|
Puncta 3 Maret 2026
Selasa Prapaskah II Matius 23:1-12 ORANG yang berpakaian agamis belum tentu menggambarkan kekudusan dan kesalehannya. Orang yang memakai jubah putih tidak serta merta hatinya juga putih suci. Mochtar Lubis pernah menyatakan bahwa kita orang Indonesia ini punya watak munafik. Munafik adalah karakter dimana perkataan yang keluar dari mulut tidak sesuai dengan perilaku atau tindakannya sehari-hari. Orang suka melakukan kebohongan, berpura-pura dan suka ingkar janji. Orang munafik suka pamer kesalehan. Biar dilihat orang bahwa dirinya saleh, suci dan dihormati. Banyak orang berkata-kata dengan bahasa Kitab Suci, pandai mengajar dan mengutip ayat-ayat dan menasehati orang dengan firman Tuhan. Tetapi kehidupannya sehari-hari jauh dari apa yang diajarkan dan dinasehatkan. Yesus mengkritik para ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi yang suka memakai jumbai yang panjang dan tali ikat pinggang ungu agar dilihat orang. Mereka melakukan tradisi agama hanya ingin dipuji dan dihormati orang lain. Sayangnya yang mereka cari bukan sabda Tuhan dan melakukan kehendak-Nya, tetapi agar dilihat dan dipuji orang. Mereka memakai nama Tuhan untuk menindas dan mengeruk harta orang. Mereka tidak segan-segan minta mobil mewah, uang sumbangan yang banyak menggunakan nama Tuhan. "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya,” kata Yesus. Yesus mengingatkan kepada pengikut-Nya agar melayani dengan rendah hati. “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Kehebatan seseorang tidak dilihat dari pakaiannya, kendaraannya, jabatannya, tetapi dari tindakan yang baik dan tutur katanya yang sopan dan menghargai. Kerendahan hati justru menunjukkan keluhuran budinya. Berhati-hatilah jika kita sudah mulai mencari pujian dan senang memamerkan kehebatan dan kesuksesan kita. Jangan-jangan kita sudah mulai gila pujian. Sepercik pantun buat anda: Banyak Sengkuni yang suka dipuji-puji, Jalannya miring mukanya berseri-seri. Jadilah orang yang suka menghargai, Tanpa basa-basi namun suka melayani. Wonogiri, jangan berlaku munafik Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Puncta 2 Maret 2026
Senin Prapaskah II Lukas 6:36-38 ATURAN EMAS adalah ajaran yang diucapkan Yesus kepada orang banyak saat berkotbah di atas bukit. Orang banyak menyebutnya sebagai aturan emas karena menjadi prinsip etika bagi siapapun tanpa memandang suku atau agamanya. Istilah “Aturan Emas” atau Kotbah di Bukit sebetulnya tidak ada di dalam Kitab Suci. Ini hanya istilah untuk memudahkan kita memahami apa yang dikatakan Yesus bagi kemaslahatan banyak orang. Yesus meringkas seluruh isi Perjanjian Lama menjadi satu prinsip tunggal sebagai sebuah kesimpulan terpenting. Yesus mengutip dari Kitab Imamat, “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.” Yesus bukan melarang, tetapi mengubahnya menjadi ajakan positif. Perintah-Nya, “Ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” Apakah anda ingin dihargai dan dihormati? Maka berbuatlah demikian kepada orang lain. Apakah anda tidak ingin disakiti atau dibenci oleh orang lain? Maka janganlah menyakiti dan membenci sesamamu. “Karena itu, segala sesuatu yang kamu ingin orang lakukan kepadamu, demikian juga kamu lakukan kepada mereka karena inilah isi Hukum Taurat dan kitab para nabi” kata Yesus. Kita sering menyalahkan orang lain, menghakimi tanpa bukti nyata, menyebar fitnah tanpa alasan jelas, menjelekkan orang di medsos seenaknya saja. Kita merasa paling sempurna dan superior serta suka merendahkan orang lain. Dan tidak mau “ngilo githoke dewe,” bercermin pada diri sendiri. Orang-orang dalam gereja pun juga sering jatuh dalam kesombongan ini; mereka saling menghakimi dan menjatuhkan, memfitnah dan menyebarkan berita hoax. Perlu kiranya bagi semua orang untuk duduk dan bercemin diri; apakah aku sudah sempurna dan berhak menghakimi orang lain yang belum tentu bersalah? Sepercik pantun buat anda: Beli cincin emas di toko semar, Dipasang di jemari berjajar-jajar. Aturan emas adalah etika yang benar, Agar kita bijaksana dan berlaku sabar. Wonogiri, hargailah sesamamu Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 1 Maret 2026
Minggu Prapaskah II Matius 17:1-9 KALIMAT di atas mengingatkan kita kepada kisah hidup RA.Kartini, gadis muda dari Jepara yang terkungkung oleh budaya patriakhi di suatu zaman. Tulisan-tulisannya menyiratkan sebuah perjuangan dan harapan bahwa suatu saat perempuan-perempuan Indonesia dapat memiliki hak kebebasan yang sama seperti kaum lelaki. Kartini harus berjuang agar perempuan dibebaskan menentukan hak dan pilihan hidupnya sendiri. Perjuangan itu tidak mudah, harus menghadapi tembok penjajahan kaum lekaki. Namun kini perempuan telah memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Itu semua berkat perjuangan cita cita Kartini. Kartini telah mencicipi sedikit kebebasan ketika dia bisa mengenyam pendidikan. Hal itu yang dia perjuangkan agar semua perempuan memiliki hak yang sama untuk maju dan bebas oleh belenggu adat dan budaya yang menindas. Yesus mengajak para murid-Nya untuk naik ke sebuah gunung. Di sana mereka melihat sekilas kemuliaan Yesus. Peristiwa transfigurasi ini mengajak para murid mencicipi sedikit kemuliaan ilahi. Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Penampakan bersama Musa dan Elia menyatakan bahwa kehadiran Yesus adalah penggenapan dan penerusan wahyu Allah sejak zaman para nabi. Allah senantiasa hadir menyelamatkan umat manusia. Penegasan itu disampaikan oleh Bapa yang terdengar dari suara di dalam awan yang menaungi mereka. “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Petrus dan kawan-kawannya ingin menikmati kemuliaan itu untuk mereka sendiri. Tetapi Yesus mengingatkan bahwa mereka harus turun gunung dan kembali menjalani kehidupan sehari-hari. Tidak ada kemuliaan tanpa penderitaan. Tidak ada Paskah tanpa salib Golgota. Habis gelap terbitlah terang. Kegelapan salib di Golgota menerbitkan terang kebangkitan Tuhan. Perjuangan hidup akan menghasilkan kemuliaan yang penuh sukacita. Yesus mengajak para murid untuk turun gunung menghadapi salib kehidupan. Menjadi murid-murid Yesus berarti siap menerima realitas salib, tetapi jika kita tetap setia tinggal dengan-Nya maka kemenangan Paskah pun akan menjadi milik kita. Mari kita jalani masa prapaskah ini dengan setia dan kelak kita akan memetik buah kemenangan Paskah. Sepercik pantun buat anda: Berakit-rakit ke hulu, Berenang-renang ke tepian. Kita berjuang lebih dahulu, Kita petik buah kebahagiaan. Wonogiri, terus berjuang dengan setia Rm.A.Joko Purwanto, Pr Puncta 28 Februari 2026
Sabtu Prapaskah I Matius 5:43-48 SIANG yang cerah tanggal 13 Mei 1981 Paus Yohanes Paulus beraudiensi dengan umat yang hadir di lapangan Santo Petrus, Vatikan. Sesudah memberikan berkat, Paus berkeliling menyapa umat yang hadir dengan mobil bak terbuka. Di antara kerumunan orang-orang yang menyambut Paus, Mehmet Ali Agca menyeruak dan langsung menembakkan 8 peluru kepada Paus. Beberapa tembakan menembus dada Paus dan lengannya. Ia roboh dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Setelah selamat dari penembakan, Paus memberikan pengampunan yang tulus kepada Mehmet dan mengunjunginya selama di penjara pada Natal 27 Desember 1983. Ketika Paus tiba di sel Mehmet di Penjara Rebibbia di Italia, ia menatap calon pembunuhnya itu, menjabat tangannya, dan Mehmet mencium tangan Paus Yohanes Paulus II. Keduanya berbicara dengan tenang selama 21 menit. Yohanes Paulus berkata, "Apa yang kami bicarakan harus tetap menjadi rahasia antara dia dan saya, saya berbicara kepadanya sebagai saudara yang telah saya ampuni, dan yang memiliki kepercayaan penuh saya." Setelah pertemuan itu, keduanya berjabat tangan dan Paus memberi Mehmet hadiah kecil dalam kotak putih, sebuah rosario dari perak dan mutiara. Paus memberi contoh bahwa pengampunan itu bisa dilakukan oleh siapapun. Kita semua perlu diampuni oleh orang lain, jadi kita semua harus siap untuk memaafkan. Minta maaf dan memberikan pengampunan adalah sesuatu yang sangat berharga bagi kita semua. Itu adalah langkah awal untuk hidup damai dan tenang. Yesus berkata, “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Kasih yang radikal dan universal itu telah dimulai dari Tuhan Yesus sendiri. Ia mengampuni orang-orang yang menyalibkan-Nya. "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Di kayu salib Ia juga mengampuni penjahat di sampingnya. Asal kita mau minta ampun kepada Tuhan, Ia akan mengampuni kita dengan belaskasih-Nya sebagaimana Ia memberikan matahari baik kepada orang benar maupun juga kepada orang jahat. Apakah kita juga berani mengampuni seperti Allah yang mengampuni kita? Mengampuni musuh apakah bisa? Santo Yohanes Paulus telah membuktikan Jadilah sempurna seperti Bapa. Ia mengasihi kita tanpa membeda-bedakan Wonogiri, kasih yang sempurna Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 27 Februari 2026
Jum’at Prapaskah I Matius 5:20-26 SAYA mempunyai guru di SMP waktu itu, namanya Pak Suhari. Beliau pernah bercerita, ketika kuliah di Sanata Dharma, dia mempunyai patokan waktu belajar, yaitu pesawat latih dari AURI Yogyakarta. Beliau “ngekost” di dekat kampus Mrican. Wilayah udara di situ sering dipakai oleh para calon penerbang AURI untuk latihan menerbangkan pesawat. Pesawat terbang dari lapangan Adisucipto itu berputar-putar meraung-raung sampai malam hari di atas daerah Mrican. Suhari muda yang sedang belajar berpikir; “Aku tidak akan berhenti belajar kalau pesawat terbang itu belum juga berhenti latihan.” Semangatnya membara tidak mau kalah dengan para calon penerbang yang berlatih sampai malam hari. Inilah semangat magis. Magis berasal dari Bahasa Latin yang berarti lebih besar, “greater” atau semakin besar. Konsep ini dikembangkan oleh St.Ignatius Loyola dengan motto “Ad Maiorem Dei Gloriam” demi kemuliaan Tuhan yang semakin besar. Magis bukan berarti mengerjakan sesuatu lebih banyak atau lebih baik. Tetapi semangat untuk menjadi semakin dekat dengan Kristus. Istilah “magis” menunjukkan tindakan konkret dan mendalam untuk semakin memiliki relasi yang dekat dengan Allah, semakin mempunyai relasi yang dekat dengan Kristus. Semakin menjadi “Alter Christi.” Semangat itu dapat kita temukan dalam perikope Injil hari ini. “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga,” kata Yesus pada murid-murid-Nya. Hal yang kongkret dikatakan Yesus dalam mentaati hukum Taurat. “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.” “Tetapi Aku berkata kepadamu,” kalimat ini mau mengungkapkan penekanan semangat lebih atau magis yang dimaksud oleh Yesus. Jangankan membunuh, orang yang marah kepada saudaranya saja harus dihukum. Orang yang berkata”Kafir” atau “Jahil” harus diadili dan masuk ke neraka. “Siapa pun yang meminta engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil." Semangat magis diwujudkan untuk semakin bermurah hati seperti Allah yang murah hati adanya. Maukah kita memiliki semangat magis dalam pelayanan agar kita semakin menyerupai Tuhan Yesus yang mengasihi kita? Sepercik pantun buat anda: Banyak uang beredar di desa-desa, Aksi sunyi dari para pegawai raja. Jika kita murah hati kepada sesama, Tuhan juga akan bermurah hati pada kita. Wonogiri, ultah penuh berkah Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 26 Februari 2026
Kamis Prapaskah I Matius 7:7-12 KITA sering menjumpai hampir di sebagian besar persimpangan rel kereta api, kalau kereta akan lewat, palang pintu ditutup untuk semua pengguna jalan. Seluruh badan jalan penuh sesak kendaraan. Orang berdesak-desakan pengin di depan. Ketika pintu dibuka, kemacetan terjadi di tengah-tengah rel kereta api. Semua berebut ingin cepat-cepat jalan. Tidak ada budaya antri. Semua ingin mengalahkan yang lain jadi yang terdepan. Kita hanya bisa menunggu dengan sabar. Pada saat yang tepat sesudah kereta lewat, pintu pasti akan dibukakan. Pada bacaan Injil hari ini, Yesus mengingatkan perlunya kita beriman dan percaya kepada Allah. Bapa di surga pasti akan memberikan apa yang kita minta pada saat yang tepat. Bapa akan membuka pintu kepada siapa saja yang tekun menunggu dan setia meminta kepada-Nya. Sering terjadi kita harus menghadapi berbagai kesulitan dan beban penderitaan. Kita malah lari dari masalah dan sering meninggalkan Tuhan. Kita justru tidak mendekat agar segera dibukakan pintu yang menghalangi.Kita sering kurang sabar dan mudah putus asa. Kita tak mau menunggu Tuhan membuka pintu dan menolong kita. Yesus mengajak kita untuk tekun meminta dan setia menunggu kebaikan Bapa. Meminta harus dibarengi dengan usaha mencari. Dengan perintah “ketuklah” itu berarti kita harus berusaha. Orang yang sopan, setelah mengetuk dia akan menunggu jawaban dari dalam. Menunggu membutuhkan kesabaran. Kadang langsung dijawab, dibukakan pintu dan dipersilahkan masuk. Tetapi kadang juga harus menunggu lama, bahkan tidak ada jawaban. Di saat seperti inilah iman kita diuji. Kesabaran dan ketekunan kita dituntut dan diperjuangkan. Kita bisa belajar kepada orang-orang yang terus tekun dan berharap akan belaskasih Tuhan. Bunda Maria dan Yusuf bisa menjadi cermin ketekunan dan kesabaran. Doa Maria berkumandang dengan penuh keyakinan, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Kita juga bisa berdoa, “Kehendak-Mu pasti yang terbaik bagiku, ya Tuhan. Aku siap menunggu sampai Engkau lewat.” Sepercik pantun buat anda: Menunggu si kereta api, Duduk di motor sambil bernyanyi. Berdoalah tiada henti, Tuhan pasti datang dan memberi. Wonogiri, mintalah dan berdoalah Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 25 Februari 2026
Rabu Prapaskah I Lukas 11:29-32 PEPATAH Budha mengatakan, “Kalau ada orang yang menunjuk rembulan, hanya orang bodoh yang melihat jari telunjuknya." Pepatah ini merupakan sindiran agar orang mampu menilai melampaui apa yang nampak yakni rembulan di atas sana. Jangan hanya terpaku pada apa yang kelihatan (jari telunjuknya sendiri). Misalnya, kita merasa sukses sudah menandatangani perjanjian pengurangan tarif resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat. Kita puas US menurunkan pajaknya dari 32% ke 19% terhadap barang masuk dari Indonesia ke Amerika. Tapi kita diminta mengijinkan barang-barang US masuk Indonesia dengan bebas. Kita juga diharuskan memfasilitasi pembelian barang dan jasa Amerika senilai USD 33 miliar. Jangan hanya melihat angka-angka prosentase perjanjian. Di balik semua itu kita sedang dijajah oleh hegemoni kekuaan ekonomi dan politik Amerika. Trump sedang menancapkan pengaruh politiknya di Indonesia. Politik luar negeri kita yang bebas aktif dan kebijakan swasembada pangan untuk produk dalam negri sedang kita pertaruhkan. Kalau tidak hati-hati, kita sedang menjual kemerdekaan dan kedaulatan kita kepada orang asing. Itu hal yang tidak tampak tapi berdampak ke depan. Jangan hanya mendengar siaran pers dalam bahasa diplomasi yang sopan santun, tetapi bacalah isi dan makna perjanjian yang telah ditandatangani mewakili 250 juta penduduk Indonesia. Pepatah di atas bisa diungkap begini, “Jangan hanya melihat tinta emas pena yang dipakai untuk tanda tangan, tapi lihatlah isi perjanjian yang ditandatangani.” Seperti dalam bacaan Injil hari ini. Yesus juga menyindir orang-orang pada zaman-Nya. "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus “ Orang-orang hanya terpaku pada tanda-tanda lahiriah saja, namun mereka tidak sampai melihat secara dalam kehadiran Yesus yang membawa warta keselamatan. Mereka berhenti melihat mukjizat-Nya tetapi tidak percaya pada pemberi-Nya. Marilah kita belajar peka melihat tanda-tanda zaman dan dapat menilai apa yang ada di dalamnya. Jangan menilai sebuah buku hanya dengan melihat covernya, tapi baca dan pahami isinya. Sepercik pantun buat anda: Kita buat perjanjian dengan Amerika, Tapi yang menentukan semua sana. Bukan tanda-tanda yang paling utama, Tetapi imanlah yang menyelamatkan kita. Wonogiri, apa gunanya tanda-tanda? Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 24 Februari 2026
Selasa Prapaskah I Matius 6:7-15 DOA ini adalah doa pusaka yang diwariskan langsung oleh Yesus kepada murid-murid-Nya. Dari dahulu sampai sekarang dan untuk seterusnya, doa ini akan terus bergema dimana-mana. Yesus mengajarkan kita menyebut Allah sebagai Bapa. Relasi dengan Tuhan akan menentukan sikap dan tindakan kita kepada Allah dan sesama. Kalau Allah dipandang sebagai hakim kejam yang menghukum, kita akan selalu ketakutan dan berusaha menghindari hukumannya. Kalau kita mengimani Allah sebagai Bapa yang berbelas kasih, kita merasa aman dan dekat karena Bapa selalu ada untuk kita. Itulah relasi Yesus dengan Allah yang mau diwariskan kepada kita semua. Yesus mengajak kita membangun relasi dengan memuji Allah sebagai tindakan pertama dan utama dalam doa. Dimuliakanlah nama-Mu. Datanglah kerajaan-Mu dan jadilah kehendak-Mu. Baru kemudian kita memohon kepada-Nya. Langkah kedua baru doa permohonan, berupa mohon rejeki hari ini, mohon pengampunan dosa, mohon agar dijauhkan dari cobaan, dan mohon agar dibebaskan dari segala yang jahat. Permohonan itu sifatnya juga tidak egoistik. Mohon rejeki cukup untuk hari ini. Besok kita berdoa lagi dan Tuhan pasti memberi. Pengampunan dosa juga bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi ada kesediaan juga untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Doa berdampak sosial, tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri. Tuhan juga menggunakan kita untuk mengampuni sesama. Tuhan menegaskan bahwa kalau kita bersedia mengampuni, maka Bapa di surga juga akan mengampuni kita. “Jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di Surga akan mengampuni kesalahanmu,” pesan Yesus kepada kita. Jika kita mampu melaksanakan doa Bapa Kami itu, maka Kerajaan Surga akan menjadi nyata di tengah-tengah kita. Apa yang dikehendaki Allah akan mewujud nyata di dunia ini. “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Kalau kita kesulitan berdoa, ucapkan saja doa warisan Yesus ini setiap hari, pasti anda akan melihat karya-karya besar Allah terjadi di depan mata. Sepercik pantun buat anda: Setiap sore selalu minum jamu, Agar malam bisa tidur tak ada yang ganggu. Pujilah Tuhan Allahmu setiap waktu, Berdoalah kepada-Nya dengan tidak jemu-jemu. Wonogiri, berdoalah senantiasa Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 23 Februari 2026
Senin Prapaskah I Matius 25:31-46 DALAM perjalanan ziarah menuju nirwana, Pandawa dan Kresna bertemu dengan seorang janda tua. Nama perempuan itu Nyai Ruminta. Dia menimba air dari sumur dan anehnya air itu dibuang kembali ke dalam sumur. Kresna bertanya kepada Nyai Ruminta mengapa itu dilakukan terus menerus? Nyai Ruminta berkisah bahwa ia membuang hartanya, emas dan berlian ke dalam sumur agar tidak dijarah oleh Kurawa. Sekarang ia mau mengambil kembali hartanya. Janda tua itu minta bantuan Pandawa agar mengambilkan hartanya di dasar sumur. Kresna minta penduduk kampung itu bahu membahu memenuhi sumur dengan air dari segala penjuru. Akibatnya sumur itu meluap dan harta di dasarnya terbawa naik. Nyai Ruminta berterimakasih kepada Kresna dan memberikan emas dan berlian kepadanya. Namun Kresna meminta agar harta itu dibagi-bagikan kepada semua penduduk kampung di situ. Kresna dan Pandawa melanjutkan perjalanannya untuk moksa. Yesus mengajarkan bahwa untuk memperoleh keselamatan kekal, orang harus melakukan kebajikan secara nyata. Dalam kisah pengadilan terakhir, keselamatan diberikan kepada mereka yang rela dan tulus memberi atau menolong orang-orang yang menderita. Raja itu berkata, “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.” Kasih itu terwujud dalam tindakan nyata. Harta yang kita miliki akan hilang dan musnah. Tetapi kalau kita mau berbagi kepada mereka yang menderita, akan menjadi harta mulia di sorga. Seperti yang dilakukan Nyai Ruminta. Kalau harta hanya untuk diri sendiri tak menghasilkan apa-apa. Tetapi kalau kita mau menolong sesama, harta itu akan jadi bekal menuju ke sorga. Maukah kita tidak terbelenggu oleh harta duniawi? Namun rela berbagi untuk menolong mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel? Sepercik pantun buat anda: Pergi ke Surabaya naik kereta api, Gerbongnya bersih tempatnya rapi. Harta dunia tidak akan dibawa mati, Itu akan berguna bila kita mau berbagi. Wonogiri, kasih itu nyata Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 22 Februari 2026
Minggu Prapaskah I Matius 4:1-11 MAKAN Bergizi Gratis adalah program pemerintahan Presiden Prabowo sekarang. Sebagian besar anggaran dialokasikan kepada program MBG. 20% dari APBN digunakan untuk program pendidikan yang kisarannya sekitar Rp 757,8–769,08 triliun. Badan Gizi Nasional (BGN) mendapat alokasi dana sekitar Rp 223,55 triliun, menjadi pengguna anggaran pendidikan terbesar. Dana tersebut sebagian besar digunakan untuk program MBG yang menargetkan 71,9 juta siswa, setara dengan hampir sepertiga dari total anggaran pendidikan. Masalah pendidikan seolah-olah hanya urusan makan. Sementara makin banyak orang protes atas pengelolaan dapur SPPG yang bermasalah. Ada banyak siswa sekolah yang keracunan dan menu yang tidak memenuhi standar yang higienis. Persoalan pendidikan bukan hanya soal makan. Apakah dengan makan gratis seperti itu otak anak-anak menjadi lebih pandai? Godaan setan kepada Yesus bisa kita hubungkan dengan kondisi pendidikan kita sekarang ini. Setan menawarkan kepada Yesus untuk mengubah batu menjadi roti, agar perut yang kelaparan terpenuhi kebutuhannya. Datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti." Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." Kalau Yesus diangkat jadi Presiden Konoha, ketika para pembisiknya menggoda untuk memberi makan gratis kepada anak-anak sekolah, Dia akan menjawab, “Anak-anak belajar bukan dari makanan gratis, tetapi dari karakter guru-guru profesional yang hebat.” Setan tidak berhenti menggoda Yesus. Dia berkata, “Gelontorkan dana sebanyak-banyaknya kepada prajurit-prajurit niscaya tahun 2029 mereka akan menatang engkau supaya engkau tidak jatuh dan akan tetap selamat.” Kemudian setan membawa Yesus ke atas puncak gunung dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku." Untunglah di wilayah Konoha, Yesus masih sadar dan tidak tergoda oleh bujuk rayu pembisik-pembisik yang hanya mencari keuntungan sendiri dan berusaha menjebaknya. Ia dengan tegas berkata, "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" Godaan akan kekuasaan sangat menggiurkan semua orang. Ada banyak penjilat, pembisik, pemuja yang terus menyanjung setinggi langit. Tak ada hentinya berbicara tentang keberhasilan dan kesuksesan. Seolah kita ini manusia setengah dewa. Kalau tidak hati-hati, kita akan dijerumuskan ke dalam lubang jambangan penuh kotoran dan bau menyengat. Mari kita konsisten meniru Yesus, walaupun mungkin harus menghadapi tantangan salib yang sangat berat. Sepercik pantun buat anda: Masa puasa juga dapat kiriman makan, Paket gratis tetap dikirim ke sekolahan. Godaan setan sungguh menggiurkan, Hati-hati jangan sampai kita diarahkan. Wonogiri, manusia hidup bukan dari makanan saja Rm. A.Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed