|
Berikut adalah kolom untuk bertanya pada Romo. Silakan menulis nama dan pertanyaan di kolom komentar. E-mail dan website dikosongkan saja apabila tidak punya.
18 Comments
Puncta 19 Mei 2026
Selasa Paskah VII Yohanes 17:1-11a DALAM sharing di kelompok Paguyuban Imam-Imam Jesus Caritas, Rama Trasno bercerita bahwa doa yang selalu diucapkan adalah syukur atas campur tangan Tuhan lewat semua yang dikerjakan dalam pelayanan sehari-hari. “Saya berdoa pada Tuhan seperti melaporkan apa yang saya kerjakan, dengan siapa saya berjumpa, bagaimana perasaan saya waktu itu. Lalu bersyukur Tuhan mengatur semuanya berjalan dengan baik. Itulah doa saya setiap hari,” ungkapnya di hadapan rama-rama Jesus Caritas. Dalam kutipan Injil hari ini, Yesus mengucapkan doa syukur agung kepada Bapa-Nya yang telah memuliakan-Nya melalui karya-karya dan pekerjaan yang dilakukan Yesus kepada banyak orang. Ia membawa seluruh karya dan orang-orang yang dilayani kepada Bapa-Nya. “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya,” doa Yesus kepada Bapa. Dengan melaksanakan tugas-Nya Yesus memuliakan Allah. Yesus menuntaskan pekerjaan-Nya di kayu salib untuk memberi hidup kekal kepada mereka yang percaya. Mereka telah menjadi percaya bahwa Kristuslah Sang Penebus. Dengan percaya, mereka mengenal Allah yang sesungguhnya. Yesus mendoakan mereka yang masih berjuang di dunia. “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu dan segala milik-Ku adalah milik-Mu dan milik-Mu adalah milik-Ku, dan Aku telah dipermuliakan di dalam mereka.” Bagaimanakah kita berdoa kepada Bapa? Apakah hanya sebatas ritual saja, kering dan hambar karena tidak melibatkan seluruh perasaan dan pengalaman karya-karya kita? Marilah kita belajar berdoa seperti Yesus, melibatkan Allah dalam segala tugas pekerjaan kita. Doa menjadi sumber yang terus mengalir tanpa henti untuk menyuburkan karya-karya kita. Dengan demikian kita memuliakan Allah melalui karya kita itu. Sepercik pantun buat anda: Hutan dibabat jadi persawahan, Banyak satwa yang musnah di Papua. Doa dan karya tak bisa dipisahkan, Jangan lupa berdoa sebelum berkarya. Wonogiri, satu dalam doa dan karya Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 18 Mei 2026
Senin Paskah VII Yohanes 16:29-33 TOKOH utama dalam Gerakan 30 September 1965 adalah DN Aidit. Dia adalah pemimpin Partai Komunis Indonesia. Kelompok ini dituduh mau melakukan kudeta. Maka seluruh pimpinan ditangkap, dihukum mati. Ada yang dibuang ke Pulau Buru dan Nusakambangan. Partai dibubarkan dan dilarang beroperasi. Para pengikutnya juga dikejar, dihukum tanpa melalui pengadilan dan dicap sebagai organisasi terlarang. Mereka dikucilkan dan ditutup segala akses untuk mendapatkan pekerjaan di lini pemerintahan. Mereka hidup dalam bayang-bayang penindasan, ketidakadilan dan diskriminasi. Selalu dicap sebagai kambing hitam dalam setiap gerakan anti pemerintah. Merekalah yang selalu disalahkan. Yesus memahami situasi para murid yang akan ditinggalkan. Oleh orang-orang Yahudi, Yesus dituduh sebagai perusak adat istiadat agama. Oleh orang-orang Romawi, Yesus dianggap sebagai pemimpin kaum proletar, rakyat jelata yang bisa menyulut pemberontakan. Kelompok-kelompok agama Yahudi seperti Farisi dan Saduki sangat tidak suka dengan ajaran-ajaran Yesus yang sering mengkritik mereka. Yesus sudah menduga bahwa para murid-Nya nanti pasti juga akan mengalami penolakan dan perlawanan. Oleh karena itu sebelum berpisah dengan mereka, Yesus sudah mengingatkan resiko mengikuti perjuangan-Nya. Ia berpesan, “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia." Para murid-Nya akan mengalami penganiayaan, pengejaran, ditangkap, dipenjara dan dibunuh karena membela imannya. “Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku,” Ia telah bernubuat. Siapa yang tetap bertekun sampai akhir perjuangan, ia akan memperoleh hidup yang sejati. Yesus bersabda, “"orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan diselamatkan". Yesus sudah memaparkan bahwa menjadi murid-Nya memang berat. Tetapi siapa yang bertahan, ia akan memperoleh keselamatan. Maukah kita bertahan mengikuti-Nya sampai akhir? Sepercik pantun buat anda: Di kebun sawit ada banyak tikus, Bisa jadi lauk enak kalau direbus. Tidak mudah mengikuti Yesus, Harus siap memanggul salib terus menerus. Wonogiri, siap menderita demi Kristus Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 17 Mei 2026
Hari Minggu Paskah VII Hari Komunikasi Sosial Sedunia Yohanes 17:1-11a PRESIDEN pertama kita, Soekarno dijuluki sebagai “Singa Podium,” karena pidatonya yang berapi-api dan mampu menyihir ribuan orang untuk setia mendengarkan pesan-pesannya. Ia mampu mengobarkan semangat rakyat untuk berjuang. Ia juga dijuluki sebagai “Penyambung Lidah Rakyat.” Ia mampu mengajak rakyat bersatu, berjuang bersama dan gotong royong menghadapi situasi sulit negeri. Ia menyambungkan cita-cita seluruh rakyat Indonesia agar bisa merdeka dan menghantarkan ke gerbang kemerdekaan. Pada perayaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ini, bacaan Injil menggambarkan Yesus sebagai Sang Komunikator Agung. Ia berkomunikasi dengan Bapa di sorga. Ia menyampaikan doa-doa syafaat kepada Bapa untuk keselamatan manusia. Yesus menghubungkan kita umat manusia dengan Allah Bapa di sorga. Ia telah memperkenalkan Bapa kepada kita dengan segala karya dan sabda-Nya. “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.” Sang Komunikator Agung itu telah mewahyukan Allah melalui sabda, karya dan puncaknya adalah wafat-Nya di salib. Dengan wafat dan kebangkitan-Nya, Yesus menghantar kita yang berdosa ini kembali kepada Bapa. Dengan kebangkitan-Nya, Yesus dipermuliakan dan ditinggikan di sisi kanan Allah. Dengan pengorbanan Yesus kita kembali menjadi anak-anak angkat Allah. Walaupun kita masih hidup di dunia, tetapi kita ini adalah milik Allah. Maka sudah seharusnya dan sewajarnya jika hidup kita juga meneladan dan mengikuti Kristus yang telah menyatu dengan Allah. Allah telah memberikan hidup kekal kepada Kristus, demikian juga Kristus akan memberikan hidup kekal kepada kita yang percaya. “Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya. Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Kristus telah memuliakan kita, maka marilah kita memuliakan Kristus dengan melaksanakan karya dan teladan-Nya mengasihi semua orang di sekitar kita. Sepercik pantun buat anda: Pidato Soekarno di atas mimbar, Mengobarkan cinta nusa dan bangsa. Tidak ada kasih yang lebih besar, Daripada kasih Yesus pada manusia. Wonogiri, Allah sumber kasih sejati Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 16 Mei 2026
Sabtu Paskah VI Yohanes 16:23b-28 TANGGAL 26 Juli 2025, Seekor induk monyet Jepang (Macaca fuscata) dari Ichikawa City Zoo, melahirkan bayi yang kelak diberi nama Punch. Bayi monyet ini ditinggalkan induknya. Penjaga kebun binatang memelihara Punch dengan kasih sayang. Tak ada kasih dan pelukan induknya, Punch merasa kesepian. Penjaga memberinya boneka orangutan sebagai tempat bermanja dan berlindung dari rundungan monyet dewasa. Ia memeluk dan berguling-guling bermain manja. Rasa kasihan menyergap para netizen saat Punch bergelayutan di tubuh penjaga kebun binatang. Ia seperti layaknya anak tanpa kasih sayang ditinggalkan orangtuanya. Ia meminta perlindungan dan kasih sayang. Nasib Punch sebetulnya adalah nasib kita juga. Yesus pergi meninggalkan para murid-Nya. Mereka seperti anak ayam kehilangan induk. Berlari kian kemari mencari perlindungan dan kasih sayang. “Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa," kata Yesus pada para murid. Ia kembali kepada Bapa. Ia menasehatkan agar kita meminta kepada Bapa. Sebagaimana Punch yang mengharapkan rasa aman, perlindungan dan kasih sayang, kita pun juga membutuhkan kasih sayang dari Bapa. Maka Yesus berpesan agar kita memintanya kepada Bapa. “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” Dari monyet kecil, Punch itu kita bisa bercermin bahwa yang kita butuhkan adalah kasih sayang Allah Sang Pemelihara Kehidupan kita. Mengapa simpati global mengalir pada Punch, si monyet yatim itu? Karena dari lubuk terdalam, kita pun juga mengalami perasaan yang sama seperti Punch. Kita membutuhkan kasih Allah. Yesus sudah menyatakannya, “Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah.” Mari kita datang dan memohon kasih Allah, agar hidup kita dilimpahi dengan sukacita. Yesus berpesan, “Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” Sepercik pantun buat anda: Monyet kecil bermain di Ichikawa, Menguras rasa simpati seluruh dunia. Yesus Kristus kembali kepada Bapa, Akan mengutus Roh Penghibur bagi manusia. Wonogiri, mintalah pada Bapa Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 15 Mei2026
Jum’at Paskah VI Yohanes 16:20-23a SETELAH duapuluh lima tahun jadi imam, saya tidak naik gunung lagi. Tetapi untuk merayakan pesta perak imamat yang lalu saya ingin menikmati indahnya puncak gunung. Kami memilih yang tidak tinggi yakni Gunung Mongkrang (2.194 mdpl), sebuah puncak dalam gugusan Gunung Lawu Selatan yang sering menjadi tujuan pendakian santai. Kami bertujuh naik dari Tawangmangu saat subuh yang masih gelap. Udara dingin dan pagi yang gelap menyelimuti. Walau demikian kaki terus melangkah naik dan mendaki dengan pelan. Makin di ketinggian perjalanan makin terjal. Karena lama tidak mendaki gunung, kaki rasanya penat dan berat melangkah. Lelah, letih dan pegal di badan harus dikalahkan demi mencapai puncak. Derita dan sakit, beban dan kesulitan harus dibuang jauh untuk bisa melihat sunrise yang indah. Saat sudah berada di puncak Mongkrang, pemandangan indah mengagumkan luar biasa. Melihat matahari terbit perlahan-lahan di cakrawala dengan warna-warna jingga keemasan sungguh mengagumkan. Segala beban derita, sakit, kelelahan dan keletihan hilang seketika. Perjuangan berat selama pendakian terbayar sudah dengan keindahan alam yang menakjubkan. Seperti kebahagiaan seorang ibu yang baru saja melahirkan. Demikianlah Yesus menghibur para murid yang akan berpisah dengan-Nya. Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.” Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Dalam kehidupan ini kita juga sering mengalami kehilangan, berpisah dan ditinggalkan oleh orang-orang yang kita kasihi. Kita mengalami beban dan derita, susah dan dukacita. Tetapi kita punya harapan bahwa sesudah perjuangan, kita akan memperoleh sukacita dan kebahagiaan. Kita diminta untuk bersabar dan tekun menantikan janji Tuhan. Ia tidak akan meninggalkan kita. Ia akan menyertai kita dengan Roh Kudus-Nya. Ia akan berjalan bersama kita menapaki jalan yang berlekuk liku. Yesuslah sahabat setia yang akan selalu mendampingi kita. Sepercik pantun buat anda: Mendaki ke Gunung Mongkrang, Dari jauh lihat Telaga Sarangan. Walau sering ragu dan bimbang, Tetap jalan mengandalkan Tuhan. Wonogiri, jalan bersama Tuhan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 14 Mei 2026
HR. Kenaikan Tuhan Matius 28:16-20 BANYAK peziarah mengunjungi Kapel Kenaikan Tuhan atau Chapel of Holy Ascension di Bukit Zaitun. Kapel ini berbentuk bulat dan atapnya berupa kubah. Dikelilingi oleh tembok melingkar dan dikelola oleh komunitas Muslim di Yerusalem. Namun demikian banyak umat Kristiani dan Muslim yang berziarah di situ. Di tengah kapel itu ada situs batu tergambar telapak kaki yang diyakini sebagai kaki Yesus sebelum Ia terangkat ke langit dan naik ke sorga. Injil Sinoptik (Lukas, Matius, Markus) mengisahkan Yesus yang terangkat dan naik ke sorga disaksikan oleh murid-murid-Nya dan orang banyak. Kisah Para Rasul juga menulis tentang peristiwa ini. Injil Yohanes tidak mengisahkan narasi kenaikan Tuhan, tetapi lebih berfokus pada makna teologis dari kisah itu. Yesus pergi meninggalkan murid-murid untuk kembali kepada Bapa di sorga. Kepergian-Nya bukan untuk berpisah tetapi mengutus Roh Kudus untuk menuntun mereka menjadi pewarta kasih Allah. Inti peristiwa Kenaikan Tuhan ini adalah perintah agung kepada para murid yang diberi kuasa untuk pergi mewartakan Injil. Yesus berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” Dia juga berjanji akan menyertai mereka. “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Yesus melalui Roh Kudus-Nya akan membimbing kita melintasi ruang dan waktu dalam tugas pewartaan Injil. Hari raya ini mengundang kita semua untuk menyadari perutusan agung Tuhan. Sebagai murid-murid-Nya, kita diberi tugas untuk membawa banyak orang kepada keselamatan kekal dalam Kristus. Apakah kita sudah menjadi teladan baik bagi orang lain agar mereka - melalui tutur kata dan tindakan kita – semakin mengenal Kristus dan melakukan segala sesuatu yang telah diajarkan-Nya? Sepercik pantun buat anda: Di Bukit Zaetun ada Kapel Kenaikan, Bisa melihat Yerusalem dari kejauhan. Kita diutus jadi pewarta keselamatan, Pergi kemana-mana menanam kebaikan. Wonogiri, pergilah ke seluruh dunia Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 13 Mei 2026
Rabu Paskah VI Yohanes 16:12-15 YESUS terus menekankan kepada para murid bahwa Ia akan mengutus Roh Penghibur yaitu Roh Kudus. Roh Kudus itu adalah Roh Yesus yang berasal dari Bapa. Maka Dia menyebut Aku dan Bapa adalah satu. Apa yang dipunyai Bapa juga dipunyai Yesus. Kesatuan kasih antara Bapa, Putra dan Roh Kudus inilah yang memungkinkan Yesus memberikan Roh-Nya bagi kita. Roh Kudus itu bertugas menuntun kita kepada kebenaran. Yesus pernah berkata, “Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup.” Yesus adalah Kebenaran itu sendiri. Roh Kudus akan membimbing kita kepada Sang Kebenaran Sejati yaitu Yesus Kristus. Ia (Roh Kudus) akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Roh Kudus terus menuntun Gereja sepanjang masa. Hal ini dapat kita baca dalam pengalaman Paulus di Athena. Di sana Paulus bertemu dengan orang Athena yang menyembah dewa-dewa. "Hai orang-orang Athena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu.” Paulus kemudian menjelaskan siapa Allah yang tidak dikenal itu. Dengan kuasa Roh Kudus, Paulus menuntun mereka kepada kebenaran Allah yang Maha Pencipta. Dari antara mereka ada yang percaya yakni Dionesius, seorang anggota majelis Aeropagus dan Damaris. Kita semua juga dikaruniai Roh Kudus saat menerima sakramen Krisma. Kita juga bisa memimpin orang-orang menuju kepada kebenaran dan keselamatan. Dengan hidup kita yang telah dibaptis dan diselamatkan, kita menjadi teladan baik bagi mereka. Percayalah bahwa Roh Kudus masih berkarya di tengah-tengah kita. Kita bisa menjadi jalan agar orang lain memperoleh kebenaran dan hidup sesuai dengan nilai-nilai kebenaran. Sepercik pantun buat anda: Sungguh aneh hidup di negeri Konoha, Film Pesta Babi saja dikawatirkan. Roh Kudus dianugerahkan pada kita, Dia memimpin kita menuju kebenaran. Wonogiri, Dengan Roh Kudus kita tidak takut Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 12 Mei 2025
Selasa Paskah VI Yohanes 16:5-11 PEMAIN legendaris Lionel Messi merasa berat harus meninggalkan Barcelona, klub yang sudah membesarkannya sejak ia usia 13 tahun. Pada transfer musim panas tahun 2021, klub terpaksa harus melepas Messi karena berbagai kesulitan. Salah satu masalah yang muncul selain masalah finansial adalah regenerasi pemain. Klub tak mungkin mempertahankan Messi untuk membangun generasi baru di Blaugrana. Messi sudah menjadi ikon Barcelona. Tetapi usia tidak bisa disembunyikan. Generasi baru harus disiapkan. Dengan sedih akhirnya Messi harus pergi. Tetapi klub berharap bisa melahirkan generasi baru dengan nafas dan tenaga baru yang lebih muda. Maka muncullah pemain muda Lamine Yamal dan Gavi, yang diharapkan bisa mengharumkan klub. Perpisahan memang sangat berat. Apalagi jika kita telah lama berjuang bersama. Begitu pun Yesus juga akan meninggalkan para murid-Nya. Kurang lebih selama tiga tahun Yesus bersama-sama dengan mereka. “Sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tiada seorangpun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, sebab itu hatimu berdukacita,” kata Yesus. Namun Yesus pergi tidak begitu saja. Dia akan mengutus Roh Kudus untuk membimbing murid-murid. Roh Kudus itu akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman. Dengan Roh Kudus para murid dipanggil meneruskan karya Yesus. Kita dipanggil terus untuk menginsafkan dunia dengan pertobatan hidup. Kita juga diutus untuk mewartakan kebenaran sejati yang diajarkan Kristus. Roh Kudus yaitu Roh Kristus sendiri yang akan menolong dan menyertai kita. Tuhan akan menghakimi kita di akhir zaman. Untuk bisa berjuang membawa kebenaran dan pertobatan, kita membutuhkan bimbingan Roh Tuhan. “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu,” demikian pesan Yesus. Kita tidak perlu bersedih karena Yesus mengutus Roh Kudus-Nya bagi kita. Roh itu yang akan menuntun langkah kita. Sepercik pantun buat anda: Messi menginggalkan Barcelona, Agar muncul bintang baru lebih muda. Roh Kudus diutus turun ke dunia, Membawa warta bahagia dan sukacita. Wonogiri, dituntun Roh Kudus Rm.A.Joko Purwanto, Pr Puncta 11 Mei 2026
Senin Paskah VI Yohanes 15:26 – 16:4a BARU-BARU ini terjadi pembubaran kegiatan nobar (nonton bareng) film berjudul Pesta Babi di Universitas Mataram NTB. Sungguh aneh bahwa kampus sebagai wahana intelektual untuk diskusi dan mengeluarkan pendapat dibungkam oleh pihak rektorat. Dari Film dokumenter Pesta Babi kita tahu sejatinya kondisi masyarakat adat Papua yang tergusur karena pembangunan besar-besaran untuk pembukaan lahan. Atas nama pembangunan, masyarakat adat dikurbankan harus kehilangan wilayah, mata pencaharian, identitas budaya dan sumber kehidupan mereka. Masyarakat kita baru terbuka betapa hancurnya suatu suku bangsa dikarenakan pembangunan nasional dengan berdalih demi kepentingan bangsa. Film itu harus disebarkan agar rakyat tahu pembangunan ini untuk siapa. Kalau pemerintah melarang film ini, semakin jelas penguasa sudah tuli dan tidak mau mendengar kritik dari masyarakat. Kalau aparat dipakai untuk merepresi kaum sipil, menjadi jelas pemerintah bersikap otoriter dan menutup kebebasan bersuara. Yesus berpesan kepada para murid-Nya untuk bersaksi tentang kebenaran dan keadilan. “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku." Namun kita juga harus siap dengan dampak dari keberanian kita bersaksi. Yesus dari awal sudah mengingatkan. “Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.” Apa yang dialami oleh aktivis Andri Yunus sudah bisa menjadi pratanda bagi para pejuang keadilan. Mereka yang berani melawan otoritarianisme akan disingkirkan. Andri Yunus disiram dengan air keras. Tidak heran dan mungkin bisa terjadi film Pesta Babi akan dibreidel dan dilarang tayang oleh penguasa sebagai bentuk pembekuan kebebasan berekspresi dan berpendapat. Yesus sudah mengingatkan kepada para murid-Nya bahwa para murid akan menghadapi tantangan yang berat. “Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu." Hal ini tidak Kukatakan kepadamu dari semula, karena selama ini Aku masih bersama-sama dengan kamu.” Mari kita terus bersaksi tentang kebenaran dan keadilan. Pada saatnya kebenaran akan menang dengan caranya sendiri dan Tuhan akan membuka mata semua orang mana yang benar dan mana yang salah. Sepercik pantun buat anda: Nonton Pesta Babi dibubarkan, Apa gunanya UU kebebasan bersuara. Jangan takut wartakan kebenaran, Walau dihadang kesulitan dan bahaya. Wonogiri, terus wartakan kebenaran Rm. A.Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed