Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Juru Masak di Biara Shaolin

8/12/2024

0 Comments

 
Puncta 13 Agustus 2024
Selasa Biasa XIX
Matius 18:1-5.10.12-14

DALAM Film berjudul The Shaolin, ada seorang juru masak di Biara Shaolin yang tidak sentral perannya. Tetapi mengajarkan kepada kita semangat kerendahan hati. Biksu juru masak itu bernama Wudao ( diperankan oleh Jacky Chan).

Ia tidak nampak sebagai biksu yang pandai bermain silat. Tugasnya hanya di belakang, di dapur menyediakan makanan bagi para murid Shaolin. Tutur katanya sopan dan perilakunya menjadi panutan bagi para murid.

Hou Jie, sering berdiskusi dengan Juru masak sederhana itu. Hou Jie adalah mantan jendral yang ambisius, kejam dan main kuasa. Ia kalah perang dan bersembunyi di biara itu.

Tetapi berhadapan dengan Wudao yang sederhana, rendah hati dan welas asih, Hou Jie akhirnya menemukan kedamaian hidup di Kuil Shaolin. Hou Jie bertobat, mengubah jalan hidupnya.

Yesus berkata kepada murid-murid, “Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Janganlah menganggap rendah seorang pun dari anak-anak kecil ini.”

Kerendahan hati adalah sumber kebijaksanaan. Sejak dini kita sudah diajarkan untuk bersikap sopan santun, menghargai orang lain baik dalam tingkah laku dan tutur kata. 

Kalau lewat di depan orang kita, membungkuk dan permisi sebagai tanda merendahkan diri dan hormat pada sesama.

Jika kita bisa merendahkan diri, kita juga akan dihormati oleh orang lain. Yesus mengambil contoh seorang anak, karena anak biasanya dianggap sebagai pribadi yang lemah, rendah dan tidak punya power apa pun.

Jika kita bisa menghargai mereka yang rendah, lemah, tak berkuasa, kita memiliki kebijaksanaan anak-anak Allah. Allah justru menghadirkan Diri-Nya dalam pribadi orang-orang lemah.

Maka Yesus berkata, “Barangsiapa menyambut seorang anak kecil ini dalam Nama-Ku, ia menyambut Aku.” 

Marilah kita menghargai dan mengasihi mereka yang kecil, lemah, tersingkir dan yang tidak punya kekuatan apa pun, karena justru dalam diri merekalah Allah menampakkan Diri-Nya.

Makan soto dengan bumbu rempah,
Bikin nafsu makan jadi semakin kuat.
Merendahkan diri tidak berarti lemah,
Ia sedang mengajarkan kekuatan yang dasyat.

Wonogiri, hargailah mereka yang kecil
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Memberi Teladan

8/11/2024

1 Comment

 
​Puncta 12 Agustus 2024
Senin Biasa XIX
Matius 17: 22-27

DALAM bacaan Injil hari ini Yesus memberi teladan kepada para murid-Nya untuk taat membayar pajak. 

Ia menyuruh Simon untuk memancing ikan dan mengambil empat dirham yang ada di mulut ikan itu. Dengan uang itu, Yesus dan Petrus membayar pajak kepada negara.

Yesus berkata kepada Simon, “Agar kita jangan menjadi batu sandungan bagi mereka, ambillah uang itu dan bayarlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu.” 

Sebagai seorang guru, Yesus  menunjukkan keteladanan bagi para murid-Nya.

Seorang guru tidak hanya mengajarkan, tetapi juga mempraktekkan apa yang diajarkan itu. Keteladanan lebih penting dari pada nasehat dan tutur kata. 

Satu tindakan keteladanan lebih berguna daripada seribu kata-kata yang meluncur dari mulut kita.

Keteladanan muncul dari kesatuan antara kata dan tindakan. Apa yang dikatakan, juga dilakukan secara kongkret dalam praktek hidup sehari-hari. Keteladanan menunjukkan integritas pribadi kita.

Dengan tindakan kecil, Yesus menunjukkan keteladanan-Nya yakni membayar pajak, agar tidak menjadi batu sandungan bagi banyak orang. Kepekaan dalam hal-hal kecil membuat kita menyingkiri batu sandungan bagi orang lain.

Dengan bertindak demikian, kita menghilangkan syak wasangka dan penilaian-penilaian negatif. Yang kita pikirkan bukan hanya diri sendiri, tetapi persepsi dan penilaian orang lain. Hal-hal umum yang wajib kita lakukan ya mesti kita jalani sebagaimana mestinya.

Menghindari batu sandungan adalah tindakan bijaksana agar orang tidak berpikir dan bertindak keliru terhadap kita. 

Mari kita jalani hidup kita dengan tertib dan setia agar tidak menjadi batu sandungan bagi sesama.

Siap-siap menuju ke Jakarta,
Paus Fransiskus mau mimpin misa.
Tuhan Yesus ajarilah kami semua,
Tidak jadi sandungan bagi sesama.

Wonogiri, jangan menjadi batu sandungan
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
1 Comment

Roti Hidup

8/10/2024

0 Comments

 
​Puncta 11 Agustus 2024
Minggu Biasa XIX
Yohanes 6: 41-51

SEORANG ibu yang sudah "sepuh" atau tua setiap hari mengikuti Ekaristi di Gereja St.Yohanes Rasul Wonogiri. Ia rajin dan semangat datang ke gereja. Setelah misa selesai, dia tidak langsung pulang, tetapi masih menyapu halaman gereja, membersihkan sampah dan puntung rokok yang bertebaran.

Dia sudah pensiun dari PNS dan banyak waktu dihabiskan di gereja. Dia pernah sharing, “Kalau sehari tidak menerima Tubuh Kristus, ada sesuatu yang kurang, Romo. Ekaristi sudah menjadi kebutuhan hidup saya. Hanya di Gereja tempat yang membuat saya ayem tentrem.”

Bagi orang Katolik, Ekaristi adalah  sumber makanan yang memberi semangat hidup. Tubuh Kristus yang diterima dalam komuni suci adalah makanan yang kekal bagi kehidupan rohani kita.

Yesus berkata, “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."

Kita tidak hanya membutuhkan makanan jasmani, tetapi juga butuh makanan rohani. Manusia terdiri dari badan, jiwa dan roh. Badan membutuhkan makanan yang menguatkan. Begitu pula jiwa dan roh kita harus diberi makanan rohani.

Yesuslah yang menjadi roti hidup bagi jiwa dan roh kita. Dia menjadikan Diri-Nya roti yang siap dipecah dan dibagi untuk kehidupan kita. “Barangsiapa makan Roti ini akan hidup selama-lamanya.”

Di dalam Ekaristi kita makan Tubuh Kristus dan mengunyah sabda-Nya. Santo Hieronimus pernah berkata, “Tidak mengenal Kitab Suci, tidak mengenal Yesus.” Kalau kita mau mengenal Yesus berarti kita diminta membaca sabda-Nya dalam Kitab Suci. 

Dalam Ekaristi kita mengunyah sabda-Nya lewat bacaan yang kita renungkan dan menerima Tubuh-Nya sebagai kekuatan hidup kita. Maka benarlah yang disharingkan ibu tua tadi, “semakin sering ikut Ekaristi, semakin hidupnya ayem tentrem dan bahagia.”

“Tidak ada yang lebih agung selain Ekaristi. Bila Allah memiliki sesuatu yang lain yang lebih berharga [dari Ekaristi], maka Ia akan memberikan-Nya pada kita”  kata St. Yohanes Maria Vianney.

Wonogiri dekat Paroki Batu,
Ke selatan sampai Pantai Nampu.
Ekaristi adalah sumber hidupku,
Roti Hidup adalah makananku.

Wonogiri, Ayo ikut misa pagi
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Forward>>

    Archives

    December 2034
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki