Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Bahasa Simbolis; Menangkap Kelinci

2/12/2026

0 Comments

 
Puncta 12 Februari 2026
Kamis Biasa V
Markus 7: 24-30

SUATU kali saya mengantar suster-suster pergi ke Pontianak. Perjalanan dari Nanga Tayap membutuhkan waktu sekitar delapan jam melewati perkebunan sawit yang sangat luas. Suster-suster itu berasal dari NTT dan satu orang asli Dayak. 

Dalam perjalanan yang panjang itu saya merasa “kebelet” mau buang air kecil. Karena jarang ketemu pom bensin atau warung, maka satu-satunya cara hanyalah buang hajat di balik pohon. Mereka bingung karena tiba-tiba mobil membelok ke hutan sawit.

“Pastor, kenapa lewat jalan kecil di tengah sawit? Tidak salah jalankah kita? Tanya seorang suster.

 “Maaf suster, saya permisi mau nangkap kelinci dulu,” kataku pakai bahasa kiasan. 

“Wah ada kelinci di sini? Saya belum pernah lihat, saya pengin lihat kelincinya!!” kata suster yang muda dengan penuh semangat.

Mukaku merah padam. Suster-suster ini bukan orang Jawa. Mereka tidak paham dengan bahasa 'sanepan' atau kiasan. Akhirnya karena sudah tidak tahan menahan “kebelet” saya bilang terus terang, “Maaf suster, saya mau kencing, bukan nangkap kelinci.” 

Mereka sekarang yang merah padam mukanya sambal cekikikan bilang, ”Pastor ngerjain kita, tadi bilang mau nangkap kelinci.”

Ketika ada seorang ibu dari bangsa asing, Siro Fenisia yang datang bersujud kepada Yesus untuk memohon agar anaknya yang sakit disembuhkan, Yesus menolak dengan halus menggunakan bahasa kiasan atau simbolis.

"Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing," kata Yesus kepada perempuan itu.

Anak-anak disini maksudnya adalah Bangsa Israel. Roti adalah berkat Allah yang diberikan kepada Israel sebagai bangsa terpilih. 

Anjing adalah binatang yang najis. Orang asing termasuk bangsa Yunani dari Siro Fenesia dikelompokkan sebagai bangsa yang tidak menerima berkat.

Tetapi perempuan itu masih berusaha keras dengan berkata, "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak." Ia percaya masih bisa mengais-ngais dari sisa-sisa roti yang jatuh dari meja tuannya.

Ia tetap berharap ada remah-remah yang jatuh dari roti yang diberikan kepada anak-anak, walau hanya secuil tetapi berkat itu sudah cukup untuk kesembuhan anaknya. 

Melihat iman yang sedemikian besar itu, Yesus berkata, "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu."

Iman yang besar membuat apa yang mustahil menjadi kenyataan. Keselamatan diberikan kepada siapapun – juga orang asing di luar bangsa Israel - jika ia memiliki iman yang kuat kepada Yesus. 

Para suster itu tidak memiliki iman yang kuat sehingga mereka tidak bisa melihat kelinci, apalagi menangkapnya.

Apakah kita punya iman yang kuat seperti perempuan dari Siro Fenisia ini?

Perempuan asing dari Siro Fenisia,
Beriman dengan segala daya upaya.
Tidak ada yang mustahil bagi kita,
Kalau kita sungguh percaya pada-Nya.

Wonogiri, berusaha dengan sekuat tenaga
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments



Leave a Reply.

    Archives

    December 2034
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki