|
Puncta 28 Januari 2026
Pw. St. Thomas Aquinas, Imam dan Pujangga Gereja Markus 4:1-20 atau RUybs Matius 23:8-12 KALAU anda berziarah ke Holyland, anda akan melihat pemandangan mencolok dari Sinai menuju wilayah sekitar Danau Galilea. Mulai dari Gunung Sinai, seluas mata memandang hanyalah gurun pasir yang gersang, panas, tiada tumbuhan. Tetapi sesampai di daerah Danau Galilea, pemandangan hijau dari bukit yang satu ke bukit yang lain. Pohon angur, jeruk, zaitun, kurma, pisang, sayur-sayuran dan hasil pertanian menggambarkan kesuburan tanah di sekitarnya. Tanah yang subur adalah humus (bumi). Kata ini menjadi akar dari Humilis, lalu menjadi humility (kerendahan hati). Kerendahan hati menumbuhkan sikap-sikap keutamaan dalam diri manusia. Kesuburan keutamaan dimulai dari humility. Yesus menggambarkan sikap hati seseorang dengan sifat-sifat tanah yang menerima benih-benih sabda. Tanah tandus di pinggir jalan, tanah berbatu-batu, tanah yang penuh semak duri dan tanah yang subur. Tanah yang subur adalah humus. Orang yang punya kerendahan hati (humility) mampu menerima sabda dan mengolahnya sehingga menghasilkan buah berlipat ganda. Ada yang tigapuluh kali lipat, ada yang enampuluh kali lipat dan seratus kali lipat. Agar bisa menjadi tanah yang subur dibutuhkan sifat humility atau kerendahan hati. Kerendahan hati untuk menerima sabda dan kehendak Allah. Dibentuk dan dioleh oleh rencana Allah. Sabda Allah itu harus dirawat dan dipelihara, diresapkan dan diterapkan dalam hidup yang nyata. Kerendahan hati adalah seperti humus, tanah yang subur. Dia akan menghasilkan buah-buah bagi kehidupan. Maukah anda menjadi humus ? Ke pasar membeli rempah-rempah, Yang jual seperti Siti Nurhalizah. Hidup harus menghasilkan buah, Jadi tanah yang subur adalah berkah. Wonogiri, menjadi tanah subur Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed