|
Puncta 2 Desember 2025
Selasa Adven I Lukas 10:21-24 DALAM kunjungan keluarga di lingkungan-lingkungan saya merasa senang dan dikuatkan. Umat sederhana di desa-desa yang saya temui memberi kekuatan dalam beriman. Sharing-sharing mereka justru menguatkan dan meneguhkan kami yang datang. Mereka menunjukkan iman yang kuat kendati hidup sendirian di tengah-tengah masyarakat. Mereka selalu bersyukur karena kebaikan Tuhan yang mengalir tiada henti. Mereka bisa melihat karya Tuhan itu lewat pengalaman hidup sehari-hari. Hidup rukun di tengah warga, guyub dan saling membantu satu sama lain, selalu ada pertolongan dalam setiap kesulitan, selalu dicukupkan oleh Tuhan walau tidak kaya raya. Itulah campur tangan Tuhan yang selalu hadir secara nyata. Selalu bersyukur membuat orang mampu melihat karya Allah dalam kehidupan sehari-hari. Bersyukur memungkinkan orang melihat peristiwa kehidupan sebagai tindakan Allah. Kita bisa melihat karya besar Allah dalam hidup kita. Itu dimulai dari hati yang selalu bersyukur. Yesus sendiri mengalami karya Bapa dalam Diri-Nya, maka Dia bersyukur. "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.” Yesus mengajak para murid-Nya untuk bersyukur. Para murid semestinya bersyukur karena melihat langsung karya Allah dalam diri Yesus. Maka Yesus berkata kepada mereka, “"Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya." Banyak orang ingin melihat tetapi tidak bisa melihat. Banyak orang ingin mendengar tetapi tidak mendengar, karena tidak ada rasa syukur dalam hati mereka. Kalau hati kita dipenuhi rasa syukur, maka kita akan melihat karya-karya besar Allah bagi kita. Hal itu yang dikejar dan didambakan oleh orang-orang besar, cerdik pandai dan bijak. Bersyukurlah karena anda telah mengalami dan melihat kasih karunia Allah dalam diri anda dan itu tidak diberikan kepada semua orang, bahkan mereka yang cerdik dan bijak sekalipun. Bersukacita dan bergembiralah anda karena Tuhan selalu ada dalam segala situasi. Sebelum Sabtu adalah hari Jum’at, Kalau hari Minggu kita mesti beribadat. Hati yang bersyukur adalah berkat, Mereka yang sakit serasa ketemu obat. Wonogiri, kebijaksanaan rakyat jelata Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Puncta 1 Desember 2025
Pw. B.Dionesius dan Redemptus, Biarw Martir Indonesia Matius 8: 5-11 atau RUybs PIERRE Berthelot (1600-1638) - demikian nama asli Santo Dionisius yang berasal dari keluarga pelaut. Sejak kecil ia ikut ayahnya mengarungi lautan. Usia 19 tahun dia sudah jadi pelaut ulung. Ia masuk angkatan laut di Goa, India. Ia pernah terdampar di Banten karena kapalnya dibakar oleh VOC. Namun dia tidak puas jadi pelaut. Ia selalu merenungkan panggilan Tuhan dalam Kitab Suci dan hidup menurut sabda-Nya. Pada usia 35 tahun ia masuk Ordo Karmel dan bertugas di Goa, India. Di biara inilah dia bertemu dengan Bruder Redemptus (Thomas Rodriguez da Cunha) yang juga bekas tentara Portugis. Mereka berdua ditugaskan oleh Raja Muda Goa untuk menjalin hubungan dengan Kerajaan Aceh, di bawah Raja Iskandar Thani. Namun hasutan VOC membuat orang Aceh memusuhinya. Mereka difitnah ingin menyebarkan agama Katolik. Mereka ditangkap, disiksa dan dipenjara. Di tengah penganiayaan itu Dionesius meneguhkan iman para anak buah kapal. Dia terakhir dibunuh dengan kelewang dan dipenggal kepalanya. Namun anehnya setiap kali tubuhnya dibuang ke laut, jenasah Dionesius kembali ke tempat dia dibunuh. Akhirnya dia dimakamkan secara hormat di Pulau Dien. Para martir itu dibunuh pada tanggal 29 November 1938. Dionesius dipindahkan ke Goa. Semangat dan mentalnya sebagai perwira surgawi diwujudkan dalam kesetiaan dan loyalitasnya kepada Raja Semesta yaitu Yesus Kristus. Ia taat sampai mati membela iman dan mengikuti perintah-Nya. Dalam Injil, seorang perwira Romawi juga menunjukkan kesetiaan dan ketaatannya dan merasa tidak pantas di hadapan Raja Segala Raja. Kata perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." Apakah kita juga punya sikap taat dan setia kepada Kristus Sang Raja Segala Raja? Ketaatan perwira Romawi itu menunjukkan imannya yang dalam. Kita juga bisa meneladan kesetiaan dan ketaatan Dionesius, Redemptus dan perwira Romawi itu. Ke Tawangmangu beli pisang, Makan sebiji seperti makan sepuluh. Aku tidak pantas Tuhan datang, Bersabdalah saja aku pasti sembuh. Wonogiri, selamat jalan sahabatku Asmi Ariyanto... Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed