|
Puncta 23 Desember 2025
Selasa Khusus Adven Lukas 1:57-66 PADA malam menjelang kelahiran Duryudana, putra sulung Destrarastra di Hastina, alam memberi firasat yang menakutkan. Terdengar suara lolongan serigala yang menggetarkan bulu kuduk, suara burung hantu yang mewartakan kematian di malam gelap, ringkikan kuda yang aneh dan bulan yang diselimuti awan gelap. Gendari, istri Destrarastra merasa iri dan jengkel karena Kunti, istri Pandudewanata sudah melahirkan Yudistira. Ia menyimpan kemarahan dan dendam kepada Pandu karena Gendari ditolak menjadi istri Pandu. Ketika mengandung bayinya, Gendari memukuli perutnya agar calon anak ini segera lahir. Namun yang lahir ternyata segumpal daging merah. Oleh Resi Wiyasa, daging itu dipotong dengan keris sakti menjadi seratus potongan dan disimpan dalam guci kendaga. Dari guci kendaga pertama lahirlah Suyudana atau Duryudana, anak sulung dari darah Kuru. Dialah yang menjadi pemimpin Kurawa yang ambisius. Para penasehat seperti Yamawidura dan Resi Bisma menyarankan agar bayi itu dibuang ke hutan karena ada firasat bahwa dia akan membawa kehancuran bagi seluruh darah Kuru. Berbeda dengan kelahiran Suyudana, tanda-tanda atau firasat juga dialami oleh Elisabet saat akan melahirkan anaknya. Ia yang dikatakan mandul dan sudah tua tak mungkin punya anak. Suaminya mengalami bisu ketika Elisabet mengandung juga sebuah firasat karena tidak percaya pada Tuhan. Pemberian nama yang menyimpang dari garis keturunan ayah adalah tanda aneh bagi para tetangga. Seharusnya anak itu diberi nama Zakharia, seperti nama ayahnya. Tetapi orangtuanya menolak dan memberi nama beda yaitu Yohanes. Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian." Dan merekapun heran semuanya. Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia. Firasat atau tanda-tanda itu telah memberi isyarat akan menjadi apakah anak itu kelak. Yohanes menjadi nabi yang membuka jalan bagi Mesias yaitu Yesus Sang Penyelamat dunia. Ia menjadi buah tutur akan kebaikan Allah kepada kita. Menjadi apakah kita kelak ditentukan dari apa yang kita buat sekarang ini. Firasat buruk akan menghantar kehancuran, firasat yang baik membawa kemuliaan. Serigala melolong menakutkan, Bulan gelap tertutup oleh awan. Hidup ditentukan oleh perbuatan, Kita akan memetik hasil tindakan. Wonogiri, hidup adalah kesempatan Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed