|
Puncta 8 Januari 2026
Kamis Biasa Sesudah Penampakan Tuhan Lukas 4:14-22a KEMERDEKAAN yang diproklamirkan Bung Karno bukan sekedar peristiwa politik, tetapi juga peristiwa spiritual. Dengan rahmat Allah dan didorong oleh keinginan luhur bangsa, maka Bung Karno menyatakan kemerdekaan Indonesia. Merdeka bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga keluar dari mental Inlander yang membelenggu dan menjadi bangsa mandiri yang bermartabat luhur. Soekarno sering berpidato pentingnya revolusi mental. Dari manusia terjajah menjadi manusia merdeka dan bermartabat. Ia ingin rakyat Indonesia tidak jatuh ke dalam mentalitas bangsa terjajah, minder, malas, dan munafik, ABS (Asal Bapak Senang), tidak korup, tidak serakah, tidak tunduk pada egoisme yang sempit. Revolusi mental ini dinamainya gaya “Hidup Baru.” Cara membangun hidup baru dilandaskan pada Pancasila sebagai way of life Bangsa Indonesia. Tetapi kita semua tahu, bagaimana nasibnya Pancasila sekarang, sudahkah menjadi gaya hidup kita? Yesus kembali ke Nasaret tempat asal-Nya sendiri. Dia mencanangkan semangat baru bagi orang-orang Nasaret bersumber pada Kitab Nabi Yesaya. "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." Yesus menawarkan sebuah revolusi mental. Ia mengajak mereka melakukan pembaharuan hidup yang didasarkan pada nilai-nilai ketuhanan. Tetapi orang-orang itu hanya kagum dan memuji pidato Yesus. Mereka tidak menerimanya. Mereka tidak mempercayai-Nya. Yesus langsung menohok kedegilan dan ketidakpercayaan mereka. Dikritik seperti itu, mereka marah dan mengusir Yesus. Sama halnya dengan kita. Pancasila itu sekarang sudah menjadi buku usang di perpustakaan. Nilai dan gaya hidup kita sudah jauh dari nilai-nilai Pancasila. Menyebut diri orang bertuhan, tetapi gaya hidupnya jauh dari Tuhan. Menyembah Tuhan sekaligus merusak alam ciptaan Tuhan. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tetapi keadilan hanya dirasakan oleh segelintir orang saja. Musyawarah untuk mufakat tetapi kebijakan dibuat untuk kepentingan yang berkuasa. Kekayaan alam dikuasai negara untuk kemakmuran rakyat, nyatanya kekayaan alam dijarah asing dan pejabat rakus. Revolusi mental hanya sebatas slogan saat kampanye, bukan menjadi way of life orang dalam hidup sehari-hari. Seperti orang-orang Nasaret yang menolak Yesus, mereka tidak mengenal the way of God’s life. Masihkah kita yakin Pancasila kembali menjadi nilai-nilai dasar hidup kita? Banyak kera turun dari hutan, Mereka cari biji kacang-kacangan. Yesus datang bawa perubahan, Revolusi mental bagi orang-orang. Wonogiri, agent of change Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed