|
Puncta 16 Februari 2026
Senin Biasa VI Markus 8: 11-13 TIDAK sadar kita sering keliru dalam berdoa. Kebanyakan doa-doa kita adalah meminta, memohon dan bahkan memaksa Tuhan agar memenuhi apa yang kita harapkan. Seolah Tuhan itu menjadi budak atau pembantu kita. Apa yang kita katakan harus dijalankan saat itu juga. Tidak jarang kita juga menuntut kepada Tuhan untuk membuat mukjizat. Kalau kita sedang menghadapi situasi yang berat, masalah yang sulit atau persoalan pelik, tidak segan-segan kita memaksa ada mukjizat dari Tuhan. Kalau permohonan atau doa-doa kita tidak dikabulkan lalu “mutung” atau merajuk, “ngambeg” dan tidak percaya lagi pada Tuhan. Kita mudah meninggalkan Tuhan tidak pernah berdoa, malas pergi ke gereja atau doa-doa di lingkungan. Menuduh Tuhan tidak adil, tidak peduli dan tidak ada. Yesus menegur orang-orang Farisi yang meminta tanda dari sorga. Mereka meminta tanda bukan karena percaya melainkan untuk mencobai Dia. Bagi Yesus tanda atau mukjizat bukan tontonan demi kepuasan hati sesaat, tetapi hadiah dari iman yang kuat. Mukjizat bukan yang terpenting tetapi imanlah yang menentukan. Orang-orang Farisi itu sudah banyak melihat tanda, tetapi mereka tidak mau percaya. Mereka sombong dan degil hatinya. Mereka skeptis dan tidak mau membuka hatinya. Bagi mereka iman seolah-olah hanya bisa dibuktikan kalau ada mukjizat yang spektakuler. Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: "Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda." Iman adalah kepasrahan hati dan ketaatan tanpa syarat kepada Tuhan. Menghadapi orang-orang yang sulit percaya, Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang. Kalau kita suka mencobai Tuhan dan menuntut tanda, mungkin Tuhan malah pergi dan tak mau menanggapi kita. Kita bisa melihat drama Ijasah palsu di tengah-tengah kita. Walau nanti ada ketuk palu dari pengadilan yang sah, orang pasti tidak akan percaya. Orang akan selalu mencari bukti-bukti atau tanda-tanda sampai ke ujung dunia karena dasarnya tidak percaya. Iman membutuhkan kerendahan hati untuk bisa menerima hal yang paling sulit sekalipun. Disitulah kepasrahan dan ketundukan kita sedang dibuktikan. Apakah kita seperti kaum Farisi yang selalu menuntut tanda lalu baru bisa percaya? Sepercik pantun buat anda: Drama ijasah palsu tidak ada habisnya, Sekalipun dijelaskan oleh Patih Gajah Mada. Diperlukan kerendahan hati untuk percaya, Jangan memaksa Tuhan membuat tanda-tanda. Wonogiri, jangan mencobai Tuhan Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed