Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Perjumpaan yang Membahagiakan

4/6/2026

0 Comments

 
Puncta 6 April 2026
Senin dalam Oktaf Paskah
Matius 28:8-15

SEBELUM misa pembaharuan janji imamat, para rama mengadakan rekoleksi bersama. Rm.Indra Sanjaya menampilkan tokoh Petrus yang kendati rapuh, pernah gagal, menyangkal Yesus, namun akhirnya dipilih menjadi pemimpin gereja universal.

Perjumpaan dengan teman-teman imam selalu memberi gairah dan kebahagiaan karena bisa saling belajar dari pelayanan pastoral masing-masing. 

Saya belajar dari ketekunan rama-rama “sepuh” dalam menjalani karya. Perjumpaan punya dampak positif.

Mereka memberi inspirasi karena tekun dan setia menjalani panggilan. Dari ungkapan dan gesture gerak hidupnya nampak kebahagiaan imamatnya kendati juga tidak mudah melayani banyak orang. Kebahagiaan itu menular dan memberi insight baru yang menginspirasi.

Begitulah perjumpaan para perempuan dengan Yesus yang bangkit. Pada awalnya mereka mengalami ketakutan. Namun tiba-tiba di tengah jalan mereka berjumpa dengan Yesus. Mereka sangat gembira. Mereka sujud dan menyembah di depan kaki Yesus.

Kata Yesus kepada mereka: ”Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” 

Perjumpaan dengan Yesus selalu ada buah, dampak positif; kegembiraan dan perutusan.

Berbeda dengan para imam-imam kepala dan serdadu-serdadu yang menjaga makam. Mereka ketakutan dan menciptakan kebohongan. Mereka takut dampak kebangkitan akan menghancurkan reputasi mereka. Maka dibuatlah berita bohong.

Kata imam-imam kepala, ”Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. 

Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.”

Kebohongan demi kebohongan justru akan membawa ketakutan dan kekawatiran menjadi lebih besar. Kebohongan tidak akan menyelesaikan masalah tetapi justru akan membawa masalah. Mereka menolak kebangkitan. Mereka tidak mempercayai Yesus yang hidup. 

Hidup mereka dikuasai oleh ketakutan. Dengan ketakutan itu mereka menciptakan kebohongan dan menyebarkannya. Mereka tidak mengalami kebahagiaan karena tunduk pada ketakutan. 

Berbeda dengan para wanita dan para murid. Mereka mengalami kebahagiaan karena bertemu dengan Yesus yang bangkit. Kebahagiaan mereka menular dan menginspirasi yang lain; memberi semangat, menepis rasa takut dan hidup diliputi kebahagiaan.

Apakah kita akan membiarkan hidup kita dikuasai oleh kebohongan, ketakutan dan rasa was-was atau mau dikuasai Yesus yang bangkit membawa warta bahagia dan menyebarkannya kepada orang lain?

Sepercik pantun buat anda:
Pergi ke Gombong atau Pangandaran,
Menyusuri pantai jumpa para nelayan 
Berita bohong membawa kehancuran,
Warta kebangkitan bawa kebahagiaan 

Wonogiri, bahagia yang menular
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Ia Mendahului Kamu

4/4/2026

0 Comments

 
Puncta 4 April 2026
Vigili Paskah, Sabtu Suci
Matius 28:1-10

PELARI sprinter Sha’Carri Richardson adalah salah satu dari empat pelari estafet Amerika yang memenangkan kejuaraan Olimpiade musim panas 2024 di Paris. 

Dia diposisikan sebagai pelari terakhir dalam tim karena power sprint-nya yang cepat.
Teman-temannya berharap bahwa dia akan mampu menjadi penentu kemenangan. 

Ketika rekan setimnya Gabrielle Thomas, pelari ketiga agak kesulitan memberikan tongkat estafet, mereka sudah terlambat sekian detik dengan tim musuh. Richardson harus berada di posisi ketiga. 

Namun dengan kecepatan yang luar biasa, dia mampu melewati lawan-lawannya dan dalam momen yang ikonik waktu itu, Richardson sempat menoleh melihat para pesaing terdekatnya sebelum menyentuh garis finis. Mereka memenangkan lomba dengan sukacita.

Dari posisi ketiga Richardson bangkit dengan segenap kekuatan dan mengalahkan lawan-lawannya. 

Dengan power kecepatan yang bagus, teman-temannya tidak takut, Richardson akan mampu mendahului pelari lainnya.

Pada kisah kebangkitan Yesus yang kita baca dari Injil Matius ini, kita bisa merenungkan tiga hal. 

Pertama, pesan Yesus dan malaikat kepada para wanita, “Jangan takut.” Para murid Yesus merasa ketakutan karena ditinggalkan Yesus. 

Mereka kehilangan sekaligus juga gentar mengalami kematian Yesus yang demikian mencekam. 

Masa depan menjadi gelap dan tidak jelas dengan kehilangan Guru dan Tuhan. Menghadapi kegelapan hidup itu, Yesus bersabda, “Jangan takut.”

Kedua, malaikat berkata, “Ia mendahului kamu ke Galilea.” Seperti seorang pelari cepat, Yesus akan mendahului kita, berada di depan untuk memimpin langkah hidup kita. 

Dengan bangkit dari kematian, Yesus memenangkan kematian. Ia mengalahkan maut dan dosa yang membelenggu kita.

Ketiga, pesan Yesus bagi para murid, "Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku." 

Kita diminta untuk mewartakan kebangkitan Yesus kepada saudara-saudara kita.

Dalam situasi apapun, kita tidak boleh takut, Yesus mendahului kita di depan. Ia memimpin hidup kita.  Kegembiraan Paskah menjadi warna hidup kita.  Kita diberi tugas mengabarkan kebangkitan-Nya kepada semua orang. 

Sepercik pantun untuk anda:
Mancing ikan di Pantai Jepara,
Terbawa arus ke Karimunjawa.
Kristus sudah bangkit alleluia,
Hidup jadi cerah dan bahagia.

Wonogiri, selamat hari raya Paskah
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Pahlawan di WTC New York

4/3/2026

0 Comments

 
Puncta 3 April 2026
Jum’at Agung, Mengenang Wafat Tuhan
Yohanes 18:1-19:42

KETIKA terjadi serangan teroris di WTC New York pada 11 September 2001, Richard Rescorla menjadi kepala keamanan Morgan Stanley WTC. 

Ia memandu para pekerja agar menyelamatkan diri dan keluar dari gedung yang akan runtuh.

Dengan megaphone ia menenangkan para karyawan yang panik. Ia masih sempat menyanyikan lagu “God Bless America” agar suasana tidak kacau dan semua karyawan tetap tertib. 

Hampir 2.700 orang yang bekerja di tempat itu bisa keluar gedung dan selamat dari reruntuhan.

Ia kemudian masuk kembali dan naik ke lantai 10 untuk memastikan semua orang sudah tidak ada di tempat. 

Waktu berjalan dengan sangat cepat. Dalam panggilan telepon yang terakhir, sebelum gedung WTC runtuh, dia masih berkata pada istrinya, Susan: “Stop menangis. Aku harus mengeluarkan orang-orang ini dengan selamat. Jika sesuatu terjadi padaku, aku ingin kau tahu aku tidak pernah sebahagia ini."

Veteran perang Vietnam ini mewujudkan motto "Saya tidak akan pernah meninggalkan rekan seperjuangan yang gugur" (I will never leave a fallen comrade). 

Jenazahnya terkubur di bawah reruntuhan WTC dan tidak pernah ditemukan. Ia mengorbankan nyawanya demi keselamatan sesamanya.

Pada peringatan wafat Yesus ini, kita bisa merenungkan pengorbanan Yesus untuk menebus dosa-dosa kita. Yesus menerima salib dengan kerelaan hati agar kita diselamatkan dari kegelapan dosa. 

Yesus seperti anak domba yang tidak memberontak dibawa ke tempat pembantaian. Karena bilur-bilur-Nya kita diselamatkan.

Bagaimanakah rasa syukur kita kepada orang yang telah mengorbankan nyawanya demi keselamatan kiat? 

Apa yang harus kita lakukan untuk membalas cinta-Nya? 

Semestinya kita menatap hidup ke depan dengan penuh keyakinan bahwa Allah mengasihi kita.

Hidup ini sangat berharga karena Allah sendiri yang menebus dengan kematian Putera-Nya. Kita yang  kotor karena dosa telah dicuci bersih dengan darah-Nya. 

Marilah kita hargai hidup ini dengan juga menghargai sesama.

Sepercik pantun buat kita:

Langit biru sangat indah di angkasa,
Bulan purnama mulai menepis senja.
Betapa berharganya hidup kita di dunia,
Yesus telah menebus kita dari kuasa dosa.

Wonogiri, terima kasih atas pengorbanan-Mu
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Membasuh Kaki

4/2/2026

0 Comments

 
Puncta, 2 April 2026
Kamis Putih dalam Pekan Suci
Yohanes 13:1-15

PADA waktu bertugas di Paroki Kendal, saya membuat acara yang berbeda untuk tuguran di hadapan Sakramen Mahakudus. Acara tuguran Kamis Putih diisi dengan renungan singkat tentang kasih Tuhan yang rela membasuh kaki para rasul.

Kami membuat kursi melingkar di aula. Keluarga-keluarga duduk berderet. Dalam suasana hening dan tenang masing-masing anggota keluarga secara bergantian membasuh kaki mereka. 

Diiringi musik rohani instrumental dan lampu temaram dari tahta Sakramen Mahakudus, bapak mulai membasuh kaki istri dan anak-anaknya. Demikian sampai semua melayani satu sama lain.

Teladan Yesus tidak hanya diajarkan, tetapi juga langsung dipraktekkan dalam komunitas yang paling kecil, yaitu keluarga. 

Membasuh kaki adalah tanda merendahkan diri, melayani sebagai hamba dan mengasihi tanpa batas.

Setelahnya mereka saling berpelukan, menangis terharu dan mengungkapkan doa syukur atas kasih yang dialami dalam keluarga. 

“Kami merasa Tuhan sungguh mengasihi lewat istri dan anak-anak, Rama. Syukur kepada Tuhan ada peristiwa ini,” ungkap seorang bapak dalam haru.

Peristiwa perjamuan Yesus dengan murid-murid-Nya pasti lebih mengharukan, mencekam dan membuat tanda tanya bagi mereka. 

Petrus tidak bisa memahami Yesus tiba-tiba membasuh kakinya. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?" 

Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak."

Setelah selesai membasuh semua murid-Nya, Ia menjelaskan maksud tindakan-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? 

Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. 

Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.

Yesus memberi teladan tentang kerendahan hati, siap melayani dan menghargai orang lain. Yesus mengasihi kita sampai pada akhirnya. 

Mari kita wujudkan kasih Tuhan itu dengan mengasihi sesama dan melayani mereka sebagai sahabat-sahabat kita.

Sepercik pantun buat kita:
Arus balik kembali ke Jakarta,
Jalanan lengang seperti semula.
Ia membasuh kaki seperti hamba,
Padahal Dialah yang Mahakuasa.

Wonogiri, melayani dengan rendah hati
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Tiga Puluh Keping Perak

4/1/2026

0 Comments

 
Puncta 1 April 2026
Rabu Pekan Suci
Matius 26: 14-25

YESUS dikhianati oleh murid-Nya sendiri dan dijual kepada orang-orang Farisi dan tua-tua bangsa Yahudi dengan harga tiga puluh keping perak. 

Mengapa Yudas tega melakukan pengkhianatan terhadap gurunya sendiri?

Tiga tahun hidup bersama dengan komunitas murid Yesus. Yudas ikut berkeliling, berkarya, makan bersama, melihat mukjizat Yesus, dan ikut mengalami banyak peristiwa bersama Yesus. 

Yudas memberikan hidupnya, tetapi tidak memberikan hatinya pada Tuhan.

Hatinya tetap dipenuhi dengan ambisi pribadi. Kita tidak tahu apa motivasinya menjual Yesus kepada orang Farisi. 

Mengapa Yudas mau menerima uang 30 perak? Jumlah ini adalah harga seorang budak pada waktu itu. 

Apakah ini merupakan suatu simbol bahwa Yesus disamakan dengan seorang hamba sebagaimana Dia datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani semua orang? Bisa jadi ini sebagai interprestasi teologis. 

Namun kalau dikaitkan dengan tugas Yudas sebagai bendahara kelompok murid, bisa jadi fokus utama yang dipikirkan adalah uang. 

Kebutuhan akan uang telah membutakan matanya sehingga dia tidak pikir panjang dan siap menghalalkan segala cara. 

Dalam perikope lain Injil Yohanes ditulis tentang karakter Yudas, “Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.”

Motivasi Yudas bukan dalam hal spiritual, atau murni mau menjadi murid-Nya, tetapi karena keinginannya demi keuntungan pribadi, ambisi duniawi, ketamakan, dan keserakahan. Kekayaan adalah yang memicu ambisinya menjual gurunya.

Puncak kulminasi dari kekecewaannya pada Yesus dipicu oleh tindakan Maria yang menghambur-hamburkan minyak narwastu yang mahal “hanya untuk meminyaki kaki Yesus.”  

Uang sebanyak 300 dinar kok hanya disia-siakan. Dengan uang segitu orang tinggal duduk manis tidak bekerja selama satu tahun. 

Pada perjamuan malam Paskah itulah, Yesus dikhianati. Yudas menerima tiga puluh perak harga murah untuk gurunya. 

Dan sesudahnya ia hidup dalam penyesalan dan kesengsaraan lalu mati dengan cara mengenaskan.

Penyesalan selalu datang kemudian. Tetapi Yudas tidak sempat menyesal. Seandainya dia datang seperti penjahat yang disalib bersama Yesus, pasti Yesus juga akan mengampuninya. 

Apa yang bisa anda pelajari dari sikap dan karakter Yudas ini?

Sepercik pantun untuk direnungkan:

Dengan uang tigapuluh keping perak,
Yudas menjual Yesus gurunya.
Ikut Yesus jangan hanya cari enak,
Harus berani manggul salib ke Golgota.

Wonogiri, kita juga jualan Tuhan?
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments

    Archives

    December 2034
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki