|
Puncta 30 Januari 2026
Jum’at Biasa III Markus 4: 26-34 SOSOK lelaki berjengggot putih itu menjadi inspirasi bagi masyarakat Wonogiri untuk melestarikan lingkungan hidup. Ia menanam ribuan pohon beringin di perbukitan Bulukerto, Wonogiri. Berjuang seorang diri untuk menghijaukan bukit yang luas demi melestarikan sumber air bagi warga setempat. “Kalau saya menanam cengkeh, hasilnya hanya untuk saya sendiri, tetapi kalau saya tanam beringin, masyarakat bisa menikmati.” Sekarang masyarakat Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto, Wonogiri tidak lagi kesulitan air bersih. Pohon beringin menjadi penyangga sumber air di gunung dan dampaknya bisa dinikmati oleh masyarakat. “Saya hanya menanam, Gusti Allah yang menghidupkan,” tegas mBah Sadiman. Yesus menggambarkan Kerajaan Allah itu seumpama benih yang ditabur orang dan tumbuh menjadi besar. Orang tidak tahu bagaimana pertumbuhan itu. Halnya juga seperti biji sesawi yang kecil, dan tumbuh menjadi pohon besar, bisa untuk bernaung berbagai jenis burung. Tindakan sekecil apapun, ketika kita menabur benih kebaikan, pelayanan, kepedulian bagi orang lain, nantinya akan tumbuh menjadi besar oleh karya Tuhan. Jangan lelah untuk menabur kebaikan. Kadang kita hanya fokus pada hasil atau buah. Tetapi lupa untuk menabur dan menanam benih. Orang Jawa punya filosofi “Wong sing nandur, bakal ngundhuh,” artinya orang yang menanam akan memetik hasilnya. Orang yang berbuat baik, pasti juga akan dihampiri oleh kebaikan. Orang yang berbuat jahat kepadanya akan memetik hasil kejahatannya. Mari kita sesering mungkin menanam kebaikan. Tuhan akan memperbanyak kebaikan itu untuk kita semua. Sepercik pantun buat anda; Prabu Rama mengutus Hanoman. Untuk menjemput Dewi Sinta di Alengka. Menanam berbagai pohon kebaikan, Tuhan akan memperlipatgandakan buahnya. Wonogiri, tanamlah benih kebaikan Rm. A.Joko Purwanto,Pr
0 Comments
Puncta 29 Januari 2026
Kamis Biasa III Markus 4: 21-15 KOMIKA Pandji Pragiwaksono dilaporkan ke polisi karena pementasannya di depan publik dianggap melecehkan pejabat negara. Kalau dilihat materi pentasnya, ia sedang menyuarakan apa yang terpendam di dasar pemikiran banyak orang. Panggung seni sudah sejak zaman dahulu digunakan banyak orang untuk ajang kritik sosial terhadap situasi dan kondisi masyarakat. Suara yang terpendam dan tersembunyi di akar rumput disampaikan dalam bentuk satire di panggung hiburan. Bukan hanya Pandji, dulu ada Butet Kartasedjasa, Teater Koma, Yayak Kencrit harus berurusan dengan aparat. Bahkan Widji Thukul sampai sekarang hilang tak tahu rimbanya karena menyuarakan situasi masyarakat yang tertindas. Yesus berkata kepada mereka: "Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.” Sekarang zaman makin terbuka. Media sosial adalah panggung terbuka yang bisa menyuarakan banyak hal tersembunyi dan rahasia. Jejak digital bisa ditelusuri untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi. Kalau kita bisa bersikap dewasa, suara-suara itu adalah otokritik yang dapat didengar untuk merefleksikan diri dan memperbaiki sikap atau perilaku. Kemarahan dan tindakan destruktif hanya menyatakan bahwa apa yang disuarakan itu ada benarnya. Coba anda lihat drama yang terjadi di Kabupaten Pati. Tokoh pendemo Bupati Pati yang didukung masyarakat malah ditahan polisi. Dan ternyata Bupati Pati sekarang kena tangkap KPK karena kasus korupsi. Rakyat mengadakan kenduri syukuran dan pawai sukacita di jalan. Tidak ada hal tersembunyi yang tidak akan tersingkap. Pepatah berkata, “Sepandai-pandai menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga.” Serapi apapun orang menyembunyikan kejahatan, keburukan atau kebohongan suatu saat akan tersingkap juga. Yesus menasehati kita semua, "Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu.” Kritikan orang di panggung bukan untuk menjatuhkan kita, tetapi menyadarkan kita agar bercermin dan memperbaiki diri tentang bagaimana kita mengukur orang lain dan diri kita sendiri. Tiap pagi makan telur itik, Biar wajah halus berseri-seri. Jangan alergi terhadap kritik, Itu ibarat cermin untuk diri sendiri. Wonogiri, syukuri saja kritik itu Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 28 Januari 2026
Pw. St. Thomas Aquinas, Imam dan Pujangga Gereja Markus 4:1-20 atau RUybs Matius 23:8-12 KALAU anda berziarah ke Holyland, anda akan melihat pemandangan mencolok dari Sinai menuju wilayah sekitar Danau Galilea. Mulai dari Gunung Sinai, seluas mata memandang hanyalah gurun pasir yang gersang, panas, tiada tumbuhan. Tetapi sesampai di daerah Danau Galilea, pemandangan hijau dari bukit yang satu ke bukit yang lain. Pohon angur, jeruk, zaitun, kurma, pisang, sayur-sayuran dan hasil pertanian menggambarkan kesuburan tanah di sekitarnya. Tanah yang subur adalah humus (bumi). Kata ini menjadi akar dari Humilis, lalu menjadi humility (kerendahan hati). Kerendahan hati menumbuhkan sikap-sikap keutamaan dalam diri manusia. Kesuburan keutamaan dimulai dari humility. Yesus menggambarkan sikap hati seseorang dengan sifat-sifat tanah yang menerima benih-benih sabda. Tanah tandus di pinggir jalan, tanah berbatu-batu, tanah yang penuh semak duri dan tanah yang subur. Tanah yang subur adalah humus. Orang yang punya kerendahan hati (humility) mampu menerima sabda dan mengolahnya sehingga menghasilkan buah berlipat ganda. Ada yang tigapuluh kali lipat, ada yang enampuluh kali lipat dan seratus kali lipat. Agar bisa menjadi tanah yang subur dibutuhkan sifat humility atau kerendahan hati. Kerendahan hati untuk menerima sabda dan kehendak Allah. Dibentuk dan dioleh oleh rencana Allah. Sabda Allah itu harus dirawat dan dipelihara, diresapkan dan diterapkan dalam hidup yang nyata. Kerendahan hati adalah seperti humus, tanah yang subur. Dia akan menghasilkan buah-buah bagi kehidupan. Maukah anda menjadi humus ? Ke pasar membeli rempah-rempah, Yang jual seperti Siti Nurhalizah. Hidup harus menghasilkan buah, Jadi tanah yang subur adalah berkah. Wonogiri, menjadi tanah subur Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 27 Januari 2026
Selasa Biasa III Markus 3: 31-35 SINETRON ini dinilai sebagai karya sineas terpopuler selain Si Doel Anak Sekolahan. Adi Kurdi sebagai kepala keluarga membangun nilai-nilai keluarga yang rukun, sederhana dan penuh kasih sayang. Keluarga disatukan dalam hubungan darah yang kental antara abah, emak dan anak-anak. Abah dianggap simbol ayah yang bijaksana. Emak adalah pribadi yang sederhana. Sedang anak-anak mewarisi nilai-nilai orangtuanya. Sebagaimana theme song sinetron ini, “Harta yang paling berharga adalah keluarga. Mutiara yang paling indah adalah keluarga,” tergambar dalam Keluarga Cemara. Keluarga yang bahagia didasarkan pada relasi akrab dan mesra antar anggotanya. Yesus memperluas hubungan keluarga. Bagi Yesus bukan hanya hubungan darah sebagai pengikat keluarga. Tetapi kesediaan untuk mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah. Ketika ibu dan saudara-saudara-Nya datang ingin menemui Dia, orang-orang berkata, "Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau." Jawab Yesus kepada mereka: "Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?" Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku." Apakah kita juga mampu memperluas ikatan kekeluargaan tidak sekedar karena hubungan darah, tetapi karena orang itu sama-sama mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah? Ataukah kita justru membuat sekat-sekat yang memisahkan karena perbedaan agama, suku, etnis dan budaya? Marilah kita renungkan sabda Yesus ini bagi persaudaraan kita. Nonton film Keluarga Cemara, Hati terharu mata berkaca-kaca. Kita semua adalah saudara, Jika kita melaksanakan kehendak-Nya. Wonogiri, torang basudara Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 26 Januari 2026
Pw. St. Timotius dan Titus, Uskup Markus 3:22-30 atau RUybs Lukas 10:1-9 SEORANG bapak menasehati anak-anaknya sebelum ia meninggal dunia. Ia mengumpulkan mereka semua di sekitar pembaringannya. “Anak-anakku semua, bapak tidak minta apapun. Sepeninggalku, aku hanya minta kalian hidup rukun sebagai saudara,” katanya terbata-bata. Ia mengambil sapu lidi. Ia minta anaknya yang sulung untuk mematahkan sapu lidi itu. Anak sulung sudah berusaha tetapi gagal. Begitu pula anak-anak yang lain. Semua tidak bisa mematahkan sapu lidi. Akhirnya bapak itu melepaskan “suh” ikatan sapu lidi. Satu per satu lidi yang sudah terpisah itu dipatahkannya dengan mudah. Dia berkata, “Kalau kamu hidup sendiri-sendiri, kamu akan mudah dipatahkan. Hiduplah dalam ikatan keluarga kita. Selalu rukunlah dengan saudaramu, pasti kalian akan kuat.” Ia meninggal dengan warisan ikatan persaudaraan yang kuat seperti sapu lidi yang dicontohkan kepada anak-anak dan cucu-cucunya. Yesus dituduh kerasukan Beelzebul, dan dengan penghulu setan, Ia mengusir setan. Namun Yesus menolak. Dia mengusir setan dengan kuasa Roh Kudus. Ia berkata kepada mereka dalam perumpamaan: "Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan.” Kuasa kegelapan harus dilawan dengan Kuasa Terang. Kuasa gelap adalah iblis. Kuasa Terang adalah Roh Allah sendiri. Para ahli Taurat itu menyamakan kuasa iblis dengan kuasa Roh Kudus. Maka Yesus berkata, ”Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal." Berhati-hatilah agar jangan menyejajarkan kuasa setan atau iblis dengan kuasa Roh Tuhan. Sebab setan itu sungguh licik, dia bisa memanipulasi wajahnya seperti wajah Allah. Ia berlagak seperti Allah. Janganlah mudah terkecoh. Sepercik pantun untuk anda: Jalan-jalan di pedalaman Kalimantan, Hutan ditebang tinggal nunggu kerusakan. Jangan terkecoh tipu daya setan, Ia pandai menipu dengan wajah kebaikan. Wonogiri, hidup rukun dan damai Rm. A.Joko Purwanto,Pr Puncta 25 Januari 2026
Minggu Biasa III Penutupan Pekan Doa Sedunia Matius 4:12-23 BEBERAPA waktu lalu Rama Yupi dan angkatannya berkumpul di Wonogiri. Bertemulah kami alumni misionaris Ketapang; Rm. Yupi, Rm. Budi dan saya. Kami bercerita tentang perjalanan pelayanan di stasi-stasi Balai Berkuak, Simpang Dua dan Nanga Tayap. Cerita disertai gelak tawa tiada hentinya. Jatuh bangun naik sepeda motor di jalan berlumpur dan licin. Menempuh jalan buruk di Botong, Kembera, Sungai Tontang, Beginci dan Kebuai, Sungai Ingin. Mewartakan Injil ke pelosok-pelosok dengan medan yang sulit menjadi tugas perutusan kami. Walau lupa diberi uang saku, tapi pelayanan jalan terus. Yesus pergi ke daerah-daerah asing, tempat bangsa-bangsa lain untuk mewartakan Injil. "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang." Kami mengajak teman untuk mendampingi perjalanan yang sulit. Frater Budi waktu itu sering mengajak Nopen OMK. Frater Yupi ditemani tokoh umat. Saya juga mengajak Prodiakon; Pak Jali, Pak Redes. Selain memandu, mereka juga membantu kalau motor terjebak lumpur yang dalam. Yesus memanggil beberapa murid untuk ikut terlibat mewartakan Injil. Ada Simon Petrus dan Andreas. Yohanes dan Yakobus juga dipanggil mengikuti-Nya. Mereka segera meninggalkan jala dan orangtuanya. Untuk mengikuti Yesus kita memang harus berani meninggalkan segalanya; pekerjaan (jala) dan orangtua (relasi) yang nyaman. Beranikah kita meninggalkan zona nyaman kita untuk pergi mengikuti Yesus? Masih ada banyak tempat yang membutuhkan Kabar Sukacita. Masih banyak hati yang gelap yang menantikan cahaya dan warta Injil. Beranikah kita masuk ke dalam hati yang gelap dan wilayah yang terluar agar mereka mendengar warta Injil? Sepercik pantun untuk anda: Gua Kerep ada di Ambarawa, Sendangsono enak untuk berdoa. Wartakan Injil dengan sukacita, Tuhan pasti akan menyertai kita. Wonogiri, dipanggil wartakan Injil Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 24 Januari 2026
Pw. St. Fransiskus dari Sales, Uskup dan Pujangga Gereja Hari ketujuh Pekan Doa Sedunia Markus 3:20-21 atau Ruybs ‘TIDAK ada waktu libur,” kata seorang teman yang hobby kerja. Acaranya begitu padat sepanjang hari. Sesudah misa pagi, lanjut rapat dengan kelompok tertentu, sore masih kunjungan keluarga, malam ada misa peringatan orang meninggal. Teman saya ini kalau nganggur malah bingung, gelisah dan tidak enjoy. Harus ada sesuatu yang dikerjakan. Dia seolah terjebak dengan pekerjaan. Bahkan kalau diajak rekreasi, selalu saja ada alasan untuk menghindar. Akibatnya jarang sekali berkumpul dengan teman-teman imamat. Relasi persahabatan diabaikan dan areal pergaulannya menjadi sempit karena sibuk dengan dunia kerjanya. Harus diwaspadai jika orang sudah mulai kecanduan kerja. Yang keluar dari pikiran dan omongan hanya soal kerja, kerja dan kerja. Ngobrol di rumah yang dibicarakan hanya soal pekerjaan. Awas mungkin anda sudah masuk kategori workaholic. Yesus dimana-mana bekerja melayani banyak orang. Dimana-mana orang datang mengerumuni Dia. Bahkan untuk makan pun Dia tidak sempat saking sibuknya bekerja. Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi. Kaum keluarganya sangat mengkawatirkan Dia. Terlalu banyak waktu untuk melayani. Sampai-sampai tidak memikirkan diri-Nya sendiri. Untuk makan saja tidak sempat. Maka keluarganya menganggap Yesus sudah tidak waras lagi. Kasih setia-Nya kepada Bapa diwujudkan secara total untuk mengasihi manusia. Itulah yang dilakukan Yesus. Ia memberikan Diri-Nya sehabis-habisnya untuk keselamatan kita. Bagaimanakah balasan yang kita berikan kepada-Nya? Sepercik pantun untuk anda: Pergi ke pasar untuk beli jambu, Jambu Bangkok warnanya biru. Yesus mengasihi tak kenal waktu, Hidup-Nya diberikan kepadamu. Wonogiri, totalitas dalam cinta Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 23 Januari 2026
Jum’at Biasa II Hari keenam Pekan Doa Sedunia Markus 3:13-19 SALAH seorang pencinta Puncta dari Los Angeles, USA membagi pengalamannya dengan doa Rosario. Dia punya kelompok doa Rosario dan disiarkan lewat https://relevantradio.com/. Peserta doa ini dari berbagai belahan dunia. Ada yang tinggal di Amerika, UK, Australia, Jepang, Malaysia dan lainnya. Kekuatan doa Rosario dirasakan sungguh luar biasa. Doa Rosario adalah benteng pertahanan kuat melawan si jahat. Banyak anggota gereja sebelah yang kembali ke Gereja Katolik. Ada pasangan yang kembali rukun menjadi keluarga bahagia karena didoakan bersama. Ada banyak permohonan dikabulkan lewat doa Rosario. Segalanya dimulai dengan doa. Semua belajar dan meniru apa yang dilakukan Yesus sebelum memilih duabelas murid-Nya. Ia naik ke bukit untuk berdoa semalam-malaman. Untuk membuat sebuah keputusan besar dimulai dengan doa. Sesudah berdoa kepada Bapa, Yesus memilih duabelas rasul yang siap diutus. Mereka adalah Simon Petrus dan Andreas, Yakobus dan Yohanes, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia. Mereka bukan orang yang sempurna, pintar dan hebat. Mereka adalah orang-orang biasa; nelayan, pemungut cukai dan orang-orang yang punya latar belakang berbeda-beda. Bahkan ada yang mengkhianati juga. Tetapi Yesus memberi kesempatan mereka untuk ikut ambil bagian dalam pewartaan Injil Allah. Kita pun juga dipanggil ikut serta dalam karya-karya Yesus. Apakah kita siap menanggapinya? Justru karena kita tidak sempurna, kita membutuhkan doa. Jangan takut, doa adalah kekuatan kita. Sebagaimana Yesus mengawali karya-Nya dengan doa, kita pun bisa menyerahkan karya perutusan kita dengan doa. Mulailah segalanya dengan DOA. Sepercik pantun bagi anda: Di langit ada bulan purnama, Sinarnya redup tertutup mega. Serahkan perkaramu dalam doa, Tuhan akan menyelesaikan semua. Wonogiri, doa adalah kekuatanku Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 22 Januari 2026
Kamis Biasa II Hari kelima Pekan Doa Sedunia Markus 3:7-12 JIKA ada orang atau kelompok yang meragukan pencapaian seseorang, pasti orang itu akan meradang. Ambil salah satu contoh kasus ijasah palsu. Ada orang yang mempertanyakan keaslian dari sebuah ijasah yang dikeluarkan oleh lembaga Perguruan Tinggi. Ijasah bukan cuma selembar kertas. Ijasah adalah pencapaian hasil prestasi belajar. Ijasah adalah bukti pengakuan akademik bahwa seseorang telah menyelesaikan proses belajar di suatu lembaga pendidikan. Kalau ijasah seseorang dipertanyakan, maka prestasi dan harga dirinya juga diragukan. Lembaga yang mengeluarkan pun juga dipertanyakan keabsahannya. Ijasah adalah bentuk pengakuan diri seseorang yang telah berhasil menamatkan pendidikannya. Prestasi adalah bagian dari pengakuan diri. Presiden Prabowo pasti juga akan ngotot mengusahakan MBG karena itu dianggap sebagai prestasi yang bisa dibanggakan. Kalau ada banyak kritik tentang pelaksanaan MBG, dia akan mempertahankannya sekuat tenaga karena ini soal prestise. Kalau MBG gagal, maka prestasi dan reputasinya pasti akan anjlog. Popularitas akan turun dan tingkat kepercayaan masyarakat juga akan rendah. Pengakuan diri ini harus diusahakan agar bisa memuaskan orang banyak. Yesus berkeliling kemana-mana untuk mengajar dan menyembuhkan banyak orang. Dari berbagai daerah datang ingin mendengarkan Dia. Orang-orang dari Galilea, Yudea, Idumea, seberang Sungai Yordan, daerah Sidon dan Tirus, semua datang kepada-Nya. Reputasi dan popularitas-Nya sudah diakui tersebar dimana-mana. Bahkan iblis pun mengenali-Nya dengan menyebut, "Engkaulah Anak Allah." Reputasi Yesus sudah diakui banyak orang. Namun Yesus dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia. Kenapa? Karena Yesus tidak butuh pengakuan dari setan maupun dari manusia. Ia tidak mencari pujian, sanjungan atau pengakuan diri. Ia hanya fokus menjalankan perutusan Bapa-Nya menyelamatkan banyak orang. Kita bisa belajar dari Yesus. berbuat baik bukan untuk pujian dan sanjungan, tetapi demi memuliakan nama Tuhan. Biasanya orang-orang yang masih mengejar eksistensi diri, butuh pujian dan panggung pengakuan adalah mereka yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Sepercik pantun untuk anda; Naik bendi berkeliling-keliling kota, Bendinya ditarik oleh kuda perkasa. Janganlah mencari pujian manusia, Berbuatlah demi kebahagiaan sesama. Wonogiri, masih mencari pengakuan diri? Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 21 Januari 2026
Pw. St.Agnes, Perawandan Martir Hari keempat Pekan Doa Sedunia Matius 13.44-46 PANCE Pondaag mengidungkan lagu berjudul "Mutiaraku.” Liriknya antara lain berbunyi demikian: “Engkaulah mutiara. Tempat curahan kasih sayangku. Engkau mahligai cintaku. Tempat pengharapan yang terakhir. Dalam hatiku berdoa slalu. Semoga kekal abadi. Cintamu cintaku milikmu jua. Sehidup semati kita” Mutiara adalah sesuatu yang sangat berharga. Orang akan memeliharanya dengan penuh kasih sayang. Orang berusaha bisa mendapatkannya karena nilainya yang sangat tinggi. Mutiara bagi setiap orang bisa berbeda-beda. Ada yang menilai keluarga adalah mutiara yang paling berharga. Maka dia menjaga dengan sungguh-sungguh keutuhan dan kebahagiaan keluarganya. Ada yang menempatkan pasangan hidup adalah mutiara yang paling indah. Ia sangat menyayangi dan mengasihi pasangannya agar bisa hidup lama. Ada juga yang menjaga imamat sebagai mutiara hidupnya. Yesus mengajarkan bahwa Kerajaan Sorga seperti mutiara yang sangat indah, harta yang tak ternilai jumlahnya. Orang mencarinya dengan sekuat tenaga agar bisa mendapatkannya. Bahkan dia rela mengorbankan apa pun demi mendapatkan itu. "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu." Bagi anda sendiri, apakah harta yang paling berharga dalam hidup ini? Apakah mutiara yang paling indah bagi hidup anda, sudahkan anda menemukannya? Dan sudahkan anda berusaha menjaga dan memeliharanya dengan penuh cinta? Sepercik pantun untuk anda: Pergi ke Pulau Pelangi mencari mutiara, Mutiara bagus ada di Pantai Indah Kapuk. Harta yang paling berharga adalah keluarga, Peliharalah cinta keluarga jangan sampai lapuk. Wonogiri, Engkaulah mutiaraku Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed