|
Puncta 10 April 2026
Jum’at Oktaf Paskah Yohanes 21:1-14 PEPATAH bijak mengatakan “Pengalaman adalah guru yang terbaik.” Pengalaman gagal, jatuh, tidak berhasil, tersesat berguna bagi kita agar kita tidak jatuh lagi pada peristiwa yang sama. Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain juga. Kita tidak harus jatuh atau gagal sendiri. Bagaimana kita harus bertindak, mengambil keputusan dan pilihan bisa bercermin dari pengalaman orang lain. Kita bisa belajar dari tokoh-tokoh yang kita baca dalam Injil hari ini yakni para murid yang kembali menangkap ikan. Para murid Yesus adalah nelayan yang sangat paham tentang seluk beluk danau Tiberias. Mereka pasti sangat tahu bagaimana mendapatkan ikan. Mereka paham setiap sudut wilayah danau yang menghidupi mereka, dimana dan kapan saat yang tepat menjala ikan. Namun pengalaman saja nampaknya tidak cukup membawa keberhasilan. Mereka semalam suntuk tidak mendapat apa-apa. Mereka yang handal sekalipun juga bisa gagal. Lalu Yesus menampakkan diri dan menyuruh mereka; “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka kamu akan peroleh.” Keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh kehebatan, pengalaman atau kepintaran. Seringkali kita membanggakan kehebatan atau kecerdasan kita. Kita menyombongkan kemampuan atau pengalaman pribadi kita. Namun kesombongan sering jadi awal kehancuran. Kunci keberhasilan tidak ditentukan oleh pengalaman atau kehebatan kita. Para murid yang piawai sebagai nelayan ternyata gagal sepanjang malam tidak mendapat apa-apa. Hanya dengan mentaati perintah Tuhan, mereka berhasil memperoleh ikan yang banyak. Taat pada perintah Tuhan itulah kunci keberhasilannya. Rela dibimbing dan taat pada kehendak Tuhan membutuhkan perjuangan dan bahkan melebihi pengalaman pribadi kita. Mengikuti kehendak Tuhan seringkali harus berani keluar dari perhitungan-perhitungan kemampuan kita. Perintah “melemparkan jala ke sebelah kanan perahu” adalah bukti melawan kebiasaan pengalaman yang sudah berlangsung lama sebagai tradisi. Mengikuti kehendak Tuhan harus berani meninggalkan cara lama dan menghidupi cara baru. Berani untuk taat itulah yang menentukan keberhasilan kita. Maukah kita taat pada perintah Tuhan? Sepercik pantun buat anda: Amerika sesumbar mau mengalahkan Iran, Pesawat tempur dihadang di tengah lautan. Bukan kehebatanku yang paling menentukan, Tetapi taat pada Tuhan itulah awal keberhasilan. Wonogiri, taat saja pada Tuhan Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed