Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Dialog dari Hati ke Hati

8/13/2024

0 Comments

 
Puncta 14 Agustus 2024
PW. St. Maximillian Maria Kolbe
Matius 18: 15-20

MEDIA SOSIAL sekarang ini seperti panggung sandiwara dimana orang bisa melihat aneka drama kehidupan. Kalau tidak hati-hati kita bisa menjebloskan orang ke dalam panggung yang sangat kejam. 

Misalnya kalau kita mengunggah kejelekan dan keburukan orang lain. Kita akan terjebak menjadi pembunuh karakter seseorang. 

Nama baik seseorang akan tercemar karena rasa benci, iri hati, cemburu, baperan, dan rasa tidak senang pada seseorang.

Dengan mengunggah keburukan seseorang di medsos, kita sudah mengadili tanpa prosedur dan menjatuhkan hukuman yang kejam dan tidak adil. Kalau anda diperlakukan seperti itu, bagaimana perasaan anda?

Yesus mengajarkan kepada kita bagimana tahap-tahap menyadarkan dan menasehati sesama yang bersalah. 

Pertama, tegorlah dia di bawah empat mata. Kedua, jika ia tidak mendengarkanmu, bawalah seorang atau dua orang lain sebagai saksi. 

Ketiga, jika ia tidak mau mendengarkan, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Jika suara jemaat tidak didengarkan, pandanglah dia sebagai orang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. 

Janganlah kita mudah sekali menyebarkan kejelekan orang di media sosial. Mari kita kembangkan semangat dialog dari hati ke hati. 

Jangan berdialog di media sosial, pasti tidak akan selesai masalahnya. Berbicaralah empat mata dengan  menggunakan hati, pasti lebih adem, dan menentramkan hati.

Komunikasi hati dengan berbicara empat mata, apalagi disertai dengan doa, Tuhan akan hadir di dalamnya. Sebab Yesus berkata, “Di mana ada dua atau tiga orang berkumpul demi nama-Ku, Aku hadir di tengah-tengah mereka.”

Itu artinya, jika kita ada masalah, kita diajak bertemu dan berdialog dengan hati. Pertemuan dua orang menggunakan hati dan disertai dengan doa, berarti kita mengundang Tuhan hadir untuk membuka hati dan pikiran kita. 

Di situ kita diajak saling mendengarkan suara Tuhan yang terbaik bagi kita. Semoga dialog menjadi cara bagaimana kita menyelesaikan masalah-masalah yang ada. 

Jangan mudah mengadili orang di depan umum melalui media sosial. Utamakanlah dialog perasaan dan hati untuk saling memahami.

Banyak karnaval agustusan di jalan raya,
Jalanan macet tetapi semua bersuka cita.
Tidak ada manusia yang paling sempurna,
Bahkan Tuhan menghargai kelemahan yang hina dina.

Wonogiri, jangan suka menjelekkan orang, karena anda belum tentu baik, ya kan?
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Juru Masak di Biara Shaolin

8/12/2024

0 Comments

 
Puncta 13 Agustus 2024
Selasa Biasa XIX
Matius 18:1-5.10.12-14

DALAM Film berjudul The Shaolin, ada seorang juru masak di Biara Shaolin yang tidak sentral perannya. Tetapi mengajarkan kepada kita semangat kerendahan hati. Biksu juru masak itu bernama Wudao ( diperankan oleh Jacky Chan).

Ia tidak nampak sebagai biksu yang pandai bermain silat. Tugasnya hanya di belakang, di dapur menyediakan makanan bagi para murid Shaolin. Tutur katanya sopan dan perilakunya menjadi panutan bagi para murid.

Hou Jie, sering berdiskusi dengan Juru masak sederhana itu. Hou Jie adalah mantan jendral yang ambisius, kejam dan main kuasa. Ia kalah perang dan bersembunyi di biara itu.

Tetapi berhadapan dengan Wudao yang sederhana, rendah hati dan welas asih, Hou Jie akhirnya menemukan kedamaian hidup di Kuil Shaolin. Hou Jie bertobat, mengubah jalan hidupnya.

Yesus berkata kepada murid-murid, “Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Janganlah menganggap rendah seorang pun dari anak-anak kecil ini.”

Kerendahan hati adalah sumber kebijaksanaan. Sejak dini kita sudah diajarkan untuk bersikap sopan santun, menghargai orang lain baik dalam tingkah laku dan tutur kata. 

Kalau lewat di depan orang kita, membungkuk dan permisi sebagai tanda merendahkan diri dan hormat pada sesama.

Jika kita bisa merendahkan diri, kita juga akan dihormati oleh orang lain. Yesus mengambil contoh seorang anak, karena anak biasanya dianggap sebagai pribadi yang lemah, rendah dan tidak punya power apa pun.

Jika kita bisa menghargai mereka yang rendah, lemah, tak berkuasa, kita memiliki kebijaksanaan anak-anak Allah. Allah justru menghadirkan Diri-Nya dalam pribadi orang-orang lemah.

Maka Yesus berkata, “Barangsiapa menyambut seorang anak kecil ini dalam Nama-Ku, ia menyambut Aku.” 

Marilah kita menghargai dan mengasihi mereka yang kecil, lemah, tersingkir dan yang tidak punya kekuatan apa pun, karena justru dalam diri merekalah Allah menampakkan Diri-Nya.

Makan soto dengan bumbu rempah,
Bikin nafsu makan jadi semakin kuat.
Merendahkan diri tidak berarti lemah,
Ia sedang mengajarkan kekuatan yang dasyat.

Wonogiri, hargailah mereka yang kecil
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Memberi Teladan

8/11/2024

1 Comment

 
​Puncta 12 Agustus 2024
Senin Biasa XIX
Matius 17: 22-27

DALAM bacaan Injil hari ini Yesus memberi teladan kepada para murid-Nya untuk taat membayar pajak. 

Ia menyuruh Simon untuk memancing ikan dan mengambil empat dirham yang ada di mulut ikan itu. Dengan uang itu, Yesus dan Petrus membayar pajak kepada negara.

Yesus berkata kepada Simon, “Agar kita jangan menjadi batu sandungan bagi mereka, ambillah uang itu dan bayarlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu.” 

Sebagai seorang guru, Yesus  menunjukkan keteladanan bagi para murid-Nya.

Seorang guru tidak hanya mengajarkan, tetapi juga mempraktekkan apa yang diajarkan itu. Keteladanan lebih penting dari pada nasehat dan tutur kata. 

Satu tindakan keteladanan lebih berguna daripada seribu kata-kata yang meluncur dari mulut kita.

Keteladanan muncul dari kesatuan antara kata dan tindakan. Apa yang dikatakan, juga dilakukan secara kongkret dalam praktek hidup sehari-hari. Keteladanan menunjukkan integritas pribadi kita.

Dengan tindakan kecil, Yesus menunjukkan keteladanan-Nya yakni membayar pajak, agar tidak menjadi batu sandungan bagi banyak orang. Kepekaan dalam hal-hal kecil membuat kita menyingkiri batu sandungan bagi orang lain.

Dengan bertindak demikian, kita menghilangkan syak wasangka dan penilaian-penilaian negatif. Yang kita pikirkan bukan hanya diri sendiri, tetapi persepsi dan penilaian orang lain. Hal-hal umum yang wajib kita lakukan ya mesti kita jalani sebagaimana mestinya.

Menghindari batu sandungan adalah tindakan bijaksana agar orang tidak berpikir dan bertindak keliru terhadap kita. 

Mari kita jalani hidup kita dengan tertib dan setia agar tidak menjadi batu sandungan bagi sesama.

Siap-siap menuju ke Jakarta,
Paus Fransiskus mau mimpin misa.
Tuhan Yesus ajarilah kami semua,
Tidak jadi sandungan bagi sesama.

Wonogiri, jangan menjadi batu sandungan
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
1 Comment

Roti Hidup

8/10/2024

0 Comments

 
​Puncta 11 Agustus 2024
Minggu Biasa XIX
Yohanes 6: 41-51

SEORANG ibu yang sudah "sepuh" atau tua setiap hari mengikuti Ekaristi di Gereja St.Yohanes Rasul Wonogiri. Ia rajin dan semangat datang ke gereja. Setelah misa selesai, dia tidak langsung pulang, tetapi masih menyapu halaman gereja, membersihkan sampah dan puntung rokok yang bertebaran.

Dia sudah pensiun dari PNS dan banyak waktu dihabiskan di gereja. Dia pernah sharing, “Kalau sehari tidak menerima Tubuh Kristus, ada sesuatu yang kurang, Romo. Ekaristi sudah menjadi kebutuhan hidup saya. Hanya di Gereja tempat yang membuat saya ayem tentrem.”

Bagi orang Katolik, Ekaristi adalah  sumber makanan yang memberi semangat hidup. Tubuh Kristus yang diterima dalam komuni suci adalah makanan yang kekal bagi kehidupan rohani kita.

Yesus berkata, “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia."

Kita tidak hanya membutuhkan makanan jasmani, tetapi juga butuh makanan rohani. Manusia terdiri dari badan, jiwa dan roh. Badan membutuhkan makanan yang menguatkan. Begitu pula jiwa dan roh kita harus diberi makanan rohani.

Yesuslah yang menjadi roti hidup bagi jiwa dan roh kita. Dia menjadikan Diri-Nya roti yang siap dipecah dan dibagi untuk kehidupan kita. “Barangsiapa makan Roti ini akan hidup selama-lamanya.”

Di dalam Ekaristi kita makan Tubuh Kristus dan mengunyah sabda-Nya. Santo Hieronimus pernah berkata, “Tidak mengenal Kitab Suci, tidak mengenal Yesus.” Kalau kita mau mengenal Yesus berarti kita diminta membaca sabda-Nya dalam Kitab Suci. 

Dalam Ekaristi kita mengunyah sabda-Nya lewat bacaan yang kita renungkan dan menerima Tubuh-Nya sebagai kekuatan hidup kita. Maka benarlah yang disharingkan ibu tua tadi, “semakin sering ikut Ekaristi, semakin hidupnya ayem tentrem dan bahagia.”

“Tidak ada yang lebih agung selain Ekaristi. Bila Allah memiliki sesuatu yang lain yang lebih berharga [dari Ekaristi], maka Ia akan memberikan-Nya pada kita”  kata St. Yohanes Maria Vianney.

Wonogiri dekat Paroki Batu,
Ke selatan sampai Pantai Nampu.
Ekaristi adalah sumber hidupku,
Roti Hidup adalah makananku.

Wonogiri, Ayo ikut misa pagi
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Perjalanan Karya Panggilan Suster Resdiana, CB

2/27/2024

1 Comment

 
 "Pesan saya untuk umat Paroki Wonogiri, saya ingin sekali umat itu menyadari pentingnya Ekaristi." - Sr. Resdiana, CB
​Perjalanan saya di Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri dimulai sejak Juli 2007. Ini merupakan perjalanan kedua saya di Paroki ini. Dahulu saya sempat bertugas di Paroki Wonogiri kemudian dimutasi ke Surabaya dan kemudian kembali di Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri.
            Tugas saya di Paroki Wonogiri adalah memimpin komunitas Suster CB di Susteran Hendra Giri. Selain itu saya juga berkarya di sekolah, tepatnya di SD Kanisius Wonogiri. Awalnya dulu saya diminta oleh bapak kepala sekolah sebagai pemerhati. Namun demikian, saya tidak mau. Saya mau untuk menjadi guru bidang studi. Karena kalau saya menjadi pemerhati, maka saya tidak dapat memberi masukan dan suara saya tidak diperhitungkan. Setelah saya mengajar di SD Kanisius, saya berinisiatif untuk mengadakan Misa Awal Tahun dan Misa Tutup Tahun. Jadi tidak hanya Misa Natal saja. Sebab, kita ini berada di Sekolah Katolik. Sekolah Katolik itu harus menanamkan dasar iman Katolisitas yang baik kepada anak-anak kita. Di dalam kelas, Saya juga mendata anak-anak dari keluarga Katolik yang belum dibaptis. Bahkan saya juga terbuka untuk anak-anak yang bukan dari keluarga Katolik dan ingin dibaptis asal seijin orangtua. Anak-anak tersebut akan saya fasilitasi untuk medapatkan pembejaran untuk menerima Sakramen Baptis.
            Selain mengajar di SD Kanisius, Saya juga berkarya mengajar katekumen, membantu pelajaran persiapan Komuni Pertama, dan persiapan penerimaan Sakramen Krisma. Saya juga sempat mengajar di Akper Giri Husada sewaktu Romo Sugihartanto, Pr masih bertugas di paroki ini. Beberapa tempo lalu saya juga turut terlibat untuk mengajar dalam kursus tenaga pastoral yang diadakan Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri. Saya juga memberi kunjungan di Lembaga Permasyarakatan di Kabupaten Wonogiri serta melakukan beberapa kunjungan bakti sosial pada umat Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri. Saya juga sering memberi renungan bagi ibu-ibu WKRI di lingkungan.
            Perjalanan karya misi saya merupakan kehendak Allah. Dalam kaul suster kami terdapat tiga kaul yakni kaul kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan. Hal tersebut menjadi sarana bagi saya untuk berserah diri kepada Tuhan. Saya menjalani semua dengan penuh sukacita, Puji Tuhan hingga saat ini saya selalu diberi kesehatan, sehingga saya dapat menjalankan karya misi yang menjadi panggilan hidup saya. Dengan adanya perpindahan tugas dari satu tempat ke tempat yang lain akan menambah persaudaraan saya.
            Pesan saya untuk umat Paroki Wonogiri: “ Saya ingin sekali umat itu menyadari pentingnya Ekaristi. Ekaristi itu Allah sendiri hadir dan kita yang membutuhkan-Nya. Sangat disayangkan masih banyak diantara kita yang belum menghayati Ekaristi secara utuh dan masih ogah-ogahan ke gereja. Saya juga titip anak-anak yang memiliki cita-cita untuk menjadi Suster. Titip untuk selalu didoakan dan didampingi sampai tercapai panggilan hidupnya.”
 
Salam
Sr. Resdiana, CB
1 Comment

Mari Menanggapi Undangan Tuhan (2)

2/28/2022

0 Comments

 
Marilah kita memahami dan meresapi setiap bagian-bagian dalam perayaan Ekaristi. Perayaan Ekaristi dapat dibagi menjadi empat bagian penting yakni: Ritus Pembuka, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi, dan Ritus Penutup. Keempat bagian dapat dijelaskan sebagai berikut:

A. Ritus Pembuka
   1. Perarakan Masuk
Menjadi simbol umat Allah yang sedang berziarah di dunia ini. Terus bergerak dan dinamis. Biasanya diiringi dengan lagu pembuka yang berfungsi untuk membina kesatuan umat dan menghantar kepada misteri iman yang dirayakan.
  2. Penghormatan Altar, Tanda Salib, dan Salam kepada Umat
Sebagai tanda penghormatan, imam dan pelayan membungkuk khidmat di depan Altar kemudian imam mencium Altar (relikwi) sebagai tanda siap sedia untuk menjadi martir kecil bagi Gereja. Tanda salib yang membuka perayaan ini mengingatkan akan misteri Allah Tritunggal yang mengundang kita dalam satu persekutuan persaudaraan ini. Salam menunjukkan bahwa Tuhan hadir di tengah-tengah umat-Nya. Salam tersebut kemudian mendapat jawaban dari umat yang memperlihatkan misteri Gereja yang sedang berkumpul.
  3. Pernyataan Tobat
Imam mengajak umat untuk berseru kepada Tuhan dan memohon belas kasih-Nya karena menyadari kita adalah himpunan orang yang berdosa.
   4. Tuhan Kasihanilah
Merupakan kelanjutan dari penyataan tobat yang menyerukan kepada Allah bahwa kita senantiasa memerlukan kerahiman-Nya. Komunitas Ekaristis adalah komunitas yang mewartakan pesan perdamaian, mengembangkan dialog dan persaudaraan serta berjuang untuk menyelesaikan konflik.
   5. Kemuliaan
Melalui madah ini Gereja yang berkumpul atas dorongan Roh Kudus memuji Allah menjadi suatu komunitas yang hidup.
  6. Doa Pembuka
Doa pembuka lazim juga disebut sebagai ‘collecta’ yang mengungkapkan inti perayaan liturgi yang bersangkutan. Umat memadukan hati dalam doa pembuka dan menjadikannya doa mereka sendiri dengan aklamasi: amin!

B. Liturgi Sabda
  1. Bacaan-bacaan dari Kitab Suci
Bacaan-bacaan dari Kitab Suci merupakan bagian  pokok dari liturgi Sabda. Bertujuan untuk mendorong umat agar merenung.
   2. Mazmur Tanggapan
Mazmur tanggapan memiliki makna liturgis serta pastoral yang penting karena menopang permenungan atas Sabda Allah. Dianjurkan bahwa mazmur tanggapan dilagukan, sekurang-kurangnya bagian ulangan yang dibawakan oleh umat.
   3. Bait Pengantar Injil
Dengan aklamasi ini umat beriman menyambut dan menyapa Tuhan yang siap bersabda kepada mereka dalam Injil dan sekaligus menyatakan iman.
   4. Homili
​
Homili berguna untuk memupuk semangat hidup kristen. Pada umumnya yang memberikan homili adalah imam yang memimpin perayaan. Homili janganlah ditiadakan kecuali kalau ada alasan berat.
  5. Pernyataan Iman
Pernyataan iman merupakan tanggapan atas Sabda Allah yang baru saja diterima. Dengan melafalkan pokok-pokok kebenaran iman, umat mengingat kembali dan mengakui iman Kristiani yang sedang dirayakan.
  6. Doa Umat
Doa umat merupakan tanggapan atas Sabda Allah melalui aneka permohonan untuk kepentingan Gereja, negara, banyak orang, dan untuk keselamatan seluruh dunia.

C. Liturgi Ekaristi
  1. Persiapan Persembahan
Mempersiapkan segala hal yang diperlukan dalam perjamuan dan dibawa oleh umat ke altar dalam persembahan. Kemudian dilanjutkan dengan imam yang mempersiapkan persembahan dalam rumus-rumus doa.
   2. Doa Persiapan Persembahan
Selanjutnya imam mengundang umat berdoa dan diakhiri dengan doa persiapan persembahan.
  3.  Doa Syukur Agung
Doa Syukur Agung merupakan pusat dan pucak seluruh perayaan berupa doa syukur dan pengudusan. Imam mengajak umat untuk mengarahkan hati kepada Tuhan. Bagian-bagian yang penting dalam DSA: ucapan syukur, aklamasi, epiklesis, kisah institusi dan konsekrasi, anamnesis, persembahan, permohonan, doksologi penutup.
   4.  Ritus Komuni
Perayaan Ekaristi adalah perjamuan Paskah. Maka hendaknya umat mempersiapkan hati dengan baik untuk menyambut Tubuh dan Darah Tuhan sebagai makanan rohani.
   5. Bapa Kami
​
Dalam doa Bapa Kami umat memohon rejeki sehari-hari yakni roti ekaristi, juga pengampunan dosa, dan dibebaskan dari kejahatan. Imam kemudian mengucapkan embolisme dan diakhiri dengan doksologi oleh umat.
   6. Ritus Damai
Gereja memohon damai dan kesatuan bagi Gereja dan seluruh umat manusia. Cara memberikan salam damai disesuaikan dengan kekhasan dan kebiasaan masing-masing bangsa.
  7. Pemecahan Roti
Pemecahan roti menandakan bahwa umat beriman yang banyakitu menjadi satu (1 Kor. 10:17) karena menyambut komuni dari roti yang satu yakni Kristus, yang wafat dan bangkit demi keselamatan dunia. Biasanya diiringi dengan Anak Domba Allah.
  8. Komuni
Mempersiapkan komuni dengan berdoa di dalam hati agar tubuh dan darah Kristus yang ia sambut sungguh membawa buah bagi hidup dan pelayanannya.

D. Ritus Penutup
Terdiri dari amanat singkat (jika diperlukan), salam dan berkat imam dalam perayaan khusus dapat menggunakan berkat meriah, pengutusan, dan penghormatan Altar.

Berkah Dalem! – Rama Dhani Pr
0 Comments

Mari Menanggapi Undangan Tuhan (1)

2/5/2022

1 Comment

 
​Dalam beberapa tahun terakhir ini, Ekaristi boleh dikatakan menjadi salah satu tema utama yang sangat mewarnai kehidupan Gereja. Diharapkan agar ekaristi tidak hanya menjadi bahan pembicaraan maupun konggres ekaristi, namun juga turut berdampak bagi kehidupan umat sehari-hari. Ekaristi bagaikan sumber yang mengalirkan rahmat kepada kita dan dengan hasil guna yang amat besar diperoleh pengudusan manusia dan pemuliaan Allah dalam Kristus, tujuan semua karya Gereja lainnya (SC 10). Pada perjamuan terakhir, pada malam Ia diserahkan, penyelamat kita mengadakan Korban Ekaristi Tubuh dan Darah-Nya. Dengan demikian Ia mengabadikan Korban Salib untuk selamanya, dan mempercayakan kepada Gereja Mempelai-Nya yang terkasih kenangan Wafat dan Kebangkitan-Nya: sakramen cinta kasih, lambang kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan Paska. Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikurniai jaminan kemuliaan yang akan datang (SC 47).
     Maka dari itu Gereja dengan susah payah berusaha, jangan sampai umat beriman menghadiri misteri iman itu sebagai orang luar atau penonton yang bisu, melainkan supaya melalui upacara dan doa-doa memahami misteri itu dengan baik, dan ikut serta penuh hikmat dan secara aktif (SC 14). Hendaknya mereka rela diajar oleh Sabda Allah, disegarkan oleh santapan Tubuh Tuhan, bersyukur kepada Allah. Hendaknya sambil mempersembahkan Hosti yang tak bernoda bukan saja melalui tangan imam melainkan juga bersama dengannya, mereka belajar mempersembahkan diri, dari hari ke hari –berkat perantaraan Kristus- makin penuh dipersatukan dengan Allah dan antar mereka sendiri, sehingga akhirnya Allah menjadi segalanya dalam semua (SC 48).
     Ekaristi merupakan sumber dan puncak kehidupan kristiani. Maka, kiranya apa yang diterima umat dengan iman dan secara sakramental dalam perayaan Ekaristi, harus memberikan dampak nyata dalam tingkah laku mereka. Oleh karena itu, hendaklah mereka berusaha menempuh seluruh hidup mereka dengan gembira dan penuh rasa syukur ditopang oleh santapan surgawi, sambil turut serta dalam wafat dan kebangkitan Tuhan. Dengan demikian, setiap orang yang mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi, haruslah penuh gairah ingin berbuat baik, menyenangkan Allah dan hidup pantas sambil membaktikan diri kepada Gereja, melaksanakan apa yang diajarkan kepadanya, dan bertumbuh dalam kesalehan. Ia pun akan siap menjadi saksi Kristus di dalam segala hal, dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup manusia, agar dunia diresapi dengan semangat Kristus. Sebab tidak ada satu umat Kristiani pun dapat dibangun, kecuali kalau berakar dan berporos pada perayaan Ekaristi Mahakudus (Eucharisticum Mysterium 13). Mari bergairah dalam iman dan bersemangat dalam Ekaristi.
 
Berkah Dalem – Romo Dhani Pr
1 Comment

Melalui Doa menuju Dialog Ekumenis

1/18/2022

0 Comments

 
“Doa merupakan ‘jiwa’ pembaruan ekumenis dan kerinduan akan kesatuan, sekaligus juga landasan dan dukungan bagi segala sesuatu yang oleh Konsili ditegaskan sebagai ‘dialog’. Kemampuan dialog berakar dalam kodrat serta martabat pribadi manusia. Dialog menjadi langkah yang mutlak perlu pada jalan menuju perwujudan diri manusiawi, realisasi diri baik bagi tiap orang-perorangan maupun bagi paguyuban manusiawi. Dialog bukan semata-mata pertukaran gagasan-gagasan. Dalam arti tertentu selalu berupa pertukaran pemberian-pemberian”. (Ut Unum Sint par. 28)

Paus Yohanes Paulus II dikenal sebagai paus dialog. Gambaran ini muncul karena melihat realita kemendesakan kebutuhan serta tantangan bagi dialog di tengah dunia yang semakin berwajah majemuk ini. Perdamaian hanya bisa dicapai melalui dialog. Hal itu berarti adanya kesadaran untuk mengakui serta menerima secara terbuka adanya perbedaan dan dengannya kemudian mencari apa yang dibutuhkan umat manusia, di tengah segala perbedaan yang ada walaupun upaya pencarian tersebut dilakukan di tengah tegangan, tekanan, dan bahkan konflik satu sama lain. Bagi Paus Yohanes Paulus II, dialog yang paling mendasar dan menantang adalah dialog antar umat beragama dan kepercayaan karena dialog tersebut menyentuh hal yang mendasar dan hakiki dalam kehidupan umat manusia yakni relasinya dengan Allah dan kenyataan sebagai insan beriman. Dialog adalah suatu perjumpaan, saling percaya, serta saling menghormati satu sama lain dengan membiarkan Allah hadir agar kita pun dapat membuka diri pada Allah dan membuka diri satu sama lain. Buah dialog yang diharapkan adalah tumbuhnya kesatuan dan persaudaraan satu sama lain serta kesatuan dengan Allah. Dialog adalah panggilan bagi seluruh umat Kristiani sekaligus jalan yang dipilih Gereja sekarang ini.
         Komitmen Gereja terhadap dialog, kiranya bukan hanya tanggung jawab Tahta Apostolik melainkan termasuk kewajiban Gereja-gereja setempat atau khusus. “Dialog tidak hanya sekedar dilaksanakan, melainkan sungguh menjadi kebutuhan, salah satu prioritas Gereja” (Ut Unum Sint par. 31). “Melalui dialog itu, semua peserta memperoleh pengertian yang cermat tentang ajaran dan perihidup kedua persekutuan, serta penghargaan yang lebih sesuai dengan kenyataan. Begitu pula persekutuan-persekutuan itu menggalang kerja sama yang lebih luas lingkupnya dalam aneka usaha demi kesejahteraan umum menurut tuntutan setiap suara hati Kristiani; dan bila mungkin mereka bertemu dalam doa sehati sejiwa” (Ut Unum Sint par. 32).
         Ada hubungan erat antara dialog dan doa. Doa yang mendalam menjadikan dialog lebih matang dan berbuah. Doa itu sendiri akhirnya juga menjadi buah dari dialog yang semakin matang. Dialog juga berfungsi sebagai ‘pemeriksaan batin’ (Ut Unum Sint par. 34). Dalam surat pertama Yohanes dikatakan bahwa, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita” (I Yoh. 1:8). Sabda Kitab Suci ini menyadarkan bahwa diri kita adalah seorang pendosa dan hal ini juga terkait dengan semangat yang akan dibawa dalam dialog. “Kalau dialog itu tidak menjadi pemeriksaan batin, semacam ‘dialog antar suara hati’  dapatkah kita mengandalkan jaminan yang kita terima dari surat pertama Yohanes? “Anak-anakKu, kutulis semuanya kepada kamu, supaya kamu jangan berdosa. Akan tetapi kalau ada yang berdosa, kita memiliki perantara pada Bapa, Yesus Kristus yang benar. Dia itulah tebusan bagi dosa-dosa kita, dan bukan hanya bagi dosa-dosa kita, melainkan juga bagi dosa-dosa seluruh dunia” (Ut Unum Sint par. 34). Kesatuan Kristiani masih mungkin, asal dengan rendah hati kita menyadari bahwa kita telah berdosa melawan kesatuan dan memiliki kerinduan untuk bertobat, bukan hanya meninggalkan dosa-dosa probadi tetapi juga dosa-dosa sosial yang kerapkali menghasilkan perpecahan bahkan memperparah perpecahan.
         Dialog menjadi suatu dialog pertobatan. Dengan begitu, seperti diungkapkan oleh Paus Paulus VI, artinya menjadi ‘dialog keselamatan’ yang otentik. “Dialog tidak dapat berlangsung melulu hanya pada taraf horisontal, terbatas pada pertemuan-pertemuan, pertukaran pandangan-pandangan atau bahkan berbagi kurnia-kurnia yang khas bagi masing-masing jemaat. Dialog terutama mempunyai bobot vertikal juga, ditujukan kepada Dia sendiri, yang sebagai penebus dunia dan Tuhan sejarah bagi kita menjadi Pendamaian” (Ut Unum Sint par. 35). Dialog hanya bisa berjalan dalam penghargaan akan segala apa yang merupakan wujud dan tanda karya Roh, yang dalam iman Kristen wujud dan tanda itu dinyatakan secara penuh oleh-Nya berkat Kristus dan dalam Bapa di dalam Gereja tubuh-Nya.
         Dialog menjadi suatu upaya untuk memecahkan perselisihan. “Dialog merupakan upaya kodrati juga untuk membandingkan pandangan-pandangan yang berbeda, dan terutama untuk memeriksa pokok-pokok perselisihan yang menghambat persekutuan sepenuhnya antar umat Kristiani. Maka dibutuhkan cinta kasih terhadap mitra dialog dan kerendahan hati terhadap kebenaran” (Ut Unum Sint par. 36). Dialog menghadapkan umat Kristiani pada perbedaan-perbedaan pandangan yang nyata dan sesungguhnya mengenai iman. Maka hendaknya setiap perselisihan ditanggapi dengan semangat kasih persaudaraan yang tulus, sikap hormat terhadap tuntutan-tuntutan suara hatinya sendiri dan suara hati mitra dialog, dengan kerendahan hati yang mendalam dan cinta akan kebenaran.
 
Berkah Dalem – Rm. Dhani Pr
 
Catatan kecil:
Ut Unum Sint (supaya mereka menjadi satu) merupakan ensiklik yang diterbitkan oleh Paus Yohanes Paulus II  pada 25 Mei 1995. Dokumen ini menunjukkan bahwa Gereja Katolik bergerak menuju kesatuan dengan gereja-gereja protestan (ekumenis)
 
Ensiklik merupakan surat Paus sebagai uskup Roma dan pemimpin Gereja katolik dunia yang berisi ajaran iman dan kesusilaan.
0 Comments

Mengapa ada Misa Jumat Pertama?

12/3/2021

0 Comments

 
Asal-usul Jumat Pertama
Perayaan Jumat pertama menunjuk pada devosi kepada Hati Kudus Yesus yang sebenarnya sudah dimulai pada abad 11 dan 12 Masehi di lingkungan biara Benediktin dan Sistersian. Pada abad 13-16 Masehi, devosi ini menurun dan mulai hidup lagi pada pertengahan akhir abad 16, salah satunya oleh Yohanes dari Salib (1569).   
 
Pada abad 17, berbagai praktek devosi kepada Hati Kudus Yesus dari beberapa tokoh spiritual mulai menjamur, di antaranya Santo Fransiskus Borgia, Santo Aloysius Gonzaga dan Beato Petrus Kanisius. Namun semuanya itu hanyalah devosi yang bersifat pribadi. Beato Yohanes Eudes (1602-1680) membuat devosi ini menjadi devosi umat, yang dirayakan dalam peribadatan. Ia bahkan menetapkan pesta liturgi khusus untuk devosi kepada Hati Kudus Yesus ini. Pada tanggal 31 Agustus 1670, pesta liturgis pertama untuk menghormati Hati Kudus Yesus dirayakan dengan begitu agung di Seminari Tinggi Rennes, Perancis.
 
Walaupun demikian, perayaan Hati Kudus Yesus pada masa itu belum menjadi perayaan resmi gereja sedunia, tetapi merupakan awal devosi kepada Hati Kudus Yesus untuk seluruh Gereja.

Awal Jumat Pertama
Istilah Jumat pertama sebagai devosi kepada Hati Kudus Yesus berawal dari penampakan Yesus kepada Santa Maria Margaretha Alacoque (1647-1690) di Perancis. Dalam penampakan-Nya, Yesus mengungkapkan rupa-rupa misteri rohani dan permintaan untuk penghormatan khusus kepada Allah. Pada penampakan ketiga (1674), Yesus menampakkan diri dalam kemuliaan dengan kelima luka penderitaan- Nya yang bersinar bagaikan mentari, dan dari Hati Kudus Yesus tampaklah Hati Kudus Yesus yang mencinta.

Yesus mengungkapkan, bahwa banyak orang tak menghormati dan menyangkal-Nya. Oleh karena itu, sebagai silih dan pemulih atas dosa-dosa manusia, melalui Maria Margaretha, Yesus meminta untuk menghormati-Nya secara khusus dengan menerima Sakramen Mahakudus sesering mungkin. Secara khusus pula, Yesus meminta untuk menerima Komuni Kudus pada Hari Jumat pertama setiap bulan, dan pada setiap Kamis malam di mana Yesus membagikan penderitaan yang dirasakan-Nya di Taman Getsemani. Hari Jumat Pertama itulah yang dirayakan oleh segenap umat sampai sekarang ini. Dan peringatan Hari Kamis malam masih dirayakan sampai sekarang ini di biara-biara dan oleh sebagian umat dengan perayaan devosional yang disebut Hora Sancta atau Jam Suci.
 
Kita tidak mengetahui mengapa Yesus meminta untuk menerima Komuni Kudus pada hari Jumat Pertama. Jika dikaitkan dengan Hari Kamis malam sebagai kenangan akan derita Yesus di Taman Getsemani, tentu Hari Jumat yang dimaksud Yesus adalah hari wafat-Nya di kayu salib. Mengapa harus hari Jumat Pertama dan bukan setiap hari Jumat? Kita juga tidak menemukan alasannya. Mungkin hari Jumat pada bulan baru menunjuk pada permulaan yang baik untuk kehidupan Kristen sepanjang bulan itu.
 
Setelah penampakan Yesus pada Maria Margaretha Alacoque, devosi kepada Hati Kudus Yesus berkembang pesat. Pada tahun 1856, Paus Pius IX menetapkan Pesta Hati Kudus Yesus pada Hari Jumat sesudah Pesta Tubuh dan Darah Kristus. Hal ini berkaitan langsung dengan permintaan Yesus pada Maria Margaretha Alacoque saat penampakan keempat (1675) untuk menghormati Hati Kudus-Nya secara khusus. Itulah pesta liturgis yang sampai sekarang ini dirayakan oleh gereja kita secara resmi.

Makna Jumat Pertama
Adalah hal yang baik bagi umat untuk meneruskan devosi kepada Hati Kudus Yesus pada hari Jumat pertama setiap bulan, karena anugerah khusus akan diberikan kepada mereka yang menerima komuni pada sembilan hari Jumat pertama berturut-turut. Sebelum meninggal, orang tersebut tidak akan mati dalam dosa, karena diberi pengampunan dosa dan akan mengalami kebahagiaan dalam keluarga dan penghiburan dalam derita.
​Romo Dhani-Berkah Dalem.
0 Comments

Memahami Lingkaran Natal

11/30/2021

0 Comments

 
     Lingkaran Natal merupakan salah satu lingkaran perayaan misteri-misteri Kristus sepanjang satu tahun liturgi dengan kekhususan misteri kedatangan Tuhan. Lingkaran Natal terdiri dari masa Adven sebagai masa penantian kedatangan Almasih dan masa Natal sebagai perayaan misteri kelahiran Tuhan. Selama lingkaran Natal ini, kita mengenang dan merayakan kedatangan Tuhan, “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yoh. 1: 11-12).

Masa Adven
      Masa Adven kita maknai sebagai masa penantian penuh harapan dan sukacita akan kedatangan Tuhan dan masa mempersiapkan Natal dengan sikap pertobatan. Masa Adven bertujuan mempersiapkan Hari Raya Natal dengan mengarahkan hati, supaya umat dengan penuh pengharapan menantikan Tuhan pada akhir zaman.

     Dari sisi teologis, dalam masa Adven, kita dapat melihat dimensi historis-sakramental keselamatan Allah yakni Allah yang berkenan hadir dalam sejarah hidup manusia. Allah menghendaki agar Gereja hidup dalam keberlangsungan proses karya keselamatan Allah yang sudah, sedang, dan senantiasa dinantikan. Maka Gereja mempunyai tugas misioner untuk mewartakan Sabda Allah kepada segala bangsa dan menyerukan ajakan untuk selalu berjaga-jaga. Dalam masa Adven, Gereja juga mengajak umat beriman untuk menghayati keutamaan-keutamaan kristiani. Keutamaan-keutamaan kristiani itu menjadi semangat dasar pada masa Adven yakni pengharapan, takwa dalam sikap iman, sikap tobat dan berpaling pada Allah, berjaga-jaga, kemurnian hati, dan penghargaan atas martabat orang lain. Dalam masa Adven kita juga dapat mengenangkan dan belajar dari tokoh-tokoh teladan dalam sejarah keselamatan seperti: Yesaya, Yohanes Pembaptis, Maria dan Yosef, para gembala, tiga majus dari timur.

     Masa Adven dimulai dengan ibadat sore menjelang hari Minggu yang jatuh pada tanggal 30 November atau yang terdekat dengan tanggal itu dan berakhir sebelum ibadat sore menjelang Hari Raya Natal. Masa Adven terdiri dari empat minggu dengan tema-tema pokok, sbb: 1) Minggu Adven I: pewartaan tentang kedatangan Tuhan kembali dan berjaga-jaga; 2) Minggu Adven II: pewartaan Yohanes Pembaptis tentang ajakan untuk pertobatan; 3) Minggu Adven III: Yohanes Pembaptis sebagai perintis jalan, Yesus sebagai mesias (minggu Gaudete); 4) Minggu Adven IV: peristiwa menjelang kelahiran Yesus.

     Selama masa Adven kiranya baik juga diisi dengan aneka macam kegiatan yang dapat mendukung umat. Kegiatan yang bisa dilakukan selama masa Adven diantaranya: 1) Kegiatan pewartaan dan peribadatan, seperti: ibadat adven, ibadat tobat, pemberkatan korona, pertemuan Adven, Novena/Triduum Natal; dan 2) Kegiatan sosial sebagai aksi Adven, perhatian kepada orang miskin dan menderita, serta kerjasama dengan setiap orang yang berkehendak baik. 

Masa Natal
     Masa Natal merupakan perayaan kelahiran Tuhan. Perayaan ini hendak mengungkapkan: 1) kegembiraan serta sukacita karena Allah mengangkat kita dari martabat manusiawi kepada martabat Ilahi, 2) menekankan dan mewartakan Allah yang masuk dalam sejarah hidup manusia, 3) saat terpenuhinya janji keselamatan Allah untuk manusia, 4) peristiwa yang menentukan dalam sejarah keselamatan yang berpuncak pada Paskah, 5) awal kehidupan Gereja (kelahiran kepala yang memungkinkan kelahiran tubuh mistik). Melalui perayaan Natal ini hendak dikembangkan penghayatan spiritualitas yang mengangkat nilai hidup manusia secara utuh yakni melalui Kristus yang hadir sebagai penyelamat manusia dan sebagai pribadi yang patut diteladani. Selain itu, perayaan Natal hendak membangun cinta kasih persaudaraan sebagai tubuh mistik dengan Kristus sebagai kepalanya. Perayaan Natal juga menumbuhkan kepekaan terhadap situasi zaman, kesederhanaan dalam hidup, dan perhatian kepada orang miskin.

     Masa Natal berlangsung dari ibadat sore menjelang Hari Raya Natal sampai dengan Pesta Pembaptisan Tuhan. Pada tanggal 24 Desember sebelum atau sesudah ibadat sore, dirayakan Misa sore Vigili Natal yakni misa menjelang hari raya Natal. Ada tiga misa Hari Raya Natal yakni Misa Malam (dirayakan setelah matahari terbenam), Misa Fajar, dan Misa Siang. Umat beriman hendaknya, mengikuti Perayaan Ekaristi Hari Raya Natal pada malam Natal dan atau salah satu Misa Fajar atau Misa Siang.

     Kegiatan yang bisa kita lakukan dalam Masa Natal yakni: 1) Maklumat Natal; 2) Penyalaan lilin sebelum maklumat Natal; 3) Perarakan bayi Yesus ke kandang; 4) Pelaksanaan tablo Natal dan bukan mengganti bacaan Injil; 5) Aksi Natal untuk memberi perhatian kepada: anak-anak, adi yuswa, KLMTD. Seluruh kegiatan ini hendak membangun suatu penghayatan yang menyeluruh dalam Masa Natal baik sebagai suatu pendalaman iman maupun juga sebagai perwujudan iman yang kongkret dan nyata.
 
     Marilah kita siapkan hati dan budi menyambut kedatangan Tuhan. Semoga pemahaman sederhana ini memberi inspirasi dan membantu kita semua dalam menghayati serta menjalani perayaan iman Gereja yang diadakan selama lingkaran Natal. Pada waktunya, perayaan liturgi dan ibadat pada lingkaran Natal itu dapat memberi kekuatan dan berkat melimpah bagi umat beriman dalam menjalani perjuangan dan perutusannya di tengah masyarakat pada zaman dewasa ini.         
Romo Dhani-Berkah Dalem!
0 Comments
<<Previous
Forward>>

    Archives

    December 2034
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki