|
Puncta 27 April 2025
Minggu Paskah II Minggu Kerahiman Ilahi Yohanes 20: 19-31 SUATU kali Romo Adiwardoyo naik angkutan umum dari Muntilan ke Nanggulan. Satu mobil hiace itu penuh dengan penumpang berdesak-desakan. Tiba-tiba tercium bau kentut yang menyengat di dalam mobil. Semua orang menutup hidung sambil berpandang-pandangan “celingukan.” Romo Adi berpikir kalau dia bertanya, “siapa yang kentut ini?” pasti tidak ada yang mau mengaku. Maka dia nyeletuk begini, “Yang kentut ini pasti tadi belum bayar kepada kondektur?” Tiba-tiba ada ibu yang langsung menyahut, “Ngawur wae Pak’e ki, nuduh sembarangan. aku ki wis bayar lunas lho kait saka Terminal Muntilan mau!!” (Ngawur saja Bapak ini menuduh sembarangan. Saya sudah bayar sejak di Terminal Muntilan tadi). Nah, sekarang ketahuan siapa yang kentut sampai baunya “mblandreng ora ilang-ilang,” bikin mabuk banyak penumpang di dalam angkutan. Orang perlu bukti untuk bisa mempercayai sesuatu. Entah yang bisa dirasa, dibaui, diraba, dilihat dengan panca indera kita. Begitu pula Tomas. Dia tidak percaya bahwa Yesus bangkit kalau tidak bisa meraba bekas luka di tangan dan lambung-Nya. Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." Kita kadang bertindak seperti Tomas. Baru bisa percaya kalau melihat bukti nyata. Namun Yesus berkata, "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." Apakah kita mampu beriman kepada Yesus yang hadir di tengah kita kendati kita tidak melihat Dia atau berjumpa dengan-Nya? Berbahagialah kita yang mampu melihat Tuhan dengan kacamata iman! Walau tidak melihat langsung. Menikmati senja di Pulau Bawean, Pasirnya putih seperti berkilauan. Tuhan hadir di tengah kehidupan, Walaupun kita sulit membuktikan. Wonogiri, berbahagialah yang tidak melihat Rm. A. Joko Purwanto, Pr
1 Comment
Puncta 26 April 2025
Sabtu Oktaf Paskah Markus 16: 9-15 SIAPA yang belum pernah nonton Film Harry Potter? Nama Joanne Kathleen Rowling atau J.K. Rowling identik dengan Harry Potter. Ya dialah penulis novel-novel Harry Potter yang terkenal itu. Ada tidak kurang 450 juta novelnya dicetak. Inilah urutan film-film Harry Potter yang berhasil ditonton oleh jutaan orang di dunia: 1. Harry Potter and The Sorcerer’s Stone (2001) 2. Harry Potter and The Chamber of Secrets (2002) 3. Harry Potter and The Prisoner of Azkaban 4. Harry Potter and The Goblet of Fire (2005) 5. Harry Potter and The Order of The Phoenix (2007) 6. Harry Potter and The Half-Blood Prince (2009) 7. Harry Potter and The Deathly Hallows (2010-2011) Dibalik kesuksesan dan ketenaran karya-karyanya, tahukah anda bahwa JK Rowling pernah ditolak oleh beberapa penerbit? Ia diremehkan karena tidak punya pengalaman. Ia tidak dipercaya karena dia adalah perempuan miskin yang gagal dalam perkawinan. Namun ia berjuang, berjuang dan terus berjuang. Maria Magdalena awalnya diremehkan dan tidak dipercaya. Ceritanya tentang Yesus yang hidup dianggap omong kosong. Dua orang murid yang pulang ke Emaus juga diragukan. Mereka tidak percaya. Tetapi orang-orang ini terus bersaksi. Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Jangan putus asa jika anda tidak dipercaya. Jangan menyerah jika orang-orang menolak atau tidak menerima apa yang anda yakini. Terus maju dan berjuang untuk mewartakan keyakinan seperti Maria Magdalena. Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Gua Maria Jlegong banyak tanjakan, Sampai di puncak bisa lihat pemandangan. Jangan putus asa walau diremehkan, Terus berjuang dengan penuh keyakinan. Wonogiri, iman adalah perjuangan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 25 April2025
Jum’at Oktaf Paskah Yohanes 21: 1-14 UNGKAPAN dalam Bahasa Jawa ini secara harafiah berarti Tuhan tidak tidur. Ungkapan itu menyatakan bahwa Tuhan selalu hadir dalam kehidupan kita, terutama ketika kita mengalami beban hidup yang berat. Tuhan Allah senantiasa hadir dan berpihak bagi mereka yang kecil, tertindas, menderita dan terpinggirkan. “Gusti mboten sare” mau menyatakan keyakinan dari pihak manusia yang percaya dan berharap Allah akan segera bertindak. Inilah pengalaman para murid yang mengalami “Gusti mboten sare.” Mereka pergi ke danau Genesaret untuk menangkap ikan. Tetapi semalam-malaman mereka tidak mendapat apa-apa. Kerja keras tetapi tidak mendapat hasil apapun. Seperti sia-sia rasanya. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di tepi danau. Ia menyuruh para murid-Nya menebarkan jala ke sebelah kanan perahu. Mereka mengikuti perintah-Nya dan mendapatkan ikan yang banyak. 153 ekor!! Jika angka ini dijumlahkan, totalnya adalah 9, angka terbanyak, sempurna. Melihat peristiwa mengagumkan ini, murid yang dikasihi Tuhan langsung tahu bahwa (Orang) “itu adalah Tuhan.” Petrus langsung terjun ke danau dan menuju ke Yesus. Dalam hening dan kedamaian mereka bersatu dengan Kristus yang bangkit. Mereka mengalami penyertaan Tuhan. Sungguh Gusti mboten sare. Bagi kita sekarang, ‘Gusti ugi mboten sare.” Tuhan juga tidak diam tak peduli. Ia tetap hadir di tengah-tengah kita. Ia akan menolong kita yang sedang punya beban hidup, dalam tugas pekerjaan berat seperti yang dialami para murid. Yang kita perlukan adalah peka seperti murid yang dikasihi itu. Ia bisa melihat kehadiran Tuhan yang nyata. Apakah hati kita juga peka akan kehadiran Tuhan di tengah pergumulan hidup kita? Tuhan dimana pun dan kapan pun selalu hadir untuk menolong kita, sadarkah hati kita akan penyertaan-Nya ketika kita sedang berbeban berat? Enaknya sayur pare, Dioseng tambahi pete. Gusti mboten sare, Ia hadir dari pagi sampai sore. Wonogiri, Yesus selalu menyertai Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 24 April 2025
Kamis Oktaf Paskah Lukas 24: 35-48 PERISTIWA Kebangkitan adalah sesuatu yang baru dan asing bagi para murid. Mereka sulit memahami bagaimana Yesus bangkit dari kematian. Masing-masing mempunyai pengalaman yang berbeda-beda. Dua orang murid yang pulang ke Emaus mendapati Yesus berjalan bersama mereka. Ia juga makan bersama saat memecah-mecahkan roti. Berbeda dengan para perempuan yang berjumpa dengan Yesus di makam. Mereka saling meragukan dan menganggap pengalaman itu sebagai omong kosong. Mereka bahkan salah menduga kalau Yesus itu adalah hantu. Secara bertahap dan perlahan-lahan, Yesus membimbing pemahaman mereka bahwa Ia sekarang bangkit dan hidup kembali. Yesus meminta ikan untuk dimakan. Mereka memberi-Nya ikan bakar, bukan ikan goreng. Yesus makan di hadapan mereka. Ini mau membuktikan bahwa Ia bukan hantu seperti yang mereka kira. Hantu tidak makan ikan, tetapi makan kemenyan. Yang mau disampaikan intinya adalah bahwa Yesus sungguh-sungguh hidup lagi. Ia hadir secara nyata menyertai kita semua. Walaupun peristiwanya berbeda-beda tetapi intinya adalah Yesus hidup bersama kita. Ia masih hidup menyertai kita. Selama empat puluh hari Yesus membimbing mereka, menampakkan Diri kepada mereka. Saat bekerja menjala ikan, saat dalam perjalanan, saat di rumah dan dimana pun, Yesus tetap hidup menyertai dan mendampingi kita. Peristiwa Paskah adalah saat ketika kita menyadari dibimbing, ditemani, dituntun oleh Tuhan Yesus. Kita sadar bahwa Dia ada bersama kita dalam suka duka perjalanan hidup kita. Sadarilah bahwa Yesus ada di dekat kita. Itulah Paskah kita. Yesus hadir di mana pun bersama kita. Pernahkah kita mengalami Paskah? Naik perahu diombang-ambing di samudera, Terbawa arus sampai di daratan singapura. Paus Fransiskus adalah Bapa dan Gembala, Ia menghadirkan Kristus yang penuh cinta. Wonogiri, Yesus bersama kita Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 23 April 2025
Rabu Oktaf Paskah Lukas 24: 13-35 ADA banyak orang mengalami kehilangan harapan. Mereka putus asa menghadapi persoalan hidup dan masa depan yang sangat gelap. Hal ini telah dialami oleh ribuan karyawan PT. Sritex di Sukoharjo, Solo yang dirumahkan. Mereka mengalami kebingungan dan putus asa. Apalagi menjelang lebaran aneka kebutuhan pokok melambung tinggi. Sedangkan pesangon tidak segera dicairkan. Mereka harus menghidupi keluarga. Harapan yang melambung tinggi akhirnya terpuruk oleh pepesan kosong. Sebelumnya mereka berharap pada janji pemerintah yang mengatakan bahwa tidak akan ada PHK. Ternyata janji tinggal janji. Orang Jawa bilang, “Esuk dhele sore tempe.” Pemimpin yang “mencla-mencle” tidak dapat dipercaya. Banyak orang mengalami kekecewaan menghadapi realita hidup. Slogan “Indonesia Gelap” menunjukkan apa yang diharapkan masyarakat tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Situasi kekecewaan, putus asa dan muram itulah yang sedang dialami dua orang murid yang pulang ke Emaus. Mereka mempunyai harapan tinggi terhadap Yesus. Mereka berharap Yesus bisa membebaskan Israel dari penindasan Romawi. Tetapi harapan itu kandas karena Yesus mati di kayu salib. Mereka putus asa. Mereka pulang kampung dengan muka muram. Bahkan mereka dinilai sebagai orang yang bodoh dan lamban hati. Yesus datang menemani perjalanan mereka. Yesus menjelaskan bahwa Mesias harus menderita semua itu untuk menyelamatkan seluruh bangsa. Ia juga menjelaskan isi kitab suci yang menubuatkan tentang Mesias. Mereka sedikit mengalami pencerahan. Ketika dalam perjamuan (Ekaristi) Yesus memecah-mecah roti, mereka baru tersadar bahwa Yesus sejak tadi berjalan bersama mereka; menemani, menuntun, membimbing langkah mereka. Dalam Ekaristi, Tuhan hadir menguatkan para murid yang putus asa dan sedih. Kita tidak berjalan sendirian. Tuhan senantiasa hadir di tengah kesulitan dan keputusasaan. Marilah kita tetap terbuka terhadap kehendak-Nya. Tuhan hadir dalam peziarahan hidup kita. Kita tidak berjalan sendiri. Indonesia sedang gelap gulita, Di langit ada matahari kembar tiga. Kalau kita gagal dan putus asa, Cari teman yang bisa diajak bicara. Wonogiri, jangan putus asa, Tuhan selalu ada. Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 22 April 2025
Selasa Oktaf Paskah Yohanes 20: 11-18 ROMO MARTONO pernah menjadi pamong di Seminari Menengah Mertoyudan. Dia mampu mengenali semua siswa. Tidak hanya siswa di Medan yang dia pamongi, tetapi juga murid-murid di medan lain. Dia hapal nama-nama para seminaris. Dia mudah bergaul dan sering terjun langsung dalam kegiatan para seminaris. Mulai dari opera bersama, olahraga dan bahkan dia tidak sungkan-sungkan makan bersama siswa di refter besar. Kalau dia memimpin misa, saat membagi komuni, dia menyebut satu per satu nama siswa yang maju. “Tubuh Kristus, Sandy. Tubuh Kristus Tomy, Tubuh Kristus Hari, Tubuh Kristus Lastsendy.” Menyebut nama tidak sekedar tahu, tetapi dia mengenal secara pribadi dan dekat dengan murid-muridnya. Menyebut nama berarti juga mempunyai relasi yang kuat dan mendalam. Ketika Maria Magdalena sedang bingung, sedih dan putus asa, dia tidak mengenali siapa yang ada didekatnya. Yesus menampakkan diri di situ, tetapi Maria Magdalena tidak menyadarinya. Bahkan Maria menduga orang itu sebagai tukang penjaga taman. Kebingungan sering membutakan mata. Kebimbangan mudah menggelapkan hati. Keputusasaan sering mengacaukan pikiran. Maria tidak mampu mengenali siapa yang berada di dekatnya. Baru setelah Yesus menyapa namanya, “Maria,” ia tidak lupa suara khas dan intim yang sering memanggilnya. Panggilan mesra seseorang akan menggugah hati dan ingatan akan adanya relasi khusus. Maria langsung hapal pada suara itu. Ia langsung menjawab, “Rabuni.” Hanya Yesus Sang Guru yang punya suara itu. Ia langsung sujud menyembah-Nya. Dialah perempuan pertama yang didatangi Yesus setelah kebangkitan-Nya. Tidak hanya dikasihi, Maria juga diutus menjadi pewarta kebangkitan yang pertama. “Aku telah melihat Tuhan,” adalah pewartaan Maria untuk mengawali tumbuhnya iman bagi murid-murid yang lain. Apakah kita juga berani menjadi pewarta kabar sukacita kepada orang lain? Apakah Maria Magdalena bisa menginspirasi kita untuk berani bersaksi di tengah ketakutan, kesedihan dan keputusasaan dunia saat ini? Minum juice segar di hari siang, Sambil berendam di tengah kolam. Menyebut nama dengan sayang, Tanda relasi yang makin mendalam. Wonogiri, mengenal secara mendalam Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 21 April 2025
Senin Oktaf Paskah Matius 28: 8-15 DALAM dunia modern yang dijejali dengan berbagai informasi ini, kita mesti hati-hati dan waspada. Ada banyak berita-berita bohong yang disebar tanpa sumber yang pasti. Berita hoax atau kabar bohong dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk mencari keuntungan pribadi atau korporasi. Orang-orang munafik cenderung memanipulasi kebohongan untuk tujuan yang egoistik dan pragmatis. Orang-orang seperti ini pandai membuat alasan-alasan logis untuk membenarkan tindakannya. Kata-katanya sangat logis dan masuk akal. Kaum munafik itu sering melakukan kebohongan tanpa merasa bersalah. Secara psikologis, mereka cenderung narsistik, ingin berkuasa, butuh pengakuan sosial, suka puji-pujian yang melambungkan harga diri. Mari kita pelajari apa yang dilakukan para imam-imam kepala berhadapan dengan peristiwa kebangkitan. Merekalah yang dikritik oleh Yesus sebagai kaum munafik. Mereka adalah para pemimpin agama yang punya kekuasaan. Mereka sering tampil dihormati di depan umum. Mereka punya banyak pengagum dan pengikut fanatik. Pastilah jika orang banyak mengetahui bahwa Yesus bangkit, orang-orang akan meninggalkan mereka. Maka dibuatlah kebohongan yang sistematis agar khalayak ramai tidak mempercayai apa yang disampaikan para murid. Mereka menyuap para penjaga makam dengan memberi uang. Kebohongan sistematik melibatkan banyak kelompok; imam-imam kepala; tua-tua; para serdadu, wali negeri, juga harus ada modal yang besar. Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa." Sebagai murid Kristus, kita diajak memberitakan kebenaran. Jangan percaya – apalagi menyebarkan berita bohong. Kemunafikan pada saatnya akan terbongkar. Kebenaran selalu mencari jalannya sendiri. Tetaplah konsisten berpijak pada nilai-nilai kebenaran. Hidup akan aman dan damai. Habis bensin langsung beli pertamax, Mau beli barang bekas di pasar loak. Jangan suka sebarkan berita hoax, Hidup bisa hancur lebur dan soak. Wonogiri, wartakan kebenaran dan kedamaian Rm. A. Joko Purwanto,Pr Puncta 20 April 2025
Minggu Paskah Yohanes 20: 1-9 AGATHA CHRISTIE adalah penulis novel detektif yang handal. Ia punya tokoh detektif cerdik yang mampu memecahkan berbagai kasus-kasus pelik dan sulit. Hercule Poirot nama detektif itu. Novel-novel Agatha sangat disukai oleh pembacanya. Ia pintar mengajak pembaca ikut larut dalam teka-teki persoalan pembunuhan. Judul-judul novel ini sangat familier di tangan pembaca; Pembunuhan Roger Ackroyd, Kematian di Sungai Nil, Pembunuhan di Orient Express. Poirot sering menemukan jejak-jejak kecil yang dtinggalkan oleh pembunuhnya. Misalnya, tiket kereta api, sapu tangan, tissue atau cangkir minuman. Barang-barang itu menjadi pintu masuk mengembangkan motif terjadinya pembunuhan. Membaca Injil Yohanes dalam perikope ini serasa membaca kisah detektif tentang peristiwa kebangkitan. Ada banyak teka-teki tentang kebangkitan. Bahkan para pemimpin Yahudi mengarang cerita bahwa murid-murid mencuri jenasah-Nya untuk mengelabui banyak orang. Mereka menyuap para prajurit untuk menyebarkan berita bohong itu. Namun penulis Injil menceritakan dengan detail bagaimana Petrus dan murid yang lain melihat bukti kecil berupa kain. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Bagaimana seorang pencuri bisa meninggalkan kain peluh yang sudah tergulung rapi berada di dekat kain kafan yang dipakai mengafani jenasah Yesus? Tidak mungkinlah pencuri melipat dengan rapi kain peluh dan kain kafan dan meninggalkannya dengan tertata. Kain peluh dan kain kafan itu memberi jejak kecil. Belum menjadi kesimpulan, tetapi mengarah bahwa Yesus tidak ada di makam. Sabda Yesus sendirilah yang mengingatkan mereka bahwa Ia akan bangkit pada hari ketiga. Setelah mereka mempelajari Kitab Suci, mencocokkan dengan bukti-bukti di lapangan, mereka baru mengerti dan meyakini bahwa Yesus bangkit dari kematian. Iman memerlukan proses setahap demi setahap. Para murid pun perlahan-lahan dibimbing memahami dan menjadi percaya kepada Kristus yang bangkit. Bagaimanakah dengan proses iman kita kepada Tuhan? Marilah kita berproses, cermat melihat tanda-tanda dan peka membuka hati kepada Tuhan. Jalan-jalan di Matahari. Tidak panas malah sejuk di hati. Kebangkitan adalah misteri, Dengan iman kita bisa memahami. Wonogiri, selamat Paskah 2025 Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 19 April 2025
Sabtu Suci Lukas 24: 1-12 KEMATIAN selalu membawa kehilangan. Kematian meninggalkan perasaan duka yang mendalam, kesedihan yang menyesakkan. Demikian itu yang dialami oleh para perempuan yang mengikuti Yesus. Selayaknya tradisi waktu itu, mereka datang ke kubur untuk memburati jenasah Yesus dengan rempah-rempah. Duka dan kesedihan mereka yang belum habis, ditambahi lagi dengan peristiwa yang tak disangka-sangka. Batu penutup kubur sudah terguling dan mayat Yesus tidak ada di dalam kubur. Mereka termangu, bimbang dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Pertanyaan besar menghujam pikiran mereka. Apa yang terjadi? Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan. Kalimat ini mengingatkan pembaca Injil dengan peristiwa Yesus berubah rupa di atas gunung dan saat Yesus terangkat naik ke surga. Ada dua orang berdiri dengan pakaian yang berkilau-kilauan. Ini adalah peristiwa kemuliaan Yesus seperti di Gunung Tabor dan Bukit Zaitun saat Yesus naik ke surga. Kebangkitan adalah peristiwa mulia yang hanya bisa dimengerti dengan kacamata iman. Bagi mereka yang percaya, perlahan-lahan dibimbing oleh Tuhan untuk memahami peristiwa itu. Pesan dua orang yang berpakaian berkilauan itu menjelaskan apa yang sedang mereka alami. "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga." Yesus hidup. Ia bangkit dari kematian. Itu telah dikatakan sebelumnya kepada para murid-Nya. Merekalah yang kemudian menjadi pewarta pertama tentang kebangkitan. Para perempuan itu menjadi “Apostola Apostolorum” pemberita pertama kepada para rasul. Para perempuanlah yang pertama-tama mendapat berita kebangkitan. Mereka yang pertama mengabarkan kepada para murid yang lain. Kendati para murid tidak percaya, namun mereka menjadi pekabar pertama. Kebangkitan Kristus membawa dukacita menjadi sukacita, kesedihan menjadi kegembiraan. Gelap menjadi terang, kematian menjadi kehidupan. Putus asa menjadi berpengharapan. Hidup menjadi lebih bercahaya. Habis gelap terbitlah terang, Kartini Pahlawan perempuan. Hari Paskah sudah datang, Yesus bangkit bawa keselamatan. Wonogiri, selamat Hari Raya Paskah Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 18 April 2025
Jum’at Agung Pengenangan Wafat Kristus Yohanes 18:1 – 19:42 RAYMOND KOLBE kecil lahir di Polandia tahun 1894. Ia masuk menjadi imam Fransiskan pada 1907 dan mengambil nama Maximilianus. Rasa cinta dan hormatnya kepada Bunda Maria, menggerakkan hatinya untuk menambahkan nama itu menjadi Maximilianus Maria Kolbe. Pada tahun 1938, tentara Nazi menyerbu Kota Immaculata Polandia. Pada tahun 1941, kaum Nazi menangkap Pastor Maximillianus Kolbe. Mereka menjatuhkan hukuman kerja paksa di Auschwitz. Baru tiga bulan di kamp, ada tahanan yang melarikan diri. Kaum Nazi mengambil 10 orang secara acak untuk dihukum mati di bunker kelaparan. Salah satu dari mereka adalah Franciszek Gajowniczek, seorang suami yang harus menghidupi istri dan anak-anaknya. Ia merengek dan memohon agar tidak dihukum mati. Pastor Maximillianus Kolbe merasa iba dan jatuh belas kasihannya. Ia minta kepada komandan Nazi untuk menggantikan Franciszek Gajowniczek. Pastor itu digiring masuk bunker bersama 9 orang lainnya tanpa diberi makan. Di dalam bunker, Maximilianus menghibur, menguatkan dan mendoakan mereka. Sampai akhirnya mereka semua mati kelaparan. Maximilianus akhirnya disuntik carbolic acid untuk mempercepat kematiannya pada tanggal 14 Agustus 1941. Franciszek Gajowniczek hidup bahagia bersama keluarganya dengan usia lanjut. Ia menghadiri penghormatan kanonisasi Pastor Maximilianus Kolbe di Vatikan tahun 1982 oleh Santo Yohanes Paulus II. Pada Jum’at Agung ini, kita merayakan Kristus yang wafat untuk menyelamatkan kita. Ia mengorbankan Diri-Nya agar kita memiliki kebahagiaan kekal bersama Bapa di sorga. Kristus mengambil kedudukan kita sebagai orang yang dihukum. Kita adalah orang-orang berdosa yang sepantasnya dihukum. Tetapi Kristus menggantikan kita agar kita bebas dari hukuman dan hidup bahagia sebagai anak-anak Allah. Janganlah sia-siakan hidupmu, karena hidupmu telah ditebus oleh darah Kristus. Jalan-jalan ke kota Jordania, Ada gurun ditumbuhi kaktus. Hidup kita sangat berharga, Karena ditebus darah Kristus. Wonogiri, Jum’at penuh berkat Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed