Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

Berita Paroki

​SUKACITA UMAT RAYAKAN MISA VIGILI NATAL

12/25/2025

0 Comments

 
Perayaan Misa Malam Natal di Gereja Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri berlangsung khidmat dan penuh sukacita pada Rabu malam, 24 Desember 2025. Misa yang dipimpin oleh Rm. Heribertus Budi Purwantoro, Pr ini berlangsung kurang lebih selama dua jam dan dihadiri umat dalam jumlah besar.

Meski hujan deras sempat mengguyur wilayah Wonogiri pada sore hari, hal tersebut tidak mengurangi antusiasme umat untuk menghadiri perayaan Natal. Sejak pukul 18.00 WIB, kursi gereja telah terisi penuh. Suasana damai dan sukacita begitu terasa, menandai perayaan kelahiran Yesus Kristus yang dinantikan umat.

Suster Juliana CB, yang telah dua tahun bertugas di Paroki Wonogiri, mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya dapat kembali merayakan Natal bersama umat. Ia merasakan suasana yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Saya sungguh merasakan sukacita dan kedamaian yang luar biasa malam ini. Walaupun hujan deras, umat tetap datang dan gereja penuh. Itu sangat menyentuh hati saya,” ungkapnya.

Menurut Suster Juliana, bagian yang paling berkesan dari Misa Malam Natal adalah nyanyian pembuka “Malam Kudus”. Lagu tersebut membantunya masuk lebih dalam ke suasana Natal dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu, homili yang disampaikan oleh Romo Budi juga memberikan kesan mendalam. Pesan tentang kesetiaan yang lahir dari pengorbanan, menjadi refleksi yang menguatkan terutama dalam menjalani panggilan hidup.

Dalam kesempatan tersebut, Suster Juliana juga menyampaikan harapannya bagi umat Paroki Wonogiri agar semangat Natal tidak hanya terlihat pada Misa Malam Natal, tetapi juga tetap terjaga dalam perayaan Natal di pagi hari dan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengajak umat untuk terus membawa sukacita Natal dan membagikannya kepada sesama.

Sukacita Natal juga dirasakan oleh kaum muda paroki. Aurel, salah satu pengurus Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Wonogiri, mengungkapkan bahwa Misa Malam Natal tahun ini sangat menyentuh hatinya. “Rasanya itu nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Apalagi saat menerima komuni, rasanya sampai mau menangis,” tuturnya.

Aurel berharap setelah Natal ini ia dapat menjadi pribadi yang lebih baik, lebih dewasa, dan terus berkembang secara positif. Ia juga berharap Paroki Wonogiri semakin berkembang, semakin solid, dan semakin banyak umat yang terlibat aktif dalam kehidupan menggereja.

Perayaan Misa Malam Natal di Paroki Wonogiri menjadi momentum penuh makna bagi umat untuk kembali meneguhkan iman, merayakan kelahiran Sang Juru Selamat, serta memperbaharui semangat untuk hidup dalam kasih, pengorbanan, dan sukacita Natal. (Tim Liputan/ Komsos)
0 Comments

Misa Perayaan Natal Pagi di Gereja St. Yohanes Rasul Wonogiri

12/25/2025

0 Comments

 
Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri menggelar Misa Perayaan Natal pagi dengan penuh khidmat dan sukacita, Kamis, 25 Desember 2025. Perayaan Ekaristi ini diikuti oleh umat dari berbagai kalangan yang telah memenuhi gereja untuk merayakan kelahiran Yesus Kristus sebagai Juru Selamat. Misa Natal pagi tersebut dipimpin oleh Romo Alexander Joko Purwanto Pr.

Suasana Natal terasa begitu hangat dengan iringan lagu-lagu rohani serta dekorasi gereja yang sederhana namun sangat bermakna. Selama perayaan berlangsung, umat mengikuti rangkaian ibadah dengan penuh penghayatan dan rasa syukur. Kebersamaan yang terjalin dalam perayaan ini mencerminkan semangat Natal, yaitu cinta kasih, persaudaraan, dan sukacita.

Dalam homilinya, Romo Joko mengajak umat untuk merenungkan makna Natal melalui sebuah pertanyaan sederhana, yakni "Lagu Natal apa yang paling mengesankan bagi umat?". Romo kemudian membagikan lagu Natal yang paling berkesan baginya berjudul “The Little Drummer Boy". Lagu tersebut mengisahkan seorang anak kecil yang datang berdoa kepada Tuhan di sebuah gua. Ia ditertawakan oleh teman-temannya karena tidak membawa hadiah apa pun selain sebuah drum kecil yang dimilikinya. Namun, ketulusan dan keniatan hati sang anak menjadikan persembahan sederhana tersebut sangat bermakna di hadapan Tuhan.

Selain itu, Romo juga menyampaikan penjelasan mengenai Arah Dasar (Ardas) Keuskupan Agung Semarang yang baru. Romo menegaskan bahwa Ardas terdiri dari banyak unsur yang saling melengkapi. “Terdapat banyak kata yang dijadikan sebagai Ardas, apabila satu tidak ada, maka terasa tidak lengkap,” ungkap Romo.

Melalui homili yang disampaikan, umat diajak untuk menyadari bahwa makna Natal tidak terletak pada kemewahan atau besarnya pemberian, melainkan pada niat tulus untuk menghadirkan sukacita bagi sesama. Meski melalui hal-hal kecil, kebersamaan dan kasih yang terbangun menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi kehidupan bersama.(Rafela Tyas/ Komsos)
0 Comments

Novena Ketiga di Gua Maria Fatima Sendang Klayu Jlegong: Angkat Spirit Devosi dan Kepedulian Lingkungan

12/16/2025

0 Comments

 
Antusiasme umat kembali tampak dalam pelaksanaan Novena Ketiga di Gua Maria Fatima Sendang Klayu Jlegong, Minggu, 14 Desember 2025. Cuaca mendung tak menyurutkan umat untuk hadir pada  kegiatan doa bersama yang dirangkai dengan aksi nyata kepedulian lingkungan pagi itu. Pembagian bibit pohon digagas sebagai salah satu upaya menghidupkan kembali devosi umat kepada Bunda Maria sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya merawat alam.

Salah satu pengelola Gua Maria Fatima Sendang Klayu Jlegong, Antonius Djatmiko, mengungkapkan bahwa dalam setahun terakhir tidak dapat dipungkiri bahwa sempat terjadi penurunan kehadiran umat dalam novena di tempat tersebut. Beberapa faktor penyebabnya antara lain lokasi Gua Maria yang relatif jauh dari pusat kota, akses menuju lokasi yang membutuhkan stamina ekstra, serta kondisi cuaca, terutama saat musim hujan.

“Karena itu, kami mulai mengadakan novena yang disertai dengan kegiatan tematik atau event, seperti pembagian bibit pohon hari ini, kemudian pembagian patung Maria, serta kegiatan bersama Orang Muda Katolik (OMK). Harapannya, umat kembali tergerak untuk hadir dan berdevosi,” jelas Anton.

Keunikan Novena Ketiga ini terletak pada tema kepedulian terhadap alam, sebagaimana disampaikan dalam homili Romo Heribertus Budi Purwantoro, Pr yang memimpin misa pagi itu. Pembagian bibit pohon tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga mengandung pesan iman yang mendalam. Anton menegaskan bahwa sumber mata air di kawasan Gua Maria ini menghidupi satu dusun di sekitarnya.

“Kalau alam dirawat, sumber air tetap hidup. Ini berdampak langsung bagi pertanian dan kebutuhan air warga. Gerakannya sederhana, tetapi maknanya sangat dalam,” tambahnya.

Berbeda dengan novena sebelumnya, setiap rangkaian novena di Gua Maria Fatima Sendang Klayu Jlegong dirancang dengan tema yang berbeda. Pada bulan Februari mendatang, kegiatan akan mengangkat tema cinta kasih bertepatan dengan momen Valentine. Sementara itu, pada bulan Mei direncanakan pembagian patung Maria yang dibuat khusus oleh seniman dan akan didistribusikan ke lingkungan-lingkungan.

Selain mengangkat tema lingkungan, pesan iman dalam homili juga menekankan makna kebahagiaan sejati. Anton menuturkan bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari hal-hal besar atau materi, melainkan dari tindakan sederhana seperti senyuman, sapaan, dan doa dalam keluarga.

“Sebelum kita aktif keluar di lingkungan atau gereja, kita perlu mencintai dan menguatkan keluarga terlebih dahulu. Dari situlah kita bisa melangkah lebih jauh,” ujarnya.

Terkait pembagian bibit, kegiatan penghijauan ini merupakan tahap lanjutan dari program sebelumnya. Umat diajak membawa bibit pohon tertentu, seperti beringin atau gayam, yang kemudian ditukar dengan bibit durian dan alpukat yang disediakan oleh pengelola. 
Ke depan, pengelola Gua Maria Fatima Sendang Klayu Jlegong berharap tempat ziarah ini terus berkembang tanpa kehilangan keaslian dan kearifan lokal. Pembangunan dilakukan dengan memanfaatkan material alam sekitar, seperti batu yang tersedia di kawasan tersebut, tanpa mengejar kemegahan berlebihan.

“Kami ingin Gua Maria ini tetap sederhana, alami, dan menjadi tempat doa yang mengakar pada kearifan lokal,” pungkas Anton.

Dengan semangat kebersamaan dan kreativitas dalam setiap kegiatan, Novena di Gua Maria Fatima Sendang Klayu Jlegong diharapkan terus menginspirasi umat untuk semakin mencintai Maria, sesama, dan alam ciptaan Tuhan.

Lely & Ochy
Mahasiswa Universitas Sanata Dharma
0 Comments

Murid Kristus yang Setia: Sumber Pengharapan dan Keselamatan

9/7/2025

0 Comments

 
Picture
Hari Kitab Suci Nasional menjadi momen istimewa bagi umat Katolik di seluruh Indonesia untuk kembali merenungkan dan mendalami Sabda Kristus. Pada Minggu, 7 September 2025, Perayaan Ekaristi dalam rangka Hari Kitab Suci Nasional di Paroki St Yohanes Rasul Wonogiri dipimpin oleh Romo Alexander Joko Purwanto, Pr,.

Dalam homilinya, Romo Joko menjelaskan bahwa menjadi pengikut Kristus bukanlah jalan yang mudah. “Menjadi umat Katolik itu harus berjuang,” ujar beliau. Hidup sebagai murid Kristus menuntut kesetiaan, ketaatan, dan keberanian untuk memikul salib—sekalipun harus menghadapi penderitaan dan ketidakadilan.

Romo Joko mengajak umat untuk merefleksikan kondisi sosial yang terjadi belakangan ini, khususnya peristiwa demonstrasi di bulan Agustus yang menelan banyak korban, salah satunya seorang tokoh muda yang berprofesi sebagai ojek online, Affan Kurniawan. Ia juga menyinggung kisah nyata seorang anggota polisi beragama Katolik yang diberhentikan secara tidak hormat karena menjalankan perintah dari atasannya. Hal ini dapat menjadi gambaran secara nyata bagaimana panggilan iman terkadang membawa kita pada situasi sulit, namun tetap harus dijalani dengan penuh ketaatan kepada Kristus.

Mengacu pada Injil Lukas 14:26, Romo Joko menekankan bahwa Kristus mengajak kita untuk menjadikan-Nya pusat hidup kita. Ungkapan yang Yesus katakan “tidak membenci bapanya, ibunya...” bukan ajakan untuk menolak keluarga, melainkan simbol komitmen total kepada Kristus di atas segalanya.

Homilinya juga diselingi dengan kisah Santo Polikarpus, yang rela dibakar hidup-hidup karena menolak menyembah Kaisar Roma sebagai dewa—teladan keberanian iman yang patut diteladani umat zaman sekarang.
​
Di akhir homilinya, Romo Joko mengajak seluruh umat untuk terus meningkatkan iman, setia kepada Kristus, dan tetap teguh dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Sebab menjadi murid Kristus adalah panggilan hidup yang menuntut kesungguhan, keberanian, dan pengorbanan.
 
Rafaela Tyas/ Komsos
0 Comments

Laku Muksa: Wayang Kreasi Wilayah  Kota Utara Rayakan Hut Ri

8/21/2025

0 Comments

 
Ada banyak cara umat dalam merayakan HUT kemerdekaan Republik Indonesia, mulai dari upacara bendera, misa, aneka lomba, syukuran hingga pementasan budaya. Di Wilayah Kota Utara, bersamaan dengan jadwal misa wilayah, umat menggelar pementasan wayang modifikasi pada Kamis 21 Agustus 2025 dengan lakon "Laku Muksa".
 
Sore itu misa dipimpin oleh Romo Heribertus Budi Purwantoro, Pr mulai pukul 18:00 WIB, bertempat di Kapel Santo Paulus Wonokarto, Wilayah Kota Utara. Dalam kotbahnya Romo Budi menyampaikan, hendaknya sebagai umat Katolik kita memiliki 3B yakni Berkumpul, Berdoa, dan Berbagi.
 
Selesai misa, diadakan syukuran kemerdekaan RI dengan pementasan Wayang Modifikasi. Pada pementasan malam itu, Bapak Budoyo Hartono dari Lingkungan Timotius berperan sebagai dalang, sementara wayang diperankan oleh gabungan dari pengurus dan kuum muda Wilayah Kota Utara. Romo Budi pun turut menjadi bagian dari pementasan.
 
Menurut Ibu Kristina Setyaningsih sebagai Pamong Umat Lingkungan Timotius, pementasan tersebut berawal dari obrolan ringan para pengurus Wilayah Kota Utara dan Romo Budi. Wayang modifikasi ini kemudian mengambil judul "Laku Muksa". Laku Muksa adalah spiritual yang mengarah pada perjalanan manusia dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan Tuhan berkaitan dengan ritual keimanan. 
 
Pementasan tersebut juga diuraikan dengan refleksi membangun jiwa. Bahwa sebagai pemimpin hendaknya tidak semena-mena menggunakan kekuasaannya. Sementara itu seluruh manusia juga memiliki kewajiban kepada Tuhan dan berbangsa serta bernegara.
 
Meskipun hujan, namun semangat umat Wilayah Kota Utara tidak surut. Tidak hanya dilihat dari kehadiran umat, tapi juga adanya semangat berbagi melalui banyaknya donasi konsumsi. Sebagai penutup pementasan, Romo Heribertus Budi Purwantoro, Pr membacakan renungan yang dikemas dalam puisi berjudul “Panjaluke Bocah”. Rangkaian acara pun berakhir pada pukul 19:45 WIB. (Fransisca Anindya/ Komsos)
0 Comments

Meriah dan Menghibur! Perayaan HUT Santo Christoporus Wuryantoro Menampilkan Ketoprak bertema  “Opera Van Jhegul”

8/4/2025

0 Comments

 
Masih hangat di ingatan kita akan adanya pertunjukan Lerok pada peringatan HUT Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri ke-58. Baru-baru ini pertunjukan yang tak kalah menarik juga berlangsung di Wilayah Wuryantoro. Umat mempersembahkan ketoprak untuk memeriahkan pesta nama pelindung wilayah mereka. Drama kesenian memang tak hanya menghibur, tapi dia bisa menjadi media pewartaan dengan pendekatan budaya.
 
Suasana hangat penuh kekeluargaan menyelimuti umat Wilayah Wuryantoro sore itu, Minggu 27 Juli 2025. Seluruh umat Katolik berkumpul di kapel St Christoporus Wuryantoro dalam semangat yang sama yaitu memperingati Hari Ulang Tahun Santo pelindung wilayah mereka. Santo Christoporus, sosok suci yang dikenal sebagai pelindung para pelancong dan pembawa Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Acara perayaan tahun ini dimulai dengan Misa Wilayah pukul 17.00 WIB, yang dipimpin oleh Romo Heribertus Budi Purwanto, Pr, yang membawa umat masuk dalam permenungan akan semangat pengabdian dan pelayanan Santo Christoporus. Dalam homilinya, Romo Budi mengajak umat untuk menjadi pribadi-pribadi yang membawa terang Kristus dan mengandalkan Roh Kudus dalam kehidupan bermasyarakat.

“Menjadi pengikut Kristus bukan hanya soal ritual, tetapi tentang kehadiran nyata kita di tengah sesama. Seperti Christoporus, kita diajak untuk menjadi pembawa kasih Tuhan dan mengandalkan Roh Kudus dalam tindakan sehari-hari,” ujar Romo Budi dalam khotbahnya yang disambut dengan anggukan dan keheningan reflektif dari umat. Setelah misa yang berlangsung dengan khidmat, suasana berubah menjadi riang dan meriah. Panggung serta bangku-bangku yang terletak di lapangan milik gereja mengundang banyak langkah umat menghampirinya. Beberapa tarian pembuka seperti tari Manuk Dadali, tari Wulan Sunu, tari Sri Golek Rejeki menjadi suguhan awal dalam panggung pertunjukkan malam itu.  Ketoprak bertajuk “Ande-Ande Lumut” menjadi puncak acara untuk menghibur para umat. Tak tanggung-tanggung, pertunjukan ini diperankan oleh 20 orang umat wilayah Wuryantoro, dari berbagai usia, yang tampil dengan penuh semangat dan totalitas.

Kostum tradisional yang berwarna-warni, dialog khas Jawa yang dibalut humor, serta akting yang mengundang tawa membuat penonton larut dalam alur cerita rakyat yang sudah akrab di telinga. Penampilan para pemain sukses membuat penonton mulai dari anak-anak hingga orang tua tertawa terpingkal-pingkal namun juga terkesan dengan pesan moral cerita. Yang menarik, perayaan ini tak hanya dihadiri oleh umat Wuryantoro saja. Sejumlah umat dari wilayah Eromoko dan Manyaran juga turut hadir, menambah semarak suasana. Kehadiran lintas wilayah ini menjadi simbol nyata dari persaudaraan iman yang erat, serta antusiasme yang tinggi untuk saling mendukung dan merayakan momen kebersamaan.

“Saya tidak memiliki ekspektasi tinggi terhadap setiap aktor untuk dapat berakting dengan sempurna. Namun, bagi saya yang menarik dalam proses latihan hingga malam ini, ternyata mereka semua memiliki semangat yang tinggi untuk belajar dan menampilkan yang terbaik” ujar Imelda, selaku sutradara sekaligus pemeran Mbok Rondo Dadapan malam itu. “Pertunjukan di Wilayah Wuryantoro sangat mengesan, meriah, dan melibatkan umat. Pendekatan tradisi budaya Jawa yang kerakyatan membuat makin guyub, bisa mengasah hati, dan selalu mewujudkan persaudaraan”. Tutur Romo Budi saat diwawancarai oleh tim magang Komsos. Selain mengambil hati seorang romo, pertunjukan malam itu sangat berkesan di hati umat. “Rasanya hangat sekali. Melihat umat tertawa bersama, menyatu dalam doa dan budaya, ini adalah bentuk kegembiraan iman yang tak ternilai,” ungkap Bu Marni salah satu umat yang menyaksikan.

Acara ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk menampilkan bakat, mempererat relasi antar umat, dan membangkitkan semangat pelayanan di tengah masyarakat. Semoga umat Wilayah Wuryantoro makin guyub, mudah berbagi, makin giat berdoa, mengikuti ekaristi, dan makin bisa srawung serta terlibat bagi masyarakat”, imbuh Romo Budi. Sebagai penutup, panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh umat dan pihak yang telah terlibat, serta berharap perayaan ini menjadi momentum untuk terus menghidupi semangat Santo Christoporus: menjadi pembawa Kristus di setiap langkah hidup. Dengan penuh sukacita, tawa, dan doa, HUT Santo Christoporus wilayah Wuryantoro tahun ini berhasil meninggalkan kesan mendalam bagi semua yang hadir sebuah perayaan iman yang menyentuh hati dan menyatukan jiwa. (Rachel Sukma Haristana/ Komsos)
0 Comments

Penutupan Novena Sendang Klayu Jlegong Putaran ke-3

7/27/2025

0 Comments

 
​Dengar, Dia panggil nama saya, dengar Dia panggil namamu. Dengar Dia panggil nama saya, juga Dia panggil namamu.....

"Dengar Dia Panggil Nama Saya" menjadi lagu pembuka pada Novena di Gua Maria Fatima Sendang Klayu Jlegong, Minggu 27 Juli 2025. Perayaan Ekaristi pada Novena ke-9 kali ini mengambil tema Bunda Maria: Teladan dalam Kehidupan Doa dan Pewartaan Kasih Allah.

Perayaan Ekaristi dimulai pukul 10.00 WIB, dipimpin oleh Romo Vikep Kevikepan Surakarta, Romo Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr. Turut mendampingi yaitu Romo Heribertus Budi Purwantoro, Pr dan Romo Antonius Sutatno, SX.

Dalam homilinya, Romo Herman menekankan pentingnya kita memurnikan niatan doa."Terkadang yang kita minta bagi- Nya tidak baik maka doa kita tidak dikabulkan tetapi Tuhan akan merencanakan sesuatu untuk kita yang lebih baik " ucap  Romo Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr.

Misa kali ini menjadi penutup dari rangkaian Novena di Gua Maria Fatima Sendang Klayu Jlegong yang telah dimulai sejak tahun lalu. (Tim Liputan/ Komsos )
0 Comments

​Tarsisius Cup 2025: Wadah Persaudaraan dan Sukacita Misdinar se-Kevikepan Surakarta

7/20/2025

0 Comments

 
Suasana meriah dan penuh semangat menyelimuti area Lapangan Gedung Selatan SMAN 1 Wonogiri sejak pagi, Minggu, 20 Juli 2025. Sejak pukul 07.30 WIB, para peserta dari berbagai paroki se-Kevikepan Surakarta mulai berdatangan dengan antusias. Keramaian mulai terasa saat gerbang dibuka, dengan wajah-wajah ceria para misdinar yang siap mengikuti lomba. Tepat pukul 08.30, acara dibuka oleh MC dilanjutkan dengan sambutan dari Romo Vikep Kevikepan Surakarta Rm. Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr, Ketua Komisi Liturgi Kevikepan Surakarta Rm. Yusup Warsito, Pr, serta Kepala Sekolah SMAN 1 Wonogiri. Setelah sambutan, Romo Vikep membuka secara resmi Tarsisius Cup 2025 yang dilanjutkan dengan doa pembuka.

Setelah pembukaan, para peserta diarahkan menuju lokasi lomba masing-masing. Ketua panitia, Cyrullus Ikken Devstiandra atau biasa dipanggil Andra, menjelaskan bahwa Tarsisius Cup 2025 adalah ajang perlombaan antar misdinar se-Kevikepan Surakarta dengan tujuan untuk mempererat hubungan antar misdinar. “Kami ingin agar para misdinar tetap guyub dan memiliki wadah untuk bersama-sama melayani Tuhan dengan sukacita,” ujar Andra ketua panitia. Hal ini juga sejalan dengan tema acara tahun ini, “We Serve God, We Joy”, yang menekankan pelayanan yang dilakukan dengan sukacita dan bukan paksaan.

Lomba berlangsung sekitar 5 jam dimulai pukul 09.35 hingga pukul 15.05 WIB, melibatkan sekitar 1000 peserta dari berbagai paroki. Jenis lomba yang diadakan cukup beragam, mulai dari Paduan Suara, Tutur Kitab Suci, Lomba Cerdas Cermat, Basket, Tata Altar hingga permainan tradisional Gobak Sodor. Bernadetta dari Paroki Wonogiri yang mengikuti lomba Tutur Kitab Suci mengungkapkan, “Perasaan saya deg-degan dan takut sebelum lomba, tapi setelah tampil rasanya lega. Senang bisa ikut berpartisipasi dalam acara Tarsisius Cup 2025 ini.” Sementara itu, Elisabeth dari Paroki Simo Boyolali yang mengikuti lomba Tata Altar menyampaikan rasa bangganya, “Pengalaman berharga buat saya, senang dan bangga bisa menjadi bagian dalam acara ini. Acara ini membuat saya termotivasi untuk memberikan yang terbaik saat pelayanan.”

Menjelang sore, seluruh peserta diarahkan untuk mengikuti misa penutupan di Gereja Paroki St.Yohanes Rasul Wonogiri. Misa dipimpin oleh Romo Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr. Dalam homilinya, Romo berpesan kepada seluruh peserta untuk terus membangun persaudaraan satu sama lain. “Teruslah membangun pertemanan satu dengan yang lain, persaudaraan satu dengan yang lain. Semoga dengan persaudaraan kita bersama, kita semakin semangat dan terus bersukacita dalam melayani Tuhan dalam setiap karya pelayanan hidup kita selanjutnya,” tuturnya. Setelah misa, acara dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba, dokumentasi dan foto bersama sebagai penutup rangkaian Tarsisius Cup 2025. (Gracia Agata Avgi P & Caecilia Loudwina A.C/ Komsos)

Berikut daftar pemenang lomba Tarcisius Cup 2025: 

Tutur Kitab Suci
1. Danan
2. Sragen
3. Baturetno

Tata Altar
1. Sragen 
2. Purwosari 
3. Baturetno 

LCC
1. Purbayan 
2. Sukoharjo 
3. Kebonarum

Paduan Suara
1. Kebonarum
2. Palur
3. Purbowardayan

Basket
1. Karanganyar
2. Wonogiri
3. Jombor

Gobak Sodor
1. Kelompok 9
2. Kelompok 1
3. Kelompok 11
0 Comments

​Misa Syukur HUT Paroki ke-58: Merawat Tradisi, Perkuat Iman, Jalin Persaudaraan

7/13/2025

0 Comments

 
Sore itu, misa begitu spesial. Sejauh mata memandang nampak umat dengan balutan busana lurik-batik, kebaya-beskap, sanggul- blangkon. Semua berkumpul penuh semangat untuk mengikuti Misa Syukur HUT Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri ke-58, Minggu, 13 Juli 2025. Misa syukur ini menjadi puncak  dari rangkaian kegiatan yang telah dimulai sejak awal Mei lalu.

Romo Alexander Joko Purwanto, Pr menjadi selebran utama pada misa syukur HUT Paroki didampingi oleh Romo Heribertus Budi Purwantoro, Pr. Menggunakan Bahasa Jawa, nuansa Jawa menjadi lebih kental dengan dekorasi altar dari janur, penggunaan gamelan hingga hadirnya tarian sebagai pengiring arak-arakan pembuka dan persembahan. Misa berlangsung sekitar satu setengah jam mulai pukul 16.00 WIB.

Dalam homilinya, Romo Joko mengupas bacaan injil yang menceritakan tentang orang Lewi dan Samaria. Umat diajak untuk meneladani orang Samaria yang punya kepedulian, mau membantu sesama yang sedang kesusahan. Apa yang dilakukan orang Samaria memuat pesan moral agar kita bisa menjadi harapan bagi sesama, memberi pertolongan dengan tulus hingga tuntas.

Lebih lanjut Romo Joko juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh umat Paroki Santo Yohanes Rasul Wonogiri yang telah berpartisipasi penuh dalam rangkaian HUT Paroki. Romo mengajak seluruh umat untuk selanjutnya bersama-sama bersedia membangun gereja dan terus menguatkan persaudaraan. Secara khusus Romo berpesan untuk umat yang nantinya ditunjuk sebagai Dewan Pastoral Paroki yang baru pada akhir tahun ini, siapa pun itu, semua diajak untuk bersedia terlibat, sehingga pelayanan dalam gereja menjadi semakin lancar dan bersatu padu. 

Pesta Umat: Kado Silang hingga Pertunjukan Lerok

Selesai Misa, umat tumpah ruah di halaman gereja. Acara makan bersama dirancang oleh panitia menggunakan sistem kado silang.  Masing-masing lingkungan diminta membawa makanan sesuai jumlah umat lingkungan yang hadir, lalu disetorkan pada panitia dan panitia yang membagikan kepada seluruh umat dengan sistem bertukar secara acak. Dalam pesta umat juga terdapat pula UMKM yang menjajakan aneka snack dan minuman bagi umat. Pesta umat dimeriahkan dengan aneka kesenian seperti Tari Gambyong dari Wilayah Timang, Tari Tor-tor dari Wilayah Kota Utara, Tari Prawiro Watang dari Wilayah Kota Selatan, dan Tari Kethek Ogleng dari WKRI cabang Wonogiri.

Sebagai puncak acara pesta umat disuguhkan kesenian Lerok dari Wilayah Timang. Kesenian Lerok di wilayah tersebut awalnya dibuat sebagai sarana pewartaan Injil. Namun demikian, kesenian tersebut dikemas menjadi drama yang epik dengan kekhasan Jawa Tengah seperti Seni Kethoprak. Kesenian Lerok pada pesta umat mengambil cerita “Ande Ande Lumut”. Sebagai bintang tamu, Romo Joko berperan sebagai Ande-Ande Lumut dan Romo Budi berperan sebagai Yuyu Kangkang. Pada akhir cerita Romo Joko menyampaikan makna dari cerita yang dilakonkan. Romo mengatakan bahwa cinta sejati tidak dapat dipisahkan. Romo mengajak seluruh umat untuk saling bersatu dan memberikan cinta kasih untuk sesama untuk memajukan Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri. 

Caecilia Mayllanie Puspaningtyas dari lingkungan Yusuf Kota Selatan, salah satu umat yang mengikuti puncak perayaan HUT menyampaikan antusiasmenya. Ia merasa sangat diberkati bisa turut ambil bagian dalam acara ini yang bukan hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan di antara umat paroki. 

Seluruh rangkaian acara pun akhirnya selesai pukul 21.00 WIB dan seluruh umat pulang ke rumah dengan penuh sukacita.  (Tim Liputan/ Komsos)
0 Comments

​Dari Wonogiri ke GOR Jatidiri: Dukungan Umat YoRas untuk HUT KAS ke-85

6/29/2025

0 Comments

 
Pagi-pagi benar, Maria Magdalena Suti Rahayu (64) sibuk menyiapkan barang bawaan seperti ditentukan di grup WhatsAppnya,  Minggu, 29 Juni 2025.  Tak lupa, Kaling Petrus Bero itu  mengenakan kaos merah bertuliskan "Yoras Wonogiri". Ia tidak sendiri, ada 99 orang lain yang memakainya hari itu. Kaos itu menjadi identitas umat perwakilan dari Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri pada Misa Syukur  Hari Ulang Tahun Keuskupan Agung Semarang ke-85, di GOR Jatidiri Semarang.
 
"Bersama Berziarah Berbagi Berkah", demikian tema yang diusung pada HUT KAS ke--85 tahun ini. Misa Syukur menjadi puncak acara HUT KAS ke-85 yang diadakan pada hari Minggu, 29 Juni 2025 di GOR Jatidiri Semarang. Acara tersebut dihadiri oleh ratusan biarawan-biarawati dan kurang lebih 18.000 umat se-Keuskupan Agung Semarang. Acara dimulai pukul 14.00 WIB dengan rangkaian pra acara. Kemudian pada pukul 15.00 WIB diadakan acara defile dari setiap kevikepan dan kelompok kategorial.

Acara berlanjut dengan sambutan-sambutan. Pada sambutannya, Uskup Agung KAS, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Pr mengajak umat untuk menghadirkan diri sebagai gereja yang berbagi dalam masyarakat. Beliau menegaskan bahwa kekuatan KAS terletak pada partisipasi umat beriman serta para gembala dari KAS. Sebelum akhir acara, diberikan penghargaan kepada Katekis dari perwakilan wilayah di Keuskupan Agung Semarang. Lima katekis yang terpilih adalah katekis yang terbaik serta mendapat penghargaan berupa Sarikrama Award.

Pada pukul 18.00 Misa Syukur pun dimulai dengan selebran utama Mgr. Robertus Rubyiyatmoko, Pr. HomilI pada Perayaan Ekaristi tersebut disampaikan oleh Kardinal Ignatius Suharyo, Pr yang saat ini menjabat sebagai Uskup Koajutor Keuskupan Agung Jakarta. Dalam catatan sejarah, beliau pernah menjabat sebagai Uskup Keuskupan Agung Semarang periode  tahun 1997-2009.

Dalam Homilinya, Kardinal Ignatius Suharyo mengingatkan bahwa tema HUT KAS ke-85 kali ini adalah upaya untuk menjaga semangat kepeloporan dan mengembangkan peran yang lebih luas di seluruh Indonesia. Tema tersebut juga mengajak umat untuk dapat semakin menjadi murid-murid Yesus yang mempersatukan. Dengan mempersatukan berarti umat semakin secitra dengan Allah, semakin bersatu dengan Kristus. Kardinal Ignatius Suharyo mengajak seluruh umat Keuskupan Agung Semarang untuk menuju kebersamaan kasih melalui jalan kemartiran.

Perayaan Ekaristi ditutup dengan Adorasi Sakramen Maha Kudu. Sebelum Adorasi, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C selaku ketua Ketua Presidium KWI menyampaikan sambutannya. Beliau menyampaikan syukur atas perayaan iman HUT KAS ke-85. Beliau mengatakan bahwa gereja mengambil tipe murid-murid Yesus di Yerusalem yakni berkumpul, berdoa, memecah roti, dan membagikan kepada semua orang. Beliau mengajak seluruh umat Keuskupan Agung Semarang untuk dapat dikenal sebagai murid Tuhan yang berziarah dan berbagi berkah. Seluruh rangkaian Perayaan Puncak HUT KAS ke 85 selesai pada pukul 21.00 WIB
 
YORAS WAKILKAN 100 UMAT
Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri mendapatkan kuota 100 kursi pada pelaksanaan Misa Syukur HUT KAS ke-85  Pendaftaran diri secara terbuka dan sukarela ditawarkan kepada umat yang berkenan ikut  sejak beberapa bulan sebelumnya. Menurut data dari Sekretariat Paroki, hampir semua wilayah dan lingkungan terwakili.

Pada hari keberangkatan, rombongan umat berkumpul di halaman pendopo Kabupaten Wonogiri. Berangkat pukul 09.00 WIB, umat terbagi dalam 2 bus dimana masing-masing didampingi oleh Romo Alexander Joko Purwanto, Pr, dan Romo Lambertus Issri Purnomo, Pr. Para suster di Wonogiri pun  ikut bergabung, berbaur dengan umat.

Sesampainya di GOR Jatidiri, umat menempati tribun sisi Utara, lantai 3 Blok E tepatnya menghadap lurus ke Altar. Dari posisi tersebut, umat bisa menyaksikan jalannya acara dengan jelas terbantu oleh layar LCD besar.

Atas pengalaman menjadi bagian dari misa syukur ini, umat dari Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri mengungkapkan kegembiraannya. Seperti disampaikan oleh Hari Sapto Wibowo dari lingkungan Simon, Wilayah Kota Tengah, "Ya gembira, senang, bersyukur, bisa mengikuti, bisa berpartisipasi. Jadi ketemu saudara se- keuskupan". Tanpa direncana, ia pun bisa bertemu rekan- rekan sesama staf sekretariat paroki dari paroki lain di acara tersebut.

Rasa senang juga di sampaikan oleh Yohanes Chrisostomus Dwi Sulistyo Purnomo, Ketua Wilayah Manyaran.  "Perasaan saya sangat senang, campur aduk, luar biasa. Hampir 20 ribu umat memenuhi Stadion Jatidiri Semarang," begitu ia bercerita. Hal yang lebih membuat berkesan yaitu saat pembagian komuni. "Meskipun umat sebegitu banyaknya, prosesi Misa dapat berlangsung dengan khidmat, dan pembagian komuni tidak sampai 30 menit".
​
Apresiasi pun diberikan kepada panitia. Hal itu disampaikan oleh Rafael Budoyo Hartono, umat dari Lingkungan Timotius, Wilayah Kota Utara. "Saya sangat terkesan dengan kerja dari panitia penyelenggara dengan mekanisme yang angat terorganisir sejak masuk Stadion, pengaturan tempat duduk peserta misa, hingga urut-urutan keluar stadion yang di mulai dari jarak asal  paroki peserta yg terjauh. Hal ini menghindari keruwetan di lokasi stadion ataupun tempat parkir."  Panitia benar-benar bekerja dengan profesional sehingga seluruh rangkaian acara dari awal hingga akhir telah berlangsung dengan lancar dan sangat mengesankan. Begitu ia menambahkan.
Saat jadwal kepulangan, Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri mendapat kesempatan untuk pulang lebih awal bersama umat Paroki Jumapolo. Keluar dari GOR Jatidiri pada pukul 21.00 WIB, rombongan pun sampai kembali dengan selamat di Wonogiri pada pukul 23.00 WIB. (Fransisca Anindya- Franciska Anis/ Komsos)
0 Comments
<<Previous
Forward>>

    Archives

    September 2026
    August 2026
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    January 2026
    December 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    October 2024
    August 2024
    April 2024
    December 2023
    November 2023
    July 2023
    June 2023
    May 2023
    March 2023
    February 2023
    January 2023
    December 2022
    November 2022
    August 2022
    July 2022
    June 2022
    May 2022
    March 2022
    February 2022
    December 2021
    October 2021
    September 2021
    August 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Arsip Berita
    Berita Paroki
    Pengumuman
    Surat Edaran
    Surat Gembala

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki