|
Puncta 11 Januari 2026
Pesta Pembaptisan Tuhan Matius 3:13-17 HARI ini Gereja merayakan Pembaptisan Tuhan. Mari kita renungkan makna pembaptisan Yesus ini. Yesus yang adalah Sang Anak Domba Allah – kata Yohanes kepada murid-muridnya – justru datang kepada Yohanes untuk dibaptis. Ini menunjukkan kerendahan hati Yesus yang adalah Allah mengambil rupa sebagai manusia. Dia yang tanpa dosa mengambil posisi setara dengan manusia yang berdosa. Bahkan kemanusiaan kita diambil sampai Ia mati di kayu salib. Yohanes merasa tidak layak membaptis Yesus. Seharusnya dialah yang harus dibaptis karena Yohanes hanya bertugas menyiapkan jalan Tuhan. Yohanes berkata, “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu dan Engkau datang kepadaku untuk dibaptis?" Yesus menjawab, "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanespun menuruti-Nya. Makna kedua adalah penggenapan kehendak Allah. Apa yang dilakukan adalah mengikuti rencana atau kehendak Allah. Makna ketiga dari pembaptisan Yesus adalah pewahyuan Yesus sebagai Putera Allah. Setelah keluar dari air, langit terbuka dan turunlah Roh Allah seperti burung merpati dan terdengar suaradari langit, "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." Makna ketiga ini yang paling penting. Yesus dimaklumkan sebagai Anak Allah yang terkasih. Kepada-Nya kita harus menyembah dan percaya. Yesuslah Anak Allah yang membuat Bapa berkenan pad-Nya. Bapa berkenan kepada Yesus karena Dia taat mau merendahkan diri menjadi manusia dan dengan jalan itu kehendak Allah yang ingin menyelamatkan manusia berdosa dapat terlaksana. Yesus menggenapi kehendak Bapa di sorga. Lalu bagaimana dengan pembaptisan kita? Kita yang sudah dibaptis disatukan dengan hidup Yesus. Maka kita hendaknya menyelaraskan hidup kita dengan hidup Yesus. Kita juga harus siap ditransformasi agar menyerupai hidup Yesus. Sudahkan hidup anda selama ini menggambarkan sebagai pengikut Kristus yang taat merendahkan diri di hadapan Allah? Mari kita merenungkan makna pembaptisan kita sendiri. Makan bakso di dekat simpang lima, Penjualnya cantik giginya tinggal dua. Allah Bapa sungguh mengasihi kita, Sampai Ia mengutus Yesus Putera-Nya. Wonogiri, syukur atas baptis mulia Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Puncta 10 Januari 2026
Sabtu Biasa Sesudah Penampakan Tuhan Yohanes 3:22-30 KETIKA Rama Wijaya ingin mengetahui kondisi istrinya, Dewi Sinta yang diculik di Alengka, dia bermaksud mengirim utusan ke Taman Argasoka. Sugriwa menawarkan ponakannya Jaya Anggada yang pergi. KKN nampaknya sudah ada di zaman itu. Ketika ditanya berapa waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Alengka dan kembali ke Maleawan, Jaya Anggada menjawab, “Saya sanggup satu tahun.” Rama nampak kecewa. Satu tahun terlalu lama. Anoman datang menyanggupi setengah tahun. Jaya Anggada tidak mau kalah. Dia sanggup tiga bulan. Persaingan makin panas. Anoman menyanggupi satu bulan. Jaya anggada bilang, “Saya siap limabelas hari.” Anoman tidak mundur. Dia siap menempuh perjalanan satu hari. Jaya Anggada marah merasa disaingi dan digagalkan oleh Anoman. Dia menantang Anoman untuk berkelahi. Siapa yang paling besar dan kuat di antara mereka, dialah yang berhak berangkat. Charles Dikens menulis, “Ada orang yang menjadi besar dengan cara mengecilkan, atau merendahkan orang lain. Tetapi orang besar sesungguhnya adalah ia yang mampu membuat setiap orang merasa dirinya besar." "Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya." Yohanes Pembaptis tidak marah dan kecil hati ketika dikabarkan bahwa Yesus juga membaptis banyak orang di Sungai Yordan. Yohanes dengan bijak berkata, “Sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Kita mesti belajar sikap rendah hati seperti Yohanes. Tidak perlu iri hati kalau ada orang lain yang lebih sukses, berhasil, dan hebat. Suka membanding-bandingkan itulah kejelekan kita. Yohanes punya kata-kata bijak: "Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga.” Setiap orang diberi karunia atau talenta sendiri-sendiri. Bersyukurlah dengan karuniamu atau talenta yang kaumiliki. Pepatah bijak mengatakan, “Kalau ada orang sukses, tirulah dia. Kalau ada orang gagal, jangan mencemoohkan dia tetapi lihatlah dirimu sendiri.” Mari kita membantu agar orang lain tumbuh berkembang, bukan menjegal dia supaya jatuh dan gagal. Pergi ke hutan nangkap bekisar, Malah ketemu singa yang lapar. Biarkan orang lain menjadi besar, Tidak perlu kita iri hati dan gusar. Wonogiri, tetaplah rendah hati Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 9 Januari 2026
Jum’at Biasa Sesudah Penampakan Tuhan Lukas 5: 12-16 PADA waktu perang Baratayuda, Prabu Salya minta ijin untuk menjadi panglima perang Kurawa. Tentu saja pihak Pandawa ketakutan, karena Salya memiliki senjata ampuh Candrabirawa. Untuk itu, Kresna mengutus Nakula dan Sadewa yang masih keponakan Prabu Salya datang ke Mandaraka. Mereka berdua diminta untuk merendahkan diri, serah diri mohon mati oleh sang pamannya sendiri. Karena sayangnya kepada Pandawa, akhirnya Salya luluh dan siap mati di medan Kurusetra menyerahkan diri pada kekuatan Pandawa. Di lain pihak, Kresna juga memohon agar Puntadewa mau maju perang. Raja yang welas asih yang seumur hidup tidak pernah berperang ini awalnya menolak. Bagaimanapun bujuk rayu Kresna tidak mempan. Tetapi bagaimanapun musuh harus dihadapi. Dengan merendahkan diri, Puntadewa minta agar Kresna menjelma menjadi Dewa Wisnu. Karena perintah dewalah, bukan karena perintah manusia, Puntadewa mau maju berperang. Pandawa menang. Orang kusta yang datang kepada Yesus itu memohon dengan rendah hati. Ia tidak memaksa Tuhan untuk menyembuhkannya. Tetapi dengan rendah hati dan terbuka, dia bilang, “Tuan, jika Tuan mau. Tuan bisa menyembuhkan saya.” Seringkali terjadi, kita tidak hanya meminta tetapi memaksa Tuhan, bahkan berani mengancam. Tuhan harus memenuhi permintaan kita. Kalau tidak dipenuhi doa-doa kita, kita merajuk, “mutung” gak berdoa, tidak mau ke gereja dan lari meninggalkan Tuhan. Kita mesti belajar seperti orang kusta ini. Dia mengakui kemahakuasaan Tuhan. Dia menyadari sebagai ciptaan, orang kecil, berdosa dan tak pantas di hadapan-Nya. Dia hanya bisa menyerahkan seluruh hidupnya kepada kuasa Tuhan. Karena keyakinan dan sikap kerendahan hatinya itulah Tuhan berkata, “Aku mau. Jadilah engkau tahir.” Orang kusta itu sembuh dan kembali normal. Mari kita tidak memaksa, tetapi merendahkan diri di hadapan Tuhan yang Mahakuasa. Dari Semarang menuju Pati, Jalanan macet diguyur hujan. Jadi orang jangan tinggi hati, Rendah hati disayang Tuhan. Wonogiri, merendahkan diri pada Tuhan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 8 Januari 2026
Kamis Biasa Sesudah Penampakan Tuhan Lukas 4:14-22a KEMERDEKAAN yang diproklamirkan Bung Karno bukan sekedar peristiwa politik, tetapi juga peristiwa spiritual. Dengan rahmat Allah dan didorong oleh keinginan luhur bangsa, maka Bung Karno menyatakan kemerdekaan Indonesia. Merdeka bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga keluar dari mental Inlander yang membelenggu dan menjadi bangsa mandiri yang bermartabat luhur. Soekarno sering berpidato pentingnya revolusi mental. Dari manusia terjajah menjadi manusia merdeka dan bermartabat. Ia ingin rakyat Indonesia tidak jatuh ke dalam mentalitas bangsa terjajah, minder, malas, dan munafik, ABS (Asal Bapak Senang), tidak korup, tidak serakah, tidak tunduk pada egoisme yang sempit. Revolusi mental ini dinamainya gaya “Hidup Baru.” Cara membangun hidup baru dilandaskan pada Pancasila sebagai way of life Bangsa Indonesia. Tetapi kita semua tahu, bagaimana nasibnya Pancasila sekarang, sudahkah menjadi gaya hidup kita? Yesus kembali ke Nasaret tempat asal-Nya sendiri. Dia mencanangkan semangat baru bagi orang-orang Nasaret bersumber pada Kitab Nabi Yesaya. "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." Yesus menawarkan sebuah revolusi mental. Ia mengajak mereka melakukan pembaharuan hidup yang didasarkan pada nilai-nilai ketuhanan. Tetapi orang-orang itu hanya kagum dan memuji pidato Yesus. Mereka tidak menerimanya. Mereka tidak mempercayai-Nya. Yesus langsung menohok kedegilan dan ketidakpercayaan mereka. Dikritik seperti itu, mereka marah dan mengusir Yesus. Sama halnya dengan kita. Pancasila itu sekarang sudah menjadi buku usang di perpustakaan. Nilai dan gaya hidup kita sudah jauh dari nilai-nilai Pancasila. Menyebut diri orang bertuhan, tetapi gaya hidupnya jauh dari Tuhan. Menyembah Tuhan sekaligus merusak alam ciptaan Tuhan. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tetapi keadilan hanya dirasakan oleh segelintir orang saja. Musyawarah untuk mufakat tetapi kebijakan dibuat untuk kepentingan yang berkuasa. Kekayaan alam dikuasai negara untuk kemakmuran rakyat, nyatanya kekayaan alam dijarah asing dan pejabat rakus. Revolusi mental hanya sebatas slogan saat kampanye, bukan menjadi way of life orang dalam hidup sehari-hari. Seperti orang-orang Nasaret yang menolak Yesus, mereka tidak mengenal the way of God’s life. Masihkah kita yakin Pancasila kembali menjadi nilai-nilai dasar hidup kita? Banyak kera turun dari hutan, Mereka cari biji kacang-kacangan. Yesus datang bawa perubahan, Revolusi mental bagi orang-orang. Wonogiri, agent of change Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 7 Januari 2026
Rabu Biasa Sesudah Penampakan Tuhan Markus 6.45-52 FILM Titanic memberi banyak pelajaran moral bagi kita semua, bagaimana menghadapi bahaya yang mengancam kehidupan kita. Ada banyak perilaku dan sikap yang dibuat saat orang menghadapi kesulitan dan bahaya. Ketika Titanic hampir tenggelam, ada banyak orang yang panik menyelamatkan diri. Para pemain musik tetap menghibur di tengah keributan. Ada sepasang suami istri yang pasrah berpelukan di ranjang. Ada pastor yang memberi sakramen pengampunan dan mendoakan mereka. Jack dan Rose berlari ke sana kemari berusaha menyelamatkan diri. Kapten kapal Edward John Smith memerintahkan semua awak kapal menolong penumpang semaksimal mungkin. Meski di ambang kematian, dia tetap memilih bertugas menolong orang lain dan tidak meninggalkan tanggungjawab. Inilah teladan tanggungjawab moral bagi semua orang. Para murid menyeberang ke Betsaida dengan naik perahu. Mereka diterjang angin sakal pada tengah malam yang gelap. Semua orang panik dan ketakutan. Pada saat genting itu, Yesus datang mendekati mereka dengan berjalan di atas air. Kepanikan membuat pikiran tidak jernih, kabur dan mudah salah. Mereka mengira ada hantu datang. Padahal itu Tuhan. Yesus berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Yesus ada di tengah mereka dan danau menjadi tenang. Dalam situasi kacau dan panik, dibutuhkan orang yang tetap tenang memberi daya kekuatan. Yesus adalah nahkoda kehidupan. Dia mengendalikan seluruh hidup kita. Ia menguasai seluruh kehidupan kita. Kalau kapal kehidupan kita goncang, undanglah Yesus untuk masuk di dalamnya. Seperti kapten Titanic yang teguh berdiri di kemudi kapal, dia meyakinkan semua orang ditolong sampai akhir, demikianlah kita mempunyai Yesus yang berdiri di samping kita menjadi nahkoda kapal kehidupan kita dalam kondisi apa pun, agar kita percaya bahwa Tuhan menyertai. Maukah kita mempercayakan diri kepada-Nya? Ke Gunung Sinai naik unta, Jalannya pelan seperti nenek tua. Jangan panik hadapi bahaya, Tuhan selalu ada bersama kita. Wonogiri, Tuhan selalu ada Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 6 Januari 2026
Selasa Biasa Sssudah Penampakan Tuhan Markus 6: 34-44 PISON KOGOYA, anak SD dari Papua Pegunungan membuka celengannya pada awal Desember kemarin. Uang tabungan itu rencananya dia gunakan untuk piknik ke Jayapura. Tetapi melihat bencana banjir bandang di Aceh, niatnya berubah. Ia sumbangkan dengan rela uang tabungannya untuk korban banjir. Melihat derita korban banjir di Aceh, Pison tergerak hati untuk mendonasikan uang tabungannya bagi orang-orang yang tidak dikenalnya namun lebih membutuhkan. Ia mengorbankan keinginannya untuk menikmati indahnya pantai di Jayapura, berjemur dan minum air kelapa muda di sana. Apa yang dilakukan Pison Kogoya adalah perintah Yesus kepada murid-murid-Nya. “Kamu harus memberi mereka makan.” Yesus tergerak hati melihat orang banyak seperti domba tanpa gembala. Para murid malah berusaha menghindar terhadap masalah yang dihadapi. Mereka usul pada Yesus agar mengusir orang banyak. “Suruhlah mereka ini pergi.” Kita sering juga berpikir seperti para murid. Suka lari dari masalah dengan dalih bahwa kita sendiri sedang punya masalah berat. Merasa jadi orang miskin, sehingga tidak memiliki apapun yang bisa diberikan. Tetapi kalau ada pembagian bantuan, walaupun orangnya berkecukupan langsung mengaku jadi orang miskin. Logika terbalik-balik yang aneh! Yesus mengajak para murid-Nya untuk peka dan peduli pada orang lain. Ia ingin murid-murid-Nya punya hati untuk berbagi, sekecil apapun itu. Memberi tidak harus mempunyai banyak. Sedikit saja yang diberikan akan sangat berguna. Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah memeriksanya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan." Ketika yang sedikit itu diberikan dengan rasa syukur, maka akan menjadi berkat yang berlimpah. Mari kita peka melihat penderitaan sesama dan terbuka hati untuk berbagi. Tindakan Pison Kogoya itu mestinya mengusik hati kita. Dari Aceh sampai ke Tapanuli, Derai air mata tiada henti. Mari kita membuka mata hati, Agar tumbuh semangat berbagi. Wonogiri, marilah berbagi Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta, 5 Januari 2026
Senin Biasa Sesudah Penampakan Tuhan Matius 4:12-17.23-25 RAMA MANGUN walaupun tugas resminya ada di Gereja Jetis, Yogyakarta, namun dia banyak tinggal di pinggir Kali Code. Di sana Rama menemani warga masyarakat pinggiran yang miskin dan kurang pendidikan. Daerah sekitar Kali Code waktu itu dikenal sebagai daerah hitam. Rumah-rumah bedeng dari karton, terpal bekas dan buangan-buangan bangunan dijadikan tempat tinggal bagi warga pemulung, penyemir sepatu, tukang becak dan masyarakat bawah. Rama Mangun mengangkat derajat mereka dengan mendampingi anak-anak yang tidak bersekolah. Mereka diajari membaca dan menulis. Rumah-rumah mereka dibangun dengan sentuhan seni yang bagus. Akhirnya daerah itu tidak lagi dipandang sebagai daerah hitam, tetapi disulap menjadi daerah percontohan penataan lingkungan berbasis potensi masyarakat urban. Rama Mangun hadir membawa pencerahan bagi wilayah yang dulunya hitam. Yesus bermigrasi dari Nasaret ke Kapernaum. Di Nasaret Dia tidak diterima oleh kaum keluarganya. Seorang nabi tidak dihargai di daerah asalnya sendiri. Setelah Yohanes dibunuh oleh Herodes, Yesus menyingkir di Kapernaum. Maka Kapernaum disebut sebagai The City of Jesus. Yesus adalah penggenapan nubuat nabi-nabi dahulu. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, -- bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang." Yesus memulai karya-Nya di daerah asing, di luar bangsa Yahudi, di wilayah bangsa-bangsa lain yakni daerah Zebulon dan Naftali. Bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar. Yesus adalah Cahaya yang membawa harapan besar adanya perubahan. Yesus mewartakan tentang pertobatan agar orang diselamatkan. Hal itu juga dilakukan oleh Rama Mangun. Dia tidak banyak berkiprah di Gereja Jetis, tetapi namanya berkibar di daerah Code, tempat yang dianggap daerah hitam atau gelap. Di sana banyak terjadi pencerahan dan pemartabatan manusia sejati. Matahari bersinar di balik dedaunan, Menghalau mendung gelap di awan-awan. Mari kita memberi secercah pencerahan, Bagi mereka yang hidup dalam kegelapan. Wonogiri, secercah sinar harapan Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 3 Januari 2026
Sabtu Masa Natal Yohanes 1:29-34 ANGELO DUNDEE mungkin tidak setenar Muhamad Ali atau Sugar Ray Leonard. Tetapi berkat polesan pelatih yang hebatlah kemudian lahir petinju legendaris seperti Muhamad Ali dan Sugar Ray Leonard. Berkat tangan dingin Angelo Dundee yang bekerja di balik layar, muncul petinju hebat yang dikenang sepanjang masa. Pelatih ini menunjukkan kepada panggung dunia seorang petinju yang hebat dan berbakat. Dundee duduk di bangku pelatih, ketika Mohamad Ali tampil di ring dengan tarian kakinya yang lincah dan jab-jab tangannya yang mengusik konsentrasi lawan. Dundee berada di balik layar. Namanya tersembunyi di balik bayang-bayang kehebatan Mohamad Ali dan Sugar Ray. Yohanes Pembaptis juga menunjukkan kepada dunia, "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” Yohanes seperti seorang pelatih yang bertugas mempersiapkan orang untuk berhasil tampil di panggung. Ia memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang akan menebus dosa dunia. Setelah Yesus tampil ke muka umum, Yohanes mundur dan berada di belakang. Yesuslah yang kemudian tampil ke muka untuk mewartakan karya keselamatan Allah. “Biarlah Dia menjadi besar, dan aku harus makin kecil.” Itulah prinsip hidup Yohanes Pembaptis. Apakah kita juga berani dengan rendah hati membiarkan orang lain tampil ke panggung dunia dan menunjukkan kehebatannya? Apakah kita dengan rela memberi kesempatan agar orang lain tumbuh berkembang? Mari kita belajar rendah hati seperti Yohanes Pembaptis yang tidak mementingkan dirinya sendiri, tetapi memberi jalan orang lain untuk bertumbung kembang. Dunia ini diwarnai persaingan keras, Orang lain dipandang sebagai lawan. Yohanes Pembaptis contoh yang pantas, Rendah hati membangun persahabatan. Wonogiri, biarlah aku menjadi kecil Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 2 Januari 2026
Pw. St. Basilius Agung dan St. Gregorius dr Nazianze, Uskup dan Pujangga Gereja. Matius 23:8-12 DALAM pidato-pidato kita sering menyebut nama orang penting dengan gelar-gelar yang panjang. Katanya itu sebagai wujud penghormatan. Walau mungkin hanya untuk formalitas belaka. Tetapi kita bisa jatuh pada kesombongan dan pengagungan diri yang justru membatasi relasi dengan orang lain. Dalam Injil hari ini, Yesus berkata, “Tetapi janganlah kamu disebut ‘Rabi,’ sebab kamu hanya mempunyai satu Guru, dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun di bumi sebagai ‘bapa,’ sebab hanya ada satu Bapa, yaitu Dia yang di surga.” Dalam Gereja Katolik, ada istilah Monsinyur, untuk gelar seorang uskup. Mgr. Suharyo tidak mau disebut Monsinyur, beliau lebih suka disebut Bapa Uskup. “Saya lebih suka dipanggil uskup daripada monsinyur. Panggilan monsinyur itu terlalu feodal,” kata beliau. Monsinyur adalah gelar kehormatan dari Paus. Tidak hanya uskup, bahkan ada imam yang juga diberi gelar Monsinyur, Misalnya Monsinyur Kartasiswaya, almarhum. Di Keuskupan Agung Semarang seorang uskup sering juga disapa “Rama Kanjeng.” Misalnya, Rama Kanjeng Soegijapranata, Rama Kanjeng Darmoyuwono. Semua itu hanyalah gelar kehormatan. Gelar itu bukan segala-galanya. Buktinya setelah tidak menjabat uskup, Bapak Kardinal Darmoyuwono memilih menjadi pastor pembantu di Paroki Banyumanik, Semarang. Intinya bukan soal gelarnya tetapi esensinya adalah pelayanan yang rendah hati dan murah kepada sesama. Yesus tidak sedang mengutuk penyebutan gelar, tetapi mengingatkan akan potensi kesombongan dan keangkuhan pribadi. Gelar tidak membuat relasi jadi dekat tetapi justru berjarak. Yesus justru mengingatkan, “Yang terbesar di antara kamu akan menjadi pelayanmu. Sebab barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.” Fokus utama hendaknya justru dalam melayani sesama dengan rendah hati. Yang diberi kuasa atau kedudukan semestinya nampak dalam tindakan pelayanan dan pengabdiannya. Tetapi juga jangan pamer seperti seorang pejabat yang ada bencana, lalu membuat tik tok memikul karung beras sendirian seperti Robin Hood yang membagi-bagi rampasan untuk kaum miskin di hutan Nothingham. Banyak Netizen menanggapinya dengan sinis. Mereka berpikir, tindakan itu bukan sejatinya pemimpin yang melayani, tetapi hanya mencari popularitas diri. Nurani rakyat lebih jernih memandang pemimpin yang tulus dan yang cari keuntungan sendiri. Apakah anda mau menjadi pemimpin yang dicintai rakyat? Layanilah rakyat kecil dengan tulus dan murah hati. Niscaya anda akan dicintai dan dihormati. Tak ada pesta kembang api, Akhir tahun terasa sepi sekali. Pemimpin sejati itu melayani, Bukan raja yang minta dihormati. Wonogiri, datang untuk melayani Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta, 1 Januari 2026
HR. St. Maria Bunda Allah, Oktaf Natal Tahun Baru Hari Perdamaian Sedunia Lukas 2: 16-21 GEMBALA-gembala yang datang ke palungan tempat Yesus lahir bersukacita karena mereka melihat segala sesuatu persis seperti yang dikatakan oleh malaikat. Mereka bercerita kepadaYusuf dan Maria tentang warta malaikat. Malaikat mengatakan kepada para gembala; “Jangan takut! Sebab aku datang membawa kabar baik untukmu. Hari ini di kota Daud telah lahir Raja Penyelamatmu yaitu Kristus, Tuhan. Inilah tandanya: Kalian akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan kain, dan berbaring di dalam sebuah palung.” Mereka segera menyatakannya ke Betlehem dan menjumpai Maria dan Yusuf serta bayi Yesus di palungan. Berita ini menggembirakan semua orang. Semua yang mendengarnya bersukacita. Gembala-gembala adalah orang yang jujur dan sederhana. Mereka tulus ikhlas tanpa dibuat-buat. Kejujuran dan ketulusan hati mereka justru menjadi sumber sukacita bagi banyak orang. Berbeda dengan sikap orang-orang besar seperti Herodes. Raja itu menunjukkan topengnya yang bengis ketika mendengar telah lahir seorang raja. Banyak pejabat yang menampilkan pencitraan seolah-olah baik, tetapi hatinya jahat dan rakus. Mereka sering melakukan kebohongan-kebohongan untuk menampilkan citra yang baik di mata orang. Ada yang bilang bahwa bencana adalah takdir Allah yang harus diterima untuk menutupi kejahatan penebangan hutan dan salah pengelolaannya. Ada pejabat yang menolak bantuan asing karena malu dianggap tidak becus ngurusi rakyatnya yang menderita. Padahal mereka sangat membutuhkan uluran tangan dan penanganan yang cepat. Kita harus belajar dari para gembala yang jujur, sederhana, tulus ikhlas dan gembira. Mereka tidak memakai topeng kebohongan dan pencitraan. Hidup mereka membawa kegembiraan bagi orang lain. Tindakan yang dipoles dengan kebohongan hanya akan membawa penderitaan. Tahun baru bawa berita bahagia, Orang menderita bisa senyum tertawa. Para gembala datang bawa sukacita, Maria dengan takzim merenungkannya. Wonogiri, selamat memasuki Tahun baru 2026 Rm. A.Joko Purwanto,Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed