|
Puncta 15 Februari 2026
Hari Minggu Biasa VI Matius 5:17-37 MOCHTAR LUBIS adalah seorang wartawan dan budayawan. Ia adalah salah satu pendiri kantor berita Antara. Selain wartawan, Mochtar Lubis juga pengarang novel. Salah satu karyanya berjudul “Senja di Jakarta.” Pada 6 April 1977 dia membuat pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki. Ia mengkritisi sifat dan karakter orang Indonesia. Menurutnya ada enam karakter paling menonjol yang dihidupi oleh orang Indonesia; hipokrit atau munafik, enggan bertanggungjawab atas perbuatannya, jiwa feodal, percaya takhyul, artistik dan watak yang lemah. Menurut Jakob Oetama almarhum, pidato kebudayaan Mochtar Lubis ini perlu menjadi permenungan kita semua agar kita bisa memperbaiki diri. Mochtar Lubis membuat refleksi kritis atas perilaku kita yang ibarat pendulum terlalu “njomplang” atau berat sebelah. Sifat hipokrit atau munafik sudah merambah dalam segala segi kehidupan. Kita mengklaim bangsa yang religius, beragama, rumah ibadat dibangun dimana-mana, tetapi kemiskinan, kebodohan dan korupsi terlihat di depan mata. Tidak bertanggungjawab muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya bencana alam yang membawa korban ribuan jiwa di Aceh, Sumatera Utara dan Padang kemarin tak ada orang atau instansi yang mau bertanggungjawab. Kesalahan ditimpakan kepada cuaca ekstrem padahal pembalakan hutan oleh pengusaha besar dibiarkan. Mochtar Lubis mengajak kita untuk melakukan refleksi diri, pembaharuan sikap dan bertobat. Sebagaimana Yesus yang datang untuk menggenapi Hukum Taurat. Aturan atau hukum Taurat itu baik, tetapi jangan hanya berhenti di mulut atau diajarkan saja. Seperti pendulum, yang terjadi pada zaman Yesus, kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat mendominasi hukum sebagai panglima tertinggi, akibatnya kemunafikan mencolok mata. Sedangkan tindakan konkret atau pelaksanaannya jauh api dari panggang. Yesus pernah mengkritik dengan mengutip suara nabi; “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” Yesus datang untuk menggenapi apa yang masih kurang dari bangsa ini yaitu praksis nyata dari aturan atau hukum Taurat. Bukan hanya membunuh, tetapi marah dan merendahkan martabat orang lain tidak dianjurkan. Bukan hanya dosa seksual, tetapi berpikir jahat dalam hati pun jangan. Jangan senang bersumpah dengan membawa-bawa nama Tuhan, tetapi jadilah orang yang bisa dipercaya dalam segala tutur kata. “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Kedatangan Yesus ingin menggenapi apa yang kurang dalam pelaksanaan hukum Taurat. Ia menghormati hukum sekaligus mentaati-Nya dalam pelaksanaan yang nyata. Marilah kita tidak sekedar mengikuti aturan tetapi mewujudnyatakan dalam sikap dan habitus sehari-hari. Sepercik pantun buat anda: Naik perahu ke kota Palangkaraya, Kanan kiri sudah tidak ada lagi buaya. Tidak perlu banyak omong dan bicara, Tetapi wujudkan dalam tindakan nyata. Wonogiri, bangun integritas diri Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed