|
Puncta 15 Maret 2026
Minggu Prapaskah IV Minggu Laetare Yohanes 9:1.6-9.13-17.34-38 SEORANG jubir pers kepresidenan AS, Karoline Leavitt mengomentari pernyataan Paus Leo XIV bahwa kebijakan publik harus didasarkan pada etika moral, belas kasih dan tanggung jawab sosial, dan kesenjangan yang makin lebar antara retorika politik dan perjuangan sehari-hari yang dihadapi banyak orang. “Dia hanya tokoh agama. Itu tidak membuatnya berhak untuk ikut campur dalam kebijakan publik. Dia seharusnya fokus memimpin Gereja. Masalah-masalah serius harus diserahkan kepada para profesional,” kata Leavitt. Tetapi jawaban Paus membuat semua orang hening dan tercenung. “Saya bukan ‘sekadar tokoh agama.’ Saya adalah pelayan bagi jutaan orang di seluruh dunia. Saya adalah saksi atas perjuangan, ketakutan, dan harapan mereka.” “Iman tidak pernah terpisah dari masyarakat,” kata Paus. “Iman hidup dalam komunitas kita—dalam cara kita memperlakukan orang miskin, orang yang rentan, dan mereka yang merasa tidak didengar. Para pemimpin spiritual tidak berhenti menjadi warga dunia hanya karena mereka mengenakan pakaian keagamaan,” lanjutnya. Perlakuan tidak adil terhadap orang miskin, sakit, menderita, rentan terlukis dalam peristiwa Yesus menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya. Kaum Farisi menghakimi si buta sebagai orang berdosa. "Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?" Mereka juga menyalahkan Yesus karena menyembuhkan orang pada hari sabat. Sikap ini sama sama seperti Leavitt yang menyatakan bahwa Paus tidak berhak berbicara tentang politik dan kebijakan publik serta masalah-masalah hak asasi manusia yang rentan. Paus berkata, “Iman tidak terpisah dari kehidupan masyarakat.” Ini adalah amanat Konsili Vatikan II dalam Gaudium et Spes. "Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga." Penyembuhan orang buta justru menumbuhkan iman yang makin mendalam. Orang buta itu mengungkapkan kepercayaannya bahwa Yesus adalah seorang nabi dan Anak Manusia. Ketika orang Farisi bertanya siapa yang memelekkan matamu, dia menjawab, "Ia adalah seorang nabi." Juga ketika Yesus bertanya, "Percayakah engkau kepada Anak Manusia?" Katanya: "Aku percaya, Tuhan!" Lalu ia sujud menyembah-Nya. Orang yang buta itu malah percaya pada Tuhan. Tetapi orang-orang yang tidak buta matanya justru tidak mau percaya seperti kaum Farisi. Apakah anda percaya bahwa Yesus mampu mengubah hidup anda menjadi lebih baik? Apakah mata batin anda terbuka akan karya Tuhan yang menyelamatkan anda? Ataukah anda bersikap skeptis dan tidak mau percaya seperti kaum Farisi? Sepercik pantun untuk direnungkan: Perang hanya membawa korban, Rakyat menderita tak ada masa depan. Lebih baik buta tetapi diselamatkan, Daripada melek tapi tak melihat Tuhan. Wonogiri, iman tumbuh makin dalam Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed