|
Puncta 24 Maret 2025
Senin Prapaskah III Lukas 4: 24-30 KALAU ada orang sukses atau terkenal, kita seringkali “ngaku-ngaku” dekat dengan tokoh itu. “Oh, dia itu masih saudara kami. Dia itu satu kampung dengan kami. Dia angkatan kami di Seminari.” Begitu juga orang-orang Nasaret ketika memandang Yesus yang sudah terkenal berkeliling ke desa-desa dan kota-kota, membuat mukjizat dimana-mana. Mereka mengenal dekat bahkan sanak saudara-Nya mereka tahu. Mereka takjub dan heran sewaktu Yesus mengajar di rumah ibadat di kampung-Nya. Mereka ingin agar Yesus berkarya di kampung-Nya saja, mengharumkan nama kampung yang dinilai miring oleh sebagian orang. Nada negatif atas Nasaret terungkap dari Natanael yang berkata, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nasaret?” Maka orang Nasaret ingin Yesus dengan karya-Nya memperbaiki citra kota Nasaret. Mereka ingin membatasi karya keselamatan hanya untuk orang Nasaret saja. Yesus menolak hal itu. Karya keselamatan Allah untuk segala bangsa tanpa dibatasi kota, bangsa, budaya, agama dan bahasa. Menjawab kemauan orang sekampun-Nya itu Yesus mengatakan pepatah yang sudah dikenal luas, “Tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.” Ia menunjukkan buktinya yaitu Nabi Elia dan Nabi Elisa. Dua nabi ini justru menyelamatkan orang-orang asing bukan orang sebangsanya sendiri. Hal itu menunjukkan bahwa karya keselamatan Allah tidak dibatasi hanya untuk kelompok tertentu saja. Kasih Allah itu untuk segala bangsa bukan terkotak-kotak hanya untuk Israel atau bangsa tertentu saja. Pikiran primordialis dan terkotak-kotak ini masih hinggap di otak kita juga. Seolah kita merasa paling benar. Kelompok kita paling suci dan saleh. Orang atau kelompok lain salah. Mereka yang tidak sepaham lalu dimusuhi, dibenci dan disingkirkan. Kalau demikian kita belum memahami betul siapa sesungguhnya Allah. Mungkin itu Allah hasil ciptaan kita sendiri. Tidak ada sorak-sorak bergembira, Saat Indonesia lawan Australia. Kalau Allah menuruti kemauan kita, Mungkin itu Allah buatan manusia. Wonogiri, jangan suka numpang tenar Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Puncta 23 Maret 2025
Minggu Prapaskah III Lukas 13: 1-9 LAGU yang berjudul “Hidup ini adalah Kesempatan” menggambarkan bahwa Tuhan selalu memberi kesempatan kepada kita untuk bertobat dan menjadi berkah bagi orang lain. Salah satu syair lagu tersebut berbunyi: “Hidup ini adalah kesempatan/ Hidup ini untuk melayani Tuhan/ Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan bri/ Hidup ini harus jadi berkat. Oh Tuhan pakailah hidupku/ Selagi aku masih kuat/ Bila saatnya nanti/ Ku tak berdaya lagi/ Hidup ini sudah jadi berkat”. Ebiet G. Ade juga menuliskan lirik yang mirip: “Bila masih mungkin kita menorehkan batin/ Atas nama jiwa dan hati tulus ikhlas/ Mumpung masih ada kesempatan buat kita/ Mengumpulkan bekal perjalanan abadi.” Jangan menyia-nyiakan kesempatan, karena kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya. Selagi kita masih bisa berbuat baik, menjadi berkah, maka gunakan kesempatan itu untuk menghasilkan buah. Allah Bapa adalah pemilik kebun. Kita adalah pohon ara yang ditanam. Yesus adalah penggarapnya. Bapa ingin menebang pohon ara yang selama tiga tahun tidak menghasilkan buah. Tetapi si penggarap meminta agar ditunda dulu. “Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!" Seperti pohon yang harus disiangi, dipupuk, dipelihara, kita pun juga harus memelihara hidup dengan pertobatan dan pembaharuan diri. Kita masih diberi waktu oleh Tuhan untuk berbenah diri. Marilah kita pergunakan masa Prapaskah ini dengan sebaik-baiknya. Ada hal-hal yang harus dipotong, dikurangi, dibersihkan dalam diri kita. Pembaharuan hidup perlu agar kita bisa menghasilkan buah yang berlipat. Mumpung masih ada kesempatan, marilah kita pergunakan. Jangan ditunda-tunda. Hidup di pertapaan jadi cantrik, Dengan sukacita selalu melayani. Jangan buang kesempatan baik, Untuk cari bekal perjalanan abadi. Wonogiri, gunakan kesempatan dengan baik Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 22 Maret 2025
Sabtu Prapaskah II Lukas 15: 1-3.11-32 PEPATAH Jawa ini secara harafiah berarti jangan dekat-dekat dengan kerbau yang kotor, nanti akan terkena kotorannya. Nasehat yang mau disampaikan adalah jangan berdekatan atau bergaul dengan orang jahat, nanti kamu akan ketularan sifat-sifatnya. Orang-orang Farisi sudah membuat stempel buruk terhadap pemungut cukai. Mereka dikelompokkan sebagai “Kaum Pendosa.” Orang-orang ini dianggap sebagai “sampah masyarakat” oleh Ahli-ahli Kitab dan Para Farisi. Kelompok ini disingkiri dan dianggap najis atau kafir bagi mereka. Mereka tidak bergaul dengan kaum pendosa. Mereka beranggapan, sekali pendosa selamanya adalah pendosa. Tidak mungkin mereka bertobat menjadi baik. Ketika Yesus bergaul dengan mereka, kaum Farisi tidak senang dan nyinyir. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." Yesus berpandangan beda dengan kaum Farisi. “Orang sakit membutuhkan tabib, bukan orang sehat.” Yesus mendatangi, duduk makan bersama dengan mereka. Sekaligus Ia menerangkan bagaimana sikap Allah terhadap para pendosa. Perumpamaan anak yang hilang mau menekankan sikap Bapa yang baik hati. Ia mengasihi tanpa batas. Siapapun diterima dan dirangkul oleh Allah. Anak bungsu yang bobrok hidupnya dan bejat moralnya tetap diterima. Begitu pun anak sulung yang merasa benar, tidak pernah melanggar perintah, selalu patuh kepada bapanya juga diterima. Orang-orang Farisi seperti anak sulung yang merasa diri paling benar, paling taat dan setia. Oleh Yesus kita diajak untuk mengasihi tanpa membeda-bedakan. Kasih itu murah hati kepada mereka yang kecil, lemah dan miskin. Kita tidak boleh menghakimi seperti kaum Farisi. Sikap Bapa yang murah hati dan pengampun itulah contoh bagi kita semua. Main layang-layang di Pangandaran, Terbawa angin sampai di Jimbaran. Kasih Tuhan tidak membedakan, Kasih-Nya berlaku bagi setiap insan. Wonogiri, mengasihi tanpa pamrih Rm. A. Joko Purwanto, Pr Pembaptisan Yesus
“Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku, lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api (Matius 3:11). Yesus datang kepada Yohanes pembaptis agar diri-Nya dibaptis. Pada saat itulah, langit terbuka dan Roh Kudus turun dalam rupa burung merpati. Allah Bapa menyatakan identitas Yesus sebagai Putra-Nya yang terkasih. Pada peristiwa pembaptisan Yesus ini, kesatuan Allah Tritunggal dinyatakan. Ketiga pribadi Allah, Bapa, Putera, dan Roh Kudus hadir secara sempurna. Pencobaan di Padang Gurun Injil Matius mengisahkan bahwa setelah Yesus dibaptis di Sungai Yordan, Ia dibawa oleh Roh ke padang gurun. Di sana Yesus mengalami pencobaan dari Iblis (Mat 4:1-11). Padang Gurun adalah tempat yang gersang dan tidak nyaman. Di sanalah Yesus berpuasa 40 hari. Puasa dalam banyak tradisi kerohanian, merupakan suatu bentuk mati raga yang dilakukan oleh orang atau kelompok sebelum mulai peristiwa penting dalam hidup. Maka, peristiwa Yesus berpuasa di padang gurun pun bisa dilihat sebagai persiapan Yesus untuk memulai karya-Nya. Yesus mengalami 3 jenis godaan: 1) mengubah batu menjadi roti, 2) menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah, 3) menyembah iblis. Ketiga hal ini mengingatkan kita bahwa sebagai manusia, kita memiliki kelemahan yang bisa dipakai oleh iblis untuk menjerat kita, yaitu: kelemahan fisik-ragawi, kecenderungan untuk mengejar kekuasaan, dan juga mengejar harta dunia. Yesus Memanggil Murid-Murid Bagaimana proses Yesus memilih 12 murid? Dikisahkan dalam Injil, Yesus berkeliling di Kapernaum dan membuat banyak mukjizat di sana (Mat 8:5-15; Mrk 1:21-45). Ia menjadi sangat terkenal dan banyak orang mengikuti dan mengerumuni Yesus kemana pun Ia pergi. Injil Markus mengisahkan bagaimana Yesus memilih dan memanggil 12 rasul-Nya. Yesus meminta mereka meninggalkan cara hidup mereka yang lama. Sebagaian besar dari mereka adalah nelayan dari Tiberias. “Ketika Yesus sedang berjalan menyusuri danau Galilea....Ia berkata kepada mereka: Mari ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia. Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia (Mrk. 1:16-20). Konsekuensi Menjadi Murid-murid Yesus Sangat jelas sekali diungkapkan dalam Kitab Suci bahwa Yesus meminta para murid-Nya untuk meninggalkan segala-galanya, termasuk orang-orang yang dicintai demi mengikuti Yesus secara total. (Mrk 8:34; Luk 14:26). Menjadi murid Yesus berarti “menyertai Dia” (Mrk 3:14) dengan segala konsekuensinya (Mrk 10:39). Hal yang terpenting dalam mengikuti Yesus adalah hubungan pribadi dengan Yesus sendiri. Para murid harus mengambil bagian dalam tugas dan perutusan Yesus, termasuk menyertai Yesus sampai wafat dikayu salib. Yesus meminta para murid-Nya untuk setia sampai akhir dan siap menanggung segala konsekuensi. Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma, dengan bahasa yang indah menuliskan: “Tidak ada sesuatupun yang mampu memisahkan aku dari cinta Kristus, entah itu penganiayaan, penderitaan, dan penindasan (Rm 8:35). Oleh Romo Heribertus Budi Purwantoro, Pr Puncta 21 Maret 2025
Jum’at Prapaskah II Matius 21: 33-43.45-46 PENGUASA Kerajaan Hastina yang sah adalah Pandu Dewanata. Ia memiliki 5 anak dari Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Mereka disebut Pandawa. Karena Pandu meninggal saat Pandawa masih kecil, maka Kerajaan dititipkan kepada Destarastra yang buta. Kelak saat Pandawa sudah dewasa, Hastina harus dikembalikan kepada yang berhak. Destarastra memiliki anak berjumlah 100 orang yang disebut Kurawa. Duryudana atau Kurupati disuruh menjadi raja di Hastina untuk sementara didampingi oleh Sengkuni sebagai patihnya. Setelah berkuasa mereka lupa diri. “Melik nggendhong lali.” Ibarat “Wong sing ngemut manising madu njur suthik nglepeh,” Kurawa tidak mau melepaskan kerajaan Hastina kepada Pandawa. Berbagai macam cara licik dan jahat dilakukan untuk melenyapkan Pandawa, pewaris tahta Hastina. Pandawa diracun dan dibakar saat pesta di Bale Sigala-gala. Werkudara disuruh terjun ke samudera mencari Banyu Suci Perwitasari. Sampai permainan dadu yang membuat Pandawa dibuang selama duabelas tahun di hutan. Yesus menggambarkan bahwa Israel adalah kebun anggur Tuhan. Para penggarap adalah penyewa yang harus bertanggungjawab kepada Sang Pemilik. Penyewa yang ingin merampas hak milik lahan garapan adalah pengkhianat. Para nabi diutus untuk menagih tanggungjawab para penggarap. Tetapi mereka ditolak, dicerca, dianiaya dan dibunuh para penggarap. Allah mengutus Anak-Nya, ahli waris yang sesungguhnya. Tetapi Anak-Nya juga dibunuh oleh mereka. Raja-raja Israel yang tidak takut akan Tuhan dan malah mendengar bujukan nabi-nabi palsu hanya memikirkan kepentingannya sendiri, bukan mendengar suara Tuhan. Para dewan perwakilan rakyat dalam kelompok Sanhedrin, kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat sebagai tokoh pemimpin justru ingin menguasai kebun anggur Tuhan. Kaum Farisi dan kelompok imam-imam sadar bahwa merekalah yang dituduh sebagai pengkhianat. Maka mereka membenci Yesus dan mengarah kematian-Nya. Mereka mulai berseberangan dan melawan Yesus. Orang yang sudah duduk dalam nikmatnya kursi kekuasaan sering lupa akan janji dan tanggungjawabnya. Pada saatnya Tuhan akan menagih janji, mempertanggungja-wabkannya. Apakah kita juga sebagai penggarap yang lupa janji-janjinya? Mangan gethuk asale saka tela, Mata ngantuk iku tambane apa ya. Bisaa rumangsa, aja rumangsa bisa, Dadi wong sing ber budi bawa leksana. Wonogiri, belajar sadar diri Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta, 20 Maret 2025
Kamis Prapaskah II Lukas 16: 19-31 PERJALANAN hidup kita itu ibarat perang Baratayuda, yakni sebuah perjalanan memperjuangkan baik lawan buruk, benar lawan salah, adil lawan sewenang-wenang dan jalan dharma lawan adharma. Di posisi mana kita berpijak, dari situ kita akan memetik buahnya. Yang baik akan menerima kebaikan. Yang jahat akan mendapat hukuman. Delapan belas hari perang antara Pandawa dan Kurawa telah berjalan. Yang tersisa tinggal Raja Duryudana di pihak Kurawa. Ia tidak mau mengalah, tetap pongah dan sombong dengan megahnya. Dengan angkuh dia berkata, “Kalau saya menang, saya makin jaya. Tetapi kalau saya kalah, Pandawa akan kecewa, terkejut karena kerajaan tinggal puing-puing tak tersisa. Semua sudah hancur lebur. Yang tersisa tinggal anak-anak yatim piatu dan janda-janda.” Ia mengejek Werkudara, “Saya sudah pernah mengalami semua kenikmatan hidup. Makan dengan piring kencana, dilayani dayang-dayang cantik, tidur di atas kasur permadani. Kalian hidup terlunta-lunta sebagai pengemis dan tak ada tempat berteduh serta menderita seumur hidup.” Akhir dari perang adalah yang jahat dikalahkan. Duryudana gugur lebur oleh gada Werkudara. Kebaikan mengalahkan kejahatan. Yesus menggambarkan akhir kehidupan dengan contoh orang kaya yang tak berbelaskasih dengan Lazarus yang miskin dan menderita. Orang kaya itu sering berpesta pora dengan segala kemewahannya. Sedang di dekatnya ada Lazarus yang miskin, lapar dan penyakitan sampai anjing-anjing menjilati boroknya. Namun orang kaya itu tak sedikitpun berbelas kasih pada si miskin. Keduanya mati dan Lazarus berada di pangkuan Abraham. Sedang si Kaya berada dalam siksaan abadi. Dengan kisah ini, Yesus mengingatkan bahwa buah perbuatan kita akan menentukan kehidupan kita. Siapa menanam kebaikan akan memetik buah yang baik. Siapa menabur kejahatan akan memperoleh keburukan. Orang kaya itu anonim, tak bernama. Bisa jadi dia adalah kita yang tidak punya belaskasihan pada orang miskin di sekitar kita. Nasi jagung untuk sarapan, Sambal tomat bikin kelaparan. Mari kita menanam kebaikan, Dengan hati dan belaskasihan. Wonogiri, “Ngundhuh wohing pakarti” Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta, 19 Maret 2025
HR St. Yusup, Suami Perawan Maria Matius 1:16. 18-21.24a atau Lukas 2:41-51a TAHUN 2020 tepat pada Hari Raya Maria dikandung tanpa noda, Paus Fransiskus mengeluarkan surat Apostolik berjudul “Patris Corde” (dengan hati seorang Bapa). Surat apostolik ini menandai dibukanya Tahun St. Yusuf yang berlangsung sampai 8 Desember 2021 yang lalu. Paus Fransiskus ingin menandai peringatan 150 tahun ditetapkannya St. Yusuf sebagai pelindung Gereja Universal oleh Paus Pius IX tahun 1870. Ada beberapa gelar disematkan kepada St.Yusuf; Pelindung Para Pekerja, Penjaga Sang Penebus, Tukang Kayu, Mempelai Sang Perawan. Patris Corde menegaskan sifat-sifat kebapaan Santo Yusuf. Kisahnya tidak kentara di dalam Kitab Suci, tetapi peranannya dalam kehidupan awal Sang Kristus sangat besar. Dialah yang menjadi saksi pertama Allah menjelma menjadi manusia lewat rahim Perawan Maria. Melalui Yusuf, digenapi ramalan para nabi bahwa Mesias akan lahir dari keturunan Daud. Yusuf memiliki garis keturunan Daud yang lahir di Betlehem. Tetapi perjuangan Yusuf juga tidak mudah. Ia harus menerima Maria yang mengandung dari Roh Kudus. Namun dari karakter Yusuf yang luar biasa, ada satu yang paling kuat yaitu ketaatannya pada kehendak Allah. Ia taat tanpa reserve pada perintah Tuhan. Apa pun yang diperintahkan kepadanya langsung dan segera dilaksanakan. Dalam mimpi, dia diperintahkan untuk mengambil Maria sebagai istrinya. Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ketika bayi dan ibunya terancam nyawanya oleh Herodes, Yusuf diperintahkan malaikat untuk mengungsi ke Mesir. Tanpa banyak kata, Yusuf segera melaksanakannya. Ketaatannya sungguh luar biasa. Tidak ada satu kata pun terucap dari mulut Yusuf. Tetapi tindakannya yang segera menunjukkan ketaatan mutlak pada kehendak Tuhan. Marilah kita belajar taat pada Allah seperti Bapa Yusuf ini. Matahari bersinar dari selatan, Dari timur dia sudah mulai bosan. Ketaatan jalan menuju keselamatan, Yusuf menjadi teladan dan pedoman. Wonogiri, belajar taat pada Tuhan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 18 Maret 2025
Selasa Prapaskah II Matius 23:1-12 BAGI orang-orang tertentu agama memang menjadi ladang subur untuk mencari popularitas dan mengeruk keuntungan pribadi. Agama gampang dijual untuk mendapatkan keuntungan demi mengumpulkan kekayaan. Kesalehan seseorang tidak dinilai dari apa yang melekat pada tubuhnya tetapi pada kelakuan, sikap dan tutur katanya. Siapa pun bisa memakai atribut-aksesoris agama; pakai jubah, jumbai, gambyok, sarung, peci dan lainnya. Tetapi itu hanyalah penampilan luar saja. Yang penting apa tindakan nyata demi kebaikan orang lain? Yesus mengkritik ahli-ahli kitab dan kaum Farisi yang memamerkan sisi luar kesalehan agar dilihat orang. Kata Yesus, “Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.” Kita masih ingat kan, warga netizen pernah memprotes seorang tokoh yang menghina penjual es teh dalam sebuah kegiatan massal. Ada banyak warga yang kritis melihat tingkah laku para tokoh agama. Warga yang jeli, kritis dan peka hatinya dapat melihat bahwa kesalehan atau religiusnya seseorang bukan karena populer, terkenal, sering muncul di medsos, berpakaian agamis. Tetapi yang dinilai adalah sikap, tutur kata dan tindakannya. Yesus mengkritik ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang menjadi pemimpin tetapi tidak menjadi panutan. "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” Kita harusnya bertanya, apa tindakan nyata tokoh agama kalau ada kemiskinan, toleransi yang tercabik-cabik, korupsi dan ketidak-adilan merajalela, kesenjangan ekonomi makin terasa. Apa artinya kesalehan pribadi kalau banyak orang menderita di sekitar kita? Gajah diblangkoni Bisa kotbah ora bisa nglakoni. Tuku layah neng Wonogiri Bisa kojah ora bisa nindaki. Wonogiri, tidak usah pamer kesalehan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 17 Maret 2025
Senin Prapaskah II Lukas 6: 36-38 PUNTADEWA adalah raja Amarta. Dia adalah kakak pertama dari para Pandawa. Puntadewa adalah titisan Batara Dharma, dewanya kebajikan. Dia dikisahkan mempunyai darah putih. Artinya segala tindakannya hanya didasarkan pada kebaikan semata. Sejak muda dia adalah pribadi yang berhati mulia. Mengasihi siapa pun tanpa membeda-bedakan. Hatinya jujur tidak berpura-pura. Yang benar dikatakan benar. Yang salah dikatakan salah tanpa dikurangi atau ditambah. Dia menerima kekalahan saat bermain dadu dengan para Kurawa. Dia tidak sakit hati ketika tahta dan kuasa diambil Kurawa. Dia menerima dengan legawa saat dibuang di tengah hutan selama duabelas tahun. Ketika perang Baratayuda, Puntadewa tidak mau maju sebagai panglima. Baginya perang hanya membawa kehancuran di kedua belah pihak. Ia lebih suka hidup dalam damai kendati harus mengalah. Oleh Kresna, dia dinilai sebagai pribadi yang selalu berbuat dharma. Yang baik diberi kebaikan. Yang jahat pun tetap diberi kebaikan yang sama. Hanya karena perintah Dewa Wisnu, Puntadewa harus maju perang mengalahkan Prabu Salya dengan senjata Jimat Kalimasada (Kalimat Syahadat atau Credo). Yesus mengajarkan kepada para murid agar meniru Allah Bapa yang murah hati. Ia berkata, “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.” Murah hati tidak hanya soal materi. Murah hati adalah sikap batin yang mau mengasihi dan mengampuni, suka memberi tanpa mengharapkan balasan. Semakin banyak memberi, kita juga akan makin banyak menerima berkah dari Tuhan. Hujan rintik-rintik belum juga reda, Mendung gelap masih ada di atas mega. Marilah kita seperti Bapa di surga, Murah hati suka memberi dengan cinta. Wonogiri, marilah kita bermurah hati Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 16 Maret 2025
Minggu Prapaskah II Lukas 9: 28b-36 KITA sering mendengar pepatah berkata, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu. Bersenang-senang kemudian.” Pepatah ini mengajak kita untuk mau bekerja keras, bersakit-sakit bahkan sampai berdarah-darah dahulu. Baru sesudah itu kita akan memetik hasilnya dan bisa bersenang-senang kemudian. Hasil tidak akan mengkhianati segala jerih payah kita. Kesuksesan dan kebahagiaan akan mengiringi kerja keras setiap usaha yang kita jalankan dengan tekun dan giat. Kita tidak boleh terlena oleh kepuasan atau kesenangan. Fokus pada tugas dan tanggungjawab, pasti nanti akan ada buahnya. Yesus mengajak tiga murid inti yakni, Petrus, Yakobus dan Yohanes untuk naik ke gunung. Mungkin mereka ingin sedikit refreshing dari padatnya pelayanan. Kadang kita juga perlu “healing” agar memperoleh kesegaran dalam rutinitas tugas. Di atas gunung itu Yesus menampakkan kemuliaan-Nya. Ketika berdoa, Ia berubah rupa dan pakaian-Nya berkilau-kilauan bercahaya dalam kemegahan. Ia sedang berbicara dengan Musa dan Elia. Mereka adalah dua nabi besar di Israel. Kebahagiaan tiada tara dialami para murid saat Yesus dimuliakan. Mereka ingin tetap tinggal di sana dengan mendirikan kemah. Kemuliaan surgawi itu sungguh mempesonakan mereka. Namun mereka tidak boleh terbuai oleh pesona surgawi itu. Yesus mengajak mereka turun kembali ke dunia nyata. Karena tugas perutusan-Nya belum selesai. Musa, Elia dan Yesus membicarakan tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi di Yerusalem. Itu berarti tugas perutusan harus diselesaikan dengan perjuangan memanggul salib. Di Yerusalem Yesus menggenapi tugas kenabian-Nya dengan pengorbanan di kayu salib. Para murid diajak untuk ikut serta dalam penggenapan karya-Nya. Kebangkitan hanya terjadi setelah penyaliban. Kebahagiaan akan tiba setelah pengorbanan. Kita bisa bersenang-senang setelah bersakit-sakit dahulu. Kesuksesan hanya bisa tercapai jika kita mau bekerja dengan keras. Dengan pengalaman transfigurasi, Tuhan memberi janji atas perjuangan yang tiada henti. Ada kemuliaan dibalik pengorbanan. Ada kebangkitan dibalik salib. Mari kita jalani hidup bersama Yesus. Naik-naik ke puncak gunung, Tinggi-tinggi sekali. Jangan kita ragu dan bingung, Mari kerja sekuat hati. Wonogiri, setia memanggul salib Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed