|
Puncta 19 Juli 2026
Minggu Biasa XVI Matius 13:24-30 KITA sedang menunggu pertandingan Piala Dunia di Amerika. Spanyol akan berhadapan dengan Argentina. Siapa jagokan Negeri Matador? Siapa yang jagokan Negeri Tanggo? Pertandingan ini pasti seru dan menarik. Tapi coba bayangkan kalau sang wasit yang mengadili pertandingan juga ikut main di dalamnya, apa yang akan terjadi? Pasti Kacau balau!! Penonton bisa marah dan masuk ke lapangan. Itulah yang sering terjadi di Negeri Konoha. Keributan dan kericuhan dalam pertandingan karena wasit yang tidak menjaga fairplay. Gambaran itu juga bisa kita terapkan dalam pemberantasan korupsi. Bagaimana korupsi bisa diberantas, lha wasitnya yaitu aparat penegak hukum juga ikut bermain di dalamnya? Kita semua bisa melihat secara terang benderang dalam kasus pimpinan BGN dan Jampidsus yang jadi tersangka. Orang bilang itu oknum. Polisi dan jaksa yang semestinya jadi penegak hukum untuk memberantas korupsi, malah ikut main di dalamnya. Mereka yang harusnya menjadi benih gandum, malah tumbuh jadi lalang-lalang yang makan uang pajak rakyat. Jangan heran kalau rakyat suatu saat akan terjun ke lapangan karena muak melihat tingkah aparat yang ikut bermain dengan curang. Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.” Hamba-hamba penjaga kebun anggur ingin mencabuti lalang. Tetapi tuan itu berkata: “Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.” Tuan itu membiarkan proses berjalan bersama. Ada waktu untuk menuai. Orang Jawa punya prinsip, “Becik ketitik, ala ketara.” Artinya yang baik nanti akan terdeteksi, yang jahat atau buruk nanti akan kelihatan dengan sendirinya. Waktu masih kecil gandum dan lalang tidak kelihatan. Tetapi pada akhirnya akan nampak mana lalang dan gandum. Yesus mengajak kita menghargai proses pertumbuhan bersama. Kualitas dan integritas nanti akan dilihat di ujung perjalanan. Pada akhirnya orang yang dinilai sebagai gandum akan masuk ke lumbung kebahagiaan. Orang yang menjadi lalang akan dibakar dalam penderitaan. “Wong urip bakal ngundhuh wohing pakarti.” Setiap orang akan memetik dari apa yang ditaburkannya. Apakah anda mau menabur gandum atau lalang, itu menjadi tanggungjawab anda sendiri. Silahkan memilih sendiri. Sepercik pantun buat anda: Polisi dan jaksa masuk dalam pusaran korupsi, Kita tinggal nunggu hancurnya sebuah negeri. Rakyat yang menderita disuruh bersabar hati, Setia bayar pajak tapi diemplang pejabat tinggi. Wonogiri, mau jadi ilalang atau anggur? Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed