|
Puncta 11 Oktober 2026
Minggu Biasa XXVIII Matius 22:1-14 SUATU kali kami diundang pesta ulangtahun sebuah keluarga. Pikirku acaranya santai saja karena yang diundang hanya keluarga dan kerabat dekat. Ternyata semua tamu memakai baju batik rapi dengan parfum harum menyebar dimana-mana. Saya hanya pakai kaos kasual santai. Rasanya tidak enak sendiri di hadapan tamu-tamu perlente dengan baju pesta yang elegan dan mewah. Kebetulan ada teman frater yang membawa jaket. Tanpa pikir panjang, saya pinjam jaketnya. Untuk menutupi kaos yang buluk saya langsung pakai jaket frater. Eh…. Waktu antri mengambil hidangan, Saya ditertawain orang karena di belakang jaket itu ada tulisan: “Hari ini saya diet, besuk tidak….!” Padahal piring saya sudah menggunung dengan makanan enak-enak. Rasanya mau lari tetapi sudah kepalang basah. Yesus memberi perumpamaan tentang Kerajaan surga itu seperti pesta perkawinan. Raja sudah memberi undangan khusus. "Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Tetapi para undangan itu tidak mau datang dengan berbagai alasan. Ia membujuk lagi dengan mengatakan bahwa pesta meriah sudah disiapkan, lembu dan domba sudah disembelih. Tetap saja mereka tidak mau datang. Tentu saja marahlah raja itu karena undangannya tidak ditanggapi. Ia menghukum mereka dan sekarang menyuruh hamba-hambanya memanggil semua orang di persimpangan jalan; orang jahat dan orang baik semua diundang sampai penuhlah tempat pesta. Namun ada seorang yang tidak berpakaian pesta. “Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta?” Tetapi orang itu diam saja. Orang itu diusir dari istana dan dilemparkan ke luar. Keselamatan Allah ditawarkan kepada bangsa pilihan yang diundang secara khusus yakni Bangsa Israel melalui para nabi, bahkan Yesus Kristus Anak-Nya sendiri diutus. Tetapi bangsa terpilih ini tidak mau menanggapi undangan Allah. Maka keselamatan ditawarkan kepada segala bangsa. Semua orang boleh masuk ke pesta perjamuan. Tetapi mereka harus memakai baju pesta yang sesuai dengan kehendak Allah. Baju yang sesuai adalah baju Anak Allah yaitu Kristus. Dengan memakai baju Kristus yaitu ajaran dan hidup-Nya, kita boleh masuk ke perjamuan pesta di surga. Sepercik pantun buat anda: Pergi ke pesta perkawinan, Hanya pakai sandal jepit. Kalau kita ikuti Tuhan, Hati tak kan pernah menjerit. Wonogiri, rayakan pesta nikah di Kana Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Puncta 10 Oktober 2026
Sabtu Biasa XXVII Lukas 11:27-28 SESANTI atau doa ini adalah harapan semua orangtua. “Mikul dhuwur” artinya anak bisa menghormati orangtua setinggi mungkin dan menjaga nama baik keluarga atau masyarakat. Sedangkan “Mendhem jero” artinya dapat mengubur dalam-dalam kekurangan atau aib keluarga. Konsep ini punya makna filosofis bahwa setiap anak punya kewajiban untuk menjunjung tinggi kebaikan, jasa, dan kehormatan serta harga diri keluarga, sekaligus menutup rapat kekurangan, kesalahan, atau aib mereka. Dengan menjadi anak yang baik, hormat, tahu tentang tata krama dan sopan santun, menghargai sesama dan penuh bakti, seorang anak dapat menjunjung martabat keluarga. Orangtua pasti bangga jika anaknya berhasil menjadi orang yang baik dan tahu berterimakasih. Dalam etika Jawa, manusia tidak hidup seorang diri tetapi terikat oleh nilai-nilai moral dan sosial. Menghormati orangtua dan leluhur tidak hanya persoalan membalas budi, tetapi menjaga harmoni batin dan tatanan keselarasan sosial. Kebaikan yang diwariskan harus terus dikembangkan dan dihayati sebagai habitus keluarga. Kekurangan atau keburukan keluarga tidak perlu dibuka tetapi dikubur dalam-dalam karena bisa merusak martabat dan harmoni keselarasan. Anak yang berbakti kepada keluarga akan berusaha “mikul dhuwur mendhem jero” dengan tabiat, perilaku dan tindakan yang baik dalam kehidupan di tengah masyarakat. Dengan demikian dia akan membawa nama harum bagi keluarganya. Melihat hidup, karya dan pelayanan Yesus, seorang ibu memuji dengan berkata: “Sungguh berbahagia wanita yang melahirkan dan menyusui Engkau!” Wanita itu melihat apa yang dilakukan Yesus membawa kebahagiaan dan kebanggaan seorang ibu yang melahirkannya. Namun Yesus menegaskan bahwa yang lebih berbahagia adalah setiap orang yang mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan dengan tekun dan setia. Yesus menjawab, “Lebih berbahagia lagi orang yang mendengar perkataan Allah dan menjalankannya!” Kebahagiaan bukan dipandang secara sempit bagi orangtua atau keluarga. Kebahagiaan bisa dialami oleh setiap orang asal dia mau mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan. Syarat orang menjadi bahagia adalah menjadi pendengar dan pelaksana sabda. Maukah kita hidup bahagia? Bersiaplah mendengarkan dan melaksanakan sabda Tuhan. Sepercik pantun buat anda: Ziarah menuju Bukit Golgota, Ikut Yesus dalam duka sengsara. Jadilah orang baik dan berguna, Bisa menjunjung martabat keluarga. Wonogiri, menyusuri lorong-lorong sempit Yerusalem Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 9 Oktober 2026
Jumat Biasa XXVII Lukas 11:15-26 TERJADI keributan di dalam istana Hastinapura sehubungan dengan kehadiran duta Pandawa yang meminta kembalinya Negeri Indraprastha dan separuh dari jajahan Hastina. Karna yang berdarah muda sebagai panglima Hastina menuduh Salya sebagai “telik sandi,” atau mata-matanya Pandawa. Kendati Salya adalah mertuanya, Karna tidak “tedheng aling-aling” mengatakan bahwa Salya berpihak pada Pandawa. Walaupun badannya ada di Hastina, tetapi hatinya lebih condong ke Pandawa. Karna menuduh Salya sebagai musuh yang disusupkan di Hastina. Percekcokan terjadi dengan sengit antara Karna dan Salya. Dituduh sebagai mata-mata, Salya, raja Mandaraka tidak terima. Dia menantang Karna bertanding satu lawan satu. Mulai dari sini terjadi pertentangan keras antara para punggawa di Hastina. Masing-masing bersikukuh mempertahankan pendapatnya. Hal ini menimbulkan perpecahan dan rapuhnya kekuatan Hastina. Bisma menyarankan agar kerajaan diserahkan kepada Pandawa yang berhak. Sangkuni dan Karna menolak pendapat Bisma, Hastina harus dibela dengan peperangan. Ketidakcocokan dan perbedaan pandangan membuat pecah kekuatan Kurawa. Tidak ada kata sepakat dan kekompakan diantara mereka, membuat mereka rapuh dan gampang runtuh. Pandawa yang hanya lima orang bersatu padu dan kokoh kuat mampu mengalahkan Kurawa yang kuantitasnya jauh lebih banyak dari Pandawa. Yesus menggambarkan kerajaan yang mudah hancur karena mereka tidak rukun bersatu padu. "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh.” Begitupun kerajaan setan. Jika mereka saling bertengkar dan berperang sendiri, kerajaan mereka tidak akan lestari. Mereka akan hancur dan punah. “Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul.” Yesus dituduh menggunakan kuasa Beelzebul, penghulu setan dalam mengusir roh-roh jahat. Mereka menyebarkan berita bohong pada orang banyak. Dikatakan bahwa Yesus memakai kuasa setan untuk menyembuhkan orang yang kerasukan. Bagaimana mungkin setan melawan setan. Sama saja jeruk makan jeruk. Justru kuasa Allah yang dipakai Yesus untuk mengusir setan. Kuasa Allah sudah hadir dalam Diri Yesus. Mestinya orang percaya, bukan malah menuduh yang bukan-bukan. Kita yakin Yesus adalah kebenaran. Ia tidak mengumbar kata-kata kosong belaka. Dia pasti juga membawa kuasa-kuasa kebenaran bagi seluruh dunia. Percayakah kita pada kuasaNya? Sepercik pantun buat anda: Bersatu kita teguh, Bercerai kita runtuh. Jangan pernah ngeluh, Rejekimu akan penuh. Wonogiri, memanggul salib di Golgota Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 8 Oktober 2026
Kamis Biasa XXVII Lukas 11:5-13 TEMAN saya, Rama Pamungkas waktu itu bertugas di Balai Semandang. Kalau harus turun ke Ketapang dia menempuh jarak 275 km jauhnya. Dia suka naik motor malam hari. Kadang jam 21.00 wib atau jam 22.00 wib baru tiba di Pastoran Nanga Tayap, tempat saya bertugas. Dengan ransel penuh beban, jaket tebal, sepatu boot dan kaos tangan serta motor trail KLX hijau langsung masuk ke garasi. Malam-malam dia singgah untuk istirahat dulu di Tayap. Besuknya baru lanjut ke Ketapang dengan jarak 136 km lagi. Sambil bikin kopi panas dan masak mie rebus atau mie goreng, kami ngobrol sampai ketiduran di kursi. Kalau ada liga Spanyol bertanding, kami bertaruh pada masing-masing jago. Dia mendukung Real Madrid, saya dukung Barcelona. Pokoknya harus beda. Pintu pastoran selalu terbuka bagi siapa saja yang datang sekedar melepas lelah atau nginap dari perjalanan jauh. Hospitalitas adalah bagian dari pelayanan pastoral di pedalaman. Tidak hanya rama, tetapi umat pun juga sering datang singgah dari perjalanan jauh dan numpang menginap di pastoran. Apa yang ada di ruang makan pastoran, ya itulah hidangan kami. Kami biasa nyimpan mie instan dan telur. Itu sudah sangat istimewa untuk menemani ngobrol kami. Bacaan Injil hari ini menegaskan doa yang tak putus pasti didengar oleh Tuhan. Yesus memberi gambaran dengan cerita sahabat yang mengetuk pintu malam-malam untuk pinjam roti demi menjamu tamu yang datang. Yesus berkata, “Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.” Berdoalah selalu, pasti Tuhan akan mengabulkannya.” Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya." Kalau Allah sungguh murah hati, kita pun juga diajak bermurah hati kepada saudara-saudara kita. Jangan sungkan untuk datang meminta pertolongan-Nya. Jangan berhenti meminta sampai doamu dikabulkan oleh Tuhan. Sepercik pantun buat anda: Ke Surabaya naik kereta api, Mampir di kantin membeli roti. Doa tak pernah kunjung berhenti, Suatu saat Tuhan pasti memberi. Wonogiri, Yerusalem, aku singgah di sini Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 7 Oktober 2026
Pw. St. Perawan Maria Ratu Rosario Lukas 11:1-4 atau RUybs Lukas 1:26-38 DALAM sebuah penerbangan Jim berada dalam satu pesawat dengan Suster Teresa. Wajah yang damai dan teduh itu menyapa lembut; “Apakah anda sering berdoa rosario?” Jim terhenyak dan jujur menjawab; “Ah tidak juga. Saya jarang berdoa, apalagi doa rosario.” Sambil meletakkan rosario di tangan Jim, Suster Teresa berkata; ”Mulai sekarang anda akan berdoa rosario suci.” Sembilan bulan setelah perjumpaan dengan “Puteri Tuhan” di dalam pesawat itu, Jim dan Ruth, istrinya berkunjung ke rumah Connie sahabatnya yang sakit kanker ovarium ganas. Jim ingat rosario pemberian Suster Teresa. Ia meminjamkannya kepada Connie dengan pesan, ““Bawalah Rosario itu untukmu, mungkin bisa membantu sedikit dalam perjuanganmu.” Setahun kemudian, mereka mengunjungi Connie lagi. Wajahnya berseri-seri dan tampak lebih sehat. “Aku bawa selalu rosariomu. Bulan kemarin dokter memeriksa untuk yang terakhir kalinya; katanya kanker ovariumku sudah hilang, sembuh sama sekali! katanya dengan mata berbinar. Rosario itu juga dipinjamkan kepada Liz, saudari Ruth yang depresi berat. Di malam-malam yang sepi yang menakutkan, Liz memegang rosario itu. Lama kelamaan ia merasa tenang dan damai. Dia merasa ada seseorang yang selalu menemaninya. Seorang asing menelpon Ruth. Ia ingin meminjam rosario untuk ibunya yang sedang kritis dan koma di rumah sakit. Ia membawa rosario itu dan membisikkan kepada ibunya tentang rosario dari Suster Teresa. "Setelah rosario itu ada di genggaman ibu, aku melihat wajah ibu penuh kedamaian dan rileks, seperti tidur, dan nampak wajahnya seperti jauh lebih muda. Kami hampir tidak sadar kalau ibu sudah berpulang kalau tidak mendengar suara mesin perekam jantung sudah datar tanpa detakan…" tulisnya di WA. “Ibu ku berpulang dalam tidur yang damai. Terimakasih atas kebaikanmu meminjamkan Rosario. Saatnya kukembalikan, mungkin ada orang lain yang lebih membutuhkannya….” Bulan Oktober adalah Bulan Rosario dimana umat Katolik mendaraskan doa rosaria bersama, baik di tengah keluarga maupun di lingkungan-lingkungan. Rosario adalah doa pusaka yang terus menerus dilambungkan untuk menghormati Maria Bunda Kristus. Banyak doa-doa dikabulkan melalui doa rosario suci. Apakah anda sudah berdoa rosario saat ini? Sepercik pantun buat anda: Rosario tak lepas dari genggaman, Doa-doa dilambungkan pada Tuhan. Percayalah dengan sepenuh iman, Belaskasih Tuhan tak berkesudahan. Wonogiri, debur ombak pantai Movenpick Resort Thaba Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 6 Okrober 2026
Selasa Biasa XXVII Lukas 10:38-42 DUNIA modern menawarkan berbagai banyak pilihan. Dengan dukungan teknologi mutakhir, orang makin dipermudah melakukan pilihan. Mau makan, kita bisa memilih makan di restoran mahal atau di warung murah pinggir jalan. Mau milih menu, tinggal selera lidah kita, mau menu BPK (Babi Panggang Karo) atau gudeg Jogja. Semua pilihan ada di genggaman aplikasi kita. Mau pergi ziarah; keluar negri di Lourdes atau Fatima, atau cukup domestik di Sendangsono atau Sriningsih. Mau pergi piknik, pilih di pantai atau senang naik gunung. Mau belanja; pengin di Pasar Klewer atau cukup di Bistro. Contoh di atas hanya sebagian kecil dari agenda kehidupan kita. Dengan banyak pilihan memang kita dipermudah. Tetapi juga membuat kita makin bingung dan asal pilih saja tanpa memperhitungkan kualitas bahkan baik buruknya bagi hidup kita. Perikope Injil hari ini mengajarkan kepada kita tentang membuat prioritas dalam melakukan pilihan-pilihan hidup. Ketika Yesus berkunjung ke Betania, Marta sibuk sekali melayani tamu agung. Semua dipersiapkan dengan seksama. Banyak hal dilakukan untuk menjamu Yesus yang datang. Menyiapkan tempat yang layak, makanan dan minuman yang cukup dan segala sesuatu yang diperlukan. Kesibukan menyita segala waktu, tenaga dan pikiran. Marta merasa jengkel karena harus bekerja sendirian. Ia dongkol melihat Maria yang hanya duduk-duduk saja mendengarkan Yesus berbicara. Kejengkelannya diutarakan; "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." Kita diajak untuk membuat prioritas dari berbagai macam pilihan. Menentukan prioritas berarti kita memilih mana yang paling penting dan paling berguna demi keselamatan hidupku. Maria telah memilih bahwa Yesuslah yang paling peting. Hal-hal dan urusan lain bisa diurus kemudian. Mendengarkan sabda Tuhan, dekat dengan Tuhan adalah prioritas kehidupan. Apakah kita telah memilih yang benar untuk keselamatan kita? Sepercik pantun buat anda: Musim kering dan angin kencang, Kebakaran hutan terjadi dimana-mana Dekat Tuhan saja hidupku tenang, Hanya kehendak-Nya yang paling utama. Wonogiri, berjalan bareng di Sinai Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 5 Oktober 2026
Senin Biasa XXVII Lukas 10:25-37 ADA pemandangan beda di Kampus Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Terlihat seorang biarawati dengan jubah, slayer penutup kepala dan kalung salib di dadanya melangkah tenang di antara para mahasiswa-mahasiswi Muhamadiyah. Dia adalah Sr. M. Felika SCMM yang kuliah di UAD mengambil jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini angkatan 2024. Ia diterima dengan sukacita oleh teman-temannya walau mereka berbeda agama, suku dan budaya. Inilah gambaran inklusivitas sesungguhnya bagi mereka yang menghargai martabat manusia. Kendati beragam dan berbeda namun kemanusiaan adalah sama. Kita semua sama derajatnya di hadapan Tuhan. Agama yang benar adalah agama yang menghargai martabat manusia apa adanya. Ia tidak membeda-bedakan latar belakangnya. Semua orang diterima dan dihargai bahkan dibantu untuk mengembangkan hidupnya. Kisah Orang Samaria yang baik hati dikisahkan oleh Yesus untuk mengkritik kelompok-kelompok yang suka membeda-bedakan sesamanya. Orang Samaria dan Orang Yahudi saling curiga dan bermusuhan. Mereka tidak mau bergaul satu sama lain. Alkisah, ada orang yang dirampok habis-habisan dan terluka di pinggir jalan. Ada imam lewat di situ, tetapi dia tidak mau menolongnya. Ada Levi juga lewat di situ tetapi melewatinya. Padahal mereka itu adalah ahli-ahli agama dan kitab suci. Lewatlah orang Samaria, yang dimusuhi oleh kaum Yahudi. Orang ini datang merawat dan membalut lukanya. Ia membawanya ke penginapan untuk dirawat. Bahkan ia masih memberi uang untuk biaya pengobatan. Kalau masih kurang, ia bermurah hati siap menambahi saat ia kembali. Yesus bertanya; siapakah sesama bagi orang yang menjadi korban perampokan tadi? Bukan imam, bukan Levi, tetapi orang Samaria yang dibenci dan dicurigai. Sesama tidak dibatasi oleh suku, agama, etnis, status sosial. Sesama adalah mereka yang menunjukkan belaskasih kepada siapapun tanpa membeda-bedakan. Cinta paling murni bukan mereka yang bersatu, tetapi yang berbeda-beda namun tulus memberi tanpa menuntut balasan atau pujian. Beranikah kita mengasihi tanpa membeda-bedakan? Sepercik pantun buat anda: Kabut asap ada di Kalimantan, Sangat mengganggu penerbangan. Kasih tidak membeda-bedakan, Ia memberi tanpa meminta balasan. Wonogiri, mengasihi sampai Gunung Sinai Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 4 Oktober 2026
Minggu Biasa XXVII Matius 21:33-43 PEPATAH dalam Bahasa Jawa berbunyi; “Bandha kuwi mung titipan, nyawa kuwi mung gadhuhan, pangkat kuwi mung sampiran.” Artinya, Harta itu hanyalah titipan, nyawa hanyalah pinjaman dan pangkat itu hanya hiasan semata. Manusia bukanlah pemilik kehidupan yang sebenarnya. Tuhanlah yang memiliki hidup kita. Kita semua hanya dipinjami atau dititipi yang suatu saat harus dikembalikan kepada Sang Pemilik Sejati. Kita harus sadar diri bahwa kita adalah penggarap, bukan pemilik. Dosa mulai tumbuh ketika kita merebut apa yang bukan milik kita. Kita mengklaim diri sebagai pemilik kehidupan dan bertindak seolah-olah kita sebagai Allah yang paling berkuasa. Yesus mengkritik para ahli kitab dan orang-orang Farisi. Mereka mengklaim diri yang paling benar dan merasa berhak atas kehidupannya sendiri. Perumpamaan penggarap dan pemilik kebun anggur menggambarkan kesombongan dan keserakahan mereka. Para penggarap itu menolak utusan dengan memukuli, melemparkan, dan bahkan anak pemilik kebun anggur itu dibunuh agar warisannya jatuh ke tangan mereka. Mereka merebut hak waris yang bukan haknya. Kaum Farisi dan para ahli kitab menyombongkan diri sebagai bangsa yang berhak atas keselamatan karena mereka merasa sebagai bangsa terpilih. Mereka tidak menggubris para nabi dan Mesias Utusan Allah. Karena penolakan ini, keselamatan diberikan kepada semua orang yang percaya dan menanggapi warta keselamatan Allah. Sebab itu Aku berkata kepadamu, “Kerajaan Allah akan diambil dari padamu, dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu." Apakah kita mampu menghasilkan buah Kerajaan yang dianugerahkan kepada kita sekarang dengan bertanggungjawab atas apa yang telah diberikan Tuhan? Sepercik pantun buat anda: Kebakaran hutan mulai diabaikan, Krakatau meletus di tengah lautan. Tuhan adalah pemilik kehidupan, Gunakan hidupmu untuk kebaikan. Wonogiri, merenungi Piramida Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 3 Oktober 2026
Sabtu Biasa XXIII, Sabtu Imam Lukas 10:17-24 KISAH Enthit dan Ragil Kuning adalah cerita rakyat yang berkembang di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Mereka adalah pewaris kerajaan yang menyamar sebagai rakyat jelata. Enthit adalah penyamaran dari Panji Asmara Bangun dan Ragil Kuning adalah Dyah Ayu Galuh Candra Kirana. Kisah asmara mereka dipisahkan oleh situasi kerajaan. Mereka mengembara saling mencari dambaan hatinya. Panji menyamar sebagai petani desa, sederhana, tekun, tampan, punya talenta yang banyak dengan nama Enthit. Sedang Galuh Candra Kirana adalah gadis desa yang cantik dan kagum akan hasil kerja petani muda yang menghasilkan panenan padi bernas, jagung, waluh, timun, semangka dan pisang yang besar-besar mempesonakan. Orang-orang kecil yang hidup tenang, tekun, bersahaja dan dekat dengan alam mampu melihat karya Allah yang luar biasa. Mereka melestarikan lingkungan hidup sebagai rumah Allah yang harus terus dijaga. Keberhasilan Si Enthit mengolah tanah dan hasil bumi membawa damai dan ketentraman serta kebahagiaan hidup yang akhirnya mempersatukan Panji Asmara Bangun dengan kekasih hatinya, Galuh Candra Kirana. Yesus bersyukur kepada Bapa karena mewahyukan damai sejahtera kepada mereka yang kecil, bukan bagi mereka yang pandai dan bijaksana. "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.” Para murid bersyukur karena berhasil mengusir setan-setan. Tetapi bukan itu tujuannya. Yang pantas disyukuri adalah karena Allah mencatat kebaikan-kebaikan kita di tangan-Nya. Sabda Yesus, “Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga." Mari kita tetap menjadi orang kecil sederhana yang berhati bijaksana, supaya kita bisa melihat karya-karya Allah yang mengagumkan dunia. Sepercik pantun buat anda: Negara besar datang menyerang untuk menjarah, Mengeruk harta kekayaan bikin rakyat menderita. Banyak orang besar ingin melihat karya Allah, Hanya orang kecil dan nestapa bisa menangkapnya. Wonogiri, ambil nafas di Dubai Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 2 Oktober 2026
Pw. Para Malaikat Pelindung Lukas 10:13-16 atau RUybs Matius 18:1-5.10 Kula tansah dipun jagi malaikat / Saya selalu dijaga oleh malaikat Juru pamong ingkang setya yekti / Sang pembimbing yang setia menemani Rinten dalu tansah nyuwunken rahmat / Siang malam selalu memohon berkat Kang supados gesang amba murni / Agar supaya hidupku suci murni LAGU masa kecil yang indah dan syahdu ini diajarkan oleh orangtua dahulu kepada anak-anaknya sebagai lagu penghantar tidur. Pada peringatan para malaikat ini, kita diingatkan ada seorang pribadi yang tak kelihatan yakni malaikat yang membimbing langkah kita. Tokoh-tokoh malaikat yang kita kenal seperti Mikhael, Gabriel dan Rafael. Mereka adalah bala tentara surga yang diutus Allah menjaga manusia. Setiap orang dijaga oleh makhluk-makhluk suci ini agar mampu melawan kejahatan. Dalam Kitab Wahyu banyak disebut tugas dan peran para malaikat surga. Mereka bertindak sebagai utusan, memberitakan pewahyuan Tuhan dan memuji Allah di surga. Mereka juga berperang melawan naga atau iblis lambang kejahatan. Mereka menyampaikan peringatan kepada semua manusia agar takut dan menyembah Allah di surga. Para malaikat suci ini menjadi abdi Allah dan melayani Allah untuk melaksanakan karya keselamatan yang kekal. Yesus menggambarkan bahwa para malaikat membimbing dan menolong kaum kecil, lemah dan suci hatinya. Mereka digambarkan seperti anak kecil yang polos dan suci hatinya. “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.” Anak kecil adalah orang-orang yang lemah, tak berdaya, hanya bergantung pada kebaikan Allah. Anak kecil juga lambang kepolosan, kesucian, kejujuran dan kerendahan hati. Kita diajak bertobat menjadi seorang anak kecil. Dengan sikap, semangat dan mental seperti anak kecil itu, kita terus dibimbing oleh para malaikat agar hidup seturut kehendak Allah. Mari kita bersyukur atas bimbingan dan perlindungan para malaikat di surga. Sepercik pantun buat anda: Jalan jauh ke Raja Ampat, Mabuk laut sampai mau sekarat. Kita dibimbing oleh Malaikat, Agar bisa melawan yang jahat. Wonogiri, sowan Mbah Soetta Rm. A.Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed