|
Puncta 27 Juni 2026
Sabtu Biasa XII Matius 8:5-17 KAPOLRI kelima yang sangat jujur dan berintegritas dalam tugas adalah Jendral Hoegeng Iman Santoso. Banyak contoh suri tauladan yang dilakukan oleh Pak Hoegeng kepada kita semua. Beliau adalah pribadi yang jujur, sederhana dan anti korupsi. Kendati punya kuasa yang besar, namun beliau tidak menggunakannya demi kepentingan pribadi dan keluarganya. Ibu Merry Hoegeng pernah cerita; Suatu kali ada seorang ibu yang kehilangan mobil. Sudah dilaporkan ke polisi tetapi tidak diurus. Ia lapor ke Pak Hoegeng. Seminggu kemudian, mobil sudah kembali ke pemiliknya. Sang pemilik mengucapkan terimakasih dengan memberi bingkisan berupa kalung emas. Tetapi Pak Hoegeng mengembalikan bingkisan itu. Beliau berkata; “Tugas polisi adalah menolong. Tidak boleh menerima imbalan apapun.” Mas Didit, putra kedua Pak Hoegeng bercerita; Pak Hoegeng yang waktu itu menjabat sebagai Kapolri bintang empat, turun ke jalan di Bundaran HI untuk mengatur lalu lintas yang macet. Pak Hoegeng bilang; “Walaupun bintang empat, tetapi saya tetap polisi. Kalau ada sesuatu yang tidak berjalan semestinya, saya tidak bisa duduk tenang begitu saja.” Dalam Injil hari ini ada seorang perwira yang datang kepada Yesus dan memohon kepada-Nya: "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita." Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya." Tetapi perwira itu dengan rendah hati berkata; "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” Ia menganggap Yesus lebih tinggi daripadanya. Maka dia mendudukkan dirinya seperti anak buah-Nya. Kalau dia perintah ke anak buah, pasti mereka langsung akan melakukannya. Maka perwira itu minta Yesus berkata sepatah kata saja. Pasti hambanya akan sembuh. Iman perwira itu sangat besar. Dia yakin Yesus mempunyai kuasa ilahi untuk menyembuhkan. Seperti seorang jendral yang bisa memerintah apapun, perwira itu yakin Yesus lebih dari seorang jendral di jajaran angkatan perang. Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.” Di atas batu nisan almarhum Pak Hoegeng tertulis, “Alhamdulilah, telah kubuktikan bahwa imanku benar-benar sentosa.” Iman terwujud dalam tindakan yang nyata. Iman yang sentosa diwujudkan dalam integritas diri, kejujuran, kesederhanaan, komitmen dan keberanian melawan suap menyuap atau korupsi, bahkan diajarkan sampai ke istri dan anak-anaknya. Apakah kita juga berani mewujudkan iman kita yang kokoh kuat seperti Pak Hoegeng atau perwira yang datang kepada Yesus itu? Sepercik pantun buat anda: Polisi sering mencari rejeki di jalan-jalan, Mencari kesalahan dengan tilang-tilang. Belajarlah dari Pak Hoegeng sang teladan, Tegas menolak suap baik uang maupun barang. Wonogiri, meneladan Pak Hoegeng Rm. A. Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed