|
Puncta 15 April 2026
Rabu Paskah II Yohanes 3:16-21 PLATO sedang berdiskusi dengan Socrates dan Glaucon tentang keadilan. Socrates mengatakan keadilan itu baik dalam dirinya sendiri dan baik sebagai sarana untuk hal-hal luhur lainnya seperti hidup aman dan damai, harmoni, rukun bersatu, saling menghargai. Glaucon cenderung setuju tetapi dia ingin menguji Socrates agar membuktikan bahwa sebenarnya orang melakukan keadilan dan kebaikan hanya karena takut dihukum atau diadili. Kalau tidak ada hukuman atau tidak diketahui oleh orang banyak, manusia cenderung berbuat jahat. Glaucon menggambarkan argumennya dengan cerita tentang “Cincin Gyges.” Gyges adalah seorang gembala sederhana. Suatu kali terjadi gempa dan ada lubang menganga di tanah. Gyges melihat ada benda-benda aneh, termasuk sebuah cincin di lubang itu. Gyges mengambil cincin dan memakainya. Pada pertemuan para gembala, Gyges menyadari bahwa kalau dia memutar cincin ke arah bagian dalam tangannya, orang lain tidak dapat melihat dirinya. Ia menjadi tak terlihat oleh siapapun. Mengetahui kemampuan “menghilang” ini, dia melakukan hal-hal buruk. Dia mencari alasan untuk menyampaikan pesan ke istana, lalu merayu ratu. Mereka berdua bersekongkol untuk membunuh raja Lydia yang kepadanya Gyges telah bersumpah setia, dan Gyges mengambil alih posisinya sebagai penguasa yang lalim. Gyges adalah gambaran watak manusia yang sebenarnya. Kalau tidak diketahui orang, kita cenderung berbuat jahat; korupsi, mencuri, merampok, selingkuh, hidup dalam kegelapan. Itulah watak dasar manusia. Yesus menggambarkan karakter kita dengan kata lain. Ia berkata, “Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; Tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” Namun karena kasih Allah yang penuh belas kasih, manusia dituntun kepada Terang. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Kita membutuhkan Terang yakni kasih Tuhan agar kita dituntun untuk melakukan kebaikan karena kita lebih suka hidup dalam kegelapan. Yesuslah Terang itu. Mari kita mengikuti Sang Terang Sejati agar tidak memilih kegelapan. Sepercik pantun buat anda: Banyak orang melakukan korupsi, Kalau lagi apes bisa diciduk polisi. Yesus adalah Sang Kasih Sejati, Dia tidak menghukum atau menghakimi. Wonogiri, Hiduplah dalam Terang Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed