|
Puncta 14 November 2025
Jumat Biasa XXXIII Lukas 17.26-37 KETIKA kami mengadakan kunjungan keluarga di Nglangkir, Manyaran, kami ngobrol dengan Pak Tardi. Beliau cerita bahwa sebelum kejadian tsunami Aceh, anaknya yang polisi bertugas di sana. Pada tanggal 24 Desember, anaknya mendapat cuti pulang ke Wonogiri untuk merayakan Natal bersama keluarga. Namun betapa terkejutnya dia, ketika ada berita bahwa Aceh diterjang tsunami sehari setelah Natal. Minggu, 26 Desember 2004 ada gempa dahsyat berkekuatan 9,3 SR di Samudera Hindia, 250 KM dari Barat Daya Aceh. Lalu disusul gelombang besar berkecepatan 800km/jam menerjang Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Barat, dan Aceh Jaya, menghancurkan segala sesuatu yang ada di jalurnya. Ketika Pak Anton sang Polisi kembali ke asramanya di Aceh, tempat itu sudah rata dengan tanah dan semua rekan kerja yang bertugas disana waktu itu meninggal menjadi korban. Tidak kurang dari 170,000 orang tewas jadi korban tusnami Aceh. Yesus menggambarkan akhir zaman sebagai kejadian yang tidak bisa diduga sebelumnya. Sama seperti zaman Nuh dan Lot waktu itu. Orang makan dan minum, kawin dan dikawinkan, membeli dan menjual, menanam dan membangun. Semua berjalan normal seperti biasanya. Air bah datang tiba-tiba. Hujan api turun tanpa diduga, menghancurkan semuanya. Begitupun kedatangan Anak Manusia tanpa dapat diprediksikan sebelumnya. Seperti bencana tsunami juga tak bisa diperkirakan. Keselamatan tidak tergantung dari harta duniawi. Sikap terikat pada harta duniawi akan menghambat orang untuk menyelamatkan diri. Yesus mengingatkan untuk tidak menoleh ke belakang, seperti istri Lot yang berubah menjadi tiang garam karena menoleh ke arah Sodom. Hal ini berarti kita tidak boleh kembali terikat pada masa lalu atau hal-hal duniawi. Barangsiapa yang berusaha mempertahankan hidupnya dengan mengumpulkan harta dunia akan kehilangan segalanya. Sebaliknya, barangsiapa yang menyerahkan hidupnya demi Kristus akan diselamatkan. Mari kita hanya mengandalkan Kristus saja sebagai Penyelamat dan Penebus agar kita memperoleh damai sejahtera bersama-Nya. Penari Bali pinter main mata, Gerakannya lincah kesini dan kesana. Kematian datang tanpa diduga, Kita harus siap siaga menerimanya. Wonogiri, siapkan diri senantiasa Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed