|
Puncta 11 Desember 2025
Kamis Adven II Matius 11:11-15 DUA nama ini adalah anak-anak keturunan Pandawa. Mereka tidak ada dalam khazanah Mahabarata versi India. Tetapi pada versi Jawa, dua nama ini diciptakan untuk menambahkan nilai-nilai kejujuran, keterbukaan, tanggungjawab dan sifat-sifat seorang ksatria. Wisanggeni dan Antasena adalah pribadi yang unggul melebihi anak-anak Pandawa yang lain seperti Gatotkaca, Abimanyu, Irawan, Antareja, Sumitra, Wijanarka, Wilugangga, Pregiwa-Pregiwati dan masih banyak lagi. Wisanggeni dan Antasena memiliki kesaktian yang luar biasa. Mereka bisa mengalahkan siapa pun bahkan para dewa juga takluk pada dua anak “badung” ini. Mereka memiliki karakter yang berbeda dari anak-anak yang lain. Mereka membela kebenaran dan keadilan, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan berbicara apa adanya dengan jujur. Yang benar dikatakan benar, yang salah dikatakan salah. Dalam Injil hari ini, Yesus memuji pribadi Yohanes Pembaptis. “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya.” Seperti Wisanggeni atau Antasena, Yohanes tampil dengan kejujuran dan kerendahan hati. Ia menjadi nabi yang membela kebenaran dan keadilan Allah. Wisanggeni dan Antasena mundur mengorbankan dirinya agar Pandawa maju dan menang dalam Baratayuda. Begitu pula Yohanes Pembaptis, ia dengan jujur dan rendah hati mundur dan membiarkan Yesus tampil ke muka. Yohanes adalah pembuka jalan bagi tampilnya Yesus di medan dunia. Ia seperti “voorijder” pembuka jalan bagi perjalanan karya Yesus. Kehadiran dan karya Yohanes mengajak orang mempersiapkan diri untuk semakin mengenal Sang Mesias. Antasena anaknya Bima, Wisanggeni anaknya Arjuna. Jadilah anak yang dewasa, Berdiri teguh sbagai ksatria. Wonogiri, berani tampil beda Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Puncta 10 Desember 2025
Rabu Adven II Matius 11:28-30 DARI jalan naik (tanjakan) di Sumber Sukun aku bisa merenungkan beban yang berat bisa menjadi ringan. Waktu itu aku diminta mengantar ibu belanja ke pasar Klaten. Dengan sepeda aku memboncengkan ibu pulang dengan membawa barang belanjaan. Namun sesampai di tanjakan Sumber Sukun, aku bilang sama ibu; “Bu, turun saja ya berat nih, aku gak kuat.” Ibu dengan sabar turun dari boncengan dan berjalan sambil mendorong sepeda. Pada waktu lain aku mengajak temen cewek nonton bioskop di Rita Theater. Waktu itu sedang ramai diputar Film “Gita Cinta dari SMA” yang dibintangi Rano Karno dan Yessy Gusman. Tentu saja pulangnya harus melewati tanjakan Sumber Sukun. Aku memboncengkan dia dengan keringat bercucuran. Temenku bertanya, “Kuat gak nih, apa aku turun saja.” Walaupun pantatku naik turun dari sadel tetapi aku bilang, “Gak usah, aku kuat kok.” Yah, akhirnya aku berhasil memboncengkan dia melewati tanjakan panjang di Sumber Sukun. Segala sesuatu walaupun berat tetapi kalau dilakukan dengan senang dan penuh kasih terasa ringan dan enak. Begitulah undangan Yesus yang mengasihi kita yang letih lesu dan berbeban berat. Kita semua pasti mempunyai beban hidup yang berat. Yesus melakukan segalanya dengan kasih. Ia memberikan kelegaan kepada kita yang mengalami beban berat. Jika kita melakukan segala sesuatu dengan kasih maka beban yang berat itu akan menjadi ringan. Sebaliknya sekali pun pekerjaan itu ringan, tetapi kalau dilakukan secara terpaksa, pasti terasa berat. Yesus menunjukkan kasih-Nya dengan memanggul salib yang berat. Dengan dasar kasih, salib yang berat itu diterima dengan tulus ikhlas. Beban yang berat, tapi kalau ditanggung dengan kasih akan terasa ringan. Maka dia mengundang kita untuk datang kepada-Nya. Maka Yesus berkata, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." Mari kita menanggung beban hidup kita dengan kasih sayang. Niscaya beban itu akan menjadi ringan. Sebagaimana Kristus memanggul salib yang berat dengan kasih demi kita, salib itu menjadi enak dan ringan. Seringan apapun beban kita, kalau diterima dengan terpaksa akan terasa berat sekali. Yesus telah menunjukkan teladan-Nya dengan memanggul salib bagi kita. Mari berbagi dengan saudara di Sumatra, Untuk membantu dan meringankan beban. Menanggung derita demi mengasihi sesama, Terasa ringan dan sangat membahagiakan. Wonogiri, mengasihi itu bukan beban Rm. A.Joko Purwanto,Pr Puncta 9 Desember 2025
Selasa Adven II Matius 18: 12-14 SEKARANG ini kita prihatin dengan kondisi saudara-saudara yang ada di Aceh, Medan Sumatera Utara, Tapanuli Selatan dan Sibolga yang kehilangan harta benda dan orang-orang tercinta akibat terjangan banjir bandang dan tanah longsor. Mereka kehilangan segala-galanya. Hidup di pengungsian hanya dengan selembar baju menempel di tubuhnya. Rumah dan harta mereka ludes diamuk banjir yang datang tiba-tiba. Tak sempat ada waktu untuk menyelamatkannya. Mendapatkan sebungkus makanan adalah berkat yang luar biasa untuk bisa bertahan hidup. Mereka berjalan tiga hari tiga malam untuk mencari bantuan. Mereka sangat mengharapkan bantuan kita. Uluran tangan kita yang peduli sangat dinantikan. Kehilangan sesuatu yang sangat berharga pasti pernah kita alami. Betapa bahagianya jika waktu itu kita bisa mendapatkannya kembali. Itulah gambaran tentang kasih Allah kepada manusia yang dikisahkan Yesus dengan perumpamaan domba yang hilang. Seorang gembala memiliki seratus ekor domba. ada satu domba yang hilang tersesat. Maka ia segera pergi mencari domba itu dan meninggalkan yang sembilanpuluh sembilan lainnya. Allah yang digambarkan sebagai gembala tidak ingin ada satu manusia pun hilang tersesat. Ia akan mencarinya sampai dapat. Keselamatan manusialah yang menjadi kehendak Allah. Maka Allah berusaha sekuat tenaga untuk mencari yang hilang. “Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang." Sabda Yesus ini mau menegaskan kasih dan kerahiman Allah yang melebihi segalanya. Di mata Allah kita semua berharga. Justru yang tersesat dicari-Nya. Mari kita menghargai sesama kita sebagaimana Allah menghargai kita. Sekecil apa pun kita, Allah menerima kita dengan penuh belas kasih. Yang hilang dan tersesat terus dicari-Nya agar memperoleh hidup yang bahagia. Glondongan kayu jadi sampah, Banjir bandang menerjang rumah. Domba yang hilang dicari Allah, Agar hidup kita makin berlimpah. Wonogiri, mencari domba yang hilang Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 8 Desember 2025
HR. St. Maria dikandung tanpa noda Lukas 1:26-38 PERNAHKAH anda masuk ke restoran dengan konsep toilet? Dimana semua perabot makannya berbentuk kloset. Dari tempat duduk, piring dan tempat penyajiannya berbentuk kloset, baik yang jongkok maupun model duduk. Di beberapa kota ada restoran dengan konsep toilet. Di Beijing China ada restoran “Pian Pian Man Fu.” Di Jepang juga ada Curry Shop Shimizu” yang menyajikan kari rasa (maaf) kotoran manusia. Di Semarang juga ada restoran model toilet namanya Café Jamban. Pertama masuk mungkin orang merasa terkejut dan takut untuk menikmati makanan yang disajikan di atas kloset. Melihat bentuk wadahnya orang merasa risih dan bergidik. Namun banyak juga yang penasaran ingin mencoba sensasi baru. Kita bisa menarik perbandingan dengan Dogma Maria Tanpa Noda Dosa yang kita rayakan hari ini. Bagaimana mungkin Yesus yang adalah Allah Putra lahir dari rahim seorang perawan yang berdosa atau kotor. Bagaimana Allah yang mulia ditempatkan dalam wadah yang kotor? Tidak mungkin makanan yang enak dan lezat seperti iga bakar ditaruh di kloset tempat orang buang kotoran. Begitupun Allah yang Mahakudus tidak berada di rahim seorang perawan yang berdosa. Oleh kuasa Allah, Maria dipersiapkan dengan suci dan bersih tanpa noda sebagai tempat Yesus Sang Putra untuk menjelma menjadi manusia. Iman Gereja mengakui Maria sejak semula dikandung tanpa dosa asal, karena dia dikehendaki untuk melahirkan Sang Juru Selamat dunia. Paus Pius IX mendeklarasikan dogma St. Perawan Maria dikandung tanpa noda dosa pada 8 Desember 1854 sebagai rangkuman iman para Bapa-Bapa Gereja awal yang percaya dan menghormati Santa Maria sebagai orang pilihan Allah dan suci. Sejak semua Santa Maria mempunyai peran khusus dan istimewa dalam karya penebusan Tuhan. Maria disebut sebagai perawan yang penuh rahmat oleh Malaikat Gabriel dan dipilih sebagai Ibu Sang Imanuel, Allah beserta kita yakni Yesus Kristus. Kita pantas bersyukur karena Maria menjadi teladan iman yang teguh, setia, kokoh dan rendah hati menjadi hamba Tuhan. Marilah kita meneladani dan mencontoh kesetiaan Maria agar kita boleh mendekati Yesus Puteranya. Per Mariam ad Iesum. Matahari bersinar di balik awan, Burung berkicau bersahutan. Maria teladan hidup beriman, Ia tangguh dan setia kawan. Wonogiri, doakanlah kami ya Bunda Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 7 Desember 2025
Minggu Adven II Matius 3:1-12 BUAH pertobatan yang nyata digambarkan oleh Viktor Hugo dalam pribadi Jean Valjean dalam Novel “Les Miserables.” Dari seorang narapidana yang penuh dendam menjadi walikota yang murah hati. Pertobatan itu terjadi ketika Jean Valjean diampuni dan dikasihi oleh Uskup Meyriel yang memberinya tumpangan dan belas kasihan. Sejak saat itu Valjean berubah hidupnya. Ia membantu banyak orang untuk hidup layak. Ia membantu Fantine yang sakit dan tuna wisma. Ia menyelamatkan Cosette, anak yatim piatu. Valjean menolong Marius Pontmercy yang hampir mati. Pertobatan Valjean diwujudkan secara nyata dalam tindakan belas kasih pada yang kecil dan menderita. Yohanes Pembaptis mewartakan pertobatan kepada banyak orang karena Kerajaan Allah sudah dekat. Ia menggambarkan orang yang tidak bertobat seperti pohon yang tidak menghasilkan buah. Pohon itu akan ditebang dan dibakar ke dalam api. Pertobatan sejati nampak dalam sikap hidup dan tindakan kita. Ada perubahan ke arah yang baik dan benar dalam diri kita. Yohanes tampil memberitakan pertobatan; "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Hidup Yohanes Pembaptis sendiri memberi contoh tentang pembaharuan diri dan pertobatan. Ia hidup dengan askese yang tinggi, matiraga dan menahan diri terhadap nafsu duniawi. Pertobatan tidak sekedar hanya niat, tetapi nyata dalam tindakan. Untuk menyiapkan kedatangan Sang Mesias, kita juga diajak untuk bertobat. Perlu menyiapkan diri agar pantas menerima anugerah Tuhan. Masa Adven ini adalah masa pertobatan. Masa untuk pembaharuan diri menuju pertobatan sejati. Jangan sampai kita menjadi pohon yang tidak menghasilkan buah dan akan dibuang. Mari kita menghasilkan hidup yang berkelimpahan. Alat penampi sudah ada di tangan-Nya untuk memisahkan gandum dan jerami. Jadilah gandum yang bernas sehingga berguna bagi banyak orang. Senang terima sepucuk surat, Selalu datang pada hari Jum’at. Bertobat harus sampai berbuat, Jangan hanya berhenti pada niat. Wonogiri, mari kita bertobat Rm. A. Joko Purwanto,Pr Puncta 7 Desember 2025
Minggu Adven II Matius 3:1-12 BUAH pertobatan yang nyata digambarkan oleh Viktor Hugo dalam pribadi Jean Valjean dalam Novel “Les Miserables.” Dari seorang narapidana yang penuh dendam menjadi walikota yang murah hati. Pertobatan itu terjadi ketika Jean Valjean diampuni dan dikasihi oleh Uskup Meyriel yang memberinya tumpangan dan belas kasihan. Sejak saat itu Valjean berubah hidupnya. Ia membantu banyak orang untuk hidup layak. Ia membantu Fantine yang sakit dan tuna wisma. Ia menyelamatkan Cosette, anak yatim piatu. Valjean menolong Marius Pontmercy yang hampir mati. Pertobatan Valjean diwujudkan secara nyata dalam tindakan belas kasih pada yang kecil dan menderita. Yohanes Pembaptis mewartakan pertobatan kepada banyak orang karena Kerajaan Allah sudah dekat. Ia menggambarkan orang yang tidak bertobat seperti pohon yang tidak menghasilkan buah. Pohon itu akan ditebang dan dibakar ke dalam api. Pertobatan sejati nampak dalam sikap hidup dan tindakan kita. Ada perubahan ke arah yang baik dan benar dalam diri kita. Yohanes tampil memberitakan pertobatan; "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Hidup Yohanes Pembaptis sendiri memberi contoh tentang pembaharuan diri dan pertobatan. Ia hidup dengan askese yang tinggi, matiraga dan menahan diri terhadap nafsu duniawi. Pertobatan tidak sekedar hanya niat, tetapi nyata dalam tindakan. Untuk menyiapkan kedatangan Sang Mesias, kita juga diajak untuk bertobat. Perlu menyiapkan diri agar pantas menerima anugerah Tuhan. Masa Adven ini adalah masa pertobatan. Masa untuk pembaharuan diri menuju pertobatan sejati. Jangan sampai kita menjadi pohon yang tidak menghasilkan buah dan akan dibuang. Mari kita menghasilkan hidup yang berkelimpahan. Alat penampi sudah ada di tangan-Nya untuk memisahkan gandum dan jerami. Jadilah gandum yang bernas sehingga berguna bagi banyak orang. Senang terima sepucuk surat, Selalu datang pada hari Jum’at. Bertobat harus sampai berbuat, Jangan hanya berhenti pada niat. Wonogiri, mari kita bertobat Rm. A. Joko Purwanto,Pr Puncta 6 Desember 2025
Sabtu Adven I Matius 9:35 – 10:1.5a.6-8 SEMINGGU setelah bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera Utara dan Aceh, Karina KAS mengeluarkan surat edaran untuk peduli bagi para korban. 700-an jiwa menjadi korban, ribuan yang sakit dan mengungsi karena rumah mereka diterjang banjir bandang. Dari berita di media sosial kita bisa melihat penderitaan saudara-saudara kita di Aceh dan Sumatera Utara. Bahkan Bupati di Aceh merasa tak sanggup mengatasi situasi yang sangat berat ini. Bupati minta kepada Pemerintah Pusat untuk mengambil alih penanganan bencana. Hal ini menunjukkan betapa berat dan dahsyat dampak yang ditimbulkan oleh banjir bandang yang menerjang pemukiman warga. Kita semua diajak berbelas kasih dan peduli dengan membantu mereka yang terdampak. Semangat belarasa diwujudkan dalam tindakan nyata menolong mereka yang sedang menderita. Inilah pesan Yesus dalam perikope hari ini. Yesus berkeliling mengajar tentang Kerajaan Allah. Dia mewujudkan itu dengan menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat dan memberitakan kabar sukacita. Yesus tergerak hatinya oleh belas kasihan melihat orang banyak yang lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Para murid diajak untuk menolong mereka. Yesus memanggil murid-murid-Nya dan memberi kuasa untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Belas kasih menjadi dasar utama untuk bertindak. Berbela rasa dengan mereka yang sedang menderita adalah panggilan ilahi. Saudara-saudara kita di Aceh dan Medan sedang menderita. Mereka kehilangan rumah, tanpa makanan dan minuman, ada yang sakit, harus mengungsi dan derita lainnya. Saat inilah kita diundang ikut terlibat dan ambil bagian dalam kemuridan Yesus. mengikuti Yesus berarti juga berbelarasa dan peduli bagi mereka yang membutuhkan dan menderita. Ayo kita bertindak segera menolong mereka tanpa pandang bulu. Warga Medan sedang berduka, Air bah datang dengan tiba-tiba. Seperti domba tidak bergembala, Kita datang bawa kabar sukacita. Wonogiri, ayo kita berbela rasa Rm. A.Joko Purwanto,Pr Puncta 5 Desember 2025
Jumat Adven I Matius 9: 27-31 ORANG cacat atau penyandang disabilitas seringkali dipandang sebelah mata. Mereka tidak hanya cacat fisik tetapi juga menjadi korban kehilangan martabatnya sebagai pribadi yang utuh. Justru dari orang-orang seperti ini kita belajar beriman. Yesus justru memilih orang-orang seperti ini untuk disembuhkan dan diangkat martabatnya sebagai manusia seutuhnya. Dalam perikope ini kita belajar dari dua orang buta yang mendapat penyembuhan dan mereka lalu mengikuti Yesus menjadi murid. Dari orang-orang seperti mereka ini kita belajar tentang ketekunan dalam keterbatasan. Mereka berdua terus mengikuti Yesus. Kata “mengikuti” bukan hanya secara fisik, tetapi menjadi murid Yesus dalam perjalanan-Nya. Kata ini sepadan dengan menyertai seperti murid-murid menyertai Yesus. Tidak mudah mengikuti dengan mata buta. Mereka sering dipinggirkan, dan bahkan sering disingkirkan untuk tidak merepotkan yang lain. Mereka digolongkan sebagai pendosa dan layak disuruh pergi. Orang buta ini juga bertekun dalam doa. Mereka mengikuti sambil berseru-seru (berdoa dengan sungguh-sungguh); “Kasihanilah kami, hai Anak Daud!” Seruan ini mengungkapkan iman mereka bahwa Yesus adalah Mesias keturunan Daud yang telah dijanjikan. Yesus sekali lagi menegaskan iman mereka, “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.” Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Mereka mengakui dalam iman bahwa Yesus adalah Tuhan. Maka Yesus menyembuhkan mereka karena imannya. Dari sinilah kita banyak belajar dari dua orang buta ini. Mereka mengajarkan agar kita bertekun dalam iman. Ketekunan akan membuahkan berkah yang melimpah seperti dua orang buta ini. Harapan tidak akan sia-sia. Tuhan pasti akan bertindak melihat keteguhan iman kita. Jalan-jalan ke Pangandaran, Singgah dulu makan mendoan. Tetaplah teguh beriman, Tuhan pasti menyembuhkan. Wonogiri, imanmu yang menyelamatkan Rm. A.Joko Purwanto,Pr Puncta 4 Desember 2025
Kamis Adven I Matius 7:21.24-27 AKHIR September 2025 terjadi peristiwa robohnya bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo. Diduga bangunan itu roboh karena kegagalan konstruksi akibat sambungan yang lepas dan bahan bangunan yang tidak sesuai standar. Struktur sambungan yang tidak sempurna seperti kolom dan balok tidak mampu menahan cor beton yang berat di lantai atasnya. Pengerjaan yang tidak menggunakan tenaga ahli – melibatkan santri-santri yang sedang belajar – tidak memenuhi standar. Kurangnya pengawasan profesional di lapangan membuat orang membangun tanpa perhitungan teknis yang memadai. Apalagi dengan motivasi biaya murah, kualitas material diabaikan, hasil yang maksimal dikorbankan. Yesus memberi contoh tentang dua macam dasar pembangunan; pasir dan batu terkait dengan orang beriman. Ada orang yang hanya mendengarkan tetapi tidak melakukan firman. Namun ada orang yang mendengarkan sekaligus melakukannya. Orang yang hanya mendengarkan ibarat membangun rumah di atas pasir. Ketika terjadi hujan badai, rumah itu gampang roboh. Sebaliknya orang yang mendengarkan dan melakukan firman ibarat membangun di atas dasar batu. Orang beriman tidak cukup hanya mendengar kotbah, menghapal Kitab Suci, melafalkan setiap hari di gereja. Tetapi orang harus mampu mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa praktek korupsi sulit dihapus? Karena orang hanya bersumpah ketika dilantik, tetapi dalam prakteknya mereka tidak melakukan apa yang dijanjikannya. Orang hanya formal mengucapkan sumpah, tetapi lupa mempraktekkannya. Ketika sumpah kepada Allah tidak diwujudkan dalam praktek nyata, hidup akan terombang-ambing dan mudah roboh. Allah saja tidak ditakuti, apalagi hukum buatan manusia. Kita bisa melihat penjara dipenuhi koruptor-koruptor serakah yang hanya membangun untuk dirinya sendiri. Mana yang anda pilih; membangun diri dengan pondasi yang kuat atau mencari enaknya sendiri dengan pondasi yang rapuh? Nasib anda akan ditentukan dengan pilihan ini. Jalan-jalan pagi di atas pematang sawah, Banyak burung bangau terbang kian kemari. Hidup kita ini seperti membangun rumah, Mau kualitas apa itu tergantung kita sendiri. Wonogiri, jangan hanya mendengar, tetapi melaksanakan Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 3 Desember 2025
Pesta St. Fransiskus Xaverius, Imam, Pelindung Misi Markus 16:15-20 SEBELUM terangkat ke sorga, Yesus memberikan perintah agung bagi para murid-Nya; "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Perintah ini sebagai wasiat bagi mereka untuk memberitakan Injil dari masa ke masa, dari generasi ke generasi tanpa kecuali kita sekarang ini. Fransiskus Xaverius adalah salah satu dari ketujuh Yesuit pertama yang diutus mewartakan Injil ke Asia Timur Jauh. Pada mulanya dia berlayar dari Lisboa ke India sebagai jajahan Portugis. Di Goa, India ia menetap dan mengajar agama kepada banyak orang di sana. Ia juga berkotbah dan membaptis orang India menjadi Katolik. Fransiskus kemudian melanjutkan perjalanan misi ke Melaka. Bahkan dia juga berlayar sampai ke Maluku, Ambon, Ternate dan Morotai. Dari Melaka, ia melanjutkan perjalanan misi ke Jepang dan Tiongkok. Tetapi sebelum masuk ke Daratan China, Fransiskus jatuh sakit dan meninggal di Pulau Shangchuan pada awal Desember 1552. Gereja Katolik merayakan wafatnya pada 3 Desember. Fransiskus Xavierius dikanonisasi sebagai orang kudus dan menjadi Pelindung Misi dalam Gereja. Dia menjadi teladan bagi kita semua untuk berani bermisi mewartakan Injil kepada semua orang. Bermisi tidak harus membawa Injil kemana-mana, tetapi terutama dengan teladan hidup yang baik dan benar, jujur dan adil, humanis dan toleran. Dengan sikap hidup sebagai orang Katolik yang baik, kita juga bermisi bagi orang lain. Kini banyak medan pewartaan yang dapat kita jangkau untuk bermisi. Dunia digital juga perlu diberi warta tentang iman Kristen. Generasi milenial dan Generasi modern zaman ini membutuhkan pewartaan iman. Dunia yang semakin menjauh dari Tuhan sekarang ini juga perlu pencerahan rohani. Kita semua diundang oleh Kristus untuk “Pergi ke seluruh dunia dan wartakanlah Kabar Sukacita.” Maukah kita diutus untuk bermisi menebar kebaikan kepada semua orang? Ke padang pasir naik unta, Untanya lari dikejar Honda. Pergilah ke seluruh dunia, Jangan hanya diam di rumah saja. Wonogiri, wartakanlah Injil Rm. A.Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed