersama, berbagi perjalanan, dan membangun relasi yang begitu dekat, akhirnya tiba juga momen perpisahan. Bukan perpisahan yang mudah, melainkan perpisahan yang penuh makna dan pengorbanan. Dalam homilinya, Romo Budi mengangkat satu kata sederhana namun sangat dekat dengan kehidupan manusia, yaitu *perpisahan*. Ia menegaskan bahwa setiap orang, tanpa terkecuali, pasti akan mengalami perpisahan. Entah itu berpisah dengan kebahagiaan yang sedang dirasakan, atau bahkan dengan hal-hal yang selama ini dianggap sebagai milik sendiri. Melalui contoh lagu “Sampai Jumpa” dari Endank Soekamti, umat diajak menyadari bahwa hidup pada akhirnya adalah tentang melepaskan. Tidak ada yang benar-benar bisa dimiliki selamanya. Semua yang ada dalam hidup ini hanyalah titipan yang suatu saat akan kembali dilepaskan. Romo Budi juga menceritakan sebuah kisah tentang seorang raja dan orang bijaksana. Kalimat sederhana yang tertulis pada sebuah cincin, “Hal itu akan segera berakhir”, menjadi pengingat bahwa segala sesuatu bersifat sementara. Kebahagiaan tidak berlangsung selamanya, tetapi begitu pula dengan kesedihan—semuanya akan berlalu. Melalui homili ini, umat diajak untuk melihat perpisahan bukan hanya sebagai kehilangan, tetapi sebagai bagian dari perjalanan iman. Dalam setiap perayaan Ekaristi, umat tidak hanya menerima berkat, tetapi juga dipanggil untuk menjadi seperti roti yang dipecah dan dibagikan bagi sesama. Homili pada Perayaan Kami Putih hari ini ditutup dengan lagu “Maukah Kau Jadi Roti” yang semakin menegaskan ajakan untuk hidup dalam kasih, pengorbanan, dan kesiapan untuk berbagi dengan sesama. |
Archives
May 2026
Categories
All
|
RSS Feed