|
Puncta 18 Juli 2026
Sabtu Biasa XV Matius 12:14-21 PENEMU lampu listrik yang sekarang kita pakai adalah Thomas Alfa Edison. Waktu kecil dia hanya bersekolah selama tiga bulan. Gurunya angkat tangan untuk mendidiknya. Dia dianggap bodoh dan tertinggal dari teman-teman lainnya. Karena tidak mampu mendidik, gurunya memulangkan Thomas kepada ibunya. “Anak ibu terlalu jenius, sekolah ini terlalu kecil dan tidak ada guru yang sanggup mendidiknya,” isi surat sekolah kepada Ny. Nancy Mathew, ibu Thomas. Ibunya tidak putus asa, anaknya ditolak di sekolah. Ia mendidiknya sendiri di rumah. Ia percaya bahwa setiap anak punya bakat dan talentanya sendiri. Dengan tekun dan penuh kasih sayang, ia mendampingi Thomas. Inilah yang dia lakukan; “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.” Ketekunan dan kesabarannya mendidik anak membuahkan hasil. Thomas mampu menemukan lampu listrik yang menerangi seluruh kota di Manhattan, New York pada 1882, dan dipasang di jalanan dan rumah-rumah yang membentang hingga satu kilometer. Nabi Yesaya menubuatkan kedatangan sang Mesias yang dijanjikan Tuhan. "Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa” Ia datang bukan untuk mematahkan buluh yang hampir patah atau memadamkan nyala sumbu yang pudar. Ia justru mengasihi orang-orang kecil yang tak punya pengharapan. Dia mengayomi orang-orang kecil dan miskin. Ia datang membawa damai sejahtera. Mesias yang diutus Tuhan akan membebaskan orang dari segala penindasan yang membelenggu hidup orang. Dia datang tidak untuk menghukum, tetapi mengasihi dengan kasih seorang Bapa. Sebagaimana ibu Thomas Alfa Edison yang menerima anaknya yang dianggap bodoh, hina, rendah dan “tidak normal,” begitu pula Allah tidak akan mematahkan buluh yang patah dan sumbu yang hampir padam. Allah akan selalu menjaga dan melindungi mereka yang kecil, lemah dan tertindas. Yesus menampakkan wajah Allah yang penuh belas kasih. Maukah kita datang dan mengharapkan belaskasihan-Nya? Sepercik pantun buat anda: Semalam ada arak-arakan pesta budaya, Mengiringi bupati yang masuk penjara. Kasih Allah lebih besar pada manusia, Ia selalu berpihak pada yang menderita. Wonogiri, melindungi yang lemah Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed