Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki

katekese

Menjalankan Misi

1/9/2025

0 Comments

 
Puncta, 9 Januari 2025
Kamis Sesudah Penampakan Tuhan
Lukas 4: 14-22a

SEORANG mandor bertanya pada tukang pertama yang dia jumpai di proyek, “Sedang apa pak?” Tukang menjawab, “sedang menata batu bata pak.” 

Mandor lalu pergi menjumpai tukang kedua. Ia bertanya hal yang sama. Tukang itu menjawab, “Saya sedang membuat dinding pak.”

Tukang ketiga yang ditanya dengan pertanyaan sama menjawab berbeda. “Saya sedang membangun Ibu Kota Negara pak, saya bekerja dengan sungguh-sungguh karena ini akan menjadi sejarah baru bagi Bangsa Indonesia. Saya tahu ini bangunan bersejarah dan saya harus membuatnya sebaik mungkin.” 

Orang ini mempunyai visi jauh ke depan dan dia mampu menjalankan apa yang dicita-citakan.

Merumuskan arah yang mau dituju itulah visi. Membuat langkah-langkah bagaimana tujuan itu bisa dicapai itulah misi. 

Jadi visi adalah tujuan jangka panjang, sedang misi adalah tahap atau langkah bagaimana mencapainya. 

Supaya dalam mencapai tujuan tidak menghalalkan segala cara, maka perlu ada Value atau rambu-rambu yang menuntun untuk bertindak benar.

Yesus datang ke Nasaret, kota asal-Nya dan Ia membaca nubuat Yesaya. Melalui nubuat itu Yesus menggenapi-Nya. Nubuat Yesaya itu adalah visi dan misi Yesus. Visi kedatangan-Nya adalah menghadirkan Kerajaan Allah.

Misi yang dilakukan adalah “untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."

Kita hidup di dunia ini juga ada tujuannya. Allah menciptakan kita punya maksud dan kehendak. Apakah kita bisa memahami kehendak Allah yang menjadi visi hidup kita? Apakah kita punya cara-cara bagaimana visi itu dapat tercapai?

Hidup harus berguna bagi banyak orang. Banyak kesempatan ditawarkan agar kita bisa menjadi berkat bagi sesama. Mari jangan dilewatkan begitu saja.

Batang sirih berbuah nangka,
Dipetik satu tumbuhnya tiga.
Hidup hanyalah sementara,
Jadikan berkat untuk sesama.

Wonogiri, membangun visi ke depan
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Jangan Takut

1/8/2025

0 Comments

 
Puncta, 8 Januari 2025
Rabu Sesudah Penampakan Tuhan
Markus 6:45-52

PERASAAN takut biasa menyergap semua orang. Apalagi kalau sedang menghadapi situasi kritis, orang sering mengalami ketakutan. 

Berhadapan dengan bahaya, sakratul maut, situasi antara hidup dan mati, membuat orang kawatir, was-was dan ketakutan.

Saya pernah mengalami terombang-ambing di laut oleh ombak besar di perjalanan antara Sukadana ke Teluk Melano, di Kabupaten Kayong Utara. Kami berencana ke Pontianak lewat jalur laut. Tetapi cuaca sangat buruk, hujan deras disertai angin membuat ombak bergulung sangat tinggi.

Di dalam speed boat itu tak ada suara manusia kecuali mesin kapal yang meraung-raung menembus gelora ombak. Semua orang berdoa sesuai keyakinannya. 

Saya memegang rosario erat-erat sambil komat-kamit mendaraskan doa Salam Maria mohon keselamatan sampai di tujuan.

Ombak tinggi membuat daratan kadang muncul kadang lenyap tertutup gelombang. Kami hanya bisa pasrah dan berdoa agar terlepas dari bahaya tergulung ombak. 

Para murid setelah sukacita melihat peristiwa pergandaan roti yang luar biasa, berlayar naik kapal. Yesus masih tertinggal di daratan. Ia mencari tempat sunyi untuk berdoa. Para murid berlayar di tengah danau.

Tiba-tiba angin sakal menyerang kapal. Mereka terombang-ambing dalam kelelahan. Dalam situasi yang berat itu Yesus datang berjalan di atas air mendekati mereka. Tentu saja mereka ketakutan. Mereka menyangka melihat hantu.

Yesus berkata, “Tenanglah, Aku ini, jangan takut!” Yesus datang membawa ketenangan dan kedamaian. Ia naik ke perahu dan danau menjadi tenang. 

Ini mengisyaratkan kepada kita semua. Jika kita sedang menghadapi bahaya, beban hidup yang berat, kesulitan besar, kita diajak untuk mempersilahkan Yesus masuk ke dalam ruang kapal kita.

Bersama dengan Tuhan, hidup akan menjadi aman, tentram dan damai. 

Dia adalah penguasa alam semesta. Dia mampu mengatasi segala perkara. “Jangan takut!” itulah pesan nyata bagi kita.

Ke pasar membeli gunting,
Tidak lupa pesan pitanya.
Jika hidup terasa genting,
Jangan lupa selalu berdoa.

Wonogiri, jangan takut…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Makan Bubur Tajin

1/7/2025

1 Comment

 
Puncta, 7 Januari 2025
Selasa Sesudah Penampakan Tuhan
Markus 6: 34-44

​
BAPAK dulu pernah bekerja di tempat penggilingan padi. Sisa-sisa beras yang hancur dikumpulkan dan dibawa pulang. Bapak sering menyuruh ibu untuk menanak nasi dari sisa-sisa beras pemberian orang.

Waktu itu masa paceklik dan sulit. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ibu harus pandai-pandai memutar otak agar anak-anak bisa makan. 

Kalau beras tidak cukup, ibu membuat bubur “tajin” agar bisa dimakan seluruh keluarga. Tajin yang masih hangat itu dicampur gula merah sedikit, rasanya enak sekali.

Anak-anak harus makan lebih dulu, baru bapak dan ibu makan sisa-sisanya. Bahkan kadang ibu membohongi kami. Beliau mengatakan sudah makan saat mencicipi makanan yang dimasak untuk anak-anak. Yang penting anak-anak jangan kelaparan. 

Ibuku selalu bisa membuat makanan cukup bagi anak-anak. Walau dari kekurangan yang ada, anak-anaknya harus makan. Selalu ada mukjizat yang bisa disyukuri karena Tuhan selalu menyelenggarakan hidup kita.

Yesus berbelaskasihan ketika melihat orang banyak, seperti domba tanpa gembala. Ia mengajak murid-murid-Nya untuk berpikir memberi mereka makan. “Kamu harus memberi mereka makan,” kata-Nya.

Padahal mereka hanya memiliki lima roti dan dua ikan. Tetapi Yesus mengucap syukur atas lima roti dan dua ikan, sehingga saat dibagikan dapat mencukupi untuk lima ribu orang.

Setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka.

Ketika semua bisa disyukuri, tidak ada yang akan kekurangan. Tetapi justru malah berkelimpahan. Di mata Tuhan tidak ada yang mustahil. Tetaplah percaya dan punya pengharapan.

Setiap pagi dapat kiriman bubur,
Ada bubur babi dan bubur ikan.
Hati yang selalu penuh syukur,
Bikin hidup jadi berkelimpahan.

Wonogiri, mukjizat itu nyata tiap hari
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
1 Comment

Warta Pertobatan

1/6/2025

0 Comments

 
Puncta, 6 Januari 2025
Senin Sesudah Penampakan Tuhan
Matius 4:12-17.23-25

YESUS memulai karya-Nya tidak di kampung halaman, Nasaret tetapi justru di Kapernaum, Galilea, tempat bangsa-bangsa lain. Nampaknya, Dia membaca situasi saat itu, dimana keadaan sosial dan politik tidak mendukung karya-Nya.

Matius mengisahkan adanya penangkapan terhadap Yohanes Pembaptis. Ia dimasukkan ke dalam penjara oleh Herodes. Pasti ada penolakan atas sikap dan tindakan Yohanes. Yesus tidak ingin memperkeruh keadaan. Ia menyingkir ke Kapernaum, di daerah Zebulon dan Naftali.

Kepindahan Yesus ini dipandang sebagai penggenapan nubuat Yesaya. Matius ingat akan isi Kitab Suci Perjanjian Lama bahwa bangsa-bangsa lain juga akan mengalami penebusan, sesuai dengan ramalan Yesaya.

"Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain? Bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang."

Kehadiran Yesus adalah Terang yang besar. Bangsa yang diam di negeri yang menuju kehancuran kini punya harapan bangkit karena Yesus diam di tempat itu. Maka warta yang disampaikan Yesus adalah pertobatan. “Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat.”

Untuk bisa menerima Kerajaan Allah, tidak ada jalan lain kecuali dengan pertobatan, membuka diri terhadap warta yang dibawa Yesus. Pertobatan itu ditujukan kepada semua bangsa, khususnya mereka yang diam dalam kegelapan dan hatinya dinaungi oleh maut.

Jika hati kita sedang dalam kuasa kegelapan dan jurang kehancuran menganga di depan kita, maka Yesus datang mengabarkan pertobatan. Hati kita seperti tanah Zebulon dan Naftali. Yesus dengan sukacita datang membawa Terang Sejati.

Maukah hati kita yang gelap didiami oleh Yesus yang membawa Terang? Syaratnya adalah pertobatan hidup, perubahan hati dan membuka diri kepada Tuhan. Semoga kita bisa melihat Terang yang dipancarkan oleh kasih Tuhan.

Menangkap kera di tengah-tengah hutan,
Keranya meringis memamerkan gigi.
Yesus membawa kasih dan pengampunan,
Mari membuka diri agar diampuni.

Wonogiri, bertobatlah….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Tiga Raja dari Persia

1/5/2025

0 Comments

 
Puncta, 5 Januari 2025
HR. Penampakan Tuhan
Hari Anak Misioner Sedunia
Matius 2: 1-12


GEREJA kelahiran atau Nativity Church terletak di Betlehem, daerah otonomi Palestina. Gereja ini adalah gereja tertua yang masih berdiri kokoh selama perang salib. 


Gereja ini tidak dihancurkan oleh tentara Ottoman karena ada mosaik di lantai marmer yang menggambarkan orang-orang Majus, Persia datang menyembah Mesias, membawa emas, dupa dan mur.


Di dalam gereja itu ada gua yang diyakini sebagai tempat Yesus lahir. Bintang perak menandai tempat kelahiran. 


Untuk masuk ke gua pengunjung harus melewati pintu yang rendah dan sempit. Kemudian peziarah harus menuruni tangga marmer ke gua.


Pintu yang rendah itu punya makna. Untuk menghadap Tuhan, orang harus menunduk, hormat, merendahkan diri. Sebagaimana Tuhan yang merendahkan diri menjadi manusia.


Begitulah yang dilakukan orang-orang Majus dari Timur. Mereka sering juga disebut sebagai kaum bijaksana, para sarjana, tiga raja dari daerah Persia yang mencari Sang Juruselamat. Mereka datang untuk menyembah Raja Semesta Alam.


Mereka dipimpin oleh bintang menuju ke Betlehem. Sudah sejak zaman kuno, astronomi dipercaya sebagai petunjuk kehidupan. 


Mereka mengikuti petunjuk bintang ke tempat Yesus lahir. Hic de Maria Virgine Jesus Chistus natus est, artinya disinilah Yesus Kristus putera Maria dilahirkan. 


Peristiwa ini mau menyatakan bahwa Yesus lahir untuk semua bangsa. Yesus Tuhan hadir untuk siapa saja tanpa terkecuali. 


Keselamatan itu untuk semua manusia. Tiga orang bijaksana itu berasal dari Persia. Mereka mau datang menyembah Tuhan.


Allah yang menjadi manusia itu menyapa siapa pun juga. Tidak memandang status sosialnya. Kaum cerdik pandai, orang miskin seperti gembala, para raja atau rakyat biasa disapa oleh Tuhan.


Kita semua adalah peziarah di dunia ini. Kita semua mencari Tuhan. Mari kita tetap rendah hati, saling mengasihi dan menolong agar mampu menemukan Tuhan yang sejati. 


Gondang Winangun ada pabrik gula,
Ditumbuhi ilalang dimana-mana.
Tuhan mengasihi semua bangsa,
Di hadapan-Nya kita semua sama.


Wonogiri, mari datang menyembah Tuhan
Rm.  A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Apa yang Kamu Cari?

1/4/2025

0 Comments

 
Puncta 4 Januari 2025
Sabtu Biasa Masa Natal
Yohanes 1: 35-42

PERTANYAAN di atas tidak sekedar pertanyaan biasa. Ini adalah permenungan sepanjang hidup manusia. Setiap orang selalu bertanya diri, Apa yang kucari dalam hidup ini? Kekayaan? Kesuksesan? Kemewahan? Popularitas? Kekuasaan? 

Apakah kalau kita sudah kaya, sukses, hidup mewah, terkenal dan punya kuasa, kita sudah puas bahagia? Apakah tidak ada hal lain yang harus dicari? 

Dari banyak pengalaman, orang kaya ternyata tidak bahagia. Kebanyakan yang terjerat kasus di KPK justru orang-orang kaya, yang duitnya ratusan trilyun. 

Apakah kalau sudah punya kuasa hidupnya bahagia? Lihatlah bagaimana Presiden Bashar al Assad di Suriah tumbang awal Desember kemarin dan harus melarikan diri ke Rusia. 

Apakah kalau sudah terkenal hidupnya bahagia? Kita semua tahu bagaimana Michael Jackson Raja Pop dunia mengakhiri hidupnya karena overdosis?

Pertanyaan Yesus kepada dua murid pertama terus menggema, “Apa yang kamu cari dalam hidupmu ini?” Jawabannya sebenarnya ada di dalam pertanyaan dua murid itu juga. “Guru, dimana Engkau tinggal?”

Murid-murid itu tidak menjawab pertanyaan Yesus dengan kekayaan, kekuasaan, kemewahan atau popularitas. Tetapi mereka ingin mengatahui dan tinggal bersama Yesus.  

Apa yang kamu cari? Jawabannya adalah tinggal bersama Yesus.

Siapa Yesus itu? Jawabannya dikatakan oleh Andreas. "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)." Pertanyaan “apa yang kamu cari?” dijawab oleh Andreas, “kami telah menemukan Mesias, Kristus atau Juruselamat.”

Kalau orang Jawa, pertanyaan “apa yang kamu cari?” diubah menjadi kalimat perintah, “Golekana susuhing angin, Golekana galihing kangkung atau Golekana tapaking kuntul nglayang.” 

(Carilah dimana sarang angin, carilah apa inti batang kangkung, carilah jejak burung bangau terbang).

Jawaban tinggal bersama Kristus diterjemahkan dengan “Manunggaling kawula Gusti.” Apa yang kita cari dalam hidup ini? Bukan kekayaan, kemewahan, kekuasaan atau hidup enak, tetapi manunggal bersama Gusti Allah. 

Tinggal dalam Kristus itulah yang terus menerus harus kita usahakan. Dengan tinggal dalam Dia, kita akan memperoleh kebahagiaan sempurna. 

Manunggal dalam Kristus berarti sehati, seperasaan, sejalan, sekehendak, senafas dengan hidup Kristus sendiri. Maukah kita manunggal dengan Kristus?

Hujan-hujan duduk di emperan,
Sungguh enak sambil makan gembus.
Hidup ini untuk cari kebahagiaan,
Bahagianya hidup bersama Kristus.

Wonogiri, apakah yang kamu cari?
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Mewartakan Kebenaran atau Mewartakan Diri?

1/3/2025

0 Comments

 
Puncta, 3 Januari 2025
Jum’at Masa Natal
Yohanes 1: 29-34

SAYA mengagumi ceramah-ceramah Buya Syakur di kanal Youtube. Beliau tidak banyak melucu, apalagi dengan kata-kata kasar dan teriak-teriak. Tutur katanya santun, sejuk, membawa damai dan tentram. 

Beliau juga tidak menjelek-jelekkan orang lain, tetapi mengajak pendengarnya untuk kritis mencari nilai-nilai kebenaran.

Banyak pengkotbah yang suka menjelek-jelekkan pihak lain dengan mengaku-aku sebagai mantan suster, mantan pastor, lulusan universitas Vatikan. 

Mereka mencari pengakuan diri walau sebenarnya menipu banyak orang. Anehnya, para pendengarnya kok ya “manthuk-manthuk setuju” saja.

Baru sebulan jadi aspiran (calon) sudah mengklaim jadi suster. Baru kelas 0 di seminari kecil sudah ngaku jadi pastor. Ikut retret pengenalan diri sudah dianggap bagian pendidikan jadi biarawan. Hanya jalan-jalan ikut rombongan ke Vatikan sudah ngaku lulusan universitas Vatikan. 

Kalau orang cerdas tahu bahwa kampus-kampus seperti Gregoriana atau Urbaniana tidak berada di Vatikan, tetapi di kota Roma. Aneh juga kalau mewartakan kebenaran iman kok harus pakai tipu-tipu, ngarang-ngarang atau memanipulasi data diri.

Pewarta sejati mewartakan kebenaran, bukan mencari popularitas atau ketenaran. Yohanes Pembaptis adalah pewarta iman yang sesungguhnya. Ia mengarahkan orang pada kebenaran sejati yang telah diwahyukan kepadanya.

Yohanes tidak mengklaim diri sebagai pembawa Terang. Dia menghantarkan orang kepada Terang Sejati. Dia mengarahkan orang pada keselamatan sejati yaitu Kristus, Sang Anak Domba Allah.

Ia berkata, "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.”

Yohanes tidak takut kehilangan pengikut. Tugasnya adalah membawa orang sampai pada keselamatan. Keselamatan ada pada Yesus, maka semua diarahkan untuk mengikuti Yesus. 

Mewartakan kebenaran harus didukung dengan nilai-nilai kebenaran, dan dihayati dalam peri hidupnya yang benar, tidak membohongi atau menipu orang. 

Kalau orang sudah berbohong pastilah isi pewartaannya juga dipertanyakan. 

Cak Lontong sering mengajak kita berlogika kritis dengan berkata, ”MIKIR……!!!” Kita jangan mudah dibodohi dengan pengkotbah-pengkotbah yang mencari popularitas dan kekayaan diri sendiri. Kita bisa menilai mana pewarta kebenaran yang sesungguhnya.

Katanya lulusan terbaik Vatikan,
Kok tidak fasih berbahasa Itali.
Kalau kita mewartakan kebenaran,
Jangan suka membohongi diri sendiri.

Wonogiri, meneladan Yohanes Pembaptis
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Pewarta Sejati; Jujur dan Rendah Hati

1/2/2025

0 Comments

 
Puncta, 2 Januari 2025
PW. St. Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze, Uskup dan Pujangga 
Yohanes 1: 19-28

SEMUA orang pasti ingin terkenal, punya follower jutaan, dikenal oleh banyak orang dimana-mana. Bahkan di dunia maya sekarang ini, orang menggunakan berbagai cara agar bisa populer. 

Malah ada yang sangat naif, konyol dan bodoh hanya untuk menjadi viral di medsos. Apalagi ada motif keuntungan ekonomis di dalamnya.

Munculnya aplikasi seperti TikTok, Twitter, Youtube, Instagram membuat banyak konten creator berlomba ingin jadi terkenal. Tetapi tidak sedikit yang membuat konten berbahaya demi mengejar viewer. 

Salah satu kasus yang banyak diperbincangkan beberapa waktu lalu adalah aksi tiga remaja menghadang truk yang menewaskan salah seorang di antara mereka. Hanya untuk populer mereka membuat aksi berbahaya, naif dan konyol.

Apa yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis membuat dirinya makin dikenal banyak orang. Cara hidupnya yang aneh dan suaranya yang berani demi kebenaran sangat menarik banyak orang. 

Tetapi bagi Yohanes, ketenaran atau popularitas bukan tujuannya. Tujuan hidupnya adalah mempersiapkan jalan bagi kedatangan Mesias. 

Orang banyak dan bahkan para pemimpin agama Yahudi bertanya tentang identitas dirinya. Yohanes punya follower yang banyak di tengah masyarakat.

Mereka bertanya, "Apakah engkau Mesias?" Ia pun menyangkalnya. Bahkan mereka menyamakannya dengan Nabi besar Elia, tetap saja Yohanes menolaknya. 

Dengan jujur dan rendah hati ia menjawab, "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya."

Inilah sikap seorang pewarta sejati. Ia bertindak jujur dan rendah hati. Ia tidak mewartakan dirinya sendiri, walau kesempatan itu ada, tetapi mewartakan kehendak Allah yang sesungguhnya.

Sikap Yohanes jelas, “Aku harus semakin kecil dan Dia (Yesus Sang Mesias) harus semakin besar.” 

Pewarta yang sejati membuat orang lain tumbuh berkembang dan membiarkan dirinya berada di balik layar. Beranikah kita meneladan sikap dan cara hidup Yohanes Pembaptis?

Tahun baru tidak ada warung nasi,
Terpaksa makan dengan sambel teri.
Kalau mau menjadi pewarta sejati,
Ia tidak menonjolkan dirinya sendiri.

Wonogiri, selamat memasuki tahun penuh harapan...
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments

Mother

1/1/2025

1 Comment

 
Puncta, 1 Januari 2025
HR. St. Maria Bunda Allah
Hari Perdamaian Sedunia
Lukas 2: 16-21

Mother, you had me but I never had you, I wanted you but you didn't want me,
So I got to tell you, Goodbye, goodbye.

Farther, you left me but I never left you, I needed you but you didn't need me,
So I got to tell you, Goodbye, goodbye.

Children, don't do what I have done, I couldn't walk and I tried to run, So I got to tell you, Goodbye, goodbye. 

Mama don't go, Daddy come home.........

LAGU yang dinyanyikan oleh John Lenon ini menggambarkan pengalaman masa kecilnya yang suram karena ditinggalkan oleh ibu dan ayahnya. 

John lahir dari pasangan Julia Stanley dan Alfred Lennon.

Julia meninggal karena ditabrak oleh polisi yang tidak bertugas dalam keadaan mabuk saat John masih kecil. Alfred adalah seorang pelaut yang jarang pulang ke rumah. 

Pengalaman “primal scream” yakni kurangnya cintakasih dari kedua orangtuanya inilah yang dituangkan dalam jeritan lagu berjudul Mother.

John mengatakan bahwa jeritan kepedihan ini bukan hanya pengalaman dirinya, tetapi 99% anak-anak yang terlahir di dunia ini, punya pengalaman yang mirip dengannya.

Jeritan yang melengking panjang dan pilu, Mama don't go, Daddy come home adalah kerinduannya akan kehadiran seorang ibu pada saat-saat yang menentukan hidupnya. 

Itulah yang disebut terapi primal scream yang dijalani John untuk mengisi kepiluan hatinya karena kehilangan ibu yang disayanginya. 

Kita pantas bersyukur karena memiliki ibu Maria yang penuh kasih kepada setiap anaknya. Hari ini kita sebagai Gereja merayakan Santa Perawan Maria Bunda Allah. Maria adalah bunda bagi kita semua. 

Menghadapi aneka persoalan hidup yang pelik, rumit dan bergejolak, Maria menyimpan segala perkara itu dalam keheningan doa dan berdialog dengan Allah. 

Maria memahami apa yang tersimpan dalam hati kita. Ia ikut mendoakan dan mendampingi kita dalam doa-doanya kepada Allah. Maria adalah bunda yang memberikan hati untuk anak-anaknya.

Tahun Baru telah tiba,
Semua makhluk damai sejahtera.
Hati Maria seluas samudera,
Ia mengasihi kita anak-anaknya.

Wonogiri, selamat tahun baru 2025 untuk anda pecinta Puncta......
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
1 Comment

Persona Sejati Kita

12/31/2024

0 Comments

 
Puncta 31 Desember 2024
Selasa Oktaf Natal 
Yohanes 1: 1-18

PERSONA dalam kamus  besar bahasa Indonesia diartikan sebagai topeng, wajah, ciri khas seseorang, hal yang identik dengan pribadinya. Topeng yang kita gunakan untuk beradaptasi dengan dunia luar. 

Seorang psikoanalis terkenal bernama Carl Gustav Jung mengatakan bahwa persona adalah wujud diri atau karakter yang kita mainkan dalam relasi sosial di tengah masyarakat. 

Persona berasal dari Bahasa Latin;  per-sonus. Per berarti melalui, sonus berarti suara. Melalui suara yang diucapkan, orang menampilkan kepribadiannya. 

Suara atau ucapan seseorang menunjukkan karakter pribadinya. Karakter seseorang dapat dinilai dari apa yang ditampilkan lewat kata-kata dan tindakannya.

Karakter atau topeng itu kita ciptakan agar kita diterima dalam kalangan sosial kita. Persona itu berciri sebagai branding image diri kita. Gambar macam apa yang kita mainkan sebagai ciri khas/branding diri kita kepada masyarakat.

Persona diri juga berguna untuk defence mechanism atau pola pertahanan diri, sebab dunia atau lingkungan sosial kadang tidak mau menerima diri kita apa adanya. 

Kita pakai topeng untuk pertahanan diri. Melalui suara atau per-sona orang menciptakan dirinya sendiri berada di lingkungan sekitarnya. 

Dalam Injil, Yohanes mengatakan bahwa Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita. Sabda itu menjadi manusia. Yesuslah Sang Sabda itu, karena Ia berasal dari Allah. 

Pada awal mula adalah Firman. Firman itu ada bersama-sama dengan Allah, Firman itu adalah Allah.

Yohanes memberi kesaksian bahwa Firman itu telah menjadi manusia. Sabda itu menjadi pribadi yang hidup di antara kita. 

Sabda itu berasal dari Allah dan manusia tidak mengenal-Nya. maka Sabda itu datang untuk menjadi Terang, agar manusia percaya dan mengenal-Nya.

Yesus Kristuslah Sang Terang yang telah datang ke dunia. Ia adalah Cahaya bagi siapapun yang percaya. 

Siapa yang melihat Cahaya dan mendengarkan Sang Firman, ia akan diberinya kuasa menjadi anak-anak Allah. Yesus adalah jalan menuju kasih sejati. Pribadi Yesus adalah pribadi kasih Allah.  

Sebagaimana Musa membawa hukum Taurat, demikianlah Yesus datang membawa hukum Kasih dan Kebenaran. Melalui Sabda yang menjadi manusia itu kita dihantar kepada Kasih dan Kebenaran. 

Marilah kita mewujudkan diri sebagai pribadi yang dikasihi oleh Allah melalui Yesus Sang Suara atau Firman sejati.

Selamat tinggal tahun yang lama,
Selamat datang dua ribu dua lima.
Yesus Kristus adalah Terang dunia,
Ia membawa harapan baru bagi kita.

Wonogiri, akhir tahun yang penuh bahagia
Rm. A.Joko Purwanto,Pr
0 Comments
<<Previous
Forward>>

    Archives

    December 2034
    January 2026
    December 2025
    November 2025
    October 2025
    September 2025
    August 2025
    July 2025
    June 2025
    May 2025
    April 2025
    March 2025
    February 2025
    January 2025
    December 2024
    November 2024
    October 2024
    September 2024
    August 2024
    February 2024
    February 2022
    January 2022
    December 2021
    November 2021
    October 2021
    July 2021

    Categories

    All
    Hello Romo!
    Katekese
    Puncta
    Rubrik Alkitab

    RSS Feed

Site powered by Weebly. Managed by Rumahweb Indonesia
  • Home
  • Profil Paroki
  • Katekese
  • Pelayanan
  • Berita Paroki