|
Minggu (26/4) Pagi itu, bangku-bangku gereja St. Yohanes Rasul Wonogiri tidak hanya menampung raga, tetapi memeluk ribuan harapan. Hari Minggu Panggilan kali ini terasa berbeda. Sang Gereja seolah sedang tersenyum, memperhatikan anak-anaknya yang berdiri di persimpangan dua jalan suci yakni panggilan berkeluarga dan panggilan imamat.
Harmoni Warna di Depan Altar Lantai altar yang dingin mendadak hangat ketika puluhan pasangan suami istri (Pasutri) melangkah maju. Mereka tidak datang dengan tangan kosong, melainkan membawa beban manis tahun-tahun yang telah terlewati. Pemandangan ini berupa simfoni warna pakaian dari masing masing pasutri yang seirama. Ada yang menggunakan batik mengalunkan narasi tradisi yang tak lekang oleh waktu. Kedua yaitu biru langit seolah membawa secercah ketenangan surgawi ke dalam ruang suci dan aneka warna lainnya. Hal itu mencerminkan keberagaman dinamika rumah tangga yang penuh tawa dan air mata. Saat mereka memperbarui janji perkawinan, udara di dalam gereja terasa menebal oleh rasa syukur. Panggilan berkeluarga bukan sekadar hidup bersama, melainkan sebuah misi suci untuk saling menguduskan dan menyucikan, memastikan bahwa kapal kecil bernama keluarga ini kelak berlabuh di dermaga keselamatan abadi. Pesan dari Mimbar Tentang Ketukan di Pintu Hati Di sudut lain, panggilan imamat berdiri tegak sebagai pilar pelayanan. Jika keluarga adalah jantung, maka imamat adalah tangan yang melayani umat Katolik dengan kasih yang tak terbagi. Romo Joko Purwanto, Pr, dengan suara yang tenang namun berwibawa, membisikkan kunci dari segala kerumitan hidup kepada jiwa-jiwa yang hadir: "Kuncinya adalah Setia. Kesetiaan bukan sekadar kata sifat, melainkan napas yang membuat panggilan hidup tetap hidup. Yesus tidak pernah berhenti mengetuk pintu hati kita dan tugas kita bukanlah membuat pintu itu, melainkan cukup dengan membukanya." Beliau mengingatkan bahwa Sang Juru Selamat telah memberikan segalanya yaitu darah dan daging-Nya sebagai mahar cinta yang paling mutlak. Maka, perjuangan untuk setia adalah cara kecil kita untuk membalas cinta yang begitu besar. Perjuangan yang Terus Berlanjut Minggu Panggilan di St. Yohanes Rasul Wonogiri kali ini memberikan pesan yang kuat, baik yang mengenakan jubah imamat maupun yang mengenakan batik sarimbitan, semuanya sedang berjalan menuju satu titik yang sama. Panggilan hidup bukanlah sebuah garis finis yang dicapai sekali jalan, melainkan sebuah maraton yang harus terus diperjuangkan. Hari ini, pintu hati telah dibuka lebar, membiarkan Sang Juru Selamat masuk dan memimpin langkah kaki umat-Nya menuju kekekalan. Oleh: Rachel Sukma
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
May 2026
Categories
All
|
RSS Feed