|
Puncta, 21 Februari 2026
Sabtu sesudah Rabu Abu Lukas 5:27-32 KETIKA bekerja di Afrika Selatan, Mahatma Gandhi pernah mengalami penindasan dan ditolak karena warna kulitnya yang berbeda. Suatu kali Gandhi naik kereta api menuju Yohanesburg. Ia sudah membeli tiket di kelas eksekutif. Namun dia diusir dan diperintah dengan paksa agar keluar dari gerbong karena warna kulitnya. Ia tidak diperbolehkan duduk bersama dengan kaum kulit putih. Waktu itu pemerintah Afrika Selatan menerapkan sistem politik apartheid. Pelecehan, penolakan, penghinaan dan kebencian karena warna kulit masih terjadi sampai sekarang. Belum lama ini pemain sepak bola Real Madrid, Vinicius Junior dibully dan disoraki penonton karena warna kulitnya setelah ia menjebol gawang lawannya. Orang membeda-bedakan dan merendahkan sesamanya karena warna kulit, status sosial, gender, etnis, ras dan agama. Perilaku rasisme ini masih tertanam dalam diri orang sampai sekarang. Zaman dahulu, Yesus dan murid-muridnya juga mengalami perlakuan rasis dari kaum Farisi dan ahli-ahli Kitab Yahudi. Mereka membedakan dan menganggap hina para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Siapa saja yang bergaul dengan mereka dianggap pendosa dan harus dikucilkan di tengah masyarakat. Ketika Yesus memanggil Matius, si pemungut cukai, dia mengundang Yesus untuk makan bersama di rumahnya. Tindakan rasis dialami Yesus ketika orang-orang Farisi bertanya, “Mengapa Engkau duduk makan bersama dengan para pendosa?” Maka Yesus menjawab, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan memanggil orang benar, tetapi untuk orang berdosa.” Kaum Farisi memandang diri sebagai orang benar dan suci. Mereka membedakan diri dengan kaum pendosa dan rakyat jelata yang rendah. Mereka mengambil jarak dan tidak mau bergaul dengan pemungut cukai. Sikap membeda-bedakan dan merendahkan orang lain ini dikecam oleh Yesus. Ia berpihak kepada siapapun tanpa membeda-bedakan. Ia duduk makan bersama tanpa mengadili dan merendahkan. Pada masa prapaskah ini, kita diajak untuk bertobat dan meninggalkan sikap arogan dan merasa paling hebat dan benar. Kita harus menghargai dan menerima siapapun tanpa membedakan apa sukunya, status sosial, etnis dan agamanya. Semua orang sama kedudukannya di hadapan Tuhan. Sepercik pantun buat anda: Hari Jum’at adalah hari berpuasa, Mata melirik menu ikan di restoran. Jangan bertindak rasis terhadap sesama, Kita semua semartabat di depan Tuhan. Wonogiri, jangan membeda-bedakan Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed