|
Puncta 12 September 2026
Sabtu Biasa XXIII Lukas 6:43-49 HANYA Broery Pesolima yang bisa melihat buah semangka berdaun sirih. Dia mendendangkan lagu berjudul “Aku Begini, Engkau Begitu. Liriknya berbunyi; Di dalam tidur, di dalam doa. Kita berjanji. Kita bersama, kita bersatu bergandeng tangan. Di alam nyata, apa yang terjadi? Buah semangka berdaun sirih. Aku begini, engkau begitu Sama saja. Isi lagu itu berbicara tentang inkonsistensi, antara apa yang diucapkan atau dijanjikan tidak sesuai dengan kenyataannya. Mau berjanji hidup bersama-sama, tetapi nyatanya jalan sendiri-sendiri. Akibatnya apa yang terjadi? Buah semangka berdaun sirih. Tidak sesuai, tidak konsisten wong buah semangka kok berdaun sirih. Dalam kehidupan nyata kadang kita tertipu oleh penampilan luar. Apa yang kelihatan baik di luar belum tentu di dalamnya juga baik. Kelihatannya saleh, suka berderma dan rajin ke gereja. Ternyata melakukan korupsi dan istrinya dimana-mana. Kelihatannya suka beribadah dan beramal, tapi di kantor otoriter dan menindas bawahannya. Di luar berpenampilan agamis, “jebul mung lamis,” ternyata hanya berpura-pura saja. Kemunafikan dibungkus dengan kepura-puraan. Yesus menegaskan pentingnya konsistensi baik dalam niat batin maupun dalam tindakan nyata. Konsistensi berarti apa yang diucapkan, diajarkan atau dinasehatkan mesti terwujud nyata dalam tindakan dan perilaku hidup sehari-hari. Yesus mengkritik kaum munafik dengan keras. “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” Tidak ada gunanya sembahyang sehari tujuh kali, kalau isi sembahyangnya tidak diwujudkan dalam tindakan nyata. Lebih pentinglah mewujudkan apa yang didoakan daripada banyak doa-doa tetapi nihil pelaksanaan. Orang yang tekun mendengarkan sabda Tuhan dan rajin melaksanakannya adalah orang bijaksana yang membangun rumahnya di atas wadas. Tidak mudah menjadi orang yang setia melakukan kehendak Tuhan. Kita siap dibully, dicemooh dan disingkirkan. Kita dianggap berbeda dengan mereka. Tetapi kesetiaan itu akan mendatangkan berkah bagi kita dan banyak orang. Maukah kita menghasilkan buah baik dari hati dan pikiran yang baik pula? Sepercik pantun buat anda: Buah semangka berdaun sirih, Buah pepaya rasa durian. Kalau hati kita sedang perih, Datanglah ke hadapan Tuhan. Wonogiri, semenjak pagi itu.... Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed