|
Puncta 15 Februari 2025
Sabtu Biasa V Markus 8: 1-10 TIDAK ada angka yang paling favorit menurut banyak orang selain angka 7. Angka ini sering muncul dalam berbagai peristiwa dan kejadian. Istilah “Lucky number seven” sudah dikenal oleh banyak orang di belahan bumi ini. Orang Jawa menyebut angka tujuh dengan sebutan “Pitu.” Angka ini diartikan sebagai “Pitulungan” atau pertolongan dan keberuntungan dari yang di atas. Coba perhatikan ada tujuh warna pelangi, ada tujuh benua di bumi kita. Istilah kuno “Seven Seas” mau menggambarkan luasnya samudera kita. Tuhan menciptakan alam semesta dan pada hari ke-tujuh Tuhan beristirahat. Semua serba tujuh. Angka Tujuh adalah angka keramat dan bertuah di Klub sepak bola Manchester United. Mereka yang memakai angka tujuh adalah pemain-pemain hebat dan berkharisma seperti George Best, Bryan Robson, Eric Cantona dan David Bekham. Pemain grup band Korea, BTS beranggotakan tujuh orang. Mereka mendapat penghargaan grammy award pada tahun ketujuh karier mereka. Angka yang luar biasa bukan? Dalam Gereja angka tujuh menunjuk jumlah sakramen dalam gereja. Baptis, Ekaristi, Krisma, Pengampunan dosa, perkawinan, imamat dan perminyakan suci. Pusat dari seluruh sakramen itu adalah Ekaristi. Ekaristi didasarkan pada peristiwa Yesus mengambil roti, mengucap berkat dan membagi-bagikannya kepada orang banyak. Yesus membuat mukjizat dari tujuh roti dan memberi makan kepada empat ribu orang. Sisanya ada tujuh bakul. Bukan soal angkanya yang penting, tetapi peristiwa ini menyatakan bagaimana Allah senantiasa memelihara hidup kita. Dengan memberi makan, Yesus menunjukkan Allah itu berbelas kasih pada kita. Yesuslah Roti Kehidupan bagi kita. Inilah pentingnya Ekaristi bagi kita. Pagi-pagi duduk di meja kerja, Ada secangkir kopi dari Toraja. Ekaristi adalah makanan rohani kita, Tidak cukup hanya makan roti saja. Wonogiri, indahnya berbagi cinta Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Puncta 14 Februari 2025
PW. St. Sirilus, Rahib dan St. Metodius, Uskup Markus 7: 31-37 BAYAT adalah sebuah desa di Klaten. Di sana ada Gua Maria “Marganingsih.” Ingat Bayat, kita ingat almarhum Romo Soenarwijaya SJ dan Romo A. Sandiwan Brata, Pr, karena beliau-beliau berasal dari Bayat, Klaten. Sebelum sampai di Gua Maria, kita melewati toko-toko penjual kerajinan dari tanah liat atau orang Jawa menyebut “Grabah.” Benda itu bisa berbentuk pot, kendi, cobek, jun atau klenthing, dan barang hiasan lainnya. Tukang grabah menciptakan pot atau kendi dari tanah liat. Tanah diolah dengan air sampai lembut. Lalu dibentuk dengan tangannya di meja pencetakan. Kadang belum sempurna, harus dirusak dan dimulai dari awal lagi, sampai jadi indah dan baik. Peristiwa Yesus menyembuhkan orang yang tuli dan yang gagap kali ini mengingatkan akan kisah penciptaan manusia dalam Kitab Kejadian. Hal ini dipertegas dengan kalimat orang banyak yang menyatakan: "Ia melakukan segala-galanya dengan baik; yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata." Kita diingatkan akan pernyataan bahwa "Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik." Kita menjadi Katolik tidak otomatis menjadi sempurna. Masih ada banyak cacat cela dan kerusakan dalam diri kita. Maka kita terus memohon kepada Tuhan untuk memperbaiki kita. Kita ini berasal dari tanah. Biarkan Tuhan yang membentuk kita. Kita hanya siap sedia jika proses penciptaan itu terus berlangsung. Kadang hidup kita hancur, berantakan, gagal, jatuh dan pecah. Biarlah Tuhan membentuk kita kembali menjadi indah dan bagus lagi. Ingatlah bahwa kita masing-masing diciptakan baik adanya oleh Tuhan. Bisa jadi sekarang kita sedang mengalami pembentukan kembali untuk diperbaiki oleh Tuhan. Setelah jalan di Pantai Drini, Jangan lupa santap ikan dan nasi. Cobaan datang silih berganti, Jangan biarkan doamu berhenti. Wonogiri, dibentuk kembali Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 13 Februari 2025
Kamis Biasa V Markus 7: 24-30 SEORANG ibu datang dengan menangis karena kakaknya masuk ke rumah sakit harus menjalani operasi di kepala. Ada pembuluh darah yang pecah di otaknya. Harus segera dilakukan pembedahan. Dia membutuhkan biaya yang tidak sedikit karena kebetulan BPJS-nya sudah lama nunggak. Ibu ini menghadapi beban kesulitan yang berat. Ia terus berdoa semoga Tuhan menolong memberi jalan bagi kesembuhan kakaknya. Di saat bersamaan anaknya sedang menjalani test masuk di SMA di Muntilan. Doanya tidak pernah berhenti. Hanya Tuhan saja yang menjadi andalan. Untunglah anaknya diterima. Tuhan mendengarkan doanya. Tetapi dia membutuhkan surat pengantar dari Pastor Paroki. Dia ditolak pastor paroki yang berasumsi bahwa dia meminta surat keringanan biaya. “Saya tidak bisa menolong. Tidak bisa lewat “orang dalam,” kata Pastor. Ibu ini menjelaskan bahwa yang diperlukan adalah surat keterangan sebagai umat dan aktif di paroki. Ia dikira mencari "katebelece." “Saya umat miskin, tetapi saya berusaha membiayai anak semampu saya. Hanya surat keterangan saja yang saya perlukan agar anak saya bisa melengkapi persyaratan masuk sekolah,” katanya sambil “ngelus dada.” Yesus ditemui oleh seorang ibu dari Siro Fenisia, yang anaknya sakit kerasukan setan. Mungkin karena lelah seharian telah bekerja, kedatangan-Nya dirahasiakan supaya orang tidak mengetahui-Nya. Tetapi Ibu ini tahu dan langsung sujud memohon kepada-Nya. Karena tidak mau diganggu, Yesus tidak menanggapi dan berkata, "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Perempuan itu ditolak. Bahkan direndahkan seperti anjing. Tetapi dia tidak putus asa. "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak." Dia tetap sabar dan rendah hati disamakan dengan anjing. Yang penting anaknya sembuh. Dan benar, Tuhan melihat iman ibu ini sangat kuat. Tuhan berkata, "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu." Tuhan kadang menguji kesabaran dan ketekunan kita. Ibu dari Siro Fenisia itu menunjukkan kerendahan hati, ketekunan dan kesabarannya. Mari kita terus sabar dan tekun meminta dengan percaya kepada Tuhan. Jalan-jalan di Negeri Gajah, Singgah dulu di Singapura. Orang sabar dikasihi Allah, Yang rendah hati disayangi-Nya. Wonogiri, tetap sabar dan rendah hati Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 12 Februari 2025
Rabu Biasa V Markus 7: 14-23 DARI Kitab Kejadian kita membaca bagaimana Tuhan menjadikan segala sesuatu baik adanya. Manusia ditempatkan di Taman Eden dalam kondisi yang baik, bersih, damai sejahtera. Semua diciptakan baik demi keselamatan kita. Kehancuran mulai ketika hati manusia diliputi keserakahan. Apa yang dilarang oleh Tuhan dilanggar manusia karena hati yang jahat dan serakah. Segala kebaikan dan kejahatan dimulai dari hati manusia sendiri. Pesawat terbang diciptakan untuk sarana transportasi yang cepat. Tetapi ada orang yang punya niat jahat untuk menghancurkan Gedung WTC di Amerika sana. Aplikasi-aplikasi modern seperti FB, WA, TikTok, Youtube, Instagram diciptakan untuk membantu manusia. Tetapi orang jahat menggunakannya untuk menipu, memeras, menyebarkan berita bohong dan lainnya. Alfred Nobel menemukan dinamit pada awalnya bukan untuk membunuh orang, tetapi untuk memecahkan bebatuan. Tetapi oleh tentara dinamit dipakai untuk senjata perang. Nobel menyesali temuannya yang disalahgunakan orang. Dia mempersembahkan seluruh kekayaannya untuk perdamaian dunia sebagai Hadiah Nobel. Begitu juga pisau, keris, atau benda tajam lainnya. Benda-benda itu diciptakan untuk membantu manusia, bukan untuk berbuat jahat. Hati manusia yang jahatlah yang membuat benda itu menjadi alat mematikan. Yesus berkata, “Dari hati yang kotor akan timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, dan kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang“. Ia mengajar kepada kita bahwa bukan karena kodratnya alam ciptaan menjadi baik atau jahat, haram atau halal; melainkan karena sikap hati kita. Kalau hatinya jorok, pikirannya “ngeres,” nafsunya tak terkendali, ngeliat patung telanjang saja sudah panas dingin basah kuyub. Lalu patung harus ditutupi kain. Patung tidak salah. Yang ngeres itu hati manusianya. Mari kita mengelola hati kita. Karena bukan dari luar yang menajiskan kita tetapi justru dari dalam hatilah segala yang jahat bisa terjadi. Terhuyung-huyung harus dipapah, Karna disepak kaki Jerapah. Hati yang tulus membawa berkah, Hati yang jahat karena serakah. Wonogiri, murnikanlah hatimu Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 11 Februari 2025
Hari Orang Sakit Sedunia Markus 7: 1-13 KONFLIK Yesus dengan kaum Farisi berkisar pada peraturan adat istiadat dan perwujudan iman kepada Allah. Kaum Farisi lebih menekankan aturan-aturan yang dibuat oleh nenek moyang. Aturan-aturan itu didewakan sehingga orang dianggap berdosa kalau tidak melakukannya. Orang jatuh pada legalisme aturan sehingga mengabaikan perintah Tuhan. Kaum Farisi menjunjung aturan-aturan tak tertulis para rabi. Ada 613 kumpulan aturan yang menjadi pedoman hidup sehari-hari. Yesus mengkritik kemunafikan dan kelaliman mereka. Aturan-aturan agama yang ditetapkan bertentangan dengan inti ajaran agama itu sendiri. Mereka melakukan aturan hanya untuk mencari pujian dan pameran kesalehan. Hipokrisi atau kemunafikan bisa terjadi di mana-mana. Bukan hanya di zaman Yesus saja, di zaman sekarang pun dapat kita lihat maraknya kemunafikan orang beragama. Kita bisa melihat ketidakadilan, korupsi, ketidaksetiaan dan kekerasan, terjadi dimana-mana, juga di dalam institusi agama. Rumah ibadah banyak bertebaran dimana-mana tetapi korupsi, kekerasan, penindasan dan persekusi juga merajalela. Maka Yesus mengatakan, "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia." Koruptor diadili di hadapan hakim memakai baju-baju agamis, biar kelihatan saleh sehingga hukumannya menjadi ringan. Tetapi di dunia nyata dia tega mengambil harta rakyat jelata yang menderita. Apakah kita bahagia dengan hidup berpura-pura? Apakah kita suka pamer kesalehan demi keuntungan ego semata? Yesus mengkritik kaum Farisi, tetapi Dia sedang mengkritik kita juga. Pergi ke Solo naik pedati, Jalannya pelan sampainya sore hari. Kita senang meniru kaum Farisi, Suka beribadah tapi lupa berdarma bakti. Wonogiri, malu jadi muna maya Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 10 Februari 2025
PW. St. Skolastika, Perawan Markus 6: 53-56 PAUS Fransiskus menggelari Suster Teresa dari Kalkuta dengan predikat Santa atau orang kudus pada tanggal 15 Maret 2016. Kekudusan Mother Teresa diwujudkan dengan kesetiaannya melayani orang-orang miskin, sakit dan terlantar di pinggir-pinggir jalan di Kalkuta, India. Suster bertubuh mungil dari Albania itu mengawali pelayanannya karena mendapat visiun dari Tuhan Yesus yang tergantung di salib. Yesus berkata kepada Teresa, “I thisty.” Aku haus, sabda Yesus. Dengan pengalaman rohani itulah Suster Teresa meninggalkan biaranya di Loreto dan mendirikan komunitas para suster Misionaris Cinta kasih (Missionaries of Charity). Bunda Teresa menolong orang-orang miskin, terlantar, sakit dan tersingkirkan. Di dalam diri mereka, Teresa mendengar kata-kata Yesus, "Aku haus." Bersama teman-temannya, ia memberi penghormatan akan hidup manusia. Bahkan mereka yang miskin dan tersingkir pun pantas mendapat perlakuan yang semartabat dengan manusia lainnya. Mereka yang sakit, lapar, haus, tidak punya rumah, tersingkir, sakit dan sekarat hampir mati dipandang sebagai perwujudan Yesus yang sedang haus, minta diberi minum. Teresa mengulurkan tangan untuk mereka. Pada perikope Injil hari ini, Yesus juga melayani banyak orang yang sedang sakit. Dimana pun Yesus berada, banyak orang sakit dibawa kepada-Nya untuk disembuhkan. Dengan belaskasih-Nya Yesus menolong dan menjamah mereka. Wajah belas kasih Allah inilah yang dihadirkan Yesus kepada mereka yang lemah, sakit dan tersingkir. Apakah kita sebagai murid-murid Yesus juga mau menampilkan wajah belas kasih Tuhan kepada mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir? Santa Teresa dari Kalkuta telah mengawalinya, apakah kita mau melanjutkannya untuk meneruskan kasih Yesus kepada semua orang? Menghantar romo pulang ke jalan Kaliurang, Rumah abadi bagi mereka yang tekun setia. Banyak orang membutuhkan kasih sayang, Maukah kita membuka tangan bagi mereka? Wonogiri, wajah Yesus ada di orang miskin Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 9 Februari 2025
Minggu Biasa V Lukas 5: 1-11 PADA Bulan Februari 2019, persis enam tahun yang lalu ada peristiwa bersejarah yakni pertemuan Paus Fransiskus dengan Imam Besar Al Azhar Sheikh Ahmed al Tayeb, menandatangani dokumen bersejarah tentang persaudaraan manusia untuk perdamaian dunia dan hidup berdampingan guna menangkal radikalisme dan terorisme. Paus juga mengadakan misa akbar di Stadion Sayed Sport City, Uni Emirat Arab. Paus mengarungi samudera dan masuk ke tempat yang dalam di jazirah Arab menyapa dan membangun persaudaraan kemanusiaan. Paus mengikuti sabda Yesus kepada Simon. “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan”. Paus menebarkan jala kasih dan persaudaraan dengan semua orang tanpa membedakan latar belakang agama. Kasih dan persaudaraan adalah bahasa universal manusia. Siapa pun yang beriman pada Tuhan pasti akan menebarkan kasih dan persudaraan kepada siapapun tanpa membeda-bedakan. Sebagaimana jala yang bisa menangkap berbagai macam ikan, demikian juga kasih dan persaudaraan yang dibawa Paus mampu menembus sekat-sekat perbedaan. Ia mampu menangkap ikan yang besar di Uni Emirat Arab. Kita kadang merasa takut pergi ke tempat yang dalam. Kita hanya memilih tempat yang “cethek-cethek” sehingga hanya ikan-ikan kecil yang kita dapat. Yesus mengajak Simon mencari tempat yang dalam. Laut yang dalam pasti banyak bahaya. Tetapi di sana kita bisa mendapat ikan yang banyak dan besar-besar. Simon berani mengikuti perintah Yesus. Ia mendapatkan hasil di luar dugaan. Kalau hanya mengikuti kemauan sendiri, sepanjang malam ia tidak mendapat apa-apa. Tetapi ketika kita mau mengikuti kehendak Tuhan, hasilnya sungguh mentakjubkan. Maukah kita mengikuti kehendak Tuhan? Naik motor sampai ke Tuban, Tersesat di tengah hutan Grobogan. Kalau kita setia pada Tuhan, Dia akan memberi berkelimpahan. Wonogiri, Tuhan, aku tidak layak Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 8 Februari 2025
Sabtu Biasa IV Markus 6: 30-34 KOMUNITAS imam-imam yang terinspirasi oleh cara hidup Charles de Foucauld sering malakukan kegiatan retret Padang Gurun. Mereka pergi ke tempat sunyi selama satu hari untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Padang Gurun hanya sebuah istilah untuk meninggalkan kesibukan sehari-hari, dan berhenti sejenak untuk menyepi. Tujuannya agar kita memperoleh kekuatan atau spirit baru dari Tuhan dalam melaksanakan tugas pelayanan sehari-hari. Pergi ke tempat sunyi juga bisa berarti beristirahat sebentar dari pekerjaan pelayanan yang dilakukan sepanjang hari. Seperti HP yang perlu dicharge agar bisa terus hidup, demikian juga semangat kita perlu disegarkan kembali. Sesudah melakukan tugas pelayanan, rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tugas pelayanan bisa menguras tenaga dan pikiran. Kalau hanya mengikuti tuntutan kerja, tidak akan ada habis-habisnya. Kita juga perlu mengolah batin dan mental kita agar tidak kehilangan arah dan spirit kerja. Yesus mengajak para murid-Nya untuk pergi ke tempat sunyi. Mereka diajak untuk menimba kekuatan spiritual, agar pelayanan mereka tetap satu visi dengan karya Tuhan. Mereka tidak kehabisan daya karena kelelahan dan beban yang berat. Kita juga membutuhkan waktu untuk pergi ke tempat sunyi, menyatu dan menimba kekuatan dari Tuhan. Seperti seorang yang menggergaji pohon, perlu duduk, diam istirahat sebentar, mengumpulkan tenaga agar punya kekuatan baru, kita juga perlu menyisihkan waktu untuk diam, pergi ke tempat sunyi bersama Tuhan. Pergi retret ke Tawangmangu, Tempatnya sunyi langitnya biru. Kita butuh semangat yang baru, Agar selalu happy banyak ngguyu. Wonogiri, happy dalam pelayanan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 7 Februari 2025
Jumat Biasa IV Markus 6: 14-29 PERKAWINAN bisa menjadi masalah ketika hadir pihak ketiga. Ada yang memberi istilah PIL (Pria Idaman Lain) atau WIL (Wanita Idaman Lain). Hadirnya pihak ketiga dalam sebuah perkawinan bisa mengakibatkan petaka. Inilah yang dialami oleh Herodes. Ia mengambil Herodias, istri Filipus, saudaranya. Tentu saja tindakan ini dikritik oleh masyarakat. Sebagai seorang raja seharusnya dia memberi contoh hidup yang baik. Nilai perkawinan sudah dijunjung tinggi sejak manusia diciptakan. Tidak hanya pada zaman Yesus, tetapi sejak awal mula, Allah telah mengatakan bahwa seorang laki-laki akan meninggalkan ayah ibunya dan bersatu dengan istrinya. Dalam Sepuluh Perintah Allah kepada Musa, juga dikatakan Jangan berzinah, Jangan mengingini istri sesamamu. Perintah ini sudah dijadikan pedoman hidup masyarakat. Maka ketika Herodes melanggar perintah ini, Yohanes Pembaptis menegur dan mengingatkan. Yohanes pernah menegur Herodes: "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!" Tetapi Herodes tidak terima diingatkan. Mereka sakit hati dan justru memenjarakan Yohanes dan memenggal kepalanya. Kehadiran Yesus dianggap sebagai kelanjutan karya Yohanes Pembaptis atau para nabi zaman dulu. Yesus mengajak semua orang hidup dengan baik seturut kehendak Allah. Namun manusia sering mencari jalannya sendiri. Herodes membangun keluarga dengan cara buruk. Ia tidak punya pendirian yang tegas. Herodes dan Herodias mendidik dan memperalat anaknya untuk mendendam. Mereka secara berjamaah menanam dendam kepada Yohanes. Bagaimana kehidupan keluarga akan bahagia kalau benih dendam dan kebencian selalu ditanamkan dan dipupuk bersama? Apakah anda juga akan meniru cara hidup Herodes bagi keluarga anda sendiri? Ke Palembang naik kapal terbang, Diberi empek-empek untuk sarapan. Belajarlah menerima kritikan orang, Kritik ibarat pupuk yang menyuburkan. Wonogiri, membangun keluarga dengan cinta Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 6 Februari 2025
PW. St. Paulus Miki, Imam dan Martir Markus 6: 7-13 BAPAK MICHAEL Trias Kuncahyono adalah Duta Besar Indonesia untuk Tahta Suci Vatikan. Ia menjadi duta besar ke 21 sejak Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan negara super kecil di dunia yaitu Vatikan. Ia dilantik tanggal 26 Juni 2023. Duta berarti utusan. Ia diutus oleh Presiden untuk merepresentasikan Bangsa Indonesia yang menjadi negara dengan mayoritas Muslim terbesar tetapi bisa hidup rukun dengan semua agama dan budaya. Pak Duta Besar mendapat tugas untuk memperkenalkan Indonesia yang merupakan Negara dengan beragam suku, etnis, budaya dan agama, dengan Pancasila yang mempersatukan semua. Pak Duta Besar menjadi jembatan antara Pemerintah Indonesia dengan Vatikan. Kita bisa melihat sendiri bagaimana tahun lalu Paus bisa datang ke Indonesia dan sangat menghargai keberagaman, toleransi, keramahan, kerukunan antar warga di Indonesia. Paus sangat terkesan dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Seorang duta adalah utusan. Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk pergi berdua-dua mewartakan Kerajaan Allah. Seorang utusan mempunyai tugas yang sangat besar. Ia menghadirkan pribadi yang mengutusnya. Ia mewartakan apa yang dipesankan oleh pengutusnya. Para murid diminta untuk tidak membawa bekal. Yesus berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, kecuali tongkat, roti pun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju. Suatu perutusan yang tidak mudah karena hanya boleh mengandalkan Tuhan saja. Kita semua adalah duta atau utusan Tuhan. Kita diminta membawa damai dan sukacita kepada semua orang. Mari kita menjadi duta yang baik agar Kerajaan Allah sungguh dirasakan banyak orang. Mau ziarah ke Porta Sancta, Mampir sebentar di kedutaan Indonesia. Mari kita wartakan Kabar Gembira, Agar semua orang mengalami sukacita. Wonogiri, kita semua adalah utusan Tuhan Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed