Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Code River, The City of Rama Mangun

1/5/2026

0 Comments

 
Puncta, 5 Januari 2026
Senin Biasa Sesudah Penampakan Tuhan
Matius 4:12-17.23-25

RAMA MANGUN walaupun tugas resminya ada di Gereja Jetis, Yogyakarta, namun dia banyak tinggal di pinggir Kali Code. Di sana Rama menemani warga masyarakat pinggiran yang miskin dan kurang pendidikan.

Daerah sekitar Kali Code waktu itu dikenal sebagai daerah hitam. Rumah-rumah bedeng dari karton, terpal bekas dan buangan-buangan bangunan dijadikan tempat tinggal bagi warga pemulung, penyemir sepatu, tukang becak dan masyarakat bawah.

Rama Mangun mengangkat derajat mereka dengan mendampingi anak-anak yang tidak bersekolah. Mereka diajari membaca dan menulis. Rumah-rumah mereka dibangun dengan sentuhan seni yang bagus. 

Akhirnya daerah itu tidak lagi dipandang sebagai daerah hitam, tetapi disulap menjadi daerah percontohan penataan lingkungan berbasis potensi masyarakat urban. Rama Mangun hadir membawa pencerahan bagi wilayah yang dulunya hitam.

Yesus bermigrasi dari Nasaret ke Kapernaum. Di Nasaret Dia tidak diterima oleh kaum keluarganya. Seorang nabi tidak dihargai di daerah asalnya sendiri. 

Setelah Yohanes dibunuh oleh Herodes, Yesus menyingkir di Kapernaum. Maka Kapernaum disebut sebagai The City of Jesus.

Yesus adalah penggenapan nubuat nabi-nabi dahulu. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: 

"Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, -- bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang."

Yesus memulai karya-Nya di daerah asing, di luar bangsa Yahudi, di wilayah bangsa-bangsa lain yakni daerah Zebulon dan Naftali. Bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar. 

Yesus adalah Cahaya yang membawa harapan besar adanya perubahan. Yesus mewartakan tentang pertobatan agar orang diselamatkan. Hal itu juga dilakukan oleh Rama Mangun. Dia tidak banyak berkiprah di Gereja Jetis, tetapi namanya berkibar di daerah Code, tempat yang dianggap daerah hitam atau gelap. Di sana banyak terjadi pencerahan dan pemartabatan manusia sejati.

Matahari bersinar di balik dedaunan,
Menghalau mendung gelap di awan-awan.
Mari kita memberi secercah pencerahan,
Bagi mereka yang hidup dalam kegelapan.

Wonogiri, secercah sinar harapan
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Pelatih yang Rendah Hati

1/3/2026

0 Comments

 
Puncta 3 Januari 2026
Sabtu Masa Natal 
Yohanes 1:29-34

ANGELO DUNDEE mungkin tidak setenar Muhamad Ali atau Sugar Ray Leonard. Tetapi berkat polesan pelatih yang hebatlah kemudian lahir petinju legendaris seperti Muhamad Ali dan Sugar Ray Leonard.

Berkat tangan dingin Angelo Dundee yang bekerja di balik layar, muncul petinju hebat yang dikenang sepanjang masa. Pelatih ini menunjukkan kepada panggung dunia seorang petinju yang hebat dan berbakat.

Dundee duduk di bangku pelatih, ketika Mohamad Ali tampil di ring dengan tarian kakinya yang lincah dan jab-jab tangannya yang mengusik konsentrasi lawan. 

Dundee berada di balik layar. Namanya tersembunyi di balik bayang-bayang kehebatan Mohamad Ali dan Sugar Ray.

Yohanes Pembaptis juga menunjukkan kepada dunia, "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.”

Yohanes seperti seorang pelatih yang bertugas mempersiapkan orang untuk berhasil tampil di panggung. Ia memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang akan menebus dosa dunia. 

Setelah Yesus tampil ke muka umum, Yohanes mundur dan berada di belakang. Yesuslah yang kemudian tampil ke muka untuk mewartakan karya keselamatan Allah. “Biarlah Dia menjadi besar, dan aku harus makin kecil.” Itulah prinsip hidup Yohanes Pembaptis.

Apakah kita juga berani dengan rendah hati membiarkan orang lain tampil ke panggung dunia dan menunjukkan kehebatannya? 

Apakah kita dengan rela memberi kesempatan agar orang lain tumbuh berkembang?

Mari kita belajar rendah hati seperti Yohanes Pembaptis yang tidak mementingkan dirinya sendiri, tetapi memberi jalan orang lain untuk bertumbung kembang.

Dunia ini diwarnai persaingan keras,
Orang lain dipandang sebagai lawan.
Yohanes Pembaptis contoh yang pantas,
Rendah hati membangun persahabatan.

Wonogiri, biarlah aku menjadi kecil
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Pemimpin yang Melayani

1/2/2026

0 Comments

 
Puncta 2 Januari 2026
Pw. St. Basilius Agung dan St. Gregorius dr Nazianze, Uskup dan Pujangga Gereja.
Matius 23:8-12

DALAM pidato-pidato kita sering menyebut nama orang penting dengan gelar-gelar yang panjang. Katanya itu sebagai wujud penghormatan. Walau mungkin hanya untuk formalitas belaka.

Tetapi kita bisa jatuh pada kesombongan dan pengagungan diri yang justru membatasi relasi dengan orang lain. 

Dalam Injil hari ini, Yesus berkata, “Tetapi janganlah kamu disebut ‘Rabi,’ sebab kamu hanya mempunyai satu Guru, dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun di bumi sebagai ‘bapa,’ sebab hanya ada satu Bapa, yaitu Dia yang di surga.”

Dalam Gereja Katolik, ada istilah Monsinyur, untuk gelar seorang uskup. Mgr. Suharyo tidak mau disebut Monsinyur, beliau lebih suka disebut Bapa Uskup. 

“Saya lebih suka dipanggil uskup daripada monsinyur. Panggilan monsinyur itu terlalu feodal,” kata beliau. 

Monsinyur adalah gelar kehormatan dari Paus. Tidak hanya uskup, bahkan ada imam yang juga diberi gelar Monsinyur, Misalnya Monsinyur Kartasiswaya, almarhum.

Di Keuskupan Agung Semarang seorang uskup sering juga disapa “Rama Kanjeng.” Misalnya, Rama Kanjeng Soegijapranata, Rama Kanjeng Darmoyuwono. 

Semua itu hanyalah gelar kehormatan. Gelar itu bukan segala-galanya. Buktinya setelah tidak menjabat uskup, Bapak Kardinal Darmoyuwono memilih menjadi pastor pembantu di Paroki Banyumanik, Semarang.

Intinya bukan soal gelarnya tetapi esensinya adalah pelayanan yang rendah hati dan murah kepada sesama. Yesus tidak sedang mengutuk penyebutan gelar, tetapi mengingatkan akan potensi kesombongan dan keangkuhan pribadi. Gelar tidak membuat relasi jadi dekat tetapi justru berjarak.

Yesus justru mengingatkan, “Yang terbesar di antara kamu akan menjadi pelayanmu. Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”

Fokus utama hendaknya justru dalam melayani sesama dengan rendah hati. Yang diberi kuasa atau kedudukan semestinya nampak dalam tindakan pelayanan dan pengabdiannya. 

Tetapi juga jangan pamer seperti seorang pejabat yang ada bencana, lalu membuat tik tok memikul karung beras sendirian seperti Robin Hood yang membagi-bagi rampasan untuk kaum miskin di hutan Nothingham. 

Banyak Netizen menanggapinya dengan sinis. Mereka berpikir, tindakan itu bukan sejatinya pemimpin yang melayani, tetapi hanya mencari popularitas diri. Nurani rakyat lebih jernih memandang pemimpin yang tulus dan yang cari keuntungan sendiri.

Apakah anda mau menjadi pemimpin yang dicintai rakyat? Layanilah rakyat kecil dengan tulus dan murah hati. Niscaya anda akan dicintai dan dihormati.

Tak ada pesta kembang api,
Akhir tahun terasa sepi sekali.
Pemimpin sejati itu melayani,
Bukan raja yang minta dihormati.

Wonogiri, datang untuk melayani
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Gembala yang Jujur Sederhana

1/1/2026

0 Comments

 
Puncta, 1 Januari 2026
HR. St. Maria Bunda Allah,
Oktaf Natal Tahun Baru
Hari Perdamaian Sedunia
Lukas 2: 16-21

GEMBALA-gembala yang datang ke palungan tempat Yesus lahir bersukacita karena mereka melihat segala sesuatu persis seperti yang dikatakan oleh malaikat. Mereka bercerita kepadaYusuf dan Maria tentang warta malaikat.

Malaikat mengatakan kepada para gembala; “Jangan takut! Sebab aku datang membawa kabar baik untukmu. Hari ini di kota Daud telah lahir Raja Penyelamatmu yaitu Kristus, Tuhan. Inilah tandanya: Kalian akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan kain, dan berbaring di dalam sebuah palung.”

Mereka segera menyatakannya ke Betlehem dan menjumpai Maria dan Yusuf serta bayi Yesus di palungan. Berita ini menggembirakan semua orang. Semua yang mendengarnya bersukacita.

Gembala-gembala adalah orang yang jujur dan sederhana. Mereka tulus ikhlas tanpa dibuat-buat. Kejujuran dan ketulusan hati mereka justru menjadi sumber sukacita bagi banyak orang.

Berbeda dengan sikap orang-orang besar seperti Herodes. Raja itu menunjukkan topengnya yang bengis ketika mendengar telah lahir seorang raja. Banyak pejabat yang menampilkan pencitraan seolah-olah baik, tetapi hatinya jahat dan rakus.

Mereka sering melakukan kebohongan-kebohongan untuk menampilkan citra yang baik di mata orang. Ada yang bilang bahwa bencana adalah takdir Allah yang harus diterima untuk menutupi kejahatan penebangan hutan dan salah pengelolaannya.

Ada pejabat yang menolak bantuan asing karena malu dianggap tidak becus ngurusi rakyatnya yang menderita. Padahal mereka sangat membutuhkan uluran tangan dan penanganan yang cepat.

Kita harus belajar dari para gembala yang jujur, sederhana, tulus ikhlas dan gembira. Mereka tidak memakai topeng kebohongan dan pencitraan. 

Hidup mereka membawa kegembiraan bagi orang lain. Tindakan yang dipoles dengan kebohongan hanya akan membawa penderitaan.

Tahun baru bawa berita bahagia,
Orang menderita bisa senyum tertawa.
Para gembala datang bawa sukacita,
Maria dengan takzim merenungkannya.

Wonogiri, selamat memasuki Tahun baru 2026
Rm. A.Joko Purwanto,Pr
0 Comments

Persona Non Grata

12/31/2025

0 Comments

 
Puncta 31 Desember 2025
Rabu Natal Oktaf ketujuh
Yohanes 1:1-18

KATA Persona diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi topeng atau wajah kepribadian, karakter seseorang. 

Persona adalah kepribadian seseorang yang ditampilkan di hadapan orang banyak. Persona adalah pribadi seorang manusia yang nampak dari luar.

Kata itu berasal dari Bahasa Latin “per sonus.” Sonus artinya suara yang keluar dari mulut seseorang, atau bunyi. 

Per Sonus berarti melalui suara atau sabda, firman. Dalam Bahasa Perancis kuno Sonus menjadi soun, yang menjadi akar kata Sound (Inggris).

Persona non grata berarti orang yang tidak diinginkan. Digunakan dalam hubungan diplomatik antar negara. Jika ada anggota diplomatik yang melanggar aturan di negara yang ditempati, dia bisa dipersona non gratakan, artinya diusir dari negara itu dan ditarik kembali ke negara asalnya.

Manusia diciptakan oleh Sabda Allah. Melalui sabda Allah, manusia dibentuk menjadi pribadi. 

Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."

Yohanes menuliskan hal yang sama. “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.”

Sekarang Firman itu menjadi manusia. Persona, melalui firman Ia menjadi pribadi manusia yaitu Yesus Kristus. 

“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”

Maka Yesus itu adalah Persona Allah. Ia adalah Firman yang mewujud menjadi manusia. Kendati manusia atau dunia tidak menerima-Nya karena dunia tidak mengenal Allah. Tetapi mereka yang mempercayai-Nya disebut sebagai anak-anak Allah. 

Mari kita hidup sesuai dengan persona kita yaitu anak-anak Allah. Jika kita menuruti firman yang disampaikan Yesus, kita menjadi anak-anak Bapa di surga. 

Musa memberikan hukum Taurat. Yesus memberikan kasih karunia dan kebenaran. Marilah kita hidup dalam kasih dan kebenaran.

Sakura di gunung Fujiyama,
Tumbuh berkembang sebentar saja.
Jangan jadi persona non grata,
Tapi jadilah persona gratia plena.

Wonogiri, Sabda menjadi manusia
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Kenapa Wanita Lebih Panjang Umurnya?

12/30/2025

0 Comments

 
Puncta 30 Desember 2025
Selasa Oktaf keenam Natal
Lukas 2:36-40

ADA pertanyaan yang sering diajukan yaitu mengapa perempuan lebih tahan uji ketika ditinggalkan suami daripada suami yang ditinggal mati istrinya lebih dahulu? 

Banyak pengalaman menunjukkan seorang istri bisa bertahan lama sampai usia lanjut. Sedangkan suami tidak tahan ketika ditinggal mati istrinya. Ada yang cepat menyusul, ada pula yang kemudian mencari pasangan baru.

Dalam Kitab Suci banyak disebut janda yang bertahan dengan setia dan tekun mengabdikan diri kepada Tuhan. Misalnya, Maria dan Hana yang kita baca pada perikope hari ini.

Hana adalah nabi perempuan. Ia berumur delapan puluh empat tahun. Hana menjanda setelah tujuh tahun hidup bersama suami. 

Dikatakan oleh Lukas, Hana tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.

Hidupnya digunakan untuk mengabdi Tuhan. Siang dan malam beribadah di Bait Allah dan tekun berpuasa dan berdoa. Hidup tenang di hadapan Tuhan itulah kunci umur panjang.

Kedua, hidupnya dipenuhi dengan ungkapan syukur. Ia selalu datang ke Bait Allah untuk mengucap syukur. Hidup yang dipenuhi dengan syukur akan membawa jiwa pada ketenangan dan kedamaian karena yakin semua akan dicukupi oleh Allah.

Ketiga, apa yang dikatakan selalu tentang kebaikan Allah. Ia berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. 

Yang dibicarakan dengan orang tidak ada yang lain, kecuali tentang Anak itu yaitu Yesus Anak Allah. Apa yang dikatakan berisi tentang hal-hal baik yang dibuat Allah.

Jadi kunci agar kita bisa berumur panjang adalah selalu tekun berdoa dan beribadat, selalu bersyukur atas nikmat Allah dan berbicara yang baik kepada semua orang. Itulah yang dilakukan oleh wanita-wanita saleh dalam Kitab Suci.

Mau berumur panjang? Silahkan teladan hidup orang-orang suci itu diikuti dan dipraktekkan dalam hidup sehari-hari.

Berlayar ke lautan naik sampan,
Berangkat dari Jepara menuju Tarakan.
Hidup akan sangat membahagiakan,
Jika kita selalu berserah pada Tuhan.

Wonogiri, hidup damai dan tenang
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Mataku telah Melihat Keselamatan

12/29/2025

0 Comments

 
Puncta 29 Desember2025
Senin kelima Oktaf Natal
Lukas 2:22-35

SEBELUM hari Natal tiba, saya diminta memberi sakramen minyak suci kepada mBah Theresia Kamiyem (90 th) di rumahnya. Keluarga sudah berkumpul dan berdoa bersama di sekitar pembaringan nenek tua itu.

Setelah menerima minyak suci, mBah Kamiyem tidur tenang, sekali dua terdengar nafasnya yang pendek dan pelan. Kami masih berbincang-bincang dengan anak cucunya. 

Keponakannya bercerita bahwa sejak muda mBah Kamiyem ini suka mencari “ngelmu” keagamaan. Sering pergi ke suatu pondok untuk belajar agama. Ia sering bertanya tentang tujuan hidup manusia.

Suatu kali dia ikut melayat tetangga yang beragama Katolik. Tiba-tiba kepada anaknya, dia meminta, ”Besuk kalau aku mati, tolong didoakan seperti Simbah kae!” 

Dia dibimbing dan bisa menerima baptis secara Katolik.

“Dulu waktu muda, simbah ini sering pergi-pergi mencari “sesuatu”. Setelah dibaptis, dia sering di rumah berdoa kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria,” kata ponakan yang merawatnya.

Setelah saya pulang ke pastoran, baru mau membuka pintu, suara telpon di HP berbunyi; “Romo, terimakasih atas bekalnya untuk Simbah Kamiyem. Beliau sudah menghadap Tuhan dengan tenang dan damai.”

Saya percaya mBah Kamiyem sudah menemukan apa yang dicarinya selama ini. Iman yang menyelamatkan yaitu Kristus Penebus.

 “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan, pulanglah ke rumah Bapa yang selama ini lama dicari mbah!” gumamku berdoa.

Kisah Simeon yang sudah lanjut usia mirip dengan cerita tentang mBah Kamiyem ini. Simeon sudah lama menantikan datangnya Mesias. Ketika Sang Bayi Yesus dibawa oleh Maria ke Bait Suci, Simeon menatangngnya dengan sukacita.

Simeon menemukan apa yang selama ini dicari dan ditunggu-tunggu. Simeon memuji Tuhan; “Sekarang Tuhan, perkenankanlah hambamu ini pergi dengan damai sejahtera, sebab aku telah melihat keselamatan-Mu.”

Iman yang benar akan membawa keselamatan lahir dan batin. Yesus adalah Sang Penyelamat kita. Mari kita mempercayakan diri kepada-Nya.

Apakah anda sudah menemukan sumber keselamatan dan tujuan hidup di dunia ini?

Langit di ufuk timur berwarna merah,
Matahari muncul seperti raksasa marah.
Yesus adalah mutiara yang terindah,
Yang menemukan serasa dapat hadiah.

Wonogiri, menemukan kebahagiaan sejati
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Gereja Abu Serga di Mesir

12/28/2025

0 Comments

 
Puncta 28 Desember 2025
Pesta Keluarga Kudus; Yesus, Maria dan Yusup
Matius 2:13-15. 19-23

JEJAK langkah Keluarga Kudus terdapat di sebuah gua di kota Mesir kuno (Old Mesir) yang sekarang berada di bawah Gereja Abu Serga (Santo Sergius dan Bacchus) yang adalah martir abad ke 4 Masehi.

Gereja ini adalah peninggalan jemaat ortodok koptik yang tumbuh berkembang di Mesir. Para peziarah sejak dahulu percaya bahwa di bawah gereja ini ada gua tempat pengungsian Maria, Yusuf dan bayi Yesus dari pengejaran Herodes.

"Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia," pesan Malaikat kepada Yusuf dalam mimpinya.

Dengan segera Yusuf membawa Maria dan bayi Yesus mengungsi ke Mesir. Seandainya Yusuf adalah pria yang tidak percaya pada pesan malaikat, mungkin ceritanya akan berbeda. 

Tanpa banyak kata, ia langsung membawa Maria dan bayi Yesus pergi ke Mesir.

Yusuf adalah pribadi yang bekerja tanpa banyak kata. Dia tipe orang yang bekerja di balik layar, tanpa diketahui banyak orang tetapi semua dikerjakan dengan baik. Yusuf bukan tipe orang yang pengin kelihatan diatas panggung. Pamer pujian dan mengejar sanjungan.

Maria juga bukan tipe orang yang suka mengumbar kehebatan di depan banyak orang. Ia menyimpan segala perkara di dalam hati dan merenungkannya dalam-dalam. Tanda pribadi yang mengendap, “menep.”

Semua diyakini sebagai kehendak Tuhan. Sesulit apapun diterima dengan legawa. Kehendak Tuhan pasti yang terbaik, walau harus menjadi pengungsi di tanah asing yang serba susah. Tetapi semua pasti nanti ada hikmahnya.

Apakah kita juga mampu meneladani Keluarga Kudus Nasaret ini yang berani mempercayakan semua pada penyelenggaraan Tuhan?

Pagi-pagi nyadap getah karet,
Dijual harganya tak seberapa.
Keluarga Kudus di Nazareth,
Teladan keluarga yang bahagia.

Wonogiri, doakan kami ya Maria
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Murid Terkasih

12/27/2025

0 Comments

 
Puncta 27 Desember 2025
Pesta St. Yohanes Rasul, Penulis Injil
Yohanes 20:1a.2-8

DALAM kelompok murid di suatu kelas, seorang guru biasanya mempunyai murid kesayangan. Entah karena kepintarannya menonjol lebih dari yang lain, entah karena sopan santunnya yang baik, atau budi bahasa dan tutur katanya yang menawan. 

Seorang guru mempunyai kedekatan dengan murid yang dikasihi itu. Demikian juga dalam kelompok murid Yesus ada disebutkan murid yang dikasihi Yesus. 

Ia (Maria Magdalena) berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan."

Para ahli kitab menyimpulkan bahwa murid yang dikasihi Yesus adalah Yohanes. Dialah yang menulis Injilnya dan menyatakan bahwa Allah adalah kasih. Kalau dia tidak punya pengalaman dikasihi sedemikian dekat, rasanya tak mungkin dia berani menyimpulkan Allah adalah kasih.

Hanya dalam Injil Yohanes, penulis menyebutkan “Murid yang dikasihi Yesus.” Ia juga menulis, "Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar dekat kepada-Nya." 

Dalam perikope lain ia menyatakan, "Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: 'Ibu, inilah, anakmu!' 

Waktu sedang makan di pinggir danau, ia berkata, "Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: 'Itu Tuhan!'

Murid ini tidak pernah diidentifikasi secara spesifik, tetapi identitas murid yang dikasihi Yesus jelas. Murid yang dikasihi Yesus mengidentifikasi dirinya sebagai penulis Injil (Yohanes 21:24), yang diyakini oleh sebagian besar ahli sebagai rasul Yohanes, anak Zebedeus dan saudara Yakobus.

Bukti lain yang tercatat dalam Injil Sinoptik menyebutkan ada 3 murid yang dekat dengan Yesus; Petrus, Yakobus dan Yohanes. “Murid yang dikasihi Yesus” jelas bukan Petrus, karena dia bertanya tentang nasib murid ini. Pilihan tinggal Yakobus atau Yohanes. 

Yesus pernah menyatakan bahwa murid itu akan mempunyai “umur panjang.” Sedangkan Yakobus adalah murid pertama yang meninggal dari kelompok rasul. Maka tinggal Rasul Yohaneslah murid yang dikasihi Tuhan itu.

Tradisi Gereja menyebut Yohanes hidup sampai tahun 90 M. Dia adalah rasul terakhir yang masih hidup. Dia mempunyai hubungan erat dengan Yesus sampai Ia mempercayakan ibu-Nya kepada murid yang dikasihi ini.

Apakah kita mempunyai hubungan yang erat dengan Tuhan sehingga kita juga bisa disebut “Murid yang dikasihi-Nya?”

Punya sekuntum bunga melati,
Harumnya semerbak mewangi.
Menjadi murid yang dikasihi,
Harus punya hati yang peduli.

Wonogiri, kasih yang abadi
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Martir di Kamar Pengakuan

12/26/2025

0 Comments

 
Puncta 26 Desember 2025
Pesta St. Stefanus, martir Pertama
Matius 10:17-22

SEORANG imam muda, Joseph Tran Ngoc Thanh meninggal karena dibunuh di kamar pengakuan pada tanggal 29 Januari 2022 di paroki tempat dia bertugas. Sebelum memimpin misa, Pastor Joseph melayani sakramen pengakuan dosa bagi umat.

Tiba-tiba masuk seorang lelaki yang langsung menyerang dan melukai Pastor Joseph. Ia bersimbah darah di kamar pengakuan. Umat berusaha menolong tetapi nyawanya tak bisa diselamatkan.

Di Gereja Bedog, Yogyakarta juga pernah terjadi penyerangan terhadap Rm. Karl Edmund Prier SJ yang sedang memimpin misa. Minggu pagi 11 Februari 2018 ketika umat sedang berdoa, seorang pemuda mengamuk dengan samurai di tangan. Romo Prier terkena sabetan di kepala. Untung bisa diselamatkan. 

Penganiayaan, pembunuhan, teror dan intimidasi terhadap  Gereja Katholik sejak awal sudah terjadi. Yang pertama dialami adalah pembunuhan Stefanus yang hari ini kita rayakan. Stefanus dibunuh di luar tembok Yerusalem karena membela imannya.

Dia dilempari batu, dirajam sampai mati. Sebelum menghembuskan nafasnya, Stefanus mendoakan mereka yang menganiayanya seperti yang dilakukan Yesus ketika disalibkan. 

Kemartiran adalah jalan menuju kemuliaan. Semangat itu dihayati oleh jemaat perdana sampai sekarang. Tertuliannus pernah menulis “"Sanguis martyrum, semen Christianorum" atau disingkat  "Semen sanguinis Christianorum". Kalimat itu berarti "Darah para martir adalah benih iman orang-orang Kristen".

Makna dari tulisan ini adalah bahwa teror, intimidasi, penganiayaan dan kemartiran yang dialami oleh orang-orang Kristen awal tidak memadamkan, melainkan justru memperkuat dan menyebarkan iman Kristen.  

Karena keberanian dan kesaksian para martir justru menegaskan apa yang mereka wartakan adalah kebenaran.

Dengan darah para martir itu justru semakin banyak orang yang percaya kepada Kristus. Mereka yakin akan kebenaran iman Kristen. 

Hari ini kita memperingati martir pertama Gereja yakni St. Stefanus. Mari kita teladani semangat kemartirannya agar nama Tuhan semakin dimuliakan.

Jalan ramai dimana-mana,
Liburan tahun baru sudah tiba.
Ada rahasia ilahi yang bekerja,
Makin dianiaya makin subur Gereja.

Wonogiri, darah martir yang menyuburkan
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
<<Previous

    Archives

    December 2034
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki