|
Puncta 2 Januari 2026
Pw. St. Basilius Agung dan St. Gregorius dr Nazianze, Uskup dan Pujangga Gereja. Matius 23:8-12 DALAM pidato-pidato kita sering menyebut nama orang penting dengan gelar-gelar yang panjang. Katanya itu sebagai wujud penghormatan. Walau mungkin hanya untuk formalitas belaka. Tetapi kita bisa jatuh pada kesombongan dan pengagungan diri yang justru membatasi relasi dengan orang lain. Dalam Injil hari ini, Yesus berkata, “Tetapi janganlah kamu disebut ‘Rabi,’ sebab kamu hanya mempunyai satu Guru, dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun di bumi sebagai ‘bapa,’ sebab hanya ada satu Bapa, yaitu Dia yang di surga.” Dalam Gereja Katolik, ada istilah Monsinyur, untuk gelar seorang uskup. Mgr. Suharyo tidak mau disebut Monsinyur, beliau lebih suka disebut Bapa Uskup. “Saya lebih suka dipanggil uskup daripada monsinyur. Panggilan monsinyur itu terlalu feodal,” kata beliau. Monsinyur adalah gelar kehormatan dari Paus. Tidak hanya uskup, bahkan ada imam yang juga diberi gelar Monsinyur, Misalnya Monsinyur Kartasiswaya, almarhum. Di Keuskupan Agung Semarang seorang uskup sering juga disapa “Rama Kanjeng.” Misalnya, Rama Kanjeng Soegijapranata, Rama Kanjeng Darmoyuwono. Semua itu hanyalah gelar kehormatan. Gelar itu bukan segala-galanya. Buktinya setelah tidak menjabat uskup, Bapak Kardinal Darmoyuwono memilih menjadi pastor pembantu di Paroki Banyumanik, Semarang. Intinya bukan soal gelarnya tetapi esensinya adalah pelayanan yang rendah hati dan murah kepada sesama. Yesus tidak sedang mengutuk penyebutan gelar, tetapi mengingatkan akan potensi kesombongan dan keangkuhan pribadi. Gelar tidak membuat relasi jadi dekat tetapi justru berjarak. Yesus justru mengingatkan, “Yang terbesar di antara kamu akan menjadi pelayanmu. Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.” Fokus utama hendaknya justru dalam melayani sesama dengan rendah hati. Yang diberi kuasa atau kedudukan semestinya nampak dalam tindakan pelayanan dan pengabdiannya. Tetapi juga jangan pamer seperti seorang pejabat yang ada bencana, lalu membuat tik tok memikul karung beras sendirian seperti Robin Hood yang membagi-bagi rampasan untuk kaum miskin di hutan Nothingham. Banyak Netizen menanggapinya dengan sinis. Mereka berpikir, tindakan itu bukan sejatinya pemimpin yang melayani, tetapi hanya mencari popularitas diri. Nurani rakyat lebih jernih memandang pemimpin yang tulus dan yang cari keuntungan sendiri. Apakah anda mau menjadi pemimpin yang dicintai rakyat? Layanilah rakyat kecil dengan tulus dan murah hati. Niscaya anda akan dicintai dan dihormati. Tak ada pesta kembang api, Akhir tahun terasa sepi sekali. Pemimpin sejati itu melayani, Bukan raja yang minta dihormati. Wonogiri, datang untuk melayani Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Puncta, 1 Januari 2026
HR. St. Maria Bunda Allah, Oktaf Natal Tahun Baru Hari Perdamaian Sedunia Lukas 2: 16-21 GEMBALA-gembala yang datang ke palungan tempat Yesus lahir bersukacita karena mereka melihat segala sesuatu persis seperti yang dikatakan oleh malaikat. Mereka bercerita kepadaYusuf dan Maria tentang warta malaikat. Malaikat mengatakan kepada para gembala; “Jangan takut! Sebab aku datang membawa kabar baik untukmu. Hari ini di kota Daud telah lahir Raja Penyelamatmu yaitu Kristus, Tuhan. Inilah tandanya: Kalian akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan kain, dan berbaring di dalam sebuah palung.” Mereka segera menyatakannya ke Betlehem dan menjumpai Maria dan Yusuf serta bayi Yesus di palungan. Berita ini menggembirakan semua orang. Semua yang mendengarnya bersukacita. Gembala-gembala adalah orang yang jujur dan sederhana. Mereka tulus ikhlas tanpa dibuat-buat. Kejujuran dan ketulusan hati mereka justru menjadi sumber sukacita bagi banyak orang. Berbeda dengan sikap orang-orang besar seperti Herodes. Raja itu menunjukkan topengnya yang bengis ketika mendengar telah lahir seorang raja. Banyak pejabat yang menampilkan pencitraan seolah-olah baik, tetapi hatinya jahat dan rakus. Mereka sering melakukan kebohongan-kebohongan untuk menampilkan citra yang baik di mata orang. Ada yang bilang bahwa bencana adalah takdir Allah yang harus diterima untuk menutupi kejahatan penebangan hutan dan salah pengelolaannya. Ada pejabat yang menolak bantuan asing karena malu dianggap tidak becus ngurusi rakyatnya yang menderita. Padahal mereka sangat membutuhkan uluran tangan dan penanganan yang cepat. Kita harus belajar dari para gembala yang jujur, sederhana, tulus ikhlas dan gembira. Mereka tidak memakai topeng kebohongan dan pencitraan. Hidup mereka membawa kegembiraan bagi orang lain. Tindakan yang dipoles dengan kebohongan hanya akan membawa penderitaan. Tahun baru bawa berita bahagia, Orang menderita bisa senyum tertawa. Para gembala datang bawa sukacita, Maria dengan takzim merenungkannya. Wonogiri, selamat memasuki Tahun baru 2026 Rm. A.Joko Purwanto,Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed