|
Puncta 29 Januari 2026
Kamis Biasa III Markus 4: 21-15 KOMIKA Pandji Pragiwaksono dilaporkan ke polisi karena pementasannya di depan publik dianggap melecehkan pejabat negara. Kalau dilihat materi pentasnya, ia sedang menyuarakan apa yang terpendam di dasar pemikiran banyak orang. Panggung seni sudah sejak zaman dahulu digunakan banyak orang untuk ajang kritik sosial terhadap situasi dan kondisi masyarakat. Suara yang terpendam dan tersembunyi di akar rumput disampaikan dalam bentuk satire di panggung hiburan. Bukan hanya Pandji, dulu ada Butet Kartasedjasa, Teater Koma, Yayak Kencrit harus berurusan dengan aparat. Bahkan Widji Thukul sampai sekarang hilang tak tahu rimbanya karena menyuarakan situasi masyarakat yang tertindas. Yesus berkata kepada mereka: "Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.” Sekarang zaman makin terbuka. Media sosial adalah panggung terbuka yang bisa menyuarakan banyak hal tersembunyi dan rahasia. Jejak digital bisa ditelusuri untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi. Kalau kita bisa bersikap dewasa, suara-suara itu adalah otokritik yang dapat didengar untuk merefleksikan diri dan memperbaiki sikap atau perilaku. Kemarahan dan tindakan destruktif hanya menyatakan bahwa apa yang disuarakan itu ada benarnya. Coba anda lihat drama yang terjadi di Kabupaten Pati. Tokoh pendemo Bupati Pati yang didukung masyarakat malah ditahan polisi. Dan ternyata Bupati Pati sekarang kena tangkap KPK karena kasus korupsi. Rakyat mengadakan kenduri syukuran dan pawai sukacita di jalan. Tidak ada hal tersembunyi yang tidak akan tersingkap. Pepatah berkata, “Sepandai-pandai menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga.” Serapi apapun orang menyembunyikan kejahatan, keburukan atau kebohongan suatu saat akan tersingkap juga. Yesus menasehati kita semua, "Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu.” Kritikan orang di panggung bukan untuk menjatuhkan kita, tetapi menyadarkan kita agar bercermin dan memperbaiki diri tentang bagaimana kita mengukur orang lain dan diri kita sendiri. Tiap pagi makan telur itik, Biar wajah halus berseri-seri. Jangan alergi terhadap kritik, Itu ibarat cermin untuk diri sendiri. Wonogiri, syukuri saja kritik itu Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed