|
Oleh : Rachel-Komsos
Wonogiri (6/9/26)-Matahari perlahan menyingsing dari ufuk timur, membiaskan sinar keemasan yang hangat di atas tanah. Pagi itu, langkah kaki orang-orang menuntun mereka ke satu tujuan yakni menuju Gereja Katolik Paroki Santo Yohanes Rasul Wonogiri. Makin lama, pelataran gereja kian ramai. Gelombang anak-anak remaja berpakaian serba putih dari atas hingga bawah muncul bertahap dari balik gerbang. Wajah-wajah segar itu memancarkan binar antusiasme yang jujur. Beberapa di antaranya tak ingin kehilangan momen selagi pakaian masih necis dan rambut tertata rapi, mereka berkumpul di depan gereja untuk berfoto. Terlihat pula seorang ibu sedang merapikan kerah baju anak laki-lakinya, seperti tak ingin ada satu pun detail yang terlewatkan. Tawa renyah sesekali terdengar di antara jepretan kamera, merekam sukacita yang sederhana namun dalam. Hari itu menjadi catatan istimewa bagi 208 krismawan dan krismawati. Gereja yang dipenuhi umat hingga ke area luar tak mampu menyembunyikan rasa syukur yang membuncah. Di panti imam, Perayaan Ekaristi Penerimaan Sakramen Krisma dipimpin langsung oleh Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, dengan didampingi oleh Romo Alexander Joko Purwanto, Pr (Romo Joko), Romo Norbertus Sukarno Siwi, Pr (Romo Siwi), serta Romo Lukas Ivan Sanjaya, Pr (Romo Ivan). Suasana mendadak teduh saat doa dilantunkan bersama-sama, memohon curahan Roh Kudus bagi anak-anak muda yang bersiap menapak kedewasaan iman. Dalam khotbahnya yang mengalir ramah, Bapa Uskup menuturkan bahwa buah dari Roh Kudus pada dasarnya sangatlah ringkas yakni hidup dalam kasih. Beliau mengingatkan para krismawan agar tidak tumbuh menjadi pribadi yang acuh tak acuh. Tanggung jawab iman adalah saling merangkul, memberi teladan, dan berani mengingatkan saudara yang mulai melangkah menjauh dari kebaikan. Ketika minyak Krisma diusapkan ke dahi satu per satu, seolah menyatu dengan udara pagi yang bersih. Perayaan Ekaristi berakhir dengan berkat meriah dan sesi foto bersama para imam, namun kehangatan di paroki itu tidak lantas usai. Di bawah langit yang kian terang, remaja-remaja bergaun dan berkemeja putih itu berjalan pulang membawa dahi yang telah terurapi dan tekad sederhana untuk menjadi terang bagi sesamanya.
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
September 2026
Categories
All
|
RSS Feed