|
Puncta 15 Januari 2026
Kamis Biasa I Markus 1:40-45 ORANGTUA yang mempunyai anak balita perlu berhati-hati dalam mendidik mereka. Mereka sedang bertumbuh untuk mengekplorasi dunia sekitarnya. Penting bagi orangtua untuk memilih kata-kata larangan yang tidak menghambat daya ingin tahunya yang besar. Kata “Jangan” sering dipakai orangtua untuk melarang anaknya. kalau larangan ini dipakai pada saat yang tidak tepat, bisa berdampak negatif pada pertumbuhan psikososial anak. Inisiatif dan kreatifitas anak akan mandeg. Pada saat anak sedang tumbuh daya pikir dan rasa ingin tahunya, larangan “Jangan” justru membuat dia ingin tahu dan melakukan yang sebaliknya. Maka larangan itu harus ditempatkan pada konteks yang benar. Menggunakan kata “Jangan” sebagai larangan bisa dipakai untuk hal-hal yang sangat membahayakan bagi keselamatan anak. Kita boleh tegas mengatakan “Jangan.” Yesus juga menggunakan kata “Jangan” kepada orang kusta yang telah disembuhkan. "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka." Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. Bagi orang kusta, perintah “Jangan” justru tidak mempan, saking gembiranya karena sembuh dari kusta, dia melanggar perintah Yesus. Dia memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana. Pentahiran orang kusta memang secara aturan harus dilakukan oleh imam di Bait Allah dan membawa persembahan. Maka Yesus menyuruh orang itu pergi kepada imam supaya tidak terjadi konflik kepentingan. Sukacita yang meluap bisa membuat orang lupa diri sehingga aturan atau larangan diterjang demi bisa bersyukur dan memuji Tuhan. Mungkin kita juga pernah seperti itu. Saking gembiranya hati yang berkobar-kobar, sampai kita lupa diri. Orang kusta itu tidak terbendung semangatnya untuk mewartakan Mesias yang dijanjikan kepada semua orang. Ia mewartakan bahwa Allah sudah hadir dalam diri Yesus yang menyembuhkan. Malam yang gelap disertai hujan, Hawa yang dingin menusuk badan. Orang kusta disembuhkan Tuhan, Ia langsung mewartakan kebenaran. Wonogiri, sukacita yang berkobar Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed