|
Puncta 24 Maret 2026
Selasa Prapaskah V Yohanes 8:21-30 GAGAK burung hitam itu seringkali mengganggu kehidupan burung elang. Hanya gagak yang berani merecoki elang. Gagak sering bertengger di atas elang dan mematuki lehernya. Tetapi Elang tidak menggubrisnya. Diserang bertubi-tubi, elang tidak membalas. Dia justru terbang makin tinggi. Elang memang jago dalam ketinggian. Makin tinggi gagak makin kesulitan. Lama kelamaan gagak kehabisan oksigen. Karena tidak bisa bernafas, gagak jatuh ke bawah. Orang-orang Yahudi; para ahli kitab, penatua-penatua dan orang-orang Farisi bisa digambarkan seperti gagak yang sering menyerang Yesus. Mereka membenci Yesus dengan menyebarkan hoax, memfitnah, melawan dan bahkan mencoba membunuh-Nya. Namun Yesus tidak melawan. Dia justru semakin terbang tinggi. Dia berasal dari atas dan terus menunjukkan kemuliaan-Nya. "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini. Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu." Orang-orang yang berasal dari bumi hanya berkata-kata dan paham hal-hal duniawi saja. Yesus berasal dari atas, dari Allah. Ia berkata-kata dan mengajarkan segala sesuatu yang berasal dari Allah. “Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku. Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya," kata-Nya kepada orang banyak. Orang-orang tidak memahami apa yang dikatakan Yesus. Seperti debat kusir di TV, orang-orang yang tidak paham dan tidak mengerti hanya ngotot dengan pendapatnya sendiri. Tidak akan ada titik temunya. Justru kebencian dan permusuhan makin meruncing. Mari kita menjadi elang, tak perlu meladeni gagak yang sibuk menyerang. Kita tingkatkan kualitas hidup kita makin tinggi. Nanti gagak akan jatuh sendiri. Sepercik pantun untuk direnungkan: Pergi memancing di sawah, Sambil rebutan mencabuti kacang tanah. Kita adalah anak-anak Allah, Jangan ladeni gagak yang hidupnya di bawah. Wonogiri, tunjukkan kualitasmu Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Puncta 23 Maret 2026
Senin Prapaskah V Yohanes 8:1-11 RANCANGAN undang-undang perampasan aset sampai sekarang tetap tersimpan rapi di meja DPR. Entah kapan itu akan disahkan. Nampaknya semua enggan untuk mengesahkan karena kalau RUU itu disahkan, orang takut melakukan korupsi. Walaupun kita sudah melakukan reformasi pada tahun 1998, namun korupsi tetap saja berjalan, bahkan semakin menggurita dan terang-terangan dari tingkat atas sampai ke bawah. Hampir setiap tahun ada saja pejabat yang ditangkap KPK karena korupsi. Ada menteri, wakil menteri, bupati dan kroni-kroninya. Hukuman tidak membuat orang jera melakukan korupsi. Mereka sudah bisa berhitung, masih tetap untung dengan korupsi walaupun harus masuk bui. Toh setelah keluar, nanti bisa menjabat lagi dan korupsi lagi. Hukuman tidak mampu membersihkan mental korup. Apakah harus diampuni? Kaum Farisi ingin mencobai Yesus dengan membawa perempuan yang ketahuan berzinah. Mereka ingin menghukum perempuan itu dengan merajamnya sampai mati. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" Yesus tidak menanggapi pertanyaan mereka. Dia hanya menulis di tanah. Namun karena didesak, akhirnya Yesus berkata, "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Mereka pergi satu per satu. Tak ada satupun yang menghukum perempuan itu. Kepada perempuan itu Yesus berpesan, "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." Allah itu maha pengampun. Ia mengasihi dengan pengampunan-Nya. Tetapi lebih dari itu, kita diajak untuk tidak berbuat dosa lagi. Pesan “Jangan berbuat dosa lagi” adalah kesempatan bagi kita untuk berlaku baik dan benar di hadapan Tuhan. Hidup baik dan benar adalah cara kita membalas pengampunan dan belaskasih Allah. Marilah kita bersyukur karena kita diampuni Tuhan dan membaharui hidup dengan baik dan benar. Sepercik pantun: Ketupat ada di lebaran, Mohon maaf jika ada kesalahan. Pengampunan adalah jembatan, Hubungkan manusia dengan Tuhan. Wonogiri, berani mengampuni Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 22 Maret 2026
Minggu Prapaskah V Yohanes 11:1-45 KEMATIAN adalah realitas hidup yang tidak bisa dihindari. Setiap orang akan mengalami peristiwa kematian. Ada banyak perasaan berkecamuk; sedih, dukacita, merasa kehilangan, putus asa, bahkan ada yang merasa takut menjalani hidup sendiri. Namun dalam Injil hari ini, Yesus memberi harapan dan keyakinan bahwa kematian bukan akhir segalanya. Yesus menghibur Marta dan Maria yang kehilangan Lazarus, saudaranya. Ia menguatkan mereka, “Jikalau engkau percaya, engkau akan melihat kemuliaan Allah.” Marilah kita melihat pesan melalui peristiwa kebangkitan Lazarus. Yang pertama, Marta dan Maria berharap Tuhan ada saat mereka mengalami kesedihan dan kehilangan. Namun Tuhan menunda kedatangan-Nya. Ini bukan penolakan, tetapi justru saat kemuliaan Tuhan. Waktu Tuhan bukan waktu kita. Kehendak Tuhan melampaui segala waktu kita. Kadang doa-doa kita belum dikabulkan. Tuhan menunda untuk memenuhinya. Tuhan berkuasa untuk menunjukkan kemuliaan-Nya. Kuasa itu justru lebih besar daripada yang kita minta. Kedua, percaya tidak akan mengkhianati hasil. Marta dan Maria diajak untuk tetap percaya. Tuhan lebih mengasihi kepada mereka yang bersedih, lemah dan menderita. Empati Tuhan lebih besar bagi mereka yang berkesusahan. Kata Marta kepada Yesus: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia." Iman inilah yang membuka harapan akan pemeliharaan Tuhan. Ketiga, doa yang disertai iman akan dikabulkan. Yesus berdoa kepada Bapa-Nya yang adalah Pencipta kehidupan. Ia memanggil orang yang sudah mati; "Lazarus, marilah ke luar!" dengan sabda-Nya, Yesus menunjukkan kuasa-Nya, sebagaimana Allah berfirman maka segalanya jadi. Keempat, Allah masih berkarya sampai sekarang, kita diajak untuk percaya kepada-Nya. Seperti mereka yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Apakah kita bisa melihat karya-karya besar Allah dalam diri kita, sehingga kita juga makin percaya kepada-Nya? Pantun untuk direnungkan: Hari raya lebaran sudah tiba, Semua menyambut dengan gembira. Yesus hadir dalam segala peristiwa, Duka dan derita, suka dan bahagia. Wonogiri, Allah mahakuasa Rm.A.Joko Purwanto,Pr Puncta 21 Maret 2026
Sabtu Prapaskah IV Yohanes 7:40-53 SETELAH diserang komentar netizen di medsos, seorang wakil ketua DPR meminta maaf karena bilang tidak butuh ahli gizi dalam program MBG. Ia merasa paling berkuasa bisa mengetuk palu membuat keputusan. Pejabat ini dinilai arogan oleh masyarakat. Ujung-ujungnya bilang khilaf. Di tingkat bawah ada juga petugas SPPG yang merendahkan rakyat. Seorang petugas dapur MBG membuat status yang menyindir masyarakat sebagai “Rakyat jelata yang kurang bersyukur.” Sontak warganet menyerang di medsos sebagai tindakan yang merendahkan masyarakat. Akhirnya petugas itu diberhentikan tidak lagi bekerja di dapur MBG. Itu hanya contoh-contoh kecil kesombongan pejabat. Ada banyak kasus-kasus arogansi yang merendahkan rakyat jelata. Dalam wayang, Dalang Seno memprotes arogansi pejabat lewat Bagong, rakyat jelata yang berani nantang raja yang sombong yakni Baladewa. Kata Bagong yang marah, “Sampeyan mboten kelingan den, mbiyen nalika ajeng pilihan, iki Bagong duwit 150 ewu, kowe nyoblos aku ya. Sesuk dusun kene tak bangun cakruk, WC warga tak ganti marmer. Nganti seprene isih nangkring neng watu kali. Endi janjine? Nol Besar!!! (Bagong marah; Anda lupa, dulu waktu pilihan. Bagong ini uang 150 ribu, kamu nyoblos saya ya. Besuk saya bangun pos ronda di dusun sini. WC warga saya ganti marmer. Sampai sekarang warga buang hajat masih di sungai. Mana janjinya?? Nol besar!!!) Rakyat kecil hanya dibodohi dan direndahkan dengan kata-kata manis janji-janji palsu. Sesudah berkuasa lupa segala-galanya. Yang diingat hanya mencari kekayaan untuk kembalikan modal dan menindas rakyat kecil. Para pemuka agama Yahudi menunjukkan kesombongannya dengan menyuruh para penjaga menangkap Yesus. Mereka menganggap diri paling benar dan pintar tentang hukum Taurat. Mereka merendahkan rakyat jelata yang tidak paham Taurat sebagai yang “terkutuk.” "Adakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!" Bahkan Nikodemus yang mentaati hukum pun dipersalahkan. "Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea." Nikodemus ingin keadilan ditegakkan. Sebelum mengadili seseorang, hukum mewajibkan agar terdakwa didengar untuk membela diri. Arogansi membuat orang merasa lebih berkuasa. Arogansi membuat orang buta terhadap kebenaran dan tuli terhadap suara kritis orang lain. Arogansi membuat kesombongan dan lupa diri. Ingatlah sabda Tuhan, “Barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan dan yang meninggikan diri akan direndahkan.” Sepercik pantun untuk direnungkan: Contohlah batang padi yang bernas, Makin berisi makin merunduk ke bawah. Orang bijaksana berpikiran cerdas, Tidak akan menindas mereka yang lemah. Wonogiri, jangan sombong dengan kekuasaan Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 20 Maret 2026
Jum’at Prapaskah IV Yohanes 7:1-2.10.25-30 SALAH satu pilar demokrasi adalah kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat yang dijamin oleh undang-undang. Kasus penyiraman air keras kepada Andrie Yunus, seorang aktivis HAM adalah cacat demokrasi yang akut. Andrie Yunus adalah aktivis Kontras, yang berbicara kritis terhadap kekuasaan, peran militer yang makin kentara di ranah sipil. Pada 12 Maret 2026 ia disiram air keras di wajahnya setelah ia menyelesaikan rekaman podcast bertema “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor YLBHI. Andrie sering menyuarakan pembelaan HAM dan demokrasi. Ia termasuk yang menolak revisi UU TNI. Bahkan, pada 2025, Andrie sempat melakukan interupsi dalam rapat tertutup pembahasan RUU tersebut, yang kemudian membuat namanya viral. Dari aktivitasnya ini pasti ada lembaga insitusional yang tidak menyukai. Ia pernah mengalami teror dan intimidasi melalui HP. Kantornya juga dipantau dan didatangi orang yang tidak dikenal. Puncaknya adalah pencobaan pembunuhan terhadap aktivis HAM ini. Situasi yang dialami Andrie ini juga dialami Yesus. Ia sudah tidak aman untuk datang terang-terangan di Yerusalem, karena ada beberapa kelompok yang merencanakan pembunuhan-Nya. Yesus sering mengkritik institusi keagamaan Yahudi. Yesus berangkat ke pesta Pondok Daun dengan tidak terang-terangan. “Iapun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam. Beberapa orang Yerusalem berkata: "Bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh?” Namun muncul perdebatan dengan kemunculan-Nya di Bait Suci. Ia mengajar kepada orang banyak. Mereka bertanya apakah para pemimpin mengakui bahwa Dia adalah Mesias. Padahal Mesias itu tidak diketahui asal-usulnya, sedangkan Yesus ini mereka tahu datang dari Nasaret. Maka Yesus menjawab mereka, "Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku." Masalah ini makin meruncing dan permusuhan mulai dibangun oleh kelompok-kelompok yang tidak menerima Yesus. Mereka menggunakan kekerasan, intimidasi, teror, menyebar berita hoax untuk memojokkan Yesus. Pola itu sampai sekarang masih dipakai dan Andrie Yunus menjadi korban. Nanti akan makin banyak korban berjatuhan ketika kekuasaan otoriter dijalankan dan pemimpin tidak mau dikritik. Kasus Andrie adalah cara kekuasaan membungkam mereka yang bersikap kritis. Pantun untuk direnungkan: Apakah kita akan kembali ke Orde Baru? Aktivis dan pengkritik sudah mulai diburu. Yesus datang membawa pembaharu, Namun musuhnya menggunakan serdadu. Wonogiri, kebenaran akan menang Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 19 Maret 2026
HR. St. Yusuf, Suami SP. Maria Matius 1:16.18-21.24a atau Lukas 2:41-51a KISAH kelahiran Karna Basusena menjadi problem di Kerajaan Mandura. Dewi Kunti adalah sekar kedhaton, atau putri raja. Ia mengandung dari dewa karena Kunti punya kesaktian atau aji-aji memanggil dewa yang dikehendakinya. Jika rakyat Mandura mengetahui hal ini pasti akan geger seluruh kerajaan. Maka bayi itu dibuang di sungai Gangga dan diberi nama Karna Basusena. Ayahnya adalah Dewa Surya yang tidak diketahui oleh khalayak ramai. Demi menjaga kewibawaan dan nama baik kerajaan, maka semua dirahasiakan. Nama Yusuf, suami Maria tidak banyak kita dengar ceritanya. Hanya ada dua bab pertama dalam Injil Matius dan Lukas yang bercerita tentang Yusuf. Yang mau ditekankan adalah bahwa Yesus sang Mesias itu berasal dari Keturunan Daud. Bukan Yusuf yang penting, tetapi Daudlah yang utama. Kedua, pesan malaikat kepada Yusuf waktu dia ragu-ragu dan bingung menegaskan bahwa bayi yang dikandung berasal dari Roh Kudus. Malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.” Bukan asal-usul Yesus yang lahiriah yang ditekankan tetapi unsur surgawi yang mau disampaikan kepada kita semua. Setelah diyakinkan oleh Malaikat, Yusuf pun segera bangun dan mengambil Maria sebagai istrinya. Sikap taat dan tawakal melaksanakan kehendak Tuhan tanpa menunda-nunda inilah yang ditunjukkan Yusuf sebagai teladan seorang ayah yang bertanggung jawab. Dalam beberapa peristiwa sekitar kelahiran Yesus, Yusuf tampil sebagai pria yang bertanggungjawab dan cekatan menyelesaikan masalah. Ia melindungi Maria yang mengandung dan menjaganya demi keselamatan keluarga. Tanpa banyak kata, Yusuf tekun menjalankan perintah Tuhan. Tanpa banyak pikir panjang, Yusuf segera bertindak menjalankan tugasnya. Keutamaan-keutamaan ini yang diambil untuk menghormati Yusuf sebagai pelindung keluarga, pekerja, dan gereja universal. Kita bisa menimba spiritualitas hidup dari Santo Yusuf. Semangat kerendahan hati dan ketekunan, tidak gila pujian dan kerja di balik layar, tidak banyak ngomong dan langsung bertindak, tidak mencari popularitas tetapi kualitas adalah nilai-nilai yang diajarkan Yusuf. Bapa Yusuf, ajari kami semangat kerendahan hati dan ketenangan batin yang mendalam agar dengan tekun melaksanakan kehendak Tuhan tanpa banyak alasan-alasan egositik. Sepercik pantun untuk direnungkan: Santo Yusuf seorang pekerja, Ia tekun menjalankan tugasnya. Ajarilah kami tekun dan setia, Menjalankan semua kehendak Bapa. Wonogiri, tanpa banyak kata Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 18 Maret 2026
Rabu Prapaskah IV Yohanes 5:17-30 KETIKA melayat teman imam di Gereja Banteng, saya berjumpa dengan Rm. Marga MSF. Beliau menyalami saya dan berkata, “Saya ketemu adik Rama di Palembang waktu retret imam. Dari wajahnya saya bisa mengenali ada kemiripan kalau tersenyum. Cuma Rama Joko yang di Palembang lebih gagah dan hitam.” Ada ciri khas di antara kami kakak beradik yang mirip yakni senyumnya. Banyak orang mengenali kami sekeluarga kalau keluar senyumnya. Rama Jayasewaya almarhum kalau ketemu saya tidak menyebut nama saya, tetapi yang disebut adalah nama Bapak saya, Sridadi. “Wajahnya dan senyumnya gampang dikenali seperti Pak Sridadi,” demikian komentar Rama Jaya yang pernah mengunjungi Bapak di Pasang Surut, Palembang. Pepatah mengatakan, “Kacang mangsa ninggala lanjaran,” artinya pohon kacang panjang yang menjalar tidak akan terpisah dari kayu penopangnya (lanjaran). Dalam pepatah lain disebut, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Sifat-sifat atau karakter seorang anak tidak akan jauh dari ayah atau ibunya. Apa yang dilakukan anak seringkali meniru apa yang dibuat orangtuanya. Dalam Injil hari ini, Yesus juga menegaskan akan kesatuannya dengan Bapa. Apa yang dikerjakan Yesus berasal dari Bapa-Nya. "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.” Inilah yang menimbulkan pertentangan dengan kaum Yahudi. Mereka menuduh Yesus menghojat Allah, karena Yesus menyamakan dirinya dengan Allah. Mereka semakin membenci dan ingin membunuh Yesus. Pekerjaan Yesus adalah pekerjaan Allah. Apa yang dikerjakan Yesus bukan kehendak-Nya sendiri melainkan kehendak Bapa yang mengutus Yesus. Yesus taat pada kehendak Allah. Siapa yang percaya kepada-Nya akan memperoleh hidup yang kekal. Kepada Filipus, Yesus pernah berkata, "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami?" Ini adalah pengajaran tentang keilahian dan kesatuan Yesus dengan Bapa. "Percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? ... Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri...". Pertanyaan itu juga ditujukan kepada kita, apakah kita percaya bahwa Yesus adalah pewahyuan Allah Bapa sendiri? Kepercayaan itu akan membawa pada keselamatan yang kekal. Sepercik pantun untuk direnungkan: Cahaya mentari mulai meredup, Menghantar datangnya sang rembulan. Yesus adalah Sang Terang Hidup, Yang menuntun kita pada keselamatan. Wonogiri, percaya pada Putera Allah Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 17 Maret 2026
Selasa Prapaskah IV Yohanes 5:1-3a.5-16 PASTI semua orang ingin sembuh dari penyakitnya. Apalagi kalau ia sudah sangat lama menderita sakit yang tak tersembuhkan. Sudah berusaha berobat kemana-mana tetapi hasilnya nihil saja. Bisa jadi pada titik ini, orang yang sakit itu sudah tidak punya harapan. Orang lumpuh yang sudah tigapuluh delapan tahun sakit dan berbaring di tepi kolam Betesda itu sudah sampai pada batas daya kemampuannya. Ia sudah berusaha namun selalu orang lain yang lebih dahulu sampai di air dalam kolam. Ia gagal dan gagal lagi. Pertanyaan Yesus ditanggapinya dengan keputusasaan. Orang sakit itu menjawabnya, "Tuan, aku tidak punya seorang pun yang akan memasukkan aku ke dalam kolam ketika airnya bergejolak, dan sementara aku berjalan, orang lain sudah turun duluan sebelum aku." Dalam situasi tak ada harapan, Yesus datang berinisiatif untuk menyembuhkan. Ketika tak ada harapan apa pun dari pihak manusia, Tuhan bertindak dan memenuhi kebutuhan manusia. Ketika manusia lelah mengetuk pintu, Tuhan membukanya dari dalam. Manusia mengukur waktu, waktu mengukur manusia. Sudah 38 tahun orang itu lumpuh tak bisa apa-apa. Ia mengukur waktu yang sangat panjang. Mungkin sepertiga dari jumlah umurnya. Tetapi Tuhan tidak memandang waktu. Kapan saja Ia mau, pasti segalanya terlaksana. Waktulah yang kemudian dipermasalahkan oleh manusia. Ketika Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, itu menjadi masalah. Terjadi perdebatan di antara mereka tentang siapa Yesus yang melanggar aturan waktu Sabat. Orang Yahudi fanatik pada aturan hari Sabat. Maka mereka marah kalau ada orang melanggar hukum Taurat. Dari sinilah mereka menuduh Yesus mau menghilangkan hukum Taurat. Pelanggaran-pelanggaran seperti ini tak bisa dibiarkan. Mereka mulai merencanakan pembunuhan terhadap Yesus. Yesus lebih mengutamakan keselamatan manusia daripada hukum yang kaku. Orang Yahudi tidak berpikir tentang keselamatan. Mereka taat buta pada huruf-huruf yang tertulis. Apakah kita taat pada Yesus atau mengikuti kaum Yahudi yang kaku menafsirkan ayat-ayat suci? Sepercik pantun untuk direnungkan: Mobil ambulans menerobos aturan jalan, Demi menyelamatkan nyawa orang sakit. Yesus lebih mengutamakan keselamatan, Daripada mengikuti aturan yang sempit. Wonogiri, keselamatan lebih diutamakan Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 16 Maret 2026
Senin Prapaskah IV Yohanes 4:43-54 SEMAR ingin membangun kahyangan. Ia minta kepada Petruk dan Bagong datang ke Amarta dan mohon kepada Prabu Yudistira untuk meminjamkan pusaka Jamus Kalimasada. Maksud Petruk dan Bagong dihalangi oleh Prabu Kresna yang juga ingin memboyong pusaka Jamus. Maka terjadilah rebutan antara Petruk yang didukung anak-anak Pandawa dengan Kresna gadungan yang hanya ingin merebut pusaka Jamus. Mereka bermaksud memboyong pusaka itu dengan keyakinan siapa yang dikawal pusaka ini akan berhasil hidupnya. Pusaka itu jadi rebutan untuk dibawa ke tempat asal mereka masing-masing. Tidak berhasil membawa pusaka artinya tidak akan mengalami ketentraman hidup dan gagal membangun kahyangan. Dalam perikope Injil hari ini, Yesus diminta oleh kepala rumah ibadat untuk menyembuhkan anaknya yang hampir mati di rumahnya. Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, anakmu hidup!" Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. Yesus menyembuhkan dari jarak jauh. Ia tidak harus datang langsung ke rumah kepala ibadat. Hanya dengan berkata, "Pergilah, anakmu hidup!" anak itu langsung sembuh. Kuasa Allah mengatasi ruang dan waktu. Tidak seperti pusaka Jamus yang harus “cumondok” hadir langsung, dengan bersabda saja anak itu sembuh. Yang dibutuhkan adalah percaya. Kepala rumah ibadat itu percaya tanpa ragu dengan kata-kata Yesus. Ia langsung pulang ke rumah dan mendapati anaknya sudah sembuh. Iman yang dihayati kemudian diwartakan kepada seluruh isi rumahnya dan mereka menjadi percaya. Sabda atau Firman Allah sungguh berkuasa. Apakah kita percaya pada Firman Tuhan walaupun kita tidak langsung berhadapan dengan Allah, tetapi Firman-Nya bisa menyembuhkan dan menyelamatkan kita. Sepercik pantun untuk direnungkan: Orang mengkritik pedas kata-katanya, Tapi sayang sering tidak pakai logika. Percaya tidak membutuhkan tanda, Ia hanya taat pada Allah yang bersabda. Wonogiri, percaya saja Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 15 Maret 2026
Minggu Prapaskah IV Minggu Laetare Yohanes 9:1.6-9.13-17.34-38 SEORANG jubir pers kepresidenan AS, Karoline Leavitt mengomentari pernyataan Paus Leo XIV bahwa kebijakan publik harus didasarkan pada etika moral, belas kasih dan tanggung jawab sosial, dan kesenjangan yang makin lebar antara retorika politik dan perjuangan sehari-hari yang dihadapi banyak orang. “Dia hanya tokoh agama. Itu tidak membuatnya berhak untuk ikut campur dalam kebijakan publik. Dia seharusnya fokus memimpin Gereja. Masalah-masalah serius harus diserahkan kepada para profesional,” kata Leavitt. Tetapi jawaban Paus membuat semua orang hening dan tercenung. “Saya bukan ‘sekadar tokoh agama.’ Saya adalah pelayan bagi jutaan orang di seluruh dunia. Saya adalah saksi atas perjuangan, ketakutan, dan harapan mereka.” “Iman tidak pernah terpisah dari masyarakat,” kata Paus. “Iman hidup dalam komunitas kita—dalam cara kita memperlakukan orang miskin, orang yang rentan, dan mereka yang merasa tidak didengar. Para pemimpin spiritual tidak berhenti menjadi warga dunia hanya karena mereka mengenakan pakaian keagamaan,” lanjutnya. Perlakuan tidak adil terhadap orang miskin, sakit, menderita, rentan terlukis dalam peristiwa Yesus menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya. Kaum Farisi menghakimi si buta sebagai orang berdosa. "Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?" Mereka juga menyalahkan Yesus karena menyembuhkan orang pada hari sabat. Sikap ini sama sama seperti Leavitt yang menyatakan bahwa Paus tidak berhak berbicara tentang politik dan kebijakan publik serta masalah-masalah hak asasi manusia yang rentan. Paus berkata, “Iman tidak terpisah dari kehidupan masyarakat.” Ini adalah amanat Konsili Vatikan II dalam Gaudium et Spes. "Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga." Penyembuhan orang buta justru menumbuhkan iman yang makin mendalam. Orang buta itu mengungkapkan kepercayaannya bahwa Yesus adalah seorang nabi dan Anak Manusia. Ketika orang Farisi bertanya siapa yang memelekkan matamu, dia menjawab, "Ia adalah seorang nabi." Juga ketika Yesus bertanya, "Percayakah engkau kepada Anak Manusia?" Katanya: "Aku percaya, Tuhan!" Lalu ia sujud menyembah-Nya. Orang yang buta itu malah percaya pada Tuhan. Tetapi orang-orang yang tidak buta matanya justru tidak mau percaya seperti kaum Farisi. Apakah anda percaya bahwa Yesus mampu mengubah hidup anda menjadi lebih baik? Apakah mata batin anda terbuka akan karya Tuhan yang menyelamatkan anda? Ataukah anda bersikap skeptis dan tidak mau percaya seperti kaum Farisi? Sepercik pantun untuk direnungkan: Perang hanya membawa korban, Rakyat menderita tak ada masa depan. Lebih baik buta tetapi diselamatkan, Daripada melek tapi tak melihat Tuhan. Wonogiri, iman tumbuh makin dalam Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed