|
Puncta 17 November 2025
Pw. St. Elisabet dari Hungaria, Biarawati Lukas 18:35-43 atau Ruybs SAYA terkesan ketika Rama Hartosubono suatu kali menerima telpon. Dia menjawab dengan berkata, “Halo, disini Rama Bono, apa yang bisa saya bantu?” Kalimat itu menarik bagi saya karena tersirat kesiapsediaan hati untuk membantu orang lain. Orang tidak perlu basa-basi, “ngalor-ngidul” tetapi to the point pada permasalahan dan siap untuk membantu apa yang dibutuhkan orang. Rama memposisikan diri pada orang lain yang sedang telpon itu. Ada hati yang siap mendengarkan dan menolong. Ketika Yesus mendekati Yerikho, ada pengemis buta yang berteriak-teriak. "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Orang-orang yang ada di sekitarnya berusaha agar dia diam. Mungkin kita sering bersikap seperti orang banyak ini. Tidak menolong malah menghalangi atau membungkam orang yang butuh bantuan. Orang banyak itu sudah punya praduga, penilaian awal bahwa orang buta adalah orang berdosa. Kalau kita bergaul dengannya bisa ketularan najis, kotor dan berdosa. Apalagi dia seorang pengemis yang stratanya rendah dalam masyarakat. Yesus berbeda dengan pandangan orang banyak. Ia justru menawarkan diri, ”Apa yang kaukehendaki Aku perbuat bagimu?” Dengan pertanyaan ini Yesus ingin orang itu menyatakan keinginannya yang utama. Orang buta itu tahu prioritas kebutuhannya. Ia tidak minta uang yang banyak, walaupun dia pengemis. Tetapi dia minta supaya dapat melihat. “Tuhan, tolong buatlah aku melihat.” Dengan berkata begitu, si pengemis itu yakin dan percaya bahwa Yesus mampu melakukannya. Karena keyakinan pengemis yang besar itu, maka Yesus berkata, “Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Iman bukan sekedar angan-angan. Iman dibangun atas dasar fakta dan bukti nyata. Pengemis buta itu mungkin telah mendengar cerita-cerita reputasi Yesus yang bisa menyembuhkan. Ia jadi percaya pasti Yesus mampu menyembuhkannya. Dia kemudian berserah (beriman) kepada-Nya. Karena iman, orang bisa berserah dan berkata amin sehingga hidupnya aman. Kalau kita mau membuka hati seperti Yesus, “Apa yang kaukehendaki Aku perbuat bagimu?” orang akan tumbuh iman atau keyakinan. Sikap orang buta itu bisa jadi teladan. Setelah dia bisa melihat, hal pertama yang dilakukan adalah mengikuti Yesus. Setelah kita diselamatkan, kita juga diajak mengikuti-Nya. Ada mawar yang tidak berduri, Milik St. Fransiskus di Porziuncola. Keselamatan bukan untuk sendiri, Kita diutus untuk membagikannya. Wonogiri, iman, amin, aman Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed