|
Puncta 16 Januari 2026
Jum’at Biasa I Markus 2:1-12 BENCANA yang terjadi di Aceh akhir November tahun lalu sungguh dahsyat. Banjir bandang itu menelan ribuan nyawa, harta benda, bangunan dan infrastruktur yang rusak parah. Banyak warga harus mengungsi. Pejabat pemerintah daerah mulai camat, para bupati sampai gubernur sendiri merasa tidak mampu mengatasi dampak banjir yang meluluh-lantakkan perekonomian masyarakat. Mereka berteriak minta bantuan kepada pemerintah pusat. Banyak negara luar yang ingin membantu, tetapi anehnya dilarang oleh pemerintah pusat dengan alasan, kita sendiri mampu mengatasi. Kita butuh penanganan segera agar warga terdampak tidak makin menderita. Gerakan solidaritas digemakan. Banyak instansi, lembaga dan warga saling bahu membahu menolong korban terdampak. Harapannya korban dapat segera ditolong dan diselamatkan. Warga sendiri saling menolong, bahu membahu saling bantu. Dalam perikope ini, ada empat orang yang membantu penderita lumpuh dibawa ke hadapan Yesus agar disembuhkan. Yesus melihat niat baik mereka. Walau banyak rintangan menghadang di pintu, mereka tidak habis akal. Orang lumpuh itu diturunkan dari atas atap rumah, tepat di hadapan Yesus. Usaha, kemauan, kreativitas dan niat mereka membuat Yesus kagum. Yesus melihat kesungguhan dan kedalaman hati mereka. Iman yang kuat disertai dengan tindakan yang hebat. Walau ada hambatan yang sulit mereka tidak putus asa dan mundur. Inilah yang dihargai oleh Yesus. Ia melihat usaha mereka yang tulus dan iman si orang lumpuh ini. Yesus langsung menyentuh ke dalam hatinya. Ia berkata kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" Yesus dituduh menghojat Allah karena yang berhak mengampuni dosa hanya Allah. Tetapi Yesus justru menunjukkan kepada mereka siapa sesungguhnya Dia. Yesus adalah Allah yang berkuasa atas seluruh hidup manusia. Maka Dia berkuasa mengampuni dosa dan menyembuhkan orang. Kita seringkali juga suka menuduh orang dengan pikiran-pikiran negatif seperti para ahli Taurat ini. Melihat kebaikan orang bukannya memuji malah mencaci, bukannya bertobat malah menghojat. Belajar dari Yesus, kita tetap teguh melakukan kebaikan walau kadang tidak diterima atau dinilai buruk orang lain. Jangan berhenti berbuat baik walau kadang dicaci atau dibully dengan prasangka buruk. Kepala pusing gigi terasa ngilu, Pergi ke toko untuk membeli jamu. Lebih baik bertindak membantu, Daripada berkomentar yang tidak perlu. Wonogiri, bangunlah solidaritas Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Puncta 15 Januari 2026
Kamis Biasa I Markus 1:40-45 ORANGTUA yang mempunyai anak balita perlu berhati-hati dalam mendidik mereka. Mereka sedang bertumbuh untuk mengekplorasi dunia sekitarnya. Penting bagi orangtua untuk memilih kata-kata larangan yang tidak menghambat daya ingin tahunya yang besar. Kata “Jangan” sering dipakai orangtua untuk melarang anaknya. kalau larangan ini dipakai pada saat yang tidak tepat, bisa berdampak negatif pada pertumbuhan psikososial anak. Inisiatif dan kreatifitas anak akan mandeg. Pada saat anak sedang tumbuh daya pikir dan rasa ingin tahunya, larangan “Jangan” justru membuat dia ingin tahu dan melakukan yang sebaliknya. Maka larangan itu harus ditempatkan pada konteks yang benar. Menggunakan kata “Jangan” sebagai larangan bisa dipakai untuk hal-hal yang sangat membahayakan bagi keselamatan anak. Kita boleh tegas mengatakan “Jangan.” Yesus juga menggunakan kata “Jangan” kepada orang kusta yang telah disembuhkan. "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka." Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. Bagi orang kusta, perintah “Jangan” justru tidak mempan, saking gembiranya karena sembuh dari kusta, dia melanggar perintah Yesus. Dia memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana. Pentahiran orang kusta memang secara aturan harus dilakukan oleh imam di Bait Allah dan membawa persembahan. Maka Yesus menyuruh orang itu pergi kepada imam supaya tidak terjadi konflik kepentingan. Sukacita yang meluap bisa membuat orang lupa diri sehingga aturan atau larangan diterjang demi bisa bersyukur dan memuji Tuhan. Mungkin kita juga pernah seperti itu. Saking gembiranya hati yang berkobar-kobar, sampai kita lupa diri. Orang kusta itu tidak terbendung semangatnya untuk mewartakan Mesias yang dijanjikan kepada semua orang. Ia mewartakan bahwa Allah sudah hadir dalam diri Yesus yang menyembuhkan. Malam yang gelap disertai hujan, Hawa yang dingin menusuk badan. Orang kusta disembuhkan Tuhan, Ia langsung mewartakan kebenaran. Wonogiri, sukacita yang berkobar Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 14 Januari 2026
Rabu Biasa I Markus 1:29-39 UNGKAPAN dalam Bahasa Latin itu bisa diartikan Berdoa dan Bekerja. Warisan Santo Benediktus dari Nursia ini menyatukan doa dan kerja. Doa dan kerja bukanlah dua sisi yang saling bertentangan, tetapi dua sisi dalam satu panggilan. Doa menjadi revolusi mental ketika Benediktus melihat kebobrokan moral di Eropa pada waktu dia study di Roma. Dekadensi moral sedang turun ke titik rendah. Maka Benediktus memilih mencari keheningan di Gua Subiaco. Lama kelamaan banyak pengikutnya yang memilih cara hidup Benediktus. Ia mendirikan Biara di Monte Casinno dan menyusun regula yang menyeimbangkan antara doa dan kerja. Dalam perikopa Injil hari ini, Yesus memadukan antara doa dan kerja. Ia datang ke rumah Ibu Mertua Petrus dan menyembuhkan penyakitnya. Sesudah sembuh, wanita itu melayani Yesus dan rombongannya. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Pelayanan Yesus tidak mengenal waktu. Tetapi pagi-pagi benar, Ia pergi ke tempat sunyi untuk berdoa. Markus menulis, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” Doa dan karya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Doa bukanlah upacara ritual belaka. Doa adalah sumber kekuatan dalam berkarya. Kerja bukanlah beban yang melelahkan. Kerja adalah persembahan hidup untuk berpartisipasi dalam karya Allah. Dalam Regulanya, St. Benediktus menulis, “Kemalasan adalah musuh jiwa.” Kemalasan adalah setan yang berusaha menjauhkan kita dari karya Allah. Mari kita satukan antara berdoa dan bekerja sebagai ungkapan iman kita kepada Tuhan. Hujan semalam tak pernah reda, Dingin menusuk ke tulang dada. Jangan pernah lelah untuk bekerja, Jangan pernah berhenti untuk berdoa. Wonogiri, berdoa dan bekerja Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 13 Januari 2026
Selasa Biasa I Markus 1:40-45 DALAM falsafah hidup orang Jawa ada istiah “Sabda Pandhita Ratu sepisan dadi tan kena wola-wali.” Ungkapan ini berarti sabda atau perintah seorang raja (pemimpin) atau pandhita (pemimpin rohani atau ulama) sekali diucapkan akan terjadi dan tidak boleh berubah-ubah atau plin-plan. Hal ini menunjukkan kewibawaan seorang tokoh yang dianut oleh rakyat atau bawahannya. Apa yang diucapkan penuh wibawa. Antara ucapan dan tindakannya selaras, harmonis. Sabda atau ucapannya ditaati karena kewibawaan sang pemimpin. Seorang pemimpin yang berwibawa terlihat dari ucapannya yang ditaati oleh rakyat atau bawahannya. Sekali berbicara langsung menjadi kenyataan. Ia tidak akan mengulang-ulang berkali-kali. Cukup sekali langsung ditaati. Dalam perikope Injil hari ini, tergambar kewibawaan Yesus ketika menghardik setan yang menguasai orang di rumah ibadat. Orang yang kerasukan roh jahat itu berkata, "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" Roh jahat itu keluar dari orang yang kerasukan. Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya: "Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahatpun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya." Yesus menunjukkan kewibawaan-Nya. Ia berkuasa atas manusia dan setan, karena Dia adalah Firman Allah. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Yesus dibandingkan dengan ahli-ahli Taurat yang tidak dipercaya karena antara kata dan tindakannya jauh berbeda. Mereka banyak mengajarkan aturan atau hukum-hukum pada orang lain tetapi tidak mau melakukannya sendiri. Para ahli Taurat itu dipandang sebagai orang-orang munafik. Mereka tidak dipercaya karena tidak memberi teladan hidup yang baik. Beda dengan Yesus yang sabda-Nya penuh wibawa dan ditaati, bahkan setan pun tunduk kepada-Nya. Mari kita taati sabda Yesus, karena Dia berkuasa atas kehidupan kita. Tuhan berkuasa membuat mawar menjadi biru dan melati menjadi merah. Bahkan Dia bisa, jika berkehendak membuat matahari terbit dari barat. Tuhan Mahakuasa. Burung berkicau di dedaunan, Angin berhembus perlahan-lahan. Sabda Yesus adalah kebenaran, Dia Berkuasa atas bumi dan lautan. Wonogiri, Tuhan Mahakuasa Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 12 Januari 2026
Senin Biasa Markus 1:14-20 BANYAK sekolah-sekolah yayasan Katolik di desa-desa mengalami kesulitan mencari siswa didik. Hal ini disebabkan karena program KB yang berhasil, tetapi juga menjamurnya sekolah-sekolah berbasis agama sehingga mereka saling berebut.Selain itu program sekolah gratis juga mempengaruhi orangtua menyekolahkan anak-anaknya. Para guru harus secara door to door mendatangi calon murid dan memberi berbagai kemudahan dan keringanan agar orangtua mau menyekolahkan anaknya. Yesus berkeliling mewartakan pertobatan dan menyatakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Ia memanggil murid-murid pertama untuk mengikuti Dia. Simon dan Andreas yang sedang menjala ikan dipanggil. Begitu pula Yakobus dan Yohanes yang membantu ayahnya dipanggil. Mereka segera meninggalkan perahu, ayahnya dan orang-orang upahannya untuk mengikuti Yesus. Para murid itu rela meninggalkan pekerjaan, keluarga dan hartanya demi ikut Yesus. Mengapa mereka cepat-cepat menanggapi panggilan Yesus? Pertama, pasti kualitas pribadi yang memanggil. Kharisma Sang Guru menjadi daya tarik mereka. Kedua nilai yang ditawarkan yaitu Kerajaan Allah. Ketiga, ada keyakinan. Mereka percaya pada pribadi yang memanggil yakni Tuhan Yesus. Mereka melihat tiga alasan itulah yang membuat para nelayan itu tertarik menjadi murid Yesus. Hal ini juga bisa dipertanyakan kepada kita. Mengapa kita mau menjadi murid Yesus? Apa motivasi anda dalam mengikuti Tuhan Yesus. Apakah anda juga berani meninggalkan pekerjaan (menjala ikan), keluarga (ayah), relasi persahabatan (orang-orang upahan) untuk mengikuti Yesus? Apakah anda yakin mengikuti Yesus akan memperoleh kebahagiaan sejati? Kita mesti berani menjawab pertanyaan reflektif ini supaya kita punya visi mengikuti Yesus. Donald menyerang Venezuela, Waspadalah dia ngincar Indonesia. Tuhan Yesus memanggil kita semua, Untuk ikut memanggul salib ke Golgota. Wonogiri, anda dipanggil Tuhan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 11 Januari 2026
Pesta Pembaptisan Tuhan Matius 3:13-17 HARI ini Gereja merayakan Pembaptisan Tuhan. Mari kita renungkan makna pembaptisan Yesus ini. Yesus yang adalah Sang Anak Domba Allah – kata Yohanes kepada murid-muridnya – justru datang kepada Yohanes untuk dibaptis. Ini menunjukkan kerendahan hati Yesus yang adalah Allah mengambil rupa sebagai manusia. Dia yang tanpa dosa mengambil posisi setara dengan manusia yang berdosa. Bahkan kemanusiaan kita diambil sampai Ia mati di kayu salib. Yohanes merasa tidak layak membaptis Yesus. Seharusnya dialah yang harus dibaptis karena Yohanes hanya bertugas menyiapkan jalan Tuhan. Yohanes berkata, “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu dan Engkau datang kepadaku untuk dibaptis?" Yesus menjawab, "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanespun menuruti-Nya. Makna kedua adalah penggenapan kehendak Allah. Apa yang dilakukan adalah mengikuti rencana atau kehendak Allah. Makna ketiga dari pembaptisan Yesus adalah pewahyuan Yesus sebagai Putera Allah. Setelah keluar dari air, langit terbuka dan turunlah Roh Allah seperti burung merpati dan terdengar suaradari langit, "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." Makna ketiga ini yang paling penting. Yesus dimaklumkan sebagai Anak Allah yang terkasih. Kepada-Nya kita harus menyembah dan percaya. Yesuslah Anak Allah yang membuat Bapa berkenan pad-Nya. Bapa berkenan kepada Yesus karena Dia taat mau merendahkan diri menjadi manusia dan dengan jalan itu kehendak Allah yang ingin menyelamatkan manusia berdosa dapat terlaksana. Yesus menggenapi kehendak Bapa di sorga. Lalu bagaimana dengan pembaptisan kita? Kita yang sudah dibaptis disatukan dengan hidup Yesus. Maka kita hendaknya menyelaraskan hidup kita dengan hidup Yesus. Kita juga harus siap ditransformasi agar menyerupai hidup Yesus. Sudahkan hidup anda selama ini menggambarkan sebagai pengikut Kristus yang taat merendahkan diri di hadapan Allah? Mari kita merenungkan makna pembaptisan kita sendiri. Makan bakso di dekat simpang lima, Penjualnya cantik giginya tinggal dua. Allah Bapa sungguh mengasihi kita, Sampai Ia mengutus Yesus Putera-Nya. Wonogiri, syukur atas baptis mulia Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 10 Januari 2026
Sabtu Biasa Sesudah Penampakan Tuhan Yohanes 3:22-30 KETIKA Rama Wijaya ingin mengetahui kondisi istrinya, Dewi Sinta yang diculik di Alengka, dia bermaksud mengirim utusan ke Taman Argasoka. Sugriwa menawarkan ponakannya Jaya Anggada yang pergi. KKN nampaknya sudah ada di zaman itu. Ketika ditanya berapa waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Alengka dan kembali ke Maleawan, Jaya Anggada menjawab, “Saya sanggup satu tahun.” Rama nampak kecewa. Satu tahun terlalu lama. Anoman datang menyanggupi setengah tahun. Jaya Anggada tidak mau kalah. Dia sanggup tiga bulan. Persaingan makin panas. Anoman menyanggupi satu bulan. Jaya anggada bilang, “Saya siap limabelas hari.” Anoman tidak mundur. Dia siap menempuh perjalanan satu hari. Jaya Anggada marah merasa disaingi dan digagalkan oleh Anoman. Dia menantang Anoman untuk berkelahi. Siapa yang paling besar dan kuat di antara mereka, dialah yang berhak berangkat. Charles Dikens menulis, “Ada orang yang menjadi besar dengan cara mengecilkan, atau merendahkan orang lain. Tetapi orang besar sesungguhnya adalah ia yang mampu membuat setiap orang merasa dirinya besar." "Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya." Yohanes Pembaptis tidak marah dan kecil hati ketika dikabarkan bahwa Yesus juga membaptis banyak orang di Sungai Yordan. Yohanes dengan bijak berkata, “Sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Kita mesti belajar sikap rendah hati seperti Yohanes. Tidak perlu iri hati kalau ada orang lain yang lebih sukses, berhasil, dan hebat. Suka membanding-bandingkan itulah kejelekan kita. Yohanes punya kata-kata bijak: "Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga.” Setiap orang diberi karunia atau talenta sendiri-sendiri. Bersyukurlah dengan karuniamu atau talenta yang kaumiliki. Pepatah bijak mengatakan, “Kalau ada orang sukses, tirulah dia. Kalau ada orang gagal, jangan mencemoohkan dia tetapi lihatlah dirimu sendiri.” Mari kita membantu agar orang lain tumbuh berkembang, bukan menjegal dia supaya jatuh dan gagal. Pergi ke hutan nangkap bekisar, Malah ketemu singa yang lapar. Biarkan orang lain menjadi besar, Tidak perlu kita iri hati dan gusar. Wonogiri, tetaplah rendah hati Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 9 Januari 2026
Jum’at Biasa Sesudah Penampakan Tuhan Lukas 5: 12-16 PADA waktu perang Baratayuda, Prabu Salya minta ijin untuk menjadi panglima perang Kurawa. Tentu saja pihak Pandawa ketakutan, karena Salya memiliki senjata ampuh Candrabirawa. Untuk itu, Kresna mengutus Nakula dan Sadewa yang masih keponakan Prabu Salya datang ke Mandaraka. Mereka berdua diminta untuk merendahkan diri, serah diri mohon mati oleh sang pamannya sendiri. Karena sayangnya kepada Pandawa, akhirnya Salya luluh dan siap mati di medan Kurusetra menyerahkan diri pada kekuatan Pandawa. Di lain pihak, Kresna juga memohon agar Puntadewa mau maju perang. Raja yang welas asih yang seumur hidup tidak pernah berperang ini awalnya menolak. Bagaimanapun bujuk rayu Kresna tidak mempan. Tetapi bagaimanapun musuh harus dihadapi. Dengan merendahkan diri, Puntadewa minta agar Kresna menjelma menjadi Dewa Wisnu. Karena perintah dewalah, bukan karena perintah manusia, Puntadewa mau maju berperang. Pandawa menang. Orang kusta yang datang kepada Yesus itu memohon dengan rendah hati. Ia tidak memaksa Tuhan untuk menyembuhkannya. Tetapi dengan rendah hati dan terbuka, dia bilang, “Tuan, jika Tuan mau. Tuan bisa menyembuhkan saya.” Seringkali terjadi, kita tidak hanya meminta tetapi memaksa Tuhan, bahkan berani mengancam. Tuhan harus memenuhi permintaan kita. Kalau tidak dipenuhi doa-doa kita, kita merajuk, “mutung” gak berdoa, tidak mau ke gereja dan lari meninggalkan Tuhan. Kita mesti belajar seperti orang kusta ini. Dia mengakui kemahakuasaan Tuhan. Dia menyadari sebagai ciptaan, orang kecil, berdosa dan tak pantas di hadapan-Nya. Dia hanya bisa menyerahkan seluruh hidupnya kepada kuasa Tuhan. Karena keyakinan dan sikap kerendahan hatinya itulah Tuhan berkata, “Aku mau. Jadilah engkau tahir.” Orang kusta itu sembuh dan kembali normal. Mari kita tidak memaksa, tetapi merendahkan diri di hadapan Tuhan yang Mahakuasa. Dari Semarang menuju Pati, Jalanan macet diguyur hujan. Jadi orang jangan tinggi hati, Rendah hati disayang Tuhan. Wonogiri, merendahkan diri pada Tuhan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 8 Januari 2026
Kamis Biasa Sesudah Penampakan Tuhan Lukas 4:14-22a KEMERDEKAAN yang diproklamirkan Bung Karno bukan sekedar peristiwa politik, tetapi juga peristiwa spiritual. Dengan rahmat Allah dan didorong oleh keinginan luhur bangsa, maka Bung Karno menyatakan kemerdekaan Indonesia. Merdeka bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga keluar dari mental Inlander yang membelenggu dan menjadi bangsa mandiri yang bermartabat luhur. Soekarno sering berpidato pentingnya revolusi mental. Dari manusia terjajah menjadi manusia merdeka dan bermartabat. Ia ingin rakyat Indonesia tidak jatuh ke dalam mentalitas bangsa terjajah, minder, malas, dan munafik, ABS (Asal Bapak Senang), tidak korup, tidak serakah, tidak tunduk pada egoisme yang sempit. Revolusi mental ini dinamainya gaya “Hidup Baru.” Cara membangun hidup baru dilandaskan pada Pancasila sebagai way of life Bangsa Indonesia. Tetapi kita semua tahu, bagaimana nasibnya Pancasila sekarang, sudahkah menjadi gaya hidup kita? Yesus kembali ke Nasaret tempat asal-Nya sendiri. Dia mencanangkan semangat baru bagi orang-orang Nasaret bersumber pada Kitab Nabi Yesaya. "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." Yesus menawarkan sebuah revolusi mental. Ia mengajak mereka melakukan pembaharuan hidup yang didasarkan pada nilai-nilai ketuhanan. Tetapi orang-orang itu hanya kagum dan memuji pidato Yesus. Mereka tidak menerimanya. Mereka tidak mempercayai-Nya. Yesus langsung menohok kedegilan dan ketidakpercayaan mereka. Dikritik seperti itu, mereka marah dan mengusir Yesus. Sama halnya dengan kita. Pancasila itu sekarang sudah menjadi buku usang di perpustakaan. Nilai dan gaya hidup kita sudah jauh dari nilai-nilai Pancasila. Menyebut diri orang bertuhan, tetapi gaya hidupnya jauh dari Tuhan. Menyembah Tuhan sekaligus merusak alam ciptaan Tuhan. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tetapi keadilan hanya dirasakan oleh segelintir orang saja. Musyawarah untuk mufakat tetapi kebijakan dibuat untuk kepentingan yang berkuasa. Kekayaan alam dikuasai negara untuk kemakmuran rakyat, nyatanya kekayaan alam dijarah asing dan pejabat rakus. Revolusi mental hanya sebatas slogan saat kampanye, bukan menjadi way of life orang dalam hidup sehari-hari. Seperti orang-orang Nasaret yang menolak Yesus, mereka tidak mengenal the way of God’s life. Masihkah kita yakin Pancasila kembali menjadi nilai-nilai dasar hidup kita? Banyak kera turun dari hutan, Mereka cari biji kacang-kacangan. Yesus datang bawa perubahan, Revolusi mental bagi orang-orang. Wonogiri, agent of change Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 7 Januari 2026
Rabu Biasa Sesudah Penampakan Tuhan Markus 6.45-52 FILM Titanic memberi banyak pelajaran moral bagi kita semua, bagaimana menghadapi bahaya yang mengancam kehidupan kita. Ada banyak perilaku dan sikap yang dibuat saat orang menghadapi kesulitan dan bahaya. Ketika Titanic hampir tenggelam, ada banyak orang yang panik menyelamatkan diri. Para pemain musik tetap menghibur di tengah keributan. Ada sepasang suami istri yang pasrah berpelukan di ranjang. Ada pastor yang memberi sakramen pengampunan dan mendoakan mereka. Jack dan Rose berlari ke sana kemari berusaha menyelamatkan diri. Kapten kapal Edward John Smith memerintahkan semua awak kapal menolong penumpang semaksimal mungkin. Meski di ambang kematian, dia tetap memilih bertugas menolong orang lain dan tidak meninggalkan tanggungjawab. Inilah teladan tanggungjawab moral bagi semua orang. Para murid menyeberang ke Betsaida dengan naik perahu. Mereka diterjang angin sakal pada tengah malam yang gelap. Semua orang panik dan ketakutan. Pada saat genting itu, Yesus datang mendekati mereka dengan berjalan di atas air. Kepanikan membuat pikiran tidak jernih, kabur dan mudah salah. Mereka mengira ada hantu datang. Padahal itu Tuhan. Yesus berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Yesus ada di tengah mereka dan danau menjadi tenang. Dalam situasi kacau dan panik, dibutuhkan orang yang tetap tenang memberi daya kekuatan. Yesus adalah nahkoda kehidupan. Dia mengendalikan seluruh hidup kita. Ia menguasai seluruh kehidupan kita. Kalau kapal kehidupan kita goncang, undanglah Yesus untuk masuk di dalamnya. Seperti kapten Titanic yang teguh berdiri di kemudi kapal, dia meyakinkan semua orang ditolong sampai akhir, demikianlah kita mempunyai Yesus yang berdiri di samping kita menjadi nahkoda kapal kehidupan kita dalam kondisi apa pun, agar kita percaya bahwa Tuhan menyertai. Maukah kita mempercayakan diri kepada-Nya? Ke Gunung Sinai naik unta, Jalannya pelan seperti nenek tua. Jangan panik hadapi bahaya, Tuhan selalu ada bersama kita. Wonogiri, Tuhan selalu ada Rm. A.Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed