|
Puncta 26 Juni 2026
Jum’at Biasa XII Matius 8:1-4 DOKTER Niken Wijayanti Sp. DVE menjelaskan bahwa kusta atau lepra adalah penyakit yang menyerang kulit, selaput lendir dan syaraf tepi. Penyebabnya adalah bakteri Mycobacterium leprae. Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah India dan Brasil. Pemilik Lauda Skin Care di Pringsewu Lampung ini menerangkan bahwa penyakit kusta sekarang bisa diobati asal terdeteksi sejak dini. Kadang orang merasa tidak sakit karena gejala-gejalanya hanya berupa bercak-bercak di kulit yang mati rasa seperti panu. Orang mengabaikan penyakit ini. Karena sering diabaikan, waktu diperiksakan sudah dalam kondisi parah dalam bentuk luka/borok menahun atau cacat. Kalau sudah parah, orang bisa cacat atau alami kelumpuhan. Namun dokter yang sering menangani pasien kusta ini bilang bahwa penyakit ini bisa disembuhkan. Dalam Injil, Yesus didatangi seorang yang sakit kusta. Ia sujud menyembah Dia dan berkata: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." Orang ini dengan tulus memohon kepada Yesus. Ia tidak memaksa Yesus – jika Tuan mau – tetapi dengan rendah hati dan takzim meminta. Pasti orang ini menyadari keadaannya. Pada waktu itu belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit kusta. Orang kusta disingkirkan dari masyarakat. Ia dianggap najis dan tidak boleh bergaul di tengah perkampungan. Ia harus berpakaian cabik-cabik. Mukanya harus ditutupi dengan kain dan bila bertemu dengan orang lain harus berteriak; Najis! Najis! sehingga orang harus menyingkir daripadanya agar tidak tertular menjadi najis. Melihat derita fisik dan psikis yang dihadapi orang kusta ini, Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya. Yesus jatuh belaskasihan. Ia tidak menyingkir tetapi mengulurkan tangan. Ia tidak lari menjauh tetapi menjamah orang itu. Yesus meminta si kusta untuk tidak mengabarkan penyembuhannya, tetapi datang kepada imam dan memberi persembahan. Yesus tidak ingin populer karena bisa menyembuhkan si kusta. Tetapi Dia meminta agar orang itu memuliakan Tuhan. Bagaimana sikap kita kalau ada orang yang menderita dan disingkirkan, apakah kita berbelaskasih atau lari menjauhi? Sepercik pantun buat anda: Pergi ke Denpasar naik sepeda, Singgah sebentar di banyuwangi. Banyak orang sakit dan menderita, Apakah kita sukarela mau mengobati? Wonogiri, jatuh belaskasihan Rm. A.Joko Purwanto, Pr
0 Comments
Leave a Reply. |
Archives
December 2034
Categories |
RSS Feed