|
Puncta 26 April 2026
Minggu Paskah IV, Minggu Panggilan Yohanes 10:1-10 KETIKA bertugas di Cawas, saya memelihara dua anjing. Saya merawatnya dengan sukacita karena anjing binatang yang setia. Ada dua ekor anjing diberi nama Boing, karena lahirnya pada hari Rebo Paing. Sekarang tinggal satu yang jantan. Pasangannya sudah mati diracun orang di pinggir jalan. Sudah dua tahun saya meninggalkan Cawas. Tetapi setiap kali saya singgah di pastoran Cawas, Boing pasti langsung mengenali saya dan menyambut saya dengan melonjak-lonjak dan meraung kegirangan. Seolah melampiaskan rasa rindu yang dalam. Seperti dua sahabat yang lama tidak berjumpa, saling mengungkapkan rasa bahagia bisa bertemu lagi. Boing sangat mengenal tuannya dan menyambut kedatangan saya dengan penuh sukacita.dia merasa aman karena dijaga dan dicintai. Yesus digambarkan sebagai Gembala yang menjaga kawanan domba-domba-Nya. Gembala mengenal domba-domba-Nya dan begitupun sebaliknya kawanan domba itu mengenal suara sang gembala. Gembala akan menjaga dan menjamin keselamatan dombanya. Gembala yang baik siap mengorbankan nyawa untuk keselamatan dombanya. Semua domba digiring menuju kandang yang aman dari perampok dan hewan buas yang akan menyerang mereka. Yesus juga menyebut Diri-Nya sebagai pintu yang aman menuju kandang domba. Yesus adalah akses satu-satunya untuk masuk ke dalam kandang yang aman. Ini mau menggambarkan hanya melalui Yesus saja kita akan sampai kepada keselamatan, damai sejahtera. Jika kita dipanggil menjadi gembala, apakah kita mengenal para domba dan siap berjalan di depan dengan memberi teladan sehingga domba-domba menemukan kedamaian? Apakah kita menjadi pintu yang selalu terbuka untuk menerima domba-domba yang hilang? Jika kita sebagai domba-Nya, apakah kita sungguh mengenal suara Gembala? Ataukah kita mengabaikan suara Gembala karena ada suara-suara lain yang menggiring kita? Apakah kita lebih suka mencari jalan sendiri menuju pintu yang kita sukai saja? Pada Minggu Panggilan ini, kita masing-masing – gembala dan domba – diajak hening sejenak untuk bertanya pada diri sendiri, apakah saya sudah menjadi gembala yang baik? Apakah saya juga menjadi domba-domba yang setia? Sepercik pantun buat anda: Ke Bogor lihat kebun raya, Banyak kijang merumput bersama. Gereja akan damai bahagia, Gembala dan domba seia dan sekata. Wonogiri, jadilah gembala yang baik Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Puncta 25 April 2026
Pesta St.Markus, Penulis Injil Markus 16:15-20 PADA Pesta Santo Markus, Penulis Injil ini kita diingatkan akan tugas agung yang disabdakan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya sebelum Dia terangkat ke sorga. Yesus memberi perintah; "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Tanda-tanda bagi mereka yang mewartakan Kabar Gembira adalah kemampuan berbicara menggunakan bahasa-bahasa yang baru. Bahasa yang baru itu adalah bahasa kasih. Dengan bahasa kasih mereka menumpangkan tangan bagi orang sakit dan sembuh. Bahasa kasih ditunjukkan dengan mengusir setan yang melawan segala kebaikan. Bahasa kasih adalah bahasa kebaikan, bahasa yang sopan santun dalam turut kata dan lemah lembut dalam tindakan, bukan bahasa kekerasan dan intimidasi, ketakutan dan pemaksaan kehendak. Para murid diutus untuk mewartakan kasih Tuhan kepada semua orang. Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu. Tuhan akan turut membantu bagi mereka yang mewartakan kasih dan keselamatan bagi setiap orang. Beberapa waktu ini kita prihatin dengan kondisi masyarakat yang disebari dengan ujaran-ujaran kebencian. Bahkan oleh pemimpin dan tokoh bangsa. Kalau tokoh bangsa mengajarkan hal yang salah, maka rakyat bawah juga akan ikut menyebarkan kebencian. Agama tidak mengajarkan bahwa membunuh yang beda itu syahid. Agama tidak menghalalkan kepala seseorang untuk dipenggal. Agama tidak akan memaksakan kehendak atas dasar mayoritas dan minoritas. Agama yang baik diwartakan dengan damai dan kasih sayang. Agama pembawa damai disebarkan dengan sopan santun, welas asih dan saling pengertian. Agama yang menghancurkan dan menindas justru bertentangan dengan nilai-nilai yang dijunjung dan diajarkan. Agama yang mengancam dengan kekerasan hanya akan membawa ketakutan. Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk mengabarkan Injil dengan kebaikan, cintakasih dan pengampunan. Tuhan akan ikut bekerja dan mendampingi mereka yang membawa damai dan kebenaran. Tuhan akan berdiri di pihak yang benar. Marilah kita wartakan Injil dengan bahasa kasih dan damai. Inilah perintah agung yang diajarkan Kristus kepada semua murid-Nya. Sepercik pantun buat anda: Orang takut pada daging babi, Tapi tidak takut pada judi dan korupsi. Wartakan Injil dengan mengasihi, Jangan ajarkan orang untuk membenci. Wonogiri, selalu dengan bahasa kasih Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 24 April 2026
Jum’at Paskah III Yohanes 6:52-59 EMPAT orang buta piknik ke Kebun Binatang. Mereka ingin ketemu dengan gajah. Mereka meraba-raba binatang itu dan diminta memberi diskripsi tentang gajah. Orang pertama memegang belalainya, dia berkata,”Gajah itu panjang bentuknya dan ada lubang di ujungnya.” Orang kedua meraba-raba telinga gajah, dia berkata, “Gajah itu tipis dan lebar seperti daun.” Yang ketiga memegang perut gajah, dia berkata, “Gajah itu besar dan tambun.” Orang keempat meraba ekornya, dia berkata; “Gajah itu pendek dan kecil, ada rambut di ujungnya.” Masing-masing berdebat menurut persepsinya sendiri. Apa yang dia raba dengan panca inderanya, itulah yang dapat disimpulkannya. Mereka menilai dari sudut pandang masing-masing yang sangat terbatas pada penangkapan inderawinya. Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: “Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan.” Mereka tidak mengerti kata-kata Yesus bahwa Dialah Roti Hidup. Mereka hanya melihat Yesus sebagai manusia biasa. Mereka berpikir hanya dengan sudut mata inderawinya saja. Mereka tidak mengerti apa yang disampaikan Yesus di rumah ibadat Kapernaum itu. Kita mesti melihat dengan cara pandang Yesus. “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” Untuk memahami kata-kata-Nya ini, kita mesti tinggal di dalam Dia. “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” Kalau orang-orang buta itu tidak hidup dan tinggal dengan gajah, mereka tidak akan tahu gajah itu seperti apa. Sama seperti kita, kalau kita tidak percaya bahwa Hosti dan Anggur yang dikonsekrir itu adalah Tubuh dan Darah-Nya, kita tidak bisa hidup dan tinggal di dalam-Nya. Kalau kita bisa melihat dengan mata iman bahwa dalam Ekaristi kita benar-benar menerima Tubuh dan Darah Kristus, maka kita akan menerima hidup kekal. Yesus akan membangkitkan kita pada akhir zaman. Yang kita butuhkan adalah metanoia atau pertobatan batin yang terus menerus agar kita percaya penuh kepada Tuhan Yesus Kristus. Tidak hanya melihat menurut mata inderawi saja, tetapi melihat dengan mata rohani yang makin tajam dan peka. Apakah anda menggunakan mata iman dan yakin bahwa Ekaristi adalah pemberian Diri Kristus yang akan menyelamatkan kita? Sepercik pantun buat anda: Gunakanlah mata batin yang peka, Jangan cuma pakai kacamata kuda. Yesus adalah Roti Hidup bagi dunia, Tubuh dan Darah-Nya menebus kita. Wonogiri, jangan jadi orang buta Rm. A.Joko Purwanto,Pr Puncta 23 April 2026
Kamis Paskah III Yohanes 6:44-51 DALAM tradisi Gereja abad-abad permulaan, kita menemukan banyak gambar, ukiran, patung dan cerita tentang burung pelikan yang mengorbankan dirinya untuk kehidupan anak-anaknya. Lambang itu bisa kita jumpai di altar, di tabernakel, dinding gereja dan benda-benda liturgis lainnya. Tongkat kegembalaan Uskup Agung Semarang juga mengambil ukiran burung pelikan. Di dinding atas pintu ruang perjamuan terakhir Yesus dengan murid-murid-Nya di Yerusalem juga ada ukiran burung pelikan. Simbolisme kisah burung pelikan yang memberikan darahnya untuk menghidupi anak-anaknya pada masa kelaparan dipakai sebagai gambaran Yesus Kristus yang mengorbankan Diri-Nya untuk menebus dosa umat manusia. Dikisahkan pada masa kekeringan dan kelaparan, anak-anak pelikan hampir mati karena tidak ada makanan. Induk pelikan itu melukai temboloknya sendiri dengan ujung paruhnya sehingga keluar darah segar. Anak-anak pelikan itu minum darah induknya agar bisa bertahan hidup. Induk Pelikan itu mati demi masa depan anak-anaknya. Burung pelikan melambangkan Tuhan Yesus, Penebus kita, yang memberikan hidup-Nya untuk menyelamatkan kita dan berkat kematian-Nya kita bisa hidup sebagai anak-anak Allah. Yesus berkata, “Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” Yesus Kristus telah memberikan Tubuh dan Darah-Nya. Ia menebus kita dengan kematian-Nya. Ekaristi adalah tempat yang istimewa, dimana kita bisa menerima Tubuh dan Darah-Nya. Dalam Ekaristi kita ditebus dan diampuni serta dihidupkan kembali. SantoThomas Aquinas menegaskan pengorbanan Yesus dalam himne “Adoro Te Devote.” Lirik lagunya berkata, “Pie pelicane, Iesu Domine, Me immundum munda tuo sanguine, Cuius una stilla salvum facere, Totum mundum quit ab omni scelere.” “Wahai Pelikan yang Baik, Tuhan Yesus, Sucikanlah aku yang najis ini dengan darah-Mu: Satu tetes saja (darah-Mu) mampu menyelamatkan, Seluruh dunia dari segala dosa..” Kita semua adalah anak-anak pelikan yang haus dan kelaparan. Marilah kita datang kepada Yesus, Sang Pelikan penuh cinta. Dia mengundang kita dalam Ekaristi-Nya, karena di sana Ia memberikan tubuh dan darah-Nya untuk menebus dosa-dosa kita. Sepercik pantun buat anda: Pejabat hidup berkelimpahan harta, Rakyat bawah harus berjuang sekuat tenaga. Pengorbanan Yesus tiada batasnya, Menebus kita dengan tubuh dan darah-Nya. Wonogiri, Pelikan yang baik hati Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 22 April 2026
Rabu Paskah III Yohanes 6:35-40 SEORANG sahabat terkena sakit kanker. Ia sudah divonis dokter. Suatu kali dia minta kepada istrinya untuk mengundang rama merayakan Ekaristi di rumahnya. Bersama beberapa teman kami merayakan Ekaristi, sementara dia terbaring di kamarnya. Begitu ajaibnya, beberapa waktu setelah Ekaristi itu keadaannya mulai membaik. Dia mulai bisa duduk, berlatih berjalan dan sedikit berbicara. Ini semua sangat menggembirakan. Kami merasa daya Ekaristi sungguh luar biasa. Di Paroki saya, ada sepasang suami istri yang setiap hari rajin ke gereja mengikuti Ekaristi. Saya bertanya kepada sang suami, kenapa tiap hari rajin berdua ikut Ekaristi pagi? Bapak itu menjawab, “Rama, istri saya pernah mengalami kecelakaan yang hampir merenggut jiwanya. Kami merasa ini adalah anugerah Tuhan yang memberinya kesempatan kedua untuk hidup. Kami harus datang kepada Yesus seolah-olah hari esok sudah tidak ada lagi.” Saya jadi ingat lirik lagu berjudul “If Tomorrow Never Come.” If tomorrow never comes, will she know how much I loved her. Did I try in every way to show her every day that she's my only one and if my time on earth were through and she must face this world without me. Is the love I gave her in the past, gonna be enough to last, If tomorrow never comes. Pasutri itu rajin datang menyambut Kristus Sang Roti Hidup, seolah-olah esok hari sudah tidak akan datang lagi. Mereka menyiapkan diri untuk keselamatan kekalnya dengan menyambut Tubuh Kristus Roti Kehidupan setiap pagi. Yesus telah bersabda, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.” Santo Yohanes Maria Vianey pernah berkata, “Orang yang tidak datang dan menyambut komuni itu seperti orang yang sekarat dan kehausan yang berada di tepi sumber mata air.” Ekaristi adalah sumber mata air. Kalau kita kehausan kita tinggal datang kepada Yesus dalam Ekaristi. Jangan kita seperti pepatah yang berkata, “anak ayam mati di lumbung padi." Yesus adalah lumbung sumber kehidupan kita, marilah kita datang kepada-Nya agar kita memperoleh hidup dalam segala kepenuhannya. Sepercik pantun buat anda: Jangan tertipu oleh rayuan bunga bank tinggi, Belajarlah dari Sr.Natalia yang nabung di BNI. Yesus selalu hadir dalam perayaan Ekaristi, Dialah sumber hidup yang tak pernah berhenti. Wonogiri, Yesus sang sumber air hidup Rm. A.Joko Purwanto,Pr Puncta 21 April 2026
Selasa Paskah III Yohanes 6:30-36 SETIAP orang membutuhkan makanan, karena makanan adalah kebutuhan pokok agar manusia bisa hidup. Roti adalah makanan pokok orang Yahudi. Berbicara tentang roti pasti mereka teringat akan manna, roti yang diberikan Musa di padang gurun. Setelah peristiwa pergandaan lima roti dan dua ikan, mereka mencari Yesus untuk menjadikan-Nya raja, agar dapat membuat mukjizat terus dan mengenyangkan mereka setiap hari. Mereka hanya berpikir tentang kebutuhan jasmani saja. Yesus mengarahkan perdebatan dengan mereka agar orang-orang Yahudi mempunyai pemahaman yang benar bahwa bukan Musa yang memberi roti tetapi Allah Bapa di sorga yang memelihara hidup mereka. Kalau dahulu Allah memberi manna, sekarang Allah yang sama memberikan Yesus sebagai Roti Hidup yang akan menjamin keselamatan sampai pada hidup yang kekal. “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku ia tidak akanhaus lagi.” Yesus mengungkapkan Diri-Nya sebagai Roti Hidup. Dengan menyejajarkan peristiwa manna di padang gurun, Yesus mewahyukan Diri-Nya sebagai Roti yang turun dari sorga. Barangsiapa datang kepada Yesus dan percaya kepada-Nya akan memperoleh hidup yang kekal. Sebagaimana yang diyakini Stefanus pada bacaan pertama, ia mengikuti Yesus dengan iman yang teguh. Kematiannya menyerupai kematian Yesus di salib. Stefanus menyerahkan rohnya ketika dirajam sama seperti Yesus yang berdoa, 'Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan rohku'.” Yesus mengampuni para pembunuh-Nya, demikian juga Stefanus mendoakan mereka yang melempari batu kepadanya. 'Tuhan, janganlah Engkau menuntut dosa ini kepada mereka' kata Stefanus menjelang ajanya. Yesus adalah sumber hidup yang memberi keselamatan kekal kepada siapapun yang percaya kepada-Nya. Sebagaimana Stefanus yang percaya pada Yesus, ia menyatukan hidupnya kepada Kristus. Ia pun mati menyerupai cara-Nya karena dia percaya Yesuslah Jalan Kebenaran. Yesuslah Sang Roti Hidup itu sendiri. Sepercik pantun buat anda: Kalau sedang jalan-jalan di kota Paris, Jangan lupa ke Galeries Lafayette membeli syal. Yesus tidak memberi makan bergizi gratis, Ia mengorbankan Diri-Nya demi kehidupan kekal. Wonogiri, Yesus adalah roti kehidupan Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 20 April 2026
Senin Paskah III Yohanes 6:22-29 KETIKA masuk ke seminari, para calon ditanya apa motivasinya. Saya waktu itu ditanya oleh Romo Rektor Julius Darmaatmaja SJ. “Kok pengin jadi rama, apa motivasimu Joko?” Saya dengan mantap bercerita bahwa Rama Paroki sering berkunjung ke keluarga. Waktu kunjungan itu, bapak saya memotong ayam untuk disajikan. Ibu memasak makanan yang enak-enak. Pikir saya waktu itu, senang jadi rama karena bisa makan sisanya rama yang lezat. Dulu kami jarang makan daging ayam atau telurnya. Makan telur ayam kalau pas ada kenduri dari tetangga yang punya hajat. Itupun seperempat telur masih dibagi empat dengan adik-adik saya. Maka saya pengin jadi rama supaya bisa makan yang enak-enak. Orang-orang mencari Yesus. Setelah pergandaan lima roti dan dua ikan, mereka semua makan kenyang. Maka mereka ingin mengangkat Yesus menjadi raja. Mereka menganggap Yesus bisa memenuhi kebutuhan mereka. Tetapi Yesus membongkar motivasi dasar mereka. Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.” Mereka tidak bisa mengenal siapa Yesus tetapi karena mereka dikenyangkan oleh roti yang diberikan Yesus. Motivasi mereka bukan utuk mengikuti Yesus sebagai Utusan Allah, tetapi karena mereka sudah dikenyangkan. Mereka bertanya, apa yang harus kami perbuat? supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" Seolah dengan banyak prestasi kita bisa menyenangkan Allah. Namun bukan prestasi yang dikehendaki Yesus melainkan iman. Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah." Iman kepada Yesus yang telah diutus oleh Bapa itulah yang harus menjadi motivasi dasarnya. Setelah menjalani imamat bertahun-tahun, saya makin menyadari bukan karena makan enak, fasilitas lengkap atau posisi jadi petinggi gerejalah yang paling penting, tetapi percaya bahwa Yesuslah yang memanggil untuk mengikuti Dia dengan setia. Mari kita terus menerus memurnikan motivasi kita untuk mengikuti Dia yang menjamin keselamatan hidup kita sampai pada Kerajaan Bapa. Sepercik pantun buat anda: Bermain layang-layang dari kertas, Terbawa angin sampai lepas. Jadi imam bukan karena fasilitas, Tetapi mau melayani tanpa batas. Wonogiri, apa motivasimu? Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 19 April 2026
Minggu Paskah III Lukas 24:13-35 PADA babak pertama penyisihan grup piala dunia tahun 2022, Argentina dikalahkan oleh Arab Saudi. Baru kali ini Argentina kalah. Kita bisa merasakan wajah lesu, muka muram, langkah berat para pemain keluar lapangan. Jalan makin panjang dan harapan jadi tipis. Duka menguras seluruh energi. Begitu harapan hilang, langkah menjadi makin berat ke depan. Sang pelatih terus memberi semangat kepada para pemain. Ia mendampingi mereka dengan penuh semangat dan kesabaran. Perlahan-lahan, gairah dan semangat juang mereka tumbuh. Satu per satu lawan dikalahkan. Akhirnya mereka sampai ke final dan mengalahkan Perancis dengan drama adu pinalti yang sangat mendebarkan. Argentina yang pada mulanya bermuka muram, kini bersorak-sorai mengangkat piala dunia. Pada awalnya mereka melangkah gontai, kini mereka berlari saling berpelukan menjadi pemenang. Kekalahan diubah menjadi kemenangan. Kesedihan dihapus menjadi kegembiraan. Seluruh negeri bersorak sorai oleh kemenangan Messi dan kawan-kawan. Inilah pengalaman dua orang murid yang berjalan pulang ke Emaus. Ungkapan ”Kami berharap” menunjukkan kekecewaan, keputusasaan dan kesedihan yang mendalam. Hidup mereka yang awalnya punya tujuan, kini tiada arah lagi. Yesus yang mereka harapkan telah mati. Dua murid ini berduka bukan hanya karena kehilangan seorang Guru, tetapi juga karena kehilangan sebuah tujuan. Hidup mereka telah dibangun oleh satu tujuan, oleh Injil, oleh kabar sukacita bagi kaum miskin dan harapan akan dunia baru. Tetapi kini musnah, tiada harapan lagi. Mereka tidak sadar bahwa teman perjalanan yang ada di tengah mereka adalah Yesus. Dia menerangkan isi Kitab Suci, bahwa semua itu harus terjadi. Mereka mulai sedikit memahami, tetapi kesedihan tetap menjadi malam yang gelap menghalangi mereka. Baru mereka terbuka mata hatinya saat Yesus memecahkan roti dalam perjamuan. Waktu itulah mereka sadar Yesus ada di tengah mereka. Yesus hidup dan menguatkan mereka. Dua murid yang tadinya sedih kini meluap bersukacita. Mereka yang tadinya takut, langsung kembali lagi ke Yerusalem. Mereka yang tadinya muram dan sedih, kini bergembira dan berkobar-kobar. Mereka yang tadinya tiada harapan, kalah, kini mereka penuh semangat mewartakan kebangkitan. Kita juga pernah mengalami kesedihan, putus asa dan beban berat dalam kehidupan. Dalam situasi itu kita diajak peka merasakan kehadiran Tuhan. Dia tidak meninggalkan kita. Dia berjalan bersama kita. Dia menjadi teman dalam menanggung beban derita. Saya jadi ingat lagu Simon & Garfunkel yang berjudul “Brigde Over Troubled Water.” Salah satu liriknya berkata, “When you’re weary, feeling small, when tears are in your eyes, I will dry them all.” Itulah Yesus yang akan menghapus air mata kita. Sepercik pantun buat anda: Jalan-jalan dari Medan menuju Parapat, Menikmati indahnya Danau Toba. Jika beban kehidupan kita terasa berat, Undanglah Yesus masuk ke rumah kita. Wonogiri, Yesus andalanku Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 18 April 2026
Sabtu Paskah II Yohanes 6:16-21 Ketika badai melanda hidupku. Kuberlindung pada-Mu Tuhan. Pabila ombak menimpa jalanku. Kubersandar pada-Mu Tuhan. Hanya pada-Mu Tuhan. Harapku t'lah kupautkan. Hanya pada-Mu Tuhan. Hidupku akan kus'rahkan. INILAH lagu yang sering kita nyanyikan pada masa Adven yang menggambarkan dinamika kehidupan kita semua. Kita ini digambarkan sebagai bahtera yang sedang menuju kepada Kerajaan Sorga. Hidup kita adalah sebuah peziarahan menuju keabadian. Dalam perjalanan itu kita sering menghadapi badai dan taufan yang menerjang. Seperti seorang nakhoda kita harus mampu mengatasi gelombang besar di hadapan kita. Nakhoda yang hebat adalah mereka yang mampu lolos dari terjangan gelombang. Dalam bacaan Injil hari ini, para murid yang adalah nelayan-nelayan di Danau Tiberias mengalami ketakutan yang luar biasa karena ada badai dan gelombang mengamuk. Badai dan gelombang bisa menerjang perahu sehingga tenggelam dan hancur. Kepanikan dan ketakuan melanda mereka. Lalu Yesus datang menghampiri mereka, Ia berjalan di atas air dan berkata, “Ini Aku, jangan takut!” Yesus masuk ke dalam perahu dan menghardik gelombang dan seketika menjadi tenang. Mereka selamat sampai ke tujuan. Ketika kita sedang menghadapi badai kehidupan, kita diajak untuk tidak panik, takut dan saling menyalahkan. Kita harus bisa menguasai diri dan mengendalikan perahu kita. Tuhan tidak jauh dari kehidupan kita. Kita diajak untuk mempersilahkan Tuhan masuk ke dalam perahu. Perahu itu bisa keluarga, komunitas, lingkungan atau gereja kita. Ketika terjadi masalah atau badai yang menghantam, kita perlu bersatu dan mengundang Tuhan masuk di dalamnya. Jangan malah saling menuduh, menyalahkan, lepas tangan atau lari dari persoalan. Kita bergandengan tangan bersama Tuhan. Pasti masalah akan bisa diatasi dan kita melenggang sampai ke tujuannya. Kita mengandalkan Tuhan sebagai nahkoda kehidupan kita. Sepercik pantun buat anda: Ke pasar membeli mendoan, Sambil duduk ngopi di pinggir jalan. Hidup selalu ada tantangan, Jangan takut, Tuhan ada di depan. Wonogiri, jangan takut Rm.A. Joko Purwanto,Pr Puncta 17 April 2026
Jum’at Paskah II Yohanes 6: 1-15 SEBAGAI seorang gembala, Yesus peka akan keadaan domba-domba-Nya. Ada banyak orang mengikuti Dia. Mereka lelah dan kelaparan. Belas kasih-Nya muncul melihat mereka yang mengikuti-Nya. Maka Dia menguji kepekaan para murid-Nya. Kepada Filipus Dia bertanya; "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?" Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Peristiwa ini mau dipakai oleh Yesus untuk mengajari para murid peduli terhadap kondisi orang-orang di sekitarnya. Pelajaran pertama adalah kepekaan. Kalau mereka menjadi gembala, mereka mesti punya kepekaan, kepedulian dan belarasa. Pelajaran kedua adalah bersyukur. Andreas mengatakan bahwa ada anak yang membawa lima roti jelai dan dua ikan. "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?" katanya. Jelas roti dan ikan yang sedikit itu tidak cukup. Namun Yesus mengajari mereka untuk selalu bersyukur atas pemberian Tuhan. Sekecil apapun berkat Tuhan, kalau disyukuri pasti akan cukup untuk kebutuhan kita. Kalau tidak ada rasa syukur sebanyak gunung pun masih terasa kurang. Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Yesus mengajak para murid untuk selalu bersyukur dalam keadaan apa pun. Pelajaran ketiga adalah jika kita memiliki rasa syukur, maka kita diajak untuk tidak membuang sekecil apa pun pemberian Tuhan. Setelah mereka kenyang Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang." Yesus tidak menyebut “sisa-sisa” makanan setelah orang makan kenyang. Tetapi Ia menyebut “potongan-potongan yang lebih.” Diksi pilihan katanya sangat menentukan tindakan selanjutnya. Ia tidak menyebut “sisa” tetapi “yang lebih.” Sisa dianggap sesuatu yang tidak berguna, lalu kita membuangnya. Yesus menyebut potongan yang lebih karena semua adalah pemberian Tuhan. Sekecil apapun pemberian Tuhan harus kita syukuri dan manfaatkan. Membuang berarti tidak menghargai anugerah Tuhan. Apakah kita selalu mensyukuri pemberian Tuhan dan tidak membuang apapun anugerah-Nya? Sepercik pantun buat anda: Rekreasi ke waduk Jatiluhur, Beli peuyeum di Tasikmalaya. Kita semestinya selalu bersyukur, Tuhan senantiasa memelihara kita. Wonogiri, Tuhan pemelihara kehidupan Rm. A.Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed