Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Bangsa yang Najis Bibir

8/4/2026

0 Comments

 
Puncta 4 Agustus 2026
Pw. St.Yohanes Maria Vianney,Imam
Matius 15:1-2.10-14 atau RUybs Matius 9:35-10:1

PERDEBATAN keras terjadi antara para ahli Kitab dan kaum Farisi dengan Yesus. Masalah utamanya adalah tradisi atau adat istiadat yang lebih diutamakan daripada substansi dari FirmanTuhan. 

Para ahli kitab dan kaum Farisi lebih melihat hal-hal yang lahiriah, apa yang nampak dari luar.

Salah satunya adalah soal mencuci tangan sebelum makan. Adat istiadat ini sudah berjalan lama. 

Kalau tidak melakukan maka dianggap berdosa dan najis, sehingga orang akan dikucilkan dari kehidupan sosialnya.

Maka mereka memprotes murid-murid Yesus yang tidak mencuci tangan lebih dahulu sebelum makan. 

Yesus meluruskan tradisi yang keliru ini. Ia berkata; "Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang."

Yang menajiskan itu bukan hal-hal atau barang-barang dari luar, tetapi dari hati manusia yang kemudian keluar lewat mulut yang bisa menyakiti dan merugikan orang lain. 

Hati dan pikiran manusialah yang mesti dijaga agar tidak membuat najis, bukan makanan atau barang-barang dari luar.

Hal-hal lahiriah yang masuk ke dalam diri manusia tidak bisa menajiskan. Bagi kaum Farisi dan ahli Taurat tradisi, aturan yang dibuat manusia lebih dijunjung tinggi daripada firman Allah sendiri.

Maka Yesus menyindir dengan menggunakan kata-kata Nabi Yesaya; “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. 

Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia."

Hal-hal lahiriah lebih dipentingkan misalnya; mencuci tangan, perkakas rumah tangga, berpakaian dengan jumbai panjang, membayar persembahan, aturan Sabat dan ritual-ritual keagamaan. Dari ritme itu muncullah kemunafikan yang sering dipamerkan.

Yesus ingin mengembalikan hukum kepada substansinya. Orang harus mulai dari hati dan pikiran yang jernih dan tulus di hadapan Tuhan. 

Allah lebih mengasihi manusia yang bertobat daripada taat pada aturan-aturan manusia secara buta.

Bertobat lebih penting daripada membawa persembahan ke altar hanya untuk kesombongan diri. 

Kita diajak untuk memiliki hati yang peka terhadap kehendak Tuhan, bukan mementingkan dan memaksakan kehendak kita sendiri. 

Kehendak Allah adalah belas kasihan bukan persembahan yang nampak. Kasih harus lebih diutamakan daripada hal-hal lahiriah dan aturan-aturan yang membelenggu. 

Maka jangan berteriak-teriak menyebut nama Tuhan kalau hatimu jauh dari kasih kepada sesama.

Jangan menuntun orang buta kalau hati kita sendiri belum melihat kebenaran yang sesungguhnya. Nanti kita hanya akan menjerumuskan orang ke lubang yang lebih dalam.

Sepercik pantun buat anda:

Bunga-bunga mekar di pinggir kali,
Airnya jernih banyak ikan warna warni.
Mulutnya fasih melantunkan ayat suci,
Tangannya rajin menyisihkan uang korupsi.

Wonogiri, jangan berlaku munafik
Rm. A.Joko Purwanto,Pr
0 Comments



Leave a Reply.

    Archives

    December 2034
    July 2026
    June 2026
    May 2026
    April 2026
    March 2026
    February 2026
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki