|
Puncta 14 Januari 2026
Rabu Biasa I Markus 1:29-39 UNGKAPAN dalam Bahasa Latin itu bisa diartikan Berdoa dan Bekerja. Warisan Santo Benediktus dari Nursia ini menyatukan doa dan kerja. Doa dan kerja bukanlah dua sisi yang saling bertentangan, tetapi dua sisi dalam satu panggilan. Doa menjadi revolusi mental ketika Benediktus melihat kebobrokan moral di Eropa pada waktu dia study di Roma. Dekadensi moral sedang turun ke titik rendah. Maka Benediktus memilih mencari keheningan di Gua Subiaco. Lama kelamaan banyak pengikutnya yang memilih cara hidup Benediktus. Ia mendirikan Biara di Monte Casinno dan menyusun regula yang menyeimbangkan antara doa dan kerja. Dalam perikopa Injil hari ini, Yesus memadukan antara doa dan kerja. Ia datang ke rumah Ibu Mertua Petrus dan menyembuhkan penyakitnya. Sesudah sembuh, wanita itu melayani Yesus dan rombongannya. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Pelayanan Yesus tidak mengenal waktu. Tetapi pagi-pagi benar, Ia pergi ke tempat sunyi untuk berdoa. Markus menulis, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” Doa dan karya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Doa bukanlah upacara ritual belaka. Doa adalah sumber kekuatan dalam berkarya. Kerja bukanlah beban yang melelahkan. Kerja adalah persembahan hidup untuk berpartisipasi dalam karya Allah. Dalam Regulanya, St. Benediktus menulis, “Kemalasan adalah musuh jiwa.” Kemalasan adalah setan yang berusaha menjauhkan kita dari karya Allah. Mari kita satukan antara berdoa dan bekerja sebagai ungkapan iman kita kepada Tuhan. Hujan semalam tak pernah reda, Dingin menusuk ke tulang dada. Jangan pernah lelah untuk bekerja, Jangan pernah berhenti untuk berdoa. Wonogiri, berdoa dan bekerja Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed