|
Puncta 5 Juli 2026
Minggu Biasa XIV Matius 11:25-30 KETIKA Bima ingin mengetahui kesejatian hidup yakni asal tujuan hidup manusia yang sebenarnya, ia berguru kepada Pandita Durna. Oleh Gurunya dia disuruh mencari “Banyu suci perwita sari” di dasar samudera. Tentu saja ini sesuatu yang sulit diterima akal dan logika manusia. Ingin mencari sejatinya hidup kok malah harus terjun ke dasar samudera. Tetapi karena niatnya yang kokoh dan keinginannya yang tak bisa dibendung, Bima melakukan apa yang diperintahkan gurunya. Ternyata dia berjumpa dengan makhluk dewata yang bertubuh kecil tak sebanding dengan dirinya yang gagah perkasa. Tetapi dalam diri makhluk kecil ini seluruh alam semesta dikuasainya karena Dialah Sang Hyang Dewa Ruci. Untuk mengetahui asal usul dan tujuan manusia hidup, Bima disuruh masuk ke tubuh kecil Sang Dewa Ruci. Ia harus manunggal menjadi kecil di dalam diri Yang Bijaksana itu sendiri. Hanya di dalam diri orang-orang kecil dan sederhana kebijaksanaan Allah mudah dipahami. Hari ini dalam Injil Yesus mengungkapkan kebijaksaan Allah tersembunyi dalam diri orang bijak dan pandai, tetapi dinyatakan dalam diri orang kecil. Orang kecil bukan karena fisik atau ukuran tubuhnya, tetapi karena ketergantungannya pada Tuhan, kerendahan hatinya dan kesetiaannya. Orang kecil dan sederhana adalah orang yang hanya mengandalkan Tuhan dalam segala kehidupannya. Orang kecil dapat kita lihat dalam diri mereka yang sederhana, miskin, tersingkir tertindas dan menderita. Orang-orang seperti ini selalu dan setiap saat mencari Tuhan untuk memohon tuntunan dan terangnya agar dapat mengalami kasih karunia-Nya. Sikap dan perilakunya dituntun oleh kehendak Tuhan. Kaum kecil dalam kitab suci disebut anawim. Anawim berasal dari bahasa Ibrani ('anavim) yang berarti "mereka yang membungkuk", "tertindas", atau "miskin". Istilah ini merujuk pada umat yang miskin secara materi atau tertindas, namun memiliki ketergantungan mutlak kepada Tuhan dan terbuka sepenuhnya pada kehendak-Nya. Kebijaksanaa Allah tersembunyi bagi orang bijak dan pandai karena mereka mengandalkan dirinya sendiri. Sedang kaum anawim dengan kerendahan hati dan ketergantungannya pada pertolongan Allah mampu melihat rencana Tuhan walau dalam derita dan kesengsaraan hidup yang dialami. Kaum anawin adalah mereka yang setia mengandalkan Allah dengan rendah hati selalu berharap pada kebaikan Tuhan. Apakah kita juga bersikap seperti kaum anawim seperti Abraham, Sara, Yusuf dan Maria? Sepercik pantunbuat anda; Naik gunung sambil bawa tongkat, Di puncak gunung lupa bawa sandal. Ayo kita jadi umat yang bersemangat, Mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Wonogiri, semangat rendah hati Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed