|
Puncta 17 April 2025
Kamis Putih Yohanes 13: 1-15 SEBAGAI seorang Guru atau Rabi di tengah-tengah orang banyak, Yesus tidak hanya mengajarkan teori-teori. Yesus mengajar berkeliling ke mana-mana. Ia juga berkarya menyembuhkan banyak orang sakit, berbuat baik kepada semua orang. Apa yang diajarkan juga dilaksanakan dalam praktek hidup sehari-hari. Ia sungguh-sungguh bertindak sebagai Guru yang “digugu lan ditiru,” artinya dipatuhi dan diteladani tutur kata dan perilakunya. Ia mengajarkan tentang kasih dan pengampunan, pelayanan dan kerendahan hati. Pengajaran-Nya diwujudkan dalam contoh-teladan nyata. Kepada para murid-Nya, Ia membasuh kaki mereka sebagai tindakan kasih dan kerendahan hati. Warisan ajaran-Nya diberikan secara khusus kepada murid-murid-Nya. Ketika perjamuan malam, Ia melayani seperti seorang hamba. Ia membasuh kaki para murid-Nya yang diangkat sebagai “tuan.” Ia sendiri mengambil rupa sebagai hamba. Ia meminta kepada para murid-Nya untuk tidak meninggikan diri, tetapi berani merendahkan diri satu sama lain. Ia berpesan, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” Murid yang baik dan dinilai lulus adalah jika ia mampu melaksanakan perintah dan ajaran gurunya. Kita semua adalah murid-murid-Nya, mampukah kita menjalankan apa yang diperintahkan Yesus, Sang Guru Sejati kita? Maukah kita melayani dan mengasihi saudara-saudara kita yang kecil, lemah dan tersingkir sebagaimana Yesus mengasihi mereka? Maukah kita merendahkan diri dan menjadi pelayan bagi mereka yang kesulitan? Perayaan perjamuan malam terakhir bersama Yesus adalah pelajaran nyata bagi kita tentang mengasihi tanpa pamrih dan tidak terbatas. Kita adalah orang yang dikasihi Allah, maka kita pun diajak saling mengasihi sesama. Joko Tingkir ke kota naik buaya, Berjajar empatpuluh ekor jumlahnya. Kasih tidak perlu banyak kata-kata, Kasih terwujud dalam perbuatan nyata. Wonogiri, mengasihi tanpa kata Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Puncta 16 April 2025
Rabu Pekan Suci Matius 26: 14-25 JUMA’AT AGUNG, 14 April 1865 adalah hari naas bagi Abraham Lincoln, presiden Amerika. Ia ditembak saat sedang menonton teater di panggung oleh pendukung Konfedarasi yakni John Wilkes Booth. Lincoln adalah Pemimpin Kubu Union di Utara melawan Kubu Konfederasi di selatan. Mereka saling berperang karena berbeda pandangan politik. Perang ini juga disebut perang saudara di Utara dan Selatan. Lincoln ingin menghapus perbudakan, sedang kubu Konfederasi tidak menyetujuai. Dendam pihak Konfederasi dipicu oleh kekalahan perang di wilayah Barat yang dipimpin Jendral Ulysees Grant. Para konspirator berusaha menyingkirkan Lincoln karena kebijakan-kebijakannya yang tidak mereka dukung. Booth adalah aktor di teater Ford. Ia menjadi pelaksana pembunuhan di hari Jum’at Suci itu. Ia loncat dari balkon dan berteriak, ”Sic semper tyranis!!” Yudas Iskariot berkonspirasi dengan para pemimpin bangsa Yahudi, imam-imam kepala dan kaum Farisi yang tidak suka dengan sepak terjang Yesus. Imam-imam kepala kawatir Yesus banyak membuat mukjizat. Kaum Farisi benci karena Yesus dianggap merusak hukum Taurat. Yudas Iskariot mata duitan sebagai bendahara kelompok. Berbagai kepentingan itu menyatu. Yudas berkhianat dengan menjual Yesus kepada para imam kepala dengan 30 keping perak. Dengan uang segalanya bisa dikalahkan. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Kata Yesus memberi peringatan. Pernyataan ini membuat para rasul menjadi sedih dan bingung sehingga bertanya, “Bukan aku ya Tuhan?”. Mereka sadar bahwa setiap orang bisa berpotensi untuk menjadi pengkianat dan memang ada yang sungguh-sungguh melakukannya walaupun Yudas saat itu juga berkata, “Bukan aku ya Rabi?” Berhati-hatilah dengan uang. Dimanakah kesetiaanmu; kepada uang atau kepada Tuhan? Kebenaran akan mencari jalannya dan menampakkan dirinya sebagai keutamaan. Sungguh indah wisata Raja Ampat Sayang ongkosnya berlipat-lipat. Demi uang orang bisa berkhianat, Dari awalnya sahabat jadi penghojat. Wonogiri, pembaharuan janji imamat. Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta, 15 April 2025
Selasa Pekan Suci Yohanes 13: 21-33.36-38 HAMPIR di setiap kudeta selalu ada orang dalam yang bermain. Julius Caesar dikhianati oleh orang dekatnya sendiri, Brutus yang sudah dianggap sebagai anaknya. Ketika mengerang bersimbah darah menuju ajal, Caesar melihat Brutus dan berkata, “Tu quoque, Brute, fili mi.” (Kamu juga Brutus, anakku). Di Tanah Jawa, kisah-kisah pengkhianatan sering terjadi di istana-istana kerajaan. Kudeta berdarah menimpa Akuwu di Tumapel yang dibunuh oleh Ken Arok yang melibatkan orang-orang terdekatnya. Orang-orang dalam itu seperti Tohjaya, Kebo Ijo, Ken Dedes, Anusapati. Banyak orang yang terlibat. Tentu ada aktor intelektualisnya yang bermain di sebuah kudeta. Keterlibatan mereka didasarkan pada kepentingan; kekuasaan, ekonomi-bisnis, agama dan kebijakan. Dalam dunia politik ada adagium “Tidak ada kawan yang abadi. Yang ada adalah kepentingan.” Sekarang jadi kawan, besuk jadi lawan. Begitu juga bisa sebaliknya. Kita bisa melihat di kursi-kursi kekuasaan itu, yang dulu bertentangan sekarang bergandengan tangan. Tapi besuk bisa juga menikam dari belakang. Dalam perjamuan makan bersama murid-murid-Nya, Yesus membicarakan tentang pengkhianatan. , “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Pengkhianatan bisa terjadi di mana saja; di keluarga, tempat kerja, instansi, kekuasaan bahkan juga di dalam relasi privat. Ada musuh dalam selimut. Pengkhianatan justru sering dilakukan oleh orang dalam, sahabat, orang yang dicintai, orang dekat. Apakah makna relasi pribadi dengan orang-orang di sekitar kita? Apakah kita siap membangun loyalitas dan kesetiaan dalam relasi itu? Biyen antem-anteman saiki jabat tangan, Biyen adol pupu papa saiki dadi pupu papat. Yang dulu berteman sekarang jadi lawan, Yang dulu menghojat sekarang jadi sahabat. Wonogiri, tiada kawan yang abadi Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 14 April 2025
Senin Pekan Suci Yohanes 12: 1-11 DUA orang berdiri saling berhadapan. Di depan mereka ada sebuah angka. Dari sisi orang yang pertama, dia menyebut angka 6. Tapi dari sisi orang di depannya, orang itu mengatakan, bukan 6 melainkan 9. Mereka berdebat masing-masing melihat dari sudut pandangnya sendiri. Maka tidak akan ada titik temunya. Orang pertama mengatakan, “Jelas, ini angka 6.” Tetapi teman di depannya membantah, “Bukan, ini adalah angka 9.” Satu peristiwa bisa dipandang dari berbagai macam sudut. Demikianlah ketika Yesus datang ke rumah Maria di Betania. Ia meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal. Lalu Maria menyekanya dengan rambutnya yang panjang. Tindakan itu dipandang secara berbeda oleh Yudas Iskariot. Yudas melihatnya sebagai pemborosan yang tidak berguna. Tetapi sangat kontras dengan ucapannya. “Uang sebanyak itu bisa dibagikan untuk orang miskin.” Maria tidak melihat dari sisi mahal dan berharganya minyak dan rambut mahkotanya. Ia ingin mengungkapkan kasih tulusnya kepada Yesus. Kasih Tuhan tak ada bandingnya dengan mahalnya barang milik kita. Yudas Iskariot punya penilaian dan niat yang tidak tulus. Ucapannya baik tetapi di dalam hatinya ada niat jahat. Itulah kemunafikan. Ia melihat tindakan itu sebagai sia-sia karena ada unsur pamrih dalam hatinya. Kalau kasih Tuhan itu menjadi prioritas atau fokus utama kita, maka apapun tanpa memandang mahal, mewah atau berharga, semua bisa dipersembahkan bagi-Nya. Allah bisa menganugerahkan yang lebih bagi kita. Tetapi jika materi duniawi yang menjadi fokus hidup kita, maka Tuhan akan ditinggalkan demi mengejar kebahagiaan semu di dunia. Jika hanya transaksi untung rugi yang kita pikirkan dalam membangun relasi, maka tidak ada bahagianya. Manakah yang menjadi pusat perhatian demi keselamatan kita? Amerika China perang harga diri, Indonesia terkena imbas inflasi. Rahmat Tuhan tiada berhenti, Jika kita tulus dan rela berbagi. Wonogiri, mengasihi dengan tulus ikhlas Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 13 April 2025
Minggu Palma Lukas 22:14 – 23:56 MARI kita melawan lupa. Masih ingat bagaimana proses pengadilan terhadap Ahok atau Basuki Tjahaya Purnama dulu? Kita masih ingat ratusan ribu orang mengepung gedung pengadilan. Massa berteriak-teriak agar Ahok dihukum berat karena dituduh menistakan agama. Menghadapi demo massa besar-besaran seperti itu, Hakim tidak bisa memutuskan perkara secara netral. Ia ditekan oleh kepungan massa yang besar. Demi keamanan sosial menjadi pertimbangan dalam memutuskan perkara, daripada membebaskan orang yang tidak bersalah. Inilah yang oleh Hendardi, Ketua Setara Institut disebut sebagai pengadilan massa atau “Trial by Mob.” Ada hal yang perlu dipertimbagkan oleh hakim dalam membuat sebuah keputusan yakni ”In dubio pro reo” artinya jika hakim ragu dalam suatu hal, maka putusan haruslah berdasar pertimbangan yang paling menguntungkan terdakwa. Gelombang massa yang berdemo makin beringas dan menuntut hukuman membuat hakim tidak obyektif lagi. Massa sudah diprovokasi untuk menghukum terdakwa. Pada Minggu Palma ini kita mengenangkan kisah sengsara Tuhan. Ia diadili oleh massa yang kejam. Para imam kepala, ahli-ahli Taurat dan Tua-tua bangsa Yahudi memprovokasi massa. Pilatus sudah memilih prinsip “in dubio pro reo” yakni dengan memberi hukum paling ringan. Tetapi rakyat yang telah diprovokasi terus mendesak, “Salibkan Dia. Salibkan Dia.” Sampai tiga kali Pilatus bertanya, “Kejahatan apa yang sebenarnya telah dilakukan orang ini? Tidak ada suatu kesalahan pun yang kudapati pada-Nya, yang setimpal dengan hukuman mati.” Tetapi massa yang sudah kalap terus mendesak, ”Salibkan Dia! Salibkan Dia!” dan akhirnya Pilatus kalah oleh tekanan massa yang tak bernurani dan kejam. Inilah Pengadilan massa atau Trial By Mob. Apakah kita juga suka mengadili tanpa memberi kesempatan orang untuk membela diri? Dimanakah kita berpijak ketika terjadi pengadilan massa? Dimana hati nurani kita saat terjadi penindasan dan ketidak-adilan? Pengadilan massa sangat kejam, Massa tidak punya peri kemanusiaan. Tuhan Yesus diadili hanya diam, Ia menampakkan Allah yang berbelas kasihan. Wonogiri, memasuki Retret Agung Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 12 April 2025
Sabtu Prapaskah V Yohanes 11: 45-56 BEBERAPA waktu lalu, kantor redaksi Tempo menerima paket berisi kepala babi. Kemudian disusul lagi paket bangkai tikus yang terpotong kepalanya. Alamat yang dituju adalah “Cica” anggota redaksi “Bocor Alus Politik.” Bisa dipastikan paket itu adalah bentuk teror dan intimidasi. Ada pihak-pihak yang tidak senang dengan kerja jurnalistik Tempo yang membeberkan berbagai berita sensitif di negeri ini. Pihak-pihak itu mengirim teror sebagai peringatan kepada Tempo. Namun Pemimpin Redaksi Tempo mengatakan bahwa dia tidak gentar menghadapi teror dan intimidasi. Setri Yasra mengatakan kiriman kepala babi dan tikus adalah teror terhadap kerja-kerja jurnalistik dan kebebasan pers. Kebenaran akan selalu berhadapan dengan banyak tantangan. Mereka yang takut akan kebenaran berusaha untuk membungkam melalui teror, intimidasi, ancaman dan ketakutan-ketakutan. Yesus mengalami intimidasi dan teror dari kaum Yahudi yang tidak suka Dia membuat berbagai mukjizat. Makin lama makin banyak orang yang percaya kepada-Nya bahwa Yesus adalah Mesias. Hal ini akan merongrong kewibawaan para pemimpin dan tua-tua Bangsa Yahudi. Maka mereka bersekongkol untuk menyingkirkan Yesus. Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: "Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita." Maka mereka mencari kambing hitam untuk menyelamatkan muka mereka. Yesus diancam dan dicari untuk dikorbankan. “Bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa," Kata Kayafas, Imam Agung. Apakah kita lebih suka memilih cara bertindak seperti Kayafas, yang senang mencari kambing hitam untuk membenarkan diri sendiri? Ataukah kita memilih kebenaran walau harus berjalan dan berjuang sendiri? Ada orang suka masak kepala babi, Tetapi perilakunya seperti tikus-tikus. Bertindaklah dengan suara hati, Jangan bertindak dengan akal bulus. Wonogiri, tegakkan kebenaran Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 11 April 2025
Jumat Prapaskah V Yohanes 10: 31-42 BANYAK tokoh-tokoh Muslim di negeri ini yang banyak berjasa. Sejak zaman penjajahan, kemerdekaan, mereka berjuang memerdekakan Bangsa kita. Bahkan sampai sekarang pun muncul tokoh-tokoh yang baik, saleh, teladan, tutur kata dan tindakannya membawa kesejukan, mengajak umat untuk toleran, hidup rukun dan damai dengan semua masyarakat. Mereka menjunjung Pancasila, menghargai nilia-nilai luhur nenek moyang Indonesia, menjaga tradisi dan adat istiadat berbangsa dan bernegara yang santun, bersatu dan damai. Hidup rukun dengan semua orang yang berbeda-beda. Namun tokoh-tokoh yang menyebarkan kebaikan, seringkali justru dihadang oleh mereka yang merongrong persatuan dan kesatuan. Ada kelompok-kelompok yang menentang. Mereka membawa budaya asing. Memaksakan diri seolah kelompok yang paling benar. Mendegradasikan nilai-nilai lokal dan menuduhnya musyrik. Kata-kata kotor dan sarkastik diumbar untuk mendiskreditkan mereka yang dianggap berlawanan. Orang benar, orang saleh, mereka yang berjuang mengajarkan kebaikan justru dimusuhi. Waspadalah ini sedang terjadi di negeri kita. Pengalaman seperti itu pernah dialami oleh Yesus dari Nasaret atau juga Yeremia. Nabi Yeremia diancam karena memberitakan kebenaran. Begitu pula Yesus ditentang oleh kaum Yahudi karena melaksanakan kehendak Bapa-Nya, Yesus dituduh menghojat Allah. Mereka menentang orang yang diutus oleh Allah. Yesus membawa warta kebenaran, kebaikan, welas asih. Tetapi kaum Yahudi justru mengancam-Nya, bahkan ingin membunuh-Nya. Yesus tidak gentar. Ia tidak mundur. Ia tetap teguh konsisten membawa pesan perdamaian dan keselamatan bagi semua orang. Seperti Yeremia dan Yesus, kita diajak untuk setia pada nilai-nilai kebenaran dan kasih sayang. Nilai-nilai itu universal. Siapapun yang berjuang demi kebenaran, keadilan, kedamaian, kerukunan dan persatuan, mesti kita dukung bersama. Pergi berlayar sampai ke Dumai, Singgah ke Palembang membeli kain. Kita bisa hidup rukun dan damai, Jika mau menghargai satu dengan lain. Wonogiri, wartakan kebaikan dan perdamaian Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 10 April 2025
Kamis Prapaskah V Yohanes 8: 51-58 SEKARANG ini lagi viral ada kelompok-kelompok agama yang saling tantang-tantangan. Mereka saling mengejek, menghina dan mengklaim diri sebagai kelompok paling hebat dan paling benar dalam menjalankan hidup agamanya. Mereka dengan teriak-teriak menantang satu sama lain untuk berperang. Kebencian disebarkan justru oleh tokoh agama. Permusuhan dipertontonkan kepada masyarakat secara terang-terangan dan terbuka. Kita kaum awam ini lalu bertanya; katanya agama membawa damai dunia akherat, tapi mengapa para pemimpinnya malah menebarkan permusuhan dan kebencian? Agama harusnya membawa keselamatan, tetapi yang muncul justru ketakutan dan kekejaman? Mereka masing-masing menjadi kelompok Followers Pembela Iman. Karena mengklaim diri sebagai kelompok yang paling benar, maka kelompok yang lain adalah musuh dan saingan yang harus dihancurkan. Beginikah pemahaman hidup keagamaan kita? Orang-orang Yahudi dengan keras menolak Yesus. Mereka bahkan menganggap Yesus kerasukan setan. Namun Yesus bilang bahwa Dia tidak kerasukan setan. Dia menghormati Bapa yang mengutus-Nya. Kehadiran-Nya untuk membawa warta keselamatan dan kehidupan kekal. “Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya." Inilah janji keselamatan dan hidup kekal, karena percaya kepada-Nya. Orang yang mengenal Tuhan pasti hidupnya membawa damai, sukacita, kebahagiaan dan kesejahteraan bagi sesama. Semakin mengenal Tuhan akan semakin rendah hati, damai dan tenang dalam membawakan diri. Tidak mengancam, menebar ketakutan, menyerang dengan kebencian dan memusuhi orang lain. Makna “Agama Rahmatan lil 'Alamin” adalah agama yang kehadirannya di tengah kehidupan masyarakat mampu mewujudkan kedamaian dan kasih sayang bagi manusia maupun alam semesta. Mari kita membawa damai dan kasih sayang, bukan kebencian dan permusuhan. Kalau dunia tidak ada seekor lebah, Maka tidak akan ada bunga-bunga indah. Kalau kita semakin mengenal Allah, Kita makin jadi manusia pembawa berkah. Wonogiri, membawa berkah Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 9 April 2025
Rabu Prapaskah V Yohanes 8: 31-42 PRABU Basudewa dari Mandura mempunyai istri Dewi Maerah. Ketika ditinggal berburu di hutan berbulan-bulan, Maerah memadu kasih dengan Raja Kiskendapura, Prabu Gorawangsa. Mereka punya anak bernama Kangsadewa. Kangsa berperilaku “brangasan adigang adigung, adiguna” serakah, sombong, sewenang-wenang dan kejam terhadap orang kecil. Dia merasa memiliki hak waris dari Kerajaan Mandura. Maka dia memaksa Raja Basudewa mengadakan pertandingan “Adu Jago.” Pertandingan ini sebetulnya hanya bahasa halus untuk melengserkan raja. Kangsa ingin menggantikan kedudukan “ayahnya” menjadi raja. Ia menantang raja untuk bermain adu jago. Kalau Basudewa kalah, maka dialah yang akan menjadi raja. Jagonya bukan ayam tetapi manusia. Pewaris Mandura sebenarnya adalah Kakrasana, Narayana dan Dewi Bratajaya yang disembunyikan di Widara Kandang. Mereka ikut nonton adu kesaktian di arena. Kangsa akhirnya mati oleh panah Permadi karena rayuan Bratajaya dalam gelanggang adu jago yang dibuatnya sendiri. Yesus bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi tentang keturunan Abraham dan keturunan Allah. Orang Yahudi merasa sebagai ahli waris Abraham. Mereka menganggap sebagai orang-orang yang dekat dengan Allah seperti Abraham dan nenek moyang mereka. Tetapi Yesus membantah mereka, "Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham.” Apa yang mereka lakukan justru berlawanan dengan apa yang dikerjakan Yesus. Mereka mengaku sebagai anak-anak Allah tetapi tidak mengerjakan apa yang diperintahkan Allah. Sama seperti Kangsa yang mengaku ahli waris Mandura tetapi justru ingin membunuh Basudewa dan keturunannya. Jika mereka adalah anak Allah, seharusnya mereka mendengarkan dan melaksanakan seperti yang dikerjakan Yesus. seharusnya mereka menerima Dia yang diutus Allah, bukan malah menolak dan membunuh-Nya. Kalau kita mengaku menjadi murid Yesus, Sang Anak Allah, apakah kita sudah bersungguh-sungguh melaksanakan perintah-Nya? Mendaki gunung, bukit dan lembah, Menikmati indahnya hamparan bunga. Kita ini sungguh-sungguh anak Allah, Jika setia mengikuti Kristus, Firman-Nya. Wonogiri, setia ikut Yesus Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 8 April 2025
Selasa Prapaskah V Yohanes 8: 21-30 SUATU kali saya ketemu salah seorang umat di Jakarta. Saya bertanya asalnya dari mana. Dia menjawab, “Dari Solo, Romo.” Saya kejar lagi, “Solonya mana Pak?” Dia menjawab, “Wonogiri kok Romo.” Karena penasaran, saya lanjut bertanya lagi, “Wonogirinipun pundi Pak?” Orang itu tersipu-sipu berkata, “Pracimantoro aslinipun Romo.” Jarak Solo ke Pracimantoro kurang lebih ya 65 kilometer. Kadang kita malu menyebut asal usul kita karena dari daerah pelosok yang jauh. Kita sembunyikan daerah asal dengan menyebut dari Kota Solo. Namun demikian, logat bahasa dan tutur kata yang khas tidak bisa disembunyikan. Yesus dengan terus terang menjelaskan asal-usul-Nya. “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini.” Yesus mewahyukan jati Diri-Nya. Ia dengan tegas memperkenalkan dari mana Dia datang. Yesus mengungkapkan bahwa “Akulah Dia.” Pengenalan ini sama ketika Allah mewahyukan Diri-Nya kepada Musa, “Akulah Yang Ada.” Yesus membuka Diri-Nya berasal dari Allah. Maka barangsiapa percaya kepada-Nya akan memperoleh hidup kekal. Dia berkata, “Jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.” Satu-satunya jalan agar kita memperoleh hidup adalah percaya kepada-Nya. Karena Yesus datang dari Allah dan menghadirkan kehendak-Nya bagi dunia, yakni ingin menyelamatkan manusia. Perutusan Yesus adalah membawa misi Allah. Ia datang bukan atas kehendak-Nya sendiri. Tetapi diutus oleh Bapa untuk melaksanakan kehendak-Nya. Ketaatan-Nya mati di salib menjadi bukti bahwa Yesus datang melaksanakan kehendak Bapa-Nya. Maka Dia berkata sebelum mati di salib, “Sudah selesai.” Jangan sampai kita mati menggendong dosa karena tidak percaya kepada Yesus. Kalau kita percaya kepada-Nya, kita akan memperoleh hidup yang sejati. Percaya menjadi jalan keselamatan kita. Apakah kita mau percaya kepada-Nya? Jawaban kita menentukan keselamatan kita. Ke dapur ambil pisang rebus, Masih panas ditaruh di atas meja. Dengan percaya kepada Yesus, Kita dibawa dari dunia ke sorga. Wonogiri, Kuatkan imanmu dan percayalah Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed