Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Kesombongan Rohani

2/20/2026

0 Comments

 
Puncta 20 Februari 2026
Jum’at sesudah Rabu Abu
Matius 9:14-15

PUASA atau kegiatan rohani lain yang kita buat kalau tidak hati-hati bisa membuat kita menjadi sombong. Kita membanggakan bisa puasa penuh selama empatpuluh hari. 

Kita merasa yakin bisa masuk sorga. Kita menghakimi orang lain yang tidak berpuasa.

Sikap seperti itu nampak dalam pertanyaan murid-murid Yohanes dan kaum Farisi kepada Yesus. 

Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?"

Dalam tradisi Yahudi ada keharusan puasa minimal sekali setahun pada hari raya pendamaian. Namun mereka membuat tradisi puasa menjadi lebih banyak sebagai bentuk kesedihan atau penyesalan. 

Murid-murid Yohanes berpuasa karena keprihatinan gurunya ditangkap dan dipenjara. Orang-orangYahudi berpuasa untuk menantikan kedatangan Mesias ke dunia. Mereka sangat getol berpuasa dengan maksud-maksud tertentu.

Maka mereka heran karena murid-murid Yesus tidak berpuasa seperti mereka. Yesus menjawab bahwa puasa itu ada masanya. 

"Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Ia menggambarkan Diri-Nya sebagai mempelai laki-laki yang bersanding bersama mempelai wanita yaitu umat-Nya. Karena mempelai ada bersama mereka, mereka bersukacita dan berpesta. Pada waktu itu tidakada puasa. Baru ketika mempelai diambil dari mereka, mereka akan berpuasa.

Bukan soal banyaknya atau seringnya orang berpuasa yang dianggap paling suci dan benar. Tetapi niat hati yang mendasari orang itu berpuasa yang paling penting. Bukan benar dan salah dalam menjalani puasa, tetapi kesungguhan hati untuk membaharui diri.

Kita mudah sekali menuduh dan menyalahkan orang lain karena tidak menjalankan puasa seperti yang kita lakukan. 

Kita membenarkan diri dan memandang orang lain salah karena tidak mengikuti kemauan kita. Inilah kesombongan rohani yang harus kita buang jauh-jauh.

Masa prapaskah ini mari kita gunakan untuk mengoreksi diri kita sendiri agar perilaku kita tidak menyimpang dari kehendak Tuhan.

Sepercik pantun buat anda:
Libur panjang banyak turis piknik ke Bali,
Ingin menikmati indahnya senja di sore hari.
Kalau kita mengadili dengan ayat-ayat suci,
Kita sendiri jatuh pada kesombongan rohani.

Wonogiri, puasa untuk diri sendiri
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Mimi lan Mintuna

2/19/2026

0 Comments

 
Puncta 19 Februari 2026
Kamis sesudah Rabu Abu
Lukas 9:22-25

DUA nama ini disebut sebagai satu kesatuan. Ini adalah nama binatang yakni sejenis kepiting jenis tapal kuda karena bentuk cangkangnya seperti tapal kuda. 

Binatang ini hidup selalu bersama-sama, kemana pun selalu berpasangan. Nama lainnya adalah belangkas.

Mimi untuk sebutan kepiting jantan dan Mintuna untuk yang betina. Mimi dan Mintuna termasuk dalam spesies arthropoda. Meskipun memiliki tekstur dan bentuk yang keras seperti kepiting, namun belangkas bukan dari keluarga kepiting.

Kemana-mana mereka selalu berdua. Mereka adalah binatang monogam tak terpisahkan. Jika yang satu terpisah, yang lain akan mati. 

Mimi dan Mintuna adalah sepasang hewan yang tidak dapat dipisahkan, apabila mereka terpisah maka kedua hewan ini akan mati.

Karena kesetiaannya yang sampai akhir hayat ini, binatang ini dipakai sebagai gambaran hidup berkeluarga. Orang Jawa selalu berharap agar pasangan suami istri ibarat “Mimi lan Mintuna. 

Suka dan duka, susah dan senang, jatuh bangun dijalani bersama-sama,  memanggul salib bersama dalam keadaan apapun. Kesetiaan tanpa reserve inilah yang dijadikan teladan dari binatang ini.

Begitu pula Yesus mensyaratkan kepada para muird-Nya agar memiliki kesetiaan dalam mengikuti Dia. Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” 

Seperti Mimi lan Mintuna itu yang selalu setia hidup bersama-sama, menjalani segala susah dan derita dipanggul bersama, demikian pun mengikuti Kristus harus berjuang untuk terus setia dalam memanggul salib setiap hari.

Kemewahan dunia ini tidak mampu menjamin keselamatan kekal. Keselamatan yang abadi hanya tercapai jika kita berani setia memanggul salib setiap hari. Kebahagiaan bisa tercapai jika kita mau menderita bersama Yesus demi kebahagiaan sesama.

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” Pertanyaan ini menyadarkan kita bahwa harta milik duniawi tidak mampu menjamin kebahagiaan yang abadi.

Untuk apa anda mengejar kemewahan dunia jika akhirnya kelak anda tidak memperoleh keselamatan yang abadi? 

Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya,” kata Yesus.

Orang sehebat Steve Jobs akhirnya menyadari bahwa harta kekayaan tidak bisa menyelamatkan dirinya dari kematian. Ia mengorbankan kasih keluarganya demi mengejar karier dan harta kekayaan. 

Akhirnya dia sadar bahwa cinta kasih dan kesetiaanlah yang dia butuhkan.
Ia menasehatkan kepada semua orang, jangan sia-siakan orang yang mengasihi anda. Selagi masih punya waktu cintailah keluargamu dan hiduplah dalam damai, kerukunan dan saling mengasihi.

Sepercik pantun buat anda:

Ke Belanda nonton bunga tulip,
Healing-healing biar tidak sakit.
Ikut Yesus memanggul salib,
Kita pasti juga akan ikut bangkit.

Wonogiri, setia memanggul salib
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Abu Tanda Pertobatan

2/18/2026

0 Comments

 
Puncta 18 Februari 2026
Rabu Abu, Permulaan Masa Puasa
Matius 6:1-6.16-18

HARI ini kita memulai masa Prapaskah dengan menerima abu di dahi kita. Abu atau debu tanah melambangkan kesementaraan, tidak abadi/kekal, kerendahan, dukacita atau keprihatinan, penyesalan dan pertobatan.

"Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu,” kata Ayub menandai pertobatan dan penyesalannya. 

Begitu pun yang dilakukan orang Ninive atas pemberitaan Yunus. Mereka melakukan puasa dan pertobatan dan mengenakan kain kabung serta duduk di atas debu.

Sejak zaman dahulu kala, debu atau abu dipakai sebagai tanda penyesalan dan pertobatan. Abu yang dioleskan di dahi kita bukan hanya ritual belaka tetapi wujud nyata dari sikap tobat dan pembaharuan diri.

Pembaharuan itu dinyatakan dalam sikap yang nyata bahwa puasa yang kita lakukan tidak sekedar pamer kesalehan yang ditunjukkan kepada orang lain, tetapi lebih-lebih membaharui diri dengan sikap tobat kepada Allah dan sesama.

Maka Yesus menekankan puasa yang kita jalani bukan untuk dipamerkan kepada orang lain, tetapi sikap batin yang mau bertobat kepada Allah. 

“Hati-hatilah, jangan sampai melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat. Karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga,” tegas Yesus.

Ada tiga kebajikan dalam kaitannya mengolah hidup rohani; Beramal, berdoa dan berpuasa. Dalam melakukan tiga kebajikan itu, kita hendaknya tidak perlu pamer kepada orang lain, agar diketahui banyak orang. 

Tanpa pamrih itulah yang sangat dihargai oleh Tuhan sebagaimana Ia juga mengasihi kita tanpa pamrih. 

“Apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong supaya dipuji orang.”

“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri di rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya supaya mereka dilihat orang,” 

Saking sucinya orang sampai mereka kekurangan tempat untuk sembahyang. Di jalan-jalan, di lapangan, di candi-candi, orang show sembahyang.

“Dan apabila kamu berpuasa janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa,” 

Berbuatlah seperti biasa agar orang tidak tahu kalau kita sedang berpuasa.

Tidak perlu takut ada warung atau restoran buka. Tidak perlu marah ada orang makan dan minum di depan kita saat kita berpuasa. 

Jangan sampai menghalangi rejeki orang supaya Tuhan tidak menghentikan rejeki kita. Pada saat itulah iman kita diuji kesabaran dan ketekunan kita. 

Mari kita berpuasa bukan untuk diri kita sendiri, tetapi kita berpuasa demi kebahagiaan dan keselamatan orang lain juga.

Masa puasa bukan untuk pesta pora,
Hingga sembako harganya meroket semua.
Masa puasa adalah masa bermati raga,
Kita berprihatin mengurangi nafsu kita.

Wonogiri, selamat berpuasa
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Ragi Kaum Farisi

2/17/2026

0 Comments

 
Puncta 17 Februari 2026
Selasa Biasa VI
Markus 8:14-21

RAGI adalah mikroorganisme yang sangat berguna dalam proses fermentasi. Dalam proses itu ragi mengubah gula menjadi alkohol dan CO2 yang membuat adonan roti menjadi mengembang. 

Ragi bekerja secara diam-diam dan tak terlihat. Ia merasuk dalam tepung dan  membuat adonan menjadi ringan dan empuk.

Ragi juga memberikan rasa dan aroma yang khas pada produk fermentasi seperti roti, bir, wine atau minuman lainnya. Ragi bekerja dengan masuk ke dalam adonan. Secara pelan-pelan dan tak disadari ragi mampu mengubah dan bertransformasi.

Ragi itu mikroorganisme yang sangat kecil, tak terlihat oleh mata telanjang. Tetapi dia bekerja tanpa disadari dan mampu mengubah dari dalam dengan diam-diam. Ragi itu kecil tetapi bisa mempengaruhi seluruh adonan.

Yesus berbicara tentang ragi kaum Farisi dan ragi Herodes. Yang dimaksud Yesus adalah nilai-nilai, sikap, ajaran atau perilaku kaum Farisi atau Herodian yang bisa mempengaruhi masyarakat luas. 

Mereka itu diumpamakan seperti ragi yang diam-diam menancapkan pengaruhnya di tengah banyak orang.

Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: "Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes." 

Ragi orang Farisi adalah kemunafikan, legalisme agama dan mengkotak-kotakkan manusia. Ragi Herodes adalah kekuasan yang otoriter, suka main kuasa, menabrak hukum, menindas dan tidak menghargai orang kecil.

Nilai-nilai itu ditebarkan seperti ragi ke tengah-tengah masyarakat. Kalau kita tidak kritis dan peka, maka kita akan terpengaruh oleh ragi yang bisa meracuni masyarakat. 

Kita bisa merenungkan apa yang disampaikan Mgr. Anton dan Mgr. Kopong Kung di saat tahbisan Uskup Mgr. Hans Menteiro beberapa hari lalu. Mgr. Anton mengingatkan kalau sudah menjadi uskup jangan besar kepalanya. 

Mgr. Kopong mengingatkan agar pimpinan gereja atau KWI menjadi kompas moral bagi kehidupan gereja dan masyarakat. Bagaimana kita bisa menjadi kompas kalau kehidupan kita di dalam gereja menjauhi nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi?

Bisa jadi ragi kaum Farisi dan kaum Herodian juga sedang merasuk dalam kehidupan gereja kita. Maka kesempatan memasuki masa Prapaskah ini, bisa menjadi saat tepat untuk merenungkan posisi kita sebagai suara moral di tengah kehidupan bersama. 

Mari kita memperbaiki diri dan waspada terhadap godaan-godaan dunia yang seperti ragi merasuk diam-diam tak kentara untuk merusak tatanan moral bersama.

Sepercik pantun buat anda:
Dimana-mana dibangun koperasi,
Gedungnya besar tapi tak ada isi.
Waspadalah terhadap ragi Farisi,
Berbaju agamis tapi rajin korupsi.

Wonogiri, waspadalah selalu
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Mencobai Tuhan

2/16/2026

0 Comments

 
Puncta 16 Februari 2026
Senin Biasa VI
Markus 8: 11-13

TIDAK sadar kita sering keliru dalam berdoa. Kebanyakan doa-doa kita adalah meminta, memohon dan bahkan memaksa Tuhan agar memenuhi apa yang kita harapkan. 

Seolah Tuhan itu menjadi budak atau pembantu kita. Apa yang kita katakan harus dijalankan saat itu juga.

Tidak jarang kita juga menuntut kepada Tuhan untuk membuat mukjizat. Kalau kita sedang menghadapi situasi yang berat, masalah yang sulit atau persoalan pelik, tidak segan-segan kita memaksa ada mukjizat dari Tuhan.

Kalau permohonan atau doa-doa kita tidak dikabulkan lalu “mutung” atau merajuk, “ngambeg” dan tidak percaya lagi pada Tuhan. 

Kita mudah meninggalkan Tuhan tidak  pernah berdoa, malas pergi ke gereja atau doa-doa di lingkungan. Menuduh Tuhan tidak adil, tidak peduli dan tidak ada.

Yesus menegur orang-orang Farisi yang meminta tanda dari sorga. Mereka meminta tanda bukan karena percaya melainkan untuk mencobai Dia. 

Bagi Yesus tanda atau mukjizat bukan tontonan demi kepuasan hati sesaat, tetapi hadiah dari iman yang kuat. Mukjizat bukan yang terpenting tetapi imanlah yang menentukan.

Orang-orang Farisi itu sudah banyak melihat tanda, tetapi mereka tidak mau percaya. Mereka sombong dan degil hatinya. Mereka skeptis dan tidak mau membuka hatinya. 

Bagi mereka iman seolah-olah hanya bisa dibuktikan kalau ada mukjizat yang spektakuler.

Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: "Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda."

Iman adalah kepasrahan hati dan ketaatan tanpa syarat kepada Tuhan. Menghadapi orang-orang yang sulit percaya, Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang. 

Kalau kita suka mencobai Tuhan dan menuntut tanda, mungkin Tuhan malah pergi dan tak mau menanggapi kita.

Kita bisa melihat drama Ijasah palsu di tengah-tengah kita. Walau nanti ada ketuk palu dari pengadilan yang sah, orang pasti tidak akan percaya. 

Orang akan selalu mencari bukti-bukti atau tanda-tanda sampai ke ujung dunia karena dasarnya tidak percaya.

Iman membutuhkan kerendahan hati untuk bisa menerima hal yang paling sulit sekalipun. Disitulah kepasrahan dan ketundukan kita sedang dibuktikan. 

Apakah kita seperti kaum Farisi yang selalu menuntut tanda lalu baru bisa percaya?

Sepercik pantun buat anda:
Drama ijasah palsu tidak ada habisnya,
Sekalipun dijelaskan oleh Patih Gajah Mada.
Diperlukan kerendahan hati untuk percaya,
Jangan memaksa Tuhan membuat tanda-tanda.

Wonogiri, jangan mencobai Tuhan
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Pidato Kebudayaan

2/15/2026

0 Comments

 
Puncta 15 Februari 2026
Hari Minggu Biasa VI
Matius 5:17-37

MOCHTAR LUBIS adalah seorang wartawan dan budayawan. Ia adalah salah satu pendiri kantor berita Antara. Selain wartawan, Mochtar Lubis juga pengarang novel. Salah satu karyanya berjudul “Senja di Jakarta.”

Pada 6 April 1977 dia membuat pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki. Ia mengkritisi sifat dan karakter orang Indonesia. 

Menurutnya ada enam karakter paling menonjol yang dihidupi oleh orang Indonesia; hipokrit atau munafik, enggan bertanggungjawab atas perbuatannya, jiwa feodal, percaya takhyul, artistik dan watak yang lemah.

Menurut Jakob Oetama almarhum, pidato kebudayaan Mochtar Lubis ini perlu menjadi permenungan kita semua agar kita bisa memperbaiki diri. 

Mochtar Lubis membuat refleksi kritis atas perilaku kita yang ibarat pendulum terlalu “njomplang” atau berat sebelah.

Sifat hipokrit atau munafik sudah merambah dalam segala segi kehidupan. Kita mengklaim bangsa yang religius, beragama, rumah ibadat dibangun dimana-mana, tetapi kemiskinan, kebodohan dan korupsi terlihat di depan mata.

Tidak bertanggungjawab muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya bencana alam yang membawa korban ribuan jiwa di Aceh, Sumatera Utara dan Padang kemarin tak ada orang atau instansi yang mau bertanggungjawab. 

Kesalahan ditimpakan kepada cuaca ekstrem padahal pembalakan hutan oleh pengusaha besar dibiarkan. 

Mochtar Lubis mengajak kita untuk melakukan refleksi diri, pembaharuan sikap dan bertobat. Sebagaimana Yesus yang datang untuk menggenapi Hukum Taurat. 

Aturan atau hukum Taurat itu baik, tetapi jangan hanya berhenti di mulut atau diajarkan saja.

Seperti pendulum, yang terjadi pada zaman Yesus, kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat mendominasi hukum sebagai panglima tertinggi, akibatnya kemunafikan mencolok mata. Sedangkan tindakan konkret atau pelaksanaannya jauh api dari panggang.

Yesus pernah mengkritik dengan mengutip suara nabi; “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”

Yesus datang untuk menggenapi apa yang masih kurang dari bangsa ini yaitu praksis nyata dari aturan atau hukum Taurat. 

Bukan hanya membunuh, tetapi marah dan merendahkan martabat orang lain tidak dianjurkan. Bukan hanya dosa seksual, tetapi berpikir jahat dalam hati pun jangan.

Jangan senang bersumpah dengan membawa-bawa nama Tuhan, tetapi jadilah orang yang bisa dipercaya dalam segala tutur kata. “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”

Kedatangan Yesus ingin menggenapi apa yang kurang dalam pelaksanaan hukum Taurat. Ia menghormati hukum sekaligus mentaati-Nya dalam pelaksanaan yang nyata. 

Marilah kita tidak sekedar mengikuti aturan tetapi mewujudnyatakan dalam sikap dan habitus sehari-hari.

Sepercik pantun buat anda:
Naik perahu ke kota Palangkaraya,
Kanan kiri sudah tidak ada lagi buaya.
Tidak perlu banyak omong dan bicara,
Tetapi wujudkan dalam tindakan nyata.

Wonogiri, bangun integritas diri
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Berkat Berkelimpahan

2/14/2026

0 Comments

 
​Puncta 14 Februari 2026
Pw. St. Sirilus, rahib dan St. Metodius, Uskup
Markus 8:1-10 atau RUybs Lukas 10:1-9

SAYA sering mengalami mukjizat Tuhan yang memberi dengan berkelimpahan. Pengalaman tak terlupakan selama bertugas di Nanga Tayap, Ketapang. 

Di Paroki Nanga Tayap setiap tahun selalu ada katekese hidup berkeluarga. Kami membereskan pasangan-pasangan yang nikah secara adat, tetapi belum menikah secara gerejani.

Pernah satu kali kegiatan mencapai 45 pasang. Kegiatan dilakukan selama tiga hari di gereja paroki. Mereka menginap seadanya di panti paroki. 

Kami harus menyediakan makan minum untuk menopang mereka. Juga anak-anaknya yang diajak serta.

Kami mengajak mereka untuk membawa apa saja yang bisa dimasak di paroki. Ada yang membawa beras, sayuran, rebung, kacang panjang, daun ubi, bumbu. 

Ada yang membawa ikan salai, juga daging buruan dari hutan. Ibu-ibu paroki tiap hari memasak untuk mereka dan anak-anaknya.

Kami selalu bersyukur. Apa yang dibawa dan dikumpulkan dari rumah bisa dipakai untuk memberi makan mereka sampai kenyang. 

Bahkan selalu ada sisa yang bisa dibawa pulang. Rasanya mukjizat pergandaan roti dan ikan sungguh terjadi kembali.

"Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh."

Yesus tergerak oleh belaskasihan kepada mereka yang selalu bersama mengikuti-Nya. Para murid diajak ikut memikirkan kehidupan mereka. Para murid awalnya ingin lepas tangan dan tak mau mengatasi persoalan. 

Namun Yesus meminta apa yang ada pada mereka untuk dipersembahkan dan didoakan oleh Yesus dan dibagi-bagikan. 

Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. 

Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan.

Ketika mau berbagi, ternyata bukan kekurangan atau kehilangan, malah mereka mendapatkan berkelimpahan. Ketika segalanya disyukuri, dan ada kerelaan hati untuk berbagi, Tuhan menambahkan berkat yang berlimpah ruah.

Dari tujuh roti dan beberapa ikan itu, banyak orang bisa makan kenyang dan tersisa tujuh bakul. 

Mari kita bersyukur dan rela berbagi, niscaya Tuhan akan mengganti dengan berkelimpahan tanpa henti. 

Sepercik pantun untuk anda:

Dari Nanga Tayap ke Tumbang Titi,
Ada rumah singgah di pinggir kali.
Ketika hati penuh syukur dan berbagi,
Alam semesta juga akan ikut memberi.

Wonogiri, marilah kita berbagi
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Anne Sulivan, Sang Pembawa Mukjizat

2/13/2026

0 Comments

 
Puncta 13 Februari 2026
Jum’at Biasa V
Markus 7:31-37

HELEN KELLER (1880-1968) menderita sakit buta dan tuli sejak usia 19 bulan. Ia berkembang menjadi anak yang liar dalam perilakunya. 

Perawatnya berganti-ganti karena tidak tahan mendampingi anak yang tak bisa melihat dan mendengar.

Akhirnya tahun 1887 datanglah malaikat yang sabar dan setia yakni Anne Sulivan. Ia menjadi pengasuh, guru dan pembimbing yang luar biasa. Ia mengajari Keller bahasa isyarat dengan sentuhan di jari-jarinya. 

Dalam Film “The Story of My Life,” Momen mengharukan terjadi ketika Helen bisa mengeja "w-a-t-e-r" (air) yang disiramkan Sullivan di tangannya adalah benda cair yang dingin. Sejak saat itu Keller belajar dengan giat. 

Ia bisa masuk ke sekolah dan menjadi sarjana pertama penyandang buta dan tuli. Hidupnya diabdikan untuk menggugah banyak orang. 

Ia menjadi penulis, penceramah, pejuang hak-hak kaum disabilitas. Ia berkeliling ke 39 negara untuk memperjuangkan hak kaum disabilitas.

Yesus menyembuhkan seorang yang tuli dan gagap dengan berkata, “Efata," artinya terbukalah.” Yesus memasukkan jari ke telinga lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. 

Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.

Komentar orang-orang mengingatkan kita akan karya penciptaan Allah. Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata."

Sesudah karya penciptaan selesai, "Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh sangat baik." 

Ya, Tuhan menghendaki semuanya baik adanya. Proses kehidupan kita adalah karya penciptaan Tuhan. Kadang harus mengalami jatuh bangun, derita dan perjuangan. Dengan hal itu kita sedang dibentuk menjadi baik adanya.

Mengalami karya kebaikan Allah itu kita hanya bisa bersyukur dengan mewartakan karya Tuhan kepada banyak orang agar semua orang juga ikut memuji dan memuliakan Allah. 

Apakah anda pernah mengalami kasih Tuhan yang luar biasa? Apakah anda sudah bersyukur dan mewartakannya?

Beri salam sama memberi tabik,
Kalau kita ketemu orang Malaysia.
Karya Tuhan sungguh amat baik,
Kita diutus untuk mewartakannya.

Wonogiri, pujilah karya-karya Tuhan
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Bahasa Simbolis; Menangkap Kelinci

2/12/2026

0 Comments

 
Puncta 12 Februari 2026
Kamis Biasa V
Markus 7: 24-30

SUATU kali saya mengantar suster-suster pergi ke Pontianak. Perjalanan dari Nanga Tayap membutuhkan waktu sekitar delapan jam melewati perkebunan sawit yang sangat luas. Suster-suster itu berasal dari NTT dan satu orang asli Dayak. 

Dalam perjalanan yang panjang itu saya merasa “kebelet” mau buang air kecil. Karena jarang ketemu pom bensin atau warung, maka satu-satunya cara hanyalah buang hajat di balik pohon. Mereka bingung karena tiba-tiba mobil membelok ke hutan sawit.

“Pastor, kenapa lewat jalan kecil di tengah sawit? Tidak salah jalankah kita? Tanya seorang suster.

 “Maaf suster, saya permisi mau nangkap kelinci dulu,” kataku pakai bahasa kiasan. 

“Wah ada kelinci di sini? Saya belum pernah lihat, saya pengin lihat kelincinya!!” kata suster yang muda dengan penuh semangat.

Mukaku merah padam. Suster-suster ini bukan orang Jawa. Mereka tidak paham dengan bahasa 'sanepan' atau kiasan. Akhirnya karena sudah tidak tahan menahan “kebelet” saya bilang terus terang, “Maaf suster, saya mau kencing, bukan nangkap kelinci.” 

Mereka sekarang yang merah padam mukanya sambal cekikikan bilang, ”Pastor ngerjain kita, tadi bilang mau nangkap kelinci.”

Ketika ada seorang ibu dari bangsa asing, Siro Fenisia yang datang bersujud kepada Yesus untuk memohon agar anaknya yang sakit disembuhkan, Yesus menolak dengan halus menggunakan bahasa kiasan atau simbolis.

"Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing," kata Yesus kepada perempuan itu.

Anak-anak disini maksudnya adalah Bangsa Israel. Roti adalah berkat Allah yang diberikan kepada Israel sebagai bangsa terpilih. 

Anjing adalah binatang yang najis. Orang asing termasuk bangsa Yunani dari Siro Fenesia dikelompokkan sebagai bangsa yang tidak menerima berkat.

Tetapi perempuan itu masih berusaha keras dengan berkata, "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak." Ia percaya masih bisa mengais-ngais dari sisa-sisa roti yang jatuh dari meja tuannya.

Ia tetap berharap ada remah-remah yang jatuh dari roti yang diberikan kepada anak-anak, walau hanya secuil tetapi berkat itu sudah cukup untuk kesembuhan anaknya. 

Melihat iman yang sedemikian besar itu, Yesus berkata, "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu."

Iman yang besar membuat apa yang mustahil menjadi kenyataan. Keselamatan diberikan kepada siapapun – juga orang asing di luar bangsa Israel - jika ia memiliki iman yang kuat kepada Yesus. 

Para suster itu tidak memiliki iman yang kuat sehingga mereka tidak bisa melihat kelinci, apalagi menangkapnya.

Apakah kita punya iman yang kuat seperti perempuan dari Siro Fenisia ini?

Perempuan asing dari Siro Fenisia,
Beriman dengan segala daya upaya.
Tidak ada yang mustahil bagi kita,
Kalau kita sungguh percaya pada-Nya.

Wonogiri, berusaha dengan sekuat tenaga
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Kenajisan Datang dari Dalam

2/11/2026

0 Comments

 
Puncta 11 Februari 2026
Rabu Biasa V
Markus 7: 14-23

KALAU kita ziarah ke Israel, ada restoran atau hotel yang menuliskan kata “Kosher” di ruang makannya. Kosher berarti makanan itu harus bersih menurut tata aturan hukum Taurat atau tidak najis. 

Ada restoran atau toko yang melarang orang membawa makanan dari luar karena aturan najis yang mereka yakini. 

Berdasarkan Taurat, hewan tertentu dianggap najis, seperti babi, binatang melata, dan makanan yang tidak disembelih dengan cara ritual yang benar (non-kosher).

Makanan-makanan non kosher ini membuat seseorang tidak pantas beribadat kepada Allah. Mereka dianggap najis dan harus disucikan atau dibersihkan secara ritual.

Aturan halal dan tidak halal ini dijaga ketat oleh kaum Yahudi; para ahli kitab dan orang-orang Farisi. 

Tetapi Yesus membuat tafsiran berbeda dengan mereka. Bukan soal makanan yang masuk ke dalam tubuh yang menajiskan, tetapi apa yang keluar dari hati manusia.

"Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya," tegas Yesus kepada orang banyak.

"Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."

Bagi Yesus, bukan apa yang masuk ke dalam diri seseorang, tetapi apa yang keluar dalam bentuk tindakan buruk itulah yang menajiskannya. 

Kata-kata kotor, hinaan, hujat dan sumpah serapah yang tidak sopan bisa membuat orang menjadi najis atau kotor. Perilaku jahat dan merugikan orang lain membuat kita tidak suci.

Jagalah hati dan pikiran kita agar tidak mengeluarkan perilaku yang buruk dan jahat terhadap sesama. Tindakan seperti itulah yang mengotori hidup kita sehingga kita menjadi najis di hadapan Tuhan.

Sepercik pantun buat anda:
Banyak warung babi di kota Kuching,
Tak usah bingung cari sampai pening.
Jagalah hati dan pikiran tetap bening,
Agar kita selalu waspada dan ‘eling’

Wonogiri, jaga hati dan pikiranmu
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
<<Previous

    Archives

    December 2034
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki