Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Pesan Terakhir Steve Jobs

3/3/2025

0 Comments

 
Puncta 3 Maret 2025
Senin Biasa VIII
Markus 10:17-27

INILAH sepenggal nasehat terakhir Pendiri Perusahaan Apple Inc sebelum meninggal. “Dalam dunia bisnis, aku adalah simbol dari kesuksesan, seakan-akan harta dan diriku tidak terpisahkan, karena selain kerja, hobiku tak banyak. Saat ini aku berbaring di rumah sakit, merenungi jalan kehidupanku, kekayaan, nama, dan kedudukan, semuanya itu tidak ada artinya lagi.

Malam yang hening, cahaya dan suara mesin di sekitar ranjangku, bagaikan nafas maut kematian yang mendekat pada diriku. Sekarang aku mengerti, seseorang asal memiliki harta secukupnya untuk digunakan dirinya saja itu sudah cukup. Mengejar kekayaan tanpa batas itu bagaikan monster yang mengerikan.”

Dalam perikope hari ini dikisahkan oleh Markus ada seorang yang kaya. Sejak muda ia sangat saleh dan taat menjalankan perintah Taurat. 

Namun kekayaan dan kesalehan yang dikumpulkannya nampaknya tidak memuaskannya. Ia masih mencari sesuatu dan bertanya kepada Yesus. "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"

Yesus memintanya untuk menjual seluruh harta miliknya dan membaginya kepada orang miskin, lalu mengikuti-Nya. Orang kaya itu sangat sedih dan meninggalkan Yesus. Ia tidak rela melepaskan harta miliknya. 

Lalu Yesus melemparkan kata-kata yang menggemparkan, "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."

Apakah kita juga sedang terikat dan terbelenggu oleh harta kekayaan sehingga kita lupa berbagi dengan sesama yang miskin dan membutuhkan? 

Steve Jobs menyadarinya saat ajal akan menjemput. Terlambat sudah dan semua tinggal penyesalan. Berbagilah sebelum anda menyesal nanti.

Urip kuwi mung mampir ngombe,
Setegukan saja hidup akan berlalu.
Urip kuwi aja mung ngumbar lambe,
Gunakan waktumu agar bisa bermutu.

Wonogiri, jadilah bahagia
Rm. A. Joko Purwanto,Pr
0 Comments

Bibit, Bebet, Bobot

3/2/2025

1 Comment

 
Puncta 2 Maret 2025
Minggu Biasa VIII
Lukas 6: 39-45

UNTUK memilih pasangan hidup, orang sering mengenal istiah “Bibit, Bebet dan bobot. Untuk mengenal pasangan, kita perlu tahu seluk beluk keluarga dan latar belakangnya.

Bibit berarti benih, yaitu bagaimana latar belakang keluarga dan saudara-saudaranya. Apakah ia berasal dari benih yang baik? 

Keluarga ibarat sebuah pohon. Kalau pohonnya baik, diharapkan juga menghasilkan buah keturunan yang baik.

Bebet berkaitan dengan tingkat kehidupan ekonomi keluarga. Sedangkan bobot lebih bermakna kualitas hidup pasangannya. Bobot seseorang dapat dilihat dari tingkat kepribadian, pendidikan, atau prestasi, talenta yang dimiliki.

Yesus mengajarkan beberapa pepatah dalam perikope ini. Pepatah-pepatah itu masih bisa kita jadikan patokan sampai sekarang. 

Misalnya, "Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang?”

Tidaklah mungkin kita yang buta akan menuntun teman kita yang juga tidak melihat. 

Pepatah lain juga disampaikan Yesus, “Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?”

Pepatah ini menasehatkan agar kita lebih mawas diri. Tidak suka menghakimi orang lain atau menyalahkan orang namun merasa paling benar sendiri. 

"Tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.”

Pepatah ini bisa nyambung dengan pepatah Jawa yang berkata, ”Becik ketitik, ala ketara.” Setiap pohon baik akan menghasilkan buah yang baik. Pohon yang buruk buahnyapun akan buruk.

Ingatlah nasehat ini, “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya."

Apakah kita berkepribadian baik, dapat dilihat dari tutur kata dan tingkah laku kita. Yang diucapkan mulut kita, meluap keluar dari hati kita. Maka berhati-hatilah!!

Maksud hati memeluk gunung,
Apa daya tangannya buntung.
Orang baik akan mendapat untung,
Orang jahat pasti akan limbung.

Wonogiri, pohon yang baik dilihat dari buahnya
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
1 Comment

Sekolah Minggu

3/1/2025

0 Comments

 
Puncta 1 Maret 2025
Sabtu Biasa VII
Sabtu Imam
Markus 10.13-16

ADA beberapa paroki yang membuat kegiatan pendampingan anak-anak PIA atau BIAK pas perayaan ekaristi berlangsung. 

Anak-anak didampingi di aula gereja. Mereka diajak bernyanyi dan menari oleh para pendamping. Sementara orangtuanya mengikuti perayaan Ekaristi di gereja.

Anak-anak diberi kegiatan di aula terpisah dari perayaan Ekaristi di gereja. Mereka disuruh masuk dan bergabung ikut misa saat persembahan. 

Akibatnya banyak anak tidak mengikuti ekaristi secara utuh, dari awal hingga akhir. Jangan heran kalau hal ini menjadi kebiasaan. Mereka tidak merasa bersalah kalau datang terlambat mengikuti ekaristi.

Ada banyak alasan yang dikemukakan. Pertama, anak-anak dianggap sering mengganggu kekhusukan ekaristi karena gaduh, ramai dan berisik. 

Kedua, keterbatasan waktu para pendamping. Ketiga, tidak ada waktu bagi orangtua kalau harus mengantar anaknya ikut sekolah Minggu.

Bukankah ini tanggungjawab orangtua untuk mendampingi anak-anaknya agar makin mengenal Tuhan lewat Ekaristi? Bukan malah menjauhkan mereka dari Ekaristi? 

Inilah yang dilakukan oleh para murid ketika orang-orang membawa anak-anak kepada Yesus. Para murid memarahi mereka. Anak-anak dianggap hanya mengganggu dan merepotkan saja.

Tetapi Yesus justru memarahi murid-murid-Nya, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.

Mungkin kita juga seperti para murid yang menganggap anak-anak sebagai pengganggu, pembuat onar, gaduh berisik di gereja. Lalu menjauhkan mereka dari Tuhan dengan alasan yang rohani; mereka didampingi di sekolah Minggu.

Apakah kita juga halangi mereka untuk dekat dengan Yesus?

Jalan ke Pontianak membeli duku,
Buah langsat nama sebenarnya.
Biar anak-anak datang pada-Ku,
Jangan halangi kebahagiaan mereka.

Wonogiri, jangan halangi anak-anak
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Credo

2/28/2025

0 Comments

 
CREDO (artinya, aku percaya: tanggapan atas pewahyuan diri Allah yang berlangsung dalam sejarah) adalah syahadat iman yang memuat pokok-pokok iman kepercayaan Gereja Katolik. Kita seringkali mengucap kembali iman kepercayaan tersebut, tetapi belum tentu memahami seluruh isi iman kita itu. Untuk itu, saya mengajak untuk mengeksplorasi kembali intisari pemahaman dan juga persoalan-persoalan pokok syahadat iman kita.

Dalam rumusan credo terungkap inti iman Katolik, bahwa kita percaya pada: Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus. Tak terlupa, kita pun percaya bahwa Allah menganugerahkan rahmat melalui Gereja.

Kita mengimani bahwa Allah sungguh mahabaik dan penuh perhatian terhadap ciptaan-Nya. Seluruh misi-Nya semata-mata hanyalah demi menjadikan manusia sebagai putra-Nya. Hingga, akhirnya Ia mengutus Putera-nya yang tunggal sebagai pemenuhan janji keselamatan, memulihkan kembali martabat manusia menjadi putera-Nya. Roh Kudus pun dianugerahkan-Nya kepada orara Rasul dan Gereja untuk menemani kita berziarah di dunia ini. Inilah inti kebenaran iman yang terdapat dalam rumusan Syahadat Aku Percaya.
 
Sejarah singkat Credo
Yesus sama sekali tidak meninggalkan warisan tertulis yang dapat dijadikan pegangan oleh para Rasul. Akan tetapi, Yesus mewariskan Roh Kudus-Nya (Kisah Para Rasul 2:1-13). Ia tidak membiarkan murid-Nya kebingungan karena Roh Kudus inilah yang mengajar dan mengingatkan para rasul tentang semua yang Yesus katakan kepada mereka (Yohanes 14:26).

Begitulah, muncul beberapa pokok pernyataan iman yang dalam perkembangan sejarah dirumuskan menjadi credo. Tepatnya, sejak abad kedua, syahadat ini sudah dirumuskan. Demikian, syahadat yang paling kuno adalah Syahadat Para Rasul (syahadat pendek) yang biasa kita ucapkan saat Perayaan Ekaristi atau saat doa Rosario.  Sedangkan Syahadat Panjang secara resmi disebut sebagai Syahadat Nicea Konstantinopel yang dirumuskankan dalam Konsili Nikea (tahun 345) dan Konsili Konstantinopel Pertama (tahun 381). Syahadat panjang itu dirumuskan untuk mengembalikan pandangan iman yang benar, yang sempat diselewengkan oleh  para bidaah (ajaran sesaat).
​
Dalam Liturgi, sejak abad ke lima, Gereja Timur menggunakan syahadat panjang dalam ekaristi. Gereja Barat kemudian mengikuti tradisi ini. Sementara itu, syahadat pendek di Gereja Barat hanya digunakan dalam liturgi baptis. Sejak abad ke sembilan diundangkan bahwa syahadat panjang digunakan dalam  misa, syahadat pendek digunakan dalam baptisan. Baru pada tahun 1970 (Missale Romanum), keduanya boleh digunakan dalam misa. 

​Oleh Romo Heribertus Budi Purwantoro, Pr
0 Comments

Cita-Cita Allah

2/28/2025

0 Comments

 
Puncta 28 Februari 2025
Jumat Biasa VII
Markus 10: 1-10

ADA begitu banyak kasus perkawinan. Membangun persekutuan hidup antara dua orang yang berbeda itu tidak mudah. Tetapi justru disitulah sebenarnya Allah menghendaki agar kita meniru kesetiaan Allah dalam mengasihi manusia.

Problem perkawinan diajukan oleh kaum Farisi kepada Yesus. Mereka hendak mencobai atau menguji apakah pandangan Yesus sama dengan pandangan Musa yang memperbolehkan suami menceraikan istrinya.

Dalam pandangan orang Yahudi, perempuan disamakan dengan “benda.” Mirip dengan pandangan bahwa perempuan itu seperti sawah yang bisa dicangkuli kapan saja dan kalau tidak memberi kesuburan, bisa ditinggalkan begitu saja.

Karena sebagai benda yang dimiliki, laki-laki mau menceraikan dan punya sawah berapapun tak bermasalah. Perempuan sering menjadi korban karena tidak punya hak apa-apa. 

Ketika Yesus balik bertanya, apa perintah Musa kepada kamu? Mereka menjawab: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai." Mereka tidak menjawab pertanyaan Yesus. Ditanya apa perintah Musa, kok dijawab Musa memberi ijin. 

Karena mereka mendesak Musa memberi ijin menceraikan istri, maka Yesus mengatakan, "Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu.” Pada awal mulanya tidak demikian. Ketentuan itu diberikan bukan berdasarkan perintah Allah.

Yesus menjelaskan cita-cita Allah pada mulanya. Bahwa “Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

Jika perkawinan itu bagian dari rencana Allah, maka kita juga ikut ambil bagian dalam mewujudkan cita-cita Allah. Maukah kita melaksanakan cita-cita Allah?

Nonton sepakbola yang main Messi,
Penonton berdecak kagum tiada henti.
Perkawinan adalah peristiwa yang suci,
Karena Allah yang amat menghendaki.

Baturaja, setia sehidup semati
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Jangan Menyesatkan Orang

2/27/2025

0 Comments

 
Puncta 27 Februari 2025
Kamis Biasa VII
Markus 9: 41-50

KITA sering menemukan orang-orang yang cacat fisik tetapi hidupnya justru dapat menjadi contoh kebaikan bagi sekitarnya. Anggota tubuh mereka tidak sempurna, tetapi memiliki hati yang jujur, gigih, tangguh, tak kenal putus asa.

Mereka sering disepelekan orang lain, tidak dianggap atau dipandang sebelah mata. Tetapi justru pengalaman-pengalaman itu menempa batin dan semangat mereka. Banyak dari mereka yang hidupnya bisa menginspirasi masyarakat.

Sebut saja misalnya, Stevie Wonder, Tony Melendes, Helen Keller, Stephen Hawkins, Beethoven sang komposer dunia. Mereka memiliki ketidaksempurnaan fisik tetapi mampu menjadi inspirasi bagi dunia sampai sekarang.

Kebahagiaan dan keselamatan tidak tergantung dari kesempurnaan fisik seseorang. Apa gunanya kita memiliki fisik yang sempurna tetapi justru menghambat kita untuk berbuat baik bagi orang lain?

Maka Yesus mengingatkan kepada para murid-Nya, “Jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan”

Yesus menyebut ada anggota badan yang bisa membawa kesesatan; tangan, kaki dan mata. Tetapi mulut juga bisa menyesatkan orang. Dengan kata-kata yang buruk dan menipu banyak orang disesatkan. Maka berhati-hatilah. 

Lebih baik dengan tangan kudung tetapi masuk ke hidup kekal daripada dengan tangan dua tetapi dicampakkan ke dalam api neraka. Daripada dengan mulut manis tetapi menipu dan menyusahkan orang, lebih baik diam dan tenang namun membuat bahagia orang.

Belajarlah seperti Stevie Wonder kendati buta, namun mampu menghibur banyak orang. Tony Melendes, walau tak punya lengan tetapi memberi semangat dan harapan banyak orang. Gunakanlah hidupmu untuk menyelamatkan, bukan menyesatkan.

Minum kopi hitam pekat,
Biji kopinya sampai melekat.
Kalau kata-katamu bikin sesat,
Banyak orang akan melaknat.

Wonogiri, ultah di Batu Putih 
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Pikiran Sempit dan Terkotak-kotak

2/26/2025

0 Comments

 
Puncta 26 Februari 2025
Rabu Biasa VII
Markus 9: 38-40

SEANDAINYA para Founding Fathers atau Pendiri Bangsa dulu tidak punya wawasan kebangsaan yang luas, mungkin kita tidak memiliki sebuah bangsa yang namanya Indonesia.

Kita memiliki banyak suku, etnis, agama, budaya dan adat istiadat yang berbeda-beda. Tetapi mampu disatukan oleh para Pendiri Bangsa menjadi Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa. 

Bagaimana jadinya kalau kita masing-masing terlalu egois dengan etnis atau kesukuan kita. Bagaimana jadinya kalau kita tidak mau menghargai adat istiadat, budaya atau tradisi yang lainnya? Pastilah kita akan terpecah belah. 

Untunglah Para Pendiri bangsa kita ini punya wawasan pikir dan cara hidup yang baik dengan menjunjung kebhinekaan sehingga kita saling menghargai dan menghormati satu sama lain.

Dalam perikop Injil hari ini, para murid Yesus berpikir sempit dan terkotak-kotak. Mereka yang diwakili Yohanes berkata, "Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita."

Murid-murid itu menganggap diri paling baik dan benar dan mengklaim bahwa orang lain tidak boleh berbuat baik demi nama Yesus. Mereka melarang orang lain mengusir setan atas nama Yesus.

Tetapi kata Yesus: "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.”

Kita tidak boleh menutup kesempatan orang berbuat baik atas nama Tuhan. Kebaikan itu milik siapa pun yang percaya pada Tuhan. Allah menanamkan kebaikan kepada setiap orang. 

Jangan mengembangkan kesombongan rohani bahwa yang paling benar dan baik adalah kita. Kebenaran dan kebaikan itu milik Tuhan, kita hanya dititipi saja. Jadi kita tidak bisa mengklaim diri yang paling baik dan benar.

Yesus membuka wawasan kita agar terbuka terhadap kebaikan orang lain. Dimana pun dan kepada siapa pun Allah menanamkan kebaikan.

Tiap hari makan porang,
Untuk menggantikan nasi.
Hargailah kebaikan orang,
Maka kita pun akan dihargai.

Wonogiri, jangan berpikiran sempit
Rm. A. Joko Purwanto Pr
0 Comments

Periplaneta Americana

2/25/2025

0 Comments

 
Puncta 25 Februari 2025
Selasa Biasa VII
Markus 9: 30-37

MUNGKIN sebagian dari kita merasa jijik ketemu binatang yang bernama “Coro” atau kecoa. Kecoa atau “Periplaneta Americana” adalah binatang nocturnal atau binatang yang banyak berkativitas pada waktu malam. Kecoa suka pada kegelapan.

Kendati hidupnya di tempat kotor dan menjijikkan, namun badannya kelihatan bersih, mengkilap dan cemerlang. Sayapnya nampak bersih mengkilap. Inilah nilai plus yang menjadi satu-satunya kebanggaan.

Tetapi jangan sombong dengan kebanggaan itu. Di balik kesombongan itu ada satu titik kelemahannya juga. Coba perhatikan, kalau kecoa itu sudah terbalik, sayap di bawah dan kakinya di atas, dia sudah tidak berkutik lagi. Tinggal tunggu mati lemasnya saja.

Belajar dari kecoa, jangan suka menyombongkan kehebatan, kecemerlangan, kesuksesan. Jangan sombong menjadi yang terkemuka, paling berkuasa dan punya posisi nomor satu. Kebangganmu bisa jadi adalah kelemahanmu. Lihatlah kecoa.

Para murid sedang diajar secara khusus oleh Gurunya. Tetapi mereka justru memperbincangkan siapa yang terbesar di antara mereka. Mereka tidak mengerti pengajaran Yesus. Tetapi mereka berebut menjadi yang terbesar.

Maka Yesus menasehati, "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya." 

Yesus sedang menyiapkan penderitaan-Nya, tetapi para murid justru mengejar kebesaran dan kekuasaan. Maka Dia meminta para murid-Nya untuk menjadi pelayan bagi semuanya. 

Kepemimpinan bukanlah power untuk menindas, memerintah atau menguasai. Tetapi kepemimpinan adalah pelayanan, pengabdian dan kerendahan hati. 

Semoga kita mampu menjadi pelayan-pelayan yang baik. Bisa menghantar banyak orang mengalami sukacita dan bahagia.

Berlari-lari di tengah lapangan,
Mencari kelinci yang sedang makan.
Mengikuti Yesus siap jadi pelayan,
Menghantar orang menuju kebahagiaan.

Wonogiri, jadilah pelayan yang baik
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Keraguan Menghambat Iman

2/24/2025

0 Comments

 
Puncta 24 Februari 2025
Senin Biasa VII
Markus 9: 14-29

KALAU kita sering berpikir negative, maka apa yang kita pikirkan itu justru malah terjadi. Kita takut gagal. Yang ada dalam pikiran hanya gagal, maka ketakutan kita itulah yang malah membuat gagal. 

Takut gagal, takut kalah sering membuat kita terlalu fokus pada kegagalannya. Ketakutan membuat kita menjadi ragu. Keraguan menciptakan persimpangan yang membingungkan sehingga kita menjadi tidak percaya diri.

Serena William pernah mengalami kekalahan karena tidak fokus pada permainannya. Karena tidak fokus, permainannya justru menjadi kacau dan dia mengalami kekalahan di babak awal turnamen bergengsi di Wimbledon.

Yesus ditemui oleh seorang ayah yang anaknya kerasukan roh bisu. "Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Dan setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat."

Namun orangtua itu berkata, “Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami." Ungkapannya ini mengandung keraguan. Sebab murid-murid-Nya sudah mencoba tetapi gagal.

Maka Yesus balik bertanya, "Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!" Segera ayah anak itu berteriak: "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!"

Kita juga seringkali tidak percaya, meragukan kuasa Tuhan. Kita kadangkala mempertanyakan dimana Tuhan, kok tidak menjawab doa-doa kita. Keragu-raguan menggoda kita untuk mencari tuhan yang lain.

Yesus menegaskan, “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!" Apakah anda mau percaya kepada-Nya? Atau justru hanya ketakutanlah yang membuat kita tidak percaya?

Berhenti di pinggir jalan,
Ada teman yang sendirian.
Percayalah kepada Tuhan,
Hidupmu akan diselamatkan.

Wonogiri, tolonglah aku yang tidak percaya
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

“Nyuwun Luhuring Budi”

2/23/2025

1 Comment

 
Puncta 23 Februari 2025
Minggu Biasa VII
Lukas 6: 27-38

SUATU hari kami berkunjung ke rumah Ibu Antonia Suyatinah Martokasodjo almarhum. Beliau adalah ibu dari Sr. Kriswienda CB di daerah Samigaluh, Kulon Progo. Ada sebuah foto besar di dinding dengan tulisan doa yang sangat bagus, menggambarkan semangat hidup dan doanya yang mendalam. 

Doa yang dihidupi Bu Marto berjudul “Nyuwun Luhuring Budi." Isi doa itu adalah:
Dhuh Sang Sabda Allah ingkang manjalma dados titah, perlu nyunaraken asih tresna Dalem dhateng sedaya titah. 

Kaparingana kawula budi luhur, supados kawula saged dedana ingkang tanpa pamrih, kurban tanpa nggresula, lan makarya tanpa njagekaken pituwas. Kaparingana kawula sumarah kanthi wetah dhateng kersa Dalem Allah. 

Ingkang kawula pengini mboten wonten sanes kejawi wonten pundi kemawon lan ing kawontenan punapa kemawon Gusti ingkang kawula pilih, kersa Dalem ingkang kawula lampahi. Sedaya wau kawula suwun lantaran Sang Kristus Gusti kawula. Amin.

Doa ibu Marto intinya memohon budi yang luhur kepada Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta. Budi luhur itu terwujud dalam tindakan menolong tanpa pamrih, berkorban tanpa mengeluh dan bekerja tanpa mengharapkan balasan. Yang diingini dimanapun jua hanyalah melaksanakan kehendak Allah.

Doa ini seperti apa yang disabdakan Yesus kepada murid-murid-Nya, “Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.”

“Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.” Demikianlah Yesus mengajarkan keluhuran budi kepada kita.

Yesus mengharapkan kita berjuang menuju hidup yang murah hati sebagai anak-anak Allah, sebab Allah adalah murah hati adanya.

Pagi-pagi sarapan pakai roti,
Cukup secuil untuk menu berdua.
Hendaklah kamu murah hati,
Begitulah Bapamu di surga adanya.

Wonogiri, nyuwun luhuring budi
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
1 Comment
<<Previous
Forward>>

    Archives

    December 2034
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki