|
Puncta 14 Februari 2026
Pw. St. Sirilus, rahib dan St. Metodius, Uskup Markus 8:1-10 atau RUybs Lukas 10:1-9 SAYA sering mengalami mukjizat Tuhan yang memberi dengan berkelimpahan. Pengalaman tak terlupakan selama bertugas di Nanga Tayap, Ketapang. Di Paroki Nanga Tayap setiap tahun selalu ada katekese hidup berkeluarga. Kami membereskan pasangan-pasangan yang nikah secara adat, tetapi belum menikah secara gerejani. Pernah satu kali kegiatan mencapai 45 pasang. Kegiatan dilakukan selama tiga hari di gereja paroki. Mereka menginap seadanya di panti paroki. Kami harus menyediakan makan minum untuk menopang mereka. Juga anak-anaknya yang diajak serta. Kami mengajak mereka untuk membawa apa saja yang bisa dimasak di paroki. Ada yang membawa beras, sayuran, rebung, kacang panjang, daun ubi, bumbu. Ada yang membawa ikan salai, juga daging buruan dari hutan. Ibu-ibu paroki tiap hari memasak untuk mereka dan anak-anaknya. Kami selalu bersyukur. Apa yang dibawa dan dikumpulkan dari rumah bisa dipakai untuk memberi makan mereka sampai kenyang. Bahkan selalu ada sisa yang bisa dibawa pulang. Rasanya mukjizat pergandaan roti dan ikan sungguh terjadi kembali. "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh." Yesus tergerak oleh belaskasihan kepada mereka yang selalu bersama mengikuti-Nya. Para murid diajak ikut memikirkan kehidupan mereka. Para murid awalnya ingin lepas tangan dan tak mau mengatasi persoalan. Namun Yesus meminta apa yang ada pada mereka untuk dipersembahkan dan didoakan oleh Yesus dan dibagi-bagikan. Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. Ketika mau berbagi, ternyata bukan kekurangan atau kehilangan, malah mereka mendapatkan berkelimpahan. Ketika segalanya disyukuri, dan ada kerelaan hati untuk berbagi, Tuhan menambahkan berkat yang berlimpah ruah. Dari tujuh roti dan beberapa ikan itu, banyak orang bisa makan kenyang dan tersisa tujuh bakul. Mari kita bersyukur dan rela berbagi, niscaya Tuhan akan mengganti dengan berkelimpahan tanpa henti. Sepercik pantun untuk anda: Dari Nanga Tayap ke Tumbang Titi, Ada rumah singgah di pinggir kali. Ketika hati penuh syukur dan berbagi, Alam semesta juga akan ikut memberi. Wonogiri, marilah kita berbagi Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed