|
Puncta 21 Maret 2026
Sabtu Prapaskah IV Yohanes 7:40-53 SETELAH diserang komentar netizen di medsos, seorang wakil ketua DPR meminta maaf karena bilang tidak butuh ahli gizi dalam program MBG. Ia merasa paling berkuasa bisa mengetuk palu membuat keputusan. Pejabat ini dinilai arogan oleh masyarakat. Ujung-ujungnya bilang khilaf. Di tingkat bawah ada juga petugas SPPG yang merendahkan rakyat. Seorang petugas dapur MBG membuat status yang menyindir masyarakat sebagai “Rakyat jelata yang kurang bersyukur.” Sontak warganet menyerang di medsos sebagai tindakan yang merendahkan masyarakat. Akhirnya petugas itu diberhentikan tidak lagi bekerja di dapur MBG. Itu hanya contoh-contoh kecil kesombongan pejabat. Ada banyak kasus-kasus arogansi yang merendahkan rakyat jelata. Dalam wayang, Dalang Seno memprotes arogansi pejabat lewat Bagong, rakyat jelata yang berani nantang raja yang sombong yakni Baladewa. Kata Bagong yang marah, “Sampeyan mboten kelingan den, mbiyen nalika ajeng pilihan, iki Bagong duwit 150 ewu, kowe nyoblos aku ya. Sesuk dusun kene tak bangun cakruk, WC warga tak ganti marmer. Nganti seprene isih nangkring neng watu kali. Endi janjine? Nol Besar!!! (Bagong marah; Anda lupa, dulu waktu pilihan. Bagong ini uang 150 ribu, kamu nyoblos saya ya. Besuk saya bangun pos ronda di dusun sini. WC warga saya ganti marmer. Sampai sekarang warga buang hajat masih di sungai. Mana janjinya?? Nol besar!!!) Rakyat kecil hanya dibodohi dan direndahkan dengan kata-kata manis janji-janji palsu. Sesudah berkuasa lupa segala-galanya. Yang diingat hanya mencari kekayaan untuk kembalikan modal dan menindas rakyat kecil. Para pemuka agama Yahudi menunjukkan kesombongannya dengan menyuruh para penjaga menangkap Yesus. Mereka menganggap diri paling benar dan pintar tentang hukum Taurat. Mereka merendahkan rakyat jelata yang tidak paham Taurat sebagai yang “terkutuk.” "Adakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!" Bahkan Nikodemus yang mentaati hukum pun dipersalahkan. "Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea." Nikodemus ingin keadilan ditegakkan. Sebelum mengadili seseorang, hukum mewajibkan agar terdakwa didengar untuk membela diri. Arogansi membuat orang merasa lebih berkuasa. Arogansi membuat orang buta terhadap kebenaran dan tuli terhadap suara kritis orang lain. Arogansi membuat kesombongan dan lupa diri. Ingatlah sabda Tuhan, “Barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan dan yang meninggikan diri akan direndahkan.” Sepercik pantun untuk direnungkan: Contohlah batang padi yang bernas, Makin berisi makin merunduk ke bawah. Orang bijaksana berpikiran cerdas, Tidak akan menindas mereka yang lemah. Wonogiri, jangan sombong dengan kekuasaan Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed