|
Pada bagian kedua dari credo, kita akan membahas Pribadi kedua dari Allah Tritunggal, yaitu Yesus Kristus, Putera Tunggal Allah, Allah yang menjelma menjadi manusia. Ada begitu banyak hal yang bisa diungkap tentang Yesus, namun pada bagian ini kita hanya membahas hal-hal pokok saja. Kita memisahkan secara khusus pendalaman tentang Maria, ibu-Nya, karena ada banyak hal yang harus dibahas secara detail tentang Bunda Maria terkait dengan iman Katolik.
Arti Nama “Yesus” berarti “Allah menyelamatkan”. Anak Perawan Maria dinamakan “Yesus”, karena Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa (Mat 1:21). Di bawah kolong langit tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang oleh-Nya kita dapat diselamatkan (Kis 4:12). “Kristus” berarti” yang diurapi” atau “Mesias”. Yesus adalah Kristus, karena Allah mengurapi Yesus dengan Roh Kudus dan kuat kuasa (Kis 10:38). Yesus adalah Dia yang akan datang (Luk 7:19), harapan Israel (Kis 28.20) untuk menyelamatkan manusia. Gelar Putera Allah dan Tuhan “Putera Allah” menyatakan hubungan unik dan abadi dari Yesus kristus dengan Allah Bapa-Nya: Dialah Putera Bapa yang tunggal. Kita harus percaya bahwa Yesus Kristus adalah Putera Allah. “Tuhan” menyatakan kekuasaan Ilahi. Mengakui Yesus sebagai Tuhan atau berseru kepada-Nya berarti percaya pada kemahakuasaan-Nya yang mengatasi apapun. Tidak ada seorang pun yang dapat mengaku ‘Yesus adalah Tuhan’ selain oleh Roh Kudus (1Kor 12:3). Misteri Penjelmaan Allah menjelma menjadi manusia karena kehendak baik-Nya untuk menyelamatkan manusia. Misteri penjelmaan ini biasa kita sebut misteri inkarnasi. Yesus adalah Allah yang mansuk dalam kehidupan manusia 100%. Ia sama seperti kita manusia kecuali dalam hal dosa. Ia ingin menjadi sama dengan kita karena ingin berbelarasa dengan manusia yang menderita dan ingin menyelamatkan manusia yang berdosa. Oleh Katekismus Gereja Katolik no. 479-483 diterangkan demikian: Yesus Kristus memiliki dua kodrat, yang ilahi dan manusiawi. Karena Kristus sungguh Allah dan sungguh manusia, Ia memiliki akal budi manusiawi dan kehendak manusiawi. Keduanya serasi dan patuh terhadap akal budi ilahi-Nya dan kehendak Ilahi-Nya, yang Ia miliki bersama Bapa dan Roh Kudus. Inkarnasi, penjelmaan menjadi manusia yang mengagumkan dari kodrat ilahi dan kodrat manusiawi dalam Pribadi Yesus. Alasan penjelmaan “Buat apa ya...Allah capek-capek jadi manusia..? Udah jelasa enakan di Surga..! Di dunia harus menghadapi manusia yang keras kepala dan degil hatinya...... Allah telah turun dari Surga dan dengan kekuatan Roh Kudus, Ia telah menjadi manusia dengan perantaraan Maria. Ada 4 alasan Allah menjelma menjadi manusia (Katekismes Gereja Katolik no. 457-460)
Oleh Romo Heribertus Budi Purwantoro, Pr
0 Comments
Puncta 15 Maret2025
Sabtu Prapaskah I Matius 5: 43-48 DALAM politik pewayangan ada istilah “ampyak awur-awur” artinya orang tidak lagi ikut aturan dan hanya mengikuti arus masyarakat umum yang belum tentu benar. Sebagian warga termakan kabar kabur yang dibuat untuk tujuan elite tertentu dan mereka tersulut dan ikut-ikutan larut dalam gerakan koalisi. Misalnya terjadi di Kerajaan Wirata. Pangeran Kencakarupa berkoalisi dengan Rupakenca dan Rajamala ingin menggulingkan Raja Matswapati yang masih kerabat sendiri. Mereka membuat propaganda dengan menyebarkan berita bohong, hoax, fitnah, ujaran kebencian yang meracuni masyarakat. Orang Jawa bilang, “Dhandhang diunekake kuntul. Kuntul diunekake Dhandhang.” Warga menjadi percaya dan ikut-ikutan mendukung mereka. Kelompok-kelompok anti pemerintah dikompori, “sampah-sampah” masyarakat dipanas-panasi agar bergerak melakukan demo-demo. Itulah gerakan politik “ampyak awur-awur.” Dalam dunia medsos yang sangat terbuka dan tanpa kendali, kita mudah sekali ikut arus media. Ikut-ikutan menyebarkan berita bohong. Suka ngeshare fitnah dan adu domba. Kalau tidak ikut-ikutan dianggap ketinggalan zaman. Yesus mempunyai jalan pikiran berbeda bagi para pengikut-Nya. Ia mengajak murid-murid-Nya bertindak lebih, beda dengan yang lain, tidak ikut arus kebanyakan. Ia berkata, “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?” Beranikah kita memperjuangkan prinsip walau berbeda dengan pandangan umum? Maukah kita memperjuangkan kebenaran walau ditentang oleh orang banyak? Janganlah mudah ikut-ikutan dengan hal-hal yang tidak benar, kendati didukung orang banyak. Orang benar akan tetap bercahaya, Walau berada di dalam kegelapan. Jangan mudah terbawa arus massa, Teruslah berjuang demi kebenaran. Wonogiri, hendaklah kamu sempurna Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 14 Maret 2025
Jum’at Prapaskah I Matius 5: 20-26 PADA zaman Yesus penghuni surga dipegang oleh kaum Farisi dan ahli-ahli kitab. Dengan cara hidup mereka, para Farisi merasa mendapat jaminan masuk surga. Mereka merasa diri sebagai penghuni tetap kerajaan surga. Orang lain yang tidak sepaham dianggap tidak punya peluang masuk surga. Mereka menilai diri sebagai rohaniwan terbaik dan terkemuka pada era itu. Ketekunan mereka memegang tradisi agama dan kesalehan ibadahnya adalah gold standard hidup keagamaan orang Israel. Tetapi Yesus menjungkir-balikkan penilaian hitam putih itu. Yesus tidak mau kita hidup dengan polesan kosmetik keagamaan yang semu. Luarnya kelihatan baik tetapi dalamnya bobrok seperti kuburan. Maka Yesus menegaskan, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Yesus memberikan tuntutan yang lebih berat dan tegas dalam menjalani praktek hidup keagamaan. Bukan hanya soal membunuh, tetapi Yesus mempertegas dengan berkata, “Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.” Sekarang ini hampir tidak ada hari tanpa kemarahan dimana pun. Kita bisa menemui orang marah-marah dimana-mana; di jalan, di kantor, di rumah, bahkan di gereja. Kemarahan juga meledak dan tertumpah di media sosial. Sumpah serapah dan hojatan-hojatan berseliweran di medsos. Kemarahan dan hojatan sama beratnya dengan pembunuhan. Hojatan-hojatan bisa membunuh karakter seseorang. Itu akan lebih kejam karena orangnya masih hidup tetapi karakternya dijelek-jelekkan dan direndahkan. Apakah kita sudah sempurna, baik dan tak bercacat sehingga kita membunuh karakter orang dengan mengumbar kemarahan di mana-mana? Anda tidak membunuh orang, tetapi kemarahan anda bisa membunuh karakternya. Hati-hatilah! Jalan di pinggir waduk Wonogiri, Melihat ikan-ikan ke sana kemari. Jangan meniru orang-orang Farisi, Merasa paling bersih dan paling suci. Wonogiri, jangan suka mengumbar kemarahan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 13 Maret 2025
Kamis Prapaskah I Matius 7:7-12 “SEGALA sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka,” demikian Yesus mengajarkan kepada orang banyak di dalam kotbah-Nya diatas bukit. Mari kita belajar dari kisah Sengkuni dalam epic Mahabarata. Sengkuni adalah adik Gendari yang dinikahkan oleh Bisma dengan Destarastra yang buta. Ini dianggap sebagai penghinaan terhadap kakak perempuannya. Maka ia sangat benci kepada Bisma dan seluruh keturunannya. Ia ditunjuk sebagai penasehat Destarastra dan para Kurawa di Kerajaan Astina. Dengan licik dia selalu mengadu domba keturunan Bisma yakni Pandawa dan Kurawa. Dia selalu membuat cara bagaimana mereka saling bermusuhan dan saling membunuh. Ia membujuk Duryudana untuk meracuni Pandawa. Ia menyuruh Puruchana membakar balai “Sigala-gala” tempat Pandawa berpesta. Ia membujuk Pandawa bermain dadu. Saat mabuk kemenangan, dia mempermalukan Drupadi di depan umum dengan mengurai kain penutup tubuhnya. Drupadi ditelanjangi. Bima bersumpah akan membalas penghinaan ini dalam perang Baratayuda. Sengkuni mati dikuliti oleh Bima. Hukum tebar tuai berlaku. “Wong nandur bakal ngundhuh, wong utang kudu nyaur, wong nyilih kudu mbalekake.” (Orang menanam akan menuai, orang berhutang harus melunaskan. Orang pinjam harus mengembalikan) Yesus bersabda, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Yesus merumuskan hukum tebar tuai itu dengan kalimat positif aktif. Perintah lain berbunyi, “Jika kamu tidak ingin disakiti, janganlah menyakiti. Jika kamu tidak ingin direndahkan, janganlah merendahkan sesamamu.” Dunia ini berputar dengan hukum-hukumnya. Maka berhati-hatilah dengan segala perbuatan kita. Pada saatnya kita akan memetik buahnya. Sungguh indah pesona Pantai Drini, Ombak besar, pantai bersih langitnya biru. Jika tak mau disakiti, jangan menyakiti. Jika ingin dicintai, maka cintailah sesamamu. Wonogiri, taburkan kebaikan Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 12 Maret 2025
Rabu Prapaskah I Lukas 11: 29-32 “MANA buktinya kalau kamu mencintaiku?” tanya sang pacar menuntut kekasihnya membuktikan cintanya. Lelaki itu hanya memeluknya, memberi kehangatan dan menenangkan hati pacarnya. Kemarahan seringkali menutupi mata hati sehingga ia tidak bisa melihat tanda-tanda kasih yang dilakukan pacarnya. Lelaki itu dengan setia mengantar ke kantor. Ia juga dengan tepat waktu menjemputnya. Ia menemani di saat-saat sulit. Ia mendengarkan keluh kesah di saat-saat berat. Ia menghibur di saat-saat kesedihan dan kesepian menghantui. Namun hal-hal kecil itu tidak dilihat sebagai tanda kasih kepadanya. Ketika kekasihnya mati, wanita itu baru menyesal seumur hidup karena belum pernah bisa membalas pengorbanannya, sebab dia selalu menuntut, menuntut dan menuntut bukti atau tanda-tanda. Orang lain akan menyalahkan, mengapa ia menyia-nyiakan pengorbanan kekasihnya. Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” Mereka tidak mampu melihat apa yang dilakukan Yesus adalah tanda. Yesus menyembuhkan orang sakit. Ia memberi makan 5000 orang. Ia membangkitkan anak Yairus dan Lazarus yang mati. Yesus lebih berkuasa dari Yunus atau Salomo. Tetapi orang-orang itu tidak mau percaya. Maka Ratu Syeba dari selatan akan datang mengadili mereka karena ratu itu bisa melihat tanda bahwa Yesus adalah Mesias dan dia percaya. Apakah kita sering juga menuntut tanda agar Tuhan menunjukkan kuasa-Nya? Kita bisa bernafas, bisa melihat indahnya dunia, bisa makan dengan enak, bisa tertawa dengan teman-teman, bisa bangun dengan sehat. Semua itu adalah tanda Allah mengasihi kita. Mau tanda apa lagi yang kita butuhkan? Kalau kita piknik ke pantai Ngobaran, Jangan lupa beli ikan segar di Ngrenehan. Kita hidup adalah tanda kasih Tuhan, Mari kita syukuri dengan kebahagiaan. Wonogiri, indahnya kasih Tuhan Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta 11 Maret 2025
Selasa Prapaskah I Matius 6: 7-15 PHILIP YANCEY menulis buku berjudul The Prayer. Diterjemahkan, Doa Mengubah Segalanya. Dia mengatakan bahwa orang-orang ateis pun berdoa. Partai Komunis yang berkuasa di Rusia waktu itu memasang tulisan di bawah potret pemimpin besar mereka, Joseph Stalin. "Jika kamu menghadapi kesukaran dalam pekerjaanmu, atau mendadak ragu pada kemampuanmu, ingatlah akan Stalin-maka kepercayaan dirimu akan pulih. Jika kamu menjadi kelelahan yang tidak pada tempatnya, ingatlah akan Stalin-maka pekerjaanmu akan tetap lancar. Jika kamu perlu mengambil keputusan yang benar, ingatlah Stalin-dan kamu akan berhasil." Ada dua kelompok pendoa yang disebut Yesus dalam perikope hari ini. Yang pertama adalah kaum munafik. "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang.” Kelompok ini suka memamerkan diri dalam hal berdoa. Mereka berdoa di rumah-rumah ibadat dan di tikungan-tikungan jalan raya supaya dilihat orang. Yesus meminta kepada murid-murid-Nya untuk tidak meniru mereka. Kelompok kedua adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah. “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya,” kata Yesus. Ini yang terjadi dengan kaum ateis di Rusia. Partai Komunis menggunakan doa sebagai alat untuk mendewakan tokoh mereka. Doa bukan ditujukan untuk memuliakan Tuhan tetapi untuk memuja tokoh partai. Doa menjadi alat indoktrinasi. Yesus mengajarkan doa Bapa Kami yang singkat dan padat untuk memuliakan Allah sebagai Bapa. Doa juga ditujukan untuk membangun relasi yang baik dengan sesama melalui semangat pengampunan sebagaimana Allah mengampuni kita. Apakah kita sudah berdoa dengan benar di hadapan Allah? Ubur-ubur ikan lele. Kalau berdoa jangan bertele-tele. Wonogiri, berdoalah Bapa Kami Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 10 Maret 2025
Senin Prapaskah I Matius 25:31-46 KISAH Mahabarata ini menceritakan para Pandawa yang harus menyamar agar tidak diketahui oleh Kurawa. Setelah duabelas tahun dibuang di tengah hutan, Pandawa harus bersembunyi selama satu tahun lagi. Bila ketahuan para Kurawa, mereka harus kembali menjalani hukuman duabelas tahun lagi. Pandawa menyamar menjadi orang biasa di Kerajaan Wirata. Puntadewa berganti nama menjadi Kangka. Bima menjadi Bilawa. Arjuna menjadi Wrehatnala. Nakula menjadi Darmaganti dan Sadewa menjadi Tantripala. Drupadi, istri Puntadewa menjadi Nyai Salindri. Mereka menjadi abdi di Kerajaan Wirata. Kendati mereka adalah para ksatria tetapi harus menjalani tugas sebagai hamba. Ada yang menjadi pengurus kuda. Arjuna bertugas sebagai juru tari. Salindri menjadi tukang rias para putri. Bilawa menjadi tukang jagal hewan. Sebagai hamba mereka menjalankan tugasnya dengan baik dan suka menolong tuan-tuan mereka. Justru merekalah yang bertindak sebagai pahlawan menyelamatkan kerajaan Wirata dari pemberontakan. Dalam Injil hari ini, Yesus berkisah tentang keselamatan kekal dalam pengadilan terakhir. Allah digambarkan melakukan penyamaran dalam diri orang-orang kecil dan sederhana. Apa yang kita lakukan bagi mereka yang kecil dan sederhana, itu dilakukan untuk Tuhan “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.” Sang Raja ialah Allah sendiri menegaskan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Dalam setiap pribadi, khususnya mereka yang lemah, miskin, lapar, tersingkir dan menderita, Tuhan ada disana. Marilah kita menghargai mereka sebagaimana kita memuliakan Tuhan. Saya salah melihat tanggal, Sudah Maret kok lihat Februari. Saya ralat puncta yang awal, Terimalah puncta yang terakhir ini. Wonogiri, maaf harus diralat ya... Rm. A.Joko Purwanto, Pr Puncta, 9 Maret 2025
Minggu Prapaskah I Lukas 4:1-13 ARJUNA melakukan tapa semedi di Gunung Indrakila. Ia mengambil nama Begawan Ciptaning atau Begawan Mintaraga. Dari namanya Ciptaning, Arjuna ingin menciptakan keheningan agar dapat menyatu dengan Tuhan. Mintaraga artinya memisahkan raga atau badan “wadhag” dengan jiwanya agar dapat mengendalikan nafsu duniawi yang sering menggangu pikiran menuju kesatuan dengan Tuhan. Ketika berpuasa dan bertapa, Arjuna digoda oleh tujuh bidadari cantik molek. Mereka adalah Batari Supraba, Wiluttama, Warsiki, Surendra, Gagarmayang, Tunjungbiru, dan Lenglengmulat. Mereka semua diutus dari kahyangan untuk mengunjungi Arjuna lalu mempergunakan kecantikan mereka untuk merayu dan menggagalkan tapanya. Namun Arjuna menang atas rayuan mereka. Ia dapat mengatasi godaan nafsu duniawi dan diberi anugerah senjata oleh Dewa untuk mengalahkan Raksasa Niwatakawaca yang mengamuk di Kahyangan. Dalam Injil dikisahkan bahwa Yesus akan memulai karya-Nya. Ia berpuasa di padang gurun. Yesus digoda oleh setan dengan kenikmatan, kekuasaan dan prestasi atau kesuksesan. Namun Yesus teguh dan menang atas godaan setan. Ia berpegang kuat pada rencana Allah. Di Taman Getsemani saat Yesus siap menghadapi salib dan penderitaan untuk menebus manusia, setan menggoda-Nya lagi untuk mundur. Tetapi kesetiaan pada kehendak Bapa lebih kuat daripada godaan setan yang ingin menghancurkan. Kita semua pasti juga pernah mengalami digoda setan untuk berbuat jahat, melanggar perintah Tuhan, tunduk padanya. Bagaimana sikap kita terhadap godaan? Apakah kita tunduk atau kita mengikuti Yesus berani melawan setan? Mari kita berdoa kepada Yesus agar dikuatkan dalam menghadapi setiap godaan setan, agar seperti Dia, kita mampu setia kepada kehendak Bapa. Naik kereta senja menuju ke Jakarta, Ternyata keliru naik jurusan Surabaya. Setan menawarkan apa yang kita suka, Jangan mudah terjerumus ke dalamnya. Wonogiri, godaan selalu mempesona Rm. A. Joko Purwanto, Pr Puncta 8 Maret 2025
Sabtu Sesudah Rabu Abu Lukas 5: 27-32 PANDITA Durna yang adalah seorang resi, rohaniwan, guru, ahli agama yang harus selalu mengajarkan kebaikan, tetapi justru sering memecah belah dan menanam kebencian dan permusuhan. Dia berada di pihak Kurawa yang selalu membenci Pandawa dan mengarah kematian mereka. Semar adalah rakyat biasa, bahkan hanya seorang hamba atau abdi, namun hatinya baik dan tulus. Semar selalu menasehati para Pandawa untuk selalu mengasihi, mengampuni dan welas asih kepada siapa saja. Ada kontras hati antara Durna dan Semar. Dimana ada Durna di situ ada kebencian, dendam dan permusuhan. Sebaliknya dimana ada Semar, selalu ada kasih sayang, kedamaian dan ketentraman. Dalam Injil, Lukas membuat kontras hati antara Lewi si pemungut cukai dengan Ahli Taurat dan Para Farisi. Lewi bertobat dan mengikuti Yesus. Ia menemukan Tuhan. Ia memiliki hati yang baru dan hidup dengan cara pandang baru. Hidup dalam kasih dan berbagi dengan sesamanya. Sementara Ahli Taurat yang hidup rohaninya dianggap paling benar, suci dan baik, ternyata justru jauh dari Tuhan. Mereka menghakimi orang lain. Mereka membenci dan menjauhi kaum Lewi yang dianggap kelompok berdosa. Ada kontras hati. Orang yang merasa paling pantas yaitu para ahli kitab, justru tidak mengenali pikiran Tuhan. Sebaliknya, Lewi yang dianggap orang berdosa malah menemukan Tuhan. Lebih baik orang berdosa yang bertobat daripada orang yang merasa benar tetapi tidak mau bertobat. Lewi adalah orang sakit yang membutuhkan tabib. Sedang ahli Taurat merasa benar sehingga tidak butuh pertobatan. Tuhan hadir untuk orang-orang berdosa yang mau bertobat. Siapakah diri kita ini, apakah seperti orang Lewi yang mau bertobat atau pilih seperti ahli taurat yang merasa benar sendiri? Ada obat untuk segala penyakit, Hati ikhlas ikut memanggul salib. Kita adalah orang yang sakit, Membutuhkan kuasa seorang tabib. Wonogiri, membuka hati pada Tuhan Rm. A. Joko Purwanto,Pr Puncta 7 Maret 2025
Jum’at Sesudah Rabu Abu Matius 9: 14-15 SEBULAN yang lalu, kami merayakan misa pesta perak imamat adik saya, Rm. Silvester Joko Susanto, Pr di Paroki Kebonarum, Klaten. Kini perayaan yang sama diadakan di paroki tempat dia bertugas di Batu Putih, Palembang. Dalam dua pesta itu hadir Rm. Dwi Joko dari Palembang. Kehadirannya sangat memberi suasana ceria dan gembira. Dia sangat menikmati pesta dengan menyanyi bersama. Dari lagu campursari, nostalgia dan lagu-lagu daerah, dia sangat hapal. Dari awal sampai pesta berakhir dia menghibur para tamu. Bahkan ketika panitia sudah beres-beres perabotan meja kursi untuk diangkut, dia terus menghibur dengan suara merdunya. Suasana pesta terus berlangsung sampai tidak ada orang satu pun. Hening dan sepi menyelinap saat pesta sudah usai. Romo Dwi Joko baru pindah tempat saat organis dan petugas sound system pulang. Pesta usai dan saat itu jugalah kita kembali menikmati rutinitas biasa. Para murid Yohanes bertanya pada Yesus, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Mereka seumumnya mengikuti adat dan tradisi yang telah terwariskan turun temurun. Yesus tidak menolak tradisi puasa. Tetapi Dia mengingatkan agar orang dapat memahami esensi puasa lebih dari sekedar ikut-ikutan tradisi. Puasa bukan hanya soal memenuhi kewajiban agama. Tetapi puasa lebih untuk mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama. Puasa bukan sekedar aturan boleh ini atau tidak boleh itu. Puasa adalah saat dimana sang mempelai diambil dari tengah kita. Saat itu kita melakukan olah tapa dengan amal kebaikan bagi sesama. Puasa bukan cuma tindakan egosentris, melulu demi kesucian diri. Tetapi puasa adalah tindakan sosial demi kesejahteraan bersama. Sudahkah kita peduli dengan orang-orang yang menderita di sekitar kita? Justru saat puasa, kita berguna untuk sesama. Ada buah apel hijau di atas meja, dirujak dengan timun dan mangga. Apa gunanya kita tekun berpuasa, Jika saudara kita miskin menderita? Wonogiri, ayo puasa yang bermanfaat Rm. A. Joko Purwanto, Pr |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed