|
Adorasi yang artinya penyembahan tidak sama persis dengan devosi. Adorasi/penyembahan hanya diberikan kepada Kristus, sedangkan devosi yang merupakan praktek religius, dapat berupa penyembahan kepada Kristus maupun juga penghormatan kepada para orang kudus.
Buah-buah yang diperoleh dari Adorasi adalah pertumbuhan rohani bagi mereka yang melaksanakannya, yang diperoleh karena rahmat dari Kristus sendiri. Sudah menjadi rahasia umum bahwa paroki- paroki yang rajin melakukan doa Adorasi, dan menyediakan “perpetual adoration” (Adorasi tanpa henti) akan diberkati Tuhan; panggilan imamat dari paroki tersebut akan meningkat, dan keluarga- keluarga dalam paroki tersebut dapat lebih bersatu dan bersemangat dalam melakukan tugas- tugas kerasulan. Jadi, alangkah baiknya kita meluangkan waktu untuk setidaknya sekali seminggu melakukan 1 jam Adorasi di hadapan Sakramen Maha Kudus. Alamilah kasih Tuhan, dan alamilah juga buah- buah positifnya dalam hidup kita. Berikut ini adalah beberapa saran yang dapat dilakukan dalam Adorasi Sakramen Mahakudus: a) Ucapkanlah doa pembuka sebelum Adorasi. b) Berdoa dari kitab Mazmur atau membaca doa Ibadat Harian. Kita dapat memilih Mazmur yang berisi pujian, ucapan syukur, permohonan ampun ataupun permohonan agar didengarkan Tuhan. Atau kita dapat pula mendoakan Ibadat Harian yang dibacakan oleh Gereja sepanjang tahun. c) Mengulangi “Doa Yesus” Mengulangi doa, “Tuhan Yesus, kasihanilah aku, yang berdosa ini.” Ulangilah terus, sampai hati dan pikiran anda tenang dan masuk dalam doa kontemplasi. d) Merenungkan Kitab Suci (Lectio Divina) Pilihlah salah satu perikop dalam Kitab Suci. Bacalah dan renungkanlah ayat- ayat tersebut. Pusatkan perhatian pada salah satu ayat yang menyentuh kita saat itu dan mohonlah agar anda dapat memahami apa yang Tuhan inginkan anda pahami akan ayat itu. e) Bacalah riwayat hidup para Santa/ santo dan berdoalah bersama dengan mereka. Banyak dari para orang kudus mempunyai devosi kepada Ekaristi, contohnya St. Teresa dari Lisieux (kanak- kanak Yesus), Katarina dari Siena, Fransiskus Asisi, Thomas Aquinas, dan Ibu Teresa dari Kalkuta. Kita dapat membaca riwayat hidup mereka dan berdoa bersama mereka di hadapan Sakramen Maha Kudus, semoga kitapun didorong untuk bertumbuh di dalam iman dan kekudusan seperti mereka. f) Curahkan isi hati kepada Kristus dan sembahlah Dia. Kita dapat pula datang dan mencurahkan isi hati kita kepada-Nya, menyadari bahwa kita berada di dalam hadirat-Nya. Kita berdoa seperti St. Fransiskus Asisi, “Aku meyembah-Mu, O Kristus, yang hadir di sini dan di semua gereja di seluruh dunia, sebab dengan salib suci-Mu Engkau telah menebus dunia.” g) Mohonlah ampun kepada Tuhan dan berdoalah bagi orang-orang lain Kita dapat pula berdoa bagi mereka yang pernah menyakiti hati kita dan memohon rahmat Tuhan bagi mereka. Mohonlah agar Tuhan mengampuni kita, yang juga telah menyakiti sesama/ kurang memperhatikan mereka. Atau, seperti yang dianjurkan oleh St. Faustina Kowalska, kita dapat berdoa memohon kerahiman ilahi bagi seluruh dunia dan kita dapat mendoakan doa Kerahiman Ilahi tersebut. h) Berdoalah rosario. Paus Yohanes Paulus II mengajak kita untuk merenungkan tatapan Bunda Maria yang memandang bayi Kristus di pelukannya, saat kita berada dalam persekutuan dengan Kristus. Kita dapat pula berdoa rosario dan memohon agar bersama Bunda Maria kita dapat memandang Kristus di dalam Ekaristi. i) Duduk sajalah dengan tenang dan alami hadirat Tuhan Kita dapat pula duduk tenang dalam hadirat Tuhan seperti halnya kita sedang mengunjungi seorang sahabat. Duduk tenang di hadapan-Nya, dan nikmatilah hadirat-Nya. Daripada bercakap- cakap dengan-Nya, kita dapat pula diam, dan berusaha mendengarkan apa yang hendak disampaikan-Nya. j) Di akhir Adorasi, dapat diucapkan doa penutup. Berkah Dalem-Romo Dhani Pr Disarikan dari berbagai sumber.
0 Comments
Jika saya mengingatnya, mungkin saya berkenalan dengan Kitab Suci baru menjelang masuk Seminari Menengah Mertoyudan. Artinya usia sekitar 14 tahun. Terus terang, saya tidak langsung akrab dengan Firman Tuhan karena istilah yang mengganggu: ALKITAB. Rasanya itu bukan aku banget deh. Dengan berjalannya waktu, saya semakin dekat dengan Alkitab.
Rupa-rupanya, Alkitab itu istilah bahasa Arab yang artinya ‘The Book’, yaitu sekumpulan tulisan suci menurut tradisi yang panjang, ditulis pada masa yang berlainan oleh penulis dan tradisi yang berbeda-beda, yang oleh Umat Yahudi dan Umat Kristiani diamini sebagai kitab suci. Selanjutnya Gereja Katolik membiasakan diri menyebut Alkitab sebagai ‘Kitab Suci’ saja. Oleh : FX. Agus Suryana Gunadi, Pr Spiritualitas kerap diartikan sebagai kerohanian karena spiritus berarti roh. Tetapi kata spiritualitas bukan dari kata latin tetapi prancis yakni spiritualite yang pertama-tama bukan kerohanian melainkan corak atau gaya hidup. Spiritualitas adalah semacam sikap dasar berhadapan dengan kenyataan hidup. Spiritualitas tidak dilihat dalam pertentangan dunia, tidak menarik diri dalam keheningan hatinya sendiri, tidak sama dengan kesalehan yang cenderung devosional. Spiritualitas justru sibuk dengan hidup sehari-hari, menurut segala aspek duniawinya. Tekanan ada pada praxis dan bukan pada pemahaman. Dan yang paling dipentingkan adalah hidup yang biasa. Ciri khasnya adalah keterbukaan kepada yang lain baik masyarakat maupun agama-agama yang lain. Tekanan pada hubungan pribadi dengan Allah, khususnya melalui Kristus atau rasul-rasul Allah yang lain. Spiritualitas tidak berarti ‘politisasi’ hidup rohani, betapapun kongkret bentuk pelaksanaannya. Dan selalu ingin dipertahankan kreativitas dan mobilitas. Spiritualitas lebih merupakan mentalitas daripada peraturan atau kebiasaan tradisional.
Pengharapan adalah iman yang dinamis, iman yang menggerakkan hidup, transendensi ke depan. Pengharapan sama seperti iman, tidak boleh dilepaskan dari keterarahan kepada misteri. Kalau orang tidak berpengharapan itu berarti bahwa dinamika hidup hilang, ia tidak hidup lagi, melainkan dihidupkan oleh dunia sekitarnya, ia terpaksa hidup. Pengharapan berarti berani menerima hidup dan mengembangkannya ke arah misteri yang agung. Dasar iman adalah masa lampau, wahyu Tuhan yang telah disampaikan kepada manusia. Pengharapan mengarahkan misteri itu ke masa depan. Pengharapan adalah dinamika yang menggerakkan segala kegiatan dan usaha yang terbatas karena senantiasa mencari yang tidak terbatas. “...Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan” (I Petrus 1:3). Pengharapan adalah keyakinan bahwa Tuhan beserta kita. Pengharapan dapat dikatakan sebagai pengalaman akan Allah dalam kesibukan hidup sehari-hari. Maka tidak terbatas pada pengalaman rohani saja. Pengalaman ini menyangkut hidup seluruhnya dan berarti keterbukaan bagi dunia sekitar. Sebagaimana manusia mengalami keterarahan diri pada misteri, begitu juga ia membuka diri bagi keseluruhan hidup di dalam dan di luar dirinya. Dengan demikian Allah tidak terpisah dari hidup yang real, malahan dalam segala-galanya menjadi dekat. Pengalaman akan Allah yang dimaksud di sini berhubungan langsung dengan pengalaman nilai. Nilai bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, nilai diberikan manusia berdasarkan pengalaman. Yang mendukung hidup adalah nilai positif dan begitu pula sebaliknya. Dalam nilai yang positif dialami juga keterarahan pada nilai mutlak yang harus ada, karena memberi arti penuh pada hidup. Maka dalam perjuangan menuju dan mencari arah, Allah ditemukan. Bukan dalam suatu refleksi yang abstrak dan kering, melainkan dalam ketidakpastian hidup. Allah yang berjalan bersama manusia, Allah yang terlibat dalam perjuangan hidup manusia. Pergulatan hidup manusia merupakan medan juang untuk mewujudkan makna spiritualitas yang sesungguhnya. Dalam arti sekarang ini, masa pandemi merupakan ruang bagi kita untuk semakin bertumbuh dalam roh. Melihat dengan kacamata iman kehadiran Tuhan dalam kehidupan kongkret setiap hari termasuk dalam pandemi yang tak berkesudahan ini. Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita (Ibrani 6:19). Jika kita hidup berarti kita harus berani menaruh harapan terlebih kepada Allah yang menjadi sumber kehidupan itu sendiri. Kita dapat terus memaknai hidup kita kendati di tengah pandemi. Karena jiwa kita selalu diisi dengan Roh Allah yang selalu membuat kita berpengharapan dari waktu ke waktu. Sebagaimana Chrisye dalam lagunya...Badai Pasti Berlalu... Awan hitam di hati yang sedang gelisah Daun daun berguguran Satu satu jatuh kepangkuan Kutenggelam sudah ke dalam dekapan Semusim yang lalu sebelum kau mencapai Langkahku yang jauh Kini semua bukan milikku Musim itu telah berlalu Matahari segera berganti Gelisah kumenanti tetes embun pagi Tak kuasa ku memandang dikau matahari Kini semua bukan milikku Musim itu telah berlalu Matahari segera berganti Badai pasti berlalu Badai pasti berlalu Badai pasti berlalu Badai pasti berlalu “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu”, (Matius 24:35). Yosafat Dhani Puspantoro, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed