|
Puncta 20 Januari 2026
Selasa Biasa II Hari Ketiga Pekan Doa Sedunia Markus 2:23-28 PADA suatu hari Minggu di sebuah paroki diterimakan sakramen krisma oleh Bapak Uskup. Sebelum misa, pastor paroki mengingatkan kepada Bapak Uskup bahwa misa di paroki ini biasanya berlangsung hanya satu jam saja. Umat sudah “ngedumel” kalau misanya lama. Maka Bapak Uskup diminta untuk mentaati aturan yang sudah berlangsung lama di paroki itu. Pastor paroki mengajak Bapak Uskup ke sakristi dan menunjukkan sebuah tulisan di atas kaca hias yang mengingatkan semua imam agar mengatur waktu supaya misa hanya berlangsung selama satu jam saja. Bagaimana mungkin penerimaan krisma hanya satu jam kalau pesertanya ada ratusan orang? Aturan yang tidak masuk akal. Dan lagi, bukankah Bapak Uskup adalah yang punya paroki di seluruh keuskupannya? Bagaimana mungkin pastor paroki yang hanya pembantu uskup mengatur pemimpin tertinggi di keuskupannya? Hari ini dalam Injil, orang-orang Farisi mengingatkan Yesus karena murid-murid-Nya melangar aturan hari Sabat. Mereka memetik gandum dan memakannya pada hari Sabat. Tindakan ini melanggar aturan. Kaum Farisi adalah orang-orang yang menganggap diri taat beragama dan saleh. Seolah mereka adalah yang paling benar dan menyalahkan orang lain yang salah. Tetapi tuduhan ini hanyalah kemunafikan agar mereka dianggap paling benar. Yesus menegaskan bahwa Anak Manusia adalah penguasa segala waktu. Yesus berkata kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat." Aturan dibuat oleh manusia, bukan manusia diperbudak oleh aturan. Aturan dibuat demi keselamatan dan kebahagiaan banyak orang, bukan untuk membelenggu dan menyiksa orang. Demi keselamatan dirinya dan para prajuritnya, Daud masuk ke Bait Allah dan makan roti persembahan karena mereka semua lapar. Secara aturan roti itu hanya boleh dimakan oleh imam besar. Tetapi demi keselamatan para prajurit, Daud mengambil roti itu. Hal itu dibenarkan dan bisa diterima. Apakah karena Daud, kepala pasukan yang melanggar sehingga tidak dihukum? Sedangkan para murid hanyalah rakyat jelata sehingga dipermasalahkan? Aturan tidak boleh tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Kalau mau diterapkan, aturan tidak boleh pandang bulu. Semua sama di hadapan hukum. Apakah kita berlaku seperti kaum Farisi yang suka menghakimi orang lain dan merasa diri paling benar dan saleh di atas mereka? Hati-hatilah…….! Sepercik pantun: Cari sembako di dalam gudang logistik, Untuk membantu bencana kelaparan. Jangan bertindak seperti kaum munafik, Suka menghakimi, tak mau disalahkan. Wonogiri, awas ada topeng kemunafikan Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed